Menyalahkan Korban

Beberapa waktu yang lalu saya menulis dua hal aneh yang saya dengar di dalam satu minggu, di postingan itu saya menuliskan tentang perempuan asing yang dilecehkan ketika sedang menikmati sebuah pantai di Timur Indonesia Indonesia. Cerita selengkapnya bisa dibaca disini. Kebiasaan saya ketika menulis adalah menyebarkan tulisan saya ke sosial media i.e facebook dan twitter. Komentar-komentar yang saya dapatkan di facebook kadang lebih seru daripada komentar di blog; entah kenapa.

VictimBlaming1_printsize-1

Salah seorang kenalan saya berkomentar bagaimana perempuan tersebut tidak menghormati aturan setempat, untuk tidak berbikini. Benarkah ada aturan untuk tidak boleh berbikini di sebuah pulau kecil yang jauh di Ambon? Cottagenya pribadi, pulaunya secluded, masak iya dilarang berbikini? Sayangnya setelah saya tanyakan kebeberapa orang, informasi ini tidak bisa diverifikasi. Jikalaupun ada aturan yang melarang orang berbikini, apakah kemudian perempuan ini berhak dilecehkan hanya karena mengenakan bikini di pantai?

Sebagai perempuan, ketika mendengar perempuan lainnya dilecehkan, saya tak hanya bersimpati tapi juga berempati. Perempuan manapun, tak hanya perempuan, manusia manapun, termasuk pria maupun transjender, saya yakin tak mau menjadi korban pelecehan.

Dalam ilmu psikologi memang ada sebuah gejala menyalahkan korban. Baik itu korban kemiskinan, korban pemerkosaan, pelecehan maupun korban kriminal lainnya. Perilaku menyalahkan korban ini, buat saya tidak menyelesaikan masalah dan tidak memberikan solusi, karena selalu dimulai dengan kata ‘Jika’. Jika hari itu perempuan itu mengenakan karung beras sekalipun, tidak akan bisa dijamin bahwa dia tidak akan dilecehkan. Mereka akan tetep datang, tetep minta foto, tetep nyolek-nyolek dan tetep menembakkan senjata ke udara. My point, pelecehan perempuan itu tidak bergantung pada apa yang dikenakannya, tapi terletak pada niatan dari para pelaku pelecehannya.

Dari hasil baca-baca sekilas, orang-orang yang menyalahkan korban itu merasa dirinya tidak sama dengan korban dan merasa hal itu tidak akan pernah bisa terjadi kepadanya.  Kalau bahasa kerennya sih, bad things happen to bad people, while good things happen to good people. Parahnya, perilaku menyalahkan korban membuat korban malas mengaku atau melaporkan tindakan kriminal pada pihak berwajib. Kalau sudah begini, kriminal akan tetap berlangsung karena pelakunya melenggang bebas tanpa ada yang melaporkan.

Apa yang harus kita lakukan jika berhadapan dengan orang yang menyalahkan korban? Lawan dan jelaskan. Orang-orang yang menyalahkan korban itu tak tahu bahwa perilakunya salah dan punya dampak yang tidak baik. Jika kebetulan mereka menyalahkan korban di depan si korban, jelaskan juga pada korban bahwa kejadian tersebut bukan karena kesalahan korban.

Punya tips lain untuk tidak menyalahkan korban?

Hukuman Mati

Tahun 2008 yang lalu saya pernah menulis tentang hukuman mati di blog multiply. Ketika itu, Sumiarsih dan Sugeng, pelaku pembunuhan satu keluarga di Surabaya dieksekusi mati. Sumiarsih serta anaknya, Sugeng, melakukan pembuhan karena urusan hutang piutang yang hanya puluhan juta; mereka menghabisi sebuah keluaga, termasuk bayi di dalam kandungan, kecuali seorang anak yang kebetulan sedang mengikuti pendidikan militer. Tak hanya melibatkan anaknya, Sumiarsih juga melibatkan suami serta mantunya; saya nggak habis pikir gimana sebuah keluarga bisa merencakana pembunuhan? gimana ngobrolnya? Di Malang, kasus ini menjadi terkenal karena korban pembunuhan dibuang di Songgoriti, sebuah area di daerah Batu; jaman itu Batu masih merupakan bagian dari Malang. Setiap kali melewati belokan tempat pembuangan jenasah, mobil-mobil selalu membunyikan klakson dua kali. Makanya kasus ini lengket banget di kepala saya.

Balik lagi ke postingan saya, Ketika itu saya menuliskan ketidaksetujuan terhadap hukuman mati; apapun bentuknya, baik yang dianggap hukuman mati ‘terbaik’ hingga hukuman mati terburuk. Ada banyak bentuk hukuman mati yang masih dipertahkan diberbagai belahan dunia, dari ditembak, disuntik dipancung hingga dilempar batu. Mungkin hukuman mati yang dijalankan di jaman sekarang dianggap ‘lebih baik’ karena tak ada lagi metode hukuman mati diinjak gajah, metode kursi kejam Spanyol atau metode Inggris hang, drawn and quartered.

Apapun caranya, menurut saya, hukuman mati tak ada yang friendly dan tak ada yang terbaik, semuanya kejam. Karena kekejaman itulah dan pastinya karena penghormatan pada hak asasi manusia yang tercatat pada UN Declaration of Human Rights, terutama atas hak hidup dan hak untuk tidak disiksa, kebanyakan negara-negara maju di Eropa telah menghapus hukuman mati. Sayangnya, Amerika, Asia serta daerah negara-negara Arab masih menerapkan hukuman mati.  Menurut riset saya (baca: googling) Asia justru tercatat sebagai negara yang banyak menjalankan hukuman mati; Indonesia, Cina, Bangkok, Jepang, Malaysia adalah beberapa negara di Asia yang menerapkan hukuman mati.

