Tertikam Pilu di Serambi Mekkah

Dari pasca tsunami hingga saat ini, tak terhitung berapa kali saya menjejak di Aceh, menikmati ayam tangkapnya, asam udangnya dan menghirup aroma kopinya. Ada banyak tempat menarik di Banda Aceh, tapi dua yang paling saya rekomendasikan adalah PLTD Apung dan Kedai Kopi Jasa Ayah.

PLTD Apung                                         

Setiap kali naik ke PLTD ini hati saya pilu dan tersayat, teringat  ratusan ribu saudara kita di Aceh yang tahun 2004 lalu diguncang gempa besar lalu dihempas tsunami. Begitu kuatnya tsunami sampai-sampai kapal seberat 2.600 ton yang saat itu berada di laut terseret hingga sejauh 3 KM ke daerah Plunge Blang Cut dan dan menimpa beberapa rumah di bawahnya. Konon di bawah kapal ini ada beberapa jenazah yang tak pernah bisa dipindahkan.

CIMG6154

View from the top

Waktu awal saya kesini, tak ada pungutan ataupun batas jam kunjungan. Tapi tahun kemarin ketika saya kembali, banyak hal yang berubah. Area sekitar PLTD sudah ditutup pagar rapi dan pengunjung tak boleh masuk saat waktu Sholat tiba karena pagar dikunci. Berapa biaya masuknya? Gratis!

IMG_2794

Bajunya harus sopan ya, kalau gak sopan nanti ditangkap Polisi Syariah

Warung Kopi Jasa Ayah

Seorang rekan yang juga ex-combatant bercerita bahwa sebelum perjanjian damai di Aceh ditandatangani, kedai kopi yang berada di Ulee Kareng ini sering disinggahi para Tentara Indonesia dan juga petinggi GAM. Rupanya ketika di dalam warung kopi, baku tembak terlupakan. Bagaimana tak lupa jika kedai ini menawarkan aneka rupa kopi yang nikmatnya menusuk kalbu. Beberapa kopi racikan Aceh yang khas antara lain kopi hitam tanpa campuran apapun, kopi susu yang memadukan susu dan kopi, juga kopi sanger yang berisikan kopi, susu kental manis, serta gula. Untuk menambah energi, sekali-sekali cobalah kopi kocok yang dicampur dengan kuning telur ayam kampung. Kopi –kopi ini disajikan bisa dingin ataupun panas, sesuai selerai.  Harga kopi ini pun tergolong murah karena tak mencapai sepuluh ribu rupiah per gelas. Yang istimewa, minum kopi di Aceh juga ditemani aneka rupa jajanan nikmat yang lagi-lagi harganya bersahabat dengan kantong.

Kopi Solong

Nama warungnya Jasa Ayah, tapi lebih ngetop dipanggil Solong Coffee karena pemilihnya bernama Abu Solong

Kendati tak ada larangan bagi perempuan untuk duduk di kedai kopi, jumlah pria di kedai kopi jauh lebih banyak ketimbang perempuan. Jarang sekali saya melihat perempuan nongkrong di kedai Kopi Jasa Ayah. Uniknya di Kedai Kopi Solong ini, nama lain Kedai Kopi Jasa Ayah, tak ada Wifi. Rupanya interaksi antar manusia dianggap lebih penting ketimbang interaksi dunia maya.

Tsunami yang memporak-porandakan beberapa wilayah Aceh tak mampu menghancurkan keelokan wilayah ini. Kini, setelah lebih dari 8 tahun perjanjian damai di tandatangani, para penyuka jalan-jalan dapat dengan mudah mengakses Banda Aceh tanpa rasa takut akan letusan senjata. Untuk mendapatkan penerbangan ke Bandara Sultan Iskandar Muda yang murah, silahkan cari tiket pakai www.skyscanner.co.id. Skyscanner ini website pencari tiket termurah, bukan website buat jualan tiket. Biasanya pemburu tiket murah kan suka buka banyak tabs di komputernya, pegang pensil dan bikin coretan harga-harga tiket. Sudah nggak jaman lagi karena sudah ada skyscanner, jutaan penerbangan akan kelihatan harganya dan bisa disortir harga yang paling murah, lama penerbangan, hingga maskapainya. Jadi bisa lebih hemat & kalau hemat uangnya bisa buat beli oleh-oleh khas Aceh, ayam tangkap, pia sabang atau bubuk kopi Solong!

Anyway, di atas saya nggak nulis gimana caranya mencapai tempat-tempat tersebut. Harap maklum, di Aceh nggak ada taksi, jadi kalau mau keliling-keliling harus sewa mobil. Berita baiknya, sewa mobil (dan juga hotel) bisa dicari via www.Skyscanner.co.id. Praktis kan?

Skyscanner 1

Skyscanner juga sudah ada aplikasi androidnya, jadi kalau bengong mending cari tiket murah di HP. Hasilnya, minggu depan ke Ambon dan akhir bulan saya ke Bali #pamcol.

Kalau kamu habis ini pengen liburan kemana?

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi #SkyscannerSeru #WisataIndonesiaKita Bloscars 2014.

Nostalgia Anak IPS

Jaman saya sekolah dulu, masih ada system rayon dimana kita daftar ke suatu sekolah, nanti kalau gak keterima otomatis masuk ke sekolah di bawah rayon tersebut yang kualitasnya nggak sebagus sekolah unggulan. Dalam dunia pendidikan, saya dua kali ‘terbuang’, pertama waktu SMP dan yang kedua waktu SMA. Jaman SMP, nilai NEM saya nggak tinggi-tinggi amat. Waktu itu saya sempat ditawarkan untuk BL (Bina Lingkungan/ nyogok), jaman segitu sogokan masuk sekolah unggulan ‘hanya’ 500ribu rupiah saja. Tapi saya menolak karena tak mau menipu diri sendiri dengan masuk sekolah unggulan dan karena malu kalau harus jadi anak BL. Malu ati ini disebabkan seorang teman yang berujar: “Oh ya anak BL itu saudaramu?!”

