Tertimpa Gosip dan Rumor

Lebih dari satu dekade lalu seorang tetangga saya berdiri di depan rumah sambil berteriak-teriak, marah tak jelas. Kendati pendidikannya tinggi dan pekerjaannya menjadi pendidik anak bangsa, sang tetangga satu ini memang terkenal tak bisa mengatur temperamennya dan hobi marah-marah. Di tengah-tengah amarahnya, ia tiba-tiba menghujat saya, anak kuliahan yang baru kenal cinta monyet sebagai perempuan simpanan. Darah muda saya mendidih, apalagi saat itu saya masih jomblo. Sebagai jomblo yang merindukan cinta, bagai pungguk merindukan bulan, kejadian itu saya ibaratkan seperti peribahasa bagaikan jomblo tertimpa tangga. Apes bener. Tetangga itu berakhir diam tak berkutik ketika saya labrak.

Dalam kehidupan, seringkali kita ditimpa gosip ataupun rumor. Artis bukan, motivator juga bukan, tapi ada saja orang yang iri dan dengki lalu membuat gosip dan rumor aneh-aneh. Pada saat yang sama, banyak dari kita yang terlibat baik secara aktif maupun pasif dalam kegiatan pergunjingan. Dari bergunjing sambil ngopi-ngopi dan arisan cantik, hingga bergunjing kelas teri bersama abang tukang sayur ataupun ketika usai ibadah. Lha abis ibadah kok nggosip.

Saya mendefiniskan bergosip sebagai kegiatan membicarakan orang. Yang dibicarakan biasanya fakta tetapi banyak dari informasi ini harusnya disimpan dalam lingkungan terbatas. Kendati hal-hal yang dibicarakan dalam pergosipan adalah fakta, tujuan dari membahas hal-hal ini bukanlah mengulas fakta atau investigasi untuk mengungkap sebuah permasalah. Tujuannya hanya untuk olahraga lidah, mulut dan telinga. Satu hal yang seringkali dilupakan, ada informasi-informasi yang seharusnya disimpan dalam sebuah ruang terbatas yang tiba-tiba dikeluarkan dan diumbar untuk untuk mengatasi kebutuhan membicarakan orang lain. Berbeda dari gosip, rumor merupakan informasi yang belum jelas kebenarannya. Sumbernya tak jelas, dasarnya tak jelas, kebenarannya apalagi.  Rumor menurut saya jauh lebih kejam dari gosip.

Gosip dan rumor tak bisa dilepaskan dari tukang gosip  yang juga berperan sebagai tukang sulut masalah ataupun provokator.  Provokator sekelas RT atau RW yang punya banyak waktu untuk membicarakan kehidupan orang lain, bukan provokator yang bikin rusuh di depan kantor DPR. Tukang bikin rusuh ini biasanya punya ciri khas tak bisa menyimpan informasi dan hal-hal yang dia dengar dapat dipastikan tersebar kemana-mana, termasuk ke telinga orang yang dibicarakan.
facebook-gossiping
Menghadapi tukang gosip atau penyebar rumor tidaklah mudah. Tapi yang paling utama, kita tidak boleh terpancing. Baik terpancing ke dalam pembicaraan dan mengeluarkan informasi ataupun terpancing secara emosi. Pada saat yang sama, semua informasi yang kita dengar, dari siapapun, harus berhenti pada diri sendiri. Segatal-gatalnya mulut jangan sampai mengeluarkan informasi ke tukang gosip, apalagi ke para korbannya. Tak ada gunanya menyampaikan informasi tersebut pada orang lain, karena hanya membuat suasana semakin runyam.
Mereka yang mendengar berita diri digosipkan juga sebaiknya  tak mudah terprovokasi lalu tergoda labrak-melabrak, macam saya ketika masih muda belia. Apalagi jika sumber dari pergosipan ini adalah orang-orang yang memang terkenal sebagai tukang gosip dengan kalimat standar “Katanya si X, kamu begini, katanya si Y suamimu begini; aku dengar dari si Z kemarin begina begitu”. Semua katanya.
Sebuah sumber bacaan saya mengatakan bahwa orang-orang yang bergosip biasanya tak merasa percaya diri, sehingga merasa lebih baik ketika membicarakan hal-hal negatif tentang orang lain. Pada saat yang sama ada kemarahan ataupun kecemburuan pada sang korban gosip. Nah, orang-orang seperti ini tak selayaknya diberikan panggung untuk menaikkan kepercayaan dirinya. Cuekin saja, anggap angin lalu.
Apakah ini berarti kita tak boleh membicarakan hidup orang lain? Sah-sah saja kok, apalagi jika hal tersebut adalah berita baik yang patut dirayakan. Tapi sudah selayaknya etika dan norma menjadi pembatas, baik pembatasan topik yang layak dibahas, maupun ekslusifitas informasi tersebut (Baca: gak perlu ngember kemana-mana).
Jika dulu saya melabrak-labrak orang, sekarang saya jauh lebih dingin dalam menghadapi gosip. Kadang saya menganggap gosip sebagai sebuah kewajaran, apalagi banyak yang tak cocok  (atau tak paham tapi pura-pura paham) dengan jalan pikiran dan gaya bicara saya. Pada saat bersamaan, saya juga bisa belagak jadi artis kan? Artis tanpa film, tanpa sinetron, tapi tak kalah penuh drama. Tentu saya yang menggosipkan saya tak akan saya beri somasi, apalagi somasi dengan 18 pengacara.
Mengutip kata Dedi Cobuzier, kita itu manusia dan bukan malaikat. Jadi wajar saya jika sebagai manusia yang tak sempurna kita banyak salahnya. Nah ketika manusia tak sempurna, bukan berarti mereka bisa dengan semena-mena dibicarakan dan digosipkan habis-habisan.
Bagaimana dengan kalian, pernah berurusan dengan tukang gosip, tertimpa gosip atau rumor tak sedap? Atau malah menjadi tukang gosip? #Eh
xx,
Tjetje
Ketularan Cerita Eka menjadi penikmat gosip super somasi.

Kembali Tinggal dengan Orang Tua

Di beberapa negara maju, anak-anak yang sudah memasuki usia dewasa diharapkan tinggal sendiri dan keluar dari rumah orang tuanya. Harapannya, anak-anak tersebut bisa lebih dewasa dan bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.


Di Indonesia, konsep melepas anak supaya mandiri itu kurang populer. Sebaliknya, anak dimanjakan hingga usia dewasa. Mereka disuapi dengan kemudahan; disediakan pekerja rumah tangga, pengemudi, hingga tabungan serta pekerjaan. Kemanjaan ini tak semerta-merta berhenti begitu memasuki jenjang perkawinan. Ada banyak keluarga muda yang entah terpaksa karena keadaan, atau mungkin dipaksa supaya orang tua tak kesepian, yang tinggal bersama orang tua. Bahkan ketika cucu lahir pun masih bersama orang tua. Menurut orang tua sih supaya dekat dengan cucu dan supaya ada orang terpercaya yang merawat cucu. Di Indonesia kita melihat ini sebagai sebuah kewajaran. Disini, berusia dewasa, apalagi sudah kawin masih tinggal bersama orang tua dianggap sebagai keanehan.

