Tukang Bohong 

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengadakan sebuah “riset kecil” di google untuk bahan pembahasan makan siang. Gelo emang, mau ngobrol makan siang aja pakai riset dulu dan bikin rangkuman singkat sepanjang hampir dua halaman yang didistribusikan lewat Email. Topik makan siang saya saat itu: mythomania atau yang kerap disebut pathological liar. Entah apa terjemahannya di dalam bahasa Indonesia,mungkin pembohong kronis.

Perkenalan saya dengan mythomania sendiri berawal dari sebuah artikel di majalah Perancis, yang judulnya “Je Suis Mythomane”. Awalnya ketika membaca pengakuan tersebut, saya menganggap hal tersebut tak eksis. Sampai kemudian saya dan banyak rekan lainnya melihat sebuah kebohongan yang terjadi secara terus-menerus dari seorang teman.

Awalnya, kami termakan kebohongan tersebut. Bahkan yang fantastis sekalipun. Namanya juga teman, tentu saya mempercayainya. Tetapi kemudian banyak fakta bergulir dan bertabrakan dengan informasi yang kami dengar. Ajaibnya, semua informasi ini sumbernya sama-sama dari satu orang, bukan dari orang yang berbeda. Bahasa gaulnya sih, bukan gosip. Jadi wajarlah kalau ketika itu kami sangat percaya. Bahkan saking meyakinkannya, hal-hal tersebut juga disampaikan kepada para penjabat tinggi dalam forum resmi. Kurang meyakinkan apa coba?

Lalu beginilah hasil riset tak ilmiah saya….

Berbohong kronis ternyata bukanlah sebuah penyakit tapi merupakan sebuah gejala dari kelainan kepribadian. Hanya gejala dari narcissist personality disorder atau borderline personality disorder. Bagi para pelakunya, membeberkan kebenaran merupakan sebuah hal yang sulit. Sebaliknya, berbohong memberikan mereka kenyamanan dan bisa dilakukan dengan mudah. Nah jika kita menunjukkan bahasa tubuh yang tak nyaman ketika mengungkap kebohongan, para pembohong kronis ini bisa melakukannya dengan tenang.

Kebanyakan kebohongan yang saya dengar saat itu sih tak merugikan, karena hanya bualan-bualan yang bisa dianggap angin lalu saja. Tapi dalam pertemanan, dimana kepercayaan menjadi sebuah landasan yang penting, kebohongan ini jadi sedikit mengganggu dan lama-lama melukai kepercayaan pertemanan. Dalam banyak kesempatan saya bahkan bertanya-tanya, mengapa sang pelaku perlu untuk berbohong untuk memukau orang lain? Dan saya yang bukan ahli pun membatin, mungkin memang tingkat kepercayaan dirinya terlalu rendah. Atau sebaliknya, terlalu tinggi sehingga merasa yang paling oke. Sementara orang lain dianggap sebagai pelupa yang tak punya daya rekam.

Dari hasil baca-baca, ada banyak teknik yang bisa dilakukan untuk mengkonfrontasi dan membantu mereka. Saya sendiri tak tergoda mengkonfrontasi dan lebih tergoda untuk mengamati, untuk melihat sejauh mana level kebohongan yang akan dilakukan. Selain itu, saya juga sok-sokan pengen membaca latar belakang sang pelaku.

Jika berminat mengkonfrontasi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
1. Harus sabar mendengarkan segala kebohongan. Bahkan ketika tahu itu sebuah kebohongan besar, mulut harus ditutup rapat dan tak boleh menginisiasi argumentasi sementara telinga dibuka lebar-lebar.

2. Buat catatan hal-hal yang dibicarakan. Syukur-syukur kalau pembicaraan itu terekam dalam media chatting. Seringkali sang pelakunya lupa lho dengan hal ini. Atau bahkan sang pelaku membalikkan semua fakta dan menganggap kita sebagai tukang gosip yang kejam. Playing victim.

3. Jika pertemanan tersebut worth it, tawarkan bantuan dengan membeberkan semua catatan kebohongan, tanpa memojokkan pelaku. Jika tak berharga, kabur aja. Hidup terlalu pendek untuk ngurusin Kebohongan-kebohongan yang seringkali tak masuk akal.

Pathological liar tidaklah sama dengan sociopath. Sociopath biasanya punya tujuan dan akan melakukan kebohongan apapun demi tujuan itu, sementara pathological liar hanyalah orang yang hobi berbohong.

Nah, kalian pernah berurusan dengan pembohong kronis kah? Lalu apa yang kalian lakukan jika bertemu mereka?

xx,
Tjetje

Romantisme Tragis di Dublin Bay 

Masih dalam rangka membawa mama saja melakukan #JelajahIrlandia, kali ini kami sok romantis naik kapal menyusuri Dublin Bay dari Howth ke Dun Laoghaire. Howth sendiri merupakan sebuah area pelabuhan di County Dublin yang terkenal dengan seafoodnya. Saking terkenalnya mereka punya prawn festival.

Ada beberapa operator kapal di Howth dan pilihan kami jatuh pada Dublin Bay Cruise. Bukan hanya karena reviewnya bagus, tapi juga karena ada diskon di living social. Nah yang mau jalan-jalan ke Irlandia, kalau telaten boleh nih cari-cari disana atau di groupon karena banyak tiket murah. #BukanPesanSponsor. Ada beberapa route yang ditawarkan, selain dari Howth ke Dun Laoghaire (dua wilayah ini ada di County Dublin) ada juga route yang menawarkan perjalanan ke tengah kota Dublin dan akan berhenti persis di dekat jembatan cantik yang mirip harpa ini.

Perlu dicatat, semua turis harus booking dulu sebelumnya dan gak bisa beli tiket mendadak di tempat. Eksistensi calo tiket juga tak ditemukan. Biarpun begitu, saya masih melihat beberapa turis yang nekat ngantri dan berakhir malang, karena tak ada ruang tersisa. Bahkan ada satu keluarga yang ngotot pengen naik dengan tiket salah booking. Sang Nakhkoda tak bergeming, tak berniat melebihi muatan demi beberapa Euro karena berkaitan dengan asuransi dan keselamatan. Saya masih suka terpukau kalau urusan beginian, karena pernah naik kapal kelebihan muatan dari Tidung ke Angke dan sepanjang jalan berdoa sambil pegang life jacket.

Ketika akan menaiki kapal kami sudah diwarning dulu bahwa laut hari ini agak choppy, berombak. Tapi semua penumpang, termasuk seekor anjing, semangat luar biasa. 30 menit pertama berlangsung dengan menyenangkan. Lautnya berombak sedikit, pemandangan sangat indah.

Sayangnya saya tak bertemu anjing laut yang beberapa minggu lalu sempat diabadikan oleh mama saya. Dengan riang gembira, kami juga naik turun dek ke atas dan ke bawah untuk memotret.


Bagian atas penuh dengan turis latin Amerika yang nampaknya sedang belajar bahasa Inggris (Irlandia merupakan salah satu negara tujuan untuk belajar bahasa Inggris) sementara bagian belakang kapal dipenuhi oleh sekelompok anak muda yang sedang merayakan ulang tahun. Anak-anak muda yang sibuk minum ini juga tak segan mengeluarkan f bomb, padahal banyak keluarga dan anak kecil yang ikut perjalanan tersebut. Sungguh kurang nyaman.

