[Dear Bule Hunter]: Iya Kawin Sama Bule itu Enak Kok!

Ada yang berkata pada saya, “Mbak, kenapa sih kok nulis Dear Bule Hunternya negatif banget dan gak ada bagusnya. Padahal kan kawin sama bule itu tak selamanya sengsara, pasti ada enak-enaknya. Kenapa gak nulis sukanya juga, jangan dukanya doang. “Baiklah, demi para pembaca yang budiman, akan saya berikan gambaran indahnya kawin sama bule dan tinggal di luar negeri.

Lapar tinggal buka tudung saji 

Ingat jaman-jaman indah ketika dalam kondisi kelaparan pulang kerumah lalu membuka tudung saji dan terhamparlah makanan nusantara di bawah tudung saji tersebut? Hamparan makanan nusantara yang masaknya rumit, bumbunya banyak dan terkadang perlu berjam-jam untuk sekedar mematangkan potongan daging dan santan supaya meresap. Rasanya buka tudung saji itu kan nikmat sekali, apalagi ketika ada kepulan nasi hangat bersama tempe, ayam goreng dan sambal kecap. Persis seperti kenikmatan membuka tumpukan hadiah di hari Natal.

Nah kawin sama bule itu enak banget. Saking enaknya, tiap kali kelaparan tinggal buka aja itu tudung saji. Jreng…jreng…jreng…di luar negeri tudung saji itu kosong dan harus diisi sendiri. Eh tapi ngisi tudung saji itu gampang banget kok. Pengen tempe penyet? Gampang, tinggal ke toko Asia beli tempe. Pengen nasi goreng pete, gampang, tinggal rogoh recehan beli pete. Pengen makan kerak telor? Lebih gampang lagi, taruh laptop di bawah tudung saji, masukkan nomor kartu kredit lalu pulang untuk beli kerak telor.

Wueeeenak kok kalau kawin sama bule itu, pengen makan apa-apa tinggal masak sendiri. Bahan-bahan juga gampang ditemukan, kalau gak ketemu mah tinggal pulang aja ke Indonesia. Kalau males, bisa order online. Makan makanan Indonesia di luar negeri itu gampang, gak perlu sakit tenggorokan manggil-manggil si Mbak, apalagi repot-repot nungguin gerobak pedagang nasi goreng yang tak kunjung lewat. Tinggal jalan aja ke dapur, racik sendiri.

Rambut kece badai

Image sebagai istri bule yang nyonya besar itu kan harus tetap terjaga, jadi dalam kondisi apapun rambut harus tertata rapi, serapi rambut Dian Sastro. Angin musim dingin pun tak boleh merusak tatanan rambut ini, kalau perlu hairspray satu botol disemprotkan ke rambut. Nah biar tak kalah dengan para artis-artis ibu kota, ada baiknya jika para penata rambut itu dipanggil ke rumah supaya bisa menata rambut.

Gak punya uang buat bayar penata rambut? Ya ampun, malulah sama gaji Euro? Anak kos di Jakarta aja yang gajinya rupiah aja tiap pagi bisa manggil tukang salon untuk ngeblow rambut di pagi hari. Potong rambut pun tak perlu repot-repot ke salon tinggal hair dressernya yang dipanggil. Kualitasnya pun tak ciamik, bisa bikin rambut jadi mengkilat seperti model-model shampoo terkini.

Eh tapi menjadi istri bule kan bikin pintar, pintar mengakali. Gak sanggup panggil hair dresser ke rumah ya tinggal beli hair dryer mutakhir, lalu duduk diam selama dua jam ngeblow rambut sendiri. Enak kan gak perlu kehilangan pulsa untuk sms atau telpon hair dresser dan yang paling penting lebih irit 40 Euro untuk ngeblow rambut?

Kawin sama bule bisa punya istana mewah

Luar negeri itu ya penuh dengan rumah-rumah besar seperti Downtown Abbey. Orang-orang bule itu pada kaya raya, rumahnya segede gaban, domestic helpernya segambreng, yang ngurusin kebun ada sendiri, yang ngurusin dapur ada sendiri. Miriplah dengan Downton Abbey yang punya pasukan untuk ngurusin rumah. Tapi perlu dicatat, rumah-rumah segede gaban itu adanya pada abad 17, jadi kalau mau rumah segede itu balik aja ke abad 17an dan kawini bule dari abad itu. Atau, mungkin bisa mengincar pangeran Harry yang  masih lajang, karena jaman sekarang keluarga mereka salah satu keluarga yang punya helper segambreng-gambreng.

Nah bini bule abad 21 itu rumahnya beda dari bini bule abad 17. Rumahnya kecil gak ada kolam renangnya pula. Eh tapi jangan salah lho rumah kecil itu enak banget, mau ke dapur dekat, mau ke toilet dekat. Lebih enak lagi ketika dapur kotor, bersihinnya cepet. Kalau toilet kotor, gampang tinggal ambil brush dan pembersih, semprot-semprot, gosok-gosok, hitung-hitung bakar tempe penyet dari bawah tudung saji tadi.

Penutup

Tulisan Dear Bule Hunter ini muncul karena adanya orang-orang yang meng-Google kata kunci: “kawin dengan bule itu enak”. Tulisan-tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang realitas kerasnya kehidupan di luar negeri supaya mereka yang berburu bule tidak keblinger dengan fantasi bahwa hidup dengan bule di luar negeri itu indah, seindah gambar-gambar cantik di media sosial.

Jangan salah lho, istri-istri bule yang kaget melihat kehidupan di luar negeri itu jumlahnya tak sedikit, karena harapan mereka yang terlalu tinggi. Banyak yang secara terbuka mengungkapkan kekagetannya, banyak yang marah dengan keadaan mereka, banyak yang kemudian ngiri dengan orang lain yang dianggap mengawini bule yang lebih baik. Ditambah lagi mereka tak punya pengalaman mengalami hidup di luar negeri dan gambaran tentang luar negeri hanya didapat dari film Hollywood atau film seri macam Downtown Abbey.

Tulisan ini tak boleh dipahami sebagai larangan untuk memburu bule. Berburu pria itu, termasuk pria berkulit putih adalah hak setiap manusia. Tapi sekali lagi,  memburu pria karena warna kulitnya itu rasis. Bahkan bagi beberapa teman bule saya, memilih karena warna kulit itu penghinaan. Memilih pasangan sejatinya berdasarkan kualitasnya sebagai manusia, bukan karena warna kulitnya.

Permisi dulu, saya mau enak-enakan ngosek toilet sampai bersih. Enak tho?

Xx,
Tjetje

Sekilas Tentang Seks Bebas

Beberapa waktu lalu Stephanie dan juga Astrid mempublikasikan tulisan di blog mereka yang berkaitan dengan seks bebas. Stephanie menerima pertanyaan tak sopan dari temannya tentang budaya seks bebas di luar, sementara Astrid mendapatkan pertanyaan tak senonoh tentang hubungannya dengan pasangannya. Benang merah yang saya tangkap dari kedua postingan tersebut ada pada bagaimana persepsi dan keponya sebagian orang Indonesia terhadap seks bebas di dunia barat.

Sebagian orang Indonesia suka sekali mengatakan bahwa bule merupakan penganut seks bebas tanpa mau melihat ke dalam negeri sendiri dan memahami fenomena seks bebas yang juga terjadi di Indonesia. Sebagian orang Indonesia juga suka menganggap bahwa seks adalah pembicaraan yang tabu jika dilakukan oleh orang Indonesia, tetapi hal ini tak menjadi tabu ketika urusannya dengan mereka yang memiliki pasangan bule.

Sebelum bicara lebih lanjut tentang hal ini, mari kita lihat dulu apa sih sebenarnya definisi seks bebas. Dari berbagai definisi yang muncul saya menyimpulkan bahwa seks bebas adalah:  “Kegiatan senggama (coitus) yang dilakukan di luar ikatan perkawinan dan bertentangan dengan norma agama ataupun norma sosial”.

