Search Term Ajaib

Bagi saya, melakukan pencarian melalui google merupakan kebebasan masing-masing individu, tapi sebagai manusia saya tak tahan tak bisa tertawa (dan juga prihatin) membaca beberapa kata kunci yang ajaib. Tahun 2015 ini, search term masih tetap dihiasi dengan para bule hunter, baik perempuan maupun pria, dengan kata kunci: tante bule, bule perempuan, hingga punya istri bule dan tentunya PIN BB bule.

Ilustrasi diambil dari google

Ilustrasi diambil dari google

Masih juga ya rajin nyari PIN BB bule dan masih juga pakai blackberry. Daripada repot googling cari PIN dan gak dapat, bukankah mendingan keluar rumah, menjalin pertemanan dan membuka jaringan yang luas. Kalau emang ngebet banget pengen dapat bule, mbok ya pakai usaha sedikit yang lebih keras dari sekedar googling. Kalau perlu nongkrong di kantor-kantor imigrasi.

Selain urusan pacar bule, ada banyak search term lucu-lucu yang seperti biasa akan saya komentari dan saya jawab. Semoga mereka yang pernah googling dengan kata-kata ini kembali melakukannya dan bisa menemukan jawabannya.

Rumah di Eropa kok bagus?

Saya tak tahu apa definisi rumah bagus. Mungkin saja rumah bagus adalah rumah-rumah yang dilihat di televisi ataupun foto-foto cantik lainnya. Gambar-gambar cantik tersebut tentunya kurang menggambarkan keseluruhan kondisi sosial semua masyarakat di Eropa, terutama yang berada di kawasan rumah-rumah sosial dan bergantung pada tunjangan sosial.

Jika dibandingan dengan di Indonesia, pembangunan rumah disini, terutama di daerah perkotaan, memang lebih tertata. Jauh berbeda dengan rumah di Indonesia yang dibangun secara mencicil ketika ada kayu ataupun semen. Tapi percayalah rumah yang berantakan, yang dalamnya gak karu-karuan ada banyak. Padahal rumah di Eropa itu relatif kecil (jadi lebih mudah dibersihkan) jika dibandingkan dengan rumah-rumah di Amerika. Orang tak punya rumah di negera-negara Eropa, apalagi di Dublin, juga banyak. Baca postingan ini kalau tak percaya.

Kenapa bule susah diajak nikah

Sebab bule bukan orang Indonesia yang gerah sendiri lalu cepet-cepet kawin karena kupingnya panas keseringan disindir soal usia yang sudah di atas 25 tahun tapi belum ada “yang ngurusin”. Keputusan untuk kawin itu mesti dipikirkan dengan matang-matang dan gak asal kawin karena usia udah mendekati kepala 3. Lagipula, biaya kawinan itu tak murah, sehingga perlu dipersiapkan dari jauh-jauh hari sebelumnya. Dalam budaya barat jarang sekali yang mengenal gotong royong Engkong, Tante, Encing, apalagi rekanan bisnis untuk bayar biaya kawinan.

Bagi bule yang memiliki pasangan dengan kewarganegaran berbeda, perkawinan juga mesti disiapkan dengan matang, apalagi jika menyangkut visa. Baru kenal dua hari, dua minggu, atau bahkan dua bulan lalu kawin, akan menjadi pertanyaan besar bagi kantor imigrasi di negara-negara tertentu. Akibatnya, kesulitan mendapatkan visa tinggal. Biaya visa juga bukan hal yang murah, apalagi bagi mereka yang memiliki pasangan orang Australia. Silahkan digoogle berapa biaya visa spouse untuk yang pasangannya orang Australia.

Menikah dengan bule yang lebih tua 30 tahun

Kalau memang mau kawin dengan orang yang usianya di atas tiga puluh tahun dan siap dengan segala tantangannya kenapa tidak? Tantangannya aneka rupa, dari mulai dilihatin orang setiap saat karena disangka bapak dan anak, dihujat karena tidak pantas bagi sebagian masyarakat, dituduh matre, hingga tantangan internal seperti beda pemikiran dan selera hingga tiga dekade. Yang satu generasi saja sering beda, apalagi yang bedanya tiga dekade. Pikirkan juga nanti orang tua manggil menantunya apa? Nggak mungkin manggil nak kan kalau umurnya sepantaran.

Screen Shot 2015-12-16 at 11.50.29

Jampi-jampi biar tidak di keluarkan dari pekerjaan

Screen Shot 2015-12-16 at 11.57.21

Dari semua search term, ini yang paling epic. Siapapun yang melakukan ini, saya sungguh salut dengan segala idenya. Sebagai hadiah, saya beri jampi-jampi yang paling mujarab. Sebelum baca jampi-jampi ini, sediakan cermin yang sudah di lap dengan kain bersih, semakin besar cerminnya juga semakin bagus. Lalu lihat baik-baik wajah di cermin tersebut sambil ucapkan jampi-jampi ini:

“Duhai segala kekuatan di muka bumi ini, berikanlah saya kemampuan untuk bekerja dengan baik. Berikanlah saya kemampuan untuk fokus bekerja dan tidak sibuk cari jampi-jampi di internet, buka-buka facebook, twitter, mainan candy crush, apalagi baca blog binibule saat jam kerja. Jauhkanlah saya dari rekan kerja yang suka buang-buang waktu dengan ngerumpi tak jelas tentang gosip kantor. Kalaupun saya melakukan hal tersebut di atas, jangan biarkan atasan saya mengetahui, apalagi orang IT yang bisa baca sejarah penggunaan internet di masing-masing komputer ”

Dasar kempluk* jaman kayak gini kok masih nyari jampi-jampi. Nyarinya pun di internet. Kalau mau nyari jampi-jampi itu modal sedikit lah ke Ki Joko Bodo atau para Ki-Ki yang lainnya.

Selamat hari Senin, habis ini libur. Hore!!!

Xx,
Tjetje
*kempluk: Bahasa Jawa yang tak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia.

Manajemen Sampah di Dublin

Banyak orang yang berpikiran bahwa kawin dengan bule itu enak. Hidup di luar negeri juga dianggap sangat enak, tinggal leyeh-leyeh, bisa gaya-gaya pakai Fendi kayak Ibu Irina (eh membanggakan si ibu pakainya Fendi bukan LV), dan menjadi nyonya besar. Padahal, hidup di luar negeri itu tak semudah hidup di negeri sendiri karena banyak hal yang harus dipelajari, dari mulai bahasa, sistem transportasi, administrasi kependudukan hingga yang paling remeh seperti sampah.