Selepas 30 menit, perjalanan kami berubah menjadi mencemaskan. Dimulai dari siraman air laut ke kelompok anak-anak muda di belakang kapal. Dasar anak muda, disiram air malah seneng. Padahal air asin dan dingin itu lengket semua. Ombak kemudian mengombang-ambingkan kapal, perut mulai sedikit mual. Lalu, pemandangan horor pun terjadi. Bukan Nyi Roro Kidul yang memunculkan diri di laut Irlandia ya, tapi

petugas kapal memegang gulungan plastik dan mulai membagi-bagikan pada penumpang yang terlihat pucat pasi. Bagi saya ini pemandangan mengerikan karena tandanya akan ada kompetisi mengeluarkan isi perut.

Saya yang tadinya super pede, karena sudah mengalahkan ombak dari Ambon ke Banda (yang membuat hampir satu kapal mabuk laut), mulai ciut. Lalu ketika beberapa orang mulai mengosongkan perut, saya mulai pucat pasi. Semakin pucat ketika tahu tak ada antimo apalagi minyak angin. Tak ada abang-abang yang jual permen juga. Tak kehilangan akal, saya pun minta tobacco ke seorang pria yang sedang sibuk melinting rokok (disini buruh rokok mahal ya, jadi rokok mesti ngelinting sendiri). Ya lumayan lah buat diciumi jadi fokus kepala ke bau tembakau.

Pemandu yang berada dengan kami juga tak sibuk menerangkan apa-apa, mungkin ia mabuk laut juga. Baru di menit ke 70 atau 80 ia mulai menerangkan tentang Dun Laoghaire. Informasi yang diberikan sayangnya hanya sedikit, tak memuaskan. Kalaupun sang pemandu bicara banyak hal, mungkin juga tak ada yang peduli karena hampir semua orang sibuk menyelamatkan perutnya.

Ketika kapal bersandar, kami disambut dengan pemandangan Dun Laoghaire yang kelam seperti ini.


Mood yang sudah kelabu ini makin jelek ketika melihat cuaca yang tak bersahabat. Untungnya, hujan tak jadi turun. Dan sang Mama yang juga pernah naik kapal di beberapa lautan di Indonesia kapok, tak mau lagi naik kapal di laut Irlandia. Ketika saya menceritakan ini kepada mama mertua, mama mertua menceritakan pengalaman yang serupa. Lautan disana rupanya terkenal berombak dan bikin mual. Lesson learned, yang pengen sok romantis seperti saya, ada baiknya minum antimo dulu.

Bagaimana dengan kalian, pernah menaiki kapal dengan kondisi laut yang super memabukkan?
Xx,

Tjetje

Enggan Berobat ke Dokter

Di masyarakat kita ada anggapan yang beredar bahwa dokter-dokt ergampang memberikan antibiotik. Sakit apapun dihajar dengan antibiotik. Bahkan konon ketika tidak perlu, sehingga tubuh lebih kebal terhadap antibiotik.

Terus terang saya tak tahu apakah anggapan ini hanya rumor yang berimbas buruk pada reputasi kebanyakan dokter di Indonesia, atau disebabkan oleh keengganan kita ke dokter hingga harus menunggu infeksi dulu (dan perlu dihajar antibiotik), ataukah memang dokternya mendapatkan fee yang lebih besar jika menjual antibiotik sehingga rela melanggar janji dokter. Entahlah, yang jelas, pengalaman saya dengan dokter tak selalu buruk, ada kalanya saya bertemu dokter yang enak dan bisa diajak diskusi tapi ada kalanya juga saya pulang bawa obat satu plastik (yang jika dihitung baru akan habis setelah tiga bulan) dan tentunya bikin asuransi bocor. Bahkan pernah saya dirawat secara heboh macam alkoholik veteran dengan biaya menjulang tapi ternyata second opinion menunjukkan saya hanya sakit demam! Deman saudara-saudara!!!!

Keengganan kita ke dokter, menurut saya disebabkan banyak hal. Faktor ekonomi salah satunya. Dokter di banyak tempat identik dengan jasa yang mahal. Wajar saja karena sekolah mereka juga tak murah. Munculnya BPJS harusnya menumbuhkan kesadaran untuk berkunjung ke sistem kesehatan masyarakat seperti puskesmas, tapi yang saya baca, masyarakat ke dokter bukan untuk minta pengobatan tapi minta langsung dirujuk ke rumah sakit. Padahal dokter tak bisa sembarang merujuk.

Selain faktor ekonomi, ada faktor lain, yaitu kepercayaan akan “penyakit mitos”, contohnya angin duduk atau masuk angin. Dalam dunia kedokteran, masuk angin bukanlah sebuah penyakit. Nah karena semua hal dianggap masuk angin (pegel-pegel, perut kembung, pusing), otomatis intervensi dokter tak diperlukan. Cukup disembuhkan dengan tolak angin, kerokan (dikerik) atau dibalur penghangat seperti minyak kayu putih atau balsem serta dilawan dengan berbagai macam ramuan herbal. Biasanya, hal-hal tersebut manjur, sehingga menguatkan ketidakperluan ke dokter.

Penyakit-penyakit mitos ini semakin memperlemah kebutuhan mengunjungi dokter, karena anggapan penyakit tersebut bisa diselesaikan secara alternatif. Ya kalau sakit sekelas “masuk angin” saja memang bisa disembuhkan dengan istirahat. Tapi penyakit seperti kanker, HIV/AIDS mana bisa dikasih jampi-jampi lalu mendadak hilang dari tubuh?

Selain itu, saya perhatikan masyarakat kita juga masih banyak yang takut dengan prosedur kesehatan. Contohnya, sakit amandel yang pernah saya bahas di sebuah postingan. Jika ditilik, ada beberapa komentar yang menanyakan pengobatan alternatif untuk mengecilkan amandel sehingga tak perlu operasi. Aneka rupa ramuan pun dicoba dengan harapan amandel bisa mengecil, sehingga tak perlu dioperasi. Tentu saja tak akan berhasil dan jika tak berhasil (serta kondisi sudah parah), barulah kembali ke dokter. Jangan salah, saya juga seperti ini lho, enggan dioperasi karena kebanyakan lihat Grey’s Anatomy. Keengganan ini tentu saja dimanfaatkan sebagai peluang bisnis oleh tak lain tak bukan, para sales multi level marketing yang berdagang obat herbal. Sakit apapun, diklaim bisa disembuhkan dengan obat herbal. Bukannya saya anti obat herbal, tapi tak adil jika orang yang berjuang untuk hidup harus diberi harapan palsu dan “diperas” supaya sang pedagang MLM bisa naik jenjang ke tingkat  berlian atau bagian naik ke langit ke tujuh.

Kendati takut pada dokter dan prosedur kesehatan, masih banyak juga orang yang  tak takut pada sangkal putung, alias dukun tulang. Dukun tulang ini mengobati patah atau retak tulang tanpa sekolah kedokteran dengan melihat hasil rontgent daerah yang patah. Harganya pun “Lebih mahal” dari dokter, apalagi jika di kemudian hari tulang ini salah pengobatan dan harus dipatahkan lagi untuk diperbaiki. Nah lo!!!

Btw, baru-baru ini saya membaca orang yang menolak diobati dokter walau sudah didiagnosis sipilis. Lalu saya pun iseng menggoogle dampak negatif sipilis jika tak diobati, hasilnya mengerikan. Silahkan di Google sendiri.

