Kontroversi Hubungan Beda Usia

Perkawinan yang usia pelaku perkawinannya berbeda jauh, baik dilakukan orang asing maupun dilakukan orang Indonesia, selalu kontroversial dan mengundang tatapan penuh tanda tanya. Beberapa waktu lalu, saya turun dari sebuah tangga berjalan di Plaza Senayan, di depan saya ada pasangan beda usia, dua-duanya orang Indonesia. Dari bahasa tubuhnya mereka terlihat sebagai pasangan dan bukan ayah dan anak. Seperti diduga, mereka mengundang tatapan mata yang sadis dan cibiran. Saya yang berdiri empat langkah di belakang mereka saja bisa merasakan panasnya tatapan orang lain yang penuh cibiran. Sadis.

Mereka bukan satu-satunya pasangan yang mendapatkan tatapan panas. Coba google Sheldon Archer dan Yuyun. Sheldon Archer berusia 72 tahun ketika mengawini perempuan Probolinggo yang 49 tahun dibawahnya. Beberapa tahun lalu, berita perkawinan mereka menghebohkan jagat maya, bukan hanya karena perbedaan usia yang mirip kakek dan cucu, tapi juga karena si Sheldon ngomong kawin sama orang Indonesia itu gampang, tinggal mumbled a few words he didn’t understand.

Dua contoh yang jauh berbeda di atas memberikan gambaran bahwa pasangan dengan usia yang jaraknya jauh seringkali dianggap salah, tabu dan menyalahi norma. Masyarakat kita suka melabeli perempuan pencinta pria matang sebagai pencari status sosial (a.k.a social climber), materialistis, murahan dan pada beberapa kasus, perusak rumah tangga. Label ini bisa jadi dikarenakan anggapan bahwa pria matang biasanya sudah menikah (kemudian bercerai), memiliki kestabilan ekonomi,  cicilan rumah sudah lunas, mobil beberapa buah dan anak-anak yang sudah mapan. Label ini juga tak sepenuhnya salah karena ada perempuan-perempuan yang mengawini pria karena alasan ekonomi. Sadly, sebagian perempuan memang diajarkan untuk mencari pria yang lebih, lebih pintar, pekerjaannya lebih baik, penghasilannya lebih banyak supaya bisa diandalkan. Tak semua perempuan diajarkan untuk berdiri sendiri dan membangun kestabilannya.

Generation-03-27-11-400x396

Gambaran Pattaya dengan kakek-kakek yang dikerubungi gadis-gadis usia belia berkontribusi banyak pada image perempuan muda dan pria matang. Konon, di dalam dunia perdagangan jasa kasih sayang, perempuan-perempuan muda memang lebih menyukai pria matang. Duitnya lebih banyak, tidak banyak minta posisi ini itu dan lebih cepat selesai. Sementara bukan rahasia lagi bahwa ada pria-pria berusia matang yang memang berfantasi memiliki hubungan dengan perempuan yang sangat muda.

Tak heran kalau kemudian pria-pria yang berhubungan dengan perempuan yang lebih muda mendapat aneka rupa label seperti kegatelan dan tak bisa menahan napsu. Seringkali mereka dianggap tak sadar usia (apalagi jika usia pasangan barunya lebih muda ketimbang anak kandungnya) dan patriarki. Label yang paling akhir ini biasanya terjadi dalam perkawinan campur antara orang asing dan orang Asia. Ada anggapan bahwa mereka, orang-orang asing, menyukai perempuan Asia (apalagi yang lebih muda) karena lebih bisa diatur dan lebih menurut. Lalu muncul generalisasi bahwa parempuan yang kawin dengan pria asing biasanya mengawini pria yang usianya jauh lebih tua (kecuali saya yang sering diduga memiliki pasangan berondong). Label-label di atas tak sepenuhnya benar, tapi juga tak sepenuhnya salah, tergantung konteks dan latar belakangnya masing-masing.

Ada berbagai kekhawatiran yang membuat masyarakat kita melihat hubungan beda usia ini tabu. Beda usia, beda generasi diartikan berbeda selera. Yang satu suka Justin Bieber, sementara yang satu lebih suka Connie Francis. Yang satu menyukai golf, sementara yang satu menyukai olahraga ektrim yang bisa bikin alat pemacu jantung rusak seketika. Sebenarnya, pasangan dengan usia yang dekat pun pasti punya selera yang berbeda juga, punya perbedaan yang harus dikompromikan.

Pasangan beda usia juga rentan dicibir urusan anak. Dikasihani karena anaknya tak bisa lulus kuliah didampingi bapaknya, nggak bakal bisa kawin didampingi bapaknya karena bapaknya sudah berumur (dan diprediksi saat momen-momen itu, bapaknya sudah nggak ada). Saya bukan ahli psikologi, tapi dalam pikiran sederhana saya, anak hanya akan melihat cinta dan kasih saya dari orangtuanya. Bapaknya mungkin tak akan ada dalam masa tertentu, tapi bukan berarti kita semua tak rentan dengan hal serupa. Orangtua kita, bisa berpulang kapan saja dalam usia muda ataupun tua.

Masyarakat kita memang tak terbiasa dengan perkawinan dengan jarak usia yang terlampau jauh. Makanya pasangan beda usia selalu mendapatkan tatapan penuh tanda tanya. Keingintahuan untuk mencari tahu cerita dibalik hubungan itu yang dibarengi oleh penghakiman. Tapi yang saya heran, bukankah masyarakat kita selalu mengajarkan perempuan untuk mencari pria yang lebih tua karena pria yang lebih muda dianggap tingkat kedewasaannya belum terbentuk sempurna? Oh mungkin ketika mengajari lupa bilang: tapi jangan tua-tua banget, nanti Bapakmu bingung manggilnya apa!