Di Indonesia, urusan sampah tergolong mudah, plastik, kertas hingga sisa makanan dicampur semua menjadi satu. Pemilah-milahan sampah kemudian dilakukan di pusat pembuangan akhir dan melibatkan berpuluh, atau bahkan beratus-ratus pemulung. Manajemen sampah yang buruk ini tak hanya mengancam kesehatan pemulung tapi juga masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Ah entah kapan Indonesia berhenti membuat gunungan sampah seperti yang diabadikan CNN ini:

a62bf32e-022e-4723-8ea8-b4be8f14a276_169

Di Dublin, saya harus ‘riset’ terlebih dahulu untuk menentukan perusahaan mana yang akan saya percaya untuk menangani urusan sampah. Ternyata, sebelum memilih perusahaan sampah, kita harus tahu dulu, berapa kira-kira sampah yang akan kita buang setiap bulannya. Dari situ, perusahaan baru bisa memberikan penawaran harga. Harganya beraneka rupa (informasi harga sengaja saya cantumkan supaya mereka yang akan pindah ke Dublin bisa membuat perkiraan biaya untuk hidup di Dublin) dari 17€ per bulan hingga 24€. Harga termahal memberikan fleksibilitas untuk membuang sampah sebanyak-banyaknya, sementara harga yang paling murah memberikan batas yang dihitung berdasarkan kilogram. Tak heran kalau kemudian banyak keluarga yang tak membeli jasa sampah dan membuang ataupun membakar sampah di lapangan-lapangan terbuka *noh bule bisa jorok juga kan!*

Kepusingan ini masih ditambah dengan urusan pemilah-milahan sampah. Di sini, sampah dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan warna. Sampah warna hijau, sampah warna coklat serta hitam. Prinsip pembagian sampah ini sebenarnya sangat sederhana, sampah hijau berarti bisa didaur ulang, sampah coklat merupakan sisa makanan yang kemungkinan bisa diolah menjadi kompos, sedangkan sampah hitam merupakan sampah yang tak bisa diapa-apakan.

Ilustrasi pembagian sampah seperti ini:

what_goes_to_my_bin

Sampah warna coklat termasuk yang termudah dipahami, karena isinya hanya kulit telur, sisa sayur, atau sisa makanan lainnya. Yang agak membingungkan adalah sampah hitam dan hijau. Tadinya saya pikir semua yang berbentuk plastik dan terlihat seperti kertas bisa didaur ulang. Tapi rupanya, wadah ayam, ikan, daging sapi ataupun daging babi yang dibeli dari supermarket tidak bisa didaur ulang (disini, wadah ikan yang dibeli di supermarket ditempatkan dalam film plastik dan tidak menggunakan Styrofoam seperti kebanyakan supermarket di Indonesia). Yang mengejutkan, gelas-gelas dari restauran cepat saji rupanya juga tak bisa didaur ulang.

Beberapa hari ini saya sudah pusing urusan sampah, karena tak ada informasi yang jelas dimana harus membuang botol-botol dan sampah kaca. Rupanya, botol-botol ini tidak termasuk dalam tiga warna tersebut. Mereka harus dikumpulkan disetorkan ke tempat tertentu. Begitu juga dengan baterai yang biasanya bisa dibuang dikotak-kotak yang disediakan di supermarket. Halah sudah bayar mahal-mahal, gak semua sampah diangkut pula.

Masing-masing rumah tangga yang berlangganan sampah mendapatkan tempat sampah beroda sesuai kebutuhan masing-masing. Pada hari-hari tertentu wheelie bins ini akan diambil isinya. Hebatnya, jadwal pengambilan sampah selama satu tahun ke depan sudah dibagikan dan satu hari sebelum pengumpulan sampah ada sms yang mengingatkan. Dalam satu bulan, sampah ini hanya dikumpulkan sebanyak dua atau tiga kali saja dan petugasnya muncul sesuka hati, kadang pagi sekali, kadang siang sekali. Makanya, wheelie bins ini harus dikeluarkan malam hari, supaya tak ketinggalan truk penjemput sampah. Yang tak menggenakkan, ketika ada angin kencang, tempat sampah ini bisa berterbangan. Satu kebiasaan yang sudah lama saya terapkan dan ternyata berguna adalah meremas botol hingga pipih (botol plastik tentunya, bukan botol kaca #bukanAhliDebus) dan melipat-lipat kertas. Kebiasaan ini membuat kapasitas tempat sampah bisa maksimal.

Ketika tahu betapa ribetnya urusan sampah di Dublin, saya kemudian baru paham kenapa ada orang yang kreatif bikin tempat sampah keren seperti ini:

24758_4

Tempat sampah cantik yang dilengkapi dengan pengharum ini dijual di Brown Thomas, departemen store, terkemuka di Dublin seharga 300€ saja. Sementara di Amazon UK, tempat sampah ini ditawarkan dengan harga yang jauh lebih murah. Ah coba apa tempat sampah ini ada di Indonesia, pasti KWnya sudah berkeliaran dibawa para pedagang ember plastik yang sering teriak-teriak di depan rumah sambil menghantam-hantamkan dagangannya sambil berteriak: “anti pecah, anti pecah”.

Bagaimana kalian memilah sampah?

xx,
Tjetje

Sarapan Pagi Khas Irlandia

Banyak yang penasaran orang bule makannya apa dan seringkali mereka googling lalu nyasar ke blog ini. Daripada tak mendapatkan jawaban, maka ada baiknya saya berbagi tentang sarapan orang Irlandia. Selain kentang, orang bule juga makan nasi, pasta, mie dan juga roti. Mereka tak selalu makan roti, karena dunia sudah lebih terbuka dan kuliner negara-negara lain bisa ditemukan dimana pun dengan mudahnya. Bahkan, mencari restauran Indonesia di Irlandia pun bisa. Tapi rasanya ya gak sama kayak rasa warteg yang lebih menggigit, karena kebanyakan micin.

Bicara tentang makanan tak bisa lepas dari sarapan, makanan paling penting untuk tubuh. Di Irlandia, sarapan yang cukup terkenal adalah full Irish breakfast. Sarapan tersebut terlihat seperti ini:

https://www.instagram.com/p/77VSnWQxun/?taken-by=binibule

Sarapan porsi jumbo ini berisi rasher, atau bacon goreng (ada di bawah roti), sosis Irlandia (Irish sausage) serta puding hitam dan putih (black and white pudding) yang juga digoreng. Di foto tersebut tidak ada gambar pudding karena saya kurang suka. Kemudian ada tomat yang dipanggang, disertai dengan telur yang dimasak sesuai keinginan (bisa diorak-arik, atau telur mata sapi; jangan harap bisa dapat telur mata sapi yang super matang ya), serta ‘oseng-oseng jamur’. Tak lupa disertakan juga kacang merah (beans) serta roti (biasanya soda bread) untuk menemani keriuhan piring di pagi hari. Beberapa tempat juga suka menyajikan hash brown potato, kentang pipih berbentuk oval yang digoreng. Supaya tidak tersedak, karena kebanyakan minyak di dalam sarapan ini, segelas kopi dengan susu ataupun teh dengan susu disajikan untuk menyempurnakan. Terkadang segelas jus jeruk juga ikut menemani.

Ada sedikit kemiripan antara orang Irlandia dengan orang Indonesia untuk urusan sarapan, yaitu sama-sama sarapan gorengan. Bedanya, di Indonesia yang digoreng adalah tahu, pisang, aci, ataupun bakwan. Dan tentunya, gorengan di Irlandia tidak dibungkus kertas bekas, apalagi digoreng minyak yang bercampur plastik.