Masuk SMA, saya dapat sekolah yang gak begitu unggul, karena perbedaan selisih NEM 0,07. Tapi karena NEM saya cukup tinggi, saya masuk ke kelas unggulan yang isinya anak pinter-pinter semua. Salah satu diantaranya, saya yakin sekarang dia udah jadi dokter, punya NEM super tinggi tapi lebih memilih SMA ini. Saya sempet nanya, kenapa dia gak masuk sekolah TOP di kawasan Tugu Malang. Jawabannya sungguh bijak “Bagi saya, semua sekolah itu sama saja”.

Sayangnya, anggapan ini gak berlaku buat Ibu Henny. Guru Fisika di sekolah saya dulu. Konon beliau ini bekas guru di sekolah unggulan yang terpaksa harus mengajar di sekolah biasa-biasa aja. Akibatnya, beliau jadi rajin menganiaya, baik penganiayaan fisik, maupun penganiayaan batin. Mungkin kami yang sudah cukup cerdas ini nggak sesuai dengan kecerdasan beliau dan layak dihukum. Jadilah di dalam kelas kepala kami disundul dengan tangan (saya pernah ngalami yang ini!), beberapa teman juga dipukul dengan penggaris kayu sepanjang satu meter. Pendek kata, pada saat itu kami disiksa verbally dan physically karena kami gak jago fisika. Bahkan, seorang teman bernama Husni (dimana kamu Husni? Semoga kamu sudah jadi orang yg sukses dan bahagia), disindir terus menerus agar pindah ke SMA 1 Kepanjen saja daripada sekolah di SMA 5 Malang. Husni akhirnya mengalah pada teror Ibu Henny dan pindah ke SMA 1 Kepanjen ketika dia belum genap setahun belajar di SMA 5. Saya sendiri, mengalah pada keadaan dan tak pernah protes pada penyiksaan yang dilakukan sang Ibu tapi saya sebel banget sama Ibu ini. Dalam benak saya saat, hidup itu nggak cuma ngitung gerak lurus berubah beraturan ataupun gerak lurus berubah beraturan!  Entah dimana ibu Henny sekarang, semoga aja hidupnya bahagia setelah semua yang ia lakukan pada banyak anak-anak yang gak jago fisika.

Kelas 2 SMA, saya nggak masuk kelas unggulan lagi (fiuh…nggak ketemu bu Henny dan penggaris jahatnya!). Nilai pelajaran IPA saya tetep pas-pasan, tapi setidaknya nggak pernah merah. Nilai saya yang bagus, tentunya bukan kimia, fisika atau biologi, tapi matematika. Rahasianya: ikut les di Bapak Guru. Tiap kali mau ulangan, kami pasti diberikan soal yang mendekati soal ulangan. Jadinya lancar! Di kelas dua ini saya membuat keputusan controversial: masuk kelas IPS dan bukan kelas IPA. Nilai rata-rata pelajaran IPA saya memang lebih dari cukup untuk masuk IPA, tapi saya nggak pernah tertarik belajar tentang tembolok atau mengetahui kecepatan bola jatuh ke tanah. Jatuh ya jatuh aja, ngapain iseng ngukur kecepatannya. Saking mengejutkannya keputusan saya ini, pas pembagian rapport, muka wali kelas saya, Ibu Andar, panik ketika lihat rekomendasi kelas IPS. Rupanya beliau takut salah telah memasukkan saya ke IPS.

Di IPS, saya menikmati akuntansi dan belajar antropologi. Jaman itu, guru antropologi kami, Ibu Anoek, terkenal disiplin dan banyak dianggap galak. Saya malah nggak pernah mengganggap beliau galak, mungkin karena mata pelajarannya mengasyikkan. Saking sayangnya sama beliau, di akhir kelulusan saya datang ke rumah beliau membawa tanda mata sepotong kain. Di kelas ini, saya menikmati kehidupan yang indah, nilai ulangan cukup baik, belajar nggak pernah ngoyo dan yang paling penting saya bisa kerja sambilan menuliskan paper hukuman! Paper hukuman itu adalah lembaran-lembaran jawaban ulangan di atas kertas folio yang harus ditulis tangan demi mencapai nilai minimum 60. Jadi ini dikhususkan kepada mereka yang nilainya nggak cukup. Jika hasil ulangan 40, otomatis si anak didik harus menuliskan sebanyak dua puluh kali, pakai tangan! Tangan siapa aja boleh, termasuk tangan saya. Tapi tangan saya saat itu boleh didayagunakan dengan imbalan coklat toblerone.

Definition-of-Math-e1336420731500

Buat sebagian orang, ini bener!

Banyak orang memaksakan diri untuk masuk kelas IPA, supaya orangtuanya bangga. Ada juga yang masuk IPA karena gengsi biar nggak dianggap bego ataupun anak buangan. Sayangnya, orang-orang ini (kadang orang tuanya) tak melihat bagaimana kapasitas otaknya dan minatnya. Yang penting masuk IPA, sogok sana sogok sini, kursus sana kursus sini. Akibatnya, otak jadi kram dan berasap kepanasan karena kelelahan ngitung frekuensi sirene mobil. Tak hanya itu, kursi di kelas IPA juga dianggap sebagai ‘jaminan’ mudah saat seleksi masuk perguruan tinggi. Ketawa ajalah dengan anggapan ini, yang masuk IPA nggak lolos seleksi PTN juga banyak kali!

