Etika Mengunggah Foto

Semenjak kehadiran media sosial dan telephone genggam pintar, fotografi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita (dan seringkali diasosiasikan dengan hobi mahal), berubah menjadi hobi yang bisa diakses semua orang. Fotografi menjadi media untuk berbagi, tak hanya momen baik dalam hidup, tetapi juga momen yang penuh kesedihan, dari kelahiran, kesakitan, hingga kematian. Sayangnya kemudahan mengambil foto tidak dibarengi dengan etika untuk menghormati orang lain.

Kelahiran di banyak negara, atau bahkan semua negara, dirayakan sebagai momen yang membahagiakan. Bagi orang tua baru (maupun tante baru seperti saya), mengabadikan setiap momen dan membaginya di sosial media kemudian menjadi hobi baru. Tak ada yang salah dengan berbagi foto bayi-bayi paling lucu sedunia tersebut, asal gak terlalu sering dan gak bikin orang muak, tetapi seperti pernah dibahas Mbak Yoyen disini, hobi baru ini membuat lahirnya sharent, sharing parent. Menurut pendapat saya, ada kecenderungan orang tua jaman sekarang kebablasan dalam mengunggah foto anaknya ke dalam media sosial dan lupa bahwa anak-anak ini juga punya privacy yang harus dihormati. Nggak semua orang tua tentunya, hanya sebagian. Saat mereka masih kecil, mereka tak punya suara untuk protes foto-fotonya diunggah demi kesenangan orang dewasa melihat perilaku anak kecil, tapi ketika mereka sudah besar, menjadi valedictorian, artis ternama, atau menjadi apa saja, akan ada momen dimana mereka merasa malu fotonya sedang bertelanjang ikut kontes bedak bayi beredar di sosial media dan googleable. Foto-foto yang seringkali tak bisa dengan mudahnya dihapuskan begitu saja, tak hanya karena the rights to be forgotten belum eksis di Indonesia, tapi juga karena jejaknya bertebaran dimana-mana, dari blog hingga email pengikut blog.

Over-Sharing

Bahaya yang ditimbulkan dari pamer foto secara berlebihan tak hanya timbul di masa depan, tapi juga ada di masa ini. Tak cuma penjahat kelamin yang mengincar foto anak-anak, tetapi juga musuh dari orang orang tua. Awal bulan Mei lalu, saya berkesempatan bertemu dengan seorang pengamat media yang mengajarkan betapa mudahnya melakukan profiling orang, bahkan kita bisa segera tahu keluarga dan anak-anaknya mereka yang mereka letakkan ke dalam ranah publik. Informasi tentang sekolah, rutinitas, dan aktivitas anak-anak lainnya bisa dengan mudahnya dikumpulkan dari Facebook, Twitter, Instagram, Path ataupun media sosial lain milik orang tuanya. Dampaknya, anak-anak itu akan sangat mudah menjadi sasaran kejahatan dan sekali lagi, orangtuanyalah yang meletakkan mereka pada posisi yang cukup berbahaya.

Selain kelahiran, momen sakit dan kematian juga menjadi momen yang seringkali dibagi. Foto orang sakit dalam kondisi yang sangat rapuh dengan berbagai selang dan alat oksigen terpasang misalnya dengan seenaknya dipasang di media seperti Facebook lalu dilabeli dengan seratus nama orang teman-teman si sakit. Lucunya, semua orang akan mengucapkan cepat sembuh di media sosial tersebut, bukan kepada yang sakit secara langsung. Bagi saya, foto orang sakit ini tak etis dipamerkan, kecuali jika mereka yang sakit memang menghendaki.

Jika foto orang sakit dapat mudah diturunkan ketika sang empunya melihatnya, tak begitu dengan foto jenasah. Mereka yang meninggal, baik yang mengalami kecelakaan, sakit maupun bencana lainnya, seringkali fotonya diumbar, tak hanya di media sosial saja, tetapi juga di media massa (biasanya media massa murahan yang melakukan hal tersebut dan sebaiknya media seperti itu tidak dibaca). Sudah sewajarnya kalau foto jenasah tidak dipasang, selain urusan persetujuan, ada juga urusan kepantasan. Bukan karena mati itu tidak pantas, tetapi saat kematian adalah saat yang paling rapuh, baik bagi keluarga maupun orang tersebut, tak selayaknya kalau kita berlomba-lomba mencari jempol like dan komentar dari foto-foto tersebut. Ketika suatu hari saya nanti meninggal, saya tak akan ingin foto saya diumbar seperti itu, makanya jika ada foto seperti itu bertebaran, saya tak segan melaporkannya. Kalaupun ingin mengabarkan kematian, tak cukupkah dengan menggunakan kata-kata? Jika dirasa tak cukup, kenapa tidak menggunakan foto terbaik dari almarhum?

dead body

Selain foto-foto yang disebut di atas, saya baru-baru ini melihat seorang so-called travel blogger yang mempublikasikan karya-karyanya di pinggir pantai, memotret perempuan-perempuan yang sedang mengenakan bikini, berjemur. Foto-foto tersebut saya yakin diambil dengan cara diam-diam lalu dipublikasikan tanpa sepengetahuan sang empunya badan. Saya tak ingat nama blognya karena saya begitu jijik dengan perilaku itu dan segera menutup blog tersebut. Sungguh tak elok dan tak pantas mengambil foto tubuh perempuan untuk kemudian diumbar untuk menyenangkan mata. Dimana nilai edukasi dan pengetahuan yang bisa diberikan seorang blogger kepada pembacanya? Saya tak sempat melihat lebih dalam blog tersebut, tetapi kalau ada satu iklan saja di blog tersebut, saya tak segan menuliskan surat protes terhadap produk tersebut, karena produk tersebut secara tak langsung memperbolehkan blogger pervert untuk mengiklankan produknya.

Sebagian dari kita tak lahir sebagai generasi Y, generasi yang tumbuh dengan sosial media, otomatis banyak dari kita yang gagap dengan segala teknologi baru ini. Tapi saya yakin, generasi Y yang besar dengan sosial media pun juga banyak yang tak paham dengan etika dan sosial media. Oleh karenanya mari kita sama-sama belajar untuk menjadi individu yang lebih baik dan lebih menghormati tubuh serta muka orang, dari mulai yang masih kecil, hingga yang besar. Dari yang masih hidup hingga mereka yang sudah meninggal dunia. Menjadi orang tua, juga bukan berarti bisa semena-mena mengumbar foto-foto anaknya ke dalam dunia maya.

Tell me, selain foto di atas, foto apa yang paling sering diunggah dan mengganggu pemandangan di sosial media?

Xx,

Tjetje

PS: yang berminat kartu post dengan perangko special dari Irlandia boleh tengok IG saya: binibule.

Dibangunkan Jerit Tangis Anak-anak Badui

Tidur saya yang nyenyak, walaupun hanya beralaskan sleeping bag di atas lantai bamboo yang berisik, dikoyak oleh sahut-sahutan tangisan anak-anak Badui dalam, termasuk anak Ibu Pemilik Rumah yang berteriak-teriak ‘Ambu…Ambu….’. Di kejauhan ayam berkokok dengan nyaring dan kisah pertemuan alu dan lesung dengan bantuan lengan kokoh para perempuan Badui pun dimulai.