Tak bisa diingkari di negara barat, hubungan seksual di luar perkawinan adalah hubungan yang wajar terjadi, apalagi jika dua orang dewasa sama-sama suka. Tak ada pelanggaran norma disini, karena norma di barat dan di Indonesia jauh berbeda. Tetapi berbeda dengan pemikiran banyak orang Indonesia, ini bukan berarti orang barat itu langsung nyosor dan suka kegatelan jika melihat lawan jenis kemudian langsung grepe-grepe macam kasus di Jerman pada saat tahun baru kemarin. Satu kata kunci yang penting dari hubungan di luar perkawinan ini adalah dua-dua individu sebagai pemilik tubuh sama-sama setuju dan sama-sama cukup usia. Masyarakat barat cenderung tak peduli dengan urusan ranjang orang lain, karena mereka tak ikut memiliki tubuh orang lain apalagi ranjang orang lain. Bagi mereka bukan tugas mereka untuk meluruskan moral orang lain. Apalagi orang lain yang sudah dewasa.

Walaupun begitu, perlu dicatat bahwa tidak semua orang di barat seperti ini. Masih ada komunitas dan kelompok yang mempertahankan keperawanan dan keperjakaan. Biasanya, mereka yang mempertahankan keperawanan dan keperjakan adalah kelompok-kelompok relijius.

Hal ini tentunya berbeda dengan di Indonesia dimana hubungan seks tidak hanya menjadi urusan dua individu yang memiliki alat kelamin, tapi menjadi bahan konsumsi seluruh masyarakat dan juga pemerintah yang ingin ikut ngurusi kelamin yang bukan milik mereka apalagi jika mereka dianggap melanggar norma-norma. Padahal lho ya mereka yang melakukan hubungan seks di luar perkawinan ini biasanya melakukan di balik pintu tertutup, jauh dari pandangan masyarakat. Tapi kegiatan ini kemudian berubah menjadi kegiatan terbuka karena pintu yang terkunci ini didobrak oleh masyarakat.

Seperti saya sebut di atas, bule dan bangsa barat kemudian dianggap sebagai bangsa yang tak bermoral karena melakukan hubungan seks bebas, sementara Indonesia dianggap sebagai bangsa bermoral yang menghindari hubungan seks bebas. Satu hal yang perlu diketahui, orang-orang yang dianggap tak bermoral ini jauh lebih cerdas dalam urusan ranjang karena mereka sudah dibekali dengan informasi mengenai penyakit menular seksual, cara pencegahannya serta tentang kontrasepsi dan pencegahan kehamilan. Jika kemudian anak-anak muda ini memutuskan untuk melakukan hubungan di luar perkawinan setidaknya mereka sudah tahu resiko -resiko yang akan dihadapi.

Lagi-lagi hal ini berbeda dengan di Indonesia, dimana pendidikan seks menjadi hal yang tabu, bertentangan dengan norma dan tak layak diajarkan. Kok pendidikan seks, ngajarin masang kondom seperti foto saya di bawah ini saja dianggap sebagai sebuah hal yang berdosa karena dianggap mempopulerkan hubungan seks di luar perkawinan. Tabunya pendidikan seks ini secara tak langsung berkontribusi pada tingginya penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS yang di Indonesia pertumbuhan tertingginya ada pada pasangan heteroseksual, bukan pada pasangan homoseksual. Nah kalau sudah begini, silahkan tanyakan pada diri sendiri mengapa ibu-ibu rumah tangga banyak yang terkena HIV/AIDS di Indonesia. Karena bapak-bapak yang suka jajan ke Mangga Dua, Kalijodo, Alexis dan aneka surga dunia lainnya itu tak pernah tahu cara masang kondom yang benar dan tak punya kesadaran untuk mengenakan kondom. Bahkan mungkin mereka tak tahu resiko yang mereka hadapi ketika jajan. Mungkin juga mereka memasrahkan diri, kalau waktunya kena STI (sexually transmitted disease) ya waktunya. 

Di negeri barat, perempuan-perempuan yang memutuskan untuk melakukan hubungan seks tidak kemudian dianggap sebagai perempuan murahan karena sudah tak perawan lagi. Jauh berbeda dengan perempuan-perempuan di Indonesia yang langsung dicap murahan karena pernah melakukan hubungan seks di luar perkawinan. Sebaliknya, sang pria tak pernah dicap murahan, malah mereka dianggap sukses merenggut keperawanan anak orang. Konon di Indonesia perempuan dianggap lebih berharga ketimbang pria, sehingga perempuan harus bisa menghargai dirinya dengan mempertahankan keperawanannya. Tidakkah ini kemudian sebuah diskriminasi kepada pria-pria karena mereka dianggap tak lebih berharga ketimbang perempuan sehingga mereka bisa mengumbar keperjakaannya?

Bicara tentang hal ini ini saya jadi teringat pada seorang mbak-mbak gaul di Malang yang baru bercinta dengan pacarnya yang juga anak gaul Malang. Keesokan harinya, sang pria yang merasa jawara karena sudah berhasil menggauli perempuan ini bertutur kemana-mana menceritakan kehebatannya di atas ranjang dan detail panasnya percintaan mereka di atas ranjang. Sementara sang perempuan lebih tertutup untuk urusan percintaan. Ya konstruksi sosial kita memang membolehkan pria kehilangan keperjakaannya, malah sering dianggap hebat karena bisa menaklukkan anak gadis.

Pemahaman sebagian orang Indonesia tentang seks bebas di luar negeri seringkali salah. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa di negeri barat itu, berhubungan seks bisa dilakukan semudah para aktor dan aktris di televisi mendapatkan pasangan untuk tidur bersama seperti di film-film seri yang ditayangkan di TV. Pria-pria Indonesia yang haus dengan seks kemudian juga sering menggoogle bagaimana caranya mendapatkan pasangan perempuan bule supaya mereka bisa dapat seks dengan mudahnya. Di blog saya ini pria-pria bule hunter makin banyak dan kata kuncinya selalu nyerempet ke urusan ranjang. Terlihat sekali kalau ada kelompok-kelompok kecil yang berambisi menjadi seperti Barney di How I Met Your Mother yang maunya meniduri perempuan untuk kesenangan belaka. Padahal, gak semua orang di barat seperti Barney dan tentunya tak semudah itu meniduri perempuan. Salah menangkap sinyal dari perempuan bisa berakhir di penjara karena percobaan pemerkosaan.

Pada akhirnya, sebelum kita menghujat moral bangsa barat karena keputusan sebagian dari mereka untuk melakukan hubungan seks sebelum perkawinan, ada baiknya kita melihat ke dalam negeri dahulu. Melihat pergeseran nilai di masyarakat kita dimana banyak anak-anak muda tak perjaka dan tak perawan lagi. Seks bebas bukan ekslusif punya orang asing saja, tapi juga menjadi fenomena gunung es di Indonesia. Fenomena yang tabu dibicarakan dan didiskusikan. Tanyakan pada diri sendiri, solusi apa yang bisa ditawarkan pada mereka? Yang jelas, melarang penjualan kondom seperti yang dilakukan Satpol PP di Makasar pada saat Valentine lalu tak akan menyelesaikan masalah, karena seks tanpa kondom jauh lebih beresiko.

Pernah ngobrol dengan remaja jaman sekarang tentang seks bebas?

Xx,
Tjetje

Melamar Pria Pada Tahun Kabisat

Tahun kabisat yang datang sekali dalam empat tahun, pada tahun-tahun yang bisa dibagi habis menjadi empat. Tahun ini menjadi spesial karena ditandai dengan bulan Februari yang jauh lebih panjang daripada bulan Februari biasanya, karena adanya hari special yang datang pada tanggal 29 Februari.

Tanggal ini menjadi spesial, tak hanya bagi mereka yang lahir pada tanggal ini, tetapi juga bagi banyak perempuan-perempuan terutama di Irlandia. Pada tanggal ini, perempuan yang biasanya dilamar memiliki kesempatan untuk melamar kekasihnya. Sebuah tradisi unik yang juga pernah difilmkan dalam sebuah film berjudul Leap Year. Filmnya sendiri kurang menarik dan mengambil rute ajaib untuk menuju Dublin.

