Budaya Ospek, Budaya Penjajahan

Dari dahulu saya tak pernah suka dengan yang namanya perploncoan siswa baru. Menurut saya kegiatan ini merupakan penjajahan modern yang dibiarkan oleh institusi pendidikan. Saya tak ingat bagaimana perploncoan jaman SMP dilakukan, begitu pula pada jaman SMA. Namun saya ingat, ketika mendaftar theater di SMA saya diplonco dengan alasan melatih keberanian. Kami didandani seperti orang dengan masalah kejiwaan yang tak terurus, lalu disuruh berjalan dari sekolah ke pusat kota. I did it. Kegiatan tersebut merupakan perploncoan, tapi setidaknya ‘bermanfaat’ karena melatih kami supaya tidak malu dan membuat kami PD tampil di muka umum.

Kegiatan Ospek di Universitas Brawijaya Malang lain lagi. kami diberi tugas konyol seperti mencari air kemasan merek tertentu dalam waktu sehari. Bersama mama, saya keliling Malang mencari air kemasan ini dan setelah beberapa toko kami berhasil menemukannya di sebuah toko kecil di dalam alun-alun kota Malang. Tak cukup itu, kami juga harus membuat tas dari karung yang dihiasi tali rafia yang dijalin empat (kepang). Jadilah saya dan mama repot mencari tahu bagaimana cara membuatnya. Jaman itu belum ada youtube, kalaupun sudah ada kami belum kenal. Internet juga mahal dan lambat. Coba apa nilai yang bisa diambil dari membuat tas karung ini selain buang waktu, energi dan juga uang?

Saya tak ingat makanan apa yang kami harus bawa, tapi teman-teman yang diterima di jurusan Teknik Brawijaya, tak hanya rambutnya harus dipotong 3-2-1 a la militer (yang pria), mereka juga hanya diperkenankan membawa nasi, telur rebus dan seiris timun. Saya berbaik hati (dan sok PD) merebuskan telur untuk seorang teman. Ternyata telur saya tak matang, jadi ketika giliran makan siang tiba, telur rebusan saya sukses meluncur membasahi nasi putih Ah kasihan teman saya yang sudah disuruh lari dan dijemur di bawah matahari harus memakan ‘nasi basah’.

ospek ITN

Setelah sukses mengumpulkan seluruh barang ajaib tak berguna ini, kami diwajibkan datang pagi, sekitar pukul 05.30 ketika matahari masih sembunyi malu-malu. Semenjak datang bisa diduga kami hanya dijemur, diteriaki dan dibentak-bentak oleh para senior yang merasa paling hebat sedunia. Kakak kelas yang mencoba menunjukkan kekuatannya melalui pita suaranya.

Puas membentak para adik kelas, kami pun diarahkan untuk upacara di depan kantor rektorat. Saya yang sudah mulai kepanasan minggir, tak kuat panas. Kebetulan jaket saya ditandai oleh pita hitam sebagai tanda kurang fit. Pita hitam sendiri didapatkan setelah menyerahkan surat dokter dan surat dokter ini diberikan oleh Bapak teman saya. Saya memang berpura-pura, jadi tukang tipu, demi melindungi diri agar tidak mendapatkan siksaan, baik fisik maupun siksaan batin. Jadilah saya dimasukkan ke dalam ruang kesehatan bersama seorang mbak yang baru kena thyphus. Giliran makanan dibagikan, saya (yang pura2 habis thhypus) makan dua bungkus dan si mbak nggak napsu makan. Sementara saya asyik makan di ruang kesehatan, teman-teman saya diteriakin tak karuan di lapangan, bermandikan terik matahari. Push-up kamu dik!

Keesokan harinya, saya tak datang ke ospek dan baru muncul di kampus ketika kegiatan perkuliahan dimulai. Bahkan ketika ospek jurusan pun saya absen, padahal saya sudah bayar. Modus pengumpulan uang untuk ospek jurusan ini dengan cara mewajibkan seluruh mahasiswa yang registrasi untuk membayar, saya ingat betul karena seorang teman berhutang kepada saya untuk membayar kegiatan ini. Rumor intimidatif yang beredar di kalangan mahasiswa baru (MABA), yang tidak ikut ospek dan ospek jurusan nggak akan bisa maju sidang skripsi. Nyatanya, itu cuma omong kosong, saya masih bisa lulus dan bisa kerja di tempat yang tak memerlukan bentak membentak. Jadi para MABA, kalau ospek Brawijaya masih nggak mutu, nggak usah ikut.

Itu cerita ospek saya lebih dari sepuluh tahun lalu. Harusnya, banyak hal sudah berubah setelah sepuluh tahun. Sayangnya, belum banyak yang berubah. Di kampus tetangga, seorang mahasiswa baru asal Mataram tidak bisa menceritakan kegilaan dan kesemenamenaan seniornya. Si Mahasiwa berpulang, tak jelas apa penyebabnya, tapi beredar foto-foto kekejaman. Ada tulisan yang mengatakan ia kemungkinan dehidrasi, lha gimana gak dehidrasi kalau minum dibatasi. Ospek seperti ini kadang hanya menjadi ajang penyiksaan makluk lain. Eh maaf aja, ngakunya beragama, MAHAsiswa, terdidik, tapi suka nyiksa orang?

ospek

Kisah kematian mahasiswa ITN itu bukan satu-satunya kisah kematian mahasiwa baru, banyak sekali penyiksaan yang dilakukan kepada junior atas dasar senioritas. Menteri Pendidikan maupun kepala sekolah, rektor dan para kepala jurusan membiarkan semua kekerasan itu terjadi. Para professor ini, mengenyam pendidikan tinggi, sekolah bertahun-tahun, tapi sayangnya tak pernah paham bahwa kekerasan bukanlah tradisi yang harus dipelihara & mereka, sebagai pendidik, punya peran penting untuk menghentikan hal tersebut. Jadi kalau kekerasan di negeri ini masih bermunculan, tanyalah pada pak rektor, pak guru, pak kepala sekolah, pak dosen juga bapak kepala jurusan yang memelihara bibit-bibit tersebut. Merekalah yang paling bertanggung jawab atas disabilitas, gangguan psikologis dan juga kematian pada para mahasiswa baru.

