Good Bye 2015, Hello 2016

The year 2015 is the year where few of my wishes (both the silly and the serious one) came true. Back to August 2014 when I attended the UNAOC Conference, I secretly wished that I could meet the first lady of that time. For me, the Instagram superstar was more interesting than any other world leaders. At exactly a year later, my wish came true. In August 2015, I had the chance to meet her and took selfie in the most stylist Javanese way. I supposed we never know how the universe works to make any dream and wish come true.

https://www.instagram.com/p/6vDoupQxvC/?taken-by=binibule

Another wish that I made is I wanted to attend upacara before leaving Indonesia. I made this silly wish because I miss the feeling of standing in an upacara. Again, I got what I wanted. My cool boss assigned me to attend Upacara Hari Pramuka in Monas. The happy me sitting in a front row until few people tapped my shoulder to tell me that the seat is reserved for someone else. Poor me, I had to flash my badge to few different people in order to tell them that I am indeed from that institution. I guess this people did not expect a young petite Indonesian lady. Perhaps, again perhaps, they were expecting someone tall with fair complexion who can’t speak an Indonesian word to sit there. Funnily, it wasn’t there first time that people doubt my affiliation during a formal event. Again, perhaps people are not aware that Indonesian woman could work in an international organisation. D’oh.

https://www.instagram.com/p/6WPFNrwxhX/?taken-by=binibule

This year, my wish to visit Banda Neira was also materialised. I received a fabulous invitation to go to a luxurious trip to see the underwater creatures and the historical places. The morning walk around the island was lovely, the underwater was superb and the seafood was just succulent. One thing that I could not forget is of course the unbroken sun that made everything so beautiful. Oh how I miss the sun! Darn it winter!

https://www.instagram.com/p/2McgaswxsI/?taken-by=binibule

The year 2015 also taught me that there is always good bye in a hello. After more than four years of working in the institution, I had to leave in order to join my other half in Ireland. It was not an easy farewell, but that’s what life is. The new life in Ireland is surprisingly an easy one, though I dearly miss the spicy food that I used to dislike. If I could share one good thing to do in the next year, is to stop gluing your eyes to your gadget and do enjoy every single second that you have with your lovely friends, family and colleagues while they are still there beside you. You never know when you have to bid them farewell and when the time arrives, it sucks!

Have a lovely New Year’s Eve Celebration everyone. I hope all your wishes come true!

Bono Mengamen di Dublin

Sebelum baca postingan ini, saya sarankan untuk baca dulu postingan ini yang membahas masalah sosial di Irlandia termasuk gelandangan. Gelandangan ini masalah sosial di banyak kota besar, termasuk di Dublin. Nah, setiap kali Natal, banyak badan amal yang mengumpulkan dana untuk para gelandangan ini, termasuk Simon Community. Mereka punya satu ritual tahunan setiap Christmas Eve yang melibatkan penyanyi Irlandia untuk mengamen. Tak hanya untuk mengumpulkan uang bagi para gelandangan, acara ngamen ini juga untuk menghibur para gelandangan supaya pada saat Christmas Eve mereka tidak kesepian.

https://www.instagram.com/p/_ruHYXwxtv/

Ngamen ini secara rutin diadakan dari jam lima hingga jam tujuh malam, di Grafton Street, shopping street-nya Dublin. Grafton Street ini mirip dengan Champs Elysee di Paris, tapi jauh lebih kecil dan tentunya dengan toko-toko yang lebih sederhana. Di sepanjang jalan yang tak boleh dilalui kendaraan ini bisa ditemukan tak hanya pusat perbelanjaan seperti Brown Thomas dan Marks and Spencer, tetapi juga toko gelato yang selalu ramai pada saat hujan sekalipun dan para pedagang bunga tradisional. Yang menarik, di ujung jalan ini terdapat gerbang St. Stephen’s Green, taman terkenal di Dublin. Nah gerbang ini mirip dengan Arc de Triompe  di Paris, hanya ukurannya jauh lebih kecil dan tentunya tak bisa dinaiki.

https://www.instagram.com/p/4FCwBRQxoM/?taken-by=binibule

Selain ukurannya, yang membedakan Grafton Street dengan Champs Elysee adalah suasananya. Grafton bagi saya jauh lebih meriah karena kehadiran para artis jalanan dan juga pengamen, dari pengamen ecek-ecek hingga pengamen yang suaranya keren. Mereka yang sudah menelurkan album pun tak segan untuk ngamen disini. Ada banyak pengamen keren di Grafton Street dan salah satu lulusan terbaiknya adalah Glen Hasard yang pernah dapat Academy Award dari film Once.

Glen Hasard dan Bono termasuk dua orang penyanyi yang rutin ngamen untuk para gelandangan. Dan jika tahun lalu Bono absen karena tangannya patah, tahun ini Bono muncul kembali ditemani dengan Glen Hasard, The Script, Ronan Keating, Hozier, Kodaline, juga Imelda May serta Liam O’Maonlai. Beberapa nama mungkin tak terdengar populer di telinga orang Indonesia, karena mereka penyanyi lokal. Para pengamen beken ini berdiri di panggung kayu yang tingginya kira-kira hanya 20 atau 30 cm. Buat saya panggung ini seadanya banget, masih bagus panggung dangdut saat 17-an di kampung-kampung di Indonesia.

Beruntungnya, saya bisa berdiri di dekat panggung karena datang sebelum Bono muncul. Begitu Bono datang, para pasukan pengaman dan Polisi (Gardai dalam bahasa Irlandia) langsung ribet meminta orang-orang untuk mundur dan menguasai pinggiran panggung. Yang lain mundur, saya pun nyelip-nyelip mendekat ke depan. Berdiri di belakang saya bayangkan tak akan menyenangkan. Selain tertutup punggung para penonton yang rata-rata jauh lebih tinggi saya mungkin tak akan bisa mendengarkan ciamiknya suara para penyanyi ini, karena mereka mengamen tanpa microphone.