Anggapan yang mendiskriminasikan anak-anak di kelas IPS membuat banyak anak-anak dengan minat sosial ‘minder’ karena berbagai label negatif yang menghantui. Semoga di masa depan, kita, dan juga banyak orang lainnya berhenti memandang sinis orang-orang yang masuk IPS dan Bahasa, serta berhenti menganggap mereka sebagai orang-orang buangan yang kurang cerdas. Cerdas nggak cuma dihitung dari keahlian ngitung momentum, gaya, daya, ataupun itung-itungan lain yang bikin rambut makin keriting.

Kamu dulu, masuk kelas IPA atau IPS atas kesadaran atau dipaksa?

Pasangan Bule dan Ganti Kewarganegaraan

Menjadi istri orang asing itu emang bikin orang tertarik untuk nanya macam-macam. Dari yang usil sampai nanya seriusan. Ada satu pertanyaan yang sering ditanyakan banyak orang dari yang mulai kaum terdidik sampai kaum yang pendidikannya kurang tinggi. Pertanyaannya:

Kalau sudah kawin nanti jadi orang Irlandia dong?

Perkawinan antar bangsa ini dengan sederhana diartikan banyak orang sebagai pergantian kewarganegaraan, ganti passport jadi passport negara lain dan buang passport ijo yang kurang sakti. Ketika orang bertanya tentang hal-hal seperti ini, saya geleng-geleng sambil nanya, kenapa orang Indonesia mikirnya begitu? Apa yang membuat mereka bepikir seperti itu?

Kalau teori saya sih, orang Indonesia itu begitu karena kita nggak suka pindah keluar negeri selama-lamanya, alias migrasi, seperti warga negara lain. Kalau kata Slank sih, kita ini sukanya makan nggak makan asal kumpul. Sementara kalau kata pepatah sih daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Selain pepatah ini, indikator yang bikin saya bikin teori ngaco ini (bisa buat ngambil PhD ini!) karena saya belum nemu  kampung Indonesia di negara lain (cmiiw), sementara kalau cari China Town, Little India, atau Kampong Arab di beberapa negara tetangga itu gampang. Perlu dicatat, Suriname nggak masuk hitungan ya!

Anyway, jumlah buruh migrant Indonesia di luar negeri itu juga banyak, tapi mereka selalu kembali ke tanah air untuk kembali bersama keluarganya atau pulang ke suaminya yang ternyata sudah kawin lagi. Nggak ada yang kepikiran untuk ganti kewarganegaraan dan meninggalkan Indonesia for good ya? Kalaupun ada, menurut perkiraan saya (nggak ilmiah banget) jumlahnya tidak banyak karena ini nggak membudaya di negeri kita. Jadi hipotesa dari teori ngaco saya (Dengan segala hormat, mohon teori ini jangan dijadikan acuan untuk bikin tugas kuliah, apalagi bikin jurnal.) adalah: orang Indonesia itu gak tahu kalau pindah kewarganegaraan itu susah karena kita nggak suka migrasi, maunya di tanah air terus jadi nggak merasa perlu tahu kalau ganti kewarganegaraan itu susah. Boro-boro ganti kewarganegaraan, kemana-mana aja mesti bikin visa dengan dokumen setengah rim.

Ada pula beberapa orang yang nanya, kalau jadi istrinya orang Irlandia, mau nggak ganti passport? Sampai detik ini, kalau ditanya seperti ini saya akan bilang: Saya orang Indonesia dan hatiku merah putih, melepas passpor dan ganti kewarganegaraan hati saya masih berat. Denger Indonesia Raya aja berkaca-kaca matanya pengen pulang dan rindu nasi pecel, kok mau pindah kewarganegaraan. Lha gimana kalau pindah kewarganegraan? Ini jawaban saya sekarang ya. Sepuluh tahun lagi kalau ditanya mungkin pilihan saya masih sama, atau bahkan mungkin gak sama lagi. Sah-sah aja kan berubah pikiran itu? 

Indonesian_passport_data_page

Terus nanti kalau punya anak bagaimana? (awas ya jangan nanya kapan!). Kalau anak-anak kami sih tentunya akan punya privilege untuk punya dua kebangsaan, Indonesia dan Irlandia (terimakasih kepada para istri WNA yang sudah berjuang untuk hal ini, jasamu abadi, semoga kalian masuk surga karena melakukan kebaikan!). Pada usia tertentu mereka memang harus melepaskan salah satu kewarganegaraan dan memilih yang sesuai dengan pilihan mereka. Urusan itu, akan jadi pilihan mereka masing-masing karena itu adalah hidup mereka. Terus, kalau anak saya ikut Bapaknya, jadi WN Irlandia, saya gimana? Dipikir nanti aja lah ya!

Bagaimana dengan dwi kewarganegaraan yang sedang diperjuangkan oleh Diaspora Indonesia? Saya belum punya jawaban yang tepat untuk pertanyaan ini. Yang ada malah saya punya pertanyaan balik, apakah sistem di Indonesia yang sudah sangat tertata dengan rapi jali (excuse me, I am trying to be positive here!) sudah siap untuk mengurusi warga negara dengan kewarganegaraan ganda? Padahal ngurus KTP, akta kelahiran dan NPWP aja amburadulnya gak karuan. Sayangnya, pertanyaan yang maha sulit ini hanya bisa dijawab oleh mereka yang dibayar dengan pajak kita.

passport

Ada banyak hal yang mengikat saya dengan Indonesia; Indonesia tempat kelahiran saya, tempat nenek moyang saya, jadi ide untuk melepaskan paspor bersampul hijau itu buat saya masih sangat sulit. Padahal ya ini mah cuma dokumen administrasi saja. Pada saat yang sama, saya melihat banyak sekali mereka yang menanggalkan paspor Indonesianya kemudian dianggap tak Indonesia lagi. Jika berdiskusi atau mengkritisi tentang negeri kelahiran diolok-olok bukan Indonesia lagi, pengkhianat bangsa, dan tak cinta negara. Agaknya ide ini jadi membuat saya dan mungkin banyak orang lain untuk takut melepas kewarganegaraan.  Padahal, tak ada yang bisa merampas ke-Indonesiaan seorang individu. 