Kebanyakan orang menganggap hukuman mati menjadi layak ketika pelakunya saat itu terbukti melakukan dosa besar seperti pembunuhan maupun mengedarkan narkoba; di negeri ini korupsi belum atau tidak dikategorikan sebagai dosa besar. Bagi sebagian orang, serta bagi hukum di negeri ini, pelaku kejahatan tersebut layak dihukum mati karena sistem keadilan tak dapat mengampuni mereka (atau karena Presidennya tak mau mengampuni mereka). Berbeda dengan mereka, saya memiliki cara lain melihat hukuman mati. Bagi saya negara sebagai penyedia sistem keadilan tidak berhak menghukum mati, apapun alasannya.

against-death-penalty

Selain itu, hukuman mati adalah siksaan kejam karena orang disiksa secara psikologis untuk menunggu kematian. Dari hari diputuskan bersalah dan dihukum mati hingga hari eksekusi pelaku kejahatan sudah tersiksa dengan ketakutan eksekusi. Kekejaman ini masih ditambah dengan cara eksekusi yang kadang-kadang salah. Silahkan digoogle cerita suntikan mati yang gagal membunuh dengan cepat seorang terpidana hukuman mati di Amerika.

Pengedar narkoba memang kejam begitu juga dengan pembunuh 42 orang, tapi apakah negara perlu berlaku sama kejamnya dengan mereka? Ketimbang menghukum mati, negara harusnya memberikan kesempatan bagi orang-orang yang melakukan kejahatan untuk berubah dan bertobat. Bukankah manusia layak mendapatkan kesempatan kedua? Kalau mau dilihat secara lebih rumit lagi, pengedar narkoba, misalnya, adalah korban dari kegagalan negara untuk menyediakan pekerjaan dan pendidikan yang layak. Banyak Ada kurir narkoba yang mau menjadi pembawa narkoba karena tidak tahu (karena bodoh) dan juga karena miskin. Kemiskinan, menurut saya adalah dosa negara.

Kelemahan lain dari hukuman mati adalah hukuman mati tak bisa ditarik kembali jika ada novum atau bukti baru. Apa jadinya jika seseorang yang sudah dieksekusi di kemudian hari terbukti tidak bersalah karena ada teknologi baru yang bisa membuktikan? Negara tentunya tak akan mungkin membangunkan orang yang sudah dieksekusi dari dalam tanah kubur. Ini pernah kejadian lho.

Hukuman mati selalu dilihat sebagai bagian dari konsep ‘an eye for an eye’, orang yang mengambil nyawa orang lain pantas dicabut nyawanya. Tapi bagi saya, ketika seseorang terbukti melakukan ‘dosa besar’, tidak selayaknya negara melakukan dosa yang sama, hanya demi ‘keadilan’. Gandhi pernah berkata an eye for an eye will make the whole world blind; saya setuju dengan Gandhi. Kamu setujukah dengan Gandhi?

 

Xx

Tjetje

Pengalaman Menggunakan Aplikasi Grab Taksi

Sebelum saya memulai tulisan ini ada baiknya kalau dinyatakan dulu bahwa saya nggak lagi buzzing grab taksi. Ini murni pengalaman pribadi sebagai konsumen yang bahagia. Walaupun sebenernya saya nggak nolak kalau dikasih diskon tambahan oleh grab taksi.

Grab taksi adalah applikasi baru  yang bertujuan untuk membuat hidup lebih mudah dengan membantu mencarikan taksi. Dengan aplikasi ini, kita gak perlu repot-repot nungguin taksi di pinggir jalan, cukup pencet-pencet lalu taksi datang ke tempat kita. Nggak ada yang salah dengan nungguin taksi di pinggir jalan sih, tapi di musim hujan begini, mendingan order taksi daripada beresiko terkena percikan air dari mobil yang lewat.

grab

Picture is courtesy of http://www.brandsvietnam.com/

Cara kerja aplikasi ini relatif gampang, kita cukup mengindikasikan dimana lokasi penjemputan dengan menyalakan GPS dan mengindikasikan tujuan kita. Setelah membuat order, aplikasi ini akan mencari pengemudi terdekat di sekitar kita, dari sekitar dua hingga tiga kilometer. Yang menyenangkan, kita bisa lacak dimana posisi taksi dan berapa menit lagi taksi tersebut akan tiba. Grab juga langsung memberikan nama, foto, plat nomor hingga nomor telpon pengemudi. Pengemudi ini bisa dari berbagai perusahaan taksi di Jakarta, selama mereka terdaftar di Grab. Perlu dicatat, grab taksi tak punya armada taksi, mereka hanya punya aplikasi yang disambungkan dengan handphone para pengemudi taksi, dari taksi biasa-biasa hingga taksi premium yang harganya dua kali lipat harga taksi biasa.

Untuk pemesanan grab taksi tidak ada biaya minimal; bahkan saking manjanya saya pernah order taksi yang argonya tak berubah dari buka pintu hingga turun. Pengemudi taksi mau repot-repot menjemput  dan mengantarkan ke jarak yang tak terlalu jauh karena selama masa promo ini para pengemudi mendapatkan insentif 20ribu untuk setiap penjemputan. Konon, bulan November lalu insentif untuk sekali menjemput adalah 30ribu rupiah. Gak heran kalau ada pengemudi taksi yang sudah bisa beli sepeda motor karena rajin mengambil order dari grab.

Pengemudi taksi juga bukan satu-satunya yang dapat insentif. Para pengguna app ini juga bisa mendapatkan diskon 20ribu dengan memasukkan kode “aman” pada setiap pemesanan. Begitu taksi datang, kita tinggal menunjukkan sms, maka pengemudi akan langsung memotong argo sesuai diskon. Pengguna Indosat malah dapat tambahan diskon 30ribu.

Insetif ini sayangnya dimanfaatkan oleh oknum-oknum pengemudi yang cukup cerdas. Menurut beberapa pengemudi taksi yang saya ajak ngobrol, banyak pengemudi yang bikin order palsu. Mereka beli handphone baru, beli beli nomor Indosat (karena Indosat ngasih potongan 30 ribu) dan bikin order palsu beberapa kali dalam sehari.