Keengganan mengunjungi dokter, mendapat pengobatan yang tepat ini nampaknya banyak terjadi di masyarakat kita. Kesadaran asuransi kesehatan juga tak kalah rendahnya. Bahkan dengan BPJS yang cukup murah saja masih banyak  yang membayar iuran ketika sakit saja. Saat sehat tak mau bayar iuran.

Saya sendiri beruntung, bisa punya teman dekat dokter yang bisa dimintai pendapat kesehatan, masukan atau bahkan reset obat-obatan. Sang dokter bahkan bisa diajak berdiskusi tentang antibiotik tanpa merasa tersinggung dan mendadak defensif (pernah ketemu dokter yang model begini). Nah dokter seperti ini nih yang harusnya kita jadikan dokter keluarga. Sayangnya di Indonesia yang seperti ini jarang banget.

Bagaimana dengan kalian, suka ke dokter, dukun atau malah dokter Google?

xoxo,
Ailtje

Budaya Cium Tangan 

Konon Indonesia itu negara yang berbudi luhur. Salah satu wujud budi luhur ini tampak dari tradisi yang masih dijaga, yaitu penghormatan terhadap orang yang lebih tua dengan cara mencium tangan orang yang lebih tua. Budaya ini tak jelas darimana asalnya. Ada yang bilang dari Arab, tapi ada juga yang mengatakan dari Eropa.

Kendati darah saya darah Indonesia (baca: bercampur dari banyak suku), tradisi Jawa jauh lebih kental dalam kehidupan saya, karena saya memang dibesarkan di tanah Jawa. Otomatis, tradisi mencium tangan jadi tradisi yang melekat dalam keseharian saya. Walaupun saya yakin tradisi ini juga ada di banyak tempat di tanah lain.

Cium tangan yang saya tahu ketika tumbuh dan besar hanya cium tangan kepada orang tua ataupun kepada keluarga yang lebih tua dan bertalian darah, seperti Tante, Budhe, Oom, Pakde, dan para Eyang. Dengan sepupu yang lebih tua pun saya tak pernah mencium tangan, hanya sebatas cium pipi kanan dan kiri saja, jika mereka mau.

Saat saya masih kecil, cium tangan kepada tante dan oom ini menjadi ritual yang menyenangkan karena para tante dan oom sering menyelipkan uang di tangannya. Salam tempel namanya. Saat itu nilai uang dan elemen kejutannya bikin saya girang. Ya namanya anak-anak, belum tahu susahnya kerja, jadi ya girang aja ditempelin uang jajan yang nilainya cukup besar. Tradisi ini tentunya sudah tak berlaku lagi dan sudah berbalik, karena sayalah yang sekarang menjadi tante-tante dan tugas sayalah menempelkan uang, supaya mereka bisa menikmati keriaan masa kecil saya.

Di sisi lain keluarga saya, yang keturunan Arab, tradisi cium tangan juga ada. Tapi bedanya, kami hanya menunjukkan niatan untuk mencium tangan, lalu tangan akan ditarik oleh sang empunya tangan sebelum tercium. Perbedaan yang mencolok ini tentu saja mengejutkan dan membingungkan saya. Untuk apa repot-repot mencium tangan jika buntutnya ditarik juga? Mending salaman aja sekalian kan? Tapi sekarang saya sudah berdamai dengan kebingungan ini dan malah sering melakukannya.

Semakin kesini saya semakin melihat bahwa tradisi cium tangan ternyata tak hanya untuk keluarga saja tapi sudah merembet ke lingkup yang lebih luas termasuk kepada kolega, teman dan juga kenalan dari orang tua. Anak-anak yang dibawa ke kantor misalnya, akan disapa oleh rekan-rekan orang tuanya dengan sapaan “Namanya siapa? Ayo *salim* dulu.” Ketika anak-anaknya itu menolak, karena orang-orang ini adalah orang yang tak dikenal dan biasanya sangat agresif (apalagi kalau anaknya lucu), akan muncul anggapan bahwa anak tak terdidik secara baik. Nggak pintar. Sementara kalau si anak menurut dan mau mencium tangan, mereka langsung dipuji anak pintar.

Tak hanya itu, saya juga juga banyak mengamati pasangan yang masih berpacaran berciuman tangan seusai pacaran. Bukan di Irlandia ya, tapi di Indonesia. Pasangan-pasangan seperti ini bisa dengan mudahnya ditemukan berpacaran di pinggir lapangan atapun di depan mall-mall ketika shift bekerja dimulai. Duh baru pacaran aja udah pakai cium tangan segala.

IMG_0840

Nggak nampak di foto, tapi adik kecil itu lagi nyium tangan si boneka gede. Ditemukan tahun kemaren di Car Free Day.

Bicara tentang cium tangan, saya paling tak suka dengan mereka yang dengan semena-mena menyodorkan tangannya untuk minta dicium. Bagi saya, mencium tangan itu bagian dari menghormati, jadi biarkan saya yang menentukan, kamu pantas dihormati atau tidak. Kalau engga, tapi jangan harap saya mau repot-repot cium tangan.

Bagaimana dengan kalian? Suka cium tangan sembarang orang?

Xx,
Tjetje
Tiap pagi selama summer cium tangan nyokap. Yaaaay!

Game of Thrones dan Irlandia Utara

Jika Irlandia terkenal dengan romantisme dan keindahan à la P.S I Love you (Braveheart, Star Wars dan sederet film lainnya) Irlandia Utara lebih dikenal sebagai rumahnya Game of Thrones. Kendati tak menggemari Game of Thrones (karena banyaknya kekerasan di dalam seri ini) kami nekat mengikuti tur khusus Game of Thrones karena tak bisa menolak iming-iming mengunjungi sudut-sudut cantik di Irlandia Utara. Seperti dark hedges ini:

IMG_7934

Deretan pohon-pohon beech ini ditanam oleh keluarga Stuart pada abad ke 18. Pada saat itu, pohon-pohon ini ditujukan untuk memukai para tamu yang akan melewati pintu masuk mansion mereka yang bergaya Georgia. Mansion ini sendiri diberi nama Gracehill House yang sayangnya tidak kami kunjungi. Sudut yang pernah dipakai shooting ini menjadi tempat favorit para turis, akibatnya jalanan ini dipenuhi turis-turis yang selfie di tengah jalan, sementara kendaraan yang akan lewat harus merayap. Coba saja kalau tempat ini ada di Indonesia, dipastikan diujung-ujung jalan ada anak-anak muda membawa tempat sampah, meminta uang kontribusi serelanya. Sementara disini: GRATIS.

Kenekatan kami dan juga Aling (celeb twitter yang dipopulerkan oleh ceritaeka.com dengan hashtag #JodohUntukAling)  mengakibatkan kami tak nyambung dengan tempat-tempat yang kami kunjungi. Tapi ya bodo amat, yang penting lokasi-lokasi yang kami kunjungi cantik walaupun agak muram durja, karena cuaca yang kurang bagus. Saking muramnya, perhentian pertama tempat Ned Stark mengeksekusi entah siapa yang dieksekusi, terpaksa dilewati karena kabut yang terlalu tebal.

Tur seharian yang dipatok seharga lebih dari 50 Euro ini dipandu oleh salah satu pemain figuran Game of Thrones yang sedang libur shooting. Kendati libur shooting, ia tetap memanjangkan janggutnya, karena janggut ini adalah aset yang berharga. Menariknya, di salah satu tempat kami bertemu dengan pemain figuran lain yang juga berjanggut panjang. Saya menduga-duga, semua pria berjanggut di Irlandia Utara adalah figuran Game of Thrones.

