Budaya Malu Bertanya

 

“Malu bertanya sesat di jalan”, begitu kata guru-guru bahasa Indonesia kita serta buku-buku bahasa yang pernah kita pelajari. Peribahasa ini mengajarkan orang untuk selalu berani bertanya supaya bisa tahu kebenaran dan pada akhirnya tidak hilang arah. Secara teori memang kita diajarkan hal ini sejak dini, tapi pada prakteknya masih saja kita malu bertanya, terutama bertanya hal-hal yang substansial.

Saya yakin sebagian besar dari kita pernah mengalami masa dimana hati ingin mengangkat tangan dan bertanya, tapi kepala enggan melakukannya karena ketakutan-ketakutan yang tak beralasan. Atau situasi dimana pertanyaan itu justru tak dilempar kepada ahlinya, tetapi ditanyakan pada orang-orang yang ada di sekitar kita (dan parahnya mereka bukan ahlinya). Situasi kedua ini seringkali saya temui di dalam seminar, workshop, atau bahka pertemuan-pertemuan formal lainnya. Lucunya, jika disarankan untuk bertanya, sang penanya biasanya akan merespons dengan kalimat “kamu aja deh yang nanya, saya malas”.

Di balik kata malas itu sebenarnya ada banyak alasan mengapa orang enggan bertanya. Pertama, orang malas bertanya karena takut. Ketakutan ini bermacam-macam, yang paling sering kita temui di sekolah misalnya, takut dengan guru yang kelihatannya galak atau guru yang kelihatan tak senang jika menerima pertanyaan. Pada pelajaran yang materinya saling berkaitan, seperti matematika atau fisika, kegagalan memahami satu hal akan berdampak pada pemahaman materi selanjutnya. Tapi apa daya, rasa takut dimarahi guru lebih besar ketimbang rasa takut mendapat angka merah di rapor.

Selain takut dimarahin, banyak orang takut bertanya karena malu disangka bodoh. Tak memahami satu hal bukanlah sebuah kebodohan, apalagi kelambatan berpikir. Mungkin saja gagal paham ini karena penjelasan yang terlalu cepat atau karena kurang konsentrasi yang pecah. Tetapi karena adanya “ketakutan disangka bodoh” dan juga label masal di lingkungan kita, orang jadi enggan bertanya.

Budaya juga membawa peran penting dari keengganan ini. Di Bali misalnya ada budaya koh ngomong, alias enggan berbicara atau mengungkapkan pendapat. Ada kalanya pertanyaan-pertanyaan pun sering dijawab secara singkat dengan kalimat “nak mule keto” sudah dari sononya begitu. Akibatnya, bibit malu dan malas bertanya semakin subur. Ya ngapain capek-capek nanya kalau jawabannya pun seperti itu? Saya rasa tak hanya di Bali saja, budaya malu bertanya juga ada di berbagai tempat di Indonesia serta di negara-negara tetangga kita.

Herannya, kita tak mendorong budaya bertanya tapi justru repot menghina, berbisik-bisik, atau mencela mereka yang bertanya. Entah bertanya hal yang sederhana atau menanyakan hal-hal yang rumit sekalipun. Celaannya macam-macam, tapi yang paling sering saya dengar sih dianggap tak sopan, atau “pertanyaannya kok gitu sih”. Anehnya, pertanyaan “gitu sih” ini biasanya  pertanyaan kritis, cerdas dan teknis. Bukan pertanyaan ecek-ecek.

Lebih aneh lagi pertanyaan basa-basi seperti gaji, status perkawinan, ukuran kemaluan pasangan atau bahkan alasan mengapa tak kunjung punya anak tak dianggap sebagai pertanyaan vulgar atau sopan. Pertanyaan yang jauh dari hal ilmiah ini dianggap sebagai sebuah kewajaran. 

Padahal, mengajukan pertanyaan di luar forum resmi, apalagi jika pembicaraan di antara dua orang, ada seninya. Seni merangkai kata supaya tak terdengar menyerang juga seni membangun hubungan supaya yang ditanya pun nyaman. Baru setelah kedua belah pihak sama-sama nyaman, latar belakang bertanya dijelaskan lalu pertanyaan bisa mulai diajukan. Nah, dalam bertanya pun mata tak boleh lepas mengamati bahasa tubuh, supaya tahu yang ditanya nyaman atau tidak. Ketika yang ditanya mulai tak nyaman, penanya harus mencoba kreatif mengalihkan pertanyaan.

Kebiasaan saya untuk bertanya, baik di forum resmi atau dalam pembicaraan privat  tak datang dalam satu malam. Harus diakui sebagai anak yang tumbuh dan besar di generasi Soeharto, ada dampak kultur pembungkaman secara tak langsung pada diri saya.  Tetapi, kebiasaan ini saya tumbuhkan, karena saya mengharuskan diri untuk haus dengan informasi dan penasaran dengan banyak hal. Selain itu saya juga gerah kalau dalam satu meeting tak ada yang nanya, padahal sang presenter sudah susah-susah menjelaskan. Kok sepertinya tak ada yang berminat atau bahkan tak ada yang paham.

Google memang bisa membantu rasa ingin tahu kita, tapi dalam hal-hal tertentu, bertanya pada manusia secara langsung lebih baik daripada dengan google. Ada elemen lain yang tak ada di google, hubungan antar manusia. Dan satu prinsip yang saya tanamkan pada diri saya sendiri, there’s no such thing as a stupid question. Engga ada pertanyaan bodoh. Yang paling penting, kita sudah tak hidup di jaman  opresif lagi, jadi kebebasan untuk bertanya harus kita gunakan sebaik-baiknya. Mumpung masih ada.

Kamu, malu bertanyakah?

Xx,
Tjetje

 

Makan Pagi di St. George Market Belfast

Seperti pernah saya tulis di postingan ini, Irlandia dibagi menjadi dua. Bagian Utara merupakan bagian Inggris, sementara bagian Selatan, yang lebih lazim disebut sebagai Republik, merupakan negara independen. Jika Republik Irlandia beribukota di Dublin dengan penduduk lebih dari 700ribu jiwa, Belfast, ibukota Irlandia Utara, relatif lebih kecil, hanya berpenduduk 350ribu jiwa. Kecil, kalau menurut standar Indonesia. Perjalanan saya ke Belfast ini sebenarnya dalam rangka membawa turis Indonesia yang ngetop di jagat twitter, dengan hestek #JodohUntukAling. Hestek yang dipopulerkan salah satu travel blogger Indonesia Cerita Eka.

IMG_7636

Belfast sebenarnya tak jauh, hanya 2 jam saja dari Dublin, atau 2.5 jika salah mengambil bis non-express Tak ada perbatasan antara Irlandia Utara dan Selatan, akibatnya saya tak tahu kapan saya sudah masuk di bagian Utara. Satu-satunya informasi yang saya dapat dari telepon genggam yang tiba-tiba berteriak-teriak roaming…roaming…. Internet di dalam bus pun tiba-tiba ngadat. Mungkin ikutan roaming. Cara lain untuk mengetahui saya sudah berada di Utara adalah mencari tahu penggunakan satuan imperial seperti miles, karena di Irlandia menggunakan satuan metrik, seperti kilometer. Sayangnya, saya tak bisa menemukan papan-papan penunjuk ini.