Beberapa penyanyi sudah menyiapkan lagu-lagu yang akan dinyanyikan. Bono misalnya menyanyikan Every Breaking Wave yang salah satu liriknya diganti dengan Grafton Street, sementara Hozier menyanyikan Take Me to the Church. Ronan Keating, yang pernah jadi asisten di sebuah toko sepatu di Grafton Street, tak menyiapkan lagu yang akan dinyanyikan. Jadi sebelum nyanyi ia masih repot nanya lagu apa yang hendak dinyanyikan. Nggak hanya Ronan, Imelda May bahkan nanya lagu ke penonton, google lirik dan nyontek dari handphone. Danny O’Donoghue, vokalis The Script pun nanya ke publik mau lagu apa lagi, sebelum akhirnya menyanyikan Hall of Fame. Nyatai dan tanpa jarak.

https://www.instagram.com/p/_r6kKawxuc/?taken-by=binibule

Pengumpulan dana sendiri dilakukan secara casual. Bahkan para artis sempat kebingungan mencari wadah untuk menampung koin. Tak ada yang merelakan topinya digunakan untuk menampung koin, karena takut topi tersebut tak dikembalikan. Baru ketika ada penonton yang memberikan tas kecil koin-koin pun dikumpulkan dan entah dari mana tiba-tiba topi Santa (yang dibenci sebagian kecil orang di Indonesia) bermunculan untuk menampung koin. Sungguh sebuah fund raising yang brilliant dan sederhana.

Postingan ini menjadi postingan terakhir dalam bahasa Indonesia di tahun 2015 ini. Tahun depan, saya akan kembali dengan tulisan “Dear Bule Hunter” edisi musim dingin yang akan muncul pada tanggal 4 Januari.

Selamat Tahun Baru 2016, apa harapanmu di 2016?

Xx,
The the

Tradisi Natal di Dublin

Setiap kali menjelang Natal di Indonesia, selalu ada keributan urusan memberi ucapan selamat Natal atau tidak kepada mereka yang merayakan hari raya Natal. Ribut-ribut ini, seingat saya tak pernah mencuat ketika saja kecil dan beranjak besar. Baru belakangan ini saja terjadi. Jengah dengernya, urusan memberi ucapan selamat Natal aja mesti ribut-ribut panjang.

Di Irlandia, untungnya, tak ada ribut-ribut memberi ucapan selamat. Yang ada semua orang repot belanja hadiah Natal, berbagi dengan charity favorit dan tentunya makan…makan…makan…makan dan makan lagi sampai perut rasanya mau meledak karena tiap hari makan besar. Selama bulan Desember ini undangan untuk makan malam memang jauh lebih banyak ketimbang bulan-bulan biasanya, persis seperti undangan buka puasa saat bulan puasa. Bedanya, porsi makan disini biasanya sudah ditentukan dan tidak buffet seperti di Indonesia. Makan malam pun termasuk makanan pembuka, makanan utama dan juga pencuci mulut, lalu ditambah dengan teh atau kopi, mince pie (pie khas Natal) serta biskuit-biskuit. Biskuit-biskuit yang disajikan di bulan ini juga berlapiskan coklat. Kaya kalori deh!

Mince Pie Telegraph

Photo courtesy of telegraph.co.uk

Selain Christmas Parties, Natal juga identik dengan tradisi mengirimkan kartu Natal. Tradisi yang di Indonesia, menurut saya, sudah punah. Dari bulan November lalu, kantor pos juga sudah memberi jadwal kapan tanggal terakhir kartu-kartu Natal bisa dikirimkan supaya kartu bisa tiba tepat waktu. Seringkali, kartu Natal juga diberikan langsung ketika bertemu. Kartu-kartu ini kemudian dipasang sebagai bagian dari hiasan Natal. Tahun ini untuk pertama kalinya saya belanja kartu Natal di Irlandia, setelah beberapa tahun sebelumnya membawa kartu dari Indonesia. Menariknya, ada banyak pilihan kartu yang dikeluarkan oleh organisasi-organisasi amal dan pilihan saya tahun ini jatuh pada Irish Cancer Society.

https://www.instagram.com/p/_XFe3Qwxus/?taken-by=binibule
Bûche de Nöel atau biasa disebut juga dengan yule log. Makanan pencuci mulut khas Natal di Perancis

Tradisi bertukar hadiah juga masih dijalankan saat Natal. Tak hanya di antara anggota keluarga dan teman, tetapi juga untuk tetangga, terutama anak-anak kecil. Saya sendiri tak kenal tetangga, jadi relatif aman dari memberi hadiah *ngeles*. Yang saya heran, memberi kado Pak Pos bukanlah hal yang umum. Padahal kalau ada orang yang pengen banget saya kadoin ya mereka. Hujan badai mereka masih tetep antar surat lho. Dedikatif bener. 

Satu hal yang khas dari pusat kota Dublin adalah Bono mengamen di jalan untuk beramal. Tak hanya Bono saja, tapi ada banyak artis-artis dari Irlandia yang mengamen di Grafton Street, jalanan terkenal yang juga pusat belanja di Irlandia. Jalanan ini pernah saya sebut dalam postingan tentang para gelandangan di sini (Kapan-kapan saya akan bercerita banyak tentang jalanan ini.). Tahun ini saya berencana untuk menonton mereka ngamen dan semoga saja cuaca Dublin yang sering hujan mengijinkan.