Bagi orang Indonesia, porsi sarapan orang Irlandia memang luar biasa. Porsi seperti ini bahkan mengalahkan porsi kuli. Namun harus dipahami bahwa orang Irlandia, terutama di masa lalu, kebanyakan bertani, sehingga memerlukan energi yang luar biasa untuk bisa melakukan pekerjaannya. Apalagi, cuaca di Irlandia cenderung dingin. Walaupun sarapannya jumbo, makan siang bagi orang Irlandia cenderung porsi kecil, hanya roti lapis yang berisikan ham, telur, tuna, ataupun sedikit ayam.  Baru pada saat makan malam mereka bisa makan dalam porsi yang agak besar. Sebagai ilustrasi, foto di bawah ini menggambarkan makan siang saya:

https://www.instagram.com/p/3_enxrQxtw/?taken-by=binibule

Tidak setiap hari orang Irlandia sarapan pagi seperti itu. Wah kalau seluruh Irlandia sarapan seperti itu otomatis rumah sakit akan dipenuhi dengan pasien-pasien sakit jantung karena ada serangan jantung nasional. Sarapan  mereka tak jauh-jauh dari sereal, roti dengan selai dan juga buah-buahan. Tapi yang saya perhatikan, menu yang ditawarkan pada saat sarapan pagi di hotel-hotel di Irlandia, dari B&B sampai hotel berbintang hanya  Irish Breakfast (full ataupun mini; porsi mini biasanya  lebih bersahabat), sereal, atau buah-buahan (dan seringkali buah kaleng). Jauh berbeda dengan sarapan pagi di hotel-hotel di Indonesia yang berlimpah dan kadang ditemani dengan nasi liwet, soto Banjar, nasi pecel, bubur ayam atau aneka rupa makanan nusantara yang menggiurkan.

Sarapan khas Irlandia ini tak hanya ditemui di hotel-hotel, tapi juga di pub, ataupun cafe-cafe kecil. Harga yang ditawarkan beraneka rupa, dimulai dari harga sekitar 7€ hingga puluhan Euro. Salah satu pemecah rekor untuk Irish breakfast termahal adalah Westbury Hotel yang menawarkan sarapan dengan harga 25€ saja. Sudah mahal, kopinya pun tak gratis.

Tulisan ini diinspirasi oleh Zilko yang baru saja berkunjung ke Irlandia Utara (Terimakasih Zilko). Di Belfast, Zilko menikmati sarapan pagi serupa yang disebut ulster fry. Yang membedakan ulster fry dengan Irish Breakfast adalah roti yang menyertainya. Ulster Fry diberi soda bread yang dipanggang dan berbentuh pipih yang lazim disebut sebagai griddle bread. Pada prinsipnya griddle bread ini bahannya sama dengan soda bread, hanya proses pemanggangannya dan bentuknya saja yang berbeda. Tak heran kalau griddle bread sering disebut juga sebagai soda bread. Silahkan tengok postingan Zilko di pranala ini.

Sarapan apa tadi pagi?

xx,

Tjetje

Sarapan soto ayam

Santy Claus

Di Irlandia, negara yang mayoritas penduduknya Katolik ini, perayaan Natal selalu meriah. Pusat-pusat kota dihiasi dengan lampu-lampu cantik sehingga membuat musim dingin yang kelabu menjadi sedikit lebih menyenangkan. Tak hanya dipenuhi dengan undangan untuk belanja hadiah-hadiah Natal bagi mereka yang terkasih, Natal juga menjadi ajang berbagi bagi yang kurang mampu. Pusat kota dipenuhi dengan sukarelawan dari berbagai organisasi, dari yang fokus pada anjing hingga gelandangan. Tak hanya membawa kotak-kotak permintaan sumbangan banyak dari mereka juga menyanyikan lagu-lagu Natal untuk menarik sumbangan.

Selain berbagi, tradisi lain yang sangat kental di Dublin adalah melihat boks bayi yang menggambarkan kelahiran Yesus, dari yang statis hingga yang bisa bergerak sendiri. Tradisi ini, kendati terdengar kuno, masih dijalankan oleh banyak keluarga. Tahun ini, untuk pertama kalinya saya menengok Dublin moving crib.

https://www.instagram.com/p/-62y5aQxhs/?taken-by=binibule

Selain berbagi, Natal juga identik dengan Santa Claus. Di Irlandia, Santa berubah nama menjadi Santy Claus. Urusan perubahan nama ini tak penting, karena toh Santa, atau Santy hanya ada dalam imajinasi anak-anak. Bicara tentang  imajinasi, disini (dan juga di banyak negara) orang tua dan juga institusi resmi menanamkan dengan kuat keberadaan Santy. Dalam bahasa saya sih: seluruh elemen di Irlandia bekerjasama bersama untuk membohongi anak-anak untuk mempercayai Santa hingga tak ada ruang untuk tidak mempercayai bahwa Santa tidak ada.

Kantor Pos Irlandia misalnya, meletakkan sebuah kotak pos di dekat pintu utamanya yang dikhususkan untuk Santa. Kotak pos yang diletakkan di depan pohon Natal ini setiap harinya dipenuhi dengan aneka rupa surat permohonan dari anak-anak di Irlandia. Entah berapa jumlahnya, tapi kalau saya mau ambil perkiraaan, satu persen saja dari jumlah anak-anak di Irlandia, maka setidaknya ada 10ribu surat untuk Santa. (Catatan: 25% penduduk Irlandia adalah anak-anak; jumlah mereka tahun 2011 lebih dari 1 juta jiwa dan Irlandia merupakan negara dengan populasi anak tertinggi di Eropa). Jangan dibahas lagi berapa banyak kertas yang terlibat, apalagi pohon yang tertebang.

https://www.instagram.com/p/-gP7pKQxue/?taken-by=binibule

Bagi saya kotak pos itu sangat mencengangkan. Tapi dari hasil ngobrol-ngobrol dengan seorang kenalan dari Amerika Latin (yang sama kagetnya dengan saya), Menteri di Irlandia pun pernah ikutan bohong tentang keberadaan Santa secara resmi. Menteri ini pada tahun 2013 meyakinkan anak-anak bahwa kementeriannya memastikan Santa akan datang ke Irlandia. Kementerian juga menambahkan bahwa Santa tidak akan dikenakan biaya kelebihan bagasi serta dibebaskan dari visa. Tak hanya Santa, logistik untuk Rudolph juga telah disiapkan. Berita ajaib ini dimuat di dalam koran dan bisa dibaca disini. Kenalan saya ini juga mengatakan bahwa radio di Irlandia menjelang Natal akan memutar suara kereta Santa untuk semakin meyakinkan kedatangan Santa pada saat Natal.

santa does not exist

Maka jangan heran jika jendela rumah di Irlandia dipenuhi ajakan dan hiasan bagi Santa untuk mampir. Beberapa poster kecil bahkan menuliskan nama anak-anak yang tinggal di rumah itu. Agak mengerikan bagi saya, karena penculik anak bisa dengan mudahnya mengetahui nama anak. Worth it kah kebohongan ini mengingat satu hari nanti, ketika anak-anak yang polos ini beranjak lebih besar, mengetahui bahwa Santa tak pernah ada. Mereka akan patah hati dan kecewa, karena imajinasi serta harapan-harapannya ternyata hanya tipuan orang tua dan institusi di sekitar mereka. Mereka akan mengetahui bahwa Guinness (di banyak tempat Santa diberi susu, tapi di beberapa rumah, Santa diberi Guinness!!!), kue kering serta wortel yang disiapkan untuk rombongan Santa ternyata dimakan oleh Bapaknya. Bahwa kekacauan disekitar cerobong asap disiapkan oleh ibunya. Dan tentunya hadiah-hadiah yang hanya boleh disentuh pada pukul tujuh pagi ternyata bukan dari Santa, tetapi dari orangtuanya.