Badan saya super remuk, kaki saya sekeras batu, kaku dan susah dilipat. Tapi dengan kondisi seperti itu saya memaksakan diri untuk ke sungai, melihat kehidupan Badui di pagi. Para ibu-ibu ternyata sudah sibuk menumbuk padi, beberapa melakukannya sambil menggendong bayi di punggungnya. Beberapa perempuan yang bertelanjang dada di sungai langsung menaikkan kembennya ketika melihat kami berjalan ke arah sungai, nampaknya mereka malu. Suasana di sungai saat pagi ternyata sangatlah ramai tak hanya dengan orang dewasa tapi juga dengan adik bayi yang belum genap satu tahun. Seorang anak kecil yang baru bisa berdiri, mungkin baru berumur setahun juga sudah dimasukkan ke dalam sungai. Bikin saya yang anak kota ini deg-degan, takut kalau ia terpleset dan terguling masuk ke dalam sungai. Sambil melihat anak-anak kecil itu saya bertanya dalam hati, apakah anak-anak ini mengenal vaksin? Gak usah repot dijawab, jawabannya sudah jelas gak kenal. Huruf aja gak kenal kok vaksin.

soaking wet

Little Red Riding Hood basah kuyup dari atas kepala sampai ujung kaki. Kamera pun mengalami kelembaban luar biasa, makanya tak bisa ambil foto banyak-banyak. (foto courtesy of Ms. A.R. Amalia)

Little Red Riding Hood basah kuyup di Badui. Kamera pun ikutan mandi, makanya foto cuma seiprit.

Menu sarapan pagi kami adalah nasi dan mie instant yang kami bawa dari kota, saya tetap konsisten dengan puasa tidak makan mie instan dan hanya memakan nasi putih dan abon ayam. Pagi itu Ajak, porter saya juga sudah muncul di tempat kami tinggal dan bergabung untuk sarapan mie instant. Perut orang Badui dalam pun sudah teracuni mie instant. Yang menyedihkan, tuan rumah meminta kami meninggalkan botol plastik yang akan kami bawa pulang. Nampaknya botol ini diminati oleh beliau supaya bisa digunakan lagi untuk mengisi air. Ah padahal bambu tempat air mereka lebih baik ketimbang plastik-plastik itu.

Pagi itu kami melewati rute yang berbeda dan sempat melewati kuburan serta  lumbung padi milik masyarakat Badui. Lumbung itu nampaknya menjadi incaran tikus, kami bahkan bertemu bayi-bayi tikus yang masih merah di areal lumbung. *teringat Ibu saya yang anti tikus dan pernah menyiram bayi tikus merah itu dengan air mendidih* Saya sudah sangat berharap tidak ada tanjakan yang mengerikan lagi, ataupun turunan yang mengerikan. Harapan saya pupus, kali ini turunan yang luar biasa curam dan licin. Awalnya saya sukses tak jatuh sama sekali, hingga akhirnya saya jatuh sebanyak 5 kali, padahal saya tak membawa beban apa-apa di pundak, apalagi di punggung. Bandingkan dengan pedagang bakso pikulan yang kami temui di sebuah tanjakan, ia sedang menuju Badui Dalam dan tentunya berusaha untuk tidak jatuh sama sekali.

Kami juga sempat terpisah dari rombongan pertama dan nyasar. Untung saja kami bertemu dengan rombongan kedua, jika tidak, mungkin kami berakhir satu malam di tengah hutan. Hikmah dibalik nyasar itu kami berpapasan dengan makluk terganteng se-Badui Dalam (versi saya), kulitnya bersih seperti porselen, dengan muka mirip-mirip orang Jepang atau Korea. Saya sebenarnya penyuka pria eksotis dengan kulit coklat, tapi untuk mas Badui Dalam ini saya membuat pengecualian karena ia ganteng banget. Sayangnya si Mas tak bisa diajak selfie karena kami ada di dalam Badui Dalam. Aaaaarhg!!!!

Ketika kami mulai masuk ke dalam Badui Luar, ada satu hal yang membuat saya bersorak kegirangan: kamar mandi. Kamar mandi yang tanpa lampu ini terasa sebagai modernisasi yang indah. Tak hanya menemukan kamar mandi, kami juga menemukan pedangan aneka rupa minuman botol. Ajak, sang porter saya dari Badui Dalam yang setia mengangkut tas saya selama dua hari ini memilih SPRITE untuk menghilangkan dahaga. Owalah sarapan mie instan, siang minum soft drink ya. 

Badui Blog 1

Tukang bakso vs Mbak-mbak takut ketinggian. Jembatan segitu aja bikin saya keder. Btw, teman-teman saya ada yang berpapasan dengan anak Badui yang lagi bermain, bikin jembatan!!!! Photo courtesy of Ms. A.R. Amalia

Perjalanan kami diakhiri dengan istirahat di rumah guide kami, Lamri, seorang anak Badui Luar. Tak banyak foto yang bisa diambil dari perjalanan ini karena hujan yang senantiasa menemani. Tapi yang paling banyak kami rekam adalah pelajaran hidup. Dalam perbicangangan kami dengan Lamri, sempat timbul pertanyaan, mengapa orang Badui tidak mau sekolah, rupanya  bagi mereka sekolah itu membuat pintar, sementara kepintara itu membuat kita membodohi orang. Sebuah sindiran halus bagi kita semua untuk selalu merunduk, seperti padi yang menjadi salah satu tanaman andalan orang Badui.

Saya juga belajar dari Ajak tentang hidup. Ketika melihat tanjakan 45 derajat ia meyakinkan saya untuk tidak memikirkan tantangannya, “Jangan dipikir, kalau dipikir susah”. Hidup ini memang jangan memikirkan apa yang akan kita hadapi, susah ataukah mudah, tetapi yang paling penting diri kita harus selalu siap dan bersemangat untuk menghadapi keduanya.

Kepulangan kami tak berkesan dan tak memiliki cerita menarik, karena kereta yang lebih mahal dua kali lipat panas, bau, pesing dan kursinya terbatas. Tak apa yang penting kami berhasil meracuni satu gerbong dengan bau Ciboleger. Ini istilah yang diberikan pedagang asongan di atas kereta.

Biaya mengunjungi Badui sangatlah murah, tetapi diperlukan tenaga dan kaki yang kuat. Kalau kakinya tak biasa jalan mendaki seperti saya bakalan sengsara. Bagi kalian yang masih muda, saya sarankan untuk pergi ke Badui. It worth every pain and every fall.

Selamat hari Senin, mari bekerja keras seperti orang Badui!

Xx,
Tjetje

Semalam di Desa Cibeo Badui Dalam

Warning: postingan ini super panjang!

Saya yang takut ketinggian ini sempat menyesal karena nekat pergi ke Badui demi melihat desa yang menolak teknologi, apalagi ketika harus naik sebuah bukit dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Tapi penyesalan terbayar setelah saya tiba di puncak pelataran, disambut indahnya gunung berkalung awan dan bukit-bukit nan hijau. Sayangnya kami sudah berada di Badui Dalam sehingga tidak boleh mengambil foto.