Bono Charity

Photo: independent.ie

Bicara tentang Natal tentunya tak bisa lupa dengan gereja yang merupakan bagian utama dari Natal. Menjelang Natal di Katedral Christchurch di Dublin, biasanya diadakan carol service untuk para anjing. Anjing-anjing, yang kebanyakan adalah anjing yang memberikan pelayanan  atau terapi serta membantu penyandang disabilitas dibawa ke Katedral untuk mendapatkan pemberkatan khusus. Tahun depan, saya sudah berencana untuk menghadiri carol service ini, walaupun tak punya anjing dan tahun ini pengen banget dikasih anjing sebagai hadiah Natal *gak bakalan terwujud*.

https://www.instagram.com/p/-62y5aQxhs/?taken-by=binibule

Menu khas Natal sendiri di Irlandia gak menarik, cenderung meh dan tidak saya nanti-nantikan. Kebanyakan keluarga menyajikan kalkun dengan ham, dikombinasikan dengan gravy, kentang tumbuk,  brussel sprouts dan yorkshire pudding. Perlu dicatat, menu makanan ini biasanya hambar, tanpa rasa. Sejujurnya Natal ini saya ingin makan nasi kuning lengkap dengan aneka lauk pauk pelengkapnya, pecel dengan mendol, atau nasi jagung dengan sayur santan dan ikan asin. *hasyeeeem*.

Selamat Natal 2015 bagi semua rekan-rekan yang merayakan.
Dari jauh saya berdoa semoga Natal di Indonesia lancar dan damai.

xx,
Tjetje
Akan kembali ngeblog tanggal 27 esok. 

Search Term Ajaib

Bagi saya, melakukan pencarian melalui google merupakan kebebasan masing-masing individu, tapi sebagai manusia saya tak tahan tak bisa tertawa (dan juga prihatin) membaca beberapa kata kunci yang ajaib. Tahun 2015 ini, search term masih tetap dihiasi dengan para bule hunter, baik perempuan maupun pria, dengan kata kunci: tante bule, bule perempuan, hingga punya istri bule dan tentunya PIN BB bule.

Ilustrasi diambil dari google

Ilustrasi diambil dari google

Masih juga ya rajin nyari PIN BB bule dan masih juga pakai blackberry. Daripada repot googling cari PIN dan gak dapat, bukankah mendingan keluar rumah, menjalin pertemanan dan membuka jaringan yang luas. Kalau emang ngebet banget pengen dapat bule, mbok ya pakai usaha sedikit yang lebih keras dari sekedar googling. Kalau perlu nongkrong di kantor-kantor imigrasi.

Selain urusan pacar bule, ada banyak search term lucu-lucu yang seperti biasa akan saya komentari dan saya jawab. Semoga mereka yang pernah googling dengan kata-kata ini kembali melakukannya dan bisa menemukan jawabannya.

Rumah di Eropa kok bagus?

Saya tak tahu apa definisi rumah bagus. Mungkin saja rumah bagus adalah rumah-rumah yang dilihat di televisi ataupun foto-foto cantik lainnya. Gambar-gambar cantik tersebut tentunya kurang menggambarkan keseluruhan kondisi sosial semua masyarakat di Eropa, terutama yang berada di kawasan rumah-rumah sosial dan bergantung pada tunjangan sosial.

Jika dibandingan dengan di Indonesia, pembangunan rumah disini, terutama di daerah perkotaan, memang lebih tertata. Jauh berbeda dengan rumah di Indonesia yang dibangun secara mencicil ketika ada kayu ataupun semen. Tapi percayalah rumah yang berantakan, yang dalamnya gak karu-karuan ada banyak. Padahal rumah di Eropa itu relatif kecil (jadi lebih mudah dibersihkan) jika dibandingkan dengan rumah-rumah di Amerika. Orang tak punya rumah di negera-negara Eropa, apalagi di Dublin, juga banyak. Baca postingan ini kalau tak percaya.

Kenapa bule susah diajak nikah

Sebab bule bukan orang Indonesia yang gerah sendiri lalu cepet-cepet kawin karena kupingnya panas keseringan disindir soal usia yang sudah di atas 25 tahun tapi belum ada “yang ngurusin”. Keputusan untuk kawin itu mesti dipikirkan dengan matang-matang dan gak asal kawin karena usia udah mendekati kepala 3. Lagipula, biaya kawinan itu tak murah, sehingga perlu dipersiapkan dari jauh-jauh hari sebelumnya. Dalam budaya barat jarang sekali yang mengenal gotong royong Engkong, Tante, Encing, apalagi rekanan bisnis untuk bayar biaya kawinan.

Bagi bule yang memiliki pasangan dengan kewarganegaran berbeda, perkawinan juga mesti disiapkan dengan matang, apalagi jika menyangkut visa. Baru kenal dua hari, dua minggu, atau bahkan dua bulan lalu kawin, akan menjadi pertanyaan besar bagi kantor imigrasi di negara-negara tertentu. Akibatnya, kesulitan mendapatkan visa tinggal. Biaya visa juga bukan hal yang murah, apalagi bagi mereka yang memiliki pasangan orang Australia. Silahkan digoogle berapa biaya visa spouse untuk yang pasangannya orang Australia.

Menikah dengan bule yang lebih tua 30 tahun

Kalau memang mau kawin dengan orang yang usianya di atas tiga puluh tahun dan siap dengan segala tantangannya kenapa tidak? Tantangannya aneka rupa, dari mulai dilihatin orang setiap saat karena disangka bapak dan anak, dihujat karena tidak pantas bagi sebagian masyarakat, dituduh matre, hingga tantangan internal seperti beda pemikiran dan selera hingga tiga dekade. Yang satu generasi saja sering beda, apalagi yang bedanya tiga dekade. Pikirkan juga nanti orang tua manggil menantunya apa? Nggak mungkin manggil nak kan kalau umurnya sepantaran.