Tapi konon, semua ini sepadan dan merupakan pembelajaran yang berarti, karena hidup pada dasarnya dipenuhi dengan imajinasi, patah hati, kebohongan dan kekecewaan. Dan saat yang tepat untuk belajar tentang ini semua ya pada usia dini. Yang jelas, bagi sebagian besar orang tua, kebohongan ini sangat berguna karena bulan ini, mereka dengan mudahnya bisa membuat anak mereka menurut. Jika tak menurut, mereka cukup  mengancam tidak akan ada hadiah dari Santa untuk  anak nakal. Hanya pada bulan Desember saja, karena setelah Natal, anak-anak bisa kembali tidak menurut.

Pernah percaya Santa?

Xx,

Tjetje

Lagi repot lihat Santa Tracker

 

Mengasihani Pekerja Anak

Sepulang belanja mingguan kemarin, sambil menenteng tiga tas belanjaan yang cukup berat, saya teringat pada adik-adik yang biasanya nongkrong di lantai dasar ITC Kuningan. Adik-adik ini menanti mereka yang selesai berbelanja dan menawarkan jasa mendorong troli belanja. Di Irlandia, jasa dorong troli tak eksis sama sekali. Boro-boro jasa dorong, pinjam trolinya pun mesti memasukkan koin 2€ untuk memastikan troli dikembalikan ke tempat semula.

Kembali lagi pada adik-adik itu, jaman dahulu kala, sekitar tahun 2006-an, saya seringkali jatuh kasihan pada mereka dan akhirnya meminta mereka untuk mendorong troli hingga ke bagian lobi depan ITC Kuningan. Si adik beralasan memerlukan dana untuk membiayai sekolahnya sehingga ia bekerja di pusat perbelanjaan. Beberapa tahun belakangan ini saya semakin jarang ke belanja di Carrefour, kalapun kesana, saya sudah tak pernah lagi melihat mereka. Mungkin mereka sudah dihalau oleh petugas pengamanan.

Selain menjadi joki troli, pekerja anak juga dengan mudahnya ditemukan di beberapa jalan utama menuju kawasan 3 in 1 di Jakarta. Kebanyakan dari mereka dibawa oleh ibunya dan sangat jarang yang dibawa bapaknya. Usianya beragam, dari mulai bayi hingga sudah usia sekolah. Saking senangnya mengamati joki, saya bahkan mengamati seorang joki yang dari hamil, hingga anak bayinya lahir  masih tetap menjajakan jasa joki. Saking gilanya (atau mungkin terhimpit ekonomi), anak bayi yang masih mungil ikutan di bawa! Ibu joki yang masih muda ini bisa ditemukan di depan lapangan futsal di samping Standard Chartered Casablanca. Untungnya, ketika menggunakan jasa joki, saya sudah tersadar bahwa menggunakan jasa joki anak itu tidak baik. Selain karena kemungkinan mereka anak sewaan, banyak dari anak-anak ini yang dilelapkan dengan obat tidur demi selembar dua puluh ribuan. Bagi sebagian dari kita, selembar dua puluh ribu itu tak begitu banyak, bahkan tak bisa membeli segelas kopi di warung kopi internasional. Tapi bagi mereka, jumlah itu sangatlah banyak hingga membuat mereka rela menidurkan anak-anak tanpa dosa dan membiarkan mereka terpapar pada polusi ibu kota.

d93857fded9920d4d102702ceae235ac

Besarnya rasa sosial kita, serta kemauan untuk membantu mereka yang miskin juga membuat jumlah pengemis anak-anak di berbagai kota di Indonesia, terus meningkat. Karena rasa kasihan dari kitalah anak-anak itu harus terpapar teriknya matahari, berdiri di perempatan meminta recehan dari deretan kendaran. Sementara orang tuanya, duduk berteduh di perempatan sambil mengawasi mereka, layaknya mandor mengawasi para tukangnya. Soal pengemis tak perlu dibahas lebih lanjut, karena sudah pernah saya bahas dalam tulisan terpisah tahun yang lalu.

Pekerja anak lain yang bisa kita temui adalah penyemir sepatu. Dulu, saya sering melihat mereka berkeliaran di bandara Soekarno Hatta, tapi akhir-akhir ini saya tak pernah melihat mereka lagi. Bicara tentang penyemir sepatu, saya  jadi teringat dengan seorang anak yang mematahkan hati saya. Ketika itu, saya sedang duduk di KFC (saya punya ritual tak sehat untuk makan KFC di bandara dan jaman dulu saya rajin melakukan perjalanan dinas. Haduh…gak sehat bener) dan seorang anak kecil duduk bersembunyi ketakutan di balik tempat pembuangan sisa makanan. Rupanya, ia sedang menghindari kejaran petugas keamanan bandara. Saya menawarkan adik itu untuk duduk dan makan bersama saya. Selain karena sepatu saya tak perlu disemir, saat itu saya juga telah berhenti memperkerjaan anak di bawah umur. Adik itu menolak dan lebih memilih diberi uang saja ketimbang seporsi KFC.

Penolakan itu menampar saya. Saya terhenyak ketika tahu ia lebih menyukai uang. Tapi wajar jika anak-anak di bawah umur lebih menyukai uang ketimbang makanan. Dengan uang, mereka jadi memiliki kekuatan untuk membeli dan memutuskan apa yang mereka mau. Makanya, tanggung jawab untuk menghentikan pekerja anak ada di pundak kita, orang-orang yang pernah, sering, atau bahkan sedang memperkerjakan anak-anak di bawah umur.

IMG_4568

Foto para joki anak di NTT yang dipasang di sebuah pameran di Paris.

Pekerja anak tak hanya bisa ditemukan di perempatan jalan, bandara, pusat perbelanjaan, tapi mereka ada di berbagai sudut kota. Bahkan mereka mungkin ada di dapur rumah-rumah orang kelas menengah atas karena menjadi pekerja rumah tangga. Kemiskinan membuat mereka meninggalkan sekolah dan memilih mencari uang. Baik untuk membantu orang tuanya, atau untuk melanjutkan hidup. Tanggung jawab pengentasan kemiskinan, yang merupakan salah satu pelanggaran hak asasi manusia, ada di tangan pemerintah. Tapi sebagai manusia, tentunya kita bisa turut berkontribusi, dengan cara yang paling sederhana, dengan berhenti mempekerjakan anak-anak.

Mempekerjakan anak-anak dengan landasan kasihan merupakan aksi yang tak hanya merusak kesempatan mereka untuk bermain, tapi juga berkontribusi pada perubahan persepsi mereka tentang uang dan pendidikan. Anak-anak ini akan melihat bahwa tak diperlukan pendidikan untuk bisa mendapatkan uang. Cukup pasang wajah memelas, maka uang akan datang. Walaupun hari ini bukanlah World Day Against Child Labour, hari ini Hari Hak Asasi Manusia, tapi  mari berkomitmen untuk menghormati hak anak dan berhenti memperkerjakan mereka. Rasa kasihan dan belas kasihan kita sebaiknya disalurkan melalui lembaga sosial, lembaga amal, badan kemanusiaan khusus anak seperti UNICEF atau rumah-rumah ibadah.

Sudahkah kalian berhenti mempekerjakan anak-anak?