Setelah berjalan 5,5 jam, bermandikan hujan dan berbalut lumpur ( dibeberapa sudut desa saya harus meluncur, perosotan karena licin) rombongan kami tiba di desa Cibeo dan disambut anak-anak berpakain tradisional yang kecantikannya mengalahkan Manohara. Anak-anak perempuan mengenakan perhiasan layaknya perempuan Dayak, sementara anak laki-laki bersenjatakan golok di pinggangnya. Seorang  perempuan paruh baya berjilbab tampak duduk tak jauh, menjual jajanan khas kota berbungkus plastik. *WHAT?????!!!!*

Di depan rumah Badui yang dibangun tanpa paku, terletak sebuah penggorengan untuk menampung air hujan dari atap. Mulanya saya agak bingung, mengapa mereka meletakkan penggorengan di tanah, hingga seorang anak berdiri di dalam penggorengan itu, mencuci kakinya. Rumah orang Badui Dalam, atau urang Kanekes, tempat kami menginap terdiri dari satu satu kamar saja, di dalam kamar tersebut terdapat tungku untuk memasak. Selebihnya tak ada sekat.

Masyarakat Cibeo membagi sungai menjadi dua, untuk pria dan perempuan. Untuk perempuan lokasinya di dekat tempat menumbuk padi, dekat dengan jembatan bambu yang merupakan gerbang kampung Cibeo. Mereka yang berkunjung ke desa Cibeo pasti disambut dengan pemandangan perempuan segala usia yang sedang sibuk melakukan aktivitas buang air, mencuci peralatan memasak, mencuci pakaian, mandi, bahkan mengambil air untuk memasak. Tak hanya manusia yang melakukan aktivitasnya disini, anjing pun minum dari air ini.

Sungai untuk pria berada agak jauh dari aktivitas para perempuan. Para pria mewarisi air yang mengalir dari lokasi perempuan. Makanya mereka sudah biasa melihat kotoran manusia, hadiah dari perempuan Badui, mengalir ketika mereka sedang beraktivitas. Persis yang dialami seorang rekan dalam rombongan kami.

Pakaian perempuan Cibeo berupa kain panjang untuk menutup bagian bawah dan kemben untuk bagian atas. Jika mereka hendak buang air, maka mereka tinggal mengangkat kain panjangnya dan jongkok memasukkan pantatnya ke air. Pengamatan saya, tidak ada kegiatan cebok karena arus air langsung membersihkan ketika mereka jongkok. Konon para pria di Badui Dalam juga tidak mengenal celana dalam, pakaiannya hanya berupa sarung pendek.

Ajak Badui

Fotonya sengaja dipotong supaya yang berdiri disampingnya tak ikutan nongol di blog

Fakta menarik lain yang kami temukan, ternyata, hanya perempuan yang mengambil air dari sungai, laki-laki tidak melakukan hal tersebut. Padahal bambu untuk mengangkut air itu beratnya ketika penuh air luar biasa. Bambu mirip kentongan itu panjangnya sekitar 60-70 cm dengan dua lubang kecil di sisi atas, dekat pegangannya untuk mengeluarkan air dan diletakkan berjajar di  depan rumah mereka. Saya sendiri tidak sanggup mengangkutnya, kalah dengan anak kecil di Badui.

Kami mengobrol dan mengajukan banyak pertanyaan kepada Tuan Rumah, dari mulai upacara kematian, warisan, perkawinan hingga program KB. Tak ada listrik di Cibeo, karena mereka menolak modernisasi, untungnya mereka tidak menolak senter, sehingga saya dapat menyalakan senter untuk menjadi penerang di rumah seluas 6 x 7 meter tersebut.

Mereka yang meninggal dikuburkan di makam yang terletak di seberang sungai. Jenazah dibungkus kain dan ditali pada bagian atas kepala, leher dan kaki, serta tak lupa dimandikan terlebih dahulu. Tidak di sungai tersebut, tetapi ada tempat pemandian khusus. Setelah dikuburkan, selesailah urusan antara yang hidup dan yang mati, tidak ada acara ziarah seperti kita yang tinggal di kota, walaupun ada selamatan kematian pada hari 1, 3 dan 7.

Menurut tuan rumah kami, warisan dibagi rata, tidak ada perbedaan antara laki dan perempuan. Warisannya berupa tanah untuk bercocok tanam. Jika mereka hendak membuka lahan baru untuk bercocok tanam, maka Pu’un-lah (kepala suku) yang berhak memberikan izin, apakah mereka diperkenankan atau tidak.

Perjodohan merupakan hal yang lazim dilaksanakan di Cibeo, kualitas yang dicari bukan kecantikan ataupun kekayaan, tetapi kemampuan bertanam. Proses lamarannya bisa memakan waktu hingga 1 tahun dan “mas kawin” yang disiapkan berupa kain dari pihak pria untuk pihak perempuan dan dari pihak perempuan untuk pihak pria. Salah satu bagian dari upacaranya adalah perempuan mencuci kaki pria.

penenun badui

Perempuan Badui Luar sedang menenun di depan rumahnya

Kendati snack modern masuk mengincar anak kecil, KB tak masuk di Cibeo. Tak heran desa ini dipenuhi oleh anak kecil. Anak-anak perempuan berusia 5 tahun pun sudah sibuk menggendong adiknya yang masih bayi. Masyarakat Badui juga tidak mengenal perceraian karena mereka monogami. Di Cibeo juga tidak ada kasus kehamilan di luar perkawinan. Komentar seorang teman, “Ya bagaimana ada kasus kehamilan di luar perkawinan jika mereka dikawinkan ketika libido mereka belum muncul”. Satu pertanyaan yang tak pernah saya tanyakan tentang dimana mereka membuat bayi, karena rumah mereka tanpa sekat yang berlantai bambu, berisik jika diinjak.

Urang Kanekes tidak diperkenankan kawin dengan Badui Luar, jika melanggar, mereka harus keluar dari Badui Dalam. Begitu juga dengan Badui Luar,  mereka tak diperkenakan kawin dengan orang non-Badui. Hukuman keluar juga dilakukan jika mereka melakukan kesalahan seperti naik kendaraan. Sebelum keluar mereka akan dipaksa bekerja, tanpa dibayar, kemudian dipindahkan ke sebuah wilayah khusus untuk “mereka yang bersalah”. Setelah mereka membayar kesalahan, barulah mereka dikeluarkan.

Rupiah dan perdagangan sudah mulai dikenal di Cibeo. Ketika kami datang, langsung ada  yang datang membawa tenunan, cincin dan gelang. Model tenunannya sederhana dengan warna yang cerah. Orang Badui Dalam kadang juga bekerja menjadi porter, mengangkut barang bagi anak kota yang manja seperti saya. Selain itu, mereka juga berjualan madu hutan, ini yang seringkali dibawa ke Jakarta. Berjalan kaki tanpa alas tentunya.

Di wilayah Cibeo terdapat satu area terlarang yang tidak boleh dimasuki pendatang seperti kami, yaitu daerah “Alun-alun”, dimana Pu’un bertempat tinggal. Kami tidak sempat bertemu Pu’un, apalagi minta jampi-jampi, karena saat itu sedang musim upacara. Ah sudah bisa masuk Badui saja kami bersyukur, apalagi karena kami membawa seorang teman yang bermata sipit. Konon mereka menolak orang Indonesia keturunan China, walaupun mereka berhati merah putih.

xx,
Tjetje

Nostalgia Kereta Ekonomi

Bulan Januari empat tahun yang lalu, saya dan teman-teman yang tergabung dalam Couchsurfing memutuskan jalan-jalan ke Badui. Kami mengambil kereta api kelas ekonomi jurusan ke Rangkasbitung yang biayanya 2000 rupiah saja. Saat itu, saya melanggar “sumpah” untuk tidak naik kereta api ekonomi tanpa AC lagi. “Sumpah” itu sendiri timbul setelah saya dan teman-teman naik kereta api murah meriah ke Bogor dan terpaksa mandi sauna diiringi suara teriakan pedagang minuman yang mendorong trolleynya di tengah kepadatan penumpang kereta. Konon, kalau pedagang minuman ini masih bisa mendorong trolley minumannya, maka kereta belum penuh.