IMG_7941 Andrew, guide kami menunjukkan scene dimana dia jadi pemain figuran

Selain dibawa mengunjungi dark hedges, kami juga dibawa mengunjungi rope bridge. Bagi orang yang takut ketinggian seperti saya, jembatan ini jadi satu tantangan tersendiri, apalagi cuaca yang tak jelas dan berangin, rasanya badan seperti akan tersapu angin. Ternyata jembatannya tak terlalu mengerikan, yang mengerikan justru turun dari tangga menuju jembatan tersebut.

Ada batasan maksimal 8 orang yang diperkenankan untuk menyeberang bersamaan, dan tentunya tak boleh ambil selfie di jembatan ini. Nekat selfie bisa kena semprit petugas, tapi sayangnya petugas hanya nyemprit aja. Akibatnya banyak orang yang masih tetap ambil selfie dan menghambat puluhan orang lain yang akan menyeberang. Btw, di bawah jembatan ini juga dikenal sebagai kuburan kamera dan hp. Banyak orang yang kameranya jatuh dan tak terselamatkan lagi.

Belfast -1

Karena ikut tur, waktu kami untuk keliling tak begitu banyak. Jalan pun harus cepat-cepat dan tentunya tak bisa mengambil 1000 selfie #BuatApaCoba.  Saat keluar dari area ini, dua orang dari rombongan kami, termasuk satu orang Indonesia terpaksa ditinggal ke pub lokal untuk makan siang, karena mereka terlambat muncul kembali. Mereka tentu saja dijemput kembali.

Belfast -4

Makan siang tak termasuk dalam harga tur, masih harus rogoh kocek sekitar 8 – 10 pounds untuk pub food. Pub food itu makanan-makanan seperti fish and chips, guinness stew atau chicken goujon. Harga yang ditawarkan sendiri harga normal, tak ada pemalakan seperti di Indonesia. Seusai makan siang, kami dibawa kembali ke area rope bridge, tapi ke sisi yang berlawanan. Rupanya, ada tiga titik yang digunakan untuk shooting GoT. Salah satunya Larrybane yang menjadi lokasi camp King Renly Baratheon’s camp. Lokasi ini sendiri sekarang menjadi lapangan parkir kendaraan-kendaraan turis yang ke rope bridge.

Belfast -3

Dari sini, kami dibawa ke Ballintoy Harbour. Serunya, kami semua diperkenankan untuk menggunakan kostum-kostum sambil terus dijelaskan cerita-cerita dibalik pembuatan GoT dan dipertontonkan cuplikan-cuplikan GoT yang diambil di tempat tersebut. Sayangnya tak semua orang kebagian kostum, apalagi mereka-mereka yang bertubuh besar.

Kendati tempat ini sudah terkenal sebagai tempat shooting GoT, bahkan oleh pemerintah lokal diberi banyak papan-papan yang menjelaskan adegan yang diambil, jalan-jalan di wilayah ini dengan kostum tetap membuat kami jadi bahan tontonan. #KibasRambutBerasaArtis

Nah kalau ini lokasi tempat pembabtisan Theon. Cakep ya?

Belfast

Selain mengunjungi tempat di atas, kami juga diajak menuju Dunluce castle. Sayangnya kami hanya dibawa melihat dari jauh sambil dijelaskan bagaiaman CGI merubah Dunluce Castle. Bonus tambahan di tour ini adalah jalan-jalan ke Giant Causeway, yang di dalam bahasa Irish dikenal sebagai Clochán an Aifir or Clochán na bhFomhórach. Aduh jangan tanya bagaimana melafalkan kata tersebut. Giant Causeway sendiri merupakan area dengan 40 ribu basalt columns. Bebatuan dengan bentuk hexagon yang terbentuk dari proses pendinginan lava basaltik.

Dengan kondisi yang dingin, berangin serta gerimis, area ini jadi sangat licin. Beberapa petugas berjaga untuk mengamankan orang-orang yang nekat naik ke bagian atas. Seperti biasa, peluit jadi modal untuk mengingatkan mereka. Tapi tak selamanya sistem ini berhasil, banyak juga yang masih nekat naik-naik ke atas.

Saya kemudian ngobrol dengan petugas, menanyakan berapa orang yang jatuh dan mati di Giant Causeway. Tak ada angka yang disebutkan petugas. Tapi yang jelas, banyak kejadian jatuh terpleset atau tersapu ombak karena KEBODOHAN. Obsesi selfie nampaknya menjadi salah satu alasan mereka mengalami kecelakaan. Kalau sudah begitu, pencarian harus dilakukan dengan mengerahkan helikopter serta kapal. Menariknya, menurut sang petugas fotografer atau penghobi foto menjadi salah satu kelompok yang paling susah diberitahu dan paling nekat.

Di akhir perjalanan, saya naik bis kembali ke tempat parkir, disini bis dipatok dengan harga 1 pounds. Untuk yang tak mau naik bis bisa jalan mendaki.

Selamat berakhir pekan kawan-kawan. Apa rencana kalian akhir pekan ini?

Tukang Nyusuh

Pernah dengar tentang hoarder? Terus terang saya belum menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia, yang saya tahu dalam bahasa Jawa kebiasaan ini dinamakan nyusuh. Jadi menyusuh ini berarti menimbun barang-barang yang sudah tak diperlukan lagi karena merasa di masa yang akan datang barang-barang tersebut akan diperlukan. Selain karena merasa masih diperlukan, ada perasaan cemas sehingga tak bisa membuang barang yang sebenarnya sudah bisa dimasukkan kategori sampah atau tak penting lagi. Selain barang tak berharga, menyusuh juga menyimpan barang-barang yang dianggap sentimental, contohnya tiket nonton ke bioskop, tiket kereta.

Kebiasaan nyusuh ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah tua, walaupun ada juga anak-anak yang muda yang hobi melakukan hal tersebut. Yang ditimbun apa aja? Pada prinsipnya segala macam hal yang bisa ditimbun ya harus ditimbun, karena ada keengganan untuk membuang. Yang saya tahu, orang-orang ini sering menimbun kertas, termasuk koran, tagihan dan bukti pembayaran dari jaman baheula (mungkin takut jika masih diperlukan), hingga peralatan mandi macam sampo yang sudah tinggal seiprit. Botol-botol shampo ini tak boleh dibuang karena masih ada sisanya, padahal produk-produk kecantikan tersebut punya masa kadarluarsa. Kantong-kantong belanjaan, label-label pakaian (label yang kertas ya), dan barang-barang gratisan juga sering ditimbun mereka.

Hoarding sendiri gak sama dengan koleksi. Jika koleksi disimpan secara rapi dan tertata bahkan dibeli dengan harga mahal (dan dipamerkan sebagai sebuah kebanggaan), barang-barang susuhan ini disimpan sekenanya saja. Karena tak tertatanya dan karena banyaknya barang ­­yang disimpan, sang empunya biasanya seringkali tak punya ruang penyimpanan lagi. Pada level yang belum parah, biasanya satu kamar akan dijadikan “korban” dan berada dalam kondisi berantakan, tapi pada kondisi yang sudah parah bisa-bisa satu rumah pun dihabiskan untuk menimbun harta karun. Seringkali kondisi ini menciptakan ruang gerak yang terbatas dan biasanya, sang pelaku sangat keras kepala hingga susah diingatkan. Pun kadang mereka tak tahu bahwa yang mereka lakukan ini salah dan tak sehat. Malah kadang kalau diingatkan yang begini suka ngamuk-ngamuk tak jelas, orang lain yang disalahkan. Kalau nekat membuang tanpa memberi tahu, bisa pecah perang dunia ketiga deh.