Xx,
Tjetje
Sering dituduh punya pasangan lebih muda

Menengok Surga Tercecer di Banda Neira

Sang empunya blog baru-baru ini diajak trip fabulous à la Syahrince, naik kapal pesiar kecil ke pulau Banda Neira di Tenggara kota Ambon. Haiyah, heboh bener naik kapal ecek-ecek, belum juga nyewa Silolona. Pulau kecil ini bisa dicapai setelah menempuh perjalanan melalui laut selama lima jam dengan kapal pesiar kecil atau delapan jam  dengan kapal feri; kapal feri konon hanya ada  pada hari-hari tertentu saja.

https://instagram.com/p/2McgaswxsI/

Perjalanan dari Ambon diwarnai dengan pemandangan buruk. Sampah plastik bertebaran dimana-mana. Dari mulai bungkus makanan ringan, gelas, botol, hingga mainan plastik mengapung di laut. Sekitar satu jam setelah melihat hamparan sampah tersebut, rombongan kami bertemu dengan  segerombolan lumba-lumba. Pertemuan saya dengan kawanan lumba-lumba dan juga sampah plastik itu membuat saya semakin semangat untuk mengurangi sampah plastik, supaya lumba-lumba dan teman-temannya tak perlu tersangkut, atau bahkan memakan plastik.

Pulau Banda Neira berhadapan langsung dengan Pulau Naira yang memiliki gunung berapi. Gunung ini masih aktif dan salah satu sisinya menghitam karena aliran lahar. Saking kecilnya, mengelilingi dan mengunjungi obyek wisata sejarahnya dengan berjalan kaki sangat dimungkinkan. Saya memaksakan diri untuk bangun pagi dan berjalan berkeliling menikmati bangunan-bangunan tua bangunan Belanda serta menengok obyek wisata sejarah. Ada banyak tempat wisata sejarah di Banda Neira, dari mulai Benteng Belgica yang bagian tengahnya berfungsi untuk menggantung manusia dan memiliki kursi-kursi untukmenonton proses penggantungan hingga rumah pengasingan bung Hatta. Pulau ini juga menyimpan bangunan mewah, istana mini tempat Gubernur VOC berdiam, gereja tua dengan lonceng kunonya dan makam di lantai gereja serta lapangan tempat penjagalan  manusia dipotong menjadi empat.

https://instagram.com/p/2M9ynUwxr7/

Satu hal yang membuat hati saya tersayat saat mengunjungi Istana Mini adalah curahan hati yang diukirkan di kaca oleh seorang Perancis. Curahan ini berisikan kerinduannya untuk bersama dengan keluarga yang dia cintai, la famille que j’aime. Orang Perancis tersebut bunuh diri.

Buah pala dan aneka rupa olahannya, sirup ataupun manisan, bisa ditemukan dengan mudah di berbagai warung kecil di Banda. Banda tak hanya kaya dengan pala, tetapi juga kaya dengan aneka rupa biota laut. Saya yang menyempatkan diri menengok bawah lautnya begitu terpukau melihat gugusan karang yang indah dengan aneka rupa ikan yang cantik. Kali ini saya menyesal karena tidak pernah belajar menyelam, apalagi belajar tentang aneka rupa ikan cantik. Eh tapi, kalau gak masuk ke dalam air pun kita bisa dengan mudahnya melihat ikan-ikan di bawah air. Selain dilihat, ikan-ikan dari laut Banda juga enak untuk dimakan. Konon, kekayaan laut Banda memang luar biasa. Tak heran banyak kapal-kapal asing yang mencuri ikan di wilayah ini.

Kali ini, interaksi saya dengan penduduk lokal, apalagi pengamatan perilaku serta keseharian mereka sangatlah terbatas. Harap dimaklumi, kali ini saya benar-benar berlibur cantik, duduk manis di depan ‘rumah SBY’ (rumah yang konon disiapkan untuk Pak SBY untuk Sail Banda, tapi beliau tak jadi datang) sambil menikmati pisang yang bertaburkan kenari. Menjauh sejenak dari bisingnya teknologi, karena sinyal di Banda sungguh minim. Mereka yang hidup di Banda Neira begitu beruntung, hidup tanpa kekangan teknologi, deadline, apalagi kemacetan.

https://instagram.com/p/2Qy8pLQxqo/?taken-by=binibule

Banyak orang menyebut Pulau Banda Neira sebagai kepingan surga yang tercecer, kecantikannya dan warna-warni biota lautnya memang sangat indah. Pulau ini sudah beberapa kali didaftarkan menjadi warisan dunia, tapi hingga sekarang masih belum masuk dalam daftar warisan dunia. Ah kalau boleh memilih, saya tak mau memasukkannya ke dalam warisan dunia, supaya pulau itu tetap tenang dan sunyi.

Jadi, kemanakah kalian akhir pekan ini?

xx,
Tjetje

Pentingnya Perjanjian Perkawinan

Perempuan Indonesia yang akan kawin dengan orang asing, sebaiknya membuat perjanjian perkawinan (sering juga disebut sebagai perjanjian pranikah atau prenuptial agreement) untuk memisahkan harta. Tujuan dari pemisahan harta ini supaya pihak perempuan tidak ‘kehilangan haknya’ untuk membeli properti dan atau ‘tidak kehilangan hak waris propertinya’.

Logika sederhananya begini: menurut UU perkawinan no. 1 tahun 1974 harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Jika membeli properti setelah kawin dengan status hak milik, maka properti tersebut akan dianggap sebagai milik kedua belah pihak. Padahal, orang asing tidak boleh memiliki properti dengan status hak milik. Mereka hanya bisa boleh menggunakan status hak pakai, hak sewa. Makanya, diperlukan adanya perjanjian perkawinan yang memisahkan harta kedua belah pihak.

Perjanjian perkawinan ini bisa dibuat di Notaris dan kedua belah pihak harus sama-sama menghadap. Nah, bagi yang mau kawin, silahkan diperhitungkan dengan baik rencananya, karena harus punya waktu untuk menghadap ke Notaris. Isi perjanjian ini sendiri tergantung kedua belah pihak, biasanya Notaris sudah memiliki bentuk dan contohnya. Perjanjian perkawinan ini nantinya harus dicatatkann ke Kantor Urusan Agama/ KUA (bagi Muslim) ataupun ke catatan sipil (bagi non-Muslim). Perlu dicatat bahwa perjanjian perkawinan harus dibuat sebelum perkawinan dan tidak dapat dibuat setelah perkawinan. Perlu dicatat, biro hukum ini menawarkan perjanjian paska pernikahan, entah bagaimana statusnya dimata hukum.

Harga perjanjian perkawinan beraneka rupa, dari jutaan rupiah hingga puluhan juta, tergantung dimana membuatnya. Saya misalnya, membuat di Malang, teman kuliah mama, harganya otomatis tak mahal. Sementara, seorang kenalan membuat di sebuah biro hukum dan harus merogoh belasan juta rupiah.