Jadi para profesor dan pendidik, kapan kalian mau bikin ospek yang 100% mendidik, tanpa penganiayaan fisik dan mental?

xoxo
Tjetje

Tersinggung Karena Tak Diundang ke Kawinan

Pesta perkawinan bagi orang Indonesia itu merupakan perhelatan akbar yang terkadang diadakan selama beberapa hari berturut-turut. Tergantung kondisi keuangan dari kedua belah pihak. Tapi tak perlu cemas, kalau nggak punya uang, berhutang untuk kawinan pun tak masalah. Bukankah perkawinan yang baik sebaiknya dimulai dengan susah payah bersama untuk memupuk cinta? Nah caranya ya bersusah payah membayar cicilan hutang pesta resepsi? (Eh!)

Perkawinan juga bukan mengenai hubungan antara dua belah pihak pengantin saja, tapi menjadi urusan banyak pihak. Ayah dan Ibu kedua mempelai akan sibuk membuat daftar koleganya, teman-temannya, serta sanak saudara dari yang pertalian terdekat hingga yang paling jauh. Sementara pengantin akan sibuk membuat daftar undangan yang berisikan nama teman-temannya dari jaman TK, SD, SMP, SMA, les bahasa Inggris, les nari, les bahasa Perancis, renang, kolega kantor, temen jalan-jalan dan teman di facebook yang sudah lama nggak diajak ngomong. Semua daftar dijadikan satu dan dihitung, total undangan biasanya jadi ratusan hingga ribuan. Undangan ini kemudian harus dikalikan tiga atau empat, termasuk pasangan, anak dan juga nanny yang selama perkawinan berlangsung repot berlari-lari mengejar dan menyuapi si anak.

Pengantin juga masih harus beli seragam buat keluarga & geng mainnya. Belum lagi hunting baju pengantin untuk akad nikah, untuk resepsi, untuk midodareni, atau upacara tradisional lainnya. Selain mikir seragam, pengantin mesti mikir foto pre-wedding, souvenir, cari gedung atau hotel, milih menu, milih fotografer, milih seserahan, test make-up, milih tukang dekorasi, dan memilih undangan. Kepusingan ini masih ditambah dengan menghitung anggaran dan menekan biaya agar sesuai anggaran. 

IMG_0136

Terdengar repot kan? Nah kerepotan ini akan ditambah dengan orang-orang yang tersinggung karena berbagai hal. Golongan orang tersinggung ini nggak pernah mau mikir gimana repot dan hebohnya persiapan perkawinan. Pokoknya hal-hal yang dia mau mesti jadi prioritas, urusan penganten nomer dua.

Golongan pertama biasanya ribut soal undangan. Ketika mendengar acara lamaran sudah dilaksanakan, biasanya mereka sudah ribut mengingatkan undangan. Saking semangatnya mereka seringkali mengingatkan untuk mengirim undangan ketika sang pengantin belum menemukan pacar. Kalimat andalannya: “Undangannya jangan lupa lho ya!”. Single nekat biasanya jawab:  “Angpaonya juga jangan lupa ya!” kalau saya mah senyum-senyum. Lupa kan manusiawi, melupakan juga manusiawi kan?

Kalau golongan ini nggak diundang, kemudian mendengar perhelatan telah dilaksanakan tanpa mereka, atau melihat jejak foto di social media maka sudah dapat dipastikan akan terjadi keributan. Hal pertama yang dilakukan adalah PROTES, kenapa nggak diundang. Duh orang-orang ini nggak paham kalau menyiapkan perkawinan itu pasti ribet dan kalau ada yang kelewatan itu wajar. Lucunya, ketika menghubungi untuk complain, hal pertama yang diucapkan bukan ucapan selamat. Hmmm…memang kebutuhan untuk eksis di kawinan orang mengalahkan tata krama.

Yang lebih repot lagi kalau nekat mengadakan perkawinan kecil yang mengundang kurang dari 30 orang aja. Hari gini ngundang kurang dari 30 orang itu emang nekat. Tapi ketika pengantin dibatasi oleh anggaran (dan karena mereka ingin melakukan hal tersebut) kenapa tidak? Resikonya diomongin banyak orang dan menerima banyak banget complain, dari saudara dekat, saudara jauh, temen deket, temen jauh, temen lama sekali (bahkan gak inget kalau pernah temenan),  karena mereka tidak diundang. Orang-orang begini nih biasanya nggak mikir kalau kawinan itu mahal, makanya ada banyak hal yang harus dibatasi biar nggak terjerat hutang?!

Golongan kedua biasanya ribut sebelum acara karena menerima undangan tanpa menerima potongan kain untuk seragam. Ribut meneror pasangan pengantin atau orang tuanya untuk nanya seragam. Kalau nggak, repot bisik-bisik karena nggak menerima seragam. Buat mereka, nggak diberi seragam itu menyinggung harga diri. Halah!

Saya sendiri pernah mengalami menghadiri perkawinan seorang kerabat dimana semua saudara mengenakan seragam, Sementara saya terlihat berbeda tanpa seragam. Nggak perlu bersedih hati kalau berada dalam kondisi ini, malah harus bersyukur, karena nggak ribet cari model, cari penjahit dan  bayar penjahit untuk kain yang keseringan hanya bisa dipakai sekali karena kualitasnya yang biasa saja. Selain itu, menghadiri perkawinan tanpa seragam itu memungkinkan untuk cepet-cepet kabur ke tempat lain. Tips a la saya buat yang nggak dikasih seragam, pilihlah baju paling menyala, seperti merah, supaya kalau difoto kelihatan beda. Berbeda itu penting!