Salah satu keluarga jauh kami memiliki kebiasaan ini dan kebiasaannya masuk dalam kondisi parah. Rumahnya penuh dengan barang-barang, kamar mandinya juga dipenuhi dengan puluhan botol-botol shampo. Jika sedang membahas tentang si Tante ini, kami seringkali bertanya apa yang menyebabkan ia begitu tekun  menyimpan barang tak berguna dan kesusahan untuk letting go things. Di Indonesia saya juga mengetahui beberapa orang terdekat yang melakukan hal serupa.

source: bu.edu

Kami yang bukan ahli kejiwaan ini kemudian menarik benang merah bahwa orang-orang yang menimbun barang ini biasanya kehilangan anggota keluarganya sehingga mencari penghiburan dari barang-barang yang mereka timbun. Suatu hari ketika mereka memerlukan sesuatu, mereka akan ada pada posisi dimana mereka memiliki. Tapi ya itu kan teori abalabal dari obrolan pria Irlandia dan perempuan Indonesia yang lagi bosen ngebahas Brexit.

Rupanya, kebiasaan hoarding ini merupakan sebuah gangguan yang juga bisa menjadi gejala dari dari gangguan lainnya. Rupanya, menyusuh ini identik dengan obsessive-compulsive personality disorder (OCPD), obsessive-compulsive disorder (OCD), attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), dan tentunya depresi. Soal yang terakhir ini, di Indonesia saya jarang banget dengar. Sementara disini, banyak sekali orang-orang yang mengalami depresi.

Nah kalau sudah gini, saya hanya mengingatkan saja, jika punya teman atau anggota keluarga yang melakukan hal serupa, tolong dibantu supaya tak kebablasan. Paling utama tentunya ajak ngobrol dulu, kasih materi bacaan tentang hoarding, lalu jika orangnya sudah siap, bantu bersih-bersih juga. Jangan dipermalukan juga, karena kondisi ini akan semakin menekan mereka. Lalu, kalau sudah siap, bantu bersih-bersih.

Pernah melihat tukang nyusuh?

xx,
Tjetje

 

Drama PRT Seputar Lebaran

Mumpung suasana masih lebaran, saya mengucapkan selamat Idulfitri ya. Mohon maaf lahir dan batin. Btw, saya baru tahu bahwa Idulfitri itu nulisnya ternyata disambung, bukan dipisahkan. Jika lebaran-lebaran tahun sebelumnya saya “merana” karena Jakarta kosong tanpa penjual makanan, lebaran tahun ini saya berada jauh dari nusantara dan tentunya tak ada abang-abang penjaja makanan. Kenapa sih harus abang-abang dan jarang ibu-ibu.

Seperti biasa, menjelang lebarang selalu banyak perempuan-perempuan yang hatinya lara karena ditinggal pekerja rumah tangga. Herannya yang bingung cuma perempuan-perempuan saja, sementara para pria cenderung tak bingung karena pria-pria tak terlalu terkena imbas pulangnya para pekerja rumah tangga. Seperti kita tahu, di negeri kita yang sangat patriarkis, pria-pria jarang sekali ada yang mau beberes atau masak.

Hidup tanpa pekerja rumah tangga itu memungkinkan banget kok, memang sedikit lelah, tapi tetap bisa dijalani. Tinggal berbagi tugas saja. Siapa memasak, siapa membersihkan rumah. Cuci piring pun bisa dilakukan dengan cepat sehabis makan. Kuncinya, harus disiplin, tak boleh menunda. Urusan cuci baju jaman sekarang juga cenderung mudah, tinggal dilemparkan ke mesin cuci dan dijemur sebentar di bawah matahari. Bersyukur lho di Indonesia itu matahari berlimpah, jemur sebentar sudah kering. Sementara disini, matahari jarang muncul dan cucian sering berakhir dijemur di dapur. [lalu ada yang komentar nyinyir gak punya dryer ya]. Urusan setrika memang sedikit tak menyenangkan, karena hawa Indonesi yang cenderung panas. Tapi bisa diakali dengan pasang AC, kipas angin, atau setrika di depan televisi biar mata sibuk nonton TV dan lupa panas. Soal masak-memasak, juga bisa dilakukan dengan mudah, selama menu-menu yang dimasak sederhana dan mudah. Jangan mempersulit diri dengan masakan yang terlalu ribet.

Drama lebaran juga berkisar di urusan perogohan kocek untuk membayar infal. Banyak sekali ibu-ibu yang mengeluhkan mahalnya harga infal (pekerja rumah tangga pengganti). Yang saya bingung, infal dengan harga mahal pun teryata masih mampu dibayar oleh sebagian besar kaum menengah ke atas. Terpaksa rupanya, tapi masih mampu. Tak hanya itu banyak juga yang mengeluh betapa lamanya si Mbak pulang kampung. Padahal mereka ini hanya pulang kampung selama 2 hingga 3 minggu saja. Sementara akhir pekan mereka yang dirampas tanpa diberikan kompensasi itu ada 52 hari lho. Nah coba tuh kalau ada persatuan pekerja rumah tangga di Indonesia yang memperjuangkan hak mereka, bisa-bisa mereka minta jatah libur dua bulan.

Drama edisi lebaran tak hanya berhenti disana. Ada banyak ibu-ibu rumah tangga yang patah hati karena mbak-mbak yang sudah mereka latih sesuai standar masing-masing rumah tangga memutuskan untuk pulang kampung selamanya. Kalimat “Ibu, saya gak kembali, karena saya mau kawin setelah Lebaran” atau “Saya mau kembali ke kampung, mau jagain Bapak Ibu saya yang sudah tua” jadi seperti sambaran petir di siang hari. Kepala langsung cenut-cenut memikirkan setelah lebaran harus berhadapan dengan perburuan terbesar di Indonesia. Berburu pekerja rumah tangga dengan harga semurah-murahnya.

Tak hanya itu, ada juga drama si Mbak yang berjanji akan kembali bekerja tapi saat lebaran, sms manis mohon maaf lahir dan batin pun dilayangkan dengan embel-embel, maaf saya tak kembali karena saya dapat pekerjaan yang lebih baik di tempat lain dan gajinya lebih besar. Dhuaaar…..tangan dan kaki langsung lemes dengarnya.

Dalam kondisi seperti ini, sang pemberi kerja harus mampu mengeluarkan ilmu negosiasi terbaiknya dan tentunya harus mau memberikan kenaikan gaji. Pemberi kerja mesti paham kondisi setelah lebaran memang diwarnai dengan tingginya permintaan pekerja rumah tangga sangat tinggi, banyak orang yang memang mau memberikan gaji sedikit lebih tinggi. Beberapa dari mereka juga banyak yang memutuskan meninggalkan nusantara saja untuk mencari ringgit, dirham, atau real.

Microsoft Word - Filme der domesticWorkers1.doc

Ilustration: kenyaemploymentlawdotcom.wordpress.com

Menaikkan gaji itu sebenarnya kan menyesuaikan dengan kenaikan inflasi. Masak gaji kita naik setiap tahun karena penyesuaian inflasi, gaji mereka harus tetap bertahan di angka yang sama. Jadi jangan enggan memberikan kenaikan gaji, apalagi jika pekerja tersebut sudah terlatih. Daripada pada cari pekerja yang baru, lalu harus berurusan dengan kepusingan lain, melatih mereka. [lalu ada yang ngomel-ngomel, duite mbahmu]

Tahun depan, saat si Mbak akan pulang, jangan lupa dibisikin: “Mbak, abis lebaran balik ke rumah saja ya. Nanti saya beri gaji sesuai UMR, cuti 12 hari setahun, jam kerja yang jelas, saya bayari BPJS, serta libur setiap akhir pekan.” Dengan janji manis seperti itu, saya yakin sebagian besar dari mereka akan kembali, asal janjinya ditepati.