Sebagai applikasi baru, tentunya banyak kelemahan yang saya temukan. Yang paling menggemaskan adalah cara aplikasi ini menemukan taksi terdekat. Lokasi saya di Gatot Subroto, app ini bisa mencarikan taksi di Monas. Kalau sudah kayak gini terpaksa harus dibatalkan karena lokasinya yang kejauhan.

image

Mesen grab taksi juga penuh dengan kejutan, dikejutkan oleh pengemudi-pengemudi yang tak tahu jalan dan parahnya gak mau nanya, tau-tau ngeloyor nyasar aja. Pengalaman saya, kalau naik taksi kuda putih udah pasti ngomel-ngomel karena emosi jiwa. Buat yang picky macam saya, kalau order bisa diberi catatan untuk tidak dijemput taksi dari perusahaan-perusahaan tertentu. Tapi jangan ngarep naik burung biru ya, karena konon pengemudi burung biru dilarang keras pakai app ini.

Ada lagi yang bikin kesel-kesel gemes, sekarang nyari taksi pakai aplikasi ini susah banget karena (saya duga) penggunanya makin banyak. Kalau lagi hujan-hujan, jangan harap deh bisa nemu taksi. Yang ada handphone hang karena app gak bisa kebuka.

Saya dan teman menduga bagaimana cara Grab mendapatkan dana setelah masa promo habis. Dugaan kami pemesan akan dikenakan biaya sekian persen dari total argo. Mari kita asumsikan bahwa Grab akan mengenakan biaya 7%, berarti ketika argo 100ribu kita harus bayar 7ribu. Tak terlalu mahal, tapi metodologi perhitungannya harus diperjelas, karena sekarang applikasi ini suka bikin estimasi yang ngaco. Dari kos saya ke kantor normalnya 22ribu saja, tapi kalau pakai metodologi app Grab taksi, harganya jadi 50rb hingga 70rb. Kami duga juga akan adacancelation fee biar tamu tidak seenaknya membatalkan; lha tapi kalau taksinya di Monas saya di Gatot Subroto gimana? Dipaksa nunggu gitu? Eh ini dugaan lho ya ga beneran.

Hayo yang berminat cari diskonan taksi silahkan dicoba kode installnya CA6B52!

 

Tjetje

Pengguna Grab yang bahagia

Tak Bisa Masak Bukan Bencana

Suatu pagi belasan tahun lalu, seorang remaja yang baru lulus SMA menawarkan diri kepada seorang teman untuk membantu merebus telur. Telur itu sedianya akan digunakan untuk makan siang, bersama nasi putih dan seiris timun. Menu itu diwajibkan dibawa untuk makan siang mahasiswa baru jurusan teknik Universitas Brawijaya. Sebelum makan para mahasiswa baru ini diwajibkan push-up di atas aspal lalu makan tanpa cuci tangan. Jorok? harap maklum, yang membuat desain program memang tak kenal kata higienis. Lebih miris lagi ada akademisi dengan gelar panjang mengijinkan bullying terjadi di dalam kampus.

Niat baik saya merebus telur berakhir bencana ketika tiba waktu mengkuliti telur. Telurnya masih mentah saudara-saudara. Boro-boro matang sempurna, setengah matang pun tidak. Kemampuan saya memasak memang memprihatinkan dan bertahun-tahun setelahnya, saya masih tak bisa memasak. Jangan Tanya berapa kali eksperimen dapur saya gagal karena kebanyakan garam, terlalu matang, terlalu kering atau bahkan terlalu keras. Rasanya cuma sushi yang bisa saya buat dengan baik dan benar, walaupun kadang salah ngegulung.

Kunci memasak memang ada pada praktek terus menerus. Tapi bagi banyak orang yang tak punya waktu (atau tak mau meluangkan waktu), memasak bukanlah prioritas. Beruntunglah saya, serta banyak orang lain yang tak punya bakat memasak, karena Jakarta, yang selalu dibilang sebagai kota kejam, menawarkan kemudahan yang cukup terjangkau selama dua puluh empat jam.

Tengoklah pagi hari di kota ini, pedagang sarapan mulai menjajakan makanannya, dari nasi uduk, lontong sayur hingga bubur ayam. Pelaku food combining yang malas mengupas buah pun bisa dengan mudahnya membeli rujak atau buah potong. Kalau masih malas keluar, selalu ada  office assistant yang siap membantu dengan tips sepuluh ribu rupiah. Eh tapi ada juga yang masih suka ngasih tip dua ribu hingga tiga ribu rupiah, bisa buat apa coba tips itu?

Di Jakarta, kemanjaan ini dimanfaatkan dengan baik oleh para penyedia jasa antar makanan. Rata-rata restaurant cepat saji menyediakan layanan antar 24 jam. Tak hanya restaurant cepat saji, ada beberapa situs jasa yang menawarkan layanan antar aneka rupa makanan, dari klik-eat hingga food panda dengan biaya antar belasan ribu hingga dua puluh ribu rupiah saja. Tak perlu angkat telpon, cukup pencet-pencet di internet. Metode pembayarannya pun mudah, bisa pakai kartu kredit, debit, hingga tunai. Penjaja makanan bahagia karena dagangannya laku, sementara pembeli bahagia karena kenyang. Eh saya gak lagi buzzing website-website itu ya.

image

Menemukan penggorengan di Asia Market, bahagianya luar biasa padahal harganya mahal.

Sayangnya, tak semua tempat mau menawarkan jasa layanan antar. Di dekat kos saya ada warung Padang yang menolak mengantarkan pesanan satu bungkus saja. Alasannya bukan rugi, tapi pengantarnya malas jika hanya satu bungkus. Di saat orang berebut mengeruk keuntungan, ada juga yang masih malas. Eh saya tapi juga malas, malas jalan menuju warung itu, bisanya cuma ngangkat telpon aja.

Jakarta (dan kota besar lainnya di Indonesia) menawarkan kemanjaan luar biasa kepada kita, selama kantong kuat bayarnya. Saking manjanya, mie instan yang idealnya dimasak sendiri selama tiga menit ditawarkan dalam bentuk matang dengan tambahan telur dan kornet (yang lagi-lagi barang instant). Baik banget kan, jadi orang-orang manja (seperti saya) gak perlu repot-repot berpeluh di dapur.