Apa reaksimu ketika tidak diundang perkawinan teman? 

Kawin Sama Bule Perbaiki Keturunan?

Bukan rahasia lagi kalau orang Indonesia itu terobsesi dengan kulit putih. Buat mereka apapun yang kulitnya putih, itu lebih baik dari yang berkulit gelap. Ketidakcintaan terhadap kulit sendiri ini pernah saya bahas dalam seri Thing Indonesian Like, dalam tulisan-tulisan edisi bahasa Inggris.

Obsesi terhadap kulit putih ini juga membuat manusia Indonesia mengagungkan bule secara berlebihan. Bagi orang-orang ini blasteran disamakan dengan bibit unggul, lebih cakep, lebih ganteng. Akibat pemikiran seperti ini, ibu-ibu yang punya anak blasteran biasanya suka cemas berat kalau pergi ke tempat umum, karena orang-orang ini selalu nggak bisa nahan diri untuk nyubit, nyolek, pokoknya menyentuh anak blasteran pakai tangan yang gak cuci tangan kalau ke kamar mandi. Sementara, kalau anak Indonesia, yang lucu sekalipun, cukup dilihat aja, nggak perlu dicolek-colek, paling banter, ih anaknya lucu deh.

Tampang babu

Kulit bukanlah satu-satunya faktor yang bikin orang Indonesia terkesima berat sama londo-londo itu. Mata yang warnanya berbeda dari warna mata, hidung mancung, serta badan yang menjulang tinggi juga faktor yang membuat mereka melihat bangsa barat sebagai bangsa yang “lebih”. Nah, kalau bule tersebut kemudian jalan  dengan perempuan Indonesia yang bertampang asli Indonesia, berhidung pesek, struktur gigi yang tak rapi, tak terlalu tinggi, kulit sawo matang, rambut keriting, komentar yang muncul keseringan:  “Ih…kok istrinya jelek kayak babu gitu”. Apalagi kalau mbak ini kayak saya, jarang dandan.

Ada dua hal yang gak saya suka dari omongan itu, pertama soal kejelekan wajah. Wajah manusia itu ciptaan Tuhan, kenapa harus dihina sih? Setiap manusia itu, mau pesek, mau mancung, mau tinggi, pendek, gendut, kurus, adalah manusia yang cantik. Hal kedua yang nggak saya suka adalah asosiasi kata jelek dan babu. Saya nggak suka pakai kata babu, menurut saya itu kasar sekali. Pembantu pun bukan bahasa yang politically correct, bahasa  yang tepat menurut saya adalah pekerja rumah tangga. Ini untuk menekankan bahwa mereka adalah pekerja, bukan batur, babu, apalagi budak. Pengasosian ini menunjukkan bagaimana sebagian orang Indonesia tidak menghargai sesamanya sendiri. Padahal keunikan wajah kita adalah ciri khas yang dibuat Tuhan untuk mewarnai bumi ini. Wahai orang-orang yang suka berkomentar seperti itu, berhentilah mengasosiakan mengasosiasikan pekerja rumah tangga dengan hal yang dipersepsikan buruk.

Uang Banyak

Komentar lain yang sering ditujukan kepada orang Indonesia yang memiliki hubungan dengan WNA adalah urusan finansial. Yang paling umum nih “Enak ya, laki bule uangnya banyak”. Entah bagaimana menanggapi komentar tak penting seperti ini. Pokoknya pukul rata kalau bule pasti kaya raya. Mengasosikan bule dengan banyak uang itu menyebabkan mereka sering ditipu dan dikasih harga yang ugal-ugalan mahalnya. Apalagi kalau di Bali, begitu ketahuan ada bulenya langsung dirubah harganya.

Sebenarnya, di Indonesia pun juga banyak pria yang uangnya banyak. Apalagi yang pelatnya merah, duit nya berlimpah dan berhamburan Duit banyak itu kan karena kerja dan nabung, bisa juga karena korupsi, nggak ada hubungannya sama ras. Di luar negeri juga banyak pengemis-pengemis bule. Jadi jangan asosikan bule dengan uang banyak, lihatlah mereka sebagai manusia, bukan sebagai ATM.

Perbaikan Keturunan

Komentar terburuk menurut saya adalah PERBAIKAN KETURUNAN. Mau guyonan, mau basa-basi nggak penting, komentar ini melecehkan orang yang diberi komentar dan pasangan bule secara umum. Sesuatu yang diperbaiki berarti tidak berfungsi dengan benar, atau rusak. Lha kalau sudah datang dari keturunan baik-baik dengan kualitas yang baik, termasuk kualitas fisik yang baik (seperti saya), apalagi yang mau diperbaiki?

Orang-orang yang suka ngomong kayak gini mungkin harus cek MRI untuk mencari tahu dimanakah otak mereka tersembunyi. Mereka juga harus mulai mempertanyakan, mengapa perbaikan keturunan itu kemudian menjadi penting, jangan-jangan merekalah yang merasa keturunannya nggak bagus dan perlu diperbaiki. Satu hal lagi, orang-orang ini perlu memperbaiki kualitas mereka sebagai manusia, biar lebih bangga dengan diri sendiri dan keturunannya.

Tapi dari semua komentar yang sering saya denger, rekor komentar terajaib dipegang oleh seorang istri dosen yang berkomentar ke Mama saya: “Nakal ya, pacarnya bule?”. Nakal, hari gini masih dianggap nakal karena punya pacar yang kulitnya putih. Tante-tante minta dilombok* .

Bangga gak dengan keturunanmu dan tubuhmu?

xx
Tjetje
dilombok: dijejali lombok karena mengatakan hal yang dianggap kurang pantas.