Screen Shot 2015-12-16 at 11.50.29

Jampi-jampi biar tidak di keluarkan dari pekerjaan

Screen Shot 2015-12-16 at 11.57.21

Dari semua search term, ini yang paling epic. Siapapun yang melakukan ini, saya sungguh salut dengan segala idenya. Sebagai hadiah, saya beri jampi-jampi yang paling mujarab. Sebelum baca jampi-jampi ini, sediakan cermin yang sudah di lap dengan kain bersih, semakin besar cerminnya juga semakin bagus. Lalu lihat baik-baik wajah di cermin tersebut sambil ucapkan jampi-jampi ini:

“Duhai segala kekuatan di muka bumi ini, berikanlah saya kemampuan untuk bekerja dengan baik. Berikanlah saya kemampuan untuk fokus bekerja dan tidak sibuk cari jampi-jampi di internet, buka-buka facebook, twitter, mainan candy crush, apalagi baca blog binibule saat jam kerja. Jauhkanlah saya dari rekan kerja yang suka buang-buang waktu dengan ngerumpi tak jelas tentang gosip kantor. Kalaupun saya melakukan hal tersebut di atas, jangan biarkan atasan saya mengetahui, apalagi orang IT yang bisa baca sejarah penggunaan internet di masing-masing komputer ”

Dasar kempluk* jaman kayak gini kok masih nyari jampi-jampi. Nyarinya pun di internet. Kalau mau nyari jampi-jampi itu modal sedikit lah ke Ki Joko Bodo atau para Ki-Ki yang lainnya.

Selamat hari Senin, habis ini libur. Hore!!!

Xx,
Tjetje
*kempluk: Bahasa Jawa yang tak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia.

Manajemen Sampah di Dublin

Banyak orang yang berpikiran bahwa kawin dengan bule itu enak. Hidup di luar negeri juga dianggap sangat enak, tinggal leyeh-leyeh, bisa gaya-gaya pakai Fendi kayak Ibu Irina (eh membanggakan si ibu pakainya Fendi bukan LV), dan menjadi nyonya besar. Padahal, hidup di luar negeri itu tak semudah hidup di negeri sendiri karena banyak hal yang harus dipelajari, dari mulai bahasa, sistem transportasi, administrasi kependudukan hingga yang paling remeh seperti sampah.

Di Indonesia, urusan sampah tergolong mudah, plastik, kertas hingga sisa makanan dicampur semua menjadi satu. Pemilah-milahan sampah kemudian dilakukan di pusat pembuangan akhir dan melibatkan berpuluh, atau bahkan beratus-ratus pemulung. Manajemen sampah yang buruk ini tak hanya mengancam kesehatan pemulung tapi juga masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Ah entah kapan Indonesia berhenti membuat gunungan sampah seperti yang diabadikan CNN ini:

a62bf32e-022e-4723-8ea8-b4be8f14a276_169

Di Dublin, saya harus ‘riset’ terlebih dahulu untuk menentukan perusahaan mana yang akan saya percaya untuk menangani urusan sampah. Ternyata, sebelum memilih perusahaan sampah, kita harus tahu dulu, berapa kira-kira sampah yang akan kita buang setiap bulannya. Dari situ, perusahaan baru bisa memberikan penawaran harga. Harganya beraneka rupa (informasi harga sengaja saya cantumkan supaya mereka yang akan pindah ke Dublin bisa membuat perkiraan biaya untuk hidup di Dublin) dari 17€ per bulan hingga 24€. Harga termahal memberikan fleksibilitas untuk membuang sampah sebanyak-banyaknya, sementara harga yang paling murah memberikan batas yang dihitung berdasarkan kilogram. Tak heran kalau kemudian banyak keluarga yang tak membeli jasa sampah dan membuang ataupun membakar sampah di lapangan-lapangan terbuka *noh bule bisa jorok juga kan!*

Kepusingan ini masih ditambah dengan urusan pemilah-milahan sampah. Di sini, sampah dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan warna. Sampah warna hijau, sampah warna coklat serta hitam. Prinsip pembagian sampah ini sebenarnya sangat sederhana, sampah hijau berarti bisa didaur ulang, sampah coklat merupakan sisa makanan yang kemungkinan bisa diolah menjadi kompos, sedangkan sampah hitam merupakan sampah yang tak bisa diapa-apakan.

Ilustrasi pembagian sampah seperti ini:

what_goes_to_my_bin

Sampah warna coklat termasuk yang termudah dipahami, karena isinya hanya kulit telur, sisa sayur, atau sisa makanan lainnya. Yang agak membingungkan adalah sampah hitam dan hijau. Tadinya saya pikir semua yang berbentuk plastik dan terlihat seperti kertas bisa didaur ulang. Tapi rupanya, wadah ayam, ikan, daging sapi ataupun daging babi yang dibeli dari supermarket tidak bisa didaur ulang (disini, wadah ikan yang dibeli di supermarket ditempatkan dalam film plastik dan tidak menggunakan Styrofoam seperti kebanyakan supermarket di Indonesia). Yang mengejutkan, gelas-gelas dari restauran cepat saji rupanya juga tak bisa didaur ulang.

Beberapa hari ini saya sudah pusing urusan sampah, karena tak ada informasi yang jelas dimana harus membuang botol-botol dan sampah kaca. Rupanya, botol-botol ini tidak termasuk dalam tiga warna tersebut. Mereka harus dikumpulkan disetorkan ke tempat tertentu. Begitu juga dengan baterai yang biasanya bisa dibuang dikotak-kotak yang disediakan di supermarket. Halah sudah bayar mahal-mahal, gak semua sampah diangkut pula.

Masing-masing rumah tangga yang berlangganan sampah mendapatkan tempat sampah beroda sesuai kebutuhan masing-masing. Pada hari-hari tertentu wheelie bins ini akan diambil isinya. Hebatnya, jadwal pengambilan sampah selama satu tahun ke depan sudah dibagikan dan satu hari sebelum pengumpulan sampah ada sms yang mengingatkan. Dalam satu bulan, sampah ini hanya dikumpulkan sebanyak dua atau tiga kali saja dan petugasnya muncul sesuka hati, kadang pagi sekali, kadang siang sekali. Makanya, wheelie bins ini harus dikeluarkan malam hari, supaya tak ketinggalan truk penjemput sampah. Yang tak menggenakkan, ketika ada angin kencang, tempat sampah ini bisa berterbangan. Satu kebiasaan yang sudah lama saya terapkan dan ternyata berguna adalah meremas botol hingga pipih (botol plastik tentunya, bukan botol kaca #bukanAhliDebus) dan melipat-lipat kertas. Kebiasaan ini membuat kapasitas tempat sampah bisa maksimal.