Ada beberapa tempat turistik yang perlu dikunjungi di Belfast, dari mulai museum Titanic, City Hall, Museum Science, lokasi-lokasi pengambilan gambar Film Game of Thrones hingga pasar. George’s Market, pasar akhir pekan yang menawarkan interaksi dengan para seniman lokal dengan karya-karyanya, juga wisata kuliner. Pasar bergaya Victoria ini   ini tak hanya bisa ditemukan di Belfast, tapi juga di Cork, sebuah kota ‘besar’ di Irlandia.

Begini suasana George’s Market di Sabtu pagi itu:

IMG_7628

Dari atas terlihat sangat sibuk, terutama stand makanan. Tak hanya stand makanan, pedagang ikan, lilin, dan aneka rupa pernak-pernik pun juga sibuk menjajakan dagangannya. Bagi orang Indonesia, pasar ini mungkin terlihat tak terlalu sibuk, karena tak terlalu padat tak bisa senggol-senggolan, tapi bagi orang Irlandia pasar ini sudah cukup sibuk.

IMG_7630

Pasar ini sendiri dibangun pada tiga tahap, di antara tahun 1890 hingga 1896. Kendati berusia lebih dari seratus, bangunannya masih kokoh dan megah. Adapun nama bangunan, diambil dari nama sebuah gereja yang terletak tak jauh dari pasar ini.  Pada saat perang dunia kedua, pasar ini juga dipakai untuk menampung jenasah, saat itu tercatat 255 korban dibawa ke pasar ini untuk diidentifikasi. Wah kalau saja pasar ini ada di Indonesia, pasti sudah ada yang menawarkan tur gaib.

IMG_7606

Matahari sedang cantik, langit pun membiru

Tak seperti pasar-pasar di Indonesia, disini menggesek kartu ketika berbelanja sangat dimungkinkan, bahkan tanpa biaya tambahan 3%. Cocok untuk orang Indonesia yang hobi membeli oleh-oleh untuk encing, babah di kampung. Setelah berbelanja oleh-oleh saya sangat merekomendasikan untuk makan di pasar. Kami sendiri memutuskan untuk memesan menu sarapan, walaupun waktu menunjukkan saat makan siang.

Seperti saya tulis di postingan ini, menu sarapan di Utara tidaklah sama dengan di Selatan. Dan karena saya sudah terlalu terbiasa dengan sarapan Selatan, saya tak menyukai sarapan Irlandia Utara. Roti Kentang yang menjadi bagian dari sarapan ini bagi saya bikin tenggorokan sakit, karena kandungan minyak yang rasanya cukup tinggi. Tak hanya membandingkan roti, tapi juga membandingkan rasa sosis. Ya jelasnya rasanya tak akan sama wong yang masak pun tak sama. Kendati sarapannya tak sesuai dengan lidah saya, ada satu hal yang bagi saya jawara, minumannya yang bernama Black Velvet, percampuran prosecco dan Guinness. Rasanya enak dan menyegarkan, sayang porsinya kurang banyak. Eh tapi kalau banyak-banyak nanti dimarahin Uni karena pagi-pagi sudah minum alkohol.

IMG_1839

Sarapan saya yang terdiri dari sosis, pudding, roti kentang, bacon, serta telur setengah matang dan juga black velvet, perpaduan Guinness dan prosecco.

Yang perlu diketahui tentang St. George’s Market:

  • Hari Jumat pasar ini buka pada pukul 6 pagi hingga 2 siang. Fokusnya aneka rupa ikan dari Atlantik. Ada juga barang-barang antik serta  buah.
  • Hari Sabtu, yang saya datangi, pasar buka pada pukul 9 pagi hingga pukul 3, fokusnya makanan dari berbagai belahan dunia, serta kerajinan tangan.
  • Hari Minggu, pasar buka pada pukul 10 – 4, masih menjual kerajinan, makanan dan juga barang-barang antik.
  • Ada bis gratis setiap 20 menit dari pusat kota. Bis berangkat jam 8 pagi  pada hari Jumat dan pada pukul 9 di hari Minggu.

Jadi sarapan apa tadi pagi?

xx,
Tjetje

Tentang Kewarganegaraan Ganda

Pada saat jam makan siang beberapa waktu lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman tentang kewarganegaraan ganda. Seperti banyak diketahui, Indonesia belum memperbolehkan kewarganegaraan ganda kecuali untuk anak-anak yang lahir dari perkawinan campur. Kewarganegaraan ganda bagi mereka pun bersifat terbatas, hanya sampai usia tertentu, lalu mereka harus memilih satu kewarganegaraan. Entah mengikuti ayahnya, atau mengikuti ibunya.

Di luar kelompok tersebut, memiliki kewarganegaraan ganda adalah hal yang ilegal dan melanggar undang-undang. Tapi pada prakteknya ada saja WNI yang memiliki dua paspor, paspor hijau dan paspor negara barunya. Nah dalam perbincangan makan siang itu, kami membahas secara teknis bagaimana Indonesia bisa mengetahui individu-individu yang memiliki kewarganegaraan ganda. Menurut teman saya, negara tak punya informasi dan kuasa untuk mengecek status warga negaranya yang ganda. Sehingga, negara tak bisa dengan semena-mena mencabut kewarganegaraan WNI yang melakukan hal tersebut. Saya sendiri bersikukuh bahwa negara punya hak untuk melakukan hal tersebut, karena hal tersebut ilegal. Perbicangan itu tak sempat memanas, apalagi mendidih karena kami berdua tak tahu bagaimana teknisnya negara bisa mengetahui hal tersebut.

Dan tentunya saya pulang dengan rasa penasaran lalu UU no. 12 tahun 2006. Negara ternyata berhak untuk mencabut kewarganegaraan seseorang karena memiliki kewarganegaraan ganda. Dalam bahasa UU sih mereka yang memiliki kewarganegaraan lain atas kemauan sendiri otomatis akan kehilangan kewarganegaraannya. UU ini juga membahas tentang lembar negara yang mengumumkan mereka yang kehilangan kewarganegaraan. Dan saya pun semakin penasaran ingin tahu bentuk lembar negara tersebut. Tapi ya namanya UU, tak ada detailnya, wong bukan juklak, apalagi juknis. Busyet bahasanya.

Penasaran saya tak berhenti disitu saja, ketika kesempatan datang, saya pun menanyakan secara detail pada pegawai plat merah. Pertanyaan saya terjawab dong, bahkan secara rinci termasuk bagaimana negara melakukan penyelidikan, dari yang paling sederhana seperti melihat jejak dokumen perjalanan atau bahkan mendapatkan informasi resmi dari negara tersebut. Jadi bukanlah hal yang aneh jika petugas KBRI tiba-tiba menolak memberikan perpanjangan paspor pada WNI karena dianggap memiliki paspor lain, atau lebih ektrem, paspor hijau tiba-tiba disita lalu dihancurkan.