Puasa Makanan Nasional Indonesia: Indomie

Seperti normalnya orang Indonesia, saya dulu cinta banget dengan makanan pokok orang Indonesia ini, Indomie. Indomie ya bukan yang merek lain. Rasa yang saya suka Indomie goreng, Indomie kari ayam dan kaldu ayam. Ada juga Indomie rasa nusantara yang cuma bisa dibeli di Pante Pirak Banda Aceh, rasa rendang pedas Medan. Tiap kali ke Banda Aceh pasti koper saya dijejali dengan mie cepat saji ini, enak sih. Herannya mie itu tidak pernah saya temukan di Medan.

indomie-goreng-rasa-rendang-pedas-medan

Indomie Goreng Rendang Pedas yang hanya saya temukan di Pante Pirak

Soal cara memasak ini, sepupu saya tercinta suka banget menambahkan banyak merica ke dalam Indomie, rasanya sampai bikin lidah terbakar. Buat saya aneh, tapi buat dia pasti itu indomie terbaik. Ada juga yang suka menambahkan potongan cabe rawit, saya anti banget melakukan ini, karena gak doyan yang pedes. Beberapa orang juga suka menambahkan sayur mayur dan poaching egg ke dalam mienya. Beda orang beda selera bukan?

Lama-lama saya merasa hubungan saya dengan Indomie ini harus ditinjau ulang, karena sudah pada tahap yang tidak sehat. Asal nggak ada makanan dan males keluar, saya makan Indomie. Udah makan lihat orang makan indomie pun ngikut. Nggak sehat banget kan?. Akhirnya pada ulang tahun saya tiga tahun lalu, saya memutuskan untuk puasa makan indomie sampai setahun. Eh ternyata berhasil lho, walaupun kalau ada orang yang masak indomie saya ngomel abis. Baunya itu lho bikin kepengen. 

Nggak cuma indomie aja, saya juga pernah mencoba puasa makan KFC selama setahun. Saya ini cinta banget sama KFC original, tapi yang dimakan cuma bagian kulit-kulitnya, dagingnya ngeri. Padahal dua-duanya sama-sama mengerikan. Jaman saya masih kerja jadi pegawai kontrakan di sebuah kementerian, tiap kali perjalanan dinas (dan selalu dengan Garuda), saya selalu mampir ke KFC dan makan, biarpun udah makan. Kata kolega: “Ail itu kalau lihat KFC kayak lihat jodoh”. Mungkin maksudnya saya jadi beringas dan agresif, bukan malah malu-malu.

Nah tahun kemarin, saya memutuskan untuk puasa makan indomie dan KFC secara bersama selama setahun. Sebelumnya saya sudah mencoba, tapi tak pernah melakukan puasa dua makanan sampah favorit secara bersamaan.  Ternyata puasa saya dari tahun ulang tahun di 2012 hingga ulang tahun di 2013 ini berjalan dengan aman, dengan sedikit omelan kalau ada yang makan KFC atau indomie. Lho puasa kok marah-marah? Komitmen saya untuk puasa ini emang luar biasa (muji diri sendiri dong), saking luar biasanya di tahun 2011 lalu, ketika saya ke Badui saya sukses nggak makan indomie dan memilih makan nasi putih dengan ikan kalengan yang saya bawa.

iklan indomie

Iklan Indomie, foto di Wikipedia

Ketika puasa tahun ini berakhir, saya sedang terbaring di ICU, jadi batal deh ulang tahun dengan makan KFC dan Indomie. Beberapa hari setelahnya, masih di RS, saya merayu mas bule untuk membelikan KFC & dibelikan oleh mas bule. Lihat box KFC rasanya riang gembira, eh pas dimakan rasanya nggak enak. Saya berikan ke mas bule dan dengan lahapnya dia habiskan.

Seminggu setelah keluar dari RS saya pun makan Indomie goreng. Lagi-lagi rasanya nggak karuan, kali ini ditambah dengan perut yang penuh gas dan reaksi ke toilet beberapa kali. Mungkin makanan ini nggak enak karena saya lagi proses penyembuhan dari DBD, jadi coba lagi nggak menyerah! Tapi tetep, indomie rasanya tak seenak dulu lagi dan perut kembungnya itu lho nggak kuku. Sepertinya saya udah nggak bisa makan banyak MSG lagi. KFC sendiri saya ulang beberapa hari yang lalu, rasanya tetep gak indah lagi, terlalu berminyak, ayamnya yang besarpun mengerikan karena kayaknya penuh lemak banget. Tapi tetep doyan makan kulitnya. Lho?

20131223_131335

Satu lorong khusus buat mie instant

Saudara saya bilang bahwa Indomie di Perancis yang nggak mengandung MSG, jadi rasanya tak seenak indomie di Indonesia. Lha kalau tak ada MSG di indomie yang dijual di Eropa (tentunya ini karena BPOM Perancis melarang) mengapa ada MSG di indomie di Indonesia?  Ada berita lama yang bilang indomie gak aman dan dilarang di Taiwan. Walaupun konon, konon lho ya,  pelarangan ini untuk proteksi produsen mie Taiwan yang kalah bersaing karena indomie murah banget. Di Indonesia nggak bakalan indomie dilarang, wong ini sudah jadi makanan pokok Indonesia. Bahkan Indomie yang warna hijaunya tak kalah dari kain batik aja bisa dijual di Indonesia. Masak iya masak mie dikasih cabe hijau warnanya bisa begitu?

Terus terang saya bahagia dengan kemajuan saya berpuasa. Saya sudah nggak beringas lagi kalau lihat KFC. Sekarang kalau lihat indomie, entah kenapa, otak saya mengasosiakan dengan perut kembung yang saya alami. Nyobain Indomie Bulgogi pun rasanya males banget, males menanggung resiko.

Sanggup gak puasa makan indomie, atau makanan lain selama setahun?