Bicara tentang anak-anak yang dilepas, saya jadi teringat seorang teman WNA yang harus kembali ke negaranya setelah magang di Indonesia. Saat itu ia panik dan tak nyaman karena harus kembali tinggal dengan orang tuanya selama satu minggu karena belum mendapat tempat tinggal. Tinggal satu minggu dengan orang tua nampaknya dianggap sebagai sebuah siksaan luar biasa. Sungguh sebuah reaksi yang bagi saya menarik (dan berlebihan).

Saya sendiri sudah lebih dari satu dekade tinggal mandiri tanpa keterlibatan orang tua dan tak tahu apakah bisa tinggal satu atap lagi dengan ibunda saya. Ternyata, dikunjungi mama selama hampir tiga bulan saya malah tambah senang. Paling enak tentunya urusan perut, karena makanan nusantara seringkali tersaji. Sering ya, tapi tak selalu. Tentunya ada harga mahal yang harus dibayar, berat badan melonjak.

Tentunya dikunjungi tak sama dengan tinggal bersama. Dalam tinggal bersama ada keputusan-keputusan yang harus dibuat. Dari keputusan sederhana memilih merek sabun cuci hingga memilih penyedia jasa.

Tak heran jika kemudian pasangan-pasangan muda yang menumpang hidup dengan orang tua atau mertuanya seringkali berargumen, dari argumen yang penting hingga yang tak penting.

Yang tua sudah punya pola yang tersusun selama berpuluh tahun dan sudah memiliki pengalaman, sementara yang muda masih ingin mencoba berbagai hal baru atau sudah terbiasa dengan cara yang berbeda. Yang kasihan tentunya sang anak yang harus berada di tengah-tengah, antara orang tua dan pasangan jiwa.

Dalam situasi ini kedua belah pihak harus pintar-pintar menjadi fleksibel. Pada saat yang bersamaan kedua belah pihak harus berkomitmen untuk memberikan ruang pribadi dan tak terlalu mencampuri urusan pihak yang lain. Komunikasi kemudian menjadi kunci penting. Seperti biasa, teorinya mudah tapi prakteknya tak mudah sama sekali karena bercampur dengan ego.

Kalian pernah kembali tinggal dengan orang tua atau bahkan dengan mertua?

xx,
Tjetje

Cara Daftar Visa Spouse Irish 

Banyaknya forum-forum di dunia maya memberikan kesempatan pada mereka yang kebingungan untuk bisa bertanya dan berkonsultasi tentang hal-hal yang tidak diketahui. Tetapi pada saat yang bersamaan, dunia maya, yang juga disingkat sebagai dumay, juga rajin menjerumuskan orang pada lubang hitam pekat besar. Di dunia maya, semua orang merasa paling benar, dan cara yang ditawarkan adalah cara terbaik. Padahal, banyak hal-hal kecil yang harus ditanyakan dahulu sebelum memberi saran atau berbagi pengalaman. Terlebih jika pertanyaan yang diajukan terkait dengan visa. Salah sedikit bisa runyam dan catatan penolakan visa akan melekat seumur hidup.

Visa untuk joining Irish spouse, atau bergabung dengan pasangan (disini ga penting mau pasangan kawin atau pasangan tinggal bersama) pengurusannya sangat mudah tapi prosesnya lama. Terkadang lebih lama dari menunggu jodoh. Perlu dicatat, digarisbawahi dan dicetak tebal, proses visa untuk yang pasangannya Irish TIDAK SAMA dengan mereka yang pasangannya warga negara Eropa. Mereka tak hanya mendapatkan kemudahan, tetapi juga langsung mendapat visa sesuai umur passport. Sementara yang memiliki pasangan Irish dan mendaftar visa long visit joining spouse dari pengalaman saya hanya akan mendapatkan visa selama tiga bulan saja.

Ketika saya mengecek di kedutaan Irlandia di Jakarta yang berlokasi di gedung WTC, dokumennya relatif sama dengan visa kunjungan pendek untuk jalan-jalan ke Irlandia. Daftar dokumennya sebagai berikut:

1. Hasil cetak pendaftaran visa secara Online yang sudah ditandatangani. Ini bisa dididapat  di situs INIS.

2. Surat permohonan visa. Saya menjelaskan secara panjang sejarah kami bertemu diikuti dengan sejarah kunjungan-kunjungan saya.

3. Surat undangan dari pihak pasangan WN Irlandia. Surat ini senada dengan surat kedua. Penuh sejarah percintaan yang dilengkapi dengan detail tanggal.

4. Fotokopi akte kelahiran yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Akte asli harus dibawa untuk verifikasi

5. Fotokopi surat kawin serta terjemahannya. Surat kawin asli harus dibawa untuk verifikasi. Perlu dicatat pemerintah Irlandia mengakui perkawinan di luar negeri, jadi tak perlu repot-repot dicatatkan.

6. Bank statement selama enam bulan terakhir untuk membuktikan bahwa pasangan memang punya uang yang cukup dan tak akan membebani negara. Jika saya tak salah, ada penghasilan minimum untuk pasangan. Tapi saya belum ketemu linknya.

Bank statement saya juga disertakan untuk menunjukkan status keuangan. Selain itu saya memberikan aneka rupa bonus dokumen keuangan termasuk slip gaji dari saya dan pihak suami.

7. Surat keterangan dari tempat kerja pasangan yang menjelaskan bahwa ybs memang bekerja. Irlandia tak ingin orang-orang yang tak bekerja dan bergantung pada social welfare membawa pasangannya dan membebani negara. Konon prakteknya sih dimungkinkan, tapi tak saya sarankan.

Saya juga menyertakan surat keterangan dari kantor saya yang menyatakan masa kerja.

8. Asuransi perjalanan. Dikarenakan ini long stay, saya mengambil asuransi perjalanan tahunan. Bisa dibeli di situs AXA Indonesia.

9. As silly as it sounds, bukti booking pesawat. Kenapa saya bilang silly, karena proses visanya lama jadi booking pesawat sebenernya gak berguna karena kita juga gak bisa prediksi kapan pergi.

10. Fotokopi Passport kedua belah pihak dengan seluruh copy visa di dalamnya. Passport asli juga harus dibawa untuk verifikasi.

11. Foto background putih dua buah tidak ditempel dan di baliknya ditulis nomor aplikasi. Soal ukuran silahkan intip postingan saya tentang visa liburan.

Saya memberikan dokumen tambahan Foto-foto perkawinan saya. Sebenarnya tak diperlukan lagi, karena pihak embassy juga tahu saya sudah rajin wira-wiri Jakarta Dublin. Merekapun juga menolak.  Tapi, mereka yang melakukan review ada di Dublin dan belum tentu ngeh.