Saya tak lagi berkeluh kesah dengan semua ini, justru saya menikmati kemudahan hidup di negeri ini. Kemudahan ini seringkali tidak kita sadari sampai kita harus meninggalkan semuanya. Ah kalau sudah begini, makin berat hati meninggalkan Indonesia.

Siapa yang seperti saya, hobi pesan antar?

xx,

Tjetje

 

Cerita Hujan

Dulu jaman sekolah kita diajarkan bahwa hujan akan mengguyur Indonesia di bulan-bulan yang berakhiran “Ber” seperti September, Oktober, November dan Desember. Itu dulu, sekarang, hujan di Indonesia tak bisa diprediksi. Bulan November dan Desember diwarnai sedikit atau bahkan tanpa hujan, sementara bulan January dan February selalu diguyur hujan deras.

Hujan bagi sebagaian orang yang berprofesi sebagai petani adalah berkah. Petani bukan satu-satunya orang yang bersyukur jika hujan tiba, adik-adik penjaja jasa sewa payung, atau yang biasa kita sebut ojek payung juga dengan riang gembira menyambut hujan. Sementara, di sudut Jakarta lainnya pemilik gerobak bersorak gembira ketika hujan semakin lebat dan air mulai menggenang, atau bahkan banjir. Hujan membawa rejeki bagi mereka.

Sebaliknya, mereka yang tinggal di daerah rawan banjir menganggap hujan sebagai musibah. Ancaman air bah bisa datang kapan saja untuk menyapu harta benda mereka. Banjir juga datang dengan aneka rupa penyakit, termasuk leptospirosis. Pegawai kantoran di Jakarta, seperti saya, juga melihat hujan sebagai sumber masalah. Tak hanya membuat rencana makan siang gagal, akibat hujan yang rajin datang menjelang makan siang, hujan juga menyebabkan kemacetan luar biasa. Sebenarnya, hujan tak menyebabkan kemacetan, hanya menyebabkan genangan air di beberapa titik. Genangan inilah yang bikin kendaraan berjalan lebih pelan dan menyebabkan kemacetan. Area kemacetan tak hanya berada di sekitaran genangan air tapi juga di bawah jembatan, karena jembatan dipenuhi oleh pengendara sepeda motor yang berteduh. Tak hanya mereka yang naik sepeda motor yang sengsara, pengguna taksi macam saya juga kesulitan mencari taksi. Antrian taksi bisa mencapai ratusan lebih jika Jakarta diguyur gerimis sekitar jam lima sore.

jakarta

Cantiknya Jakarta kalau kering

Profesi-profesi unik yang berkaitan dengan hujan tak hanya ojek payung dan gerobak banjir saja, tapi ada jasa menghentikan hujan, alias pawang hujan. Beberapa tahun lalu, ketika mengadakan acara di kawasa Nusa Dua Bali, saya menggunakan jasa pawang hujan agar acara berlangsung lancar. Menariknya, pawang hujan yang saya pesan melalui hotel memberikan garansi uang kembali jika hujan turun. Di kasawan Nusa Dua, jasa pawang hujan boleh ditawarkan, tak seperti daerah suburb Australia Kuta yang melarang penggunaan pawang hujan.

Menurut pegawai hotel di Nusa Dua, ada dua cara menghentikan hujan, tradisional dan modern. Cara tradisional dilakukan dengan upacara kecil dan  memberikan sesajian, sementara cara modern dilakukan dengan menembakkan laser ke awan untuk memecah awan. Dampaknya memang tak ada hujan di wilayah acara, tapi mungkin hujannya bergeser ke arah lain.

Naifnya, saya berpikir bahwa jasa penghentian hujan ini bisa dipesan dimana saja. Makanya ketika menyiapkan pesta di Irlandia, saya minta jasa penghentian hujan supaya kami masih bisa melakukan acara di luar hotel. Bukannya dapat pawang hujan, saya malah diketawain oleh pegawai hotel.

Selain menggunakan jasa pawang hujan, konon kita bisa menghentikan hujan sendiri bermodalkan celana dalam. Konon celana dalam ini cukup di lempar di atas genteng dan hujan akan berhenti. Ada juga teknik lain yang lebih murah karena hanya memerlukan bawang merah, cabe serta sapu lidi. Sapu lidi dibalik menghadap ke atas, lalu cabe dan bawangnya diletakkan di atas sapu lidi. Teknik ini pernah saya coba ketika ada acara di rumah dan berhasil. Tapi apakah keberhasilan itu dikarenakan si sapu lidi? Kemungkinan besarnya sih tidak, karena saya tak sesakti itu.

Have a nice week everyone and please stay dry!

xx,

Tjetje

Belanja di Lotte Duty Free Jakarta

Terminal Internasional Bandara Soekarno-Hatta tak punya banyak toko bebas pajak, atau lazim disebut Duty Free, seperti di Dubai. Walaupun tokonya sedikit tak banyak dari kita yang benar-benar bisa belanja dengan puas karena kita (atau jangan-jangan cuma saya) selalu berkejaran dengan waktu. Waktu yang seharusnya bisa dihabiskan untuk berbelanja à la Syahrini terpaksa habis untuk menembus macetnya Jakarta. Tak hanya habis di jalanan, waktu juga banyak terbuang untuk menunggu antrian pada saat check-in maupun pemeriksaan imigrasi. Jadi jangan heran kalau toko-toko bebas pajak di bandara relatif sepi ketimbang di negara lain.

Mungkin ini sebabnya Lotte Avenue, sebuah mall milik konglomerat Korea Selatan yang terletak di Mega Kuningan, menawarkan Duty Free di tengah kota. Tak perlu berkejar-kejaran dengan waktu dan bisa bebas belanja apapun selama kantong dan tangan kuat. Kantong kuat membayar dan tangan kuat mengangkat belanjaan.