Kondom Tak Selalu Berarti Seks Pranikah

Haduh…pusing deh kalau ngomongin kondom dan orang Indonesia. Orang Indonesia itu mengasosiasikan kondom dengan kegiatan seks bebas. Kalau kemudian dikasih kondom gratisan, ya harus dipakai. Ini otak bego atau otak porno saya nggak tahu. Yang jelas, tiga tahun saya kerja di kantor yang memberikan kondom gratis dan selama tiga tahun itu saya cuma ambil dua kondom untuk difoto, bukan  untuk seks bebas. Jadi pertanyaanya, salah siapa kalau dikasih kondom pengen dipakai? Kalau kata saya, salah otaknya yang memilih mengasosiakan kondom dengan seks bebas.

Kondom, yang selalu saya promosikan setiap Jumat, dalam seri #JumatKondom adalah produk yang terbuat dari lateks yang mengurangi resiko penyebaran infeksi seksual menular termasuk HIV/AIDS. Kondom juga mengurangi resiko kehamilan, tapi mengurangi ya nggak menghentikan. Gesekan dalam hubungan seksual masih bisa bikin kondom bocor dan perempuan hamil. Ingat Rachel dan Ross yang tiba-tiba jadi orang tua karena kondom bocor kan? Tak hanya itu, pelumas salah pun, kondom bisa langsung bocor. Ada dua macam pelumas oil based untuk skin to skin dan water based untuk yang menggunakan kondom. Jangan keliru, salah pelumas masa depan bisa hancur.

Kenapa saya gencar menginformasikan fakta-fakta ajaib tentang kondom, dari tentang anal seks dan kondom, sampai tentang bahan-bahan kondom? Pertama karena saya mendapatkan akses informasi, saya mendapatkan training tentang infeksi seksual menular dan HIV/AIDS. Sayang kalau ilmu saya cuma berakhir di otak saya, jadi lebih baik dibagikan. Kedua, karena seperti SBY, saya prihatin. Banyak teman-teman saya yang melakukan hubungan seks pranikah atau bahkan jajan dengan pekerja seksual tanpa pengaman. Bukan tugas saya menghakimi perilaku mereka, mereka toh manusia dewasa yang udah tahu apa mau mereka, tapi ketika mereka yang terpelajar ini mendadak jadi bodoh dan oon serta melupakan kondom, rasanya pengen diuyel-uyel deh. Nggak cuma pria yang menolak kondom, perempuan pun ada yang cukup bodoh dan menolak kondom karena ketidaknyamanannya, padahal kondom itu adalah satu-satunya alat kontrasepsi yang tidak merubah tubuh perempuan. Dengan kondom, badan perempuan nggak perlu berubah hormonnya seperti kalau nelan pil KB, suntik hormon. Tubuh juga gak tersiksa karena IUD yang cara memasukkannya pun sudah pengen bikin tutup telinga. Bayangkan, perempuan secara sadar membiarkan dirinya berhubungan dengan beberapa pria pada kesempatan yang berbeda-beda dan secara sadar memaparkan dirinya pada infeksi menular seksual hanya karena kondom dirasa tidak nyaman, kurang bodoh apa itu?

condom_vs_tampon706

Picture was taken from addfunny.com

Pemerintah dan Kondom

Bukan rahasia lagi kalau Ibu Menteri Kesehatan kita mendukung distribusi kondom ke berbagai pihak. Saya pribadi mendukung ini. Kenapa? karena mental orang Indonesia yang masih anti kondom. Asal ada kondom selalu diasosiasikan dengan seks pranikah, seks bebas ataupun homoseksual. Mentalitas ini yang harus dirubah, mengasosiakan kondom dengan hal negatif. Ada lagi perilaku menghakimi pasangan  homoseksual dan perilakuk seks mereka. Data membuktikan bahwa penyebaran HIV/AIDS terbanyak itu ada pada pasangan heteroseksual, bukan homoseksual. Nah lho?

Penderita HIV/AIDS yang banyak itu justru ibu rumah tangga. Lha kalau ini ibu rumah tangga baik-baik yang setia pada suaminya aja, darimanakah kira-kira dapat HIV/AIDS atau infeksi menular seksual lainnya? Ya dari mana lagi kalau gak dari bapak rumah tangga yang hobinya jajan, yang kalau dinas ke Jakarta pasti menyempatkan mampir ke utara Jakarta dan nggak pakai kondom. Entah karena tidak nyaman, tidak tahu dan tidak mau tahu fungsi kondom (karena anti kondom itu cool), atau karena emang mereka tidak punya akses pengetahuan terhadap infeksi menular seksual dan kondom. Tak hanya bagi-bagi kondom, bu Menteri harus mengedukasi para tukang jajan ini supaya lebih paham tentang resiko dan bisa memilih untuk mengurangi resiko.

Aktivitas Pranikah dan Remaja

Nggak bisa dipungkiri juga bahwa kegiatan seks pranikah di negeri ini emang cukup tinggi. Dari jaman saya sekolah dulu, kehamilan pranikah dan aborsi itu adalah hal yang biasa saya dengar. Catat ya, saya sekolah di Malang, kota biasa-biasa aja, bukan kota gaul. Banyak perempuan dari jaman saya dulu yang sudah sibuk berasyik masuk ketika usia belum memasuki 20, bahkan saya tahu beberapa teman yang melakukan aborsi ketika mereka belum lulus kuliah. Setelah aborsi langsung disuruh dokternya pulang, rahim baru diobok-obok, langsung disuruh pulang dari kabupaten Malang, naik bis ke Kotamadya Malang. Itu jaman saya sekolah, puluhan tahun lalu, ketika jaman Nanda dan Ahmed heboh bikin video Bandung Lautan Asmara.