Ketika tahu betapa ribetnya urusan sampah di Dublin, saya kemudian baru paham kenapa ada orang yang kreatif bikin tempat sampah keren seperti ini:

24758_4

Tempat sampah cantik yang dilengkapi dengan pengharum ini dijual di Brown Thomas, departemen store, terkemuka di Dublin seharga 300€ saja. Sementara di Amazon UK, tempat sampah ini ditawarkan dengan harga yang jauh lebih murah. Ah coba apa tempat sampah ini ada di Indonesia, pasti KWnya sudah berkeliaran dibawa para pedagang ember plastik yang sering teriak-teriak di depan rumah sambil menghantam-hantamkan dagangannya sambil berteriak: “anti pecah, anti pecah”.

Bagaimana kalian memilah sampah?

xx,
Tjetje

Sarapan Pagi Khas Irlandia

Banyak yang penasaran orang bule makannya apa dan seringkali mereka googling lalu nyasar ke blog ini. Daripada tak mendapatkan jawaban, maka ada baiknya saya berbagi tentang sarapan orang Irlandia. Selain kentang, orang bule juga makan nasi, pasta, mie dan juga roti. Mereka tak selalu makan roti, karena dunia sudah lebih terbuka dan kuliner negara-negara lain bisa ditemukan dimana pun dengan mudahnya. Bahkan, mencari restauran Indonesia di Irlandia pun bisa. Tapi rasanya ya gak sama kayak rasa warteg yang lebih menggigit, karena kebanyakan micin.

Bicara tentang makanan tak bisa lepas dari sarapan, makanan paling penting untuk tubuh. Di Irlandia, sarapan yang cukup terkenal adalah full Irish breakfast. Sarapan tersebut terlihat seperti ini:

https://www.instagram.com/p/77VSnWQxun/?taken-by=binibule

Sarapan porsi jumbo ini berisi rasher, atau bacon goreng (ada di bawah roti), sosis Irlandia (Irish sausage) serta puding hitam dan putih (black and white pudding) yang juga digoreng. Di foto tersebut tidak ada gambar pudding karena saya kurang suka. Kemudian ada tomat yang dipanggang, disertai dengan telur yang dimasak sesuai keinginan (bisa diorak-arik, atau telur mata sapi; jangan harap bisa dapat telur mata sapi yang super matang ya), serta ‘oseng-oseng jamur’. Tak lupa disertakan juga kacang merah (beans) serta roti (biasanya soda bread) untuk menemani keriuhan piring di pagi hari. Beberapa tempat juga suka menyajikan hash brown potato, kentang pipih berbentuk oval yang digoreng. Supaya tidak tersedak, karena kebanyakan minyak di dalam sarapan ini, segelas kopi dengan susu ataupun teh dengan susu disajikan untuk menyempurnakan. Terkadang segelas jus jeruk juga ikut menemani.

Ada sedikit kemiripan antara orang Irlandia dengan orang Indonesia untuk urusan sarapan, yaitu sama-sama sarapan gorengan. Bedanya, di Indonesia yang digoreng adalah tahu, pisang, aci, ataupun bakwan. Dan tentunya, gorengan di Irlandia tidak dibungkus kertas bekas, apalagi digoreng minyak yang bercampur plastik.

Bagi orang Indonesia, porsi sarapan orang Irlandia memang luar biasa. Porsi seperti ini bahkan mengalahkan porsi kuli. Namun harus dipahami bahwa orang Irlandia, terutama di masa lalu, kebanyakan bertani, sehingga memerlukan energi yang luar biasa untuk bisa melakukan pekerjaannya. Apalagi, cuaca di Irlandia cenderung dingin. Walaupun sarapannya jumbo, makan siang bagi orang Irlandia cenderung porsi kecil, hanya roti lapis yang berisikan ham, telur, tuna, ataupun sedikit ayam.  Baru pada saat makan malam mereka bisa makan dalam porsi yang agak besar. Sebagai ilustrasi, foto di bawah ini menggambarkan makan siang saya:

https://www.instagram.com/p/3_enxrQxtw/?taken-by=binibule

Tidak setiap hari orang Irlandia sarapan pagi seperti itu. Wah kalau seluruh Irlandia sarapan seperti itu otomatis rumah sakit akan dipenuhi dengan pasien-pasien sakit jantung karena ada serangan jantung nasional. Sarapan  mereka tak jauh-jauh dari sereal, roti dengan selai dan juga buah-buahan. Tapi yang saya perhatikan, menu yang ditawarkan pada saat sarapan pagi di hotel-hotel di Irlandia, dari B&B sampai hotel berbintang hanya  Irish Breakfast (full ataupun mini; porsi mini biasanya  lebih bersahabat), sereal, atau buah-buahan (dan seringkali buah kaleng). Jauh berbeda dengan sarapan pagi di hotel-hotel di Indonesia yang berlimpah dan kadang ditemani dengan nasi liwet, soto Banjar, nasi pecel, bubur ayam atau aneka rupa makanan nusantara yang menggiurkan.

Sarapan khas Irlandia ini tak hanya ditemui di hotel-hotel, tapi juga di pub, ataupun cafe-cafe kecil. Harga yang ditawarkan beraneka rupa, dimulai dari harga sekitar 7€ hingga puluhan Euro. Salah satu pemecah rekor untuk Irish breakfast termahal adalah Westbury Hotel yang menawarkan sarapan dengan harga 25€ saja. Sudah mahal, kopinya pun tak gratis.