Saat ini, beberapa kelompok perkawinan campur serta diaspora sedang berjuang untuk meloloskan kewarganegaran ganda. Kewarganegaran ganda yang diinginkan bukan kewarganegaraan ganda terbatas, tetapi kewarganegaraan ganda secara penuh. Saya sendiri memahami latar belakang perjuangan ini, karena urusan administrasi dengan paspor hijau kita tidaklah mudah. Saya contohnya harus antri di luar bangunan imigrasi negara ini pukul 7 pagi, berdiri melawan dingin, untuk memperpanjang visa. Perjuangan saya ini membuahkan hasil perpanjangan visa satu tahun saja dan tahun depan saya harus melawan dingin lagi. Mungkin tahun depan saya akan bawa kursi atau bahkan buka usaha menyewakan kursi di luar gedung imigrasi.

Mereka yang punya anak juga seringkali mengalami perpisahan singkat yang tak mengenakan di depan imigrasi. Sang anak belok ke antrian yang lebih pendek, sementara sang ibu belok ke antrian EU. Kok ibu-ibu, saya pun sering mengalami hal ini dan dibombardir beraneka rupa pertanyaan.

Ketidakmudahan administrasi ini secara tak langsung juga berdampak pada hilangnya putri dan putra terbaik Indonesia. Ambil contoh yang paling mudah, Anggun Cipta Sasmi yang menjadi warga negara Perancis atau. Anggun tak sendiri, ada banyak orang-orang Indonesia yang cerdas dan memiliki keahlian terpaksa melepaskan status WNInya karena urusan administrasi paspor hijau yang kurang sakti. Kasihan lho mereka ini sering dianggap sebagai pengkhianat bangsa dan dianggap tak punya nasionalisme. Padahal, nasionalismeitu tak sebatas paspor, tapi dilihat dari hati.

Di sisi lain, kewarganegaraan ganda juga menciptakan kerumitan tersendiri, terutama jika berkaitan dengan pajak. Maka tak heran jika banyak negara seperti, bahkan negara maju tak memperbolehkan kewarganegaran ganda. Di ASEAN, Indonesia setidaknya ditemani Singapura, Thailand, Malaysia, dan juga Myanmar. Sementara negara maju lainnya, seperti Norway dan Jepang tak memperkenankan kewarganegaraan ganda. Berbeda dengan Australia, Amerika dan Irlandia yang memperbolehkan. Irlandia bahkan akan memberikan paspor dengan mudahnya pada orang-orang keturunan Irlandia.  Sebuah kemudahan yang didambakan banyak diaspora dan keturunannya di berbagai belahan dunia.

Setujukah kalian dengan ide kewarganegaraan ganda bagi WNI?

Xx,
Tjetje

Makanan Irlandia Terenak

Halo…halo…sudah lama saya tak menulis blog, karena sibuk dan juga sedikit malas. Cuaca di Dublin akhir-akhir ini selalu galau seperti Cinta dan Rangga 14 tahun lalu, tapi sedikit lebih baik dari musim dingin. Dengan cuaca yang lebih baik ini kami jadi lebih rajin keluar dan menjemur diri untuk vitamin D dan vitamin G, alias gosong. Sambil berjemur tentunya tak lupa tangan menggenggam botol bir atau gelas anggur, biar dimarahin Tifatul Sembiring karena minum alkohol. Tiffie kok ditanggepin.

https://twitter.com/BiniBuleID/status/729562720111071232

Bicara tentang alkohol, baru-baru ini saya berkunjung ke sebuah pub yang terletak bersebelahan dengan pemakaman. Pub ini termasuk sebagai salah satu pub terbaik di Dublin yang wajib dikunjungi karena keunikannya. Yang tak minum alkohol, bahkan anak-anak pun juga masuk ke pub. Seperti pernah saya tulis di sini, pub di Irlandia tak sama dengan pub di Jakarta. Anak-anak boleh masuk untuk makan, tidak untuk minum.

Pemakaman Glasnevin sendiri cukup penting karena orang-orang berpengaruh dan juga pahlawan-pahlawan banyak dimakamkan disini. Nah pub yang didirikan pada tahun 1833 dan merupakan pub keluarga (yang masih dijalankan oleh keluarga yang sama) ini tak kalah pentingnya dari si kuburan, terutama di antara para penggali kubur. Jaman dulu, penggali kubur sering sekali minta satu pint bir  (568 milimiter) melalui tembok belakang pub ini. Maka tak heran, Kavanagh’s pub ini lebih dikenal sebagai Gravediggers (penggali kubur). Kalau di Indonesia pub ini mungkin dijauhi orang dan dipenuhi dengan cerita-cerita horor, sementara disini pub ini dicari turis.

Saat masuk ke pub ini, kami dalam kondisi kelaparan karena belum sarapan padahal waktu sudah melewati waktu makan siang. Makanan pub di Irlandia termasuk makanan yang membosankan, menunya biasanya tak jauh-jauh dari stew, Irish pie, atau fish and chips (gorengan ikan dan kentang). Ketika kami masuk ke pub tersebut, makanan yang disajikan hanya berupa roti lapis. Sebagai orang Indonesia sejati, saya tak bisa dikasih makan roti doang, engga nampol rasanya, tapi apa daya di negeri orang lidah mesti menyesuaikan. Lalu saya iseng-iseng membaca artikel-artikel yang ditempel di tembok pub.

Salah satu artikel di tembok bercerita tentang Anthony Bourdain yang berkunjung ke pub ini saat Bloomsday. Bloomsday ini merupakan perayaan karakter Leopold Bloom di novel James Joyce yang berjudul Ulysses. Nah di Dublin dan di beberapa tempat lainnya, hari ini itu sangat penting dan tentunya sangat sibuk. Anthony Bourdain saat itu datang ke pub ini lengkap dengan kru kameranya. Kebayang kan hebohnya? Di tengah kehebohan itu, ia mendapatkan suguhan coddle. Saya yang tak pernah tahu tentang coddle pun langsung bertanya dan tentunya ingin pesan. Sayangnya hari itu coddle tak ada dimenu.