Tak ada yang tahu bagaimana awal mulanya perempuan diperkenankan untuk melamar pria pada tanggal ini. Tetapi konon tradisi kuno ini bermula pada abad ke lima ketika St. Brigit dari Kildare protes kepada St. Patrick. (St. Patrick merupakan sosok yang sangat dihormati di Irlandia, beliau dipercaya sebagai penyebar agama Katolik dan tentunya dipercaya mengusir semua ular dari Irlandia. St.Patrick’s Day diperingati setiap tanggal 17 Maret. Link untuk membaca perayaan hari ini ada di bagian akhir tulisan ini). Balik lagi ke St. Brigit, ketika itu ia protes karena perempuan harus menunggu untuk dilamar protes ini kemudian ditanggapi oleh St. Patrick yang memutuskan memperbolehkan perempuan melamar pria pada tanggal 29 Februari. Hanya pada tanggal tersebut.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir agak aneh juga kenapa St. Brigit memprotes proses menunggu ini, karena sebagai suster ia tak memiliki kepentingan untuk kawin. Mungkin saja saat itu ia memperjuangkan kepentingan perempuan-perempuan yang lelah menunggu pria melamar. Tapi yang lebih aneh lagi, St. Brigit lahir pada tahun 453 sebelum masehi sementara St. Patrick meninggal pada tahun 461 sebelum masehi. Berarti St. Brigit berusia setidaknya delapan tahun ketika St. Patrick meninggal dunia. Tentu saja otak saya tak bisa memahami kapan kira-kira St. Brigit bertanya pada St. Patrick. Masak anak umur 8 tahun protes soal lamar-melamar ketika mungkin ia masih sibuk belajar membaca secara benar.

Setiap kali melamar, selalu ada resiko untuk ditolak. Ternyata tradisi mengharuskan pria-pria yang menolak lamaran untuk membayar penalti. Penaltinya macam-macam, dari mulai kain hingga 12 belas buah sarung tangan. Sarung tangan ini kemudian berfungsi untuk untuk menyembunyikan jari-jemari, bukan dari gigitan hawa yang dingin tapi dari mata-mata yang menghakimi karena jari-jemari tersebut tak berhiaskan cincin pertunangan apalagi cincin perkawinan. Ah kejamnya mata-mata tersebut.

leap year proposal

illustration: leapyearday.com

Tradisi melamar pada tanggal 29 Februari ini tak hanya dilakukan di Irlandia, tapi juga banyak diadopsi negara-negara lain seperti Finlandia, Amerika, Perancis, Scoatlandia dan tentunya Inggris. Tapi ternyata tradisi ini tak hanya ada di negara-negara barat saja, hasil google saya menunjukkan bahwa di pesisir utara Jawa, tepatnya di Lamongan ada tradisi turun-temurun yang mirip sejak Raden Panji Puspokusumo, penguasa Lamongan pada 1640 – 1665. Bedanya, di negara barat perempuan hanya diperkenankan melamar pada satu hari itu saja, sementara di Lamongan mereka bisa melamar kapan saja dengan membawa aneka rupa seserahan.

Tradisi ini konon dimulai ketika dua anak kembar Panji Puspokusumo ditaksir oleh dua putri kembar raja Wiroboso (sekarang dikenal dengan sebutan Kertosono, Nganjuk) dan sang raja pun melamar kedua putra kembar tersebut demi putrinya. Ah manisnya.

Saya sendiri jika diminta melamar pasangan tak berkeberatan, tapi males. Males nyari-nyari momen apalagi nyari-nyari cincin. Bagaimana dengan kalian, lebih suka dilamar atau melamar?

xx,
Tjetje

Baca juga: Perayaan Hari Saint Patrick
Tradisi melamar pria di Lamongan

Bahasa Inggris Irlandia dan ‘Keanehannya’

Kata orang, dengan kemampuan bahasa Inggris saya yang sebenarnya biasa-biasa aja ini, saya akan bertahan dan mudah beradaptasi di Irlandia. Tapi ternyata, adaptasi bahasa di Irlandia bukanlah hal yang mudah, karena saya jauh lebih familiar dengan bahasa Inggris Amerika dan kurang paham dengan Irish English, apalagi dengan bahasa slang mereka.

Tantangan pertama dalam memahami Inggris Irlandia adalah aksen mereka yang kental. Kalau sudah berkumpul dengan segerombolan orang Irlandia, apalagi  ngumpulnya di dalam pub, saya cuma bisa berkata yas-yes-yas-yes padahal tak mengerti satu katapun yang mereka ucapkan. Apalagi kalau yang ngomong berkumur-kumur dan tak jelas. Saat itu rasanya kalau boleh memilih saya lebih baik dimasukkan ke dalam bioskop dan disuruh nonton film tanpa teks, ketimbang mendengarkan segerombolan orang Irlandia ngobrol. Film Amerika ya, bukan film Irlandia!

Saya tidak sendirian, rupanya banyak orang yang seringkali tak paham dengan aksen Irlandia. Dalam sebuah perhelatan, tiga orang teman saya berbincang-bincang dengan pasangan saya. Dua orang yang berasal dari daratan Eropa berakhir kebingungan dan pembicaraan tersebut harus diterjemahkan ulang oleh rekan saya yang dari Inggris. Padahal, aksen Irish pasangan saya tidaklah ‘semedok’ orang-orang Irlandia lainnya. Lucunya hingga saat ini sahabat saya masih ada yang ‘ketakutan’ jika ditinggal berduaan dengan pasangan saya, ketakutan tak memahami bahasa Inggrisnya. Harap dimaklumi, sahabat saya ini memang belajar bahasa Inggris di Amerika.

Perjuangan memahami Inggris Irlandia ini masih ditambah dengan pelafalan bahasa Inggris yang tak sama. Beberapa waktu lalu, saya duduk di samping kakek tua yang bersemangat mengajak saya ngobrol tentang Irlandia dan cuacanya. Obrolan kami kemudian mengarah pada bencana banjir di Galway, sebuah kota di barat Irlandia. Si Bapak tak bisa menangkap bahasa Inggris saya, karena saya melafalkan banjir, flood, sebagai /flʌd/. Sementara bagi bapak ini (dan kebanyakan orang Irlandia) melafalkannya seperti flute tetapi dengan huruf d di belakang. Si kakek ngeyel bahwa pelafalan itu yang benar, sementara saya tak bergeming. Saya tak mau berbicara Inggris dengan aksen Irish, sekalipun aksen ini dianggap seksi, karena tak ada yang paham. Flood bukan satu-satunya kata yang membawa kesalahpahaman. Ada banyak kata-kata lain, terutama yang mengandung huruf U. Disini, huruf U memang dilafalkan secara jelas, jadi bus bukan bʌs.

Selain urusan pelafalan, saya juga harus berhadapan dengan tata bahasa yang jauh dari pakem. Salah satu contohnya penggunaan pronoun possesive: my. Bagi yang nonton PS I Love You pasti ingat ketika Gerry berkata “me arse”. Nah disini, my memang digantikan dengan me. Me mother, me-self, me folks, dan segala me-lainnya. Gak penting banget sih tapi tiap kali dengar orang berbicara seperti ini saya pengen mengkoreksi, it’s my, not me.

Urusan membaca jam di Irlandia juga agak ngacau. Jam 2.30 yang seharusnya dibaca sebagai half pas two oleh mereka dibaca langsung menjadi half two. Ini gak cuma Irlandia sih yang begini, di Inggris juga sama aja. Nah kalau ada orang Indonesia yang mengartikan bahasa Inggris kata-perkata maka jam 2.30 ini bisa diartikan sebagai setengah dua.

Kesulitan lain yang saya hadapi adalah kosakata Inggris yang lagi-lagi jauh berbeda dengan Inggris Amerika. Kentang goreng misalnya disebut sebagai chips, bukan fries. Terdengar sepele memang, tapi kalau sedang ngidam keripik kentang dan order keripik kentang yang muncul kentang goreng kan lumayan fatal (ini saya pernah ngalamin sendiri). Btw, sampai saat ini saya tak bisa melafalkan crisps dengan baik dan benar, mungkin karena dari hati saya sudah nggak niat belajarnya. It’s chips, not crisps. Gak hanya urusan kentang saja, ada banyak sekali koleksi kata-kata yang berbeda ini, dari mulai liburan sampai bagian-bagian mobil. Saking seringnya menggunakan koleksi kata Inggris Amerika saya sampai “dituduh” ingin mengamerikanisasi (aduh ini gimana sih nulisnya) keponakan saya yang masih piyik. 