Tulisan ini diinspirasi oleh Zilko yang baru saja berkunjung ke Irlandia Utara (Terimakasih Zilko). Di Belfast, Zilko menikmati sarapan pagi serupa yang disebut ulster fry. Yang membedakan ulster fry dengan Irish Breakfast adalah roti yang menyertainya. Ulster Fry diberi soda bread yang dipanggang dan berbentuh pipih yang lazim disebut sebagai griddle bread. Pada prinsipnya griddle bread ini bahannya sama dengan soda bread, hanya proses pemanggangannya dan bentuknya saja yang berbeda. Tak heran kalau griddle bread sering disebut juga sebagai soda bread. Silahkan tengok postingan Zilko di pranala ini.

Sarapan apa tadi pagi?

xx,

Tjetje

Sarapan soto ayam

Santy Claus

Di Irlandia, negara yang mayoritas penduduknya Katolik ini, perayaan Natal selalu meriah. Pusat-pusat kota dihiasi dengan lampu-lampu cantik sehingga membuat musim dingin yang kelabu menjadi sedikit lebih menyenangkan. Tak hanya dipenuhi dengan undangan untuk belanja hadiah-hadiah Natal bagi mereka yang terkasih, Natal juga menjadi ajang berbagi bagi yang kurang mampu. Pusat kota dipenuhi dengan sukarelawan dari berbagai organisasi, dari yang fokus pada anjing hingga gelandangan. Tak hanya membawa kotak-kotak permintaan sumbangan banyak dari mereka juga menyanyikan lagu-lagu Natal untuk menarik sumbangan.

Selain berbagi, tradisi lain yang sangat kental di Dublin adalah melihat boks bayi yang menggambarkan kelahiran Yesus, dari yang statis hingga yang bisa bergerak sendiri. Tradisi ini, kendati terdengar kuno, masih dijalankan oleh banyak keluarga. Tahun ini, untuk pertama kalinya saya menengok Dublin moving crib.

https://www.instagram.com/p/-62y5aQxhs/?taken-by=binibule

Selain berbagi, Natal juga identik dengan Santa Claus. Di Irlandia, Santa berubah nama menjadi Santy Claus. Urusan perubahan nama ini tak penting, karena toh Santa, atau Santy hanya ada dalam imajinasi anak-anak. Bicara tentang  imajinasi, disini (dan juga di banyak negara) orang tua dan juga institusi resmi menanamkan dengan kuat keberadaan Santy. Dalam bahasa saya sih: seluruh elemen di Irlandia bekerjasama bersama untuk membohongi anak-anak untuk mempercayai Santa hingga tak ada ruang untuk tidak mempercayai bahwa Santa tidak ada.

Kantor Pos Irlandia misalnya, meletakkan sebuah kotak pos di dekat pintu utamanya yang dikhususkan untuk Santa. Kotak pos yang diletakkan di depan pohon Natal ini setiap harinya dipenuhi dengan aneka rupa surat permohonan dari anak-anak di Irlandia. Entah berapa jumlahnya, tapi kalau saya mau ambil perkiraaan, satu persen saja dari jumlah anak-anak di Irlandia, maka setidaknya ada 10ribu surat untuk Santa. (Catatan: 25% penduduk Irlandia adalah anak-anak; jumlah mereka tahun 2011 lebih dari 1 juta jiwa dan Irlandia merupakan negara dengan populasi anak tertinggi di Eropa). Jangan dibahas lagi berapa banyak kertas yang terlibat, apalagi pohon yang tertebang.

https://www.instagram.com/p/-gP7pKQxue/?taken-by=binibule

Bagi saya kotak pos itu sangat mencengangkan. Tapi dari hasil ngobrol-ngobrol dengan seorang kenalan dari Amerika Latin (yang sama kagetnya dengan saya), Menteri di Irlandia pun pernah ikutan bohong tentang keberadaan Santa secara resmi. Menteri ini pada tahun 2013 meyakinkan anak-anak bahwa kementeriannya memastikan Santa akan datang ke Irlandia. Kementerian juga menambahkan bahwa Santa tidak akan dikenakan biaya kelebihan bagasi serta dibebaskan dari visa. Tak hanya Santa, logistik untuk Rudolph juga telah disiapkan. Berita ajaib ini dimuat di dalam koran dan bisa dibaca disini. Kenalan saya ini juga mengatakan bahwa radio di Irlandia menjelang Natal akan memutar suara kereta Santa untuk semakin meyakinkan kedatangan Santa pada saat Natal.

santa does not exist

Maka jangan heran jika jendela rumah di Irlandia dipenuhi ajakan dan hiasan bagi Santa untuk mampir. Beberapa poster kecil bahkan menuliskan nama anak-anak yang tinggal di rumah itu. Agak mengerikan bagi saya, karena penculik anak bisa dengan mudahnya mengetahui nama anak. Worth it kah kebohongan ini mengingat satu hari nanti, ketika anak-anak yang polos ini beranjak lebih besar, mengetahui bahwa Santa tak pernah ada. Mereka akan patah hati dan kecewa, karena imajinasi serta harapan-harapannya ternyata hanya tipuan orang tua dan institusi di sekitar mereka. Mereka akan mengetahui bahwa Guinness (di banyak tempat Santa diberi susu, tapi di beberapa rumah, Santa diberi Guinness!!!), kue kering serta wortel yang disiapkan untuk rombongan Santa ternyata dimakan oleh Bapaknya. Bahwa kekacauan disekitar cerobong asap disiapkan oleh ibunya. Dan tentunya hadiah-hadiah yang hanya boleh disentuh pada pukul tujuh pagi ternyata bukan dari Santa, tetapi dari orangtuanya.