Kalau bisa pindah kewarganegaraan dengan mudah, mau pindah nggak? Kenapa & jadi WN apa? *kepo*

 

Film Korea Tentang Kurir Narkoba

spoiler

Pernah ngebayangin bangkrut, sampai nggak punya uang buat beli makanan dan nggak punya tempat tinggal? Kebangkrutan ini bukan disebabkan diri sendiri yang hobi belanja tas Hermes macam Encik Syahrini, tapi disebabkan suami menjamin temennya untuk ngutang di Bank. Biar semakin sempurna, temen kurang ajar yang dijamin itu ambil pinjaman jauh lebih tinggi dari yang dibilang ke suami, lalu nggak bisa bayar dan mengakhiri hidupnya. Jadilah suami (dan istri ini) mendapatkan warisan ternista, hutang setumpuk.

Terdengar tragis? Well, inilah kisah nyata yang terjadi pada Jang Mi-jeong (JMJ), seorang Ibu rumah tangga biasa-biasa di Korsel yang diabadikan dalam film berjudul Way Back Home. Suami JMJ (diperankan Go Soo) ini emang minta minta dijitak karena sok-sokan bantuin temennya tanpa bilang ke bininya. Akibat aksi heroic ini, pasangan ini harus kehilangan tempat tinggal dan tempat usaha mereka. Pendek kata bangkrut banget sampai anaknya yang masih berumur empat tahun gak bisa sekolah. Di tengah kemelut ini, seorang teman yang lain menawarkan pekerjaan,yang hanya untuk perempuan, untuk bawa perhiasan mentah ke Perancis dengan bayaran 5000 USD. JMJ, di film ini namanya diganti jadi Jeong Yon (diperankan Jeon Do-yeon), yang nggak pernah keluar negeri ini pun bikin passport dan pergi dari Korea Selatan ke Guyana (buat ambil perhiasan mentah) lalu pergi ke Perancis.

Sampai disini langsung ketebak kan apa yang dibawa? Satu koper, alias 17 kilogram kokain. Alhasil, Ibu satu anak ini sukses ke tempat wisata yang jarang dikunjungi di Perancis: PENJARA! Nggak lama di Paris, sang JMJ kemudian dipindahkan ke Penjara di pulau Martinique, daerahnya Perancis yang ada di laut Karibia. Dan dimulailah perjuangan berat tanpa dukungan negara (yang diwakili kedutaan besar) untuk mendapatkan keadilan.

Supaya bisa disidang, temen sang suami harus ditangkap dulu. Jadilah sang suami berjuang mencari temannya dan akhirnya berhasil memenjarakannya. Nah, dokumen persidangan sang teman ini yang bisa menyelamatkan JMJ dan harus segera dikirimkan ke Perancis untuk dapat digunakan sebagai dasar sidang. Sialnya, kedubes cuma menerjemahkan tapi sukses nggak mengirimkan dokumen kepada pihak berwenang di Perancis.

Selain harus disediakan dokumen di atas, JMJ juga harus didampingi penerjemah. Dan tentunya Kedutaan yang sangat supportif ini nggak menyediakan penerjemah. Malah dibilang kalau di pulau itu nggak ada orang Korsel sama sekali! Padahal, ada seorang pelajar yang udah hidup tiga tahun disitu dan udah laporan ke Kedubes. Ketidakberesan kedubes ini akhirnya terbongkar dan diblow up ke publik setelah KBS membuat documenter tentang perjuangan sang JMJ mencari keadilan. Dokumenter inilah yang kemudian memicu masyarakat Korsel untuk protes dan mendorong Kedubes berbuat sesuatu.

Di akhir cerita, si JMJ yang sudah lebih dari 700 hari dipenjara akhirnya mendapatkan sidangnya dan dihukum 1 tahun (coba kalau di Indonesia, udah dihukum mati dia; walaupun cuma kurir yang nggak tahu apa-apa). Dia juga berhak untuk menuntut Pemerintah Perancis memberikan kompensasi atas 1 tahun kelebihan di dalam penjara, tapi dia lebih memilih pulang ke Korsel (dan sampai rumah harus menghadapi Otrasicm dari masyarakat sekitar).

Way_Back_Home(2013)_poster

Kisah ini, saya yakin, banyak terjadi pada drug mule, alias kurir obat terlarang di luar sana. Di Indonesia sendiri banyak perempuan yang berpacaran dengan WNA dari negara-negara tertentu yang kemudian dijadikan kurir. Berhati-hatilah perempuan kalau milih pasangan! Ngelihat film ini saya nggak cuma pengen lempar telur busuk kepara staff Kedubes yang dibayar pakai pajak warganya tapi juga pengen ngebejek-bejek.  Film ini kemudian membuat saya banyak tanya dan teringat pada para dua hal: Schappelle Corby dan Buruh Migran Indonesia.