Bagaimana jika setelah perkawinan membeli properti dan tidak punya perjanjian perkawinan? Mengutip pada pasal 21 UU no. 5 tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria, orang asing yang memiliki harta dari perkawinan campur wajib melepaskan dalam waktu satu tahun. Sederhananya: boleh beli, tapi setelah satu tahun properti harus dijual dalam waktu satu tahun, kalau gak akan diambil negara.

UU pertanahan

Alternatif untuk memiliki properti

Orang asing dan pelaku kawin campur mencoba ‘mengakali peraturan’ pertanahan dan properti dengan perjanjian nominee, bahasa awamnya pinjam nama, baik nama orang maupun nama badan. Contohnya ya, Mr. John orang Australia membeli sepetak tanah dengan meminjam nama Pak Joni orang Bali. Mr. John bayar semua biaya yang muncul dari jual beli tersebut, termasuk membayar tanahnya dan memberikan upah kepada Pak Joni yang telah meminjaman dokumen serta identitasnya. Kemudian, Mr. John dan Pak Joni membuat perjanjian nominee dimana Mr. John diberi hak untuk mengelola, membayar pajak bahkan menjual tanah tersebut. Perjanjian bawah tangan untuk ngakalin hukum, tapi hal seperti ini dianggap tidak sah.

Banyak juga yang meminjam nama orang tua. Ini tak kalah repot karena harus melibatkan semua saudara sekandung. Mereka harus tahu, jika tidak tahu dan orang tua meninggal, bisa berabe rebutan harta yang dianggap sebagai harta warisan.

UU pertanahan kita memang diskriminatif, karena terdapat pembedaan antara warga negara yang kawin dengan orang Indonesia dengan yang kawin dengan orang asing. Sudah seharusnya UU ini dirubah untuk memberikan hak yang sama tanpa pembedaan. Kalaupun kemudian ada ketakutan tanah akan jatuh ke tangan pasangan asing, tentunya hal ini bisa diregulasi dengan baik.

Jadi, bagi yang punya pasangan orang asing, sebelum kawin cepet-cepet bikin perjanjian perkawinan. Jangan malu atau melihat perjanjian ini sebagai hal yang tabu. Sementara mereka yang sudah terlanjur kawin dan tak punya perjanjian, tak bisa beli properti dengan status hak milik, jadi kalau beli properti pakai hak yang lain saja, biar aman.

Kawin sama orang asing sekali lagi berisiko kehilangan hak membeli properti. Oleh karena itu, kalau ada kenalan yang sedang berpacaran dengan orang asing, selalu ingatkan tentang perjanjian perkawinan ini.

Salam,
Tjetje

Kelaparanpun Melanda Koloni Lebah

Hari itu matahari bersinar cerah dan langit biru menghiasi awan di bagian Barat Lombok. Hamparan sawah menguning seakan menyambut ketika saya memasuki desa Tepos di kaki Gunung Sasak. Petani, baik yang perempuan maupun yang pria, sibuk memanen hasil tanamnya; sementara sebagian kecil dari mereka membakar batang-batang padi . Di sisi lain dari hamparan sawah cantik itu, seorang pria melemparkan ikatan bibit-bibit padi dari belakang mobil pick-upnya. Pemandangan hari itu sungguh elok, membuat senyum tersungging dari bibir.

Begitu saya duduk dan mengobrol dengan komunitas petani di sana, saya jadi tahu bahwa gunung Sasak tak seindah yang saya deskripsikan; daerah ini ternyata menyimpan segudang masalah, dari air hingga kesuburan tanah. Penggundulan hutan, walaupun hanya hutan kecil, menyisakan dua dari enam mata air. Erosi, kekeringan dan tanah longsor mengancam mereka kapan saja. Sementara, kualitas tanaman garapan mereka juga menurun. Yang menyedihkan, beberapa ton bantuan kompos tak dijamah karena mereka lebih menyukai menggunakan urea. Jika menanam dengan urea, dalam seminggu saja tanaman akan tumbuh. Walah petani pun nampaknya lebih menyukai yang instant.

Lebih sedih lagi ketika tahu bahwa para petani yang juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai apiarist, tak bisa meningkatkan skala produksi madunya. Rumah lebah yang berjajar di depan kediaman mereka hanya menghasilkan sekitar 700 ml madu per tahunnya, padahal potensi rumah lebah itu 1.5 liter per tahun. Masalahnya sederhana: tak ada makanan untuk lebah. Hutannya gundul, lebahnya ‘kelaparan’.

Berbicara tentang madu tak bisa lepas dari fakta bahwa kita, manusia ‘mencuri’ madu, persediaan makanan para lebah. Para lebah ini sudah pakannya menipis, masih pula dirampok. Cara pengambilannya pun cukup kejam, sarang mereka diperas. Padahal, di sarang ini banyak larva yang merupakan generasi masa depan para lebah. Larvanya mati dan sarah lebah pun rusak. Butuh setidaknya tiga bulan bagi para lebah untuk bisa membangun rumah lagi (lalu dirampok lagi). Btw, di Malang ada juga kekejaman lain terhadap sarang lebah tawon; di sana sarang tawon  lengkap dengan larva-larvanya djadikan botok *bukan untuk mengencangkan kulit, tapi untuk mengencangkan perut*.

Bee Flow

Bee flow hive; metode baru memanen madu. Photo courtesy of honeyflow.com

Dari Sasak, saya bergeser ke Bantul, menemui apiarist juga. Kali ini sang apiarist punya teknik yang lebih bagus untuk mencuri memanen madu. Para lebah diasapi, kemudian sarangnya dimasukkan ke dalam alat yang akan melepas madu, tanpa merusak sarang lebah. Biarpun tekniknya bagus, si Bapak apiarist juga tetap ditinggal minggat lebahnya. Lagi-lagi, ketiadaan pakan menjadi sumber masalah. Saking berdedikasi pada alam dan lebah, si Bapak membeli ribuan bibit pohon kaliandra untuk ditanam demi memakani lebah; pohon ini rupanya berbunga terus menerus dan hanya istirahat selama 1,5 bulan.