Orang Irlandia juga memiliki koleksi-koleksi slangnya sendiri. Bertanya kabar misalnya tak dijawab fine or good, tapi dijawab “grand”. Mereka juga suka sekali mengucapkan kata yoke yang berarti hal-hal yang tak diketahui namanya.  “I bought that yoke for a fiver”, “This yoke is not working”, “Pass me that yoke”. Apa aja yang gak ketahuan namanya atau kelupaan namanya diganti semua jadi yoke. Sapu yang kelihatan di depan mata pun bisa dirubah namanya menjadi yoke. Mereka juga suka sekali mengucapkan kata ‘your man’. “That is your man there” yang kira-kira jika diartikan berarti itu orangnya. Your man ini rupanya kata pengganti untuk menghindari menyebutkan nama orang. Anehnya, mereka punya istilah “I will yea” yang memiliki sense negative padahal tak mengandung kata not sama sekali. Jadi, kalau ada orang ditanya mau teh dan dijawab “Sure, I will yea”, artinya gak mau.

Urusan mengumpat di dalam bahasa Inggris Irlandia juga “tak kalah anehnya”. Seperti saya tulis di atas huruf U di dalam Inggris Irish dibaca sebagai U kalau ada yang mengumpat fuck maka dibaca dengan dengan huruf u. Mirip-miriplah pengucapannya dengan krim perawatan wajah Tje Fuk.  Orang Irlandia juga memiliki versi halus dari fuck yaitu feck; feck off, for feck sake dan aneka rupa feck lainnya. Selain the f word, mereka juga menggunakan kata shite sebagai pengganti dari shit. Dengan mayoritas masyarakatnya yang beragama Katolik, maka jangan heran kalau banyak yang menggunakan Jaysus sebagai exclamation. Persislah kayak orang Indonesia yang sering memakai kata “ya Allah”. Terus terang saya masih sering ketawa-ketawa sendiri jika mendengarkan orang-orang Irlandia misuh dengan caranya sendiri karena terdengar kurang serius.

Feck Off

Anggapan saya bahwa bahasa Inggris Irlandia itu bahasa yang aneh sebenarnya karena saya tak terbiasa saja dengan koleksi kata, tata bahasa dan juga slang mereka. Seiring dengan waktu tentunya saya akan semakin memahami bahasa Inggris mereka. Bahasa Inggris yang menyumbang banyak pemasukan bagi negeri ini karena banyak pelajar dari negara-negara seperti Amerika Latin dan Spanyol yang belajar bahasa Inggris disini. Selain urusan visa yang relatif mudah, belajar bahasa Inggris di Irlandia juga murah.

Kalian, pernah berurusan dengan slang atau aksen yang ‘aneh’?

Xx,
Tjetje
Berbicara bahasa Inggris dengan aksen Jawa

Cerita Kematian

Saya jarang sekali bercakap-cakap dengan tetangga sebelah rumah, kalapun ada biasanya hanya obrolan ringan tentang cuaca Irlandia dan bisa dihitung dengan jari di tangan kiri. Awal bulan Januari lalu ada ambulans lengkap dengan lampu disko birunya parkir di depan tempat kami tinggal. Saking cerahnya, lampu tersebut masuk ke dalam rumah dan lumayan menyilaukan kami yang ada di dalam. Rupanya tetangga kami sakit dan harus masuk ke rumah sakit. Kami para tetangganya tak repot menjenguk ataupun menanyakan kabar.

Menjelang akhir bulan, tetangga kami meninggal. Tak ada bendera kuning, kursi, apalagi tenda. Semuanya begitu tenang, tampak normal seperti hari biasa. Kami sendiri mengetahui berita ini karena ibu mertua yang tinggal tak jauh dari rumah kami mengetuk rumah mereka untuk menanyakan kabar tetangga yang sakit. Entah kenapa malam itu ibu mertua tak tahan dan tergerak mengetuk rumah tetangga untuk menanyakan kabar.

Kematian tetangga saya ini bukan kematian pertama yang saya lihat di Irlandia. Sebelumnya saya sudah sempat menengok upacara kematian yang tak seperti di Indonesia. Disini proses penguburan memerlukan waktu beberapa hari dan biaya yang tak murah. Setelah meninggal, biasanya jenasah dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan selama satu atau dua hari, tergantung situasi. Tetangga dan kenalan pun bergantian menengok yang berpulang untuk memberikan penghormatan terakhir. Tak ada yang membawa amplop, beras ataupun gula di dalam nampan yang ditutup oleh serbet. Banyak keluarga jaman sekarang yang juga menolak pemberian bunga.

Di Dublin, pakaian hitam sebagai tanda duka yang diinspirasi oleh Ratu Victoria sudah tak digunakan lagi. Sementara pada peristiwa kematian lainnya, saya lihat hanya keluarga yang mengenakan pakaian hitam. Yang pria mengenakan jas dan dasi, sementara yang perempuan mengenakan gaun berwarna hitam. Mereka yang memberikan penghormatan mengenakan pakaian sesuai musim, saat musim dingin berjaket tebal, sementara saat musim panas mereka datang mengenakan pakaian berwarna cerah dengan sandalnya. Sungguh jauh dari kesan muram durja kematian.

Dari rumah duka, jenasah biasanya dibawa menuju ke gereja untuk removal. Saat removal ini keluarga yang mengenakan pakaian hitam berjalan di belakang kendaraan yang membawa peti jenasah dari rumah duka ke gereja. Sepanjang jalan kendaraan memberikan jalan dan orang-orang berhenti sejenak untuk membuat tanda salib ketika melihat peti jenasah tersebut. Tak ada anak-anak muda yang repot membawa bendera warna kuning dan menutup jalan untuk memberikan jalan, karena otomatis tanpa perlu diberi komando orang berjalan melambat memberikan jalan bagi jenasah.

Setelah removal, keesokan harinya dilakukan misa arwah. Wah ini prosesi yang sangat mengharukan dan menyedihkan. Tetangga saya sendiri harus disemayamkan di rumah duka agak lama karena gereja sudah fully booked. Rupanya banyak orang yang meninggal dunia pada akhir pekan tersebut sehingga sang Pastor tak bisa melayani misa lagi. Seusai misa, jenasah bisa dikuburkan ataupun dikremasi sesuai keadaan ekonomi masing-masing dan juga pilihan dari yang meninggal dan keluarganya.

Di Dublin, kremasi jauh lebih murah ketimbang dimakamkan, karena satu petak tanah kuburan harganya tak murah, sekitar 2000€. Jauh lebih murah tentunya ketimbang pemakaman super mewah di dekat Jakarta sana. Tak semua orang Irlandia menerima ide kremasi dengan tangan terbuka, terutama mereka yang tinggal di pedesaan yang belum kenal dengan konsep kremasi. Prosesi pemakaman ini sendiri biasanya memerlukan setidaknya 6000 Euro atau sekitar sembilan puluh juta rupiah. Tak ada gotong royong, keluarga yang berduka mesti menyiapkan sendiri atau lewat asuransi.

Ereveld Ancol

Ketika prosesi pemakaman usai, masih ada lagi satu tradisi yang banyak dijalankan oleh orang-orang disini, yaitu pergi ke pub untuk sekadar minum. Tradisi ini untuk menemani keluarga yang ditinggalkan supaya tidak sendirian. Mereka yang berpulang kemudian dikenang dan dibicarakan dengan cara yang baik, diberikan banyak toast, dan tak satu hal yang jelek dibicarakan. Jika pernah melihat film PS I Love you, ada satu sesi dimana semua keluarga berkumpul menegak Jameson’s dan mengenang Gerry di dalam pub. Nah mirip-mirip deh.

Beberapa waktu lalu saya bertemu suami dari tetangga yang meninggal. Saya pun berbincang dan mengucapkan belasungkawa. Dia bercerita tentang prosesi pemakaman dan bagaimana indahnya cuaca saat prosesi berlangsung (disini cuaca memang topik yang gak ada matinya), satu hal yang kemudian bikin saya sedih, dia berkata: “I will never get over it”. Ah ditinggal mati memang sebuah patah hati yang tak pernah bisa tersembuhkan.

Bagaimana prosesi kematian di tempat kalian tinggal?

Xx,
Tjetje
Baru saja menggoogle apa yang akan terjadi jika ratu Inggris meninggal, ternyata ribet.