Stasiun Kereta Api Rangkas Bitung

Anak kecil bersepeda di dekat rel kereta api di Rangkasbitung

Kembali lagi ke cerita kereta menuju Rangkasbitung, kereta ini tenyata berbeda dengan kereta lainnya. Keretanya sih sama-sama bau, panas tanpa AC, tapi orang-orang di dalamnnya membuat suasana kereta ini menjadi berbeda. Belum sampai lima menit saya masuk ke kereta, sudah ada mas-mas yang menawarkan tempat duduknya kepada saya dan seorang teman. *iya serius nggak boong!!*. Tak sampai lima belas menit menikmati duduk di kereta yang panas, diiringi musik dangdut super kencang, saya berdiri memberikan tempat duduk saya untuk seorang kakek. Malu hati. Tapi kurang dari 30 menit kemudian, saya mendapatkan kursi lagi, kali ini dari seorang perempuan. Si Mbak ngotot ingin memberikan kursinya dan hendak berdiri, karena kepanasan dan ingin berdiri, menikmati semilir angin dari jendela kereta. Oh indahnya kebersamaan dalam kereta, seandainya penumpang TransJakarta bis seperti mereka, Jakarta akan berbeda. *boro-boro kursi, tiang untuk pegangan saja terkadang dikuasai sendiri, kalau sudah begitu saya rasanya ingin teriak memaki: bekas penari yang nari-nari di tiang ya Mbak? Tiang aja dimonopoli sendiri*

Dua orang pengamen anak-anak, yang seorang perempuan berusia sekitar 7-8 tahun, duduk manis, dengan speaker di pangkuannya, sedangkan sang adik yang berusia sekitar 5 tahun duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan, jika tidak sedang menyanyi, si adik kecil ini mengunyah tahu, salak atau meminum minuman yang dijajakan pedagang asongan. Mereka duduk dengan manisnya  dan terus menerus menerima uang tanpa perlu berjalan-jalan. Setelah satu lagu diputar, digantilah kasetnya dengan kaset lainnya. Tangan kirinya memegang microphone sembari menyanyi, sedangkan tangan kanannya sibuk memegang tutup bolpen dan memutar pita kaset. Perempuan kecil itu menyanyi, bergantian dengan adiknya, terkadang beberapa pria juga ikut menyanyi.

Seorang pria yang duduk di samping adik kecil, tampak sibuk mengigiti bagian bawah sebuah kantong plastik, lalu menuangkan minuman berwarna merah tua tersebut ke dalam sebuah gelas plastik. Setelah itu, diberikannya gelas plastik tersebut kepada segerombolan pria yang sibuk bermain kartu domino. Tak lama, gelas tersebut dikembalikan lagi pada pria dengan plastik itu, diisi kembali, lalu diedarkan untuk dihabiskan. Rupanya, aktivitas yang sedang saya lihat adalah perdagangan anggur merah di atas kereta api, tentunya bukan Red Wine Australia, South Africa apalagi Bordeaux. Jangan bayangkan ada banyak gelas, hanya ada satu gelas yang berpindah dari satu bibir ke bibir yang lain. Dari pengamatan saya, anggur tersebut dijual seharga dua ribu rupiah, tidak per gelas, tapi untuk 1/6 bagian. Sang pedagang anggur ini cukup ‘dermawan’, ia membagi sebagian uangnya untuk adik kecil pengamen.

Konsumen dari perdagangan anggur ini adalah segerombolan pria muda yang sibuk bermain kartu domino. Kegiatan ini melibatkan tak hanya uang sebagai taruhannya, tetapi juga topi di kepala dan pakaian yang melekat di badan. Gerombolan tersebut bukan satu-satunya, di sisi yang lain, juga terdapat sekelompok pria yang lebih berumur dan sibuk bermain domino. Kertas koran menjadi alas permainan agar kartu-kartu tersebut tidak tercecer. Tetapi tidak ada uang yang menjadi taruhannya, apalagi pakaian, ataupun topi. Mungkin juga uangnya tak terlihat.

Di tengah padatnya kereta, pedagang tahu sibuk berteriak-teriak menjual dagangannya, bersaing dengan pedagang salak. Semakin mendekati tujuan kami, harga yang ditawarkan tidak berubah, masih sama, tapi kuantitas yang diberikan semakin tinggi. Hingga mencapi 5000 rupiah untuk 40 buah tahu. Begitu juga dengan buah salak. Bahkan seorang pedagang alpukat bersedia menjual seluruh dagangan sisanya yang berjumlah sekitar 7 buah seharga 5000 rupiah saja. Oh, kereta api, sungguh murah meriah dan dipenuhi dengan aneka rupa perilaku manusia!

Tulisan yang pernah saya muat di Multiply saya empat tahun lalu tentunya tidak relevan untuk menggambarkan kondisi perkeretapian kita hari ini, yang katanya jauh lebih baik. Tetapi, pengalaman ini punya ruang khusus di hati saya, mungkin karena saat itu saya bisa memuaskan mata melihat aneka rupa perilaku manusia. Pada saat yang sama saya juga sedih melihat orang kecil berjudi, pedagang alkohol berjualan di depan anak kecil dan tentunya lebih sedih lagi melihat dua anak kecil berjuang menghadapi hidup anak-anak jalanan, tanpa orang tua yang melindungi mereka. Kendati ekonomis, penumpang kereta itu hatinya tak ekonomis. Mereka yang lelah, tetap mau berbagi duduk, baik kepada perempuan maupun maupun lawan jenis. Sungguh pemandangan yang jauh berbeda dari gerbong komuter khusus perempuan, yang konon sangat kejam, tanpa hati. Semoga kita, terutama para perempuan-perempuan yang kerap dituduh lebih kejam (kalau urusan kursi di kereta), bisa belajar untuk lebih baik dari para penumpang ekonomi dua ribuan itu.

xx,
Tjetje

Ereveld: Peristirahatan Penuh Kedamaian

Laptop saya yang sudah cukup uzur mendadak mati tapi akhirnya bisa dihidupkan kembali setelah saya bawa ke dokterlaptop. Datanya pun masih utuh, karena yang rusak hanya baterai. Sungguh menyenangkan ya tinggal di Indonesia, mau betulin laptop aja ‘murah’ dan gampang. Laptop yang jarang saya pakai itu kemarin saya buka dan saya menemukan banyak foto-foto yang saya ambil, termasuk foto makam Belanda, Ereveld. Minggu lalu foto Ereveld saya masukkan ke dalam Instagram saya, lalu saya kepikiran untuk bercerita tentang kunjungan saya ke Ereveld, empat atau lima tahun lalu.

https://instagram.com/p/3Riz5dQxmQ/?taken-by=binibule

Terdapat dua buah Ereveld di Jakarta, satu berada di Menteng Pulo, sementara yang satu berada di Ancol. Di Indonesia sendiri terdapat total tujuh Ereveld, dua Ereveld terletak di Semarang, sementara satu Ereveld di Cimahi, Bandung serta Surabaya. Ketujuh pemakaman ini dikelola oleh sebuah yayasan dan jika ingin masuk diperlukan ijin khusus yang bisa didapatkan di Kedutaan Belanda di Indonesia dengan menyertakan identitas. Tak ada biaya dan kita akan ditemani oleh seorang pemandu yang akan menceritakan sejarah. Indonesia bukan satu-satunya negara yang memiliki Ereveld, ada beberapa negara lain, termasuk Singapore, Myanmar, Korea, Australia, Thailand, Hong Kong, serta beberapa negara di Eropa  yang memiliki pemakaman untuk mereka yang terlibat peperangan.