Apa drama PRT kalian di lebaran tahun ini?

xx,
Tjetje
Tak punya PRT, karena tak mau dan tak sanggup bayar.

 

Recehan 

Baru-baru ini ada turis Indonesia yang ditolak belanja di sebuah toko suvenir ternama di Dublin, karena uang yang diangsurkan merupakan pecahan 500 €. Alasan toko tak mau menerima uang lembaran besar tersebut tak jelas, tapi saya menduga karena ada ketakutan uang ini yang palsu. Disini, memang ada keengganan menerima uang dalam pecahan-pecahan besar dan banyak transansi dilakukan dengan uang pecahan kecil,  kartu atau bahkan recehan dalam bentuk koin.

Jika di Indonesia recehan (pecahan uang kecil) berbentuk koin relatif tak bernilai dan banyak tidak disukai, (bahkan pengemis dan pengamen pun membenci pecahan-pecahan tertentu terutama yang nilainya kecil), di Irlandia koin jauh lebih bernilai. Di Indonesia hanya koin seribu dan lima ratus yang bisa dianggap sedikit berharga, karena nilainya yang memang lebih besar dan lebih berarti (btw, ini tolong jangan diartikan saya sok-sokan gak menghargai uang recehan dengan nilai yang lebih kecil ya). Di sini, koin terdiri dari pecahan 2 Euro, 1 Euro, 50, 20, 10, 5 dan juga 1 sen. Koin-koin dengan angka besar sama nasibnya dengan di Indonesia, lebih dihargai, sementara koin-koin dengan angka kecil, kurang begitu dihargai karena nilainya tak sebanding dengan beratnya.

Koin-koin recehan yang datang dari berbagai negara Eropa ini punya banyak gambar yang berbeda, tergantung darimana koin tersebut dikeluarkan.  Dari Irlandia, misalnya, identik dengan gambar harpa yang menjadi simbol negara. Sementara dari Perancis memuat Liberte, Fraternite dan Egalite, sedangkan German memuat simbol negaranya. Koin-koin ini jadi barang yang menarik untuk dikoleksi karena gambarnya yang berbeda-beda dan kadang membuat tertarik untuk menebak-nebak negara asalnya.
Seperti saya tulis di atas, keengganan untuk berurusan dengan recehan berbentuk koin, biasanya disebabkan berat dan nilai yang tak seberapa. Pada saat jalan-jalan, terutama di negara baru, koin-koin juga sering membuat frustasi, apalagi jika harus membayar barang-barang berharga murah. Mata harus jeli memilah-milah mana koin yang tepat. Ketika saya ke Belfast beberapa waktu lalu, saya pun sampai pusing sendiri di depan petugas kasir, karena belum kenal dengan koin poundsterling. Untungnya petugas di kasir berbaik hati memilihkan koin untuk pembayaran. Fiuh….
Ketika liburan, saya cenderung menghindari menumpuk banyak koin karena koin tak ada harganya jika ditukarkan kembali di Indonesia. Di tempat penukaran uang langganan saya di Jakarta misalnya, penjualan koin dengan mata uang asing hanya dihargai separuhnya saja. Jadi koin 1 Euro bisa dijual seharga 7500 saja. Sementara jika ingin membeli, harganya tetap sama. Tapi bagaimana lagi, koin ini memang diperlukan untuk transaksi yang penting, seperti membayar transpor umum.
Kendati sudah menghindari menyimpan koin, di setiap akhir liburan saya seringkali masih punya koin dengan berbagai nilai. Beberapa saya bawa pulang dan berakhir di toples koin, dan satu koin spesial dari perjalanan saya ke Hong Kong berakhir menjadi mas kawin untuk salah satu adik saya. Yang seru, koin tersebut saya dapatkan ketika saya pergi untuk kawin di Hong Kong. Dari perkawinan ke perkawinan lainnya.
Nah dari aneka rupa bandara yang saya kunjungi, baru di Kamboja saya saya melihat kotak amal untuk meninggalkan koin. Mungkin kotak ini juga ada di negara lain, tapi entah kenapa saya tak pernah nemu di ruang tunggu keberangkatan. Konsep kotak koin di bandara ini sangat brilian, karena turis-turis tak perlu pusing membawa koin dan bisa berbuat baik di akhir perjalanan. #TolongColekUnicefSuruhPasangSatuDiSoekarnoHatta.
Satu hal yang menarik, disini saya menemukan mesin khusus penukaran koin. Koin yang kita punya tinggal ditumpahkan di mesin tersebut, untuk ditimbang, lalu uang kita akan ditukar dengan uang kertas. Ada ongkos yang harus dibayar tentunya, sekitar 10%-15% dari jumlah yang kita tukarkan. Mesin ini tak hanya berguna sekali untuk para pengemis di Irlandia, tapi juga untuk rumah tangga yang sering menumpuk koin-koin dengan yang kurang bernilai.
Menjelang Lebaran, permintaan terhadap recehan selalu meningkat pesat. Entah siapa yang memulai tradisi tersebut. Recehan yang dicari tentunya bukan recehan dalam bentuk koin, tapi dalam bentuk kertas, seperti dua ribu, lima ribu, sepuluh atau bahkan dua puluh ribu. Ah terbayang betapa girangnya anak-anak kecil ini menerima recehan baru. Eh tapi bukan anak-anak saja sih yang girang, saya kalau nerima recehan, apalagi dalam bentuk mata uang asing, girangnya bisa berminggu-minggu. Lucunya, uang tersebut biasanya hanya saya simpan di dompet, dan tak dibelanjakan.
Anyway, selamat menyambut Hari Raya Lebaran bagi kalian yang merayakan. Bagi yang tak merayakan, selamat Liburan. Semoga kalian semua bisa makan enak dan tak sengsara seperti saya tahun kemaren. Btw, kalian masih suka terima recehan kalau hari Raya?
Foto lebaran saya tahun kemaren.
xx,
Tjetje
Merindukan sang Tante dan recehan dollarnya

Baca Juga: Susahnya Lebaran Tanpa Pedagang Kaki Lima

Biaya Hidup di Dublin

Postingan ini berurusan dengan uang dan uang itu relatif. Bagi sebagian orang terlihat mahal, bagi sebagian orang lainnya terlihat tidak mahal. Tapi perlu diketahui biaya hidup di Dublin itu memang tinggi dan tujuan dari postingan ini tidak untuk pamer ya, tapi untuk memberi panduan supaya orang-orang yang akan pindah ke Dublin (dan sering mengirim email pertanyaan serupa) bisa dengan mudahnya mendapatkan informasi. Setidaknya  mereka yang mau pindah tak perlu menunggu email balasan dari saya (yang kadang-kadang bisa berhari-hari).

Baiklah, mari kita mulai!

Akomodasi

Pertanyaan utama yang sering ditanyakan orang pada saya adalah berapa biaya menyewa rumah atau apartemen di Irlandia. Hohohoho…kalau pernah baca beberapa postingan saya pasti tahu bahwa rumah adalah isu yang panas di Irlandia dan biaya sewa apartemen ataupun rumah di sini cukup tinggi. Beberapa waktu lalu, salah satu koran disini menuliskan bahwa biaya rata-rata menyewa properti di Dublin itu setidaknya 1400 Euro per bulan.