Schapelle Corby tertangkap membawa barang haram di dalam tasnya ke Bali. Terlepas dari kontroversi selama proses hukum dan apakah dia benar atau salah, hukum memutuskan  Corby harus menjalani hukuman selama dua puluh tahun di Kerobokan Bali. Konon, Pemerintah Australia tidak tinggal diam dan melakukan lobi-lobi kepada penyanyi nomer satu di negeri ini  Pemimpin negeri ini. Makanya Corby dapat potongan lima tahun dan sekarang mendapatkan bebas bersyarat, bahkan mengantongi jutaan dollar dari wawancara yang dilakukan kakaknya. Hebat ya negara tetangga kita itu bisa melobi-lobi untuk diskon masa tahanan 25%. Kalau Pemerintahnya kayak gitu nggak nyesel kan jadi pembayar pajak? Soal kenapa SBY ngasih diskon yang bertentangan dengan gerakan anti-narkoba, bahkan kemudian diikuti pembebasan bersyarat, nggak perlu dicari tahu. CAPEK dan bikin SAKIT HATI!!

Grasi-Schapelle-Corby-1

Foto dari jawaban.com

Film ini juga mengingatkan saya pada para BMI yang nun jauh disana dan baru-baru ini pada tidur di bawah kolong, di musim dingin kalau saya tak salah ingat, karena pemerintah Arab Saudi bikin peraturan baru?

Satu lagi, di film itu kemarin para staff Kedubes direpotkan dengan tingkat pejabat Korsel yang datang ke Paris untuk kunjugan dan repot nyari restaurant yang bertaburkan Michelin stars. Nah, apakah kedubes kita di Perancis (dan juga di berbagai negara maju lainnya) juga sibuk melakukan hal yang sama? Melayani para wakil rakyat hura-hura di deretan toko eklusif dengan dalih lagi kunjungan kerja?  Wakil rakyat ini baik lho, karena kita nggak bisa belanja hura-hura, mereka yang mewakili! Gak usah dijawab, jawabannya udah jadi rahasia umum.

Nggak cuma itu, bagaimana dengan BMI yang menghadapi hukuman, baik itu hukuman penjara maupun hukuman mati. Sudahkah orang-orang yang kita bayar dengan pajak kita berlaku adil pada mereka? Memprioritaskan mereka kendati mereka bukan saudara pejabat? Sudahkan Kedubes memberikan bantuan pada mereka? Bantuan nggak cukup krim malam, pasta gigi dan sabun, tapi juga bantuan perlindungan dari penganiayaan di dalam penjara, bantuan penyediaan pengacara dan yang paling penting, terutama bagi mereka yang terancam hukuman mati, bantuan konseling kejiwaan.

Saya punya berbagai pertanyaan yang menggelanyut di pikiran saya, kemanakah saya harus mencari jawaban?

xoxo,
Ailsa

Perempuan Hebat

Di balik pria hebat ada perempuan hebat. Dalam kasus saya, di balik keberhasilan saya (kalau ini bisa disebut keberhasilan) ada banyak perempuan hebat. Ada empat orang yang membuat saya semakin sangat bersyukur dengan apa yang saya punya. Tiga orang diantaranya bertalian darah dengan saya, sedangkan satu orang merupakan sahabat baik yang saya temukan dalam perjalanan hidup.

Pasti bisa nebak kalau salah satu orang yang bertalian darah dan hebat adalah Mama saya, dua lainnya adalah Eyang saya dan Tante saya (yang sudah seperti Ibu kedua bagi saya). Saya nggak akan ngebahas kehebatan dan hutang saya para perempuan-perempuan ini. Yang jelas, hutang saya gede banget dan gak pernah bisa dibayar dengan apapun. Bahkan cinta saya pun rasanya nggak akan cukup untuk bayar utang ke mereka.

Anyway, Mama saya ini 6th sensenya nyala banget dan bisa menilai orang dengan cepat. Yang paling sering jadi korban penilaian ya teman-teman saya. Dengan beberapa orang saya dilarang berteman. Tapi kan berteman itu harus dengan semua orang?  Jadinya ngelawan dong. Buntutnya, Mama yang bener, pertemenan buyar. Dulu saya nggak paham kenapa mama saya segitunya. Sekarang, setelah bersahabat selama 16 tahun, saya paham maksud mama saya. Kenalan dengan semua orang itu sah-sah aja, tapi untuk berteman yang deket banget, itu harus picky. Teman itu mempengaruhi cara pikir kita dan supaya cara pikir kita baik, maka temennya juga harus baik. Teman yang baik akan memberikan masukan baik dan otomatis berdampak bagus terhadap masa depan kita.

Saya dan sang sahabat gak pernah sekolah di sekolah yang sama. Kami juga bukan teman main petak umpet, karena kami nggak pernah tinggal di komplek perumahan yang sama. Pertemanan kami terjadi karena teman yang mengenalkan dan hidup membawa kami lebih dekat. Enam belas tahun berteman tentunya diwarnai dengan aneka rupa cerita, dari yang jelek sampai yang bagus. Bahkan diiringi dengan nama panggilan jelek yang bertahan hingga sekarang. Saya mendapat panggilan sayang Jumik atau Kumik. Cerita nama jelek ini asal muasalnya akan saya tulis di lain waktu ya (jika ingat dan jika sempat). Nggak cuma dia yang manggil saya dengan nama jelek, anak-anaknya pun memanggil saya dengan Tante Jumik. Parahnya, mereka tak tahu siapa nama asli saya. Hahaa…

Kalau cerita jelek yang saya ingat, saya sempat nangis-nangis heboh di depan dia (dan diminta tenang) karena putus dari mantan pacar. Rasanya dunia runtuh karena versi muda saya menganggap mantan pacar adalah segala-galanya. Dulu sih nangis-nangis dan gak mau disuruh tenang (geblek!) sekarang kalau inget saya cuma tersenyum kecut, nggak penting banget sih nangisi mantan pacar gak berguna yang hidupnya tak suksesk. Ini nuduh sambil berharap. Anyway, tujuan saya nulis ini bukan untuk membahas mantan pacar, apalagi nyumpah-nyumpahi, tapi untuk membahas bagaimana teman yang baik bisa membuat hidup lebih baik.