Tapi konon, semua ini sepadan dan merupakan pembelajaran yang berarti, karena hidup pada dasarnya dipenuhi dengan imajinasi, patah hati, kebohongan dan kekecewaan. Dan saat yang tepat untuk belajar tentang ini semua ya pada usia dini. Yang jelas, bagi sebagian besar orang tua, kebohongan ini sangat berguna karena bulan ini, mereka dengan mudahnya bisa membuat anak mereka menurut. Jika tak menurut, mereka cukup  mengancam tidak akan ada hadiah dari Santa untuk  anak nakal. Hanya pada bulan Desember saja, karena setelah Natal, anak-anak bisa kembali tidak menurut.

Pernah percaya Santa?

Xx,

Tjetje

Lagi repot lihat Santa Tracker

 

Mengasihani Pekerja Anak

Sepulang belanja mingguan kemarin, sambil menenteng tiga tas belanjaan yang cukup berat, saya teringat pada adik-adik yang biasanya nongkrong di lantai dasar ITC Kuningan. Adik-adik ini menanti mereka yang selesai berbelanja dan menawarkan jasa mendorong troli belanja. Di Irlandia, jasa dorong troli tak eksis sama sekali. Boro-boro jasa dorong, pinjam trolinya pun mesti memasukkan koin 2€ untuk memastikan troli dikembalikan ke tempat semula.

Kembali lagi pada adik-adik itu, jaman dahulu kala, sekitar tahun 2006-an, saya seringkali jatuh kasihan pada mereka dan akhirnya meminta mereka untuk mendorong troli hingga ke bagian lobi depan ITC Kuningan. Si adik beralasan memerlukan dana untuk membiayai sekolahnya sehingga ia bekerja di pusat perbelanjaan. Beberapa tahun belakangan ini saya semakin jarang ke belanja di Carrefour, kalapun kesana, saya sudah tak pernah lagi melihat mereka. Mungkin mereka sudah dihalau oleh petugas pengamanan.

Selain menjadi joki troli, pekerja anak juga dengan mudahnya ditemukan di beberapa jalan utama menuju kawasan 3 in 1 di Jakarta. Kebanyakan dari mereka dibawa oleh ibunya dan sangat jarang yang dibawa bapaknya. Usianya beragam, dari mulai bayi hingga sudah usia sekolah. Saking senangnya mengamati joki, saya bahkan mengamati seorang joki yang dari hamil, hingga anak bayinya lahir  masih tetap menjajakan jasa joki. Saking gilanya (atau mungkin terhimpit ekonomi), anak bayi yang masih mungil ikutan di bawa! Ibu joki yang masih muda ini bisa ditemukan di depan lapangan futsal di samping Standard Chartered Casablanca. Untungnya, ketika menggunakan jasa joki, saya sudah tersadar bahwa menggunakan jasa joki anak itu tidak baik. Selain karena kemungkinan mereka anak sewaan, banyak dari anak-anak ini yang dilelapkan dengan obat tidur demi selembar dua puluh ribuan. Bagi sebagian dari kita, selembar dua puluh ribu itu tak begitu banyak, bahkan tak bisa membeli segelas kopi di warung kopi internasional. Tapi bagi mereka, jumlah itu sangatlah banyak hingga membuat mereka rela menidurkan anak-anak tanpa dosa dan membiarkan mereka terpapar pada polusi ibu kota.

d93857fded9920d4d102702ceae235ac

Besarnya rasa sosial kita, serta kemauan untuk membantu mereka yang miskin juga membuat jumlah pengemis anak-anak di berbagai kota di Indonesia, terus meningkat. Karena rasa kasihan dari kitalah anak-anak itu harus terpapar teriknya matahari, berdiri di perempatan meminta recehan dari deretan kendaran. Sementara orang tuanya, duduk berteduh di perempatan sambil mengawasi mereka, layaknya mandor mengawasi para tukangnya. Soal pengemis tak perlu dibahas lebih lanjut, karena sudah pernah saya bahas dalam tulisan terpisah tahun yang lalu.

Pekerja anak lain yang bisa kita temui adalah penyemir sepatu. Dulu, saya sering melihat mereka berkeliaran di bandara Soekarno Hatta, tapi akhir-akhir ini saya tak pernah melihat mereka lagi. Bicara tentang penyemir sepatu, saya  jadi teringat dengan seorang anak yang mematahkan hati saya. Ketika itu, saya sedang duduk di KFC (saya punya ritual tak sehat untuk makan KFC di bandara dan jaman dulu saya rajin melakukan perjalanan dinas. Haduh…gak sehat bener) dan seorang anak kecil duduk bersembunyi ketakutan di balik tempat pembuangan sisa makanan. Rupanya, ia sedang menghindari kejaran petugas keamanan bandara. Saya menawarkan adik itu untuk duduk dan makan bersama saya. Selain karena sepatu saya tak perlu disemir, saat itu saya juga telah berhenti memperkerjaan anak di bawah umur. Adik itu menolak dan lebih memilih diberi uang saja ketimbang seporsi KFC.

Penolakan itu menampar saya. Saya terhenyak ketika tahu ia lebih menyukai uang. Tapi wajar jika anak-anak di bawah umur lebih menyukai uang ketimbang makanan. Dengan uang, mereka jadi memiliki kekuatan untuk membeli dan memutuskan apa yang mereka mau. Makanya, tanggung jawab untuk menghentikan pekerja anak ada di pundak kita, orang-orang yang pernah, sering, atau bahkan sedang memperkerjakan anak-anak di bawah umur.

IMG_4568

Foto para joki anak di NTT yang dipasang di sebuah pameran di Paris.

Pekerja anak tak hanya bisa ditemukan di perempatan jalan, bandara, pusat perbelanjaan, tapi mereka ada di berbagai sudut kota. Bahkan mereka mungkin ada di dapur rumah-rumah orang kelas menengah atas karena menjadi pekerja rumah tangga. Kemiskinan membuat mereka meninggalkan sekolah dan memilih mencari uang. Baik untuk membantu orang tuanya, atau untuk melanjutkan hidup. Tanggung jawab pengentasan kemiskinan, yang merupakan salah satu pelanggaran hak asasi manusia, ada di tangan pemerintah. Tapi sebagai manusia, tentunya kita bisa turut berkontribusi, dengan cara yang paling sederhana, dengan berhenti mempekerjakan anak-anak.