Berdasarkan pengalaman kami menyewa apartemen di tengah kota (kami dulu menyewa di daerah Dublin 6), harga sewa berkisar di angka 2000an untuk 3 kamar. Sementara yang 1 kamar setidaknya 1200an. Pinggiran kota Dublin tentunya mematok harga yang lebih murah dan pilihan yang lebik baik, seperti rumah dengan halaman yang luas untuk 1200-1400. Tapi bedanya gak signifikan dan tinggal di pinggiran ini konsekuensinya berurusan dengan transportasi publik.

Disini, ongkos kontrak biasanya dibayarkan tiap bulan, tak perlu tiap tahun seperti di Indonesia dan ada deposit yang jumlahnya sama dengan uang sewa bulanan. Deposit ini bisa hilang kalau akan keluar dari kontrakan dan gagal memberikan one month notice, atau kalau ngerusakin bagian rumah/ apartemen. Saran saya untuk yang pindah ke Dublin, coba cari sharing rumah atau apartemen. Ada kamar yang disewakan termasuk bill, ada juga yang belum termasuk bill. Kisaran sewa kamar sendiri dimulai dari 500/ bulan. Jika dapat lebih murah dari angka itu ya beruntung. Situs untuk mencari apartemen/ rumah sendiri namanya http://www.daft.ie. Kalau soal mahal, sudah gak bisa ditawar lagi, karena konsep bidding banyak diterapkan di sini. Jumlah supply yang sedikit membuat orang frustasi dan rela membayar lebih mahal daripada orang lain.

Transportasi Umum

Transportasi di Irlandia itu MAHAL kalau dibandingkan dengan negara lain di Eropa. Tapi untuk pelajar dan pengguna kartu Leap, ada potongan ektra yang membuat ongkos jadi murah. Karena saya bukan pelajar, saya gak bisa kasih gambaran. Tapi sebagai commuter, dalam seminggu biaya transportasi tram biasanya berkisar 24 Euro sekian sen. Tak mungkin lebih, karena ada capping system untuk satu minggu. Kalau belum seminggu sudah habis 24 Euro, maka ongkos tram di sisa minggu itu gratis. Ongkos tram per jarak jauh sendiri, jika dibeli tanpa kartu, berkisar di harga 3.30 Euro, sementara yang terdekat dibandrol diharga 1 Euro lebih sekian sen.

https://www.instagram.com/p/BHElljwhG4l/?taken-by=binibule

Bagaimana dengan bis? Gak beda-beda jauh dengan tram. Bedanya kalau tram harus beli tiket di mesin, bis harus beli di supir dan harus bawa koin banyak-banyak. Soal sistem transportasi di Irlandia bisa dibaca di postingan ini.

Belanjaan

Di Indonesia, kita dimanjakan dengan mini atau supermarket yang menyediakan berbagai macam pilihan produk, dari yang paling murah hingga yang paling mahal, tergantung target market dari supermarket tersebut. Sebaliknya, di Irlandia supermarket yang murah (macam Aldi, Lidl dan Supervalue) tak menawarkan banyak pilihan. Produk-produknya pun bukan dari merek ternama, tapi produk khusus yang memang disediakan untuk supermarket tersebut. Mirip seperti produk pilihan Carefour yang harganya murmer itu tapi kualitasnya sedikit lebih baik. Soal  bagaimana supermarket-supermarket ini kapan-kapan saya ceritakan ya.

Nah biaya groceries sangat tergantung dengan gaya hidup yang belanja. Belanja irit, menurut perhitungan saya biasanya gak jauh-jauh dari 25 – 40 Euro untuk satu minggu. Ini dengan catatan rajin membeli produk-produk yang lagi diskon dan makan à la orang sini. Kalau mau makan tempe atau sayur-sayuran khas Asia akan jauh lebih mahal lagi, karena sayur mayur Asia itu harganya lebih mahal, sayur kangkung seikat di sini berkisar 2.5 Euro, sementara wortel satu kilo hanya 49 sen. Belanja di Toko Asia juga bisa bikin kantong bocor karena semuanya dipengenin. Tapi berita baiknya, di beberapa toko Asia di Dublin, mahasiswa biasanya dapat diskon 10%.

Oh ya supermarket premium disini juga ada, Tesco, Dunnes, Mark and Spencer. Supermarket yang terkesan lebih mahal ini sebenarnya tak begitu mahal selama tahu dan telaten dalam memilih. Lagipula, untuk kualitas yang baik, harus rela mengeluarkan uang lebih. Kalaupun mau frugal, bisa memilih produk-produk yang menjelang tanggal kadarluwarsa.

https://www.instagram.com/p/BGj6dVNQxkN/?taken-by=binibule

Biaya lain-lain

Nah ini yang paling tricky karena banyak dan printilan. Isi pulsa setidaknya 20 €, sudah termasuk data 4 GB dan telpon serta SMS lokal tak terbatas. Biaya sampah sendiri, biasanya ditimbang. Untuk sampah daur ulang gratis, tapi sampah sisa makanan dan sampah yang tak bisa didaur ulang dihitung perkilo. Estimasi saya sih sekitar 20 €  per bulan. Untuk yang tinggal di apartemen tak perlu pusing untuk urusan bayar sampah, karena sudah termasuk Management fee.

Biaya listrik bergantung dengan kondisi rumah dan betapa seringnya berada di rumah. Musim juga sangat berpengaruh, karena musim panas matahari sangat panjang, sementara musim dingin matahari cenderung pendek. Biaya listrik juga  tergantung dengan ukuran tempat tinggal, sistem pemanas di rumah, serta sistem insulasi rupa, tapi setidaknya diperlukan 100€ per bulan.  Biaya air di Irlandia dihitung pertahun, setahunnya sekitar 160 Euro untuk satu orang. Sementara untuk keluarga dengan 2 orang dewasa biayanya 260 Euro per tahun. (Catatan: biaya air di Irlandia sudah dibatalkan)

Televisi di Irlandia tak hanya TV kabel saja, tapi juga pajak televisi ke negara. Disini namanya tv license, biayanya setahun 160€. Daripada bayar segini mahalnya, mendingan beli proyektor bekas aja sama layar. Nanti kalau dikunjungi petugas, tinggal bilang tak punya TV. Nah kalau TV cable sendiri, biasanya jadi satu dengan internet dan ditawarkan dengan harga 40 – 80€. Tergantung kebutuhan.

Banyak pertanyaan juga tentang mencari pekerjaan di Dublin. Pelajar disini diperkenankan kerja hingga 20 jam setiap minggunya dan upah minimum perjam berkisar di angka 9-10 Euro.  Belum termasuk pajak ya. Sementara, mencari pekerjaan untuk pasangan dimungkingkan, selama pasangannya bisa dibawa ke Irlandia. Rupanya, ada  Universitas disini yang tidak memperkenankan mahasiswa S2 untuk membawa keluarganya. Akibatnya kedutaan tak mau mengeluarkan visa. Tapi perlu dicatat, mencari pekerjaan dengan paspor hijau tidaklah mudah, karena diperlukan perusahaan yang mau memberikan sponsor visa untuk bekerja.