Xx,

Tjetje

[Hari Disabilitas Internasional] Tentang Kusta

Hari ini adalah hari disabilitas internasional. Jika tahun yang lalu saya membahas sekilas tentang disabilitas, terminologi dan juga diskriminasi, tahun ini saya ingin sekilas membahas tentang kusta, lepra atau ada juga yang menyebutnya dengan penyakit (Morbus) Hansen. Penyakit yang mungkin sudah lama tak terdengar tapi pada kenyataannya masih banyak penderitanya. Bahkan, Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara dengan jumlah penderita kusta baru di dunia.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteria ini, jika tak ditangani dapat menyebabkan disabilitas. Oleh karenanya saya tak menunggu hingga hari kusta internasional di akhir bulan Januari untuk berbagi infomasi tentang kusta. Di Indonesia, kebanyakan penderita lepra berada di bagian timur. Tetapi, kantong terbesar penderita lepra justru berada di Jawa Timur (salah satu yang terbesar di Madura) dengan persentase lebih dari 20%. Selain Jawa Timur, provinsi lain di bagian barat yang jumlah penderitanya cukup tinggi adalah Aceh.

Logos_day_0

Seperti saya sebut di atas, penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang bernama microbacterium leprae. Tapi di banyak tempat, masyarakat masih mempercayai bahwa kusta disebabkan oleh kutukan, baik itu kutukan orang tua maupun kutukan Tuhan yang marah atas dosa-dosa sang penderitanya. Tak cukup dengan kutukan, banyak masyarakat yang mempercayai bahwa lepra dibawa oleh makluk-makluk halus.

Gejala awal kusta dimulai dari bercak yang menyerang kulit dan juga syaraf. Proses pertumbuhan bakter ini berlangsung dengan lama, bahkan hingga memerlukan waktu bertahun-tahun. Tentu saja hal ini tak sesuai dengan mitos yang berkembang di masyarakat, bahwa penderita kusta bisa kehilangan anggota tubuhnya secara tiba-tiba.

Seperti diduga, dengan rendahnya pengetahuan sebagian masyarakat kita, diskriminiasi terhadap orang yang menderita kusta sangatlah tinggi. Kendati dipercaya sebagai penyakit bawaan jin, masyarakat masih ketakutan tertular penyakit ini. Padahal, penularan kusta tak semudah penularan pilek, apalagi batuk. Diperlukan kontak secara konstan dengan orang yang tidak diobati dan juga diperlukan imunitas tubuh yang rendah untuk tertular kusta.

Penderita kusta yang kebanyakan masyarakat miskin, tak hanya diberi aneka lupa stigma, tapi juga didiskriminasi, termasuk dalam mengakses pekerjaan. Bahkan, tak sedikit yang diusir dari wilayah tinggalnya, atau bahkan dikucilkan oleh keluarganya atau pasangannya. Ketika sudah sembuh pun, orang yang pernah menderita kusta juga masih tetap ditakuti oleh masyarakat.

Nampaknya masih banyak orang yang tak tahu bahwa kusta dapat disembuhkan dengan cara minum obat secara rutin. Beberapa Puskesmas konon juga menyediakan obat kusta secara gratis. Namun dari hasil baca-baca, terhambatnya pengobatan kusta, selain karena akses terhadap kesehatan (di timur Indonesia) juga karena keengganan dan durasi pengobatan. Enggan mencari pengobatan karena malu dan takut dengan stigma masyarakat. Juga karena masa pengobatan yang mencapai enam hingga delapa belas bulan, tergantung tipe kustanya.

Jumlah penyandang kusta perempuan di Afrika lebih tinggi ketimbang pria. Tetapi di berbagai tempat, termasuk Indonesia pria lebih banyak terkena kusta ketimbang perempuan. Entah mengapa. Yang pasti, Indonesia berencana bebas kusta pada tahun 2019. Dari jauh, saya berharap 14 provinsi di tanah air yang belum bebas dari kusta bisa segera bebas dari kusta. Saya juga berharap masyarakat Indonesia bisa lebih baik dan lebih ramah terhadap para penderita kusta serta orang yang pernah menderita kusta.

Saya juga berharap supaya para anggota DPR bisa segera mengesahkan RUU disabilitas (yang sudah kelamaan nongkrong di gedung DPR. Ahem…ahem…). RUU yang tentunya untuk pemenuhan hak, bukan untuk charity, karena penyandang disabilitas bukanlah subyek charity!

Apa harapanmu untuk para penyandang disabilitas?

Xx,

Tjetje

Pernah bekerja untuk advokasi hak-hak disabilitas

Tempat Belanja di Dublin

Menjelang Natal, berbagai sudut pusat kota Dublin dihiasi dengan aneka rupa lampu-lampu cantik. Lampu-lampu tersebut mulai dinyalakan pada tanggal 15 November kemarin dan banyak orang yang datang ke kota untuk lihat lampu. Saya termasuk salah satunya. Selain lampu, jendela-jendela pusat perbelanjaan di Dublin juga dihiasi dengan aneka rupa hal yang cantik untuk menarik orang berbelanja. Suasana Natal di Dublin memang selalu menyenangkan.

Salah satu aktivitas menyenangkan yang bikin pusing adalah berburu hiasan Natal serta hadiah Natal. Pusing karena jumlah orang yang belanja banyak banget sampai milih-milihnya gak puas karena terlalu padat. Padahal baru bulan November, belum Desember. Saya mencoba mengulas beberapa tempat belanja paling di Dublin, dari yang mulai kelas “mangga dua” hingga kelas Plaza Indonesia. Semua tempat belanja di bawah ini bisa diakses dengan jalan kaki di tengah kota Dublin. Jadi jika sedang melancong ke Dublin, tak ada alasan untuk tak berbelanja.anan ini bisa ditemukan Primark serta Arnott’s

Guineys

Menulis tempat belanja di Dublin tanpa melibatkan Guiney nampaknya akan menjadi dosa. Jadi walaupun saya geli dengan tata letak dan gaya toko ini, yang mirip toko di jaman tahun 1990an, saya tetap awali tempat belanja di Dublin dengan Guineys. Di Dublin sendiri hanya ada satu Guiney dan mereka menjual aneka rupa perabot rumah hingga pakaian. Konon, Guineys ini merupakan tempat favorite orang tua berbelanja. Websitenya bisa ditengok disini.

Penney’s (dikenal juga dengan nama Primark)

Surga belanja murah ini memang dilafalkan seperti anggota tubuh pria. Namun di luar Irlandia, Penney’s dikenal sebagai Primark. Bagi saya tempat ini adalah primadonanya barang murah, persis seperti ITC ataupun mangga dua. Mereka menyediakan aneka rupa produk dari mulai pernak-pernik rumah hingga pakaian. Dengan musim dan trend yang berganti secara cepat, Penney’s merupakan tempat alternatif untuk membeli pakaian murah tanpa perlu bikin dompet bolong. Mereka juga seringkali menjual produk-produk sisa dengan harga yang lebih miring. Soal kualitas, tentunya tak sebagus dengan produk yang berharga lebih mahal, tapi jika hanya untuk sekali dua kali pakai, bolehlah.

TK Maxx

TK Maxx bukanlah toko asli Irlandia, tapi dari Amerika. Konsepnya persis dengan Factory Outlet di Indonesia (atau di Bandung). Isinya aneka rupa pakaian perempuan dan pria, dengan merek terpilih dengan ukuran yang terbatas tetapi dengan harga yang jauh lebih murah. Parfum, sabun, sepatu serta perlengkapan rumah tangga juga ditawarkan dengan harga murah. Para penggemar Jamie Oliver juga bisa menemukan peralatan masak dengan merek Jamie disini. Bagi penggemar Spanx, TK Maxx juga seringkali menjual dengan harga murah, jauh lebih murah ketimbang Jakarta.