Dari si Bapak, saya belajar bahwa apiarist itu harus halus hatinya. Lebah-lebah itu rupanya tidak bisa dikasari.  Jika dikasari mereka akan menyengat. Si Bapak juga berbaik hati membukakan kotaknya supaya saya bisa melihat koloni-koloni lebah itu. Madu Bantul ini memang larva-friendly, tapi sayang harganya tidak bisa tinggi. Satu botol sirup dijual dengan harga 80 ribu saja,  sementara di Lombok 200 ribu. Perbedaan harga ini karena Lombok terkenal dengan madu, sementara Bantul lebih terkenal dengan gaplek geplak & kekeringan.

image

Dari perjalanan itu saya mempelajari banyak hal tentang madu, lebah serta dampak ekonomi yang dibawanya. Kesimpulannya, kita, manusia, berhutang dan bergantung banyak pada lebah. Menurut saya, jika lebah punah, maka kita akan terkena dampak kelaparan. Jadi, yang punya  lahan kosong, mari membayar hutang pada lebah dengan menanami pohon yang berbunga atau bunga-bungaMari memastikan bahwa lebah-lebah dan juga kita sama-sama tidak kelaparan.

Gimana, mau menanam bunga-bunga? *diucapkan dengan gaya Syahrini*
xx,
Tjetje

Sindiran Untuk Generasi Masa Kini

Beberapa waktu lalu, satu seri gambar-gambar dengan hashtag #thisgeneration buatan Ajit Johnson berkeliaran di sosial media. Si Ajit Johnson ini gak cuma bikin sindiran-sindiran tentang #ThisGeneration, tapi juga bikin poster-poster tentang #ChangeTheWorld. Silahkan di klik nama dia di atas kalau pengen liaht karya-karya dia di Facebook. Anyway, ada beberapa gambar dari seri #ThisGeneration yang harusnya menampar kita semua, yang merupakan bagian dari generasi masa kini:

 thisgeneration-toilet-selfie

Selfie di kamar mandi dan juga selfie stick. Selfie ini menurut saya sudah sangat kebablasan. Kemaren waktu saya melewati tebing-tebing kering di sebuah desa di Imogiri saya juga melihat banyak anak muda yang nekat selfie di pinggir tebing. Nampaknya mereka tak tahu bahwa selfie itu sangat berbahaya jika terlalu bersemangat. Sangking bahayanya, di Eropa sana ada orang tua yang jatuh dari pinggir tebing di depan anak-anaknya.  Kalau soal tongsis, syukurlah di banyak tempat (bahkan di konser) sudah banyak dilarang. Setelah liburan dengan tongsis, saya jadi sadar kalau tongsis ini bikin selfie terus, bikin memori telpon penuh dan pada akhirnya bikin muak berat dengan muka sendiri yang bertebaran di aneka tempat.

Ajit Johnson juga membahas cara menulis jaman sekarang,  yang dalam bahasa kita disebut bahasa alay. Bahasa alay ini gak selamanya buruk kok, dia sangat cocok digunakan untuk bikin password. Cukup digunakan untuk password saja, selebihnya mending gak usah daripada bikin orang lain emosi karena gak paham. Soal bahasa alay ini, menurut saya gak cuma besar, kecil dan angkanya yang mengganggu; ejaan yang tidak tepat juga teramat sangat mengganggu. Banget dirubah menjadi bgd, karena (cause) berubah jadi cz, tapi yang paling parah tentunya Tuhannya dialaykan menjadi ‘Awwoh’.

This Generation marriage invitation

Selain hal-hal di atas ada juga soal undangan perkawinan di Facebook. Beberapa orang ada yang ngambek dikasih undangan online semacam ini, tapi kalau saya sih nggak menolak undangan online. Undangan itu harganya gak murah. Sebiji mungkin ‘cuma’ tiga puluh hingga seratus ribu Rupiah, tapi begitu dikalikan jumlah undangan menjadi jutaan Rupiah. Secantik apapun undangan itu (dan semahal apapun), biasanya undangan tersebut berakhir di tempat sampah. Jadi mendingan go green. Tapi tentunya semua orang tak sependapat dengan pemikiran saya dan hal tersebut sah-sah saja.

This Generation 1

Dari semua gambar yang dibuat,  yang paling menampar saya adalah gambar di atas. Saya tadinya suka membaca di Kindle dan saya punya ratusan buku di dalam Kindle itu. Semenjak punya Kindle, saya malas membeli buku kertas dan lebih rajin belanja buku elektronik di Amazon. Tahun lalu, saya sengaja meninggalkan Kindle di Dublin karena saya kira saya akan segera pindah. Gambar ini menyindir dan menampar saya secara keras, karena sejak September saya tidak membaca buku apapun. Saya merasa berdosa sekali dengan otak saya karena tidak diberi makanan yang cukup. Di jaman ini memang kita lebih banyak berkomunikasi, tentang hal-hal yang kadang tak penting melalui Whatsapp ketimbang berkomunikasi dengan diri sendiri, dalam hal ini berpikir. Gara-gara poster ini, saya memaksa diri untuk masuk toko buku dan belanja beberapa buku. Sudah bertahun-tahun saya tak membaca buku kertas. Oh nikmatnya membukan lembaran-lembaran kertas dan mencium harumnya kertas ketika di balik. Buku yang saya baca sekarang karya Oscar Wilde, seorang penulis Irlandia.

Kalian, kapan terakhir baca buku dan buku apa yang kalian baca?

xx,
Tjetje

Cara Pesan Minum di Starbucks

[Postingan ini super panjang]

Di satu akhir pekan, saya nongkrong di Starbucks Senayan City. Tak jauh dari meja saya, seorang artis, R***  sedang nongkrong dengan temannya, konon desainer. Tiba-tiba, sore indah yang diwarnai wajah ganteng-ganteng itu diwarnai dengan kekusutan muka seorang bapak dan kepulan asap rokoknya. Si Bapak yang menyalakan rokok di ruangan berpendingin sukses kena tegur. Eh tapi abis ditegur malah makin ngamuk, tak hanya karena kecintaannya pada rokok tapi juga karena kopinya tak kunjung datang setelah 30 menit menunggu. Setelah dijelaskan, bahkan diberi kopi baru, si Bapak akhirnya mengerti bahwa kopi di Starbucks tak pernah diantarkan. Masih dengan muka masam, si Bapak menyeruput kopinya, lalu memuntahkannya ke lantai. Gak doyan atau kepanasan?