Lotte

Bagi warna negara Indonesia, jika ingin belanja di Lotte tak perlu membawa uang sepeserpun, cukup berbekal passport dan copy ticket (atau tiket elektronik). Kita juga gak perlu repot-repot dandan cantik dan menyasak rambut sampai setinggi langit supaya bisa dilayani dengan baik dan ramah. Pengalaman pribadi membuktikan pegawai Lotte Duty Free tetap melayani dengan baik bahkan melempar senyum kendati saya masuk toko ini mengenakan sandal gunung dengan rambut setengah basah sambil memanggul tas gym yang super besar. Coba masuk mall lain, alamat gak bakal dilirik.

WNI tak bisa langsung berbelanja di Lotte Duty Free dan hanya bisa melakukan pemesanan. Semua barang yang dipesan baru bisa diambil dan dibayar di terminal 2E bandara Soekarno-Hatta; layanan pengambilan barang hanya ada di terminal 2E dan tak tersedia di terminal 3.

Standar harga di Lotte Duty Free adalah dollar, tapi tapi untuk pembayaran bisa dengan rupiah, sesuai nilai tukar mereka di hari pembayaran. Barang-barang di Lotte tak selamanya lebih murah daripada di mall Jakarta, kadang bisa lebih mahal, tergantung nilai tukar rupiah. Tetapi ada juga barang yang sekuat-kuatnya nilai tukar rupiah, akan tetap lebih mahal. Lipstick MAC contohnya; harga di Lotte Duty Free selalu lebih mahal daripada harga di counter Plaza Senayan (PS).  Tapi, MAC di di Lotte menawarkan warna-warna lipstick yang tak ada di counter PS. Kalau MAC Indonesia gak pernah memberikan diskon, MAC Lotte Avenue pernah mendiskon sebagian kecil produknya hingga 50%.

Selain menawarkan kosmetik, Lotte Duty Free juga punya barang fashion, termasuk merek-merek Korea. Pilihan merek fashionnya nggak sebanyak komestik dan koleksinya agak ketinggalan. Koleksi yang ketinggalan trend ini sayangnya tak dibarengi dengan harga yang bersahabat. Jatuhnya suka lebih mahal daripada sista-sista online yang jualan barang ori dari Amerika. Hanya ketika diskon gila-gilaan, 50-70%,  Duty Free ini berasa seperti Duty Free pakai banget.

Perlu dicatat, kita selambat-lambatnya hanya bisa belanja tiga sampai empat jam sebelum jadwal penerbangan karena barang pesanan selalu diantar dari Mega Kuningan ke Bandara. Dipikir-pikir gak efisien juga, mereka kan punya toko di Bandara, kenapa gak ambil stok dari bandara aja ya? Lha kalau ada yang order lipstick sebatang, untungnya bakalan abis untuk bayar biaya antar ke bandara dong ya?

Bagi yang suka plin-plan, proses membatalkan barang bisa dengan mudah dilakukan, tinggal bilang batal atau barangnya gak usah dibayar. Tapi, kalau pengen membatalkan satu barang di dalam struk yang berisi beberapa pesanan nggak bakalan bisa. Either batalin semua, atau bayar semua. Jadi kalau ragu-ragu, sebaiknya pesanan dibagi-bagi menjadi beberapa struk. Biar mudah kalau pengen membatalkan.

Gimana, berminat belanja disini?

Tjetje

Nggak lagi buzzing lotte avenue

Melihat Gili Dari Kacamata Sosial

Lima tahun lalu di Gili Trawangan saya bersumpah jika kembali lagi tak akan mau naik Cidomo. Ketika itu, kuda kecil yang disewa oleh penyelenggara jalan-jalan, harus mengangkut beberapa orang melintasi beberapa sudut pulau yang tertutup pasir. Jalan di atas pasir itu susah, apalagi menarik manusia. Cidomo sangat populer tak hanya di Lombok, tapi juga di Gili Air, Meno dan Trawangan yang tak punya kendaraan umum. Pengunjung Gili, yang kebanyakan turis asing, biasanya berkeliling pulau dengan berjalan kaki atau naik sepeda. Hanya orang Indonesia yang rajin keliling naik Cidomo, mungkin malas jalan. Sementara orang lokal menggunakan sepeda listrik sebagai alat transportasi.

image

Akhir tahun kemarin, saya kembali ke Gili, kali ini Gili Air. Statistik menunjukkan Gili Air memiliki kepadatan penduduk lebih tinggi ketimbang Gili Trawangan, tapi faktanya, Gili Air jauh lebih tenang dari Gili Trawangan. Seperti Gili Trawangan, Gili Air juga memiliki masalah dengan listrik dan air bersih. Listrik di pulau ini rajin mati. Jalanannya pun masih banyak yang gelap tak tersentuh lampu, tak heran banyak turis berjalan-jalan dengan lampu di kepalanya. Di siang hari sumber listrik dari daerah ini berasal pembangkit tenaga surya sedangkan di malam hari dipasok dari Lombok.

Berbicara tentang air, air di kamar mandi dan di kolam renang hotel yang saya tempati rasanya asin. Bahkan, air kolam renang yang asin ini dicampur dengan kaporit, alhasil kalau kena mata bikin ngumpat-ngumpat. Menurut staff hotel yang saya tempati, air tawar di pulau ini harus didatangkan dari Lombok melalui pipa bawah laut. Untungnya pulau ini hanya enam menit saja dari pelabuhan Bangsal di Lombok, jadi pipa dalam lautnya gak panjang-panjang banget.

Bawah laut Gili tidak menawarkan karang-karang indah. Bahkan menurut saya, koral di Pulau Tunda dan pulau Seribu (serius ini) jauh lebih cakep dari di daerah Gili. Karang-karang keras di area ini sudah hancur berantakan dan hanya menyisakan karang lunak. Ikannya sih cantik-cantik, tapi tak banyak karena koralnya rusak. Menurut tukang kapal, kehancuran bawah laut ini disebabkan nelayan yang rajin memasang bom untuk mencari ikan. Walaupun hancur, bawah laut Gili masih bisa menawarkan berenang di bawah laut dengan penyu. Saya beruntung bisa menghabiskan waktu dengan penyu hijau, chelonia mydas, yang umurnya saya prediksi ratusan tahun.

image

Positive thinking: itu jarum suntikan buat nyuntik tinta printer atau buat nyuntik kuda.