Kilkenny

Berkunjung ke Irlandia, tak afdol rasanya jika tak berkunjung ke toko yang dipenuhi dengan barang-barang desain Irlandia. Selain menawarkan perhiasan desainer Irlandia, Kilkenny juga menawarkan kristal dan kerajinan lainnya. Sejujurnya saya agak iri karena di Jakarta saya tak pernah melihat satu toko yang fokus pada barang-barang desainer Indonesia (CMIIW).

Avoca

Avoca ini sebenarnya merupakan nama desa di co. Wicklow di Irlandia. Desa ini rupanya terkenal dengan rajutannya. Avoca di Dublin tak hanya menjual rajutan wool yang super halus dengan warna-warna cantik, tapi juga terkenal dengan kue-kuenya yang enak. Bungkusnya pun cantik, cocok untuk buah tangan. Saya sendiri cenderung menghindari makan di Avoca karena mata yang suka lapar dan ingin membeli semua cake yang mereka jual. Di Irlandia, cake dijual dalam porsi besar, mungkin bisa dimakan dua orang di Indonesia.

Arnott’s 

Nah yang ini merupakan department store asli Irlandia. Sekelas Sogo ataupun Metro di Jakarta. Barang-barang yang ditawarkan sangat berkualitas dan tentunya harganya jauh di atas Penney’s. Soal produk yang di tawarkan tak perlu dibahas lah ya, tapi yang paling saya sukai dari Arnott’s adalah jendela-jendelanya pada saat Natal (dan juga saat yang lain). Tahun ini misalnya, jendela Arnott’s dipenuhi dengan aneka rupa permainan yang bikin mulut tak berhenti berkata wow. Saya mengambil beberapa foto jendela Arnott’s tapi hasilnya tak terlalu memuaskan. Pantengin terus instagram saya  karena saya akan pasang foto jendela Arnott’s disana.

Brown Thomas

Nah ini tempat belanjanya Mbak Syahrini nih karena banyak merek-merek papan atas, termasuk Hermes, berada di Brown Thomas. Brown Thomas di Dublin berada di Grafton Street, jalanan Dublin yang paling terkenal sebagai tempat belanja. Tiap tahun, toko ini selalu bermandikan lampu-lampu cantik dan punya banyak aktivitas ketika Natal. Btw, tak perlu merasa terintimdasi dengan merek-merek di toko ini, kalau lagi diskon, mereka menawarkan diskon ugal-ugalan.

Carroll’s Irish Gift

Nah kalau toko yang satu ini merupakan tempat belanja oleh-oleh, dari mulai gantungan kunci, magnet, hingga jaket-jaket tebal bertuliskan Guinness ataupun Ireland. Harga gantungan kunci di Irlandia memang sedikit lebih mahal dari di tempat lain, apalagi jika belinya untuk teman satu kantor, tetangga, teman kursus dan para teman lainnya. Pajak yang tinggi merupakan alasan mahalnya produk-produk suvenir di Irlandia, tapi ada insetif bebas pajak bagi turis. Formulir free tax bisa dengan mudahnya diminta saat membayar di kasir, termasuk di Carroll’s.

Belanja di Irlandia itu menyenangkan, karena tak ada penjaga toko yang repot membuntuti pembeli untuk mengawasi gerak-gerik. Ini tak hanya berlaku di toko yang mahal saja, tapi juga di toko yang murah. Nampaknya Irlandia sudah lebih paham dengan maksimalisasi teknologi CCTV.

Bagaimana dengan kalian? Sibuk belanjakah?

Perilaku Egois di Angkutan Umum

Orang-orang yang memonopoli tiang di dalam kendaraan umum seringkali saya hakimi sebagai bekas penari tiang. Bagi para penari, tiang menjadi salah satu elemen penting dari tarian mereka dan sering kali satu orang mendapatkan satu tiang. Biasanya orang-orang egois ini memeluk tiang, seakan tak ada hal lain yang bisa mereka peluk. Tak cukup memeluk, kadang-kadang mereka bersandar di tiang tersebut tanpa mau memberikan peluang bagi orang lain untuk berpegangan. Padahal, tiang-tiang tersebut dibuat untuk semua orang supaya bisa menahan beban ketika terjadi pengereman kendaraan. Orang-orang ini tak hanya bisa ditemukan di Indonesia, tapi juga bisa ditemukan di negara-negara maju.

Selain para “penari tiang”, golongan egois lainnya adalah para pembawa tas ransel yang tak mempedulikan penumpang lain. Di Jakarta, kebanyakan para pembawa tas ransel ini adalah pria (apa sih yang dibawa?!). Mereka jarang sekali mau meletakkan tasnya di lantai, takut kotor mungkin. Jika tak ngotot meletakkan tasnya di punggung, mereka membawa tasnya di bagian depan tubuh. Masalahnya dalam kondisi kendaraan yang penuh tas-tas ini seringkali mengambil ruang bagi penumpang lain. Tak hanya itu, tas-tas ini juga sering menabrak anggota tubuh penumpang lainnya dan sang empunya tas seringkali tak menyadari hal tersebut.

Golongan selanjutnya adalah golongan berisik, baik berisik menggunakan pengeras suara (speaker) maupun suaranya sendiri.  Remaja Dublin saya perhatikan sering membawa speaker dan menyalakan musik dengan keras di dalam angkutan, mirip dengan pengamen dangdut di jalanan Jakarta. Tak hanya saya temukan di Dublin, saya juga menemukan mereka di Paris. Senda gurau anak remaja juga saya anggap sebagai hal yang mengganggu. Mungkin bagian dari penuaan adalah gemas jika melihat remaja berisik dengan senda-guranya. Padahal jaman remaja dulu saya tak kalah berisiknya, saking berisiknya angkutan yang saya naiki pernah diberhentikan mendadak dan pengemudi angkutan marah kepada kami semua. Pengemudi saat itu meminta kami semua, yang masih duduk di bangku SMP, untuk diam karena suara kami mengganggu. Sekarang saya paham betul kemarahan pengemudi tersebut.

Berbicara di telepon dengan suara keras bagi saya juga sangat mengganggu. Apalagi jika pembicaraan tersebut berlangsung lama dan dipenuhi dengan aneka rupa drama dan sumpah serapah. Di Irlandia saya sering sekali bertemu dengan kelompok ini dan karena dasarnya orang Irlandia itu suka ngomong durasi obrolannya pun jadi panjang banget. Ditambah lagi paket-paket telpon genggam disini seringkali menggratiskan panggilan telpon. Wah pas sudah buat yang doyan ngomong.

Masih banyak lagi keegoisan di dalam angkutan umum, termasuk mereka yang tak mau memberikan kursi jika ada yang membutuhkan.Tak hanya orang muda saja yang melakukan hal ini, orang-orang tua pun melakukan hal serupa. Beberapa waktu lalu misalnya, saya menyaksikan seorang Ibu dengan dua orang anaknya duduk di kursi prioritas. Ketika penumpang lain, ibu muda dengan anak kecil naik, ia tak bergerak. Begitu pula ketika seorang nenek naik. Si nenek berdiri sementara dari belakang saya hanya bisa menggerutu. Sampai kemudian seorang nenek yang lain lagi naik dan meminta kursi prioritas (disini banyak nenek-nenek naik bis). Lucunya, ibu ini malah menyuruh kedua anaknya berdiri dan memberikan kursi mereka. Anak-anak remaja tersebut pun ngomel. Peristiwa itu mengingatkan saya bahwa anak-anak belajar dari contoh yang diberikan di sekitarnya.