Seperti saya sebut berulang kali, visa ini prosesnya lama sekali. Proses normalnya ketika saya daftar enam bulan, tapi rupanya sekarang sudah molor jadi satu tahun. Pengecekan dokumen sendiri bisa dilakukan di sini. Beberapa waktu lalu saya cek, dokumen yang diproses baru yang dimasukkan pada 12 Januari. Sementara saat saya cek sudah akhir bulan Agustus. Delapan bulan saja euy….

Saya sendiri tak tahu apakah selama proses ini berlangsung kita bisa mengajukan visa kunjungan, karena pada saat saya mengajukan visa joining spouse, saya sudah memiliki multiple entry visit visa  untuk beberapa tahun. Jadi tak perlu repot-repot mengajukan. Untuk lebih jelasnya, silahkan tanya kedutaan. Tapi yang jelas jangan coba-coba datang dengan short visa (category C) lalu datang ke imigrasi minta perpanjangan karena di Web Imigrasi ditulis dengan huruf tebal gak boleh.

Judul visa yang diajukan memang long stay joining spouse, tapi visa yang diberikan ternyata hanya tiga bulan saja. Dalam masa tiga bulan itu kita harus segera pindah dan segera melapor ke Imigrasi di kota masing-masing untuk mendapatkan kartu GNIB. Perlu dicatat, pasangan harus dibawa pada proses ini, karena petugas akan bertanya. Setumpuk dokumen juga perlu disertakan. Di Dublin sendiri, antrian kantor imigrasi ini konon dimulai sejak pukul lima pagi. Awal tahun ini saya antri disini pukul 7 pagi dan baru dilayani pukul 2 siang. Konon pada saat masa penerimaan mahasiswa baru di musim gugur, antrian akan semakin menggila. Btw ini kita antri di luar gedung ya karena gedung baru dibuka pukul delapan pagi. Jika terjadi di Indonesia, saya jamin ada abang tukang gemblong, nasi kuning, tahu dan juga jasa penyewaan kursi dan payung yang menawarkan kenyamanan. Disini, yang ada hanya angin, hawa dingin dan air hujan.

Setelah mendapatkan GNIB card dengan rentang waktu hanya satu tahun (dan harus diperpanjang setiap tahun selama tiga tahun), masih ada proses mendaftar multiply entry visa sehingga bisa keluar masuk Irlandia. Proses pendaftaran visa ini bisa dilakukan secara daring tanpa perlu mengantri. Dari sana kita tinggal urus PPS number (nomor jaminan sosial). Tapi ya jangan harap bisa dapat uang alokasi untuk pencari kerja.

Kendati prosesnya panjang dan melelahkan, semua proses visa dan tetek bengeknya GRATIS. Dan dengan stamp 4 yang diberikan, kita memiliki hak yang sama dengan warga negara Irlandia. Hanya satu hal saja yang tak kita punya, hak untuk mengikuti pemilu tingkat nasional. Dan karena Irlandia bukan bagian dari Schengen, visa mengunjungi negara-negara Schengen pun masih diperlukan dan tak gratis, kecuali bawa pasangan.

Semoga bermanfaat!
Cheers,

Ailsa
Link yang berguna bisa ditengok di sini

Tukang Bohong 

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengadakan sebuah “riset kecil” di google untuk bahan pembahasan makan siang. Gelo emang, mau ngobrol makan siang aja pakai riset dulu dan bikin rangkuman singkat sepanjang hampir dua halaman yang didistribusikan lewat Email. Topik makan siang saya saat itu: mythomania atau yang kerap disebut pathological liar. Entah apa terjemahannya di dalam bahasa Indonesia,mungkin pembohong kronis.

Perkenalan saya dengan mythomania sendiri berawal dari sebuah artikel di majalah Perancis, yang judulnya “Je Suis Mythomane”. Awalnya ketika membaca pengakuan tersebut, saya menganggap hal tersebut tak eksis. Sampai kemudian saya dan banyak rekan lainnya melihat sebuah kebohongan yang terjadi secara terus-menerus dari seorang teman.

Awalnya, kami termakan kebohongan tersebut. Bahkan yang fantastis sekalipun. Namanya juga teman, tentu saya mempercayainya. Tetapi kemudian banyak fakta bergulir dan bertabrakan dengan informasi yang kami dengar. Ajaibnya, semua informasi ini sumbernya sama-sama dari satu orang, bukan dari orang yang berbeda. Bahasa gaulnya sih, bukan gosip. Jadi wajarlah kalau ketika itu kami sangat percaya. Bahkan saking meyakinkannya, hal-hal tersebut juga disampaikan kepada para penjabat tinggi dalam forum resmi. Kurang meyakinkan apa coba?

Lalu beginilah hasil riset tak ilmiah saya….

Berbohong kronis ternyata bukanlah sebuah penyakit tapi merupakan sebuah gejala dari kelainan kepribadian. Hanya gejala dari narcissist personality disorder atau borderline personality disorder. Bagi para pelakunya, membeberkan kebenaran merupakan sebuah hal yang sulit. Sebaliknya, berbohong memberikan mereka kenyamanan dan bisa dilakukan dengan mudah. Nah jika kita menunjukkan bahasa tubuh yang tak nyaman ketika mengungkap kebohongan, para pembohong kronis ini bisa melakukannya dengan tenang.

Kebanyakan kebohongan yang saya dengar saat itu sih tak merugikan, karena hanya bualan-bualan yang bisa dianggap angin lalu saja. Tapi dalam pertemanan, dimana kepercayaan menjadi sebuah landasan yang penting, kebohongan ini jadi sedikit mengganggu dan lama-lama melukai kepercayaan pertemanan. Dalam banyak kesempatan saya bahkan bertanya-tanya, mengapa sang pelaku perlu untuk berbohong untuk memukau orang lain? Dan saya yang bukan ahli pun membatin, mungkin memang tingkat kepercayaan dirinya terlalu rendah. Atau sebaliknya, terlalu tinggi sehingga merasa yang paling oke. Sementara orang lain dianggap sebagai pelupa yang tak punya daya rekam.

Dari hasil baca-baca, ada banyak teknik yang bisa dilakukan untuk mengkonfrontasi dan membantu mereka. Saya sendiri tak tergoda mengkonfrontasi dan lebih tergoda untuk mengamati, untuk melihat sejauh mana level kebohongan yang akan dilakukan. Selain itu, saya juga sok-sokan pengen membaca latar belakang sang pelaku.

Jika berminat mengkonfrontasi, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
1. Harus sabar mendengarkan segala kebohongan. Bahkan ketika tahu itu sebuah kebohongan besar, mulut harus ditutup rapat dan tak boleh menginisiasi argumentasi sementara telinga dibuka lebar-lebar.