Mempekerjakan anak-anak dengan landasan kasihan merupakan aksi yang tak hanya merusak kesempatan mereka untuk bermain, tapi juga berkontribusi pada perubahan persepsi mereka tentang uang dan pendidikan. Anak-anak ini akan melihat bahwa tak diperlukan pendidikan untuk bisa mendapatkan uang. Cukup pasang wajah memelas, maka uang akan datang. Walaupun hari ini bukanlah World Day Against Child Labour, hari ini Hari Hak Asasi Manusia, tapi  mari berkomitmen untuk menghormati hak anak dan berhenti memperkerjakan mereka. Rasa kasihan dan belas kasihan kita sebaiknya disalurkan melalui lembaga sosial, lembaga amal, badan kemanusiaan khusus anak seperti UNICEF atau rumah-rumah ibadah.

Sudahkah kalian berhenti mempekerjakan anak-anak?

Xx,

Tjetje

[Hari Disabilitas Internasional] Tentang Kusta

Hari ini adalah hari disabilitas internasional. Jika tahun yang lalu saya membahas sekilas tentang disabilitas, terminologi dan juga diskriminasi, tahun ini saya ingin sekilas membahas tentang kusta, lepra atau ada juga yang menyebutnya dengan penyakit (Morbus) Hansen. Penyakit yang mungkin sudah lama tak terdengar tapi pada kenyataannya masih banyak penderitanya. Bahkan, Indonesia menempati posisi ketiga sebagai negara dengan jumlah penderita kusta baru di dunia.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteria ini, jika tak ditangani dapat menyebabkan disabilitas. Oleh karenanya saya tak menunggu hingga hari kusta internasional di akhir bulan Januari untuk berbagi infomasi tentang kusta. Di Indonesia, kebanyakan penderita lepra berada di bagian timur. Tetapi, kantong terbesar penderita lepra justru berada di Jawa Timur (salah satu yang terbesar di Madura) dengan persentase lebih dari 20%. Selain Jawa Timur, provinsi lain di bagian barat yang jumlah penderitanya cukup tinggi adalah Aceh.

Logos_day_0

Seperti saya sebut di atas, penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang bernama microbacterium leprae. Tapi di banyak tempat, masyarakat masih mempercayai bahwa kusta disebabkan oleh kutukan, baik itu kutukan orang tua maupun kutukan Tuhan yang marah atas dosa-dosa sang penderitanya. Tak cukup dengan kutukan, banyak masyarakat yang mempercayai bahwa lepra dibawa oleh makluk-makluk halus.

Gejala awal kusta dimulai dari bercak yang menyerang kulit dan juga syaraf. Proses pertumbuhan bakter ini berlangsung dengan lama, bahkan hingga memerlukan waktu bertahun-tahun. Tentu saja hal ini tak sesuai dengan mitos yang berkembang di masyarakat, bahwa penderita kusta bisa kehilangan anggota tubuhnya secara tiba-tiba.

Seperti diduga, dengan rendahnya pengetahuan sebagian masyarakat kita, diskriminiasi terhadap orang yang menderita kusta sangatlah tinggi. Kendati dipercaya sebagai penyakit bawaan jin, masyarakat masih ketakutan tertular penyakit ini. Padahal, penularan kusta tak semudah penularan pilek, apalagi batuk. Diperlukan kontak secara konstan dengan orang yang tidak diobati dan juga diperlukan imunitas tubuh yang rendah untuk tertular kusta.

Penderita kusta yang kebanyakan masyarakat miskin, tak hanya diberi aneka lupa stigma, tapi juga didiskriminasi, termasuk dalam mengakses pekerjaan. Bahkan, tak sedikit yang diusir dari wilayah tinggalnya, atau bahkan dikucilkan oleh keluarganya atau pasangannya. Ketika sudah sembuh pun, orang yang pernah menderita kusta juga masih tetap ditakuti oleh masyarakat.

Nampaknya masih banyak orang yang tak tahu bahwa kusta dapat disembuhkan dengan cara minum obat secara rutin. Beberapa Puskesmas konon juga menyediakan obat kusta secara gratis. Namun dari hasil baca-baca, terhambatnya pengobatan kusta, selain karena akses terhadap kesehatan (di timur Indonesia) juga karena keengganan dan durasi pengobatan. Enggan mencari pengobatan karena malu dan takut dengan stigma masyarakat. Juga karena masa pengobatan yang mencapai enam hingga delapa belas bulan, tergantung tipe kustanya.

Jumlah penyandang kusta perempuan di Afrika lebih tinggi ketimbang pria. Tetapi di berbagai tempat, termasuk Indonesia pria lebih banyak terkena kusta ketimbang perempuan. Entah mengapa. Yang pasti, Indonesia berencana bebas kusta pada tahun 2019. Dari jauh, saya berharap 14 provinsi di tanah air yang belum bebas dari kusta bisa segera bebas dari kusta. Saya juga berharap masyarakat Indonesia bisa lebih baik dan lebih ramah terhadap para penderita kusta serta orang yang pernah menderita kusta.

Saya juga berharap supaya para anggota DPR bisa segera mengesahkan RUU disabilitas (yang sudah kelamaan nongkrong di gedung DPR. Ahem…ahem…). RUU yang tentunya untuk pemenuhan hak, bukan untuk charity, karena penyandang disabilitas bukanlah subyek charity!

Apa harapanmu untuk para penyandang disabilitas?

Xx,

Tjetje

Pernah bekerja untuk advokasi hak-hak disabilitas