Baca juga: Ereveld Peristirahatan Penuh Kedamaian

 

Nostalgia Telepon

Sebagai anak generasi 90-an, saya merasakan perubahan dari tak punya telpon rumah hingga kemudian kabel telpon datang ke perumahan tempat kami tinggal. Ketika kabel tersebut datang rasanya girang luar biasa, mungkin persis dengan orang-orang jaman dahulu yang kedatangan kabel listrik untuk pertama kalinya.

Keriaan ini tak berhenti hingga kemudian telepon berdering. Perebutan mengangkat telepon pun terjadi demi bisa berbicara dengan telepon. Norak sih, tapi girangnya ketika mendengar telepon berbunyi itu memang tak bisa dibandingkan dengan keriaan jaman sekarang ketika telepon genggam kita berbunyi. Saya akan semakin girang jika panggilan tersebut adalah panggilan yang bersifat interlokal atau bahkan internasional, dari sanak saudara yang jauh. Ah rasa senang bisa berbicara dengan mereka, saat itu sungguh tak terdeskripsikan. Ya maklum jaman segitu belum ada sosial media, apalagi internet.

Sebagai anak nakal, tak sah tentunya jika saya tak mengakali telepon yang dikunci. Batang bagian belakang lidi saya selipkan untuk memencet tombol-tombol telepon. Ide ini tak saya contek dari mana-mana, tapi datang ketika saya sedang akan tidur. Sebelum menggunakan batang lidi, saya mencoba dengan jarum rajut milik ibunda saya, tapi jarum rajut itu terlalu gemuk.

Ketika tagihan telepon membengkak, bahkan hingga bermeter-meter panjangnya, ibunda saya mengganti pesawat telepon dengan pesawat tanpa tombol. Eh sebelum digantikan, saya dimarahin habis-habisan terlebih dahulu. Tapi saya yang nakal tak kehilangan akal, saya pun belajar melakukan panggilan dengan cara memencet tombol koneksi. Entah apa nama yang tepat untuk tombol ini. Satu kali untuk angka satu, dan sepuluh kali untuk angka nol. Teknik ini sering berhasil tapi juga sering gagal. Yang jelas, saya memastikan tagihan telepon terlihat wajar-wajar saja dan tak tinggi.

Selain telpon rumah, saya juga pengguna telpon umum, seperti telepon koin, hingga telepon kartu, baik yang tipis maupun yang menggunakan chip. Jaman itu, salah satu tetangga saya berhasil melubangi koin seratus rupiah dan mengikatnya dengan benang. Ketika hubungan telepon tersambung, tangan pun harus cepat menyambar koin supaya tak segera masuk ke kotak. Bicara di telepon pun harus cepat, karena dengan ongkos seratus rupiah, kita hanya diperkenankan berbicara selama tiga menit saja. Ketika ongkos telepon naik, dengan koin yang sama kita hanya bisa berbicara selama satu menit. Tak hanya itu, bicara pun harus kencang, karena seringkali pengguna harus bersaing dengan suara kendaraan yang lewat.

Ketika telepon kartu hadir, saya ingat betul PT Telkom berkata bahwa kartu telpon seharga dua puluh lima ribu rupiah tersebut tak bisa diakali. Faktanya, kartu-kartu tersebut bisa diakali dengan mudahnya dengan menempelkan isolasi berwarna hitam. Tentu saja ada teknik khusus yang saya tak tahu bagaimana, tapi yang jelas kartu tersebut bisa digunakan hingga berpuluh-puluh kali hanya dengan membayar mahasiswa-mahasiswa teknik sebesar lima ribu rupiah saja. Akibatnya, kartu menjadi tergesek-gesek dan tak bisa dikoleksi lagi.

Berbicara tentang telepon tentunya tak bisa lepas dari jasa warung telekomunikasi, atau yang lebih lazim disingkat menjadi wartel. Ruang-ruang wartel biasanya dibedakan untuk yang khusus interlokal serta yang khusus lokal saja. Berbicara di wartel pun harus berbisik-bisik, supaya mereka yang ada di kubikel sebelah tidak terganggu dan tak mendengar bisikan-bisikan khas remaja yang baru berkenalan dengan asmara.

Telepon rumah sudah bukan menjadi barang mewah lagi, bahkan dianggap sebagai barang kuno yang tak terlalu penting. Di Irlandia, kami mendapatkan telepon rumah secara gratis dari penyedia internet dan tv kabel kami. Saking gratisnya, biaya telepon ke beberapa negara pun digratiskan.

wpid-20140912_195136.jpg

Telpon umum di Galway

Telepon umum sendiri, perlahan-lahan mati karena kehadiran telepon genggam. Di Irlandia, telepon umum masih bisa ditemukan di beberapa sudut kota. Bahkan di Cork, saya menemukan telepon umum di dalam pub. Bodohnya, telepon tersebut tak saya abadikan. Saya tentunya tak tahu apakah telepon tersebut masih berfungsi atau tidak, karena ide untuk masuk ke dalam bilik telepon umum membuat saya geli, apalagi telepon umum tersebut dalam kondisi kotor. Kondisi telepon umum ini masih sedikit lebih baik ketimbang telepon umum di Indonesia yang lebih sering gagang atau bahkan teleponnya hilang.

Dari semua kenangan terindah saya dengan pesawat telepon, momen terindah bagi saya terjadi di sebuah telepon umum yang rusak. Ketika itu puluhan koin seratus seratus rupiah keluar dari bagian bawah telepon umum. Rasanya seperti menang jackpot walaupun uangnya hanya cukup untuk sekedar membeli anak mas rasa keju dan chiki balls.

Apa kenangan terindah kalian tentang telepon?

Xx,
Tjetje
Masih suka makan Chiki

 

Anak Kost dari Neraka

Judul postingan ini memang agak provokatif karena saya menyadur bahasa Inggris “Lodger from Hell”. Ceritanya, saya yang sedang menjadi ibu kos ini harus berhadapan dengan anak kos yang kelakukannya aneh-aneh. Berhadapan dengan anak kos bukanlah hal yang aneh buat saya, karena ibu saya juga pernah menjadi ibu kos. Mereka yang pernah ngekos di rumah saja ada yang super baik ada pula yang kelakukannya ajaib. Keajaibannya bermacam-macam, dari yang tak menyeterika pakaian dan meletakkannya di bawah kasur supaya lurus (dan ternyata pakaiannya rapi), hingga yang mencari oom-oom di pinggir jalan (untuk bayar kos!).

Anak kos pemburu oom-oom ini satu ketika berada di pinggir jalan utama tak jauh dari kediaman kami. Saat itu ia berdiri berdua bersama seorang anak kos yang cukup relijius. Entah bagaimana, tiba-tiba sang anak kos berhasil menghentikan Oom-oom di pinggir jalan hingga kemudian terjadi proses tawar-menawar. Transaksi pun disetujui dan pemberian jasa akan dilakukan di kota tahu, Kediri. Anak kos relijius yang terseret dalam transaksi itu tak mau terlibat dan minta diantarkan kembali pulang. Sebelum turun meninggalkan kendaraan, ia diberi uang 250.000 rupiah. Peristiwa ini membekas sekali di kepala saya, karena Mbak yang kejatuhan uang ini mengajak saya nonton dan mentraktir saya belanja. Prinsipnya uang tersebut harus dihamburkan dan jaman itu, menghamburkan 250.000 begitu susah. Bagaimana tak susah jika ongkos nonton bioskop saja masih 2500 saja. Lebih membekasnya, anak kos yang dibawa oom-oom itu baru pulang keesokan harinya, dan langsung membayar uang kos yang sudah terlambat selama berhari-hari. Hidup itu keras!

Jika ibunda saya menampung anak-anak kost dari berbagai sudut nusantara yang penuh drama, saya menjadi ibu kos internasional. Anak-anak kos yang tinggal bersama kami berasal dari aneka rupa negara. Baru-baru ini, salah satu anak kos saya dideportasi karena keseringan bolos. Anak kos ini memegang visa pelajar bahasa Inggris, tapi jika bertemu dengan kami ia dia seribu bahasa karena tak bisa bahasa Inggris. Komunikasi hanya bisa kami lakukan dengan pasangannya yang orang Spanyol. Tak lama setelah ia diderpotasi, pasangannya kembali ke negaranya. Rupanya mereka berdua memang berada di Irlandia supaya bisa pacaran. Ah pacaran kelas internasional nih!