Ereveld Menteng Pulo terletak di daerah Casablanca, bisa dijangkau dengan angkutan umum dengan mudah. Makam ini didirikan oleh Letjen Simon Hendrik Spoor pada tahun 1947, Spoor sendiri akhirnya dimakamkan disini pada tahun 1949. Selain Spoor, ada ribuan Perwira militer Belanda, tentara Indonesia, bahkan tentara Inggris yang dimakamkan di makam yang tertata rapi ini. Di komplek pemakamam ini juga terdapat sebuah Gereja, Simultaankerk namanya. Salah satu hal terkenal dari dalam gereja tersebut adalah Salib yang dibawa dari perbatasan Myanmar dan Thailand. Kayu tersebut merupakan bantalan dari rel di jalur kereta api maut.

Ereveld Church

Salib dari bantalan rel terdapat di sisi kiri

Di Menteng Pulo juga disimpan abu dari ratusan jenasah. Lagi-lagi semuanya disimpan dengan rapi di sebuah bangunan yang mengelilingi sebuah kolam. Suasana yang sungguh tenang dan asri itu membuat saya lupa bahwa saya berada di sebuah makam, di Jakarta yang dipenuhi kebisingan. Walaupun tak bisa dipungkiri makam ini masih terlihat metropolitan dengan gedung pencakar yang menghiasi bagian belakangnya.

Ereveld Menteng Pulo

Di hari yang sama, kami juga memutuskan mengunjungi Ereveld Ancol yang terletak di dalam komplek Ancol, bertetanggan dengan gong perdamaian. Saya tak ingat siapa nama penjaga makam yang membukakan pagar ketika kami membunyikan lonceng, tapi saya ingat beliau berbagi banyak cerita dengan kami. Tidak seperti Ereveld Menteng Pulo, Ereveld Ancol merupakan tempat penghormatan bagi banyak korban perang yang dieksekusi di berbagai tempat, tak hanya di Ancol saja, tetapi juga di beberapa tempat lain. Jaman dahulu kala, tempat ini menjadi tempat favorit untuk menggantung orang karena air yang pasang biasanya akan membawa jenasah orang yang dieksekusi. Pohon yang menjadi saksi bisu, tempat banyak manusia meregang nyawa kini disimpan di Ereveld Ancol. Satu hal lagi yang saya ingat adalah sistem pengairan di makam ini yang menggunakan teknologi dari Belanda, sehingga makamnya tak terkena air jika terjadi air pasang.

Ereveld Ancol

Salib yang ini merupakan salib mereka yang beragama Protestant (CMIIW)

Satu hal yang membuat saya terkesima adalah komitmen yayasan ini untuk menjaga bagian dari masa lalu, mereka menjaganya dengan baik. Sebagai bentuk penghargargaan dan penghormatan, baik bagi yang meninggal serta keluarganya, kami diminta tidak mengambil dan mempublikasikan foto-foto nisan dengan nama mereka yang telah berpulang. Sayangnya, tidak semua orang menghormati hal tersebut karena masih banyak nisan dengan nama keluarga berceceran di dunia maya. Ah padahal yang mereka minta tidaklah susah.

Berminatkah kalian menengok makam bersejarah ini?

xx,
Tjetje

Tentang Keperawanan

Beberapa waktu lalu saya menguping obrolan sore pria-pria. Salah satu dari mereka berbicara tentang perempuan dan keperawanan (dan bagaimana ia mengambil manfaat dari perempuan yang sudah aktif secara seksual, tetapi tetap menginginkan perempuan yang masih perawan sebagai pasangan hidup). Obrolan itu dipenuhi dengan label-label negatif serta pandangan kejam terdap perempuan yang sudan aktif secara seksual (dan belum resmi kawin).  Soal moral juga menjadi bahan pembahasan, moral perempuan tentunya, karena pria ‘tak pernah dihakimi moralnya’.

Label-label kejam yang diberikan termasuk penyamaan perempuan dengan barang yang dianggap bekas pakai sungguhlah sebuah hal yang tak enak didengarkan. Anggapan tentang barang bekas ini berhubungan dengan mitos bahwa perempuan yang masih perawan, selaput daranya masih utuh dan mengeluarkan darah saat coitus. Banyak orang yang menganggap bahwa keperawanan itu identik dengan hymen ataupun selaput darah (ada juga yang menganggap keperawanan tidak pernah bersetubuh). Sungguh kepercayaan yang salah kaprah karena hymen bisa saja rusak karena olahraga seperti berkuda, panjat tebing atau bahkan aktivitas lainnya. Sialnya, mereka belum aktif secara seksual bisa kena getahnya gara-gara setitik darah.

Selain dianggap sebagai barang (bekas pula), mereka yang aktif secara seksual juga dianggap murahan dan tak bermoral. Murahan didefinisikan sebagai mudah dibawa ke atas tempat tidur. Yang menyedihkan, hanya perempuan yang dianggap buruk, sementara pria-pria ‘hanya dianggap nakal’. Tak ada yang memasang ‘label’ mahal, apalagi murah. Konon katanya perempuan itu dianggap lebih berharga dalam lingkungan sosial kita, makanya perlu dijaga kehormatannya. Ketika tak terjaga, maka perempuan dilabeli murahan (dan mahal). Bagi saya, perempuan dan pria itu sejatinya sama-sama berharga. Harusnya masyarakat juga adil, ketika sebagian perempuan dianggap murahan, sudah seharusnya sebagian pria dianggap murahan juga.

Pembicaraan sore yang ajaib itu sebenarnya bisa kita temui di banyak kesempatan dan tak hanya pria yang berbicara mengenai hal seperti itu. Perempuan pun tak kalah kejam kalau ngebahas mereka yang sudah tak perawan. Labelnya sama, malah kadang suka lebih kejam karena satu merasa lebih terhormat daripada yang lainnya. Lalu bisa dijamin ceritanya akan menyebar kemana-mana lengkap dengan jumlah pria yang sudah ditiduri. Setelah itu jangan tanya, sepintar apapun sang perempuan dia akan dilabeli ‘murahan’ hanya karena memilih aktif secara seksual. Sementara mereka yang sampai usia tertentu masih belum aktif secara seksual, apalagi jika emosional, alamat bakal dibicarakan tak tenang karena belum melakukan coitus.

hymen

Obsesi kita terhadap hymen nampaknya berlebihan, mending kalau hanya dengan hymen sendiri, tapi kalau sampai negara ngurusin selaput dara orang lain itu rasanya gila. Di banyak instasi, terutama yang berhubungan dengan keamanan negara, hymen menjadi salah satu satu bahan pemeriksaan dalam seleksi penerimaan. Perempuan harus rela ‘mahkotanya’ di cek, lalu di dokumentasikan ke atas kertas. Bahkan, tak hanya mereka yang ingin mengabdi kepada negara yang harus dicek. Mereka yang ingin menjadi istri tentara pun harus melewati test semacam ini. Ada yang merasa bahagia dan bangga setelah berhasil melewati tes ini, bangga karena bisa membuktikan keteguhan hatinya untuk menjaga kesuciannya. Good for her. Saya pribadi, jika disuruh menjalani tes ini akan merasa sangat terlecehkan, karena kualitas saya ada di dalam kepala, bukan diapit dua kaki saya.