Gara-gara si Bapak, saya menulis ini di tahun 2013 , tapi elemen tulisan saya tak lengkap tanpa kenalan dengan Barista; makanya saya menunggu dua tahun. Pesan kopi di Starbucks tak segampang pesan kopi di Warung Kopi di Aceh karena Starbucks membuat kombinasi aneka rupa kopi, konon ada ribuan. Hal paling pertama yang harus diketahui sebelum memesan minum adalah ukuran gelas: short (tak pernah ada di menu), tall, grande, venti dan trente (hanya untuk beberapa minuman dingin & tak ada di menu). Semakin besar kopinya, semakin mahal dan semakin banyak kandungan espressonya. Venti misalnya, mengandung setidaknya 2-3 shots espresso.

Tentukan juga jenis gelas yang mau kita pakai. Mug, tumbler atau paper cup. Kalau mau nongkrong mending minta mug aja, jadi ga nyampah. Sementara kalau ingin diskon 3000 rupiah, silahkan bawa tumbler sendiri. Btw, garis-garis di cup plastik Starbucks itu memiliki makna dan merupakan patokan untuk pembuatan minuman.

Tipe kopi, decaf atau half-decaf (separo decaf, separo regular) perlu diinformasikan kepada Barista supaya minuman kita tepat.  Jenis susu juga penting, apalagi buat saya yang tak bisa minum susu sapi. Susu kedelai bisa jadi alternatif dengan biaya tambahan extra 7500. Kalau sedang diet dan ingin susu yang rendah kalori, bisa juga minta skinny. Saran saya kalau diet mendingan gak usah ngopi disini karena kalorinya ratusan; atau bisa juga minum teh saja.

Mari kenalan sama minuman yang paling sederhana: espresso, yang merupakan bahan dasar aneka minuman kopi. Espresso sendiri merupakan teknik penekanan kopi dengan suhu dan jumlah air tertentu untuk membuat konsentrat kopi. Espresso disajikan dalam cangkir kecil, single (29 – 37 millimeter) ataupun double dan dibuat selama 25-33 detik saja.  Selain disajikan polos tanpa ‘topping’ espresso bisa juga disajikan dengan whipped cream, espresso con panna atau dengan buih susu, espresso macchiato.

Americano, Capucinno, Latte, Caffè Mocha adalah beberapa tipe kopi yang berbahan dasar espresso. Bedanya apa? Americano itu espresso dicampur air. Sementara latte merupakan espresso dicampur steamed milk dan buih susu; tapi steam milknya lebih banyak ketimbang buihnya (wet). Buat yang gak seneng komposisi ini bisa minta latte dry atau bahkan extra dry; buihnya lebih banyak ketimbang susunya.

Cappuccino sendiri mirip dengan espresso, tetapi takaran bahan-bahannya dalam jumlah yang sama; 1:1:1.  Lalu, Caffè Mocha adalah perpaduan espresso & coklat. Supaya gampang mari ditengok infographic di bawah ini.

designinfographics_Kopi starbucks

infographic courtesy of http://www.designinfographics.com

Selain kopi berbahan espresso, Starbucks juga menawarkan MISTO. Bahasa Perancisnya cafe au lait sementara dalam bahasa Indonesia artinya kopi susu. Kalau espresso pakai mesin khusus, misto ini kopinya di brewing, lebih lama dari proses bikin espresso.

Dagangan khas Starbucks adalah Frapuccino, yaitu es di blender dengan kopi, susu, buah (sirup buah lebih tepatnya) atau green tea dan diberi aneka rupa sauce (bukan saus tomat, apalagi saus sambal, tapi caramel sauce). Bagi yang tak ingin es bisa minta light ice, sementara di Amerika bahasa yang tepat adalah easy on ice. Biasanya, frappucino dihiasi dengan whipped cream. Frapuccino bisa juga dipesan dengan gaya affogato. Espresso pada minuman affogato ini ga diblended tetapi dituangkan di atas, pada akhir proses, biasanya disajikan tanpa whipped cream. Untuk Frappucino saya akan jelaskan sebagian pada postingan terpisah. Tak semuanya bisa dijelaskan karena ada banyak macamnya, bahkan ada edisi terbatasnya.  Selain Frapuccino, Starbucks juga jualan banyak minuman lain seperti ice chocolate dan teh; gara-gara ekpansi minuman non-kopi inilah Starbucks mengganti logonya.

Jadi, bagaimana cara mesen yang benar? Mulai dari ukurannya dulu, kalau mau upsize (biasanya pakai kartu kredit BCA) sebutkan dulu ukuran asli yang mau kita upgrade. Lalu beritahu panas atau dinginnya, supaya Barista bisa ambil gelas yang tepat. Kemudian, urutin permintaan aneh-aneh kita dengan kolom yang tersedia (lihat sisi kanan infographic di atas). Contoh paling sederhananya: grande upsize to venti| Ice americano| decaf| single shot| extra syrup.

Beberapa hal random tentang Starbucks

  • Berilah Baristanya tip karena honor atau gaji Barista itu tak sampai harga 2-3 gelas minuman yang kita pesan. Jadi berbaik hatilah member mereka tips, apalagi kalau minuman kita ribet. Tipping ini biasanya dibagi rata oleh semua Barista, walaupun ada juga Barita yang ngalami gak kebagian tip.
  • Bersihin meja yang kita pakai, bukan harus di lap, cukup di buang cupnya atau kembalikan gelasnya ke counter. Tak hanya membantu Barista, ini juga membantu konsumen selanjutnya.
  • Kopi di Starbucks ga pernah diantar. Jadi pas pesen sebutkan nama dengan benar, atau kasih nama yang unik, biar Baristanya senyum. Kasihan lho mereka kerjanya capek.
  • Perhatikan baik-baik cup yang kita ambil dan jangan sampai ambil punya orang. Kalau ketuker, kasihan Baristanya harus ganti, padahal mereka cuma punya jatah 2 gelas sehari.
  • Makanan di Starbucks Jakarta di ambil dari sebuah bakery di BEJ. Jika tak habis, biasanya makanan ini dibawa pulang oleh Baristanya. Nah kalau gak nemu makanan di kaca pajangan, tanya sama Baristanya. Siapa tahu keselip 😉
  • Dibanyak tempat di Eropa, Starbucks banyak dicela karena kualitas minuman mereka yang dianggap tak seperti kopi. Kedai-kedai kopi di sana juga tak seramai dan sebanyak di Indonesia.
  • Starbuck City Tumbler dan City Mug banyak di koleksi. Jadi kalau ke negara-negara yang eksotis, belilah beberapa tumblers dan mug, lalu silahkan dijual lagi di Kaskus. Kadang, tak perlu dijual di kaskus, dibawa minum ke Starbucks aja bisa ditawar sama Baristanya.
  • Starbucks Dublin tak punya tumbler dan hanya punya gelas, tapi sampai detik ini baik saya maupun mas G tak pernah menemukannya. Menurut Mas G sih orang Irlandia gak doyan Starbucks & ga suka bawa tumbler.
  • Starbucks tak ada di Italia, konon selain karena orang Italy kopinya lebih enak dan punya banyak kedai kopi, harga kopi Starbucks yang mahal diprediksi bikin orang ogah bayar.
  • Jika beruntung, kita bisa dapat minuman apa saja dengan ukuran tall dengan memberikan komentar. Cek baik-baik semua receipt yang kita punya.

https://instagram.com/p/zONkrfwxqQ/?taken-by=binibule

Pusing ya lihat banyaknya minuman mereka?