Saya yang biasanya santun dan berbicara dengan suara halus #boongbanget, entah mengapa hari itu berbicara agak kencang pakai toa. Alhasil, sang chef, Ciaran Kavanagh, mendengar permintaan saya. Tiba-tiba ketika mulut sedang mengunyah roti lapis tanpa semangat, pelayan pub membawakan satu piring coddle ke meja saya. Sang pelayan berkata: “The Chef overheard a customer asking for coddle and made you one”. Seperti inilah penampakan sang coddle:

https://www.instagram.com/p/BFHF9pewxlI/?taken-by=binibule

Wah rasanya saya pengen jejingkrakan riang gembira melihat piring yang penuh dengan sapi berkaki pendek. Jadi coddle ini terdiri dari sosis Irlandia, iga dan juga kentang (kadang-kadang juga dengan rasher/ back bacon) direbus bersama garam, merica dan dihiasi dengan sedikit parsley. Sederhana, sangat sederhana untuk lidah Indonesia yang terbiasa makan dengan aneka rupa bumbu. Tapi biarpun sederhana rasanya sangat gurih, mungkin karena lemak-lemak sapi kaki pendek yang bercampur menjadi satu. Coddle buatan chef Ciaran ini memang terkenal dan konon, ada ada orang-orang tua yang mengatakan rasanya mirip dengan buatan ibunya. Duh rasanya memang sungguh nikmat, apalagi ketika tahu sang chef membuat khusus untuk saya. Saking nikmatnya, roti lapis saya pun berpindah ke piring pasangan saya, sementara sepiring coddle dengan dua sendok itu saya habiskan sendiri. #kemaruk

Ciaran herald

Chef baik hati itu!

Coddle ini bukan satu-satunya hal yang bikin saya pengen kembali ke pub ini. Konsep menu tapas untuk makan malam dan menunya berbeda-beda setiap harinya membuat saya ingin datang lagi. Pub untuk pencinta makanan ini juga tak menyajikan menu anak-anak macam nuggets and chips, selain karena tak sehat, juga untuk membiasakan anak-anak untuk menyukai makanan sehat. Btw, ketika mengucapkan terimakasih pada sang chef, saya mengobrol banyak tentang makanan dan tentunya saya menyarankan menu Indonesian untuk tapasnya. Tahu menu apa yang dia kenal dari Indonesia? Apalagi kalau bukan rendang!

Jadi mau makan siang apa hari ini?

xx,
Tjetje
Lupa memotret pubnya!

 

Cuti

Ketika masih bekerja di Jakarta, saya memiliki hak cuti sebanyak 30 hari kerja setiap tahunnya. Cuti yang tak bisa dipindahkan ke tahun berikutnya selalu saya habiskan, bahkan terkadang kurang. Maklum saja, hobi jalan-jalan tak hanya menguras tabungan tapi juga menguras cuti.

Menghabiskan cuti 30 hari bagi saya adalah hal yang mudah. Ketika itu atasan saya  punya prinsip penting bahwa CUTI MERUPAKAN HAK KARYAWAN. Maka tak heran jika cuti saya selalu disetujui dengan mudahnya, berapapun lamanya. Bahkan, ketika ada acara penting di kantorpun saya diperkenankan untuk cuti tanpa mempertanyakan alasannya. Lagipula, saya bukan cuti untuk melarikan diri dari pekerjaan dan tanggung jawab.

Namun sayangnya, banyak sekali bos-bos di luar sana yang menyalahgunakan kekuasan dan menggunakan cuti sebagai alat untuk mengontrol anak buahnya. Padahal, cuti di Indonesia itu termasuk dalam kategori sadis, hanya 12 hari saja setiap tahunnya (ditambah aneka rupa cuti khusus yang tak seberapa). Cuti yang pendek ini pun masih sering terpotong lagi dengan cuti bersama. Praktis cuti di Indonesia semakin pendek. Dan kalau sudah pendek mengapa harus dipersulit?

Dari perbincangan saya, para atasan ini biasanya punya banyak modus dan alasan untuk menghambat anak buahnya mengambil cuti. Modus yang paling sering digunakan adalah menunda memberikan persetujuan atas permintaan cuti. Kendati cuti sudah diajukan dari beberapa waktu sebelumnya, si bos tetep keukeuh untuk tak memberikan. Alasannya: lihat nanti. Lihat nanti ini alasan ampuh untuk bilang: saya males ngasih kamu cuti tapi saya lagi nyari alasan.

Alasan paling umum tentunya pekerjaan. Padahal pekerjaan di kantor itu tak akan pernah habis dan selalu ada. Ada kalanya memang load pekerjaan menumpuk karena kejadian-kejadian khusus. Ketika sang staf sangat diperlukan maka diperlukan common sense dari kedua belah pihak. Eh tapi jika staf tak terlalu diperlukan dan sang atasan menahan dengan alasan ini? Errr.. Nanti dulu.

Selain alasan-alasan di atas, atasan biasanya agak susah memberikan cuti ketika pegawai yang akan cuti merupakan pegawai penting yang tahu segala-galanya. Pegawai andalan kantor atau jantung hatinya kantor lah. Begitu sang pegawai cuti, bosnya pun kebakaran jenggot karena sang bos kurang tahu teknis pekerjaan. Ya kalau begini mah sengsara.

Bicara tentang cuti, di Indonesia ada beberapa cuti yang bagi saya menarik seperti cuti kawin (sekali lagi penggunaan kata kawin disini mengacu pada UU Perkawinan) diberikan selama 3 hari kerja. Sementara cuti menikahkan anak selama 2 hari. Cuti ini relatif pendek mengingat perkawinan di Indonesia sangat ribet dan biasanya memakan persiapan beberapa hari (bahkan bulan atau tahun). Tapi mending daripada tak ada lah ya.

Bagi mereka yang mengkhitankan anak juga diberikan cuti selama dua hari. Sementara mereka yang beragama Katolik diberikan akses cuti selama 2 hari juga ketika anaknya dibaptis. Cuti khusus ini nampaknya hanya untuk pemeluk agama Islam dan Katolik. Sementara yang beragama lain tak mendapatkan keistimewaan. Mungkin karena memang tak ada kegiatan khusus yang berkaitan dengan anak atau yang membuat UU tak kepikiran.

Bagi yang berduka cita, Indonesia juga mengatur pemberian cuti 2 hari bagi yang keluarga inti yang meninggal dunia. Sementara jika ada anggota keluarga di rumah yang meninggal dunia dan pertalian darahnya tak sekuat keluarga inti (suami, istri, mertua, orang tua dan anak) cuti yang diberikan hanya satu hari saja. Wajar sih cuti ini pendek, karena proses pemakaman di Indonesia cukup cepat.

Selain berduka cita, negara juga memberikan hak cuti untuk mereka yang melahirkan dan keguguran. Kendati cuti keguguran diberikan pada suami, cuti melahirkan, atau lazim disebut paternal leaves dalam bahasa Inggris, belum diberikan kepada kaum pria di Indonesia. Padahal cuti ini penting sekali untuk kesetaraan pria dan perempuan. Belum adanya cuti ini menunjukkan betapa peran kehadiran sang bapak pada bulan-bulan pertama saat anak lahir dianggap kurang penting. Bisa juga karena urusan anak dianggap tanggung jawab perempuan. Pada saat yang sama cuti yang diberikan kepada ibu yang melahirkan relatif pendek, hanya 3 bulan, 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan setelah melahirkan. Bagi saya, cuti ini sudah saatnya diperpanjang. Apalagi untuk mendukung pemberian ASI di Indonesia.