Tahun kejadian nggak perlu ditulis lah ya, nanti saya ketahuan umurnya masih mudah dong (iiiih…). Saat itu saya masih jobless karena baru lulus. Layaknya kebanyakan orang Malang, saya maunya kerja di Malang  aja karena tinggal di Malang itu nikmat banget. Kemana-mana deket, makanan murah. Comfort zone lah ya. Boro-boro mikir kerja ke Jakarta, waktu itu dipanggil wawancara di Surabaya aja udah nggak rela. Buat saya, hidup dengan polusi dan kemacetan Surabaya itu nista banget, eh tapi sekarang dua hal ini jadi makanan sehari-hari dan ngggak merasa nista. Nah sahabat sayalah yang kemudian membuka mata saya dengan ceramahan kalau tinggal di Malang tak akan membuat saya maju.  Yang di Malang gak usah tersinggung yah, ini konteks hanya berlaku untuk situasi saya saja. 

Gara-gara dia, saya pun mulai membuka diri dengan pilihan kerja di Jakarta. Sampai kemudian dapat kerja di Jakarta dan menetap di Jakarta selama sembilan tahun terakhir ini. Saking cintanya sama Jakarta kalau disuruh balik ke Malang untuk kerja saya bakalan mikir super panjang. Kalau bukan dia yang mempengaruhi saya, mungkin hari ini saya belum keliling Indonesia untuk berkontribusi sedikit pada pembangunan. Dia pula yang ngeracuni saya untuk belajar bahasa Perancis (dari jaman tahun 2000an dia udah ngeracuni saya) dan meminjamkan sebuah buku pelajaran bahasa Perancis yang dibeli Bapaknya di New York. Thanks to her support, sekarang saya bisa berbahasa Perancis, bahkan berguna pada saat saya melamar pekerjaan untuk sebuah badan dunia yang berpusat di Perancis.

Pengaruhn perempuan hebat ini pada hidup saya tak hanya itu, masih banyak pengaruh positif dan masukan berharga yang diberikan pada saya. Kalau di list di postingan, bisa-bisa jari jemari saya kram nulisnya. Pelajaran berharga dari 16 tahun pertemanan ini dan moga-moga jadi pelajaran berharga bagi banyak orang, terutama mereka yang masih sangat muda. Kalau milih sahabat itu harus selektif, seselektif memilih jodoh. Sahabat yang baik itu akan ada dalam suka dan duka, nggak pernah iri pada keberhasilan dan akan terus menerus mendorong kita tanpa lelah supaya kita terus maju.

Harriet Stowe emang bener, women are the real architect of the society!

Selamat ulang tahun sahabat baik! Selamat hari perempuan internasional juga untuk semua perempuan dimuka bumi ini.

Indonesia Banget: Minta-minta

Disclaimer: Tidak semua orang Indonesia berperilaku seperti ini. Jadi jangan keburu kesel dulu karena penulis tidak menggeneralisasi. Namun perilaku ini seringkali ditemukan dalam kehidupan sehari-hari orang Indonesia.

Jadi orang Indonesia itu dipenuhi dengan banyak hal-hal yang menarik dan kejutan. Hidup sungguh dinamis dan penuh warna. Salah satu hal menarik yang dekat dengan dengan kehidupan sehari-hari orang Indonesia, sampai gak bikin terkejut lagi, adalah perilaku meminta. Tanpa kita sadari, atau jangan-jangan kita sangat sadar, orang Indonesia itu doyan banget meminta-minta. Yang sudah pernah dibahas dan saya yakin kita semua sudah bosen dengernya (saya aja bosen bahasnya) adalah minta oleh-oleh, apalagi oleh-oleh kerupuk lima bungkus yang makan tempat di koper.

Permintaan lain yang sering diminta orang Indonesia adalah minta dicariin jodoh. Apalagi kalau jadi bini bule, pasti orderannya minta jodoh bule. Memangnya orang Indonesia yang kawin atau pacaran sama bule itu selalu punya biro jodoh atau website perjodohan? Kadang kalau saya lagi iseng saya suka bilang: Kalau serius pengen jodoh boleh, nanti saya bikinin flyer untuk disebar di Dublin. Yakin mau? Menurut saya, kalau mau cari jodoh sebaiknya jangan minta-minta orang dan mending usaha sendiri. Memperluas jaringan dengan travelling, clubbing, daftar website jodoh, gaul tiap hari dengan orang-orang baru, atau aktivitas lain yang bisa bikin ketemu orang. Tapi kalau ketemu orang juga jangan sibuk mainan HP dan berwhatsapp ria dengan orang lain. Kalau sudah terlalu desperate pengen cari jodoh, bisa juga cari dukun deh buat membuka aura-aura dan melancarkan jodoh dari berbagai arah, lalu pasang susuk di dahi, pipi, bibir, mata, hidung, dada dan juga bagian belakang tubuh.

Selain minta jodoh, permintaan lain yang merepotkan, dan bagi saya adalah permintaan paling keparat, adalah minta pekerjaan. Cari kerja di Indonesia emang gak gampang, apalagi buat fresh graduate atau yang pengalamannya pas-pasan. Tapi tahukah kalian kalau minta pekerjaan ke orang lain itu MEREPOTKAN segala penjuru dunia dan penuh dengan omelan (atau bahkan kutukan). Jika ada lowongan kerja yang dibuka sih masih mending, bisa ‘dipaksakan’ dan alokasi anggarannya ada. Itupun dengan catatan bahwa yang meminta kerja memiliki pengalaman kerja yang sesuai. Kalau gak ada pengalamannya ya modyar aja.  Kadang saya mikir, gak malu ya harus merepotkan orang (repotnya itu banget-banget lho, bisa sampai dibuatkan posisi baru dan dicarikan anggaran dari langit)?