Xx,
Tjetje

Antara Santet dan Pelet

Tulisan ini aslinya dituliskan dalam Bahasa Inggris dan merupakan bagian dari seri “Thing Indonesians Like”, tapi pasti orang asing itu pada bingung bacanya.

Suatu hari di penghujung tahun 2013 saya melihat foto mengenai tarif doa di akun Twitter @akbarmangindara. Foto itu diambil di sebuah rumah di Sulawesi sana. Ongkos doanya dimulai dari harga 2.500.000 hingga 150.000.000, tergantung posisi apa yang  diincar. Menariknya, posisi-posisi yang dipasang adalah posisi kepala; dari kepala desa hingga kepala provinsi, alias Gubernur. Di secarik kertas itu tak ada tarif untuk posisi Menteri apalagi Presiden, mungkin peminatnya kurang, atau harganya terlalu mahal.

Doa Berbayar

Bukan rahasia lagi bahwa pejabat-pejabat di negeri ini memang banyak yang rajin ke ‘Orang Pintar’ atau yang biasanya disebut juga Dukun. Konon, menjadi pejabat tak akan sukses dan aman kalau tak ke Dukun.

Dukun tak hanya mengurusi pejabat atau calon pejabat tapi juga mengurusi perdagangan. Ketika saya tinggal di Malang, saya banyak mendengar cerita persaingan pedagang di pasar yang diwarnai bumbu kekuatan doa dan jampi-jampi supaya dagangan lebih laku dari lapak tetangga. Makanya, jangan heran kalau melihat toko kecil super laku dikomentari  “Dukunnya kuat”.

Dukun juga bertindak sebagai agen penjualan rumah. Jika agen mencari klien, Dukun cukup membuka aura rumah, niscaya rumah akan terjual dengan mudah. Besar kemungkinan sang empunya sakit jantung setelah rumah terjual, karena sang Dukun meminta bagian yang bahkan jauh lebih mahal daripada jada agen penjualan rumah.

Dukun tak hanya bertindak untuk urusan perdagangan tapi juga bisa mengirimkan hadiah seperti Santa Klaus. Jika Santa memberikan hadiah yang membuat bahagia, Dukun memberikan santet yang membuat ngeri. Gunting, pisau, silet dan benda-benda tajam lainnya bisa dimasukkan ke dalam perut si korban. Di kelas Antropologi saya 17 tahun lalu, saya juga diajarkan bahwa Dukun bisa membuat si korban menjadi kembang amben atau bunga ranjang. Dalam kondisi ini biasanya si korban tak bisa beraktivitas karena harus bed rest. Jika diperlukan, serangan-serangan sakit juga bisa dihadirkan pada jam-jam tertentu saja dan dikirimkan melalui jasa makluk halus peliharaan sang Dukun. Cocok bagi mereka yang memendam dendam.

Karena tahu cara mengirim, dukun juga tahu cara mengobati. Dari kanker sampai HIV/AIDS yang bahkan scientist belum menemukan obatnya. Jampi-jampi,telur, mandi kembang dan apel, nampaknya lebih manjur ketimbang antibiotik apalagi kemoterapi.

Jasa Dukun juga meliputi pengisian kekuatan magisnya pada bedak, lipstick dan segala macam alat komestik. Kekuatan magisnya konon akan menarik konsumen bagi mereka yang bergerak di bidang jasa cinta satu malam. Jika ada rejeki berlebih, boleh juga memasang susuk di bagian-bagian tubuh tertentu supaya lebih menarik. Lebih murah dan tak sesakit operasi plastik di Korea sana. Mereka yang memilih susuk tentunya harus kuat iman dan tidak tergoda untuk memakan pisang mas, apalagi daun kelor.

https://instagram.com/p/oNG6rNwxl0/?taken-by=binibule

Selain santet, biasanya ada juga Dukun yang memiliki spesialisasi pelet. Jika santet memberikan sakit pada orang lain, bahkan bisa menyebabkan kematian, pelet memberikan cinta semu. Semu karena konon cinta ini punya masa kadarluarsa. Tak hanya kadarluasa, cinta ini juga bisa hilang ketika melintasi lautan. Naasnya, korban pelet ini seringkali tanpa sadar disuruh minum aneka rupa hal supaya bertekuk lutut. Konon, salah satu ramuan manjur pelet adalah campuran kopi dan darah menstruasi. Menjijikkan.

Masih banyak lagi specialisasi Dukun. Mereka bisa membuka aura untuk membantu mencarikan jodoh. Bisa juga membantu untuk mendapatkan pekerjaan impian. Bahkan, mereka bisa melihatkan masa depan bagi mereka yang tak sabar menanti.

Jika melihat tarif di atas, jasa Dukun bukanlah jasa yang murah. Kendati mahal, Dukun juga banyak dicari. Konon, daerah-daerah pesisir (tak perlu disebut namanya, nanti warganya marah) memiliki dukun yang lebih mantap ketimbang daerah lainnya.

Mengapa masyarakat kita yang katanya beragama ini masih mencari Dukun? Mungkin Tuhan saja nggak cukup, makanya harus nyari dukungan dari Dukun. Terkait dengan santet, daripada menanti karma yang akan memakan waktu lama, lebih baik bertindak seperti Tuhan saja dan menghukum orang lain. Cepat dan praktis. Mahal tak apa yang penting napsu menghukum terpuaskan. Kalau soal pelet dan percintaan ya tolong dimengertilah, kalau tak begitu nanti bisa jomblo terus dong!

xx,
Tjetje

Menonton Kemalangan

“Tadi sore ada kernet dibunuh Mbak, di Taman Mataram”

“Hah? Terus Bapak nonton kernetnya dibunuh?”