2. Buat catatan hal-hal yang dibicarakan. Syukur-syukur kalau pembicaraan itu terekam dalam media chatting. Seringkali sang pelakunya lupa lho dengan hal ini. Atau bahkan sang pelaku membalikkan semua fakta dan menganggap kita sebagai tukang gosip yang kejam. Playing victim.

3. Jika pertemanan tersebut worth it, tawarkan bantuan dengan membeberkan semua catatan kebohongan, tanpa memojokkan pelaku. Jika tak berharga, kabur aja. Hidup terlalu pendek untuk ngurusin Kebohongan-kebohongan yang seringkali tak masuk akal.

Pathological liar tidaklah sama dengan sociopath. Sociopath biasanya punya tujuan dan akan melakukan kebohongan apapun demi tujuan itu, sementara pathological liar hanyalah orang yang hobi berbohong.

Nah, kalian pernah berurusan dengan pembohong kronis kah? Lalu apa yang kalian lakukan jika bertemu mereka?

xx,
Tjetje

Romantisme Tragis di Dublin Bay 

Masih dalam rangka membawa mama saja melakukan #JelajahIrlandia, kali ini kami sok romantis naik kapal menyusuri Dublin Bay dari Howth ke Dun Laoghaire. Howth sendiri merupakan sebuah area pelabuhan di County Dublin yang terkenal dengan seafoodnya. Saking terkenalnya mereka punya prawn festival.

Ada beberapa operator kapal di Howth dan pilihan kami jatuh pada Dublin Bay Cruise. Bukan hanya karena reviewnya bagus, tapi juga karena ada diskon di living social. Nah yang mau jalan-jalan ke Irlandia, kalau telaten boleh nih cari-cari disana atau di groupon karena banyak tiket murah. #BukanPesanSponsor. Ada beberapa route yang ditawarkan, selain dari Howth ke Dun Laoghaire (dua wilayah ini ada di County Dublin) ada juga route yang menawarkan perjalanan ke tengah kota Dublin dan akan berhenti persis di dekat jembatan cantik yang mirip harpa ini.

Perlu dicatat, semua turis harus booking dulu sebelumnya dan gak bisa beli tiket mendadak di tempat. Eksistensi calo tiket juga tak ditemukan. Biarpun begitu, saya masih melihat beberapa turis yang nekat ngantri dan berakhir malang, karena tak ada ruang tersisa. Bahkan ada satu keluarga yang ngotot pengen naik dengan tiket salah booking. Sang Nakhkoda tak bergeming, tak berniat melebihi muatan demi beberapa Euro karena berkaitan dengan asuransi dan keselamatan. Saya masih suka terpukau kalau urusan beginian, karena pernah naik kapal kelebihan muatan dari Tidung ke Angke dan sepanjang jalan berdoa sambil pegang life jacket.

Ketika akan menaiki kapal kami sudah diwarning dulu bahwa laut hari ini agak choppy, berombak. Tapi semua penumpang, termasuk seekor anjing, semangat luar biasa. 30 menit pertama berlangsung dengan menyenangkan. Lautnya berombak sedikit, pemandangan sangat indah.

Sayangnya saya tak bertemu anjing laut yang beberapa minggu lalu sempat diabadikan oleh mama saya. Dengan riang gembira, kami juga naik turun dek ke atas dan ke bawah untuk memotret.


Bagian atas penuh dengan turis latin Amerika yang nampaknya sedang belajar bahasa Inggris (Irlandia merupakan salah satu negara tujuan untuk belajar bahasa Inggris) sementara bagian belakang kapal dipenuhi oleh sekelompok anak muda yang sedang merayakan ulang tahun. Anak-anak muda yang sibuk minum ini juga tak segan mengeluarkan f bomb, padahal banyak keluarga dan anak kecil yang ikut perjalanan tersebut. Sungguh kurang nyaman.

Selepas 30 menit, perjalanan kami berubah menjadi mencemaskan. Dimulai dari siraman air laut ke kelompok anak-anak muda di belakang kapal. Dasar anak muda, disiram air malah seneng. Padahal air asin dan dingin itu lengket semua. Ombak kemudian mengombang-ambingkan kapal, perut mulai sedikit mual. Lalu, pemandangan horor pun terjadi. Bukan Nyi Roro Kidul yang memunculkan diri di laut Irlandia ya, tapi

petugas kapal memegang gulungan plastik dan mulai membagi-bagikan pada penumpang yang terlihat pucat pasi. Bagi saya ini pemandangan mengerikan karena tandanya akan ada kompetisi mengeluarkan isi perut.

Saya yang tadinya super pede, karena sudah mengalahkan ombak dari Ambon ke Banda (yang membuat hampir satu kapal mabuk laut), mulai ciut. Lalu ketika beberapa orang mulai mengosongkan perut, saya mulai pucat pasi. Semakin pucat ketika tahu tak ada antimo apalagi minyak angin. Tak ada abang-abang yang jual permen juga. Tak kehilangan akal, saya pun minta tobacco ke seorang pria yang sedang sibuk melinting rokok (disini buruh rokok mahal ya, jadi rokok mesti ngelinting sendiri). Ya lumayan lah buat diciumi jadi fokus kepala ke bau tembakau.

Pemandu yang berada dengan kami juga tak sibuk menerangkan apa-apa, mungkin ia mabuk laut juga. Baru di menit ke 70 atau 80 ia mulai menerangkan tentang Dun Laoghaire. Informasi yang diberikan sayangnya hanya sedikit, tak memuaskan. Kalaupun sang pemandu bicara banyak hal, mungkin juga tak ada yang peduli karena hampir semua orang sibuk menyelamatkan perutnya.

Ketika kapal bersandar, kami disambut dengan pemandangan Dun Laoghaire yang kelam seperti ini.


Mood yang sudah kelabu ini makin jelek ketika melihat cuaca yang tak bersahabat. Untungnya, hujan tak jadi turun. Dan sang Mama yang juga pernah naik kapal di beberapa lautan di Indonesia kapok, tak mau lagi naik kapal di laut Irlandia. Ketika saya menceritakan ini kepada mama mertua, mama mertua menceritakan pengalaman yang serupa. Lautan disana rupanya terkenal berombak dan bikin mual. Lesson learned, yang pengen sok romantis seperti saya, ada baiknya minum antimo dulu.

Bagaimana dengan kalian, pernah menaiki kapal dengan kondisi laut yang super memabukkan?
Xx,

Tjetje

Enggan Berobat ke Dokter

Di masyarakat kita ada anggapan yang beredar bahwa dokter-dokt ergampang memberikan antibiotik. Sakit apapun dihajar dengan antibiotik. Bahkan konon ketika tidak perlu, sehingga tubuh lebih kebal terhadap antibiotik.