Tak semua orang di Irlandia berperilaku seperti itu. Masih banyak yang mau memberikan kursinya kepada yang memerlukan. Bahkan saya pernah melihat pengguna narkoba yang memberikan kursinya. Menariknya dia berkata bahwa memberikan kursi merupakan salah satu hal baik yang perlu dilakukan. Dia juga menyayangkan anak-anak muda jaman sekarang yang enggan memberikan kursinya.

Di Jakarta ada anggapan bahwa perempuan yang duduk di kursi khusus perempuan di TransJakarta ataupun di gerbong perempuan, seringkali kejam karena mereka tak mau memberikan kursi kepada mereka yang memerlukan. Selain karena egois dan mungkin tak mau tahu bagaimana etika dalam menggunakan transportasi publik, mereka mungkin saja merasa sama berhaknya karena tempat-tempat tersebut diprioritaskan bagi perempuan. Ingat sendiri kan kasus mahasiswa di Yogyakarta yang ngomel panjang di social media karena hal ini? Si mahasiswa merasa paling berhak duduk di gerbong perempuan karena dia adalah perempuan. Mungkin sudah saatnya gerbong perempuan dihapuskan dan diganti dengan gerbong lansia serta ibu hamil.

Menolak duduk di bagian dalam angkutan umum juga saya anggap sebagai hal yang menyebalkan. Lebih menyebalkan lagi kalau mereka yang ngotot duduk di dekat pintu ini adalah ibu-ibu yang baru pulang dari pasar dengan aneka rupa belanjaan. Alamat proses pengangkutan penumpang lebih lama karena penumpang mesti melompati tumpukan sayur segar atau bahkan ayam hidup. Di Irlandia saya nggak ketemu tumpukan sayur atau ayam di dalam angkutan, tapi saya menemukan orang-orang (sebagian kecil lho ya) yang menaikkan kaki ke atas tempat duduk kosong di kendaraan umum. Biarpun sudah dipasang banyak peringatan tetap saja masih banyak yang melakukan hal ini, padahal sepatu-sepatu mereka itu seringkali kotor.

ini masih sopan lho!

Apalagi yang suka bikin gemas di angkutan umum?

Luar Negeri tak Lebih Indah dari Tanah Air

Negara yang indeks pembangunannya tinggi selalu diagung-agungkan dan dianggap menawarkan hal-hal yang lebih baik ketimbang negara berkembang. Ketika tahu saya tinggal di Irlandia, komentar yang seringkali saya dengar dari orang-orang tak jauh-jauh dari kata: “enak ya hidup di luar negeri”. Tak bisa dipungkiri bahwa hidup di negara maju menawarkan kemudahan seperti transportasi publik yang tertata ataupun administrasi kependudukan yang lebih rapi, sehingga mengurangi praktik-praktik korupsi, menyogok hingga percaloan.

Tapi dibalik kemegahan negara maju, ada banyak sekali problem-problem sosial yang tak banyak dilihat dunia lain. Beberapa yang tertangkap mata saya rangkum secara pendek disini, supaya kita semua bisa tahu bahwa dunia barat tak semegah yang ada di angan banyak orang.

Gelandangan 

Problem orang-orang yang tinggal di jalanan, atau biasa kita sebut gelandangan, sudah lama mendera Irlandia (dan juga negara-negara lain). Mereka banyak sekali ditemukan di pusat kota Dublin, duduk di tengah dinginnya kota berselimut tebal, terkadang sambil menggendong anjing dan memegang gelas kertas bekas kopi atau teh. Gelas-gelas itu digunakan untuk menampung uang recehan hasil belas kasihan orang.

Sebuah koran ternama di Irlandia beberapa waktu lalu mewawancarai para gelandangan yang tinggal di Grafton Street, jalanan ternama di Dublin. Jalanan ini mungkin layak disebut Champs Elysee-nya Dublin. Kehilangan rumah karena krisis yang menghempas ekonomi Irlandia bukanlah salah satu alasan mereka berada di jalan. Perseteruan dengan keluarga juga salah satu alasan mengapa mereka memilih hidup di jalan. Kendati lebih sering menemukan pria, ada banyak juga gelandangan perempuan, baik yang muda maupun yang tua. Artikel tentang gelandangan di Grafton Street bisa dibaca disini.

Pemerintah Irlandia menyediakan rumah layak huni untuk orang miskin, tapi sayangnya jumlah rumah ini tak memadai. Niatan untuk membangun lebih banyak rumah juga seringkali berbenturan dengan penolakan masyarakat. Social house di Irlandia diidentikkan dengan kumpulan orang-orang bermasalah, kriminal, penyedot social welfare (dole), pengguna obat serta banyak label lain yang berkaitan dengan pembuat masalah. Jadi jangan heran jika penolakan masyarakat terhadap pembangunan rumah sosial di lingkungan rumah mereka sangatlah kuat.

Para gelandangan ini juga enggan untuk tinggal di hostel untuk gelandangan, karena banyaknya kekerasan yang terjadi di dalam hostel tersebut. Tak hanya kekerasan, tapi juga penyalahguanaan obat serta pencurian. Bagi sebagian dari mereka, lebih aman tidur di jalanan Dublin ketimbang di dalam hostel. Gelandangan ini seringkali menjadi alasan mengapa orang-orang Irlandia menolak kedatangan para migran. Soal migran dan juga pengungsi, rasanya diperlukan satu pos tersendiri untuk membahas lebih detail.

Pengemis zombie

Saya menyebut mereka pengemis zombie karena penampilan mereka yang seperti zombie. Penampakan seperti zombie ini disebabkan penggunaan obat-obatan yang membuat mereka terbang tinggi. Dalam kondisi mabuk obat, mereka berjalan-jalan di kota, atau nongkrong di dekat halte-halte tram until meminta uang kecil. Jika pengemis menunggu di beri uang, mereka biasanya bergerak lebih aktif dengan mendatangi targetnya. Target paling mudah tentunya orang-orang yang membeli tiket di mesin tram. Berbeda dengan di Paris, disini mereka tak marah dan mengomel jika tak diberi uang. Dalam satu kesempatan saya bahkan pernah menemukan zombie yang tidur berdiri di tengah kota.

Penumpang Gelap

Tram di Dublin tak diberi pintu pembatas. Siapapun, baik dengan tiket maupun tanpa tiket, bisa bebas melenggang masuk. Menurut manajemen Luas, mereka memang tak memerlukan pintu pembatas, yang mereka perlukan hanya kejujuran dari penumpang. Sesekali ada petugas pengecek tiket yang mengenakan rompi berwarna oranye yang akan mengecek tiket penumpang. Jika tertangkap tidak memiliki tiket, denda yang dikenakan bisa berkisar dari 45€ hingga 100€, tergantung berapa hari semenjak tertangkap denda tersebut dibayar. Semakin cepat dibayar, semakin murah.