“Iya Mbak, saya nonton dari jauh. Kernetnya dikeroyok ramai-ramai.”

“Nggak ada yang nelpon Polisi Pak?”

“Polisinya datang terlambat Mbak, jadi ya sudah meninggal. Perutnya keluar semua.”

Itulah sepenggal obrolan saya dengan supir Uber yang mengantarkan saya pulang dari kantor. Cerita pembunuhan dengan kejam selalu mengejutkan semua orang, tapi mendengar orang menceritakan pembunuhan yang ditontonnya secara langsung, bukan di televisi sangatlah mengejutkan. Lebih mengejutkan lagi cara menceritakannya yang sangat santai, seakan-akan pencabutan nyawa manusia dengan cara kejam itu adalah bagian dari sinetron di TV. Ketika saya mengkonfirmasi bahwa pembunuhan tersebut terjadi di depan istri sang kernet, si pengemudi dengan polosnya menjawab “Oooo…berarti perempuan yang teriak-teriak minta tolong tadi istrinya”.

Disini, semua hal layak ditonton; dari kecelakaan ringan hingga kejadian luar biasa. Sayangnya kebanyakan hal-hal yang ditonton adalah kemalangan orang lain. Ketika ada kecelakaan kecil, bisa dijamin daerah sekitar akan macet karena kendaraan memperlambat lajunya untuk melihat sejenak. Sementara saat kejadian kebakaran besar pemadam kebakaran akan susah masuk ke dalam lokasi karena terhambat warga yang menonton, bukan warga yang membantu.

karyawan nonton kosgoro

Pegawai kantoran nonton kebakaran Gedung Kosgoro (detik)

Kejadian tersebut bertolak belakang dengan pengalaman saya di Irlandia. Baik kecelakaan maupun perkelahian tak ada yang menonton. Satu ketika, saya melewati beberapa anak muda-muda di Irlandia yang bersiap-siap berkelahi. Orang-orang yang lewat di area tersebut berjalan cepat meninggalkan lokasi tersebut. Sementara saya yang Indonesia banget refleks menoleh & berjalan lebih lambat. Saya tentunya gagal melihat perkelahian itu karena pasangan memastikan kami meninggalkan lokasi secepat mungkin. Menonton hal-hal seperti ini memang sebaiknya dihindari untuk mencegah diri terluka dan tentunya supaya tidak jadi saksi di pengadilan.

Penasaran selalu menjadi alasan kuat untuk menonton sebuah kejadian. Di jaman yang serba kompetitif ini rasanya manusia tak puas dengan melihat sebuah kejadian dari sebuah tivi ataupun membaca dari koran. Sebagian kecil dari kita ingin menjadi bagian dari kejadian tersebut. Sayangnya, kejadian tersebut seringkali kejadian buruk, bukan baik. Mungkinkah keinginan ini merupakan bagian dari keinginan untuk selalu eksis?

Sungguh disayangkan penasaran ini datang di saat yang kurang tepat dan tak diwarnai dengan reaksi cepat untuk menghubungi pihak keamanan. Tak perlu disalahkan, toh dari kecil – baik di sekolah maupun di rumah — kita memang tak pernah diajarkan untuk memiliki nomor telpon polisi di tombol speed dial. Kok speed dial, tahu nomor telpon polisi, 110 saja menurut saya sudah bagus.

Ada banyak pertanyaan yang menggelayut di kepala saya. Saya tak paham mengapa sebagian dari kita menyukai menonton kekerasan dan juga kemalangan? Apakah ada kepuasan tersendiri ketika melihat orang lain ditimpa kemalangan? Adakah kebahagiaan dan juga kesenangan tersendiri ketika melihat hal tersebut, dari jauh sekalipun? Tidakkah mereka takut ketika mereka harus menjadi saksi? Tidakkah dia dihantui trauma karena melihat kekerasan? Segitu kurangnya kah hiburan kita?

Jenasah kernet tersebut dibawa dengan Kopaja dan diletakkan di bagian belakang Kopaja. Malangnya, seseorang yang saya kenal sedang berada di atas sepeda motornya bersebelahan dengan Kopaja tersebut, menunggu lampu merah menjadi hijau. Ia tak sengaja melihat mayat si kernet bermandikan darah di bagian belakang Kopaja. Oh tidak adakah ambulans untuk membawa sang jenasah?

Kali ini saya tak mencari tahu jawabannya karena saya terlalu terpana. Oh sungguh apa yang salah dengan sekitar kita?

Jakarta, 29.03.2015
Tjetje

Ananda Sukarlan dan Etika Menonton Konser Piano

Minggu lalu, saya berkesempatan nonton (lagi) konser pianonya Ananda Sukarlan. Konser kali ini gratis dan diadakan di Auditorium Institute Francais Indonesia. Bagi yang belum tahu siapa itu Ananda Sukarlan, beliau adalah satu-satunya pianis Indonesia yang masuk buku tentang pianis di dunia. Mas Andy, panggilan akrabnya, menciptakan banyak seri Rapsodia Nusantara yang diinspirasi dari lagu-lagu daerah Indonesia. Sampai saat ini sudah ada 18 yang telah dibuat dan janjinya Mas Andy  ia akan menciptakan sebanyak jumlah provinsi di negeri ini. Soal penampilan Mas Andy, gak perlu diragukan lagi. His music and his fingers were insanely beautiful!

Di tengah-tengah alunan Arabesque#1-nya Debussy, tiba-tiba sebuah HANDPHONE BERBUNYI dengan kencangnya. Saking kencangnya, sang pianis yang ada di atas panggung sampai noleh dan terpukau. Ibu-ibu yang handphonenya bunyi itu kebetulan duduk tak jauh di depan saya  dan butuh waktu lama bagi dia untuk menemukan handphonenya. Memalukan sekali!

Di berbagai konser yang saya hadiri — dari konser jazz sampai konser klasik — serta pertunjukan tari — dari klasik Jawa hingga balet — SELALU ada orang yang lupa mematikan handphonenya. Herannya, tragedi handphone ini tak hanya terjadi di pertunjukan gratis, tetapi juga yang berbayar. Bahkan ketika sudah diingatkan untuk mematikan, tetep saja ada yang berbunyi. Sebenarnya, mereka ini teledor, bodoh, atau egois sih?