Saking sukanya ngurusin selangkangan orang lain, media kita juga tak malu-malu memberitakan artis A, B, C melakukan operasi untuk ‘mengembalikan keperawanannya’. Sungguh pemberitaan yang tak ada nilai manfaat dan tak menunjukkan kualitas sebagian media kita. Saya lebih tak paham lagi kenapa para artis ini sibuk menceritakan selangkangannya ketimbang pecapaiannya. Oh mungkin tak ada penghargaan yang bisa diceritakan.

Kita bukan satu-satunya yang suka ngurusin keperawanan lho. Di Afrika sana banyak pria yang memperkosa perempuan-perempuan muda karena ada kepercayaan bahwa berhubungan dengan perempuan yang masih virgin akan menjauhkan dari HIV/AIDS. Perempuan-perempuan di banyak negara juga banyak yang mengalami nasib tragis karena dibunuh atas nama honour killing, salah satu alasannya ketika membawa malu keluarga karena tidak lagi perawan.

Kami, yang memiliki pasangan asing, juga tak terlepas dari obsesi orang lain. Saya setidaknya pernah menerima pertanyaan apakah saya masih perawan atau tidak? Sayangnya pertanyaan ini tidak datang dari dokter yang sedang mendiagnosa. Pertanyaan itu bagi saya sangat mengganggu karena terlalu pribadi.

Sopankah bertanya tentang keperawanan orang lain? Kalapun kalian bertanya, kenapa?

xx,
Tjetje
Postingan lama tentang pertanyaan pribadi bisa dibaca disini

Malas Pesan Lewat Telepon

Memesan makanan melalui telepon tak pernah mudah, selain menghabiskan waktu, pesan melalui telepon juga membuang pulsa. Semakin lama kita berbicara, semakin banyak pulsa yang terkuras. Saking lamanya proses order, saya pernah (dan masih) menduga bahwa mereka yang bekerja di balik gagang telepon tersebut ditargetkan untuk menguras sebanyak mungkin pulsa telepon kita. Saya ambilkan contoh dari pembicaraan dengan salah satu restaurant warung cepat saji di negeri ini:

“Selamat malam dengan ‘bla bla bla’ delivery, ada yang bisa dibantu?”

“Mau pesan Mbak/ Mas?”

“Dengan Ibu siapa saya berbicara?” Dan saya pun harus mengulang nama, padahal di dalam sistemnya sudah ada nama, alamat dan segala detail informasi tentang saya.

“Ditunggu sebentar ya Ibu, saya carikan outlet terdekat” Lalu sekian detik terbuang percuma.

Petugas kembali online untuk menanyakan apakah lokasi A cukup dekat, jika tak cukup dekat maka petugas akan mencari lokasi lain lagi. Bagi saya metode ini tidak efisien sama sekali karena sudah banyak teknologi yang bisa merekam wilayah pengantaran.

Selanjutnya, petugas akan kembali menanyakan alamat, nomor telpon, nomor telpon lain dan beribu pertanyaan lainnya. Kemudian, tibalah giliran memesan. Pelanggan yang bersemangat tapi harus menahan diri karena petugas masih harus menawarkan menu baru dan paket baru.

order online

Ketika giliran kita memesan, petugas seringkali tak mendengarkan semua pesanan dengan seksama. Sekali lagi saya melihat menduga petugas suka pura-pura tak mendengar lalu melupakan salah satu pesanan. Akibatnya, pesanan harus diulang kembali. Pelanggan mengulangi semua pesanan, petugas pun mengulangin semua pesanan, layaknya Beo.  Begitu terus hingga tercapai pesanan yang sesuai. Setelah puas mengulang berulang kali pertanyaan, petugas kembali mengulang alamat yang sudah di cek selama beberapa kali. Seringkali, petugas masih juga mencoba menawarkan ini itu, dari CD hingga tambahan makanan.

Total pembicaraan untuk memesan makanan biasanya di atas 4 menit. Rekor tercepat yang pernah saya lakukan adalah 3.5 menit, itupun dengan jutek supaya sang petugas tak bisa berbicara banyak. Waktu kurang dari lima menit ini terdengar sangat pendek, tapi ingat dengan waktu segitu, kita baru bisa pesan makanan. Padahal, kalau di karaoke kita sudah bisa menyanyikan dua lagu. Kesimpulannya, pesen makanan lewat telepon itu buang-buang waktu dan kurang efisien.

Tak heran ada banyak orang di Jakarta yang sudah mulai enggan berbicara dengan manusia melalui telepon, terutama ketika urusan pemesanan makanan. Tadinya saya kira orang-orang ini berlebihan, tapi setelah saya berulang kali mengalami proses pemesanan yang berbelit, saya jadi paham mengapa sebagian dari kita malas berurusan dengan telepon. Mereka yang memesan makanan biasanya berada dalam kondisi lapar dan ingin segera mendapatkan makanan, basa-basi selama beberapa detik saja akan menunda pembelian makanan.

Hal tersebut yang nampaknya gagal dipahami oleh perusahan pelayanan makanan. Standar operasi yang diterapkan mungkin maksudnya supaya detail dan tidak salah, tetapi proses yang terlalu banyak basa-basi dengan pengulangan berulang kali rasanya sangat tidak efisien. Makanya kehadiran alternatif pemesanan lewat website serta aplikasi di teleponan genggam memberikan kemudahan bagi calon pemesan.

Ada beragam pilihan aplikasi untuk pemesanan makanan. Food Panda, Klik-eat, serta Gojek Food merupakan beberapa pilihan. Saya yang tak bisa memasak ini hanya pernah menggunakan Klik Eat serta Gojek Food. Klik Eat, yang lebih dari lima puluh persen sahamnya dibeli oleh Jepang, menurut saya agak merepotkan karena ada pembatasan area pengantaran. Sementara Gojek Food, yang merupakan perusahaan Indonesia, menawarkan keleluasan. Tak hanya menawarkan jasa pembelian dan pengantara makanan. Gojek juga memberikan pilihan pembelian barang lain. Baru-baru ini misalnya, saya membeli aneka rupa obat serta vitamin dari sebuah apotek.Proses pemesanan singkat dan yang paling penting: tak banyak basa-basi, cukup membuka aplikasi.Ah kalau sudah begini saya cuma bisa bersyukur karena hidup di Jakarta itu penuh dengan kemudahan (dan bikin kantong bolong).