Kamar yang kosong ini kami sewakan kepada seorang pendatang baru di Irlandia. Dari mulai hari pertama, mbak ini sudah ‘berulah’ karena tak punya selimut di kamarnya dan tak mau beli selimut sendiri. Di negara dia sewa kamar sudah termasuk selimut, tapi masalahnya kita berada di Irlandia. Urusan gak mau modal ini ternyata masih berlanjut karena dia gak punya kabel colokan. Alih-alih permisi minjam, dia buka lemari di living room kami dan makai kabel tanpa permisi. Tiap kali kabel diminta, besoknya diambil lagi tanpa permisi. Alhasil kalau saya perlu, saya yang harus kerepotan.

Satu hal yang tidak saya prediksi, ia datang dari tempat yang dikelilingi laut, otomatis kalau ngomong saingan sama ombak. Suatu kali di tengah malam yang sunyi, anak kos ini menyalakan musik kencang-kencang. Ditegur, boro-boro minta maaf, ngerespons aja engga. Kalau bicara di telpon, atau skype juga tak kalah kencangnya dan tak kenal waktu. Kalau ketawa, ampun deh kenceng banget kayak nenek sihir. Buka dan nutup pintu juga gitu, gebrak-gebrak tak bisa pelan. Parahnya, sudah dipanggil, didudukkan dan ditegur, masih aja gak bisa mengecilkan suara. Emang suara itu bawaan orok, saya pun sebagai orang Malang kalau ngomong super kencang. Tapi berada di Eropa yang super senyap, saya juga berusaha dan belajar untuk tidak bersuara dengan kencang, terutama di malam hari.

Selain suara, kebersihan juga jadi hal yang bikin saya pengen garuk-garuk. Kompor selalu ditinggal bermandikan cipratan minyak, persis kaya pedagang nasi goreng yang meninggalkan jejak minyak hitam di atas trotoar. Penggorengan juga seringkali ditinggalkan di atas kompor; kalaupun dipindahkan gak dicuci sampai berapa hari.  Dapur dan rumah juga jadi bau tak karu-karuan karena sang anak kos malas menyalakan exhaust. Yang ngegemesin, ditegur pun nggak berubah. Saking frustasinya,  saya sudah pengen ngeluarin aja, apalagi pas dia berkomentar tak sopan tentang berat badan. Anak kost ini berkata bahwa saya bertambah gemuk sejak terakhir ia bertemu ya. Nyebelinnya kami terakhir ketemu malam sebelumnya. Langsung sensi deh dan pengen buka jendela dan lempar-lempar barang dia dari jendela seperti di drama-drama televisi. Tapi di negeri ini, anak kos tidak bisa seenaknya dikeluarkan, plus saya kasihan bener karena dia baru di negeri ini.

Masalah saya dengan anak kos ini masih banyak, termasuk repotnya menjelaskan tentang urusan sampah, sampah yang tak bisa didaur ulang misalnya dimasukkan ke dalam kotak sampah makanan. Aduh gemes deh pengen saya uyel-uyel padahal informasinya sudah jelas dan ada di pintu kulkas. Kalau dijelaskan pun masih ngeyel dulu, tapi begitu ditunjukkan kicep. Ya beginilah kalau dapat anak kos yang baru datang di negeri orang, mesti ngajarin ini itu. Ya bayangin aja gimana ngurusin proses integrasi migran yang membanjiri Eropa.

Menjadi ibu kos berarti juga mengalami hal yang aneh-aneh. Si anak kos pria di kos saya sering kedatangan pacarnya. Sang pacar, sebut saja namanya Mawar, tinggal di dekat rumah tetangga kami, dan mendapatkan kos atas rekomendasi ibu mertua saya. Saya cinta banget sama Mawar ini karena kalau dia lagi iseng bersih-bersih kamar mandi, kamar mandi saya jadi bersih buaaaaaanget. Suatu hari, sang anak kos pria mengirimkan sms, permisi mau bawa temannya menginap di rumah. Eh tapi setelah diberi ijin dia bilang: “tolong ya, Mawar gak perlu tahu tentang hal ini.” Ya geblek, rupanya bawa selingkuhan. Tapi edannya pacarnya tinggal gak jauh dari sini, cari mati bener deh. Dalam hati saya berdoa, semoga selingkuhannya hamil, biar geger sekalian dunia perkost-kostan di Dublin.

Punya pengalaman dengan anak kos atau tetangga kos?

xx,
Tjetje

Baca juga: Memilih Kost di Jakarta

Valentine Sekuler dan Valentine Relijius

Tiap kali menjelang tanggal 14 Februari atau hari Valentine, bisa dipastikan media dan juga media sosial di Indonesia akan penuh dengan keributan urusan Valentine. Sebagian pihak berargumen bahwa perayaan Valentine ini haram karena merupakan perayaan agama Katolik yang tentunya bertentangan dengan agama mayoritas penduduk di Indonesia. Sementara sebagian pihak lain akan berargumen tentang Valentine yang sudah disekulerkan oleh sebagian besar industri dan ritel.Dua-duanya sama-sama benar, jika dilihat dengan kacamata dan konteks yang benar.

Mari kita bahas dulu perayaan pertama, yaitu perayaan yang relijius. Dublin menjadi salah satu kota spesial menjelang Valentine karena di sebuah gereja di kota ini tersimpan relic Santo Valentine. Alkisah, di tahun 1800-an terdapat seorang pastur di Dublin yang tinggal di daerah Liberties, namanya Pastur John Sprat. Jaman dahulu, daerah Liberties ini terletak di luar tembok kota Dublin dan sangat terkenal dengan kemiskinannya. Nah sang Pastor terkenal sebagai individu yang begitu mencintai orang-orang miskin. Selain menyayangi orang miskin, sang Pastor juga terkenal sebagai penceramah yang baik.

 

Suatu hari, sang pastur bertugas ke Roma dan berceramah disana. Paus yang saat itu mendengar kebaikan pastur ini kemudian menghadiahkan relic (maaf, saya tak bisa menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia) dari Santo  Valentine. Pemberian itu diberikan di tahun 1835 tapi karena jaman itu transportasi  belum canggih, sang relic yang salah satunya wadah kecil berisi darah sang Santo baru tiba di Dublin setahun kemudian dan disambut dengan arak-arakan yang meriah.

Lalu dibuatlah sebuah sudut untuk berdoa kepada Santo Valentine di gereja yang terletak di dekat jantung kota Dublin, namanya “Church of Our Lady of Mount Carmel”. Dalam bahasa Inggris sudut ini disebut sebagai shrine. Diletakkan pula sebuah patung sang Santo bersama dengan tempat untuk menyalakan lilin dan buku untuk menuliskan doa serta harapan.

Valentine yang identik dengan anak-anak muda diperingati setiap tahunnya di gereja ini dengan mengadakan misa. Misa ini tak hanya untuk memperingati semangat dan cinta kasih Santo Valentine, sang Pastur yang menerima relic tetapi juga untuk memberkati anak-anak muda yang akan menjadi dewasa melalui perkawinan.

Sudut favorit saya, shrine untuk Our Lady of Dublin. Protector kota Dublin. Saya menyukainnya karena sudut ini begitu cantik.

Tahun ini, misa tidak dilaksanakan pada tanggal 14, tetapi dilaksanakan pada tanggal 13 Februari. Mungkin supaya tidak menganggu jadwal misa rutin di hari minggu. Dalam misa yang berdurasi selama 45 menit dan dikunjungi banyak orang, tua dan muda, terdapat satu sesi khusus untuk memberkati cincin bagi mereka yang baru bertunangan dan baru melangsungkan perkawinan. Pemberkatan juga diberikan pada mereka yang berduka karena ditinggal pasangannya meninggal.  Intinya, misa kemarin berfokus pada cinta.

 

Perlu dicatat, di dalam misa tersebut tidak ada pemberian coklat, makan steak berdua, apalagi tukar-menukar kartu Hallmark. Fokusnya hanya ada pada doa dan mengingat spirit cinta kasih pada sesama yang dilakukan oleh Santo Valentine. Sepanjang misa dan juga setelah misa, shrine Santo Valentine dipenuhi dengan turis-turis yang berdoa, menyalakan lilin dan juga mengambil foto. Kucluk memang, orang-orang pada repot misa mereka pada repot foto-foto.