Satu cuti yang menurut saya unik adalah cuti haid bagi perempuan selama dua hari kerja. Cuti ini berguna bagi mereka yang mengalami sakit parah ketika datang bulan. Nampaknya cuti ini jarang diambil oleh pegawai, karena malu jika para kolega mengetahui jadwal bulanan. Padahal cuti yang satu ini paling mudah didapatkan, karena datang bulan tak bisa ditunda.

Selamat menyambut hari buruh rekan-rekan. Semoga cuti di Indonesia bisa diperpanjang hingga satu bulan.

Xx,
Tjetje
Buruh juga

Perisakan (Bullying) di Lingkungan Kerja

Saya mendefinisikan perisakan sebagai perilaku agresif yang dilakukan secara sadar dan terus-menerus untuk mengintimidasi dan meneror orang lain, baik secara fisik ataupun secara psikis. Perisakan tak memandang latar belakang individu dan terjadi dimana-mana, dari mulai di sekolah, sosial media hingga di kantor.

Kantor yang idealnya dipenuhi dengan orang-orang dewasa yang profesional seringkali menjadi tempat melakukan perisakan dan tak ditangani dengan serius. Saya beruntung pernah bekerja di insitusi yang menganggap perisakan dengan serius, karena perisakan jika tak segera ditangani bisa mengarah pada penurunan kualitas kerja, stress, depresi, bahkan kematian (biasanya karena bunuh diri).

Sebagai orang-orang yang seharusnya dewasa, ada baiknya kita melihat berbagai tipe perisakan yang ada di lingkungan kerja. Selain menghindari terseret menjadi perisak juga supaya kita bisa mengenali tipe-tipe perisakan untuk kemudian menghentikan.

Anak baru

 Konsep anak baru dikerjain merupakan sebuah konsep yang dianggap menjadi sebuah kewajaran di Indonesia. Kita semua tak menganggap ini sebagai sebuah hal yang aneh, karena tradisi mengerjai anak baru sudah mengakar di Indonesia, bahkan diajarkan di sekolah pada saat hari pertama.

Di beberapa kantor, ada individu-individu yang arogan dan masih membawa budaya tak sehat ini. Saya sendiri pernah mengalami ketika masih jadi anak baru dan disuruh beli materai di bawah panas dan pengapnya Jakarta. Yang nyuruh sesama pegawai dan bukan penyelia. Saya langsung menolak dan menyarankan ia menyuruh pramu bakti di kantor. Bukan masalah tugasnya yang remeh, tapi karena tujuan menyuruh ini jelas-jelas untuk ngerjain dan merendahkan peran saya sebagai anak baru. Sang penyuruh, bagi saya juga semena-mena dan ingin menunjukkan kekuasaan yang sebenarnya tak ia punyai. Gak usah repot-repot ngebayangin yang begini jadi bos beneran.

Selain diminta melakukan tugas-tugas yang tak seharusnya, anak baru juga sering dimarah-marahin karena tak tahu dengan kalimat sakti: “Gimana sih, gini aja gak tahu”. Padahal dimana-mana yang namanya anak baru itu memang tak tahu sehingga harus dilatih terlebih dahulu. Hal yang terlihat remeh ini saya kategorikan sebagai perisakan ringan di kantor.

Ada juga perisakan dengan cara memberikan tugas yang hampir mustahil dikerjakan. Tugas-tugas susah ini harus diselesaikan dalam tenggat waktu yang tak masuk akal. Akibatnya tugas tak selesai dan performa kerja pun terlihat tak bagus.

Eklusi dalam kehidupan sosial kantor 

Urusan kantor tak hanya sebatas datang dan bekerja saja. Ada kehidupan sosial perkantoran seperti makan siang, makan malam, acara kesenian (contohnya karaoke atau menonton pertujuan seni), hingga sekadar nongkrong-nongkrong cantik di warung kopi. Salah satu bentuk perisakan yang sering terjadi dan berkaitan dengan kehidupan sosial perkantoran adalah eklusi.

Yang paling sepele aja, nggak ngajak makan siang bersama sehingga rekan kerja harus makan siang sendirian; atau sebaliknya, jika diajak sang kolega makan siang selalu menolak. Alasannya berbagai macam, tapi yang paling utama memang malas bersosialisasi dengan kolega tersebut yang biasanya berakhir dengan mengisolasi sang kolega dari kegiatan sosial perkantoran. Seaneh apapun kolega kita, isolasi dan eklusi adalah sebuah perisakan yang berat.

 Menyindir & bergosip

Perisakan lain yang tak kalah beratnya adalah menyindir dengan pedas untuk memberi tekanan secara terus-menerus dan juga bergosip untuk merusak reputasi rekan kerja. Soal ini tak perlu diberi contoh ya, karena kita pasti sudah pernah melihat (atau bahkan melakukan).

Selain sindiran dan gosip, penggunaan bahasa yang tak layak dalam lingkungan kantor, apalagi jika digunakan secara terus-menerus juga dapat dikategorikan sebagai perisakan. Jika bertemu dengan yang seperti ini, amit-amit, jangan segan untuk melaporkan.

Silent treatment

Mendiamkan orang dengan alasan apapun, tak hanya sebuah kejahatan yang merusak kondisi psikologis orang lain, tapi juga menunjukkan ketidakmatangan pelakunya. Sebagai orang dewasa yang tentunya tahu cara berkomunikasi, masalah-masalah apapun harusnya bisa diselesaikan dengan cara bicara, baik secara langsung ataupun menggunakan perantara. Satu hal yang pasti, mendiamkan orang dalam lingkungan kerja menunjukkan ketidakprofesionalan, apalagi jika hal tersebut menghambat pekerjaan tim.

Penutup

Menyalahkan korban perisakan karena menjadi pihak yang dianggap lemah dan tak bisa melawan juga merupakan hal yang salah dan tak patut dilakukan, karena tidak semua orang memiliki kekuatan untuk melawan, apalagi ketika perisakan dilakukan secara terus-menerus hingga menggerus kepercayaan diri sang korban.

Seperti saya tulis di atas, perisakan yang terdengar remeh ini bisa sangat berbahaya. Pada kasus yang ekstrim, bisa terjadi pengakhiran hidup, alias bunuh diri. Makanya jangan segan untuk mengingatkan pelaku dan juga berbicara pada korbannya. Untuk menyemangati sang korban ya, bukan untuk memperburuk situasi. Penting juga untuk tahu kemana kita bisa melaporkan perisakan.

Pernah mengalami atau melihat perisakan di kantor?

Xx,
Tjetje
Pernah menjadi korban perisakan

Warna-warni Kelam Grup WhatsApp

Berapa banyak dari kalian yang punya Whatsapp di telepon genggam? Saya yakin hampir semua dari kalian memiliki aplikasi yang mempermudah dan membuat biaya komunikasi lebih murah. Whatsapp, seperti juga Blackberry Messenger, memberi ruang pada individu-individu untuk membuat kelompok-kelompok yang kita kenal sebagai WhatsApp group.