Terus terang saya tak tahu apakah anggapan ini hanya rumor yang berimbas buruk pada reputasi kebanyakan dokter di Indonesia, atau disebabkan oleh keengganan kita ke dokter hingga harus menunggu infeksi dulu (dan perlu dihajar antibiotik), ataukah memang dokternya mendapatkan fee yang lebih besar jika menjual antibiotik sehingga rela melanggar janji dokter. Entahlah, yang jelas, pengalaman saya dengan dokter tak selalu buruk, ada kalanya saya bertemu dokter yang enak dan bisa diajak diskusi tapi ada kalanya juga saya pulang bawa obat satu plastik (yang jika dihitung baru akan habis setelah tiga bulan) dan tentunya bikin asuransi bocor. Bahkan pernah saya dirawat secara heboh macam alkoholik veteran dengan biaya menjulang tapi ternyata second opinion menunjukkan saya hanya sakit demam! Deman saudara-saudara!!!!

Keengganan kita ke dokter, menurut saya disebabkan banyak hal. Faktor ekonomi salah satunya. Dokter di banyak tempat identik dengan jasa yang mahal. Wajar saja karena sekolah mereka juga tak murah. Munculnya BPJS harusnya menumbuhkan kesadaran untuk berkunjung ke sistem kesehatan masyarakat seperti puskesmas, tapi yang saya baca, masyarakat ke dokter bukan untuk minta pengobatan tapi minta langsung dirujuk ke rumah sakit. Padahal dokter tak bisa sembarang merujuk.

Selain faktor ekonomi, ada faktor lain, yaitu kepercayaan akan “penyakit mitos”, contohnya angin duduk atau masuk angin. Dalam dunia kedokteran, masuk angin bukanlah sebuah penyakit. Nah karena semua hal dianggap masuk angin (pegel-pegel, perut kembung, pusing), otomatis intervensi dokter tak diperlukan. Cukup disembuhkan dengan tolak angin, kerokan (dikerik) atau dibalur penghangat seperti minyak kayu putih atau balsem serta dilawan dengan berbagai macam ramuan herbal. Biasanya, hal-hal tersebut manjur, sehingga menguatkan ketidakperluan ke dokter.

Penyakit-penyakit mitos ini semakin memperlemah kebutuhan mengunjungi dokter, karena anggapan penyakit tersebut bisa diselesaikan secara alternatif. Ya kalau sakit sekelas “masuk angin” saja memang bisa disembuhkan dengan istirahat. Tapi penyakit seperti kanker, HIV/AIDS mana bisa dikasih jampi-jampi lalu mendadak hilang dari tubuh?

Selain itu, saya perhatikan masyarakat kita juga masih banyak yang takut dengan prosedur kesehatan. Contohnya, sakit amandel yang pernah saya bahas di sebuah postingan. Jika ditilik, ada beberapa komentar yang menanyakan pengobatan alternatif untuk mengecilkan amandel sehingga tak perlu operasi. Aneka rupa ramuan pun dicoba dengan harapan amandel bisa mengecil, sehingga tak perlu dioperasi. Tentu saja tak akan berhasil dan jika tak berhasil (serta kondisi sudah parah), barulah kembali ke dokter. Jangan salah, saya juga seperti ini lho, enggan dioperasi karena kebanyakan lihat Grey’s Anatomy. Keengganan ini tentu saja dimanfaatkan sebagai peluang bisnis oleh tak lain tak bukan, para sales multi level marketing yang berdagang obat herbal. Sakit apapun, diklaim bisa disembuhkan dengan obat herbal. Bukannya saya anti obat herbal, tapi tak adil jika orang yang berjuang untuk hidup harus diberi harapan palsu dan “diperas” supaya sang pedagang MLM bisa naik jenjang ke tingkat  berlian atau bagian naik ke langit ke tujuh.

Kendati takut pada dokter dan prosedur kesehatan, masih banyak juga orang yang  tak takut pada sangkal putung, alias dukun tulang. Dukun tulang ini mengobati patah atau retak tulang tanpa sekolah kedokteran dengan melihat hasil rontgent daerah yang patah. Harganya pun “Lebih mahal” dari dokter, apalagi jika di kemudian hari tulang ini salah pengobatan dan harus dipatahkan lagi untuk diperbaiki. Nah lo!!!

Btw, baru-baru ini saya membaca orang yang menolak diobati dokter walau sudah didiagnosis sipilis. Lalu saya pun iseng menggoogle dampak negatif sipilis jika tak diobati, hasilnya mengerikan. Silahkan di Google sendiri.

Keengganan mengunjungi dokter, mendapat pengobatan yang tepat ini nampaknya banyak terjadi di masyarakat kita. Kesadaran asuransi kesehatan juga tak kalah rendahnya. Bahkan dengan BPJS yang cukup murah saja masih banyak  yang membayar iuran ketika sakit saja. Saat sehat tak mau bayar iuran.

Saya sendiri beruntung, bisa punya teman dekat dokter yang bisa dimintai pendapat kesehatan, masukan atau bahkan reset obat-obatan. Sang dokter bahkan bisa diajak berdiskusi tentang antibiotik tanpa merasa tersinggung dan mendadak defensif (pernah ketemu dokter yang model begini). Nah dokter seperti ini nih yang harusnya kita jadikan dokter keluarga. Sayangnya di Indonesia yang seperti ini jarang banget.

Bagaimana dengan kalian, suka ke dokter, dukun atau malah dokter Google?

xoxo,
Ailtje

Budaya Cium Tangan 

Konon Indonesia itu negara yang berbudi luhur. Salah satu wujud budi luhur ini tampak dari tradisi yang masih dijaga, yaitu penghormatan terhadap orang yang lebih tua dengan cara mencium tangan orang yang lebih tua. Budaya ini tak jelas darimana asalnya. Ada yang bilang dari Arab, tapi ada juga yang mengatakan dari Eropa.

Kendati darah saya darah Indonesia (baca: bercampur dari banyak suku), tradisi Jawa jauh lebih kental dalam kehidupan saya, karena saya memang dibesarkan di tanah Jawa. Otomatis, tradisi mencium tangan jadi tradisi yang melekat dalam keseharian saya. Walaupun saya yakin tradisi ini juga ada di banyak tempat di tanah lain.

Cium tangan yang saya tahu ketika tumbuh dan besar hanya cium tangan kepada orang tua ataupun kepada keluarga yang lebih tua dan bertalian darah, seperti Tante, Budhe, Oom, Pakde, dan para Eyang. Dengan sepupu yang lebih tua pun saya tak pernah mencium tangan, hanya sebatas cium pipi kanan dan kiri saja, jika mereka mau.

Saat saya masih kecil, cium tangan kepada tante dan oom ini menjadi ritual yang menyenangkan karena para tante dan oom sering menyelipkan uang di tangannya. Salam tempel namanya. Saat itu nilai uang dan elemen kejutannya bikin saya girang. Ya namanya anak-anak, belum tahu susahnya kerja, jadi ya girang aja ditempelin uang jajan yang nilainya cukup besar. Tradisi ini tentunya sudah tak berlaku lagi dan sudah berbalik, karena sayalah yang sekarang menjadi tante-tante dan tugas sayalah menempelkan uang, supaya mereka bisa menikmati keriaan masa kecil saya.