IMG_1499

Kalau Imlek juga mendadak banyak peminta-minta di Klenteng (dok.pribadi)

Minta-minta selanjutnya adalah minta traktir ketika orang lain sedang bersuka cita i.e dapat rejeki lebih, promosi atau ulang tahun. Minta traktiran ulang tahun sayangnya sering tidak dibarengi dengan pemberian kado yang layak, boro-boro kado, kue ulang tahun pun kalau bisa yang paling kecil dan dibagi dengan orang lain yang ulang tahun. Demi aji mumpung juga, sang peminta-minta biasanya akan berusaha mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan pengeluaran seminimal mungkin, yaitu dengan pilih makanan dan minuman paling mahal. Urusan kantong pentraktir jebol (dan harus makan indomie selama sebulan kedepan) tidak dipikirkan. Siapa suruh dapat rejeki lebih? Orang-orang yang aji mumpung ini, kalau lagi punya rejeki apakah mau membeli makanan yang agak mahal untuk dirinya sendiri? Boro-boro traktir orang, biasanya orang begini untuk dirinya sendiri pun ogah dan lebih mengandalkan meminta-minta kepada orang lain.

Budaya minta-minta ini mengakar dalam masyarakat kita karena kita cenderung permisif dan membiarkan, bahkan mendukung. Ya kalau kita nggak suka memberi, mana ada mama sms minta pulsa terus menerus. Belum lagi pak Ogah yang tumbuh subur minta uang kepada pengemudi atas jasa yang seringkali tak diperlukan. Tak boleh dilupakan juga para pengemis yang menjual kemiskinan (atau kemalasan?) dan pura-pura miskin demi seribu atau dua ribu rupiah. Tapi ada dua minta yang saya dukung kelestariannya: minta diskon yang banyak kalau belanja dan minta doanya ya. Satu lagi yang harusnya digalakkan, belajar minta maaf, karena nggak semua orang bisa melakukan ini.

Selain yang disebut di atas, orang sering minta apa lagi ya?

Masuk Kamar Keramat Bung Karno

Tanggal 20 Februari yang lalu, saya berkesempatan masuk kamar Bung Karno di Hotel Inna Grand Bali Beach, hotel yang terkenal  sebagai hotel paling tinggi di Bali. Hotel ini tingginya melebihi pohon kelapa  sementara di Pulau Dewata, bangunan tak boleh melebihi pohon kelapa. Selain terkenal karena tingginya, juga tuanya, hotel ini juga terkenal karena dua buah kamar. Satu kamar untuk Nyi Roro Kidul dan satunya kamar Bung Karno.

Untuk bisa mampir ke kamar ini, diperlukan ijin dari Manajer Hotel dan hanya bisa dilakukan pada hari Kamis jam 17.00 – 21.00; malam Jum’at bow! Saya berkesempatan masuk di waktu yang tak sesuai karena bersama tamu VIP yang diundang Ibu Manager. Sayangnya sodara-sodara, kamar ini gak boleh difoto. Jadi mari saya deskripsikan berdasarkan ingatan.

Kalau pintu masuk kamar di hotel itu ada satu, disini pintu masuknya double. Setelah pintu kayu ada pintu kaca. Sama kayak kamar hotel pada normalnya, di sisi kiri ada lemari dan di sisi kanan ada kamar mandi marble lengkap dengan bathtubnya, sayang kamar mandinya tak terurus. Setelah itu, ada tempat koper yang dialihfungsikan menjadi tempat kotak dana punia atau uang sumbangan. Tamu VIP pun bertanya, kemana larinya uang itu dan dijawab pihak hotel bahwa uang tersebut untuk membiayai perawatan kamar tersebut.

Meja TV di kamar ini bersebelahan dengan lemari kaca display yang memuat aneka rupa barang. Mejanya sendiri berubah fungsi menjadi tempat persembahan, bersebelahan dengan aneka rupa barang keramat seperti keris juga patung-patung kecil hadiah dari tamu, termasuk patung angel. Lalu di sisi kanan ada dua tempat tidur. Lha, Bung Karno itu nyonyanya ada sembilan (baca: selalu dikelilingi perempuan), masa mau tidur di kamar twin sharing? Jadilah saya nanya:

“Emang Bung Karno tidurnya terpisah ya?” Pengen tahun banget kan ya. Ternyata hotel ini NGGAK pernah ditempati Bung Karno. Konon ide kamar untuk Nyi Roro Kidul itu datangnya dari Bung Karno. Makanya kamar ini disebut kamar bung Karno, walaupun beliau sendiri nggak pernah kesini. Alamak….

Pertanyaan selanjutnya tentang ukuran kasur yang menurut tamu VIP setinggi dua meter kurang dua cm kecil-kecil. Si Mbak perwakilan dari hotel bilang kalau Hotel ini itu dibangun Jepang bahkan kasur pun dibawa dari Jepang, makanya kasurnya kecil-kecil. Disesuaikan dengan tinggi orang Jepang. Saya pun menghitung pakai jengkal, dan ternyata 2 meter pas. Jadi kasur itu standard aja, sama kayak kasur jaman sekarang. Si Mbak juga bilang kalau hotel ini bisa beralih ke Indonesia karena dirampas. Waktu itu saya manggut-manggut aja, tapi Google bilang hotel ini baru selesai berdiri tahun 1966. Jepang udah pada pulang kali jaman tahun segitu, perang udah lama selesai, gimana ngerampas hotelnya?! Kayaknya yang bener, hotel ini dibangun dengan biaya dari rampasan perang Jepang.  Entahlah.