Dalam grup WA biasanya terdapat batasan orang yang bisa tergabung, Hanya 100 orang saja untuk setiap grup (silahkan dikoreksi kalau angka ini salah). Dengan jumlah yang 100 orang saja, grup WA ini biasanya selalu berisik. Berisik karena banyak hal, tapi yang pasti karena hampir semua orang ingin berbicara. Tak heran jika kemudian ada fitur silent yang bisa diatur hingga satu tahun.

Saya sendiri tergabung dalam beberapa grup WA dan aktif menjadi penonton kelakuan orang-orang. Berdasarkan pengamatan saya, ada berbagai tipe orang yang ada di dalam grup. Beberapa di antaranya saya ulas di bawah ini:

Tukang kirim hoax (penipuan)

Membagikan informasi yang tak benar, atau tanpa mengecek ulang bagi saya adalah perbuatan tercela. Sangat tercela. Apalagi jika informasi ini membuat orang panik dan cemas, terutama berkaitan dengan bencana ataupun kesehatan, duh makin gemas saya. Herannya, orang-orang masih banyak yang tak memahami bahwa informasi yang diakhiri dengan kata “bagikan pada teman, saudara tercinta” atau bantu broadcast seringkali menyesatkan. Banyak juga informasi yang sudah basi, seperti informasi anak hilang, dan terus-menerus disebarkan. Atau bahkan informasi-informasi lowongan pekerjaan yang belum tentu benar atau bahkan sudah lewat batas akhir pengiriman dokumennya.

Tukang dagangan 

Berdagang itu sah-sah saja, wong namanya orang berjuang melanjutkan hidup. Tapi bagi saya berdagang dan mempromosikan barang juga harus etis. Di banyak grup saya sering melihat orang-orang yang mempromosikan dagangannya lagi, lagi, lagi dan lagi sampai bosan. Tiap hari promosi tentang dagangan yang sama, lama-lama rasanya bosan.

“Serunya” lagi, diskusi tentang produk-produk dagangan ini seringkali berlangsung di dalam grup, bukan dalam pembicaraan private. Akibatnya, grup menjadi berisik karena salah satu anggota ingin membeli sebuah produk tetapi harus mengajukan seribu pertanyaan terlebih dahulu. Ah capek deh.

Tukang guyon tak sensitif

Orang Indonesia itu seneng bercanda dan bercanda itu sehat untuk kesehatan jiwa. Guyonan bisa ditemukan dengan mudahnya di dalam  grup, karena ada saja anggota grup yang menyebarkan joke. Tapi yang tak mengenakkan ada saja orang-orang yang menyebarkan guyonan yang tak sensitif. Entah tak sensitif jender atau tak sensitif bencana. Jika kemudian ditegur, alamat yang menegur kena tegur balik karena dianggap tak bisa santai dalam hidup. Susah memang menjelaskan bahwa ada hal-hal, termasuk pemerkosaan, yang tak pantas dibuat bahan ketawaan.

Tukang ngobrol tanpa henti 

Seperti saya bilang di atas, notifikasi grup whatsapp itu tak berhenti. Kalaupun diatur dalam mode silent tanpa notifikasi, pembicaraan di grup akan terus-menerus diunduh oleh sistem. Entah mengapa ada saja orang-orang yang ngobrol terus-menerus, seringkali hal-hal yang tak penting hingga larut malam. Pembicaraan tanpa henti hingga malam ini bagi saya tak sensitif karena tak mempertimbangkan 90 orang lainnya yang ada di dalam grup dan kebutuhan mereka untuk beristirahat. Kalaupun telepon genggam diposisikan silent, baterai telepon genggam mereka juga perlu istirahat.

Tukang Menyebar Ayat

Baru-baru ini salah satu orang di grup yang saya ikuti memutuskan untuk keluar dari grup karena: terlalu banyak ayat di dalam grup tersebut. Mengindahkan ayat-ayat tersebut memang sebuah hal yang mudah, tapi tentunya lama-lama gerah juga kalau grup yang harusnya dibuat menjadi ajang memperkuat pertemanan berubah menjadi rumah ibadah. Apalagi jika ayat-ayat yang dibagikan tak relevan dengan agama dari sebagian anggota grup. Saya sendiri sangat memahami ketidaknyamanan ini karena sudah beberapa kali mengalami sendiri.

Grup whatsapp itu dibuat untuk menjalin komunikasi dan pertemanan. Informasi yang dibagi-bagikan selayaknya informasi yang penting dan tak menipu. Soal bagi-bagi informasi ini saya jadi ingat kata-kata Femi Oke, presenter Al-Jazeera: ketika menyebarkan informasi yang salah, kredibilitas kitalah yang dipertaruhkan. Tak hanya itu, dalam bergaul di grup WhatsApp, kita dituntut untuk bisa sensitif dan menjaga kenyamanan bersama. Ketika tak ada kenyamanan lagi, jangan heran jika banyak orang-orang yang keluar dari grup. Ngapain juga masuk di grup jika berisik, kurang bermanfaat dan menghabiskan baterai.

Menurut kalian adakah hal lain yang mengganggu di grup whatsapp?

Xx,
Tjetje
Gak suka ngucapin selamat ulang tahun di grup WA

 

Whatsapp-infographic

source: http://www.jeffbullas.com (data 2015)

Imigran dan Rasisme di Irlandia

Beberapa waktu lalu, televisi nasional di Irlandia (semacam TVRI gitu, tapi lebih berkualitas), menayangkan sebuah film dokumenter tentang imigran di Irlandia. Dokumenter itu bercerita tentang beberapa kelompok imigran yang tinggal di Irlandia. Kelompok ini terdiri dari orang muslim, pelajar berkulit hitam serta seorang pria Romania yang kulitnya putih. Dokumenter ini menggambarkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para pendatang dalam menjalani hidup dan berintegrasi di Irlandia.

Orang-orang yang saya sebut di atas mewakili sebuah komunitas-komunitas imigran yang sering terdiskriminasi. Romania yang berkulit putih dan berwajah Eropa misalnya identik dengan mengemis, mencuri di toko, serta label-label lain seperti malas bekerja dan hanya suka mengambil jaminan kesejahteraan sosial. Ketika berbelanja mereka sering sekali diawasi oleh security karena label tukang mencuri. Di dokumenter ini seorang pria muda diceritakan sukses menjadi polisi di Irlandia. Sukses itu tak datang dengan mudah, karena ibunya harus mengemis untuk keluarganya.

Kelompok-kelompok muslim sendiri banyak ditakuti karena diidentikkan dengan terorisme serta islamisasi Eropa. Di film tersebut seorang pria Irlandia berkulit putih bahkan tak segan menyerang dan mengancam pria muslim secara verbal. Perempuan muslim yang mengenakan jilbab di Irlandia mengeluhkan betapa seringnya mereka diberi pandangan oleh orang lain. Perempuan yang ada di film ini bahkan pernah diikuti oleh pria setelah turun dari bis. Saya kemudian ngobrol dengan seorang teman yang berjilbab tentang diskriminasi di Irlandia. Teman saya ini tak pernah mengalami diskriminasi, tapi sering banget dilihatin orang, mungkin karena pilihannya untuk mengenakan jilbab. Dan dilihatin karena penampilan yang mungkin dianggap aneh ini bagi mereka cukup tak mengenakkan.