Jaman sekarang, internet makin mudah diakses, film biru dengan mudahnya di download. Tifatul boleh aja bikin program internet sehat, tapi selalu ada banyak cara untuk mengunduh film porno dan mempraktikannya. Nggak ada yang bisa menghentikan anak-anak muda ini dalam mempraktikan keingintahuan mereka untuk mengeksplor seks. Rayuan maut selalu dilancarkan pria untuk membuat perempuan bertekuk lutut, tak hanya pria yang merayu, perempuan pun juga merayu pria. Ini udah hukum alam, dari jaman mama saya sekolah sampai jaman saya sekolah, selalu bisa menunjuk, siapa-siapa aja yang hamil di luar nikah. Anehnya, mereka selalu disalahkan karena kebodohan tidak mengeluarkan diluar, nggak pernah disalahkan karena tidak pakai kondom. Sementara, pendidikan seksual yang memadai tabu untuk diberikan dengan beribu alasan. Padahal informasi yang tepat adalah cara untuk mengurangi resiko. Anak-anak ini perlu dibuka matanya agar melek resiko infeksi sesual. Kalau masih nggak takut juga dan kalau agama pun ikutan gagal menghentikan mereka, ya sudah biarkan mereka melakukan, toh itu hidup mereka. Tapi beri mereka akses terhadap perlindungan. Setidaknya mereka bisa memilih, jalan mana yang mereka mau ambil, jalan aman atau jalan tidak aman.

Soal akses pengetahuan, berapa banyak sih dari yang anti kondom yang tahu cara buka bungkus kondom yang baik dan benar. Masih cara buka lho ya, belum cara pasang yang baik dan benar. Saya yakin, dari sekian banyak orang yang teriak nolak kondom itu, nggak semuanya tahu cara buka bungkus kondom dengan baik dan benar, apalagi cara pasang kondom. Yang saya mau garis bawahi, kalau dikasih kondom gratis dan anda pelaku seks pranikah, silahkan digunakan untuk keselamatan. Kalau nggak suka, buang aja. Gitu aja kok repot? Hidup udah ribet nggak usah ditambah ribet dengan kondom. Kondom itu bisa berguna banget, kalau otak emang niatnya menggunakan kondom untuk hal yang baik dan bisa juga menjadi tidak baik kalau emang niatnya udah nggak baik.

condom

Pictures was taken from http://www.69jokes.com

Saya ulang sekali lagi, di kantor saya ada puluhan orang yang tiap hari punya akses terhadap kondom gratis dan kami hanya membiarkan kondom-kondom itu berdebu hingga masa kadarluarsanya tiba. Entah mengapa kami nggak tertarik untuk mengambil kondom itu dan mencobanya. Mungkin karena kami tahu resiko seks pranikah, kami tahu resiko infeksi seksual menular, kami  menerima pengetahuan yang memadai tentang infeksi seksual menular dan kami memilih untuk tidak menuju jalan itu. Selain itu juga karena otak kami tidak mengasosiakan kondom dengan seks bebas, seks pranikah dan langsung iseng pengen nyoba kondom. Kami memilih mengasosiasikan kondom dengan perlindungan, sebagai benda yang mengurangi resiko penyakit seksual menular.

Lanjutkan bagi-bagi kondomnya ibu Menteri, saya mendukungmu untuk mengurangi resiko penyebaran HIV/AIDS! Kalau kemudian mereka pada ribut karena otak mereka memilih mengasosiakan kondom dengan seks pranikah ya biarkan saja, toh sudah pada besar, sudah seharusnya tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Tahukah kamu kalau para pekerja seksual di Filipina tidak menggunakan kondom karena dilarang agama?

Lupa Bahasa Ibu

Alkisah si Noni menulis tentang orang bermuka Jawa yang nggak bisa bahasa Jawa sama sekali, layaknya kacang lupa kulitnya. Tulisannya ada di sini. Si Noni juga meletakkan link blognya mbak Yoyen yang membahas orang Indonesia yang lupa bahasa Ibunya sendiri, bisa dibaca di sini . Dua tulisan di atas itu membuat saya terhenyak karena saya orang yang suka lupa kata-kata di dalam bahasa Indonesia dan rajin sekali menyelipkan bahasa Inggris di dalam kalimat. Kalau ada temen lama yang ketemu saya pasti langsung menghakimi bilang “kemenyek”, belagu, mentang-mentang lakinya bule sekarang kalau ngomong pakai bahasa Inggris terus, medok pula.

Di kantor, 99%  waktu saya digunakan untuk berbahasa Inggris dan terkadang membaca beberapa email gak jelas dalam bahasa Perancis. Dengan pasangan jiwa, kami ngobrol dalam bahasa Inggris  Irish, setiap hari. Kalau lagi smsan dengan mama kami kebanyakan berbahasa Indonesia. Biarpun bahasa Ibu saya bahasa Malang, saya sangat jarang ber “koen-koen” ria dengan Emes (di malang, ibu itu Memes).  Ketika bertemu teman gaul, bahasanya gado-gado, terkadang dalam satu kalimat ada bahasa Malang, Inggris dan Perancis (ini bahasa sandi saya kalau lagi membahas berapa harga yang layak). Saya bukan orang sombong yang sok-sokan pamer bisa beraneka rupa bahasa, buat saya kemampuan bahasa itu anugerah dan usaha yang nggak perlu dipamer-pamerkan, tiap orang kemampuannya beda-beda, jadi ya cuek aja dengan kemampuan diri sendiri. Jujur saja, saya mencampur bahasa karena saya sering LUPA kata-kata dalam bahasa Indonesia. Ini bukan lupa yang dibuat-buat karena saya pengen gaya kayak Cincau Lawrah, tapi ini lupa beneran yang menjadi semakin parah ketika usia bertambah. Biarpun pakai bahasa Inggris, logat saya tetep arema ya. Bahasa Inggris arema nggak ada matinya.

indonesia

Mencampur bahasa itu nggak bikin saya congkak, yang ada rasanya sedih, karena tahu ini terjadi karena otak yang terbatas. Saking terbatasnya saya suka colek kolega bule, hanya untuk tanya: “Bahasa Indonesianya ini apa ya?” atau kalau lagi di depan komputer saya tanya mbah google dulu.Keterbatasan ini kadang membuat saya takut, ngenes dan sedih. Masak nanya bahasa negeri sendiri mesti colek bule dulu atau buka google dulu. Saya sampai takut alzheimer karena dalam merangkai kalimat saya suka berhenti mendadak, karena lupa apa bahasa Indonesianya. Kadang malah berhenti total, karena nggak inget lagi ngomong apa. Habis itu tanya balik sama yang diajak ngomong “Aku lagi ngomong apa ya?”Parah….. Padahal saya ini menghabiskan hampir seluruh hidup saya makan nasi dan menjejak di negeri ini. Saking takutnya, saya sampai sampai bersumpah kalau punya anak, anak saya harus ngomong bahasa Malangan sama saya biar nggak lupa kulitnya dan biar saya sendiri nggak ikutan lupa. Niat mulia ini tapi dibarengi dengan fakta dahi yang mengernyit ketika melihat bahasa-bahasa yang digunakan para teman di di social media. Otak memerlukan sekian menit untuk menafsirkan maksud tersembunyi dari dari bahasa walikan tersebut.