Di sisi lain keluarga saya, yang keturunan Arab, tradisi cium tangan juga ada. Tapi bedanya, kami hanya menunjukkan niatan untuk mencium tangan, lalu tangan akan ditarik oleh sang empunya tangan sebelum tercium. Perbedaan yang mencolok ini tentu saja mengejutkan dan membingungkan saya. Untuk apa repot-repot mencium tangan jika buntutnya ditarik juga? Mending salaman aja sekalian kan? Tapi sekarang saya sudah berdamai dengan kebingungan ini dan malah sering melakukannya.

Semakin kesini saya semakin melihat bahwa tradisi cium tangan ternyata tak hanya untuk keluarga saja tapi sudah merembet ke lingkup yang lebih luas termasuk kepada kolega, teman dan juga kenalan dari orang tua. Anak-anak yang dibawa ke kantor misalnya, akan disapa oleh rekan-rekan orang tuanya dengan sapaan “Namanya siapa? Ayo *salim* dulu.” Ketika anak-anaknya itu menolak, karena orang-orang ini adalah orang yang tak dikenal dan biasanya sangat agresif (apalagi kalau anaknya lucu), akan muncul anggapan bahwa anak tak terdidik secara baik. Nggak pintar. Sementara kalau si anak menurut dan mau mencium tangan, mereka langsung dipuji anak pintar.

Tak hanya itu, saya juga juga banyak mengamati pasangan yang masih berpacaran berciuman tangan seusai pacaran. Bukan di Irlandia ya, tapi di Indonesia. Pasangan-pasangan seperti ini bisa dengan mudahnya ditemukan berpacaran di pinggir lapangan atapun di depan mall-mall ketika shift bekerja dimulai. Duh baru pacaran aja udah pakai cium tangan segala.

IMG_0840

Nggak nampak di foto, tapi adik kecil itu lagi nyium tangan si boneka gede. Ditemukan tahun kemaren di Car Free Day.

Bicara tentang cium tangan, saya paling tak suka dengan mereka yang dengan semena-mena menyodorkan tangannya untuk minta dicium. Bagi saya, mencium tangan itu bagian dari menghormati, jadi biarkan saya yang menentukan, kamu pantas dihormati atau tidak. Kalau engga, tapi jangan harap saya mau repot-repot cium tangan.

Bagaimana dengan kalian? Suka cium tangan sembarang orang?

Xx,
Tjetje
Tiap pagi selama summer cium tangan nyokap. Yaaaay!

Game of Thrones dan Irlandia Utara

Jika Irlandia terkenal dengan romantisme dan keindahan à la P.S I Love you (Braveheart, Star Wars dan sederet film lainnya) Irlandia Utara lebih dikenal sebagai rumahnya Game of Thrones. Kendati tak menggemari Game of Thrones (karena banyaknya kekerasan di dalam seri ini) kami nekat mengikuti tur khusus Game of Thrones karena tak bisa menolak iming-iming mengunjungi sudut-sudut cantik di Irlandia Utara. Seperti dark hedges ini:

IMG_7934

Deretan pohon-pohon beech ini ditanam oleh keluarga Stuart pada abad ke 18. Pada saat itu, pohon-pohon ini ditujukan untuk memukai para tamu yang akan melewati pintu masuk mansion mereka yang bergaya Georgia. Mansion ini sendiri diberi nama Gracehill House yang sayangnya tidak kami kunjungi. Sudut yang pernah dipakai shooting ini menjadi tempat favorit para turis, akibatnya jalanan ini dipenuhi turis-turis yang selfie di tengah jalan, sementara kendaraan yang akan lewat harus merayap. Coba saja kalau tempat ini ada di Indonesia, dipastikan diujung-ujung jalan ada anak-anak muda membawa tempat sampah, meminta uang kontribusi serelanya. Sementara disini: GRATIS.

Kenekatan kami dan juga Aling (celeb twitter yang dipopulerkan oleh ceritaeka.com dengan hashtag #JodohUntukAling)  mengakibatkan kami tak nyambung dengan tempat-tempat yang kami kunjungi. Tapi ya bodo amat, yang penting lokasi-lokasi yang kami kunjungi cantik walaupun agak muram durja, karena cuaca yang kurang bagus. Saking muramnya, perhentian pertama tempat Ned Stark mengeksekusi entah siapa yang dieksekusi, terpaksa dilewati karena kabut yang terlalu tebal.

Tur seharian yang dipatok seharga lebih dari 50 Euro ini dipandu oleh salah satu pemain figuran Game of Thrones yang sedang libur shooting. Kendati libur shooting, ia tetap memanjangkan janggutnya, karena janggut ini adalah aset yang berharga. Menariknya, di salah satu tempat kami bertemu dengan pemain figuran lain yang juga berjanggut panjang. Saya menduga-duga, semua pria berjanggut di Irlandia Utara adalah figuran Game of Thrones.

IMG_7941 Andrew, guide kami menunjukkan scene dimana dia jadi pemain figuran

Selain dibawa mengunjungi dark hedges, kami juga dibawa mengunjungi rope bridge. Bagi orang yang takut ketinggian seperti saya, jembatan ini jadi satu tantangan tersendiri, apalagi cuaca yang tak jelas dan berangin, rasanya badan seperti akan tersapu angin. Ternyata jembatannya tak terlalu mengerikan, yang mengerikan justru turun dari tangga menuju jembatan tersebut.

Ada batasan maksimal 8 orang yang diperkenankan untuk menyeberang bersamaan, dan tentunya tak boleh ambil selfie di jembatan ini. Nekat selfie bisa kena semprit petugas, tapi sayangnya petugas hanya nyemprit aja. Akibatnya banyak orang yang masih tetap ambil selfie dan menghambat puluhan orang lain yang akan menyeberang. Btw, di bawah jembatan ini juga dikenal sebagai kuburan kamera dan hp. Banyak orang yang kameranya jatuh dan tak terselamatkan lagi.

Belfast -1

Karena ikut tur, waktu kami untuk keliling tak begitu banyak. Jalan pun harus cepat-cepat dan tentunya tak bisa mengambil 1000 selfie #BuatApaCoba.  Saat keluar dari area ini, dua orang dari rombongan kami, termasuk satu orang Indonesia terpaksa ditinggal ke pub lokal untuk makan siang, karena mereka terlambat muncul kembali. Mereka tentu saja dijemput kembali.