Kendati tinggal di Gili Air, saya justru lebih banyak mendapatkan cerita tentang Gili Trawangan dari seorang juru masak sebuah grup resort di Lombok. Tak seperti di tempat lain, di Gili magic mushroom dan obat-obatan terlarang bisa didapatkan dengan mudah. Selama tak dikonsumsi di dalam pulau, obat-obatan ini bisa bebas digunakan. Kemana para aparat penegak aturan? Lagi party kali.

Saya pun mencari cerita tentang obat-obatan ini di Google. Alih-alih menemukan cerita obat-obatan, ternyata lebih mudah menemukan cerita cocktail bercampur dengan methanol ketimbang cerita tentang obat terlarang dengan harga murah. Methanol tak hanya menyebabkan kebutaan tapi juga bisa menyebabkan kematian. Seorang remaja Australia dua tahun lalu meninggal di Gili Trawangan. Yang menyedihkan, tak ada yang ditangkap dalam kasus ini. Di Gili, alcohol memang lebih mudah ditemukan dan surprisingly harganya tidak terlalu mahal. Tapi perlu dicatat bahwa di Gili tak ada RS, mereka hanya punya dokter. Jadi kalau mau ‘terbang’ mendingan di tempat lain aja yang dekat RS, biar bisa cepet-cepet diselamatkan kalau terbangnya kebebasan.

Bagi yang pernah lihat foto maling diarak keliling Gili, saya kemaren menanyakan kebenarannya. Ternyata, maling di Gili tak hanya  diarak, mereka juga diserahkan ke pihak berwenang dan dilarang masuk kembali ke Gili. Konon dulu para maling juga dipukul ramai-ramai dan kepalanya dimasukkan ke dalam air pantai. Mengerikan.

Banyak hal yang menyenangkan dari Gili termasuk kesetaraan antara semua manusia. Di Pulau kecil ini, pegawai kantoran, pelajar dan bahkan pengangguran bisa berpesta bersama kusir cidomo. Tak ada satpam yang akan mengusir tamu hanya karena kita berdandan gembel dan mengenakan sandal jepit  . Viva sandal jepit! Tapi dibalik keindahannya, Gili menyimpan banyak masalah, dari kesenjangan sosial, masalah obat-obatan yang tak saya jelaskan secara gamblang disini (gak enak sama mafianya). Menariknya, tak seperti daerah wisata pada umumnya, prostitusi bukanlah maslaah di pulau ini.

Selamat Tahun Baru rekan-rekan semua, semoga tahun 2015 ini membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi kita semua.

 

Xx,
Tjetje

Galeri Komunitas Borobudur

Harusnya saya posting tentang gallery ini minggu lalu, tapi karena kesibukan ditambah sakit (akibat makan tahu gejrot dipinggir jalan; udah tahu perutnya priyayi masih suka nyoba-nyoba) akhirnya tulisan ini terbengkalai.

20141205_132919

Borobudur dari kejauhan

Beberapa minggu yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi galeri komunitas Borobudur yang terletak di desa Karanganyar. Ini galeri terletak di antara rumah penduduk serta hamparan sawah di sekitaran Borobudur. Kalau menurut saya sih letaknya tak jauh dari Borobudur, tapi mungkin ini karena kami sukses nyasar kemana-mana. Pengemudi kami tak hanya nyasar, tapi juga kesulitan memberi tahu pengemudi lain. Tahu sendiri di daerah, patokan yang digunakan balai desa, perempatan, lapangan kosong. Untung masih ada timur, barat, selatan dan utara, jadi arahnya lebih jelas.

Saya sempat bertanya mengapa galeri ini diletakkan jauh dari Borobudur. Nampaknya ini salah satu strategi supaya terjadi pemerataan pendapatan. Bahkan ada peta lucu yang sudah dibuat untuk pemetaan potensi desa-desa di sekitar Borobudur. Niat baik ini nampaknya harus disempurnakan dengan pemasangan penunjuk arah supaya banyak yang tahu eksistensi Galeri ini. Promosi besar-besaran juga perlu dilakukan. Mungkin pihak manajemen galeri bisa ngundang blogger lokal ataupun bikin kuis berhadiah di Twitter.

Apa yang ditawarkan oleh galeri ini?

Keramik cantik yang didesain oleh Jenggala dengan tema Borobudur. Keramik ini cuma ada di Galeri ini dan harganya tak semahal Jenggala. Desain-desain keramik ini tak hanya bertema Borobudur tapi meurut saya  agak kejepang-jepangan. Produknya dari tatakan sumpit, wadah sake, magnet, tempat garam dan merica, cangkir espresso, gelas, tempat kartu nama, hingga mangkok-mangkok wadah nasi yang mirip stupa di Borobudur. Harganya sendiri dari belasan hingga puluhan ribu, tak sampai ratusan ribu rupiah, kecuali kalau borong. Buat saya sih murah, tapi saya nggak berani bilang murah, nanti kena marah. Di atas kereta Pramek saya pernah berujar bahwa ongkos dari Yogya ke Solo itu murah banget, hanya 6000. Mbak-mbak sebelah negur dong, katanya buat orang Yogya dan Solo itu mahal. Indikator biaya di Solo, Yogya dan Jakarta memang berbeda, jadi definisi murahnya pun berbeda.

20141205_130036

Bikin keramik (camera: samsung galaxy camera)

Selain keramik, mereka juga memproduksi selai. Resep dari selai ini diambil dibeli dari sebuah toko selai yang terkenal di Monkey Forest Ubud sana. Sayang saya nggak sempat wawancara nanya-nanya rasa selai yang ditawarkan, apalagi nanya harganya.  Magelang hari itu lembab banget, jadi otak dan mood saya udah ikutan lembab, alhasil gak banyak tanya. Setahu saya, daerah sekitar Borobudur itu kaya dengah buah local seperti papaya serta buah naga Semoga saja buah-buahan yang digunakan untuk selainya merupakan buah-buahan yang diproduksi oleh petani lokal di daerah itu dan bukan buah import dari Cina.