Islamisasi Eropa sendiri merupakan isu yang cukup ditakuti banyak orang. Dalam sebuah kesempatan, seorang rekan saya di kelas bahasa pernah berkata bahwa Irlandia adalah negara Katolik yang memiliki nilai-nilai Katolik. Anak muda ini kemudian takut jika nilai-nilai Katolik ini hilang atau bahkan berubah karena kehadiran Islam. Pada intinya ia menolak perubahan dan baginya Islam itu mengerikan. Di film tersebut juga ditampilkan sebuah organisasi Pegida dan organisasi politik Identity Ireland yang menolak imigrasi secara besar-besaran di Eropa. Organisasi ini monggo digoogle tapi gak usah pakai emosi bacanya.

Kelompok terakhir yang ada di film tersebut adalah kelompok kulit hitam yang diwakili oleh seorang pelajar berkulit hitam yang juga sering didiskriminasi. Di akhir cerita, Boni, sang mahasiswa hukum ini menjadi Presiden Pelajar pertama yang berkulit hitam di sebuah universitas di Irlandia. Cerita manis Boni tapi tak semanis dengan cerita beberapa pengemudi taksi yang pernah saya ajak ngobrol. Seorang pengemudi taksi bahkan pernah dipukuli sekelompok orang ketika sedang menunggu penumpang. Menurut sang pengemudi, saat itu ada polisi di area kejadian, tapi ia tak ditolong. Masalah yang kemudian dilaporkan ke polisi juga tak pernah ditemukan pelakunya.

Rasisme terhadap para pengemudi taksi berkulit hitam juga sering terjadi ketika urusan mengangkut penumpang. Bukan hal yang aneh lagi jika penumpang rela menunggu taksi berikutnya karena enggan disupiri pengemudi berkulit hitam. Bahkan, ada ibu-ibu yang sudah memesan taksi mengenakan aplikasi langsung menolak dan membatalkan pemesanan ketika tahu pengemudinya berasal dari Afrika. Sungguh sebuah perilaku yang mencengangkan, apalagi saat itu terdapat anak kecil bersamanya.

Boni

Boni, pria keturunan Nigeria yang berhasil jadi presiden mahasiswa berkulit hitam.

Salah seorang teman saya yang tinggal di sebuah kota kecil di Irlandia pernah mengalami rasisme yang cukup parah. Ketika itu sang pemilik toko yang ia kunjungi berkata “lebih baik kalau semua orang asing di negeri kita ini kembali ke negaranya dan tanah-tanah kosong kita bisa dipakai untuk sapi”. Di tempat ia tinggal, rasisme memang cukup tinggi, saking tingginya ia sampai tahu mana toko yang harus didatangi dan mana yang tak boleh didatangi. Ia tak sendirian, rekannya warga Malaysia juga sering mengalami diskriminasi.

Seperti saya tulis di postingan tentang rasisme, Irlandia itu negara yang cukup terbuka untuk para imigran. Orang-orangnya ramah dan terbuka pada orang asing. Kendati begitu, rasisme masih tetap ada dan jumlahnya hingga saat ini relatif “kecil”. Kecil tapi menyakitnya.

Pernah mengalami diskriminasi atau rasisme?

Xx,
Tjetje

Baca juga: Tentang rasisme & Irlandia

Name Dropping

Name dropping adalah istilah bahasa Inggris yang jika diartikan secara harfiah menjadi “menjatuhkan nama”. Dalam bahasa Indonesia sendiri name dropping saya artikan sebagai mencatut nama atau membawa-bawa nama orang lain, bisa nama saudara, orang tua, kenalan, teman yang terkenal atau memiliki jabatan. Perilaku bawa-bawa nama orang sendiri bukanlah hal yang ekslusif milik orang Indonesia dan dilakukan banyak orang di banyak negara.

Sumber: theskinnyon.typepad.com

Sumber: theskinnyon.typepad.com

Orang-orang yang melakukan name dropping saya kategorikan menjadi dua. Yang pertama yang melakukan name dropping untuk memukau dan secara tak langsung menunjukkan atau menaikkan status sosial. Agak narsis juga karena kepengen keliatan satu strata sosial dengan orang-orang tertentu. Kelompok ini biasanya mengaku temennya artis A, artis B, ponakan presiden, ponakan menteri atau ponakan jenderal. Pengakuan hanya berhenti disana dan tak dilanjutkan pada level yang lebih tinggi, sehingga tak berbahaya.

Kelompok kedua adalah kelompok yang menyalahgunama nama orang lain baik untuk mengintimidasi maupun untuk memperkaya diri sendiri. Kelompok inilah yang berbahaya. Nah, baru-baru ini seorang anak muda di Medan memarahi Polisi Wanita yang menghentikan konvoi kelulusan ujian nasional dan membawa-bawa nama pamannya yang Jenderal. Ibu Polwan yang jabatannya tidak terlalu tinggi, diharapkan akan bungkam ketika mendengar kata “anak jenderal” yang secara hierarki “dianggap” lebih tinggi dari sang Polwan. Anak jenderalnya ya yang dianggap lebih tinggi, bukan jenderalnya. Hierarki yang aneh tentunya, tapi sayangnya masih berlaku di negeri kita.

Tak hanya itu, ada ancaman secara verbal akan menurunkan jabatan sang Polwan secara semena-mena. Bagi saya sih ini sungguh bikin pengen ketawa karena menurunkan jabatan orang itu tak semudah marah-marah di depan media. Sang paman saya yakin tak bisa dengan seenaknya menurunkan jabatan orang. Tak heran jika kemudian netizen marah dengan perilaku arogan ini dan sang pelaku dirisak (dibully) habis-habisan.

Membawa-bawa nama orang, apalagi nama pejabat, untuk urusan sepele (macam tilang) atau bahkan untuk urusan yang berat (seperti minta proyek atau minta pekerjaan – paling benci deh sama yang satu ini) seperti saya sebut di atas adalah hal yang membahayakan. Resikonya tak hanya malu karena mencatut nama orang tapi juga membahayakan keluarga dan juga hubungan pelaku dengan yang namanya dibawa-bawa. Lagipula, pejabat di jaman sekarang itu disorot dengan lampu sorot yang luar biasa terangnya. Secara teori mereka tak bisa semena-mena, apalagi berlaku arogan (walaupun kasus-kasus yang arogan masih ada, mungkin masih banyak). Salah sedikit, apalagi sampai terekspos ke media, bisa berantakan karir Oom, Tante, Paman, Encing, Babah.  Maka tak heran kalau anak-anak jenderal pun jarang berkicau di depan media “bapak guwe jenderal dong”.