Bagaimana dengan kalian, masih suka pesan lewat telpon?

xx,
Tjetje
Tidak sedang buzzing

Demam Batu Akik

Demam batu melanda orang dari segala usia dan segala jenis pekerjaan. Jari-jari pria dan perempuan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda dihiasi dengan aneka rupa batu berharga maupun batu semi-berharga. Tak hanya mantan Presiden SBY saja, tetapi juga anak kuliahan dan pengemudi taksi. Nampaknya Mbak Syahrini saja yang belum koleksi batu akik, dia masih setia dengan berlian kuningnya. Menariknya, demam batu akik ini tak hanya melanda orang dewasa tapi juga melanda anak-anak kecil. Seorang bocah kelas satu SD yang satu tahu ngambek minta dibelikan cincin batu bacan. Tak puas dengan batu bacan berwarna hijau kebiruan di salah satu jari mungilnya, si bocah baru-baru ini ia merengek-rengek meminta batu obi, jenis batu bacan lainnya. Rupanya ia tak mau kalah dengan teman sekolahnya.

Entah kapan trend batu akik ini mulai merebak kembali, tapi batu akik sebenarnya sudah memiliki pasarnya sendiri, termasuk pelawak Tessy Kabul yang jari-jarinya selalu berhiaskan lebih dari dua cincin akik. Menurut Noni, mantan presiden SBY lah yang membawa akik nusantara kembali berjaya. Saya yakin Pak SBY dan Ibu Ani (melalui program bagi-bagi batu akik untuk pengikut setia IGnya) memiliki kontribusi terhadap kebangkitan perbatuan Indonesia. Dampak ekonominya cukup bagus, lapangan pekerjaan mulai terbuka karena lapak batu akik yang bermunculan di berbagai sudut jalanan ibu kota. Di jalanan tempat saya tinggal misalnya, saya perhatikan ada dua lapak kecil tempat berjualan batu. Pedagang batu akik ini tak pernah sepi dari kerumuman pria. Selalu pria, tak pernah perempuan.

image

Perempuan juga bisa kok bertaburkan batu

Bukan berarti perempuan tak menyukai batu alam. Suatu ketika di tempat artis perak langganan saya, saya bertemu dengan tante-tante pencinta batu akik yang memiliki aneka rupa batu. Si tante kemudian memberi saya kuliah panjang tentang investasi batu akik dan manfaatnya. Batu akik, menurut si tante, bisa memberikan ketenangan, kedamaian, menyembuhkan penyakit bahkan membawa percintaan. Wah yang belum punya pasangan sepertinya harus berburu batu dahulu ketimbang berburu jodoh. Untungnya, si tante tak bercerita tentang fungsi batu akik untuk menyimpan aneka rupa kekuatan gaib, jampi-jampi dari para dukun hingga makhluk ini itu. Lalu ngebayangin Tiffany jual batu berlian dengan tag: kini tersedia berlian dengan kekuatan ghaib

Tingkat keberhargaan batu-batu mineral dipengaruhi banyak hal, seperti  jenis potongan, kejernihan, ukuran dan ketersediannya. Tingkat kekerasannya yang diukur dalam satuan skala  skala Mohs atau Mohs scale rupanya juga menjadi salah satu acuan apakah batu tersebut berharga atau semi-berharga. Berlian misalnya, menduduki skala tertinggi di level 10, tak heran harganya mahal. Sementara batu bacan, yang asli Ternate, berada pada skala Mohsnya 7,5, mungkin itu sebabnya harganya relatif lebih mahal. Batu favorit saya sendiri memiliki tingkat kekerasan 4,5 saja, namanya larimar dan hanya bisa ditemukan di Republik Dominika. Saya menyukai batu ini karena warna birunya yang mengingatkan saya pada laut. Selain soal warna, batu ini juga tak terlalu mahal, jadi tak menguras kantong.

image

Batu segede bakso

Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan seorang pengemudi taksi yang bercerita tentang penumpangnya yang membeli batu akik di sebuah pasar batu di Jakarta. Menurut sang penumpang, batu akik tersebut akan menjadi investasi yang kiranya akan berharga di masa depan dan bisa diturunkan kepada generasi selanjutnya. Tak tanggung-tanggung, si penumpang taksi menghabiskan puluhan juta rupiah rupiah untuk membeli batu. Sang pengemudi yang sabar mendengarkan berkata pada saya: “saya dengerin aja bu, palingan batu ini nasibnya sama kayak ikan Lohan dan Gelombang Cinta. Trend sebentar saja”.

Menurut kalian, akankan demam batu ini berlangsung lama?

Kontroversi Hubungan Beda Usia

Perkawinan yang usia pelaku perkawinannya berbeda jauh, baik dilakukan orang asing maupun dilakukan orang Indonesia, selalu kontroversial dan mengundang tatapan penuh tanda tanya. Beberapa waktu lalu, saya turun dari sebuah tangga berjalan di Plaza Senayan, di depan saya ada pasangan beda usia, dua-duanya orang Indonesia. Dari bahasa tubuhnya mereka terlihat sebagai pasangan dan bukan ayah dan anak. Seperti diduga, mereka mengundang tatapan mata yang sadis dan cibiran. Saya yang berdiri empat langkah di belakang mereka saja bisa merasakan panasnya tatapan orang lain yang penuh cibiran. Sadis.

Mereka bukan satu-satunya pasangan yang mendapatkan tatapan panas. Coba google Sheldon Archer dan Yuyun. Sheldon Archer berusia 72 tahun ketika mengawini perempuan Probolinggo yang 49 tahun dibawahnya. Beberapa tahun lalu, berita perkawinan mereka menghebohkan jagat maya, bukan hanya karena perbedaan usia yang mirip kakek dan cucu, tapi juga karena si Sheldon ngomong kawin sama orang Indonesia itu gampang, tinggal mumbled a few words he didn’t understand.

Dua contoh yang jauh berbeda di atas memberikan gambaran bahwa pasangan dengan usia yang jaraknya jauh seringkali dianggap salah, tabu dan menyalahi norma. Masyarakat kita suka melabeli perempuan pencinta pria matang sebagai pencari status sosial (a.k.a social climber), materialistis, murahan dan pada beberapa kasus, perusak rumah tangga. Label ini bisa jadi dikarenakan anggapan bahwa pria matang biasanya sudah menikah (kemudian bercerai), memiliki kestabilan ekonomi,  cicilan rumah sudah lunas, mobil beberapa buah dan anak-anak yang sudah mapan. Label ini juga tak sepenuhnya salah karena ada perempuan-perempuan yang mengawini pria karena alasan ekonomi. Sadly, sebagian perempuan memang diajarkan untuk mencari pria yang lebih, lebih pintar, pekerjaannya lebih baik, penghasilannya lebih banyak supaya bisa diandalkan. Tak semua perempuan diajarkan untuk berdiri sendiri dan membangun kestabilannya.

Generation-03-27-11-400x396

Gambaran Pattaya dengan kakek-kakek yang dikerubungi gadis-gadis usia belia berkontribusi banyak pada image perempuan muda dan pria matang. Konon, di dalam dunia perdagangan jasa kasih sayang, perempuan-perempuan muda memang lebih menyukai pria matang. Duitnya lebih banyak, tidak banyak minta posisi ini itu dan lebih cepat selesai. Sementara bukan rahasia lagi bahwa ada pria-pria berusia matang yang memang berfantasi memiliki hubungan dengan perempuan yang sangat muda.