Saya yakin masih banyak komponen biaya yang tak tercantum di tulisan ini. Tapi setidaknya ada sedikit gambaran tentang biaya hidup di Dublin. Jika ada pertanyaan yang tak terjawab, silahkan drop email ke saya, I’d be more than happy to help. Selama pertanyaannya bukan soal cara mendapatkan pekerjaan di sini dan mencari visa ya. Kalau ini mah, gak bakalan saya jawab.

Selamat berakhir pekan. Punya rencana apa akhir pekan ini?

xx,
Tjetje

Dear Pedagang Online, Jangan Gitu Dong!

Kehadiran media sosial benar-benar merubah dunia, termasuk dunia ekonomi. Mendadak, semua orang tergerak berwirausaha dan membuka toko-toko online di berbagai media sosial menjajakan segala hal yang bisa dijual. Dari gulungan kabel hingga kehangatan satu malam pun bisa dibeli di dunia maya. Saya melihat hal ini sebagai sebuah hal positif, karena ekonomi kita bergerak.

Tapi disisi lain, kehadiran pedagang di berbagai komunitas bukanlah sebuah hal yang diterima dengan tangan terbuka. Ada resistensi dan kecenderungan untuk tidak menyukai mereka. Para pedagang hanya disukai ketika dibutuhkan. Ketidaksukaan dengan pedagang ini tak muncul dalam sekejap, sudah ada sejak jaman dahulu. Bahkan, saat Multiply melebarkan bisnisnya dan merangkul pedagang, para bloggerpun ikut gerah. Sekarang, jika ada pedagang-pedagang di grup, alamat akan ada teguran yang melayang atau bahkan sang pedagang bisa ditendang. Ada beberapa hal yang saya perhatikan, tapi sebelum saya jabarkan ada baiknya saya kasih disclaimer dulu, bahwa tak semua pedagang seperti ini.

Hobi Nyampah Untuk Promosi

Coba iseng-iseng tengok Instagram para artis ibu kota, ada banyak dari mereka yang IGnya diserbu oleh komentar-komentar ajaib yang intinya dagangan. Syahrini yang hobi memamerkan tas Hermes misalnya dikomentari banyak pedagang tas Hermes KW. Sementara, salah satu artis yang belum kunjung hamil, banyak diberi tawaran klinik kesuburan ataupun pengobatan alternatif yang menjamin kehamilan. Gila komentar ini sadis banget ya. Komentar-komentar spam ini juga banyak menawarkan peninggi badan, pemutih kulit, hingga produk-produk aneh lainnya.

Pedagang tak hanya menyerbu artis ibukota saja, tapi juga menyerbu blog blogger ibukota, macam saya. Kan tinggalnya di ibukota Irlandia, boleh dong ngaku blogger ibukota. Isinya, sampah juga. Postingan tampon saya misalnya, banyak diserbu pedagang-pedagang yang menawarkan tampon murah. Lucunya, ada juga spam yang menawarkan jampi-jampi mistis.

Mungkin para pedagang-pedagang ini tak tahu bahwa meminta bantuan pada blogger untuk promosi itu gampang dan lebih baik ketimbang nyampah di komentar. Kirim email saja, minta bantuan untuk mempromosikan produk-produknya. Tak ada ruginya kan mengirimkan email kepada sang blogger, menawarkan produk gratis dengan imbalan tulisan di dalam blog atau promosi di Instagram. Tak harus ngasih uang lho (tak semua blogger itu perlu uang), cukup diberi produknya saja supaya sang blogger bisa tahu kualitasnya.

Urusan Nama

Masih berkaitan dengan komentar nyampah di atas, ada satu karakteristik yang bagi saya sangat khas sebagian pedagang dan membuat mereka jadi terkesan mengesalkan, kurang personal. Banyak pedagang yang tak mau menghabiskan sepuluh detik saja untuk mencari tahu dan mengetik nama sang empunya blog, atau sang empunya akun. Mungkin mereka terlalu sibuk, sehingga lebih memilih memanggil dengan panggilan generik seperti Bunda, Sis, atau Cin. Haduh tolong deh ya, kami kan juga punya nama. Pada saat yang sama, pedagang juga jarang banget memperkenalkan dirinya, jadi pembeli pun tak bisa berinteraksi secara personal. Terpaksa panggil Mbak, atau Mas. Kalau pas bener sih gak papa, kalau pas manggil Mbak jadi Mas, atau sebaliknya gak seru kan?

Mimin juga manusia

Saya juga manusia Min, punya nama juga!

Btw, panggilan Bunda ini buat saya ngenyek banget lho. Apalagi yang nekat manggil-manggil tanpa mencari tahu apakah yang diajak bicara punya latar belakang sebagai ibu-ibu atau engga. Asal nyosor manggil Bunda aja, padahal tak semua orang bisa dan mau dipanggil Bunda. Hal yang sama tak hanya berlaku di dunia maya saja, tapi juga untuk para SPG di supermarket-supermarket. Entah siapa yang memulai trend ini, tapi yang jelas saya juga memulai trend sendiri. Kalau ada yang nekat panggil saya Bunda, biasanya saya kasih tatapan setajam silet yang habis ditajamkan di atas batu cobek (Baca tajeeeem banget).

Hobi Ngetag

Siapa yang gak pernah kena tag foto barang dagangan? Apalagi menjelang Lebaran gini, banyak tag kue kering tanpa contoh kue keringnya, atau baju lebaran, baju koko serta mukena. Ngetag masal ini bagi saya sangat menyebalkan, walaupun bisa diselesaikan dengan cepat dengan cara untag. Tapi kalau pas apes gak ngecek media sosial selama beberapa hari, notifikasi tiba-tiba penuh. Uarrrgh…gemes deh.

Minta Nurunin Tulisan

Nah ini curahan hati sang blogger ibu kota yang baru saja dimintain nurunin tulisan karena mengandung kritikan. Padahal ya blogger ibu kota ini baru nulis penuh kritikan kalau memang pengalamannya super tak menyenangkan. Haduh…haduh….ini kan bukan jamannya Soeharto lagi dimana akses terhadap informasi dan kebenaran harus ditutupin. Ini juga bukan jamannya Tifatul Sembiring lagi yang hobi nyensor-nyensor segala hal.

Jadi para pedagang, kalau lihat tulisan yang mengkritik usaha Anda, coba ajak bloggernya ngobrol gimana cara memperbaiki layanan dan minta masukan. Kalau sudah bagus, undang bloggernya untuk datang lagi. Sekali lagi tak semua blogger itu gila gratisan ya.

Bagi saya, pedagang online itu memberikan kemudahan luar biasa, terutama untuk orang-orang yang sibuk bekerja. Tetapi, ada hal-hal tertentu yang perlu diperbaiki supaya hubungan dengan pembeli (atau calon pembeli) serta teman-teman tak rusak karena binis yang baru dirintis. Perbaikan ini tak hanya soal tata krama dalam berinteraksi, tapi juga soal keterbukaan dalam memberikan informasi harga (jangan nyolot lah kalau pembeli banyak nanya). Kegagalan membenahi hal-hal seperti ini akan dengan mudahnya membuat pembeli beralih ke situs-situs daring yang menawarkan pembelian hassle free, tinggal pencet, barangpun masuk keranjang. Lha kalau sudah begini kan yang untung usaha besar, bukan usaha kecil-kecil yang menggerakkan ekonomi.

 Gimana dengan kalian, punya pengalaman seru dengan pedagang online?

Xx,
Tjetje
Pernah berkelahi dengan pedagang online yang tak kunjung mengirimkan barang pesanan.