Pengguna media sosial sekali lagi menunjukkan wajahnya yang tak ramah ketika berhadapan dengan arogansi individu. Sonya Depari dirisak  (dibully; bullying dalam bahasa Indonesia adalah perisakan) oleh netizen. Parahnya, nyawa sang ayah harus melayang akibat terkena serangan jantung. Dalam situasi seperti ini, semua saling menyalahkan. Nasi sudah menjadi bubur, Sonya Depari dan keluarganya harus menanggung konsekuensi yang terlalu berat, akibat hal sepele.

Sudah banyak yang menghakimi Sonya dan saya rasa sudah terlalu berlebihan. Lagipula, anak muda itu memang penuh dengan emosi yang meletup-letup, apalagi dalam keadaan kepepet. Dari letupan itu tentunya ia bisa banyak belajar. Kita pun juga jadi diingatkan untuk tidak asal sebut nama dan jabatan Oom, Tante, Encing, Babah, Eyang. Yang paling berpengaruh sekalipun. Kasihan atuh kalau keluarga mesti tercoreng, apalagi sampai diulas di media, bukan karena prestasinya, tapi karena perilaku kita yang konyol. Yang paling penting, kita mesti ingat bahwa bullying bisa mengakibatkan kematian.

Selamat beraktivitas rekan-rekan!

Xx,
Tjetje
Bukan anak jenderal

Romantisme Pasar Tradisional

Beberapa minggu lalu, Kompas, koran favorit saya memunculkan ulasan mengenai pasar tradisional di Malang. Pada artikel tersebut dibahas dua pasar, pasar Talun yang masih sangat tradisional serta pasar Oro-oro Dowo. Artikel tersebut membawa kenangan manis tentang pasar-pasar tradisional di Indonesia yang identik dengan bau tak enak, karena sampahnya sering (atau bahkan selalu) dicecerkan di lorong-lorong pasar. Bau tak enak ini masih ditambah dengan bau amis serta becek yang bersumber dari lapak-lapak pedagang ikan.

Traditional Market

Pasar tradisional juga tak lepas dari aksi tipu-menipu, terutama penipuan timbangan dengan memainkan anak timbangan atau yang lazim disebut timbel. Anak timbangan tak pernah diturunkan semua, karena timbangan di pasar memang jarang yang berimbang. Saya sendiri pernah mengalami kesialan ketika pertama kali membeli daging sapi. Sebagai orang yang tak makan daging sapi, saya tak punya pengetahuan sama sekali tentang kualitas daging. Jadi tak heran kalau saya tertipu mentah-mentah, diberi daging kualitas buruk yang sudah tak segar lagi dan hampir membusuk.

Kendati diwarnai dengan penipuan dan kejorokan, pasar sebagai pusat ekonomi memiliki satu keunggulan yang tak ditawarkan oleh minimarket, supermarket, apalagi hypermarket. Pasar menawarkan interaksi antar manusia seperti tawar-menawar harga atau bahkan interaksi yang lebih intim. Interaksi intim ini seperti yang saya alami dengan bu haji daging. Saya tak tahu nama si ibu haji, sementara bu haji juga tak tahu nama saya. Tapi setiap berbelanja di lapaknya, ia akan sibuk “mengenalkan” saya pada para pedagang yang lain sembari membanggakan kesuksesan saya sebagai anak yang bapaknya meninggal menjadi orang. Apalagi ibu saya tak pernah kawin lagi. Ibu haji tersebut bukan satu-satunya, ada pedagang rawon dan pecel yang suka ikut-ikutan bangga karena pencapaian  saya. Bagi mereka, ibu saya sungguhlah perempuan hebat karena membesarkan anak-anaknya sendiri. Saya sendiri tak pernah tahu bagaimana para pedagang di pasar ini tahu tentang cerita hidup saya.

Pasar tak hanya memunculkan keakraban antara saya sebagai pembeli dengan para pedagang, tapi juga dengan para abang becak yang mencari nafkah di depannya. Sebagai anak yang sangat manja, saya memang rajin naik becak dan malas jalan kaki (panas bow), dari ongkosnya masih murah hingga ongkosnya masih tetap murah. Anak salah satu pak becak tersebut rupanya adik kelas saya di sekolah, semenjak saya tahu buku-buku pelajaran saya selalu saya wariskan pada adik kelas saya.

Kota Malang sendiri memiliki pasar yang terpusat di tengah kota, namanya pasar Besar. Mayoritas pedagang dan tukang becak di pasar besar ini adalah pendatang dari Madura. Kesuksesan mereka sebagai pedagang biasanya ditunjukkan dengan ratusan gram perhiasan emas yang menempel di leher serta tangan-tangan mereka. Para pedagang dari Madura identik dengan label-label yang seringkali tak bagus, tapi eyang saya yang gemar berbelanja di pasar ini tak pernah tertipu, malah sukses membawa begitu banyak bonus, seperti kepala ikan yang besar-besar (dan selalu berakhir di perut kucing-kucing peliharaan saya).  Sukses ini tentunya karena eyang saya bisa berbahasa Madura.

https://www.instagram.com/p/69z7TqQxlJ/

Pasar lain yang punya tempat di hati saya ada di Badung, di Denpasar. Entah mengapa saya begitu cinta dengan pasar ini. Selain menyukai nasi ketela (nasi sela) yang dijual di luar pasar tersebut (dan pedagangnya tak cuci tangan dan sibuk memegang makanan dan uang) saya juga menyukai perempuan-perempuan yang membantu mengangkut barang-barang bawaan di atas kepala. Perempuan-perempuan ini tanpa mengeluh berjalan mengikuti para nyonya-nyonya yang sedang berbelanja sayur, ikan, bahkan canang di dalam pasar.

859254_10200228785854884_596598709_o

Nasi ketela yang ditemani dengan loloh cemcem (jamu) . Pedagangnya abis nyolek-nyolek makanan, pegang duit.

Kendati banyak pasar-pasar modern yang mulai dikembangkan pemerintah, banyak pula pasar yang mulai tergusur karena kehadiran supermarket yang lebih modern. Di wilayah tempat saya besar, pasar tradisional malah digusur oleh sang walikota untuk dijadikan mall. Sungguh menyedihkan memang melihat perubahan ini, tapi nampaknya orang-orang modern lebih menyukai supermarket (dan mall) karena kebersihan, harga yang murah (dan tak perlu menawar), kualitas barang yang lebih terjaga serta waktu buka yang lebih panjang.

Sudah saatnya kita kembali ke pasar, kembali mendukung para pedagang yang berjuang keras dan bangun sejak pagi buta untuk mendukung ekonomi negeri kita. Saya sendiri jika pulang ingin pergi ke pasar, bukan untuk menengok ibu haji daging, tapi untuk membeli nasi jagung yang ditemani dengan sayur labu manis bersantan ringan, ikan asin dan rempeyek. Ah kalau sudah begini jadi pengen pulang.

Kalian punya cerita manis dengan pasar tradisional?

Xx,
Tjetje