Tak heran kalau kemudian pria-pria yang berhubungan dengan perempuan yang lebih muda mendapat aneka rupa label seperti kegatelan dan tak bisa menahan napsu. Seringkali mereka dianggap tak sadar usia (apalagi jika usia pasangan barunya lebih muda ketimbang anak kandungnya) dan patriarki. Label yang paling akhir ini biasanya terjadi dalam perkawinan campur antara orang asing dan orang Asia. Ada anggapan bahwa mereka, orang-orang asing, menyukai perempuan Asia (apalagi yang lebih muda) karena lebih bisa diatur dan lebih menurut. Lalu muncul generalisasi bahwa parempuan yang kawin dengan pria asing biasanya mengawini pria yang usianya jauh lebih tua (kecuali saya yang sering diduga memiliki pasangan berondong). Label-label di atas tak sepenuhnya benar, tapi juga tak sepenuhnya salah, tergantung konteks dan latar belakangnya masing-masing.

Ada berbagai kekhawatiran yang membuat masyarakat kita melihat hubungan beda usia ini tabu. Beda usia, beda generasi diartikan berbeda selera. Yang satu suka Justin Bieber, sementara yang satu lebih suka Connie Francis. Yang satu menyukai golf, sementara yang satu menyukai olahraga ektrim yang bisa bikin alat pemacu jantung rusak seketika. Sebenarnya, pasangan dengan usia yang dekat pun pasti punya selera yang berbeda juga, punya perbedaan yang harus dikompromikan.

Pasangan beda usia juga rentan dicibir urusan anak. Dikasihani karena anaknya tak bisa lulus kuliah didampingi bapaknya, nggak bakal bisa kawin didampingi bapaknya karena bapaknya sudah berumur (dan diprediksi saat momen-momen itu, bapaknya sudah nggak ada). Saya bukan ahli psikologi, tapi dalam pikiran sederhana saya, anak hanya akan melihat cinta dan kasih saya dari orangtuanya. Bapaknya mungkin tak akan ada dalam masa tertentu, tapi bukan berarti kita semua tak rentan dengan hal serupa. Orangtua kita, bisa berpulang kapan saja dalam usia muda ataupun tua.

Masyarakat kita memang tak terbiasa dengan perkawinan dengan jarak usia yang terlampau jauh. Makanya pasangan beda usia selalu mendapatkan tatapan penuh tanda tanya. Keingintahuan untuk mencari tahu cerita dibalik hubungan itu yang dibarengi oleh penghakiman. Tapi yang saya heran, bukankah masyarakat kita selalu mengajarkan perempuan untuk mencari pria yang lebih tua karena pria yang lebih muda dianggap tingkat kedewasaannya belum terbentuk sempurna? Oh mungkin ketika mengajari lupa bilang: tapi jangan tua-tua banget, nanti Bapakmu bingung manggilnya apa!

Xx,
Tjetje
Sering dituduh punya pasangan lebih muda

Menengok Surga Tercecer di Banda Neira

Sang empunya blog baru-baru ini diajak trip fabulous à la Syahrince, naik kapal pesiar kecil ke pulau Banda Neira di Tenggara kota Ambon. Haiyah, heboh bener naik kapal ecek-ecek, belum juga nyewa Silolona. Pulau kecil ini bisa dicapai setelah menempuh perjalanan melalui laut selama lima jam dengan kapal pesiar kecil atau delapan jam  dengan kapal feri; kapal feri konon hanya ada  pada hari-hari tertentu saja.

https://instagram.com/p/2McgaswxsI/

Perjalanan dari Ambon diwarnai dengan pemandangan buruk. Sampah plastik bertebaran dimana-mana. Dari mulai bungkus makanan ringan, gelas, botol, hingga mainan plastik mengapung di laut. Sekitar satu jam setelah melihat hamparan sampah tersebut, rombongan kami bertemu dengan  segerombolan lumba-lumba. Pertemuan saya dengan kawanan lumba-lumba dan juga sampah plastik itu membuat saya semakin semangat untuk mengurangi sampah plastik, supaya lumba-lumba dan teman-temannya tak perlu tersangkut, atau bahkan memakan plastik.

Pulau Banda Neira berhadapan langsung dengan Pulau Naira yang memiliki gunung berapi. Gunung ini masih aktif dan salah satu sisinya menghitam karena aliran lahar. Saking kecilnya, mengelilingi dan mengunjungi obyek wisata sejarahnya dengan berjalan kaki sangat dimungkinkan. Saya memaksakan diri untuk bangun pagi dan berjalan berkeliling menikmati bangunan-bangunan tua bangunan Belanda serta menengok obyek wisata sejarah. Ada banyak tempat wisata sejarah di Banda Neira, dari mulai Benteng Belgica yang bagian tengahnya berfungsi untuk menggantung manusia dan memiliki kursi-kursi untukmenonton proses penggantungan hingga rumah pengasingan bung Hatta. Pulau ini juga menyimpan bangunan mewah, istana mini tempat Gubernur VOC berdiam, gereja tua dengan lonceng kunonya dan makam di lantai gereja serta lapangan tempat penjagalan  manusia dipotong menjadi empat.

https://instagram.com/p/2M9ynUwxr7/

Satu hal yang membuat hati saya tersayat saat mengunjungi Istana Mini adalah curahan hati yang diukirkan di kaca oleh seorang Perancis. Curahan ini berisikan kerinduannya untuk bersama dengan keluarga yang dia cintai, la famille que j’aime. Orang Perancis tersebut bunuh diri.

Buah pala dan aneka rupa olahannya, sirup ataupun manisan, bisa ditemukan dengan mudah di berbagai warung kecil di Banda. Banda tak hanya kaya dengan pala, tetapi juga kaya dengan aneka rupa biota laut. Saya yang menyempatkan diri menengok bawah lautnya begitu terpukau melihat gugusan karang yang indah dengan aneka rupa ikan yang cantik. Kali ini saya menyesal karena tidak pernah belajar menyelam, apalagi belajar tentang aneka rupa ikan cantik. Eh tapi, kalau gak masuk ke dalam air pun kita bisa dengan mudahnya melihat ikan-ikan di bawah air. Selain dilihat, ikan-ikan dari laut Banda juga enak untuk dimakan. Konon, kekayaan laut Banda memang luar biasa. Tak heran banyak kapal-kapal asing yang mencuri ikan di wilayah ini.

Kali ini, interaksi saya dengan penduduk lokal, apalagi pengamatan perilaku serta keseharian mereka sangatlah terbatas. Harap dimaklumi, kali ini saya benar-benar berlibur cantik, duduk manis di depan ‘rumah SBY’ (rumah yang konon disiapkan untuk Pak SBY untuk Sail Banda, tapi beliau tak jadi datang) sambil menikmati pisang yang bertaburkan kenari. Menjauh sejenak dari bisingnya teknologi, karena sinyal di Banda sungguh minim. Mereka yang hidup di Banda Neira begitu beruntung, hidup tanpa kekangan teknologi, deadline, apalagi kemacetan.

https://instagram.com/p/2Qy8pLQxqo/?taken-by=binibule

Banyak orang menyebut Pulau Banda Neira sebagai kepingan surga yang tercecer, kecantikannya dan warna-warni biota lautnya memang sangat indah. Pulau ini sudah beberapa kali didaftarkan menjadi warisan dunia, tapi hingga sekarang masih belum masuk dalam daftar warisan dunia. Ah kalau boleh memilih, saya tak mau memasukkannya ke dalam warisan dunia, supaya pulau itu tetap tenang dan sunyi.

Jadi, kemanakah kalian akhir pekan ini?

xx,
Tjetje