20141205_125307

Harganya OK kan? Btw itu wadah kartu nama ada di kiri.

Selain menawarkan suvenir, galeri ini juga menawarkan kursus kilat membuat keramik, ongkosnya hanya 25 ribu rupiah termasuk keramik buatan sendiri. Tapi keramiknya tak bisa langsung jadi karena harus dibakar. Tak hanya itu, bagi yang kepanasan dan kelaparan, mereka juga menawarkan makan siang untuk rombongan yang tentunya harus pesan terlebih dahulu. Menu saya hari itu tempe goreng dan aneka rupa jamur, dari sate jamur, oseng jamur serta sayur asem. Rasanya lebih enak dari restoran jamur terkenal itu dan yang paling penting, habis makan saya nggak pusing-pusing karena overdosis MSG. Makan siang di galeri ini tak kalah dengan makan siang di Amanjiwo lho, sama-sama bisa melihat Borobudur dari kejauhan.  Nikmat bener deh makan di pinggir sawah sambil mendengarkan alunan musik Jawa.

Map borobodur

Peta potensi di sekitar Borobudur

Saya membawa sedikit oleh-oleh dari galeri ini, tempat kartu nama berbentuk stupa Borobudur yang akan saya berikan kepada salah satu orang yang beruntung. Fotonya ada di atas ya. Perlu dinyatakan dulu, oleh-oleh ini dari saya, bukan hasil sponsor dari Galeri. Berhubung keramik ini rentan pecah, maka saya hanya akan mengirim ke alamat yang ada di Indonesia aja. Caranya sih gampang, tinggal jawab aja pertanyaan di bawah ini dan perlu dicatat gak ada jawaban salah atau benar, karena saya cuma penasaran apakah orang mau ke galeri ini walaupun lokasinya jauh. Saya tunggu sampai tanggal 2 Januari 2015 ya.

Galeri ini agak jauh dari Borobudur, tapi kalau ke Borobudur kalian bakalan meluangkan waktu ke galeri ini nggak? Kenapa?

Xx,

Tjetje

PS: Petanya boleh didownload disini.

Taksi Pujaan Hati: Blue Bird

[Bukan postingan berbayar]

Selain Kopaja, moda transportasi andalan saya di Jakarta adalah taksi. Taksi di Jakarta, tak seperti di belahan lain di bumi ini, relatif ‘murah’ dan mudah didapatkan. Nggak selamanya mudah sih, kalau Jakarta abis diguyur hujan, buruh pulang demo ataupun menjelang libur, alamat cari taksi di Jakarta bakalan susah.

Demi kenyamanan hati, saya cenderung memilih taksi burung biru atau kalau lagi kepepet (dan punya duit) naik taksi burung perak. Naik taksi perak itu nyaman, tapi suka sakit hati. Bukan argonya (sok nyombong), tapi beberapa pengemudinya suka komentar: “Ibu ini taksi argonya dimulai dari dua belas ribu ya, ga papa ya Bu?”. “Ibu, ini taksi minimalnya enam puluh ribu, yakin gak papa?”. Mungkin maksud pengemudinya sih baik supaya saya yang rambutnya gak disasak dan suka pakai sandal jepit ini nggak terjebak bayar mahal, tapi kok jadi kayak ngenyek sih.

Sebagai pengguna setia taksi Jakarta, saya mencoba membandingkan keunggulan taksi burung biru ketimbang taksi-taksi lain di Jakarta. Selain kenyamanan dan keamanan (konon tak selamanya aman lho ya), burung biru juga terkenal mau mendengarkan protes penumpang. Menariknya, protes soal layanan oleh manajemen burung biru benar-benar ditanggapi jika disampaikan lewat telepon atau email. Kalau lewat social media, lupakan aja. Cuma hal-hal baik yang diretweet, sementara hal kurang baik dicuekin.

Ahok_bluebird

Taksi Blue bird khusus difabel, bisa didapat di RSPP atau Siloam Jakarta. Cuma ada 5 armada dan tarifnya bukan tarif premium. Foto punya berita77.com

Di tengah hutan beton Jakarta ini, burung biru menawarkan jasa yang jarang ditemukan di tempat lain: mengembalikan barang ketinggalan. Dengan catatan barang kita nggak diambil penumpang selanjutnya. Kasus barang ketinggalan paling unik menurut saya adalah kasus air dalam kemasan yang sudah diminum. Oleh pengemudi botol tersebut dibuang. Siapa sih yang mau nyari botol bekas? Tak diduga, botol ini dicari oleh sang empunya. Rupanya air dalam kemasan itu merupakan air dari Mbah Dukun. Penumpang merana karena harus balik ke dukun lagi, sementara pengemudia merana poinnya harus dipotong.

Tak seperti taksi lain, pengemudi burung biru jarang ‘nyolot’ kalau kita hanya bepergian jarak dekat. Coba di taksi sebelah, jarak dekat atau menuju lokasi yang macet pasti sukses dipelototi atau disuruh turun. Menurut aturan, taksi burung biru dilarang menolak penumpang jika sudah berhenti. Pengemudi juga tidak boleh menanyakan tujuan sampai penumpang masuk ke dalam taksi. Jika pengemudi bertanya tujuan sebelum kita masuk dan menolak mengantar, maka penumpang berhak protes. Pihak manajemen biasanya akan melakukan pemotongan poin.

Beberapa tahun lalu, ketika sedang hujan, saya bersama teman-teman masuk ke dalam taksi, tapi kemudian pengemudi tak mau mengantar kami karena harus berputar dari satu tujuan ke tujuan lainnya. Saya pun komplain dan beberapa hari kemudian saya diberi kabar bahwa pengemudinya dipecat. Kaget setengah mati, karena komplain gitu aja bikin pengemudi dipecat. Ternyata sang pengemudi sudah berulang kali melakukan hal tersebut, tak heran poinnya habis dan pengemudi harus dipecat. Konon kalau poinnya habis, pengemudi bisa masuk kembali setelah beberapa bulan. Sejak itu saya kapok komplain.