Tapi saya tahu, bahasa itu masih tersembunyi di sudut otak saya. Setiap kali pulang ke Malang, saya butuh setidaknya satu sampai dua jam untuk menggali sudut otak dan mengeluarkan seluruh persediaan kata yang diam berjamur di sudut otak. Setelah penyesuaian, maka mulut pun lancar kembali berbahasa Ibu (maaf bahasa Ibu saya bukan bahasa Indonesia, tapi bahasa Malangan). Tapi tetep kalau di Jakarta, ngobrol sama temen, kata yang keluar dari mulut selalu bercampur dengan bahasa Inggris. Entah mengapa, tapi sungguh saya bukan sombong karena bisa bahasa Inggris, ini lebih karena otak saya yang terbatas aja. Bisa juga ini karena koleksi bahasa Indonesia saya yang lebih terbatas ketimbang bahasa Jawa dan Bahasa Inggris. Tapi bener lho banyak sekali kata dalam bahasa Jawa maupun bahasa Inggris yang tidak bisa dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

Kesimpulannya: saya, (ataupun mbak Farah Quinn) yang suka mencampur kata-kata Indonesia dengan Inggris ini nggak sombong kok. Kami nggak sok-sokan bahasa Inggris, tapi otak kami terbatas sekali dan ini (mungkin) karena kami terlalu sering berbicara bahasa Inggris. Biarpun mencampur bahasa Indonesia dan Inggris, hati saya masih 100% Indonesia kok. Otak boleh lupa bahasa Ibu sendiri, tapi hati nggak akan pernah bisa bohong, saya ini orang Indonesia Malang yang masih bisa menulis surat formal dalam bahasa Indonesia baku dengan baik dan benar dengan gaya PNS. Ini baru congkak?!

Ada yang suka lupa parah dengan bahasa ibu?

xx,

Tjetje

Mengunjungi Pulau Cheng Chau di Hong Kong

Tadinya, saya akan diajak ke sebuah pulau cantik, tapi karena kami tak menemukan dermaga keberangkatan (dan baru ketemu saat kembali),  kami secara random pergi ke pulau Cheung Chau di Hong Kong. Pulau ini bisa ditempuh dengan kapal cepat selama 20 menit saja. Soal ongkos jangan tanya karena kami hanya nempel-nempelin Octopus Card, kartu ajaib Hong Kong yang bisa dipakai buat bayar hampir apa saja.

Pulau kecil ini lumayan cantik  dengan pasir pantai yang besar layaknya di Lombok. Pasarnya dipenuni dengan ikan kering dan ikan asin hasil tangkapan para nelayan. Saya ini penggemar toilet publik, jadi begitu nemu toilet saya pun langsung masuk dan toiletnya bersih sodara-sodara. Bangsa yang beradab, buat saya adalah bangsa yang tahu bagaimana merawat toiletnya. Toiletnya kering, dilengkapi dengan tisu, nggak bau pesing dan flushnya pakai kaki, cukup injak pedalnya. Toilet untuk penyandang disabilitas juga tersedia lho. Rupanya ada mekanisme kontrol dari masyarakat untuk memonitor pelayanan yang diberikan kontraktor toilet dan ajakan itu ditempelkan di dalam toilet.

IMG_8178

Di dalam pasar nggak boleh merokok. Di banyak tempat di HK merokok memang dilarang

Image

Sepeda para nenek pun roda empat. Tengoklah di depannya ada bapak geret koper.

Kami tadinya berjalan berkeliling hingga menemukan persewaan  sepeda, lalu menyusuri pulau kecil ini dengan sepeda sewaan. Nyewa sepeda dibandrol dengan harga 20 HKD per jamnya, tapi perlu ninggal uang jaminan 100 HKD (sekitar 150ribu rupiah). Alat transportasi utama di pulau ini rupanya sepeda, tapi dilarang berboncengan, entah mengapa. Mungkin potensi jatuh, apalagi ketiup angin lebih gede ketika boncengan. Kalau nekat boncengan bisa didenda hingga 2000 HKD. Sadis!

Image

Satu hal lagi yang saya perhatikan, orang Hong Kong itu kalau kemana-mana suka bawa koper gede. Entah apa isinya, tapi dari Ngo Ping sampai restaurant top kami selalu menemukan orang yang bawa koper. Ada seorang bapak yang saya tengok bawa koper besar berisikan tabung oksigen dan si Bapak juga bernapas pakai kabel oksigen yang disambungkan dengan kopernya. Misteri isi koper lainnya hanya Tuhan dan sang pemilik koper yang tahu.

Makanan di pulau Cheng Chau tidak terlalu “murah”, kami membayar 100 HKD sekitar 120 ribu rupiah untuk makan siang berdua di warung biasa-biasa saja. Uniknya jus jeruknya asli jeruk, saking aslinya itu cuma jeruk yang dikupas lalu dicacah ke dalam gelas. Jadi minumnya pakai usaha karena nyari cairan. Seperti dibanyak tempat di Hong Kong, makanan halal susah ditemukan. Untungnya sapi juga tak banyak dilibatkan dalam menu makanan Hong Kong, jadi saya yang tak makan sapi pun bahagia.