Selan ringtone, hal lain yang bunyinya selalu menggangu adalah KEYPAD baik handphone, tablet, apalagi blackberry murahan. Noraknya, orang sering kali sibuk mengirimkan pesan ketika pertunjukan sedang berlangsung. Kemarin, saya sempat memelototin mas-mas yang sibuk memencet tabletnya yang berisik ketika mas Andy sedang bercerita. Ia tak bergeming sampai saya mengartikulasikan ketidaknyaman saya. Saya gagal paham, mengapa orang pergi ke konser kalau malas mendengar cerita pianisnya apalagi mendengarkan karya artisnya?

Cahaya yang keluar dari telpon genggam (SCREEN GLARE) juga sangat mengganggu mata penikmat pertunjukan lainnya. Tak hanya dari handphone, tapi juga dari kamera. Masalahnya orang seringkali tak sadar kalau itu mengganggu, apalagi yang mengambil video. Terus video dengan kualitas gambar dan suara yang jelek itu mau diapakan?

LAMPU KILAT juga merupakan pengganggu konser. Di tengah-tengah konser, sering sekali ada yang lampu kilat menyala dan mengagetkan sang perfomer serta penonton. Di Gedung Kesenian Jakarta menggunakan lampu kilat itu dilarang, tapi pengalaman selalu saja ada yang tak sengaja menggunakan lampu kilat. Bunyi focus kamera serta DSLR ketika menjepret foto juga bisa sangat mengganggu, makanya penonton seharusnya mengambil foto lima menit pertama saja.

Seharusnya TERLAMBAT datang ke venue juga tak diperbolehkan masuk ke venue. Di berbagai tempat penonton biasanya mereka baru boleh masuk saat intermission. Tapi di IFI kemarin, ada yang berlari-larian kecil mengambil tempat duduk ketika mas Andy sudah masuk. Tak hanya itu, undangan recital piano jam 19.30 (konsernya sendiri pukul 20.00) tapi mereka menunggu penonton yang sudah pesan undangan hingga pukul 19.45. Yang belum kebagian undangan, termasuk saya ya harus menunggu, walaupun sudah datang sebelum jam 19.00 harus sabar menanti. Ya harus dimaklumi ini konser IFI yang pertama di gedungnya sendiri, semoga ke depannya mereka bisa lebih disiplin dan tak mentolerir keterlambatan waktu pengambilan undangan.

Konser Ananda Sukarlan

Saya beli CD untuk Mama saya dan minta tandatangan mas Andy, tapi sukses lupa minta foto. Cerdas banget!

Pertunjukan klasik berbeda dengan Slank. Suara-suara yang tak diperlukan, dari suara handphone sampai suara diri sendiri yang humming ketika sang pianis memainkan tutsnya patut dihentikan dulu. Kok humming yang cantik dan bernada, batuk dan berdehem aja sebaiknya tak dilakukan. Perlu diingat bahwa banyak penonton lainnya yang jauh-jauh datang untuk memanjakan mata dan telinganya sedang ingin dimanjakan oleh jari-jari yang menari dan meloncat indah di atas tuts memainkan rangkaian musik yang indah. Maka sudah sepatutnya sebagai manusia beradab kita berdiam diri selama beberapa jam untuk menghormati sang performer dan penontonnya. Nonton konser Ananda Sukarlan, apalagi yang gratisan, itu belum tentu setahun sekali, jadi apa susahnya sih diam sebentar saja tanpa suara aneh-aneh?

 Xx,
Tjetje

PS: Pria 112 yang ada di postingan saya disini juga muncul di konser Ananda Sukarlan ini. Nampaknya dia jatuh cinta dengan musik klasik. 

Rahajeng Nyepi

Today, Bali, Prambanan, Malang and few other places in Indonesia are very festive. Thousands of giant effigies (ogoh-ogoh) are being taken around the city for pengrupukan. Later tonight, the giant effigies, which symbolized bad energy, will be burnt. Most of people in the world celebrate New Year with boozes, trumpets and parties, but devout Hindu Dharma in Indonesia celebrate it in different way. They disconnect themselves from the world, meditate, reflect and observe the four principles of Nyepi: amati geni, amati karya, amati lelungan and amati lelanguan.

Amati geni means to refrain from lighting fire and using light. This mean complete darkness and no food will be served as one will not be able to cook. Those who are willing and able, could observe 24 hour fast, while those who are unable to, usually prepare food from few days before. Besides fasting, mona brata or to refrain from speaking is also observed (I love mona brata!). The second principle, amati karya means to refrain from doing any activities; the activity that suggested is sitting still and mediate. Again, this is not mandatory and only for those who are able. Amati lelungan means to refrain from going out of the house and travel should also be observed. In Bali, one will not be able to leave premise unless there is an emergency such as illness or childbirth. The last principle is amati lelanguan, to refrain from  any kind of pleasure, including meceki, the traditional card games. Sadly, many people play meceki, which most of the time involve money, during Nyepi.

Selamat Nyepi!

I experienced my first Nyepi in Bali couple years ago. It was my first and I shall hope not my last Nyepi. Nyepi in Bali, is different from Nyepi in other city, because the whole island is completely quiet and dark. ATMs and convenience stores are covered with dark plastic, people fly out of Bali and those who couldn’t leave Bali, buy a lot of food.  When Nyepi starts, at 6 in the morning, the only thing that I head was birds chirping beautifully. During the evening, I heard nothing but the barks of the dog across the house where I stayed. The roads were deserted because people were staying at home; only pecalang, the traditional Balinese police, seen patrol around the area. The night, for me, was the most memorable.  It was a new moon and the sky was completely dark; so dark that I wasn’t able to gaze the stars.

The last couple year, Bali and Nyepi has proven tolerance. Last year (or maybe a year before), Nyepi observed on Friday. Moslems who live in Bali observed they pray but at the same time still respect the Nyepi. The call for praying at the mosque was not performed using the speaker. This year, Nyepi falls during Lenten and once again, Bali and its people will show their tolerance. If only the whole world could learn tolerance from Bali, the world might be a better place.

To all the devout Hindu Dharma in Indonesia and abroad, Rahajeng Nyanggra Rahina Nyepi Çaka 1937. May we are all bless with peace in mind, peace on earth and eternal peace.

Namaste
Tjetje
Read as well: