Nostalgia Kereta Ekonomi

Bulan Januari empat tahun yang lalu, saya dan teman-teman yang tergabung dalam Couchsurfing memutuskan jalan-jalan ke Badui. Kami mengambil kereta api kelas ekonomi jurusan ke Rangkasbitung yang biayanya 2000 rupiah saja. Saat itu, saya melanggar “sumpah” untuk tidak naik kereta api ekonomi tanpa AC lagi. “Sumpah” itu sendiri timbul setelah saya dan teman-teman naik kereta api murah meriah ke Bogor dan terpaksa mandi sauna diiringi suara teriakan pedagang minuman yang mendorong trolleynya di tengah kepadatan penumpang kereta. Konon, kalau pedagang minuman ini masih bisa mendorong trolley minumannya, maka kereta belum penuh.

Stasiun Kereta Api Rangkas Bitung

Anak kecil bersepeda di dekat rel kereta api di Rangkasbitung

Kembali lagi ke cerita kereta menuju Rangkasbitung, kereta ini tenyata berbeda dengan kereta lainnya. Keretanya sih sama-sama bau, panas tanpa AC, tapi orang-orang di dalamnnya membuat suasana kereta ini menjadi berbeda. Belum sampai lima menit saya masuk ke kereta, sudah ada mas-mas yang menawarkan tempat duduknya kepada saya dan seorang teman. *iya serius nggak boong!!*. Tak sampai lima belas menit menikmati duduk di kereta yang panas, diiringi musik dangdut super kencang, saya berdiri memberikan tempat duduk saya untuk seorang kakek. Malu hati. Tapi kurang dari 30 menit kemudian, saya mendapatkan kursi lagi, kali ini dari seorang perempuan. Si Mbak ngotot ingin memberikan kursinya dan hendak berdiri, karena kepanasan dan ingin berdiri, menikmati semilir angin dari jendela kereta. Oh indahnya kebersamaan dalam kereta, seandainya penumpang TransJakarta bis seperti mereka, Jakarta akan berbeda. *boro-boro kursi, tiang untuk pegangan saja terkadang dikuasai sendiri, kalau sudah begitu saya rasanya ingin teriak memaki: bekas penari yang nari-nari di tiang ya Mbak? Tiang aja dimonopoli sendiri*

Dua orang pengamen anak-anak, yang seorang perempuan berusia sekitar 7-8 tahun, duduk manis, dengan speaker di pangkuannya, sedangkan sang adik yang berusia sekitar 5 tahun duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan, jika tidak sedang menyanyi, si adik kecil ini mengunyah tahu, salak atau meminum minuman yang dijajakan pedagang asongan. Mereka duduk dengan manisnya  dan terus menerus menerima uang tanpa perlu berjalan-jalan. Setelah satu lagu diputar, digantilah kasetnya dengan kaset lainnya. Tangan kirinya memegang microphone sembari menyanyi, sedangkan tangan kanannya sibuk memegang tutup bolpen dan memutar pita kaset. Perempuan kecil itu menyanyi, bergantian dengan adiknya, terkadang beberapa pria juga ikut menyanyi.

Seorang pria yang duduk di samping adik kecil, tampak sibuk mengigiti bagian bawah sebuah kantong plastik, lalu menuangkan minuman berwarna merah tua tersebut ke dalam sebuah gelas plastik. Setelah itu, diberikannya gelas plastik tersebut kepada segerombolan pria yang sibuk bermain kartu domino. Tak lama, gelas tersebut dikembalikan lagi pada pria dengan plastik itu, diisi kembali, lalu diedarkan untuk dihabiskan. Rupanya, aktivitas yang sedang saya lihat adalah perdagangan anggur merah di atas kereta api, tentunya bukan Red Wine Australia, South Africa apalagi Bordeaux. Jangan bayangkan ada banyak gelas, hanya ada satu gelas yang berpindah dari satu bibir ke bibir yang lain. Dari pengamatan saya, anggur tersebut dijual seharga dua ribu rupiah, tidak per gelas, tapi untuk 1/6 bagian. Sang pedagang anggur ini cukup ‘dermawan’, ia membagi sebagian uangnya untuk adik kecil pengamen.

Konsumen dari perdagangan anggur ini adalah segerombolan pria muda yang sibuk bermain kartu domino. Kegiatan ini melibatkan tak hanya uang sebagai taruhannya, tetapi juga topi di kepala dan pakaian yang melekat di badan. Gerombolan tersebut bukan satu-satunya, di sisi yang lain, juga terdapat sekelompok pria yang lebih berumur dan sibuk bermain domino. Kertas koran menjadi alas permainan agar kartu-kartu tersebut tidak tercecer. Tetapi tidak ada uang yang menjadi taruhannya, apalagi pakaian, ataupun topi. Mungkin juga uangnya tak terlihat.

Di tengah padatnya kereta, pedagang tahu sibuk berteriak-teriak menjual dagangannya, bersaing dengan pedagang salak. Semakin mendekati tujuan kami, harga yang ditawarkan tidak berubah, masih sama, tapi kuantitas yang diberikan semakin tinggi. Hingga mencapi 5000 rupiah untuk 40 buah tahu. Begitu juga dengan buah salak. Bahkan seorang pedagang alpukat bersedia menjual seluruh dagangan sisanya yang berjumlah sekitar 7 buah seharga 5000 rupiah saja. Oh, kereta api, sungguh murah meriah dan dipenuhi dengan aneka rupa perilaku manusia!

Tulisan yang pernah saya muat di Multiply saya empat tahun lalu tentunya tidak relevan untuk menggambarkan kondisi perkeretapian kita hari ini, yang katanya jauh lebih baik. Tetapi, pengalaman ini punya ruang khusus di hati saya, mungkin karena saat itu saya bisa memuaskan mata melihat aneka rupa perilaku manusia. Pada saat yang sama saya juga sedih melihat orang kecil berjudi, pedagang alkohol berjualan di depan anak kecil dan tentunya lebih sedih lagi melihat dua anak kecil berjuang menghadapi hidup anak-anak jalanan, tanpa orang tua yang melindungi mereka. Kendati ekonomis, penumpang kereta itu hatinya tak ekonomis. Mereka yang lelah, tetap mau berbagi duduk, baik kepada perempuan maupun maupun lawan jenis. Sungguh pemandangan yang jauh berbeda dari gerbong komuter khusus perempuan, yang konon sangat kejam, tanpa hati. Semoga kita, terutama para perempuan-perempuan yang kerap dituduh lebih kejam (kalau urusan kursi di kereta), bisa belajar untuk lebih baik dari para penumpang ekonomi dua ribuan itu.

xx,
Tjetje

Ereveld: Peristirahatan Penuh Kedamaian

Laptop saya yang sudah cukup uzur mendadak mati tapi akhirnya bisa dihidupkan kembali setelah saya bawa ke dokterlaptop. Datanya pun masih utuh, karena yang rusak hanya baterai. Sungguh menyenangkan ya tinggal di Indonesia, mau betulin laptop aja ‘murah’ dan gampang. Laptop yang jarang saya pakai itu kemarin saya buka dan saya menemukan banyak foto-foto yang saya ambil, termasuk foto makam Belanda, Ereveld. Minggu lalu foto Ereveld saya masukkan ke dalam Instagram saya, lalu saya kepikiran untuk bercerita tentang kunjungan saya ke Ereveld, empat atau lima tahun lalu.

https://instagram.com/p/3Riz5dQxmQ/?taken-by=binibule

Terdapat dua buah Ereveld di Jakarta, satu berada di Menteng Pulo, sementara yang satu berada di Ancol. Di Indonesia sendiri terdapat total tujuh Ereveld, dua Ereveld terletak di Semarang, sementara satu Ereveld di Cimahi, Bandung serta Surabaya. Ketujuh pemakaman ini dikelola oleh sebuah yayasan dan jika ingin masuk diperlukan ijin khusus yang bisa didapatkan di Kedutaan Belanda di Indonesia dengan menyertakan identitas. Tak ada biaya dan kita akan ditemani oleh seorang pemandu yang akan menceritakan sejarah. Indonesia bukan satu-satunya negara yang memiliki Ereveld, ada beberapa negara lain, termasuk Singapore, Myanmar, Korea, Australia, Thailand, Hong Kong, serta beberapa negara di Eropa  yang memiliki pemakaman untuk mereka yang terlibat peperangan.

Ereveld Menteng Pulo terletak di daerah Casablanca, bisa dijangkau dengan angkutan umum dengan mudah. Makam ini didirikan oleh Letjen Simon Hendrik Spoor pada tahun 1947, Spoor sendiri akhirnya dimakamkan disini pada tahun 1949. Selain Spoor, ada ribuan Perwira militer Belanda, tentara Indonesia, bahkan tentara Inggris yang dimakamkan di makam yang tertata rapi ini. Di komplek pemakamam ini juga terdapat sebuah Gereja, Simultaankerk namanya. Salah satu hal terkenal dari dalam gereja tersebut adalah Salib yang dibawa dari perbatasan Myanmar dan Thailand. Kayu tersebut merupakan bantalan dari rel di jalur kereta api maut.

Ereveld Church

Salib dari bantalan rel terdapat di sisi kiri

Di Menteng Pulo juga disimpan abu dari ratusan jenasah. Lagi-lagi semuanya disimpan dengan rapi di sebuah bangunan yang mengelilingi sebuah kolam. Suasana yang sungguh tenang dan asri itu membuat saya lupa bahwa saya berada di sebuah makam, di Jakarta yang dipenuhi kebisingan. Walaupun tak bisa dipungkiri makam ini masih terlihat metropolitan dengan gedung pencakar yang menghiasi bagian belakangnya.

Ereveld Menteng Pulo

Di hari yang sama, kami juga memutuskan mengunjungi Ereveld Ancol yang terletak di dalam komplek Ancol, bertetanggan dengan gong perdamaian. Saya tak ingat siapa nama penjaga makam yang membukakan pagar ketika kami membunyikan lonceng, tapi saya ingat beliau berbagi banyak cerita dengan kami. Tidak seperti Ereveld Menteng Pulo, Ereveld Ancol merupakan tempat penghormatan bagi banyak korban perang yang dieksekusi di berbagai tempat, tak hanya di Ancol saja, tetapi juga di beberapa tempat lain. Jaman dahulu kala, tempat ini menjadi tempat favorit untuk menggantung orang karena air yang pasang biasanya akan membawa jenasah orang yang dieksekusi. Pohon yang menjadi saksi bisu, tempat banyak manusia meregang nyawa kini disimpan di Ereveld Ancol. Satu hal lagi yang saya ingat adalah sistem pengairan di makam ini yang menggunakan teknologi dari Belanda, sehingga makamnya tak terkena air jika terjadi air pasang.

Ereveld Ancol

Salib yang ini merupakan salib mereka yang beragama Protestant (CMIIW)

Satu hal yang membuat saya terkesima adalah komitmen yayasan ini untuk menjaga bagian dari masa lalu, mereka menjaganya dengan baik. Sebagai bentuk penghargargaan dan penghormatan, baik bagi yang meninggal serta keluarganya, kami diminta tidak mengambil dan mempublikasikan foto-foto nisan dengan nama mereka yang telah berpulang. Sayangnya, tidak semua orang menghormati hal tersebut karena masih banyak nisan dengan nama keluarga berceceran di dunia maya. Ah padahal yang mereka minta tidaklah susah.

Berminatkah kalian menengok makam bersejarah ini?

xx,
Tjetje

Tentang Keperawanan

Beberapa waktu lalu saya menguping obrolan sore pria-pria. Salah satu dari mereka berbicara tentang perempuan dan keperawanan (dan bagaimana ia mengambil manfaat dari perempuan yang sudah aktif secara seksual, tetapi tetap menginginkan perempuan yang masih perawan sebagai pasangan hidup). Obrolan itu dipenuhi dengan label-label negatif serta pandangan kejam terdap perempuan yang sudan aktif secara seksual (dan belum resmi kawin).  Soal moral juga menjadi bahan pembahasan, moral perempuan tentunya, karena pria ‘tak pernah dihakimi moralnya’.

Label-label kejam yang diberikan termasuk penyamaan perempuan dengan barang yang dianggap bekas pakai sungguhlah sebuah hal yang tak enak didengarkan. Anggapan tentang barang bekas ini berhubungan dengan mitos bahwa perempuan yang masih perawan, selaput daranya masih utuh dan mengeluarkan darah saat coitus. Banyak orang yang menganggap bahwa keperawanan itu identik dengan hymen ataupun selaput darah (ada juga yang menganggap keperawanan tidak pernah bersetubuh). Sungguh kepercayaan yang salah kaprah karena hymen bisa saja rusak karena olahraga seperti berkuda, panjat tebing atau bahkan aktivitas lainnya. Sialnya, mereka belum aktif secara seksual bisa kena getahnya gara-gara setitik darah.

Selain dianggap sebagai barang (bekas pula), mereka yang aktif secara seksual juga dianggap murahan dan tak bermoral. Murahan didefinisikan sebagai mudah dibawa ke atas tempat tidur. Yang menyedihkan, hanya perempuan yang dianggap buruk, sementara pria-pria ‘hanya dianggap nakal’. Tak ada yang memasang ‘label’ mahal, apalagi murah. Konon katanya perempuan itu dianggap lebih berharga dalam lingkungan sosial kita, makanya perlu dijaga kehormatannya. Ketika tak terjaga, maka perempuan dilabeli murahan (dan mahal). Bagi saya, perempuan dan pria itu sejatinya sama-sama berharga. Harusnya masyarakat juga adil, ketika sebagian perempuan dianggap murahan, sudah seharusnya sebagian pria dianggap murahan juga.

Pembicaraan sore yang ajaib itu sebenarnya bisa kita temui di banyak kesempatan dan tak hanya pria yang berbicara mengenai hal seperti itu. Perempuan pun tak kalah kejam kalau ngebahas mereka yang sudah tak perawan. Labelnya sama, malah kadang suka lebih kejam karena satu merasa lebih terhormat daripada yang lainnya. Lalu bisa dijamin ceritanya akan menyebar kemana-mana lengkap dengan jumlah pria yang sudah ditiduri. Setelah itu jangan tanya, sepintar apapun sang perempuan dia akan dilabeli ‘murahan’ hanya karena memilih aktif secara seksual. Sementara mereka yang sampai usia tertentu masih belum aktif secara seksual, apalagi jika emosional, alamat bakal dibicarakan tak tenang karena belum melakukan coitus.

hymen

Obsesi kita terhadap hymen nampaknya berlebihan, mending kalau hanya dengan hymen sendiri, tapi kalau sampai negara ngurusin selaput dara orang lain itu rasanya gila. Di banyak instasi, terutama yang berhubungan dengan keamanan negara, hymen menjadi salah satu satu bahan pemeriksaan dalam seleksi penerimaan. Perempuan harus rela ‘mahkotanya’ di cek, lalu di dokumentasikan ke atas kertas. Bahkan, tak hanya mereka yang ingin mengabdi kepada negara yang harus dicek. Mereka yang ingin menjadi istri tentara pun harus melewati test semacam ini. Ada yang merasa bahagia dan bangga setelah berhasil melewati tes ini, bangga karena bisa membuktikan keteguhan hatinya untuk menjaga kesuciannya. Good for her. Saya pribadi, jika disuruh menjalani tes ini akan merasa sangat terlecehkan, karena kualitas saya ada di dalam kepala, bukan diapit dua kaki saya.

Saking sukanya ngurusin selangkangan orang lain, media kita juga tak malu-malu memberitakan artis A, B, C melakukan operasi untuk ‘mengembalikan keperawanannya’. Sungguh pemberitaan yang tak ada nilai manfaat dan tak menunjukkan kualitas sebagian media kita. Saya lebih tak paham lagi kenapa para artis ini sibuk menceritakan selangkangannya ketimbang pecapaiannya. Oh mungkin tak ada penghargaan yang bisa diceritakan.

Kita bukan satu-satunya yang suka ngurusin keperawanan lho. Di Afrika sana banyak pria yang memperkosa perempuan-perempuan muda karena ada kepercayaan bahwa berhubungan dengan perempuan yang masih virgin akan menjauhkan dari HIV/AIDS. Perempuan-perempuan di banyak negara juga banyak yang mengalami nasib tragis karena dibunuh atas nama honour killing, salah satu alasannya ketika membawa malu keluarga karena tidak lagi perawan.

Kami, yang memiliki pasangan asing, juga tak terlepas dari obsesi orang lain. Saya setidaknya pernah menerima pertanyaan apakah saya masih perawan atau tidak? Sayangnya pertanyaan ini tidak datang dari dokter yang sedang mendiagnosa. Pertanyaan itu bagi saya sangat mengganggu karena terlalu pribadi.

Sopankah bertanya tentang keperawanan orang lain? Kalapun kalian bertanya, kenapa?

xx,
Tjetje
Postingan lama tentang pertanyaan pribadi bisa dibaca disini

Malas Pesan Lewat Telepon

Memesan makanan melalui telepon tak pernah mudah, selain menghabiskan waktu, pesan melalui telepon juga membuang pulsa. Semakin lama kita berbicara, semakin banyak pulsa yang terkuras. Saking lamanya proses order, saya pernah (dan masih) menduga bahwa mereka yang bekerja di balik gagang telepon tersebut ditargetkan untuk menguras sebanyak mungkin pulsa telepon kita. Saya ambilkan contoh dari pembicaraan dengan salah satu restaurant warung cepat saji di negeri ini:

“Selamat malam dengan ‘bla bla bla’ delivery, ada yang bisa dibantu?”

“Mau pesan Mbak/ Mas?”

“Dengan Ibu siapa saya berbicara?” Dan saya pun harus mengulang nama, padahal di dalam sistemnya sudah ada nama, alamat dan segala detail informasi tentang saya.

“Ditunggu sebentar ya Ibu, saya carikan outlet terdekat” Lalu sekian detik terbuang percuma.

Petugas kembali online untuk menanyakan apakah lokasi A cukup dekat, jika tak cukup dekat maka petugas akan mencari lokasi lain lagi. Bagi saya metode ini tidak efisien sama sekali karena sudah banyak teknologi yang bisa merekam wilayah pengantaran.

Selanjutnya, petugas akan kembali menanyakan alamat, nomor telpon, nomor telpon lain dan beribu pertanyaan lainnya. Kemudian, tibalah giliran memesan. Pelanggan yang bersemangat tapi harus menahan diri karena petugas masih harus menawarkan menu baru dan paket baru.

order online

Ketika giliran kita memesan, petugas seringkali tak mendengarkan semua pesanan dengan seksama. Sekali lagi saya melihat menduga petugas suka pura-pura tak mendengar lalu melupakan salah satu pesanan. Akibatnya, pesanan harus diulang kembali. Pelanggan mengulangi semua pesanan, petugas pun mengulangin semua pesanan, layaknya Beo.  Begitu terus hingga tercapai pesanan yang sesuai. Setelah puas mengulang berulang kali pertanyaan, petugas kembali mengulang alamat yang sudah di cek selama beberapa kali. Seringkali, petugas masih juga mencoba menawarkan ini itu, dari CD hingga tambahan makanan.

Total pembicaraan untuk memesan makanan biasanya di atas 4 menit. Rekor tercepat yang pernah saya lakukan adalah 3.5 menit, itupun dengan jutek supaya sang petugas tak bisa berbicara banyak. Waktu kurang dari lima menit ini terdengar sangat pendek, tapi ingat dengan waktu segitu, kita baru bisa pesan makanan. Padahal, kalau di karaoke kita sudah bisa menyanyikan dua lagu. Kesimpulannya, pesen makanan lewat telepon itu buang-buang waktu dan kurang efisien.

Tak heran ada banyak orang di Jakarta yang sudah mulai enggan berbicara dengan manusia melalui telepon, terutama ketika urusan pemesanan makanan. Tadinya saya kira orang-orang ini berlebihan, tapi setelah saya berulang kali mengalami proses pemesanan yang berbelit, saya jadi paham mengapa sebagian dari kita malas berurusan dengan telepon. Mereka yang memesan makanan biasanya berada dalam kondisi lapar dan ingin segera mendapatkan makanan, basa-basi selama beberapa detik saja akan menunda pembelian makanan.

Hal tersebut yang nampaknya gagal dipahami oleh perusahan pelayanan makanan. Standar operasi yang diterapkan mungkin maksudnya supaya detail dan tidak salah, tetapi proses yang terlalu banyak basa-basi dengan pengulangan berulang kali rasanya sangat tidak efisien. Makanya kehadiran alternatif pemesanan lewat website serta aplikasi di teleponan genggam memberikan kemudahan bagi calon pemesan.

Ada beragam pilihan aplikasi untuk pemesanan makanan. Food Panda, Klik-eat, serta Gojek Food merupakan beberapa pilihan. Saya yang tak bisa memasak ini hanya pernah menggunakan Klik Eat serta Gojek Food. Klik Eat, yang lebih dari lima puluh persen sahamnya dibeli oleh Jepang, menurut saya agak merepotkan karena ada pembatasan area pengantaran. Sementara Gojek Food, yang merupakan perusahaan Indonesia, menawarkan keleluasan. Tak hanya menawarkan jasa pembelian dan pengantara makanan. Gojek juga memberikan pilihan pembelian barang lain. Baru-baru ini misalnya, saya membeli aneka rupa obat serta vitamin dari sebuah apotek.Proses pemesanan singkat dan yang paling penting: tak banyak basa-basi, cukup membuka aplikasi.Ah kalau sudah begini saya cuma bisa bersyukur karena hidup di Jakarta itu penuh dengan kemudahan (dan bikin kantong bolong).

Bagaimana dengan kalian, masih suka pesan lewat telpon?

xx,
Tjetje
Tidak sedang buzzing

Demam Batu Akik

Demam batu melanda orang dari segala usia dan segala jenis pekerjaan. Jari-jari pria dan perempuan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda dihiasi dengan aneka rupa batu berharga maupun batu semi-berharga. Tak hanya mantan Presiden SBY saja, tetapi juga anak kuliahan dan pengemudi taksi. Nampaknya Mbak Syahrini saja yang belum koleksi batu akik, dia masih setia dengan berlian kuningnya. Menariknya, demam batu akik ini tak hanya melanda orang dewasa tapi juga melanda anak-anak kecil. Seorang bocah kelas satu SD yang satu tahu ngambek minta dibelikan cincin batu bacan. Tak puas dengan batu bacan berwarna hijau kebiruan di salah satu jari mungilnya, si bocah baru-baru ini ia merengek-rengek meminta batu obi, jenis batu bacan lainnya. Rupanya ia tak mau kalah dengan teman sekolahnya.

Entah kapan trend batu akik ini mulai merebak kembali, tapi batu akik sebenarnya sudah memiliki pasarnya sendiri, termasuk pelawak Tessy Kabul yang jari-jarinya selalu berhiaskan lebih dari dua cincin akik. Menurut Noni, mantan presiden SBY lah yang membawa akik nusantara kembali berjaya. Saya yakin Pak SBY dan Ibu Ani (melalui program bagi-bagi batu akik untuk pengikut setia IGnya) memiliki kontribusi terhadap kebangkitan perbatuan Indonesia. Dampak ekonominya cukup bagus, lapangan pekerjaan mulai terbuka karena lapak batu akik yang bermunculan di berbagai sudut jalanan ibu kota. Di jalanan tempat saya tinggal misalnya, saya perhatikan ada dua lapak kecil tempat berjualan batu. Pedagang batu akik ini tak pernah sepi dari kerumuman pria. Selalu pria, tak pernah perempuan.

image

Perempuan juga bisa kok bertaburkan batu

Bukan berarti perempuan tak menyukai batu alam. Suatu ketika di tempat artis perak langganan saya, saya bertemu dengan tante-tante pencinta batu akik yang memiliki aneka rupa batu. Si tante kemudian memberi saya kuliah panjang tentang investasi batu akik dan manfaatnya. Batu akik, menurut si tante, bisa memberikan ketenangan, kedamaian, menyembuhkan penyakit bahkan membawa percintaan. Wah yang belum punya pasangan sepertinya harus berburu batu dahulu ketimbang berburu jodoh. Untungnya, si tante tak bercerita tentang fungsi batu akik untuk menyimpan aneka rupa kekuatan gaib, jampi-jampi dari para dukun hingga makhluk ini itu. Lalu ngebayangin Tiffany jual batu berlian dengan tag: kini tersedia berlian dengan kekuatan ghaib

Tingkat keberhargaan batu-batu mineral dipengaruhi banyak hal, seperti  jenis potongan, kejernihan, ukuran dan ketersediannya. Tingkat kekerasannya yang diukur dalam satuan skala  skala Mohs atau Mohs scale rupanya juga menjadi salah satu acuan apakah batu tersebut berharga atau semi-berharga. Berlian misalnya, menduduki skala tertinggi di level 10, tak heran harganya mahal. Sementara batu bacan, yang asli Ternate, berada pada skala Mohsnya 7,5, mungkin itu sebabnya harganya relatif lebih mahal. Batu favorit saya sendiri memiliki tingkat kekerasan 4,5 saja, namanya larimar dan hanya bisa ditemukan di Republik Dominika. Saya menyukai batu ini karena warna birunya yang mengingatkan saya pada laut. Selain soal warna, batu ini juga tak terlalu mahal, jadi tak menguras kantong.

image

Batu segede bakso

Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan seorang pengemudi taksi yang bercerita tentang penumpangnya yang membeli batu akik di sebuah pasar batu di Jakarta. Menurut sang penumpang, batu akik tersebut akan menjadi investasi yang kiranya akan berharga di masa depan dan bisa diturunkan kepada generasi selanjutnya. Tak tanggung-tanggung, si penumpang taksi menghabiskan puluhan juta rupiah rupiah untuk membeli batu. Sang pengemudi yang sabar mendengarkan berkata pada saya: “saya dengerin aja bu, palingan batu ini nasibnya sama kayak ikan Lohan dan Gelombang Cinta. Trend sebentar saja”.

Menurut kalian, akankan demam batu ini berlangsung lama?

Kontroversi Hubungan Beda Usia

Perkawinan yang usia pelaku perkawinannya berbeda jauh, baik dilakukan orang asing maupun dilakukan orang Indonesia, selalu kontroversial dan mengundang tatapan penuh tanda tanya. Beberapa waktu lalu, saya turun dari sebuah tangga berjalan di Plaza Senayan, di depan saya ada pasangan beda usia, dua-duanya orang Indonesia. Dari bahasa tubuhnya mereka terlihat sebagai pasangan dan bukan ayah dan anak. Seperti diduga, mereka mengundang tatapan mata yang sadis dan cibiran. Saya yang berdiri empat langkah di belakang mereka saja bisa merasakan panasnya tatapan orang lain yang penuh cibiran. Sadis.

Mereka bukan satu-satunya pasangan yang mendapatkan tatapan panas. Coba google Sheldon Archer dan Yuyun. Sheldon Archer berusia 72 tahun ketika mengawini perempuan Probolinggo yang 49 tahun dibawahnya. Beberapa tahun lalu, berita perkawinan mereka menghebohkan jagat maya, bukan hanya karena perbedaan usia yang mirip kakek dan cucu, tapi juga karena si Sheldon ngomong kawin sama orang Indonesia itu gampang, tinggal mumbled a few words he didn’t understand.

Dua contoh yang jauh berbeda di atas memberikan gambaran bahwa pasangan dengan usia yang jaraknya jauh seringkali dianggap salah, tabu dan menyalahi norma. Masyarakat kita suka melabeli perempuan pencinta pria matang sebagai pencari status sosial (a.k.a social climber), materialistis, murahan dan pada beberapa kasus, perusak rumah tangga. Label ini bisa jadi dikarenakan anggapan bahwa pria matang biasanya sudah menikah (kemudian bercerai), memiliki kestabilan ekonomi,  cicilan rumah sudah lunas, mobil beberapa buah dan anak-anak yang sudah mapan. Label ini juga tak sepenuhnya salah karena ada perempuan-perempuan yang mengawini pria karena alasan ekonomi. Sadly, sebagian perempuan memang diajarkan untuk mencari pria yang lebih, lebih pintar, pekerjaannya lebih baik, penghasilannya lebih banyak supaya bisa diandalkan. Tak semua perempuan diajarkan untuk berdiri sendiri dan membangun kestabilannya.

Generation-03-27-11-400x396

Gambaran Pattaya dengan kakek-kakek yang dikerubungi gadis-gadis usia belia berkontribusi banyak pada image perempuan muda dan pria matang. Konon, di dalam dunia perdagangan jasa kasih sayang, perempuan-perempuan muda memang lebih menyukai pria matang. Duitnya lebih banyak, tidak banyak minta posisi ini itu dan lebih cepat selesai. Sementara bukan rahasia lagi bahwa ada pria-pria berusia matang yang memang berfantasi memiliki hubungan dengan perempuan yang sangat muda.

Tak heran kalau kemudian pria-pria yang berhubungan dengan perempuan yang lebih muda mendapat aneka rupa label seperti kegatelan dan tak bisa menahan napsu. Seringkali mereka dianggap tak sadar usia (apalagi jika usia pasangan barunya lebih muda ketimbang anak kandungnya) dan patriarki. Label yang paling akhir ini biasanya terjadi dalam perkawinan campur antara orang asing dan orang Asia. Ada anggapan bahwa mereka, orang-orang asing, menyukai perempuan Asia (apalagi yang lebih muda) karena lebih bisa diatur dan lebih menurut. Lalu muncul generalisasi bahwa parempuan yang kawin dengan pria asing biasanya mengawini pria yang usianya jauh lebih tua (kecuali saya yang sering diduga memiliki pasangan berondong). Label-label di atas tak sepenuhnya benar, tapi juga tak sepenuhnya salah, tergantung konteks dan latar belakangnya masing-masing.

Ada berbagai kekhawatiran yang membuat masyarakat kita melihat hubungan beda usia ini tabu. Beda usia, beda generasi diartikan berbeda selera. Yang satu suka Justin Bieber, sementara yang satu lebih suka Connie Francis. Yang satu menyukai golf, sementara yang satu menyukai olahraga ektrim yang bisa bikin alat pemacu jantung rusak seketika. Sebenarnya, pasangan dengan usia yang dekat pun pasti punya selera yang berbeda juga, punya perbedaan yang harus dikompromikan.

Pasangan beda usia juga rentan dicibir urusan anak. Dikasihani karena anaknya tak bisa lulus kuliah didampingi bapaknya, nggak bakal bisa kawin didampingi bapaknya karena bapaknya sudah berumur (dan diprediksi saat momen-momen itu, bapaknya sudah nggak ada). Saya bukan ahli psikologi, tapi dalam pikiran sederhana saya, anak hanya akan melihat cinta dan kasih saya dari orangtuanya. Bapaknya mungkin tak akan ada dalam masa tertentu, tapi bukan berarti kita semua tak rentan dengan hal serupa. Orangtua kita, bisa berpulang kapan saja dalam usia muda ataupun tua.

Masyarakat kita memang tak terbiasa dengan perkawinan dengan jarak usia yang terlampau jauh. Makanya pasangan beda usia selalu mendapatkan tatapan penuh tanda tanya. Keingintahuan untuk mencari tahu cerita dibalik hubungan itu yang dibarengi oleh penghakiman. Tapi yang saya heran, bukankah masyarakat kita selalu mengajarkan perempuan untuk mencari pria yang lebih tua karena pria yang lebih muda dianggap tingkat kedewasaannya belum terbentuk sempurna? Oh mungkin ketika mengajari lupa bilang: tapi jangan tua-tua banget, nanti Bapakmu bingung manggilnya apa!

Xx,
Tjetje
Sering dituduh punya pasangan lebih muda

Menengok Surga Tercecer di Banda Neira

Sang empunya blog baru-baru ini diajak trip fabulous à la Syahrince, naik kapal pesiar kecil ke pulau Banda Neira di Tenggara kota Ambon. Haiyah, heboh bener naik kapal ecek-ecek, belum juga nyewa Silolona. Pulau kecil ini bisa dicapai setelah menempuh perjalanan melalui laut selama lima jam dengan kapal pesiar kecil atau delapan jam  dengan kapal feri; kapal feri konon hanya ada  pada hari-hari tertentu saja.

https://instagram.com/p/2McgaswxsI/

Perjalanan dari Ambon diwarnai dengan pemandangan buruk. Sampah plastik bertebaran dimana-mana. Dari mulai bungkus makanan ringan, gelas, botol, hingga mainan plastik mengapung di laut. Sekitar satu jam setelah melihat hamparan sampah tersebut, rombongan kami bertemu dengan  segerombolan lumba-lumba. Pertemuan saya dengan kawanan lumba-lumba dan juga sampah plastik itu membuat saya semakin semangat untuk mengurangi sampah plastik, supaya lumba-lumba dan teman-temannya tak perlu tersangkut, atau bahkan memakan plastik.

Pulau Banda Neira berhadapan langsung dengan Pulau Naira yang memiliki gunung berapi. Gunung ini masih aktif dan salah satu sisinya menghitam karena aliran lahar. Saking kecilnya, mengelilingi dan mengunjungi obyek wisata sejarahnya dengan berjalan kaki sangat dimungkinkan. Saya memaksakan diri untuk bangun pagi dan berjalan berkeliling menikmati bangunan-bangunan tua bangunan Belanda serta menengok obyek wisata sejarah. Ada banyak tempat wisata sejarah di Banda Neira, dari mulai Benteng Belgica yang bagian tengahnya berfungsi untuk menggantung manusia dan memiliki kursi-kursi untukmenonton proses penggantungan hingga rumah pengasingan bung Hatta. Pulau ini juga menyimpan bangunan mewah, istana mini tempat Gubernur VOC berdiam, gereja tua dengan lonceng kunonya dan makam di lantai gereja serta lapangan tempat penjagalan  manusia dipotong menjadi empat.

https://instagram.com/p/2M9ynUwxr7/

Satu hal yang membuat hati saya tersayat saat mengunjungi Istana Mini adalah curahan hati yang diukirkan di kaca oleh seorang Perancis. Curahan ini berisikan kerinduannya untuk bersama dengan keluarga yang dia cintai, la famille que j’aime. Orang Perancis tersebut bunuh diri.

Buah pala dan aneka rupa olahannya, sirup ataupun manisan, bisa ditemukan dengan mudah di berbagai warung kecil di Banda. Banda tak hanya kaya dengan pala, tetapi juga kaya dengan aneka rupa biota laut. Saya yang menyempatkan diri menengok bawah lautnya begitu terpukau melihat gugusan karang yang indah dengan aneka rupa ikan yang cantik. Kali ini saya menyesal karena tidak pernah belajar menyelam, apalagi belajar tentang aneka rupa ikan cantik. Eh tapi, kalau gak masuk ke dalam air pun kita bisa dengan mudahnya melihat ikan-ikan di bawah air. Selain dilihat, ikan-ikan dari laut Banda juga enak untuk dimakan. Konon, kekayaan laut Banda memang luar biasa. Tak heran banyak kapal-kapal asing yang mencuri ikan di wilayah ini.

Kali ini, interaksi saya dengan penduduk lokal, apalagi pengamatan perilaku serta keseharian mereka sangatlah terbatas. Harap dimaklumi, kali ini saya benar-benar berlibur cantik, duduk manis di depan ‘rumah SBY’ (rumah yang konon disiapkan untuk Pak SBY untuk Sail Banda, tapi beliau tak jadi datang) sambil menikmati pisang yang bertaburkan kenari. Menjauh sejenak dari bisingnya teknologi, karena sinyal di Banda sungguh minim. Mereka yang hidup di Banda Neira begitu beruntung, hidup tanpa kekangan teknologi, deadline, apalagi kemacetan.

https://instagram.com/p/2Qy8pLQxqo/?taken-by=binibule

Banyak orang menyebut Pulau Banda Neira sebagai kepingan surga yang tercecer, kecantikannya dan warna-warni biota lautnya memang sangat indah. Pulau ini sudah beberapa kali didaftarkan menjadi warisan dunia, tapi hingga sekarang masih belum masuk dalam daftar warisan dunia. Ah kalau boleh memilih, saya tak mau memasukkannya ke dalam warisan dunia, supaya pulau itu tetap tenang dan sunyi.

Jadi, kemanakah kalian akhir pekan ini?

xx,
Tjetje

Pentingnya Perjanjian Perkawinan

Perempuan Indonesia yang akan kawin dengan orang asing, sebaiknya membuat perjanjian perkawinan (sering juga disebut sebagai perjanjian pranikah atau prenuptial agreement) untuk memisahkan harta. Tujuan dari pemisahan harta ini supaya pihak perempuan tidak ‘kehilangan haknya’ untuk membeli properti dan atau ‘tidak kehilangan hak waris propertinya’.

Logika sederhananya begini: menurut UU perkawinan no. 1 tahun 1974 harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Jika membeli properti setelah kawin dengan status hak milik, maka properti tersebut akan dianggap sebagai milik kedua belah pihak. Padahal, orang asing tidak boleh memiliki properti dengan status hak milik. Mereka hanya bisa boleh menggunakan status hak pakai, hak sewa. Makanya, diperlukan adanya perjanjian perkawinan yang memisahkan harta kedua belah pihak.

Perjanjian perkawinan ini bisa dibuat di Notaris dan kedua belah pihak harus sama-sama menghadap. Nah, bagi yang mau kawin, silahkan diperhitungkan dengan baik rencananya, karena harus punya waktu untuk menghadap ke Notaris. Isi perjanjian ini sendiri tergantung kedua belah pihak, biasanya Notaris sudah memiliki bentuk dan contohnya. Perjanjian perkawinan ini nantinya harus dicatatkann ke Kantor Urusan Agama/ KUA (bagi Muslim) ataupun ke catatan sipil (bagi non-Muslim). Perlu dicatat bahwa perjanjian perkawinan harus dibuat sebelum perkawinan dan tidak dapat dibuat setelah perkawinan. Perlu dicatat, biro hukum ini menawarkan perjanjian paska pernikahan, entah bagaimana statusnya dimata hukum.

Harga perjanjian perkawinan beraneka rupa, dari jutaan rupiah hingga puluhan juta, tergantung dimana membuatnya. Saya misalnya, membuat di Malang, teman kuliah mama, harganya otomatis tak mahal. Sementara, seorang kenalan membuat di sebuah biro hukum dan harus merogoh belasan juta rupiah.

Bagaimana jika setelah perkawinan membeli properti dan tidak punya perjanjian perkawinan? Mengutip pada pasal 21 UU no. 5 tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria, orang asing yang memiliki harta dari perkawinan campur wajib melepaskan dalam waktu satu tahun. Sederhananya: boleh beli, tapi setelah satu tahun properti harus dijual dalam waktu satu tahun, kalau gak akan diambil negara.

UU pertanahan

Alternatif untuk memiliki properti

Orang asing dan pelaku kawin campur mencoba ‘mengakali peraturan’ pertanahan dan properti dengan perjanjian nominee, bahasa awamnya pinjam nama, baik nama orang maupun nama badan. Contohnya ya, Mr. John orang Australia membeli sepetak tanah dengan meminjam nama Pak Joni orang Bali. Mr. John bayar semua biaya yang muncul dari jual beli tersebut, termasuk membayar tanahnya dan memberikan upah kepada Pak Joni yang telah meminjaman dokumen serta identitasnya. Kemudian, Mr. John dan Pak Joni membuat perjanjian nominee dimana Mr. John diberi hak untuk mengelola, membayar pajak bahkan menjual tanah tersebut. Perjanjian bawah tangan untuk ngakalin hukum, tapi hal seperti ini dianggap tidak sah.

Banyak juga yang meminjam nama orang tua. Ini tak kalah repot karena harus melibatkan semua saudara sekandung. Mereka harus tahu, jika tidak tahu dan orang tua meninggal, bisa berabe rebutan harta yang dianggap sebagai harta warisan.

UU pertanahan kita memang diskriminatif, karena terdapat pembedaan antara warga negara yang kawin dengan orang Indonesia dengan yang kawin dengan orang asing. Sudah seharusnya UU ini dirubah untuk memberikan hak yang sama tanpa pembedaan. Kalaupun kemudian ada ketakutan tanah akan jatuh ke tangan pasangan asing, tentunya hal ini bisa diregulasi dengan baik.

Jadi, bagi yang punya pasangan orang asing, sebelum kawin cepet-cepet bikin perjanjian perkawinan. Jangan malu atau melihat perjanjian ini sebagai hal yang tabu. Sementara mereka yang sudah terlanjur kawin dan tak punya perjanjian, tak bisa beli properti dengan status hak milik, jadi kalau beli properti pakai hak yang lain saja, biar aman.

Kawin sama orang asing sekali lagi berisiko kehilangan hak membeli properti. Oleh karena itu, kalau ada kenalan yang sedang berpacaran dengan orang asing, selalu ingatkan tentang perjanjian perkawinan ini.

Salam,
Tjetje

Kelaparanpun Melanda Koloni Lebah

Hari itu matahari bersinar cerah dan langit biru menghiasi awan di bagian Barat Lombok. Hamparan sawah menguning seakan menyambut ketika saya memasuki desa Tepos di kaki Gunung Sasak. Petani, baik yang perempuan maupun yang pria, sibuk memanen hasil tanamnya; sementara sebagian kecil dari mereka membakar batang-batang padi . Di sisi lain dari hamparan sawah cantik itu, seorang pria melemparkan ikatan bibit-bibit padi dari belakang mobil pick-upnya. Pemandangan hari itu sungguh elok, membuat senyum tersungging dari bibir.

Begitu saya duduk dan mengobrol dengan komunitas petani di sana, saya jadi tahu bahwa gunung Sasak tak seindah yang saya deskripsikan; daerah ini ternyata menyimpan segudang masalah, dari air hingga kesuburan tanah. Penggundulan hutan, walaupun hanya hutan kecil, menyisakan dua dari enam mata air. Erosi, kekeringan dan tanah longsor mengancam mereka kapan saja. Sementara, kualitas tanaman garapan mereka juga menurun. Yang menyedihkan, beberapa ton bantuan kompos tak dijamah karena mereka lebih menyukai menggunakan urea. Jika menanam dengan urea, dalam seminggu saja tanaman akan tumbuh. Walah petani pun nampaknya lebih menyukai yang instant.

Lebih sedih lagi ketika tahu bahwa para petani yang juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai apiarist, tak bisa meningkatkan skala produksi madunya. Rumah lebah yang berjajar di depan kediaman mereka hanya menghasilkan sekitar 700 ml madu per tahunnya, padahal potensi rumah lebah itu 1.5 liter per tahun. Masalahnya sederhana: tak ada makanan untuk lebah. Hutannya gundul, lebahnya ‘kelaparan’.

Berbicara tentang madu tak bisa lepas dari fakta bahwa kita, manusia ‘mencuri’ madu, persediaan makanan para lebah. Para lebah ini sudah pakannya menipis, masih pula dirampok. Cara pengambilannya pun cukup kejam, sarang mereka diperas. Padahal, di sarang ini banyak larva yang merupakan generasi masa depan para lebah. Larvanya mati dan sarah lebah pun rusak. Butuh setidaknya tiga bulan bagi para lebah untuk bisa membangun rumah lagi (lalu dirampok lagi). Btw, di Malang ada juga kekejaman lain terhadap sarang lebah tawon; di sana sarang tawon  lengkap dengan larva-larvanya djadikan botok *bukan untuk mengencangkan kulit, tapi untuk mengencangkan perut*.

Bee Flow

Bee flow hive; metode baru memanen madu. Photo courtesy of honeyflow.com

Dari Sasak, saya bergeser ke Bantul, menemui apiarist juga. Kali ini sang apiarist punya teknik yang lebih bagus untuk mencuri memanen madu. Para lebah diasapi, kemudian sarangnya dimasukkan ke dalam alat yang akan melepas madu, tanpa merusak sarang lebah. Biarpun tekniknya bagus, si Bapak apiarist juga tetap ditinggal minggat lebahnya. Lagi-lagi, ketiadaan pakan menjadi sumber masalah. Saking berdedikasi pada alam dan lebah, si Bapak membeli ribuan bibit pohon kaliandra untuk ditanam demi memakani lebah; pohon ini rupanya berbunga terus menerus dan hanya istirahat selama 1,5 bulan.

Dari si Bapak, saya belajar bahwa apiarist itu harus halus hatinya. Lebah-lebah itu rupanya tidak bisa dikasari.  Jika dikasari mereka akan menyengat. Si Bapak juga berbaik hati membukakan kotaknya supaya saya bisa melihat koloni-koloni lebah itu. Madu Bantul ini memang larva-friendly, tapi sayang harganya tidak bisa tinggi. Satu botol sirup dijual dengan harga 80 ribu saja,  sementara di Lombok 200 ribu. Perbedaan harga ini karena Lombok terkenal dengan madu, sementara Bantul lebih terkenal dengan gaplek geplak & kekeringan.

image

Dari perjalanan itu saya mempelajari banyak hal tentang madu, lebah serta dampak ekonomi yang dibawanya. Kesimpulannya, kita, manusia, berhutang dan bergantung banyak pada lebah. Menurut saya, jika lebah punah, maka kita akan terkena dampak kelaparan. Jadi, yang punya  lahan kosong, mari membayar hutang pada lebah dengan menanami pohon yang berbunga atau bunga-bungaMari memastikan bahwa lebah-lebah dan juga kita sama-sama tidak kelaparan.

Gimana, mau menanam bunga-bunga? *diucapkan dengan gaya Syahrini*
xx,
Tjetje

Sindiran Untuk Generasi Masa Kini

Beberapa waktu lalu, satu seri gambar-gambar dengan hashtag #thisgeneration buatan Ajit Johnson berkeliaran di sosial media. Si Ajit Johnson ini gak cuma bikin sindiran-sindiran tentang #ThisGeneration, tapi juga bikin poster-poster tentang #ChangeTheWorld. Silahkan di klik nama dia di atas kalau pengen liaht karya-karya dia di Facebook. Anyway, ada beberapa gambar dari seri #ThisGeneration yang harusnya menampar kita semua, yang merupakan bagian dari generasi masa kini:

 thisgeneration-toilet-selfie

Selfie di kamar mandi dan juga selfie stick. Selfie ini menurut saya sudah sangat kebablasan. Kemaren waktu saya melewati tebing-tebing kering di sebuah desa di Imogiri saya juga melihat banyak anak muda yang nekat selfie di pinggir tebing. Nampaknya mereka tak tahu bahwa selfie itu sangat berbahaya jika terlalu bersemangat. Sangking bahayanya, di Eropa sana ada orang tua yang jatuh dari pinggir tebing di depan anak-anaknya.  Kalau soal tongsis, syukurlah di banyak tempat (bahkan di konser) sudah banyak dilarang. Setelah liburan dengan tongsis, saya jadi sadar kalau tongsis ini bikin selfie terus, bikin memori telpon penuh dan pada akhirnya bikin muak berat dengan muka sendiri yang bertebaran di aneka tempat.

Ajit Johnson juga membahas cara menulis jaman sekarang,  yang dalam bahasa kita disebut bahasa alay. Bahasa alay ini gak selamanya buruk kok, dia sangat cocok digunakan untuk bikin password. Cukup digunakan untuk password saja, selebihnya mending gak usah daripada bikin orang lain emosi karena gak paham. Soal bahasa alay ini, menurut saya gak cuma besar, kecil dan angkanya yang mengganggu; ejaan yang tidak tepat juga teramat sangat mengganggu. Banget dirubah menjadi bgd, karena (cause) berubah jadi cz, tapi yang paling parah tentunya Tuhannya dialaykan menjadi ‘Awwoh’.

This Generation marriage invitation

Selain hal-hal di atas ada juga soal undangan perkawinan di Facebook. Beberapa orang ada yang ngambek dikasih undangan online semacam ini, tapi kalau saya sih nggak menolak undangan online. Undangan itu harganya gak murah. Sebiji mungkin ‘cuma’ tiga puluh hingga seratus ribu Rupiah, tapi begitu dikalikan jumlah undangan menjadi jutaan Rupiah. Secantik apapun undangan itu (dan semahal apapun), biasanya undangan tersebut berakhir di tempat sampah. Jadi mendingan go green. Tapi tentunya semua orang tak sependapat dengan pemikiran saya dan hal tersebut sah-sah saja.

This Generation 1

Dari semua gambar yang dibuat,  yang paling menampar saya adalah gambar di atas. Saya tadinya suka membaca di Kindle dan saya punya ratusan buku di dalam Kindle itu. Semenjak punya Kindle, saya malas membeli buku kertas dan lebih rajin belanja buku elektronik di Amazon. Tahun lalu, saya sengaja meninggalkan Kindle di Dublin karena saya kira saya akan segera pindah. Gambar ini menyindir dan menampar saya secara keras, karena sejak September saya tidak membaca buku apapun. Saya merasa berdosa sekali dengan otak saya karena tidak diberi makanan yang cukup. Di jaman ini memang kita lebih banyak berkomunikasi, tentang hal-hal yang kadang tak penting melalui Whatsapp ketimbang berkomunikasi dengan diri sendiri, dalam hal ini berpikir. Gara-gara poster ini, saya memaksa diri untuk masuk toko buku dan belanja beberapa buku. Sudah bertahun-tahun saya tak membaca buku kertas. Oh nikmatnya membukan lembaran-lembaran kertas dan mencium harumnya kertas ketika di balik. Buku yang saya baca sekarang karya Oscar Wilde, seorang penulis Irlandia.

Kalian, kapan terakhir baca buku dan buku apa yang kalian baca?

xx,
Tjetje