Belfast -4

Makan siang tak termasuk dalam harga tur, masih harus rogoh kocek sekitar 8 – 10 pounds untuk pub food. Pub food itu makanan-makanan seperti fish and chips, guinness stew atau chicken goujon. Harga yang ditawarkan sendiri harga normal, tak ada pemalakan seperti di Indonesia. Seusai makan siang, kami dibawa kembali ke area rope bridge, tapi ke sisi yang berlawanan. Rupanya, ada tiga titik yang digunakan untuk shooting GoT. Salah satunya Larrybane yang menjadi lokasi camp King Renly Baratheon’s camp. Lokasi ini sendiri sekarang menjadi lapangan parkir kendaraan-kendaraan turis yang ke rope bridge.

Belfast -3

Dari sini, kami dibawa ke Ballintoy Harbour. Serunya, kami semua diperkenankan untuk menggunakan kostum-kostum sambil terus dijelaskan cerita-cerita dibalik pembuatan GoT dan dipertontonkan cuplikan-cuplikan GoT yang diambil di tempat tersebut. Sayangnya tak semua orang kebagian kostum, apalagi mereka-mereka yang bertubuh besar.

Kendati tempat ini sudah terkenal sebagai tempat shooting GoT, bahkan oleh pemerintah lokal diberi banyak papan-papan yang menjelaskan adegan yang diambil, jalan-jalan di wilayah ini dengan kostum tetap membuat kami jadi bahan tontonan. #KibasRambutBerasaArtis

Nah kalau ini lokasi tempat pembabtisan Theon. Cakep ya?

Belfast

Selain mengunjungi tempat di atas, kami juga diajak menuju Dunluce castle. Sayangnya kami hanya dibawa melihat dari jauh sambil dijelaskan bagaiaman CGI merubah Dunluce Castle. Bonus tambahan di tour ini adalah jalan-jalan ke Giant Causeway, yang di dalam bahasa Irish dikenal sebagai Clochán an Aifir or Clochán na bhFomhórach. Aduh jangan tanya bagaimana melafalkan kata tersebut. Giant Causeway sendiri merupakan area dengan 40 ribu basalt columns. Bebatuan dengan bentuk hexagon yang terbentuk dari proses pendinginan lava basaltik.

Dengan kondisi yang dingin, berangin serta gerimis, area ini jadi sangat licin. Beberapa petugas berjaga untuk mengamankan orang-orang yang nekat naik ke bagian atas. Seperti biasa, peluit jadi modal untuk mengingatkan mereka. Tapi tak selamanya sistem ini berhasil, banyak juga yang masih nekat naik-naik ke atas.

Saya kemudian ngobrol dengan petugas, menanyakan berapa orang yang jatuh dan mati di Giant Causeway. Tak ada angka yang disebutkan petugas. Tapi yang jelas, banyak kejadian jatuh terpleset atau tersapu ombak karena KEBODOHAN. Obsesi selfie nampaknya menjadi salah satu alasan mereka mengalami kecelakaan. Kalau sudah begitu, pencarian harus dilakukan dengan mengerahkan helikopter serta kapal. Menariknya, menurut sang petugas fotografer atau penghobi foto menjadi salah satu kelompok yang paling susah diberitahu dan paling nekat.

Di akhir perjalanan, saya naik bis kembali ke tempat parkir, disini bis dipatok dengan harga 1 pounds. Untuk yang tak mau naik bis bisa jalan mendaki.

Selamat berakhir pekan kawan-kawan. Apa rencana kalian akhir pekan ini?

Tukang Nyusuh

Pernah dengar tentang hoarder? Terus terang saya belum menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia, yang saya tahu dalam bahasa Jawa kebiasaan ini dinamakan nyusuh. Jadi menyusuh ini berarti menimbun barang-barang yang sudah tak diperlukan lagi karena merasa di masa yang akan datang barang-barang tersebut akan diperlukan. Selain karena merasa masih diperlukan, ada perasaan cemas sehingga tak bisa membuang barang yang sebenarnya sudah bisa dimasukkan kategori sampah atau tak penting lagi. Selain barang tak berharga, menyusuh juga menyimpan barang-barang yang dianggap sentimental, contohnya tiket nonton ke bioskop, tiket kereta.

Kebiasaan nyusuh ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang sudah tua, walaupun ada juga anak-anak yang muda yang hobi melakukan hal tersebut. Yang ditimbun apa aja? Pada prinsipnya segala macam hal yang bisa ditimbun ya harus ditimbun, karena ada keengganan untuk membuang. Yang saya tahu, orang-orang ini sering menimbun kertas, termasuk koran, tagihan dan bukti pembayaran dari jaman baheula (mungkin takut jika masih diperlukan), hingga peralatan mandi macam sampo yang sudah tinggal seiprit. Botol-botol shampo ini tak boleh dibuang karena masih ada sisanya, padahal produk-produk kecantikan tersebut punya masa kadarluarsa. Kantong-kantong belanjaan, label-label pakaian (label yang kertas ya), dan barang-barang gratisan juga sering ditimbun mereka.

Hoarding sendiri gak sama dengan koleksi. Jika koleksi disimpan secara rapi dan tertata bahkan dibeli dengan harga mahal (dan dipamerkan sebagai sebuah kebanggaan), barang-barang susuhan ini disimpan sekenanya saja. Karena tak tertatanya dan karena banyaknya barang ­­yang disimpan, sang empunya biasanya seringkali tak punya ruang penyimpanan lagi. Pada level yang belum parah, biasanya satu kamar akan dijadikan “korban” dan berada dalam kondisi berantakan, tapi pada kondisi yang sudah parah bisa-bisa satu rumah pun dihabiskan untuk menimbun harta karun. Seringkali kondisi ini menciptakan ruang gerak yang terbatas dan biasanya, sang pelaku sangat keras kepala hingga susah diingatkan. Pun kadang mereka tak tahu bahwa yang mereka lakukan ini salah dan tak sehat. Malah kadang kalau diingatkan yang begini suka ngamuk-ngamuk tak jelas, orang lain yang disalahkan. Kalau nekat membuang tanpa memberi tahu, bisa pecah perang dunia ketiga deh.

Salah satu keluarga jauh kami memiliki kebiasaan ini dan kebiasaannya masuk dalam kondisi parah. Rumahnya penuh dengan barang-barang, kamar mandinya juga dipenuhi dengan puluhan botol-botol shampo. Jika sedang membahas tentang si Tante ini, kami seringkali bertanya apa yang menyebabkan ia begitu tekun  menyimpan barang tak berguna dan kesusahan untuk letting go things. Di Indonesia saya juga mengetahui beberapa orang terdekat yang melakukan hal serupa.

source: bu.edu

Kami yang bukan ahli kejiwaan ini kemudian menarik benang merah bahwa orang-orang yang menimbun barang ini biasanya kehilangan anggota keluarganya sehingga mencari penghiburan dari barang-barang yang mereka timbun. Suatu hari ketika mereka memerlukan sesuatu, mereka akan ada pada posisi dimana mereka memiliki. Tapi ya itu kan teori abalabal dari obrolan pria Irlandia dan perempuan Indonesia yang lagi bosen ngebahas Brexit.