Ada berbagai macam tipe penumpang gelap di tram. Tapi yang paling sering saya temukan adalah remaja. Tak hanya tak bertiket, mereka juga seringkali berisik tak karuan. Jika ada petugas keamanan, mereka akan dikejar dan dipaksa turun. Tapi sekali waktu saya pernah bertemu dengan masinis yang super galak yang keluar dari ruang kendali. Masinis ini kemudian mengusir mereka, jika mereka tak mau turun, ia tak mau menjalankan tram. Teknik ini berhasil.

Di lain waktu saya duduk berdekatan dengan perempuan tanpa tiket. Bersama perempuan tersebut, seorang pria muda yang mungkin pacarnya juga tak memiliki tiket. Ketika diminta kartu identitas perempuan itu tak bisa menunjukkan. Dia malah sibuk mengaduk-aduk tasnya sambil berkata: “I have perfume, I have a cosmetic pouch“. Sungguh mengesalkan. Saking kesalnya, petugas tiket sampai mengancam akan memanggil Polisi. Mereka akhirnya diturunkan di stasiun tram untuk kemudian diproses. Mereka berdua adalah bagian dari komunitas traveller, sebuah komunitas yang seringkali mendapatkan diskriminasi dalam berbagai hal. Mereka juga mengalami aneka rupa pelabelan yang tak mengenakkan, salah satunya tak pernah mau bayar transportasi umum. Satu hari nanti saya akan bercerita lebih jauh tentang mereka. Penumpang gelap tak hanya ada di dalam tram, di dalam bis pun banyak penumpang gelap. Padahal, pembayaran ongkos bis biasanya dilakukan ketika masuk ke dalam bis.

Luar negeri memang cantik, secantik kartu pos yang seringkali dikirimkan ke berbagai sudut dunia. Tapi di balik kecantikan negara-negara maju, tersimpan banyak permasalahan sosial. Mungkin jumlah pengemis ataupun gelandangan tak sebanyak di Indonesia, apalagi karena negara menyediakan tunjangan bagi mereka yang tak bekerja. Tapi faktanya, negara majupun bergulat dengan hal-hal seperti itu. Jadi, siapa bilang luar negeri lebih indah dari tanah air?

xx,

Tjetje

Drama Perkawinan

Perkawinan di Indonesia itu membutuhkan biaya tak murah dan kebanyakan orang harus menabung dalam periode yang tak pendek demi mengundang ratusan atau bahkan ribuan orang. Tabungan selama bertahun-tahun tersebut dihabiskan untuk pesta yang hanya berlangsung dua atau tiga jam tanpa interaksi yang berarti. Kalaupun ada interaksi antara pengundang dan tamu, biasanya tak lebih dari satu menit atau dua menit saja.

Dibalik persiapan pesta pendek ini, tersimpan banyak drama yang membuat banyak calon pengantin stress. Apalagi jika banyak orang yang bersuara dalam pembuatan keputusan. Yang kawin dua orang, tapi yang ngatur bisa sampai belasan atau bahkan puluhan orang. Yang satu melarang upacara tradisional, sementara yang satu lagi mendorong upacara tradisional. Tak heran persiapan perkawinan bisa memakan waktu hingga satu tahun dan dipenuhi aneka rupa drama. Mendengar drama-drama ini membuat kepala pusing, apalagi menjalaninya. Duh.

https://instagram.com/p/xzN8bnQxsH/

Salah satu drama perkawinan adalah soal undangan yang sudah pernah saya tulis disini. Pihak pengantin perempuan dan pengantin pria harus berdebat panjang tentang pembagian undangan ini, sesuai dengan kontribusi masing-masing. Seakan tak cukup, undangan yang idealnya untuk dua orang terkadang digunakan untuk hadir dalam rombongan besar. Tak heran pengantin jaman sekarang harus mengalikan tiga atau empat kali jumlah undangan untuk memperkirakan porsi makanan. Itu belum termasuk porsi makanan yang dibuang-buang karena yang mengambil makanan sudah kenyang tapi tak mau berhenti makan.

Sumber drama lainnya adalah tiket untuk menghadiri perkawinan bagi mereka yang lokasinya jauh. Beberapa pengantin seringkali mengeluarkan biaya tiket dalam jumlah tak sedikit karena berbagai alasan. Yang utama karena hormat dan segan, apalagi jika yang diundang adalah mereka yang dituakan. Tapi keseganan ini seringkali dimanfaatkan, dari minta tiket untuk beberapa orang sekaligus hingga minta pergi dan pulang pada tanggal-tanggal tertentu yang tentunya akan berdampak pada membengkaknya biaya penginapan dan kecilnya kemungkinan mendapat tiket murah.

https://instagram.com/p/tK05E3QxhU/?taken-by=binibule

Kepusingan pengantin tak berhenti disitu. Masih ada urusan pembagian seragam yang lagi-lagi bikin ribut. Ada yang ribut karena tak kebagian dan banyak yang ribut karena kualitas kain yang kurang sesuai. Adapula yang ribut karena warna yang tak cocok dikulit dan banyak keributan lainnya. Tapi buat saya yang paling mencengangkan adalah mereka yang ribut karena tak diberi biaya menjahitkan kebaya. Aduh ampun deh Tante, sudah bagus dikasih kain masih merobek jantung pula. Eh tak cukup dengan minta ongkos jahit lho, biaya sanggul serta rias perlu disertakan juga. Itu kalau tantenya satu, kalau tantenya lima belas, dua puluh, tiga puluh, aduh makin capek ngitungnya.

Bicara tentang tukang rias dan sanggul, jaman sekarang ruang ganti pendamping pengantin sudah cukup ketat. Hanya mereka yang namanya tertulis yang bisa mendapatkan layanan. Kendati sudah ada nama di dalam daftar, masih ada saja yang muncul untuk sekadar membenahi alis, mempertebal lipstick hingga membetulkan jilbab. Lagi-lagi pengantin masih harus direpotkan dengan biaya tambahan untuk membayar jasa layanan printilan ini.

https://instagram.com/p/59Pq_hQxte/

Masih panjang lagi daftar drama menjelang dan pada saat hari perkawinan. Dari mulai soal makanan yang disembunyikan oleh pegawai catering, hingga soal souvenir perkawinan yang harganya tak seberapa tapi diincar banyak orang. Yang mengincar tak hanya para tamu, tapi juga para vendor yang bertugas pada saat resepsi. Ada juga drama uang hadiah yang dibawa lari oleh salah satu keluarga pengantin atau bahkan dibawa lari oleh tuyul yang konon kabarnya berkeliaran di gedung-gedung perkawinan.

Perkawinan di Indonesia bukan perhelatan yang murah. Biaya perkawinan kadang bisa mencapai harga satu buah rumah, dari rumah sangat sederhana hingga rumah mewah. Tergantung siapa yang mengadakannya. Seperti saya sebut di atas, banyak calon pengantin serta orangtuanya yang menabung selama bertahun-tahun untuk menjamu para tamunya. Jadi, alangkah eloknya jika kita tak membebani pengantin dengan permintaan ajaib yang tujuannya hanya untuk menyenangkan diri kita sendiri dan menguras tabungan mereka. Kalaupun keluarga pengantin adalah keluarga yang berada, patut diingat bahwa mereka memulai hidup baru. Kitalah yang seharusnya memberikan sedikit hadiah bagi mereka untuk memulai lembaran baru, kalau tak bisa, setidaknya jangan biarkan mereka memulai lembaran baru dengan hutang.

Jadi ada drama apa di perkawinanmu?

Xx,

Tjetje