Tembok kamar ini masih dipertahkankan dengan warna aslinya, alias warna kecoklatan pasca kebakaran di tahun 1993. Ketika kebakaran itu, kamar ini selamat dari lahapan api. Makanya ini kamar dikeramatkan. Tembok ini dipenuhi dengan beberapa foto Bung Karno dan juga lukisan Nyi Roro Kidul.

Lucunya, kita tak diperkenankan pakai sepatu ketika masuk kamar ini, tapi di antara dua tempat tidur terdapat beberapa pasang sepatu pria yang rupanya hadiah dari para tamu. Rupanya, banyak orang bawa hadiah untuk kamar ini. Anyway, bagi saya melihat sesajian croissant, aneka pastry, aneka minuman itu biasa. Apa yang biasa dimakan ya itu yang dipersembahkan. Tapi yang menarik ada cerutu Cuba di meja sesaji itu dan itu cerutu sudah dibakar sebagian. Jadi bertanya-tanya, siapa yang membakar cerutu itu? Emangnya Nyi Roro Kidul merokok?

Impresi kamar saya tentang kamar ini: suram dan terlalu penuh. Tembok yang dipertahankan warnanya kecoklatan itu memberi nuansa gelap yang kurang resik. Banyaknya hadiah persembahan dari tamu juga bikin kamar itu jadi penuh banget. Aroma mistis? Kata mama saya yang masuk kamar ini sebulan lalu, aroma mistisnya kuat banget, bahkan ada yang kemasukan ketika keluar dari kamar ini. Tapi saya nggak ngerasa apa-apa. Saya Cuma merasa senang karena lihat burung-burung di balkon yang sibuk memakan sesajian dari depan patung Budha di balkon.

Hayo siapa yang minat masuk kamar ini?

Kelakuan Kocak Penumpang Indonesia di Dalam Pesawat

Disclaimer: nggak semua orang berlaku seperti ini dan postingan ini tidak bermaksud menggeneralisasi. Jadi bacanya gak usah pakai emosi ya. Kalau emosi mendingan keramas dulu biar kepalanya adem.

Ceritanya saya baru pulang dari Bali dan lagi-lagi sepanjang jalan ini saya mengamati perilaku penumpang kalau mau masuk ke dalam pesawat dan kelakuan mereka (dan juga kelakuan saya) selama di dalam pesawat. Semoga setelah baca ini kita jadi rajin cari hiburan dengan cara mengamati perilaku orang dan tentunya tidak meniru kelakuan yang tercela:

Masuk pesawat cepet-cepet

Gak di Indonesia aja, di Abu Dhabi & di Dubai orang Indonesia itu maunya masuk pesawat cepet-cepet. Selain berasa tiketnya Bisnis Class, orang-orang ini kayaknya takut ketinggalan. Padahal penerbangan sudah membuat aturan masuk, yang duduk di belakang masuk duluan. Aturan ini sebenernya nggak ngefek karena petugasnya sendiri nggak disiplin ngatur penumpang.

Masuk cepet-cepet juga disebabkan Airlines di Indonesia itu suka nggak disiplin dalam mengatur bawaan penumpang (apalagi budget airlines yang bagasinya bayar). Jadi penumpang yang bawaannya banyak itu (dari tas laptop, tas tangan, tas kamera, paper bag butik ternama, kardus toko oleh-oleh ternama, hingga plastic bertabur kopi berisi duren) harus cepet-cepet biar kebagian tempat.

aircraft cartoon 2 (2)

picture was taken from http://www.airlineratings.com

Foto

Cepet-cepet masuk ke area pesawat juga memberikan orang kesempatan untuk foto di depan pesawat (kan masih sepi) ataupun foto selfie ketika sudah duduk di kursi (mumpung yang duduk di sebelah belum datang). Kira-kira abis itu langsung update status BB: Off to Bali with Garuda Indonesia.

Memberdayakan Pramugari

Yang sering kayak gini nih ibu-ibu rempong. Bawaannya banyak, penuh dengan aneka oleh-oleh tapi gak mikir kekuatan tangannya untuk angkut barang ke penyimpanan bagasi. Akhirnya mbak Pramugari diperintahkan, gak pakai tolong, untuk menaikkan barang bawaan berharga ke atas. Eh tolong ya, emangnya Pramugari itu porter apa kerjaannya naikin barang penumpang?

Duduk di kursi orang

Yang paling sering kejadian nih ya, orang duduk di deket jendela karena mau lihat pemandangan tapi kursi dia sebenernya kejepit di tengah atau di lorong. Mbok ya dibaca dulu itu simbol panduan kursi yang ada di atas!

Rampok permen

Kalau di GA penumpang pasti diberi permen agar tidak sakit telinganya ketika take off. Take off itu gak sampai ngabisin satu permen asal bukanya pas udah taxi. Tapi dasar penumpang Indonesia, permen ini diraup macem anak kecil yang lagi kegirangan karena Hallowen. Abis ngeraup gak bilang terimakasih sama mbak Pramugari dan tentunya bungkus permen dibuang di lantai pesawat.

Males matiin perangkat elektronik

Jadi kalau udah taxi mau take off, sering banget ada orang yang BBnya bunyi, cring…cring…cring. Hadoh, blackberry murahan aja kok males banget matiinnya. Yang pakai Iphone yang nyata-nyata lebih mahal aja pada iklas matiin peralatannya.

FriendlyPlanet_AnnoyingAirlinePassengers_AW_FINAL

Makanan & Susu

Saya berapa kali ini barengan sama orang di pesawat yang dikasih makanan pada gak bilang terimakasih. Lha katanya kita ini bangsa berbudaya, terus apa susahnya