Image

Warung Ikan Asin tanpa Ikan Hiu

Pulau ini bisa di jelajah dalam waktu singkat dan bisa langsung pulang hari. Kami kembali sekitar pukul 4 sore dengan feri lambat yang memakan waktu 40 menit. Worth the visit, lumayan cari angin segar, sebelum malamnya demam tinggi karena DBD.

IMG_8177

Public library dan penyandang difabel

Gimana ada yang berminat mengunjungi pulau kecil ini?

Nyasar Dramatik di Hong Kong

Gara-gara demam berdarah, jarak pandang tersisa  50 cm saja. Saya yang belum sadar kalau sedang terkena DBD tapi sadar sedang sakit, hanya bisa jalan perlahan menuju KJRI di Hong Kong. Mendadak, pasangan saya yang tadinya disamping hilang dari pandangan mata. Parahnya, saya tak punya kartu identitas, hanya memegang kartu Octopus (kartu tram di HK) serta uang 7 dollar saja. Baterai handphone yang saya pegang juga tinggal 15% sementara power bank dan semua dokumen ada di tas ransel yang dibawa pasangan. Mau lemes rasanya sudah tak bisa karena sudah lemas. Sementara otak tak bisa mikir dengan cepat.

Kami sudah keliling beberapa negara bersama dan baru kali ini terpisah sampai berjam-jam. Kok ya pas sebelum nyasar kami sempat diskusi kalau nyasar berjanji untuk diamdi suatu tempat. Sesuai instruksi, saya pun diam duduk hingga pukul 14.00 dan saya tak kunjung dijemput juga. Otak juga gak kepikiran untuk cari KJRI Indonesia, pokoknya duduk diam kedinginan di pinggir jalan macam homeless. Saking gemasnya, penjaga sebuah toko bahkan berniat panggil Polisi yang saya bilang tunggu hingga dijemput. Tak kunjung dijemput, maka sayapun berdiri dan cegat taksi tanpa uang satu sen pun, minta diantar ke Harbour Hotel Hong Kong. Pas ditanya alamat dimana, cuma bisa jawab: it’s a five stars hotel. Pengemudi pertama menurunkan saya langsung on the spot karena nggak tahu si hotel di mana. Pengemudi kedua berbaik hati mengantar saya, tapi ke hotel Harbour Hotel yang plus plus di daerah Mong Kok. Nggak dibayar pula, pas saya janji akan bayar saya minta nomer HP si bapak. Entah kenapa nomer telpon itu sekarang nggak ketemu di sudut celana. Duh merasa dosa banget karena belum bayar taksi dan nggak nemu nomer telpon si Bapak. Minta tolong sama resepsionis untuk dicariin Harbour Hotel yang sesungguhnya, dia nggak mau bantu. Alasannya: ” I just came back from UK, I don’t know”. Halah mas…

Akhirnya saya nelpon temen orang Indonesia sambil nunggu di lobi, tidur. Dijemput temen (aduh saya utang nyawa deh sama mbak Rosidah ini), dibawa ke MRT terus dibawa ke North Point. Sudah sampai di North Point, naik taksi ke Harbour hotel lagi, eh kembali lagi ke hotel yang sama, huhuhu pengen nangis banget. Sama si pengemudi saya dibawa muter-muter Mong Kok sampai argo taksi mencapai HKD 200. Dia teriak-teriak money…money. Uang 100 HKD pemberian teman saya simpan di dalam kantong dan tidak saya serahkan sampai saya tiba di hotel yang sesungguhnya. Akhirnya di pengemudi gemes, saya pun diserahkan ke pak Polisi. Sudah menyerahkan ke pak Polisi, si Pak Supir masih nekat teriak money…money. Oleh si Pak Polisi, si pengemudi di halau dan diomeli panjang lebar & saya pun dibebaskan dari ongkos taksi 200 dollar.

Pak Polisi lalu minta passport dan tentunya saya tak bisa tunjukkan. Minta Indonesian ID apalagi. Pusinglah pak Polisi. Saya cuma bisa bilang: five stars hotel calls Harbour Hotel. Nanya nomer HP yang bisa dihubungi, HP saya mati. Akhirnya dibawalah saya ke kantor polisi naik mobil polisi bersama pak Polisi. Serunya pak Polisi  memastikan saya pasang sabuk pengaman.

Tiba di kantor polisi, saya pun minta charger handphone dan dicarikan oleh pak Polisi. Begitu tersambung dengan charger saya pun langsung telpon minta dijemput di Mong Kong Police Station. Fiuh…..begitu dijemput rasanya lega. Biarpun dimarahin abis-abisan saya cuma bisa ngangguk-ngangguk sembari hampir nangis. Baru deh stressnya muncul. Hilang di Hong Kong dalam kondisi DBD bukan cita-cita saya.

Pelajaran berharga

Dalam setiap bencana orang lain harus ada pelajaran yang bisa diambil, pelajaran paling utama yang perlu anda ambil:

  1. Jangan terkena gigitan nyamuk DBD dimanapun, apalagi kalau mau liburan.
  2. Jangan pernah serahkan ID pada pasangan, lebih baik bawa sendiri.
  3. Catat baik-baik alamat hotel, apalagi kalau nama hotelnya pasaran. Hotel saya sendiri baru ketahuan namanya Harbour Grand dan lokasinya jauh dari hotel plus-plus.
  4. Pastikan bahwa baterai handphone ada isinya dan bawalah selalu power bank, rempong dikit nggak papa. Duh smartphone ini ngakunya smart tapi baterainya ancur-ancuran.

Saya sukses nggak makan dari jam 11 siang sampai ditemukan jam 8 malam. Jadi pastikan selalu ada makanan kecil di dalam tas, daripada kelaparan seperti saya.

  1. Image

    Biar nyasar masih bisa cengar-cengir kayak si Moose

Ada yang pernah nyasar di negeri orang?