Rupanya, kebiasaan hoarding ini merupakan sebuah gangguan yang juga bisa menjadi gejala dari dari gangguan lainnya. Rupanya, menyusuh ini identik dengan obsessive-compulsive personality disorder (OCPD), obsessive-compulsive disorder (OCD), attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), dan tentunya depresi. Soal yang terakhir ini, di Indonesia saya jarang banget dengar. Sementara disini, banyak sekali orang-orang yang mengalami depresi.

Nah kalau sudah gini, saya hanya mengingatkan saja, jika punya teman atau anggota keluarga yang melakukan hal serupa, tolong dibantu supaya tak kebablasan. Paling utama tentunya ajak ngobrol dulu, kasih materi bacaan tentang hoarding, lalu jika orangnya sudah siap, bantu bersih-bersih juga. Jangan dipermalukan juga, karena kondisi ini akan semakin menekan mereka. Lalu, kalau sudah siap, bantu bersih-bersih.

Pernah melihat tukang nyusuh?

xx,
Tjetje

 

Drama PRT Seputar Lebaran

Mumpung suasana masih lebaran, saya mengucapkan selamat Idulfitri ya. Mohon maaf lahir dan batin. Btw, saya baru tahu bahwa Idulfitri itu nulisnya ternyata disambung, bukan dipisahkan. Jika lebaran-lebaran tahun sebelumnya saya “merana” karena Jakarta kosong tanpa penjual makanan, lebaran tahun ini saya berada jauh dari nusantara dan tentunya tak ada abang-abang penjaja makanan. Kenapa sih harus abang-abang dan jarang ibu-ibu.

Seperti biasa, menjelang lebarang selalu banyak perempuan-perempuan yang hatinya lara karena ditinggal pekerja rumah tangga. Herannya yang bingung cuma perempuan-perempuan saja, sementara para pria cenderung tak bingung karena pria-pria tak terlalu terkena imbas pulangnya para pekerja rumah tangga. Seperti kita tahu, di negeri kita yang sangat patriarkis, pria-pria jarang sekali ada yang mau beberes atau masak.

Hidup tanpa pekerja rumah tangga itu memungkinkan banget kok, memang sedikit lelah, tapi tetap bisa dijalani. Tinggal berbagi tugas saja. Siapa memasak, siapa membersihkan rumah. Cuci piring pun bisa dilakukan dengan cepat sehabis makan. Kuncinya, harus disiplin, tak boleh menunda. Urusan cuci baju jaman sekarang juga cenderung mudah, tinggal dilemparkan ke mesin cuci dan dijemur sebentar di bawah matahari. Bersyukur lho di Indonesia itu matahari berlimpah, jemur sebentar sudah kering. Sementara disini, matahari jarang muncul dan cucian sering berakhir dijemur di dapur. [lalu ada yang komentar nyinyir gak punya dryer ya]. Urusan setrika memang sedikit tak menyenangkan, karena hawa Indonesi yang cenderung panas. Tapi bisa diakali dengan pasang AC, kipas angin, atau setrika di depan televisi biar mata sibuk nonton TV dan lupa panas. Soal masak-memasak, juga bisa dilakukan dengan mudah, selama menu-menu yang dimasak sederhana dan mudah. Jangan mempersulit diri dengan masakan yang terlalu ribet.

Drama lebaran juga berkisar di urusan perogohan kocek untuk membayar infal. Banyak sekali ibu-ibu yang mengeluhkan mahalnya harga infal (pekerja rumah tangga pengganti). Yang saya bingung, infal dengan harga mahal pun teryata masih mampu dibayar oleh sebagian besar kaum menengah ke atas. Terpaksa rupanya, tapi masih mampu. Tak hanya itu banyak juga yang mengeluh betapa lamanya si Mbak pulang kampung. Padahal mereka ini hanya pulang kampung selama 2 hingga 3 minggu saja. Sementara akhir pekan mereka yang dirampas tanpa diberikan kompensasi itu ada 52 hari lho. Nah coba tuh kalau ada persatuan pekerja rumah tangga di Indonesia yang memperjuangkan hak mereka, bisa-bisa mereka minta jatah libur dua bulan.

Drama edisi lebaran tak hanya berhenti disana. Ada banyak ibu-ibu rumah tangga yang patah hati karena mbak-mbak yang sudah mereka latih sesuai standar masing-masing rumah tangga memutuskan untuk pulang kampung selamanya. Kalimat “Ibu, saya gak kembali, karena saya mau kawin setelah Lebaran” atau “Saya mau kembali ke kampung, mau jagain Bapak Ibu saya yang sudah tua” jadi seperti sambaran petir di siang hari. Kepala langsung cenut-cenut memikirkan setelah lebaran harus berhadapan dengan perburuan terbesar di Indonesia. Berburu pekerja rumah tangga dengan harga semurah-murahnya.

Tak hanya itu, ada juga drama si Mbak yang berjanji akan kembali bekerja tapi saat lebaran, sms manis mohon maaf lahir dan batin pun dilayangkan dengan embel-embel, maaf saya tak kembali karena saya dapat pekerjaan yang lebih baik di tempat lain dan gajinya lebih besar. Dhuaaar…..tangan dan kaki langsung lemes dengarnya.

Dalam kondisi seperti ini, sang pemberi kerja harus mampu mengeluarkan ilmu negosiasi terbaiknya dan tentunya harus mau memberikan kenaikan gaji. Pemberi kerja mesti paham kondisi setelah lebaran memang diwarnai dengan tingginya permintaan pekerja rumah tangga sangat tinggi, banyak orang yang memang mau memberikan gaji sedikit lebih tinggi. Beberapa dari mereka juga banyak yang memutuskan meninggalkan nusantara saja untuk mencari ringgit, dirham, atau real.

Microsoft Word - Filme der domesticWorkers1.doc

Ilustration: kenyaemploymentlawdotcom.wordpress.com

Menaikkan gaji itu sebenarnya kan menyesuaikan dengan kenaikan inflasi. Masak gaji kita naik setiap tahun karena penyesuaian inflasi, gaji mereka harus tetap bertahan di angka yang sama. Jadi jangan enggan memberikan kenaikan gaji, apalagi jika pekerja tersebut sudah terlatih. Daripada pada cari pekerja yang baru, lalu harus berurusan dengan kepusingan lain, melatih mereka. [lalu ada yang ngomel-ngomel, duite mbahmu]

Tahun depan, saat si Mbak akan pulang, jangan lupa dibisikin: “Mbak, abis lebaran balik ke rumah saja ya. Nanti saya beri gaji sesuai UMR, cuti 12 hari setahun, jam kerja yang jelas, saya bayari BPJS, serta libur setiap akhir pekan.” Dengan janji manis seperti itu, saya yakin sebagian besar dari mereka akan kembali, asal janjinya ditepati.

Apa drama PRT kalian di lebaran tahun ini?

xx,
Tjetje
Tak punya PRT, karena tak mau dan tak sanggup bayar.