Bagi saya, taksi burung biru terkesan ‘dipaksa’ untuk memasang tarif atas, sementara taksi lain yang jenis kendaraannya sama memasang tarif bawah. Herannya tarif atas dan tarif bawah ini ditentukan oleh Pemerintah (kesepakatan bersama dengan pengusaha taksi sih), padahal tujuh tahun lalu (kalau memori tidak salah merekam), tak ada perbedaan. Konon, taksi lain tak bisa bersaing dengan burung biru karena layanan mereka yang lebih unggul. Lha herannya, bukannya kualitas ditingkatkan supaya bisa bersaing kok malah kualitas dibiarkan asal-asalan, tapi harga diturunkan. Ya hukum pasar sih, tapi saya gemes aja. Anyway, tanggal 15 besok tarif taksi biru akan dinaikkan, sementara tarif taksi lain sudha pada naik duluan. Ada yang bilang tarif buka pintu akan 7500, ada yang bilang 8500. Berapapun naiknya, ongkos taksi ini akan jauh lebih murah dibandingkan ongkos taksi di negeri lain. Jadi jangan protes yah.

Sembari menunggu tarif naik, saya akan melanjutkan hobi ngobrol dengan pengemudi untuk nanya-nanya cerita lucu. Dari soal tamu dari negara tertentu yang jujur (jujur karena bayarnya sesuai argo, gak lebih gak kurang), sampai soal hantu anak UI yang hobinya naik taksi burung biru.

Punya pengalaman menarik dengan taksi?

 xx,
Tjetje

Tentang Disabilitas

Adik dari Eyang saya (yang juga saya panggil Eyang) memiliki seorang putra yang menyandang disabilitas. Sedari kecil, Eyang saya tidak pernah menyembunyikan Oom saya. Saat akhir pekan Oom saya bersama Eyang saya itu akan beraktifitas jalan pagi ke rumah kami. Oom saya terekspos dengan aktifitas sehari-hari dan bertemu banyak orang.  Oom saya bukan satu-satunya penyandang disabilitas yang saya tahu sejak kecil, ada Anto, teman antar jemput saya (kami sama-sama satu antar jemput di masa SD dan rumahnya tak jauh dari rumah saya). Anto merupakan penyandang disabilitas intelektual yang sekolahnya, sebuah SLB, terletak nun jauh di sisi lain kota. Setiap kali saya pulang ke Malang dan berpapasan dengan Anto, ia akan bersemangat bertanya tentang kabar saya juga kabar adik saya. Sementara temen saya yang lain lain boro-boro nyapa, bales sms aja ogah. Eh.

Oom saya dan juga Anto tidak disembunyikan, mereka berinteraksi dengan orang lain. Tak heran saya kaget luar biasa ketika salah satu guru les saya menyembunyikan anaknya yang menyandang disabilitas. Si anak hanya boleh berada di bagian belakang rumah saja dan tak boleh terlihat orang lain (tapi satu hari saya tak sengaja melihatnya). Padahal usia guru saya ini tidaklah muda, terus kalau beliau meninggal apa yang akan terjadi? Mestinya kan anak tersebut diajarkan bersosialisasi dengan orang.

Indonesia  boleh berbangga hati karena sudah meratifikasi Konvensi Penyandang Disabilitas di tahun 2011, harus bangga lho karena ternyata Irlandia belum melakukan hal tersebut. Tapi menyembunyikan penyandang disabilitas di negeri ini masih banyak terjadi. Alasannya malu ataupun takut dengan stigma dan label buruk dari orang lain. Parahnya, yang sering menyembunyikan penyandang disabilitas justru orang tua dari si anak.

Masyarakat kita juga punya andil besar mendiskriminasi dan juga mengolok-olok penyandang disabilitas. Makanya, masih banyak PR yang harus dilakukan oleh Indonesia. Negeri ini tak hanya perlu menghentikan stigma dan diskriminasi tapi juga perlu berbenah untuk menyediaakan pendidikan inklusif, pembangunan fasilitas yang akses, penyediaan lapangan pekerjaan, akses kesehatan yang layak. Dan masih banyak lagi PRnya yang terkait disabilitas. Ayo Pak Jokowi!

Sebagai individu, apa yang bisa lakukan? Paling gampang, kalau ada penyandang dengan disabilitas, nggak usah dilihatin dari ujung rambut sampai ujung jempol. Saya rasa, cuma Syahroni yang nyaman dilihatin dari atas dari bawah, manusia lain, termasuk penyandang disabilitas nggak nyaman dilihatin seperti itu. Jangan pula menghina dan mengolok-olok, karena dengan atau tanpa disabilitas, kita ini sama-sama manusia.

Penggunaan kata yang tepat juga penting untuk dilakukan. Penggunaan kata cacat misalnya, walaupun UU di Indonesia masih UU cacat (UU no. 4 tahun 1997), kata cacat tidak tepat lagi. Lebih tepat menggunakan penyandang disabilitas. Jangan pula mengatakan kita normal dan penyandang disabilitas tidak normal, lebih baik mengatakan kita adalah orang tanpa disabilitas. Idiot, tolol, lambat juga sebaiknya diganti dengan penyandang disabilitas intelektual atau orang dengan disabilitas dalam belajar.

Hari ini, 3 Desember diperingati sebagai hari internasional disabilitas. Penting bagi kita untuk tahu tentang disabilitas, karena semua orang bisa menjadi penyandang disabilitas kapan saja. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas. Saya bagi infografik  WHO tentang disabilitas. Sebenarnya versi Indonesianya sudah ada, tapi saya nggak sempat motret *padahal cuma di ujung kubikel*.

Disability

Tahukan kamu kalau dari setiap 100 orang yang dipekerjakan, perusahaan wajib memperkerjakan 1 orang penyandang disabilitas? Ini diatur UU lho. Hayo silahkan hitung jumlah manusia di kantornya masing-masing!

xx,
Tjetje