 

Perayaan Valentine yang ramai di berbagai kota-kota di berbagai sudut dunia tidak identik dengan misa seperti di gereja tersebut. Valentine bagi banyak orang identik dengan kencan berdua, pacaran. Nonton, makan malam, bertukar kartu berwarna merah yang dipenuhi dengan gambar hati, memberi sekotak coklat atau bahkan buket-buket mawar. Di berbagai sudut kota Dublin, pedagang kaki lima dadakan pun juga banyak yang muncul menawarkan buket-buket mawar seharga dua puluh Euro. Mereka tak lupa juga menjual kartu-kartu yang harganya tak murah dan seringkali berakhir di tempat sampah ketika Valentine usai.

https://www.instagram.com/p/BBuqRWeQxgv/?taken-by=binibule

Valentine inilah yang disebut sebagai Valentine sekuler, karena semua orang berbondong-bondong merayakan dengan cara yang jauh berbeda dengan cara gereja merayakannya. Saya pun sangat yakin, hanya segelintir orang yang tahu doa untuk Santo Valentine yang bunyinya seperti ini:

O glorious advocate and protector,
St Valentine,
look with pity upon our wants,
hear our requests,
attend to our prayers,
relieve by your intercession the miseries
under which we labour,
and obtain for us the divine blessing,
that we may be found worthy to join you
in praising the Almighty for all eternity:
through the merits of
Our Lord Jesus Christ.
Amen.

Restauran, industri dan juga pedagang ritellah yang bertanggung jawab atas Valentine sekuler ini. Mereka menangkap kesempatan untuk menjual nama Santo Valentine demi untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Persis dengan Natal yang di Dublin sudah cenderung menjadi ritual sekuler dan lebih identik dengan bertukar kado ketimbang berdoa. Saking sekulernya, pastur di gereja pun sudah tak segan lain untuk nyindir jemaatnya pada saat misa Natal. Sama juga dengan sekulerisasi Santa Klaus yang aslinya berwarna hijau menjadi merah, karena Coca Cola yang sukses merubah warnanya supaya mirip dengan warna Coca Cola.

Pada akhirnya ribut-ribut tentang Valentine ini merupakan sebuah usaha yang buang-buang tenaga dengan fokus yang salah. Valentine sudah menjadi perayaan sekuler, sama seperti St. Patrick’s Day dan juga Natal. Lagi pula Valentine juga  tak pernah menjadi perayaan yang relijius kecuali di gereja di Dublin ini (serta mungkin, mungkin lho ya gereja lain yang menyimpan relic sang Santo). Dan harus diakui, perayaan sekuler ini memberikan banyak ladang keuntungan bagi banyak pihak, dari mulai petani bunga mawar, pembuat coklat, pemilik restauran yang berlomba-lomba menjual paket makan malam Valentine, hingga para pedagang lingerie yang tokonya selalu penuh menjelang Valentine. Satu hal lagi yang perlu dicatat, merayakan Valentine tak berarti mengubah seseorang menjadi Katolik. Menjadi Katolik saya kira tak semudah itu. Kalau menjadi Katolik semudah itu, wah alamat gereja-gereja di dunia bakalan penuh.

Jadi kamu merayakan Valentine atau tidak?

xx,
Tjetje

Perbedaan Irlandia Utara dan Irlandia Selatan

Vietnam dibagi menjadi dua, Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Wilayah utara lebih dingin ketimbang yang selatan. Kendati terbagi menjadi dua, negara ini merupakan sebuah kesatuan. Hal ini tentunya berbeda dengan Korea yang terbagi menjadi dua negara yang berbeda, Korea Selatan dan Korea Utara. Bagian Utara memiliki ideologis yang berbeda dengan bagian Selatan yang merupakan republik.

Sama dengan negara-negara di atas, Irlandia juga terbagi menjadi dua, Irlandia Utara dan Irlandia Selatan. Di Irlandia sendiri kami tak pernah menyebutnya sebagai Irlandia Selatan, tetapi Republik Irlandia. Hanya saya, orang-orang Inggris sering menyebut negara ini sebagai Irlandia Selatan. Penggunaan kata yang tepat ini sangat penting dan cukup sensitif.

Pembagian Irlandia sendiri diatur dalam sebuah treaty yang  dibuat pada tahun 1921, Treaty Anglo Irish. Dua bagian ini sama-sama berkedudukan di sebuah pulau yang diberi nama Irlandia dan terletak di bagian barat Inggris. Terdapat 32 counties di pulau Irlandia. County ini semacam distrik kecil-kecil yang tak ada padanannya di Indonesia. Tak bisa disamakan dengan provinsi karena provinsi relatif lebih besar. Jaman penjajahan Belanda dulu sih county ini mirip dengan karesidenan. Walaupun kalau ditanya karesidenan apa, saya tak akan tahu. Maklum anak muda.

Dua puluh enam counties merupakan bagian dari Republik Irlandia, sehingga Republik Irlandia di bagian selatan wilayahnya lebih besar. Enam counties lainnya yang terletak di bagian utara, merupakan bagian dari United Kingdom (UK). UK sendiri terdiri dari Inggris, Wales, Skotlandia dan juga Irlandia Utara. UK inilah yang dipimpin oleh Ratu Inggris, neneknya pangeran William. Sementara Republik Irlandia dipimpin oleh Presiden dan juga Taoiseach (dibaca  tee-shock, yang seperti Perdana Menteri).

Penyebutan Irlandia sendiri identik dengan Republik Irlandia. Sementara Utara selalu disebut sebagai Irlandia Utara, tak pernah disebut sebagai Irlandia saja.

Republik Irlandia sendiri memiliki ibukota yang terletak di bagian timur pulau ini, namanya Dublin. Sementara, Irlandia Utara ibukotanya bernama Belfast. Tetapi orang-orang yang datang dari utara maupun dari selatan sama-sama disebut sebagai orang Irlandia, atau Irish dalam bahasa Inggris, terutama mereka yang memeluk agama Katolik. Sementara mereka yang memeluk agama Anglican lebih senang disebut sebagai British ketimbang Irish. Bagi orang Irlandia sendiri mereka yang dari Utara disebut sebagai Northen.

Sejarah pembagian ini sendiri terjadi pada tahun 1920-an saat Inggris masih menjajah Irlandia. Daerah Utara ditetapkan menjadi bagian dari Inggris dan daerah Selatan menjadi daerah yang independent. Pembagian Irlandia inilah yang kemudian memunculkan konflik karena ada kelompok-kelompok tertentu yang menginginkan Irlandia bersatu, sementara ada yang tetap ingin loyal dengan Inggris. Konon yang 26 memang wilayah yang mayoritas Katolik, sementara yang 6 mayoritas Anglican. Jadi begitu Irlandia menuntut kemerdekaan, yang 6 ini masih ditahan oleh Inggris karena untuk melindungi mereka yang Anglican dan loyal pada sang Ratu.

Soal Anglican sendiri tak perlu dijelaskan lah ya, bisa digoogle saat jaman Henry VIII yang mau menceraikan Catherine of Aragon demi Boyle. Atau bisa juga nonton di Netflix, informasi soal ini banyak sekali.

Kembali lagi ke Irlandia Utara, selain urusan perlidungan terhadap mereka yang setia pada kerajaan Inggris serta Anglican, banyak yang mengatakan bahwa utara dipertahankan karena dahulu, industri perkapalan sangat berjaya. Titanic sendiri dibuat di Belfast, jadi bisa dibayangkan betapa besarnya industri tersebut. Sayangnya, industri tersebut sekarang sudah tak beroperasi lagi.

Sebagai dua negara yang berbeda, maka terjadi banyak perbedaan antara dua negara ini. Yang paling sederhana saja, di Irlandia menggunakan mata uang Euro, sementara di Irlandia Utara menggunakan Poundsterling. Di Irlandia menggunakan kilometer, sementara di Irlandia Utara menggunakan miles. Soal sarapan pun ada sedikit perbedaan, di Irlandia disebut Irish Breakfast, sementara di  utara disebut Ulster Breakfast.

Yang paling penting, VISA ke Irlandia Utara dan visa ke Republik Irlandia itu tidak sama. Karena Irlandia Utara bagian dari Inggris, maka visanya menggunakan visa Inggris, berbeda dengan Republik Irlandia. Nah yang perlu digarisbawahi pakai bolpen tebel, kedutaannya juga tidak sama.

Visa ke Irlandia Utara, baik itu visa untuk turis atau bergabung dengan pasangan jauh lebih rumit ketimbang visa untuk ke Irlandia. Ya maklum saja, Inggris merupakan negara yang menjadi incaran banyak migran, belum lagi banyaknya kasus perkawinan palsu bertujuan untuk mendapatkan visa tinggal membuat mereka memperketat peraturannya. Jauh berbeda dengan Republik Irlandia yang tak terlalu sulit dalam urusan visanya.

Satu hal penting dari perbedaan dua negara ini adalah, mereka yang mencari cara mendaftar visa, cara kawin, daftar sekolah, atau urusan administrasi negara lainnya harus sangat berhati-hati. Saya perhatikan sering sekali orang dari Utara memberi nasihat kepada orang yang akan ke Republik, dan sebaliknya. Padahal ini hal yang fatal sekali. Karena administrasi dua negara ini tak sama. Maksud hati mungkin baik, saling tolong-menolong, karena sama-sama mau Irlandia, tapi jangan sampai menjerumuskan.

Selain itu, mereka yang berlibur ke London dan ingin mampir ke Dublin juga wajib hukumnya daftar visa Irlandia. Begitu juga mereka yang memegang visa Irlandia jika ingin main-main ke Belfast, maka harus daftar visa dulu. Kalau engga, berabe bakalan ketahuan melanggar aturan imigrasi, walaupun secara teknis, tak ada pengecekan di perbatasan antara Utara dan Republik.

Kamu, tahukah tentang pembagian Irlandia Utara dan Republik Irlandia?

Xx,
Tjetje

Seputar Istri Bule

Perempuan Indonesia yang memiliki pasangan orang asing, dipenuhi dengan banyak stigma-stima aneh. Dari mulai disangka perempuan matre, disangka bekas pekerja seksual hingga dituduh mengawini opa-opa tua supaya bisa mengambil warisan. Yang matre saya yakin ada, yang bekas pekerja seksual juga banyak, yang nikah tak tulus pun juga banyak.  Tapi karena segelintir orang ini kebanyakan perempuan yang punya pasangan orang asing jadi dianggap jelek semua.

img_1405

Tak hanya dianggap jelek, perempuan yang memilik pasangan asing juga sering dianggap berubah dan jadi belagu karena punya pasangan bule. Manusia berubah itu wajar, manusiawi banget, apalagi adanya perubahan lingkungan, perubahan pola pikir dan tentunya perubahan ekonomi. Tapi ada beberapa hal yang nampaknya sering menjadi buah bibir.

Jadi istri bule suka pakai baju terbuka

Sebelum kita bahas lebih lanjut tentang urusan pakaian terbuka ini, mari kita luruskan dulu persepsi tentang baju di Indonesia. Di negeri kita ini ada satu pemikiran yang menganggap mereka yang mengenakan pakaian seksi dan terbuka adalah pendosa dan seringkali dianggap perempuan murahan.

Seringkali mereka yang mengenakan pakaian seksi langsung serta merta dianggap sebagai pekerja seksual dan murahan. Padahal ya kalau mau tahu mereka yang hidup di luar negeri itu pakaiannya lebih banyak tertutup, karena matahari disini jarang muncul. Apalagi yang tinggalnya di Eropa Utara, makin tertutup.  Kalau kemudian ada  istri bule yang jadi suka mengenakan pakaian seksi, terbuka, atau bahkan bikini ketika ada matahari, ya harap dimaklumi karena jarang terkena matahari.

Tapi alasan kekurangan matahari tak bisa digunakan ketika salah kostum apalagi di tempat-tempat dimana pakaian terbuka tak diterima di Indonesia. Ya kalau begini ingatkan saja tentang peribahasa dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Lagipula yang begini kan hanya segelintir saja, gak semuanya.

Jadi istri bule tak bisa bahasa Indonesia lagi

Ada dua tipe yang seperti ini, yang pertama yang bahasa Indonesianya dicampur-campur bahasa Inggris, ada juga yang tak mau berbicara bahasa Indonesia lagi. Yang pertama tak perlu dibahas lebih lanjut, karena otak, apalagi otak saya, suka gak ingat kosakata tertentu. Tertentu lho ya, gak semua. Nah yang kedua ini sudah pernah dibahas oleh Mbak Yoyen disini. Yang ini sih memang ajaib. Di saat orang-orang berlomba menjadi poligot dengan mempelajari banyak bahasa, mereka berusaha melupakan bahasa ibu mereka. Mungkin, mungkin lho ya, menjadi poligot itu bukan hal yang patut dibanggakan.

Kemungkinan kedua yang perlu dipelajari oleh para scientist adalah kapasitas otak yang memang kecil, persis seperti disket di jaman dahulu kala. Ketika muncul bahasa baru, maka data-data di disket harus dihapus karena disketnya emang gak bisa dan gak mau untuk menyimpan semua data menjadi satu. Jadi kalau ketemu yang model begini sih gampang aja, tinggal dikasih bahasa Inggris yang agak sophisticated dengan koleksi kata-kata dari buku-buku persiapan GRE atau GMAT. Beres.

Jadi istri bule kok tak bisa bahasa asing

Nah kalau yang di atas sok-sokan tak mau menggunakan bahasa Indonesia lagi, yang ini tak bisa bahasa asing. Kalapun bisa biasanya kemampuannya sangat minim. Saya sendiri pernah duduk bersebelahan dengan seorang perempuan muda yang tak bisa bicara bahasa Inggris, maupun bahasa Perancis, bahasa asli suaminya. Mereka berkomunikasi dalam bahasa Indonesia karena sang suami berbahasa Indonesia dengan baik. Mbak ini juga gak repot belajar bahasa Perancis sama sekali.

Saya juga pernah bertemu pasangan Indonesia dan Jepang yang berkenalan pada satu akhir pekan lalu memutuskan untuk langsung kawin. Anehnya, mereka tak punya satu bahasa yang bisa digunakan untuk berkomunikasi. Nah bingung kan gimana caranya berkomunikasi, apalagi sampai memutuskan untuk kawin setelah satu akhir pekan?

Lha tapi kalau mereka sebagai pasangan aja tak bingung, mengapa kita yang mesti repot bingung? Bagus kan mereka tak perlu berkelahi urusan sepele dan tentunya bisa memperpanjang usia perkawinan. Perkara mereka mau ngobrol sama mertua, tetangga atau saudara lain-lainnya, ya biar mereka yang bingung.

Jadi istri bule kok sombong?

Ini bisikan yang paling sering saya dengar. Dulunya sederhana setelah jadi istri bule kok jadi sombong, jadi suka pamer. Lha ini mah jawabannya gampang, terjadi perubahan ekonomi yang diikuti dengan perubahan perilaku. Sekali lagi, yang seperti ini harap dimaklumi saja. Mungkin dulu memang gak ada yang bisa dipamerkan. Begitu ada yang dipamerkan dan ada media untuk pamer, ya ikut arus pamer-pamer. Yang begini mah banyak, gak cuma istri bule doang kan?

Ada pula yang bangganya gak ketulungan karena suaminya bule. Aduh terus terang yang kayak gini ini yang bikin sedih, karena mereka menyanjung bule lebih tinggi dari orang Indonesia dan memperkuat segregasi berdasar warna kulit. Kalau ketemu yang kayak gini jangan cuma dijadikan bahan bisik-bisik, langsung tegur aja biar ngeh kalau kita semua sederajat.

Istri bule itu beraneka ragam, seperti juga istri-istri lainnya. Ada yang berpendidikan tinggi, ada yang berpendidikan rendah. Ada yang elegan ada yang norak. Ada yang pintar, ada yang kurang pintar. Ada yang diam dan ada juga yang nyinyir. Namanya manusia memang berbeda-beda.

Bisik-bisik apa lagi yang terlewatkan?

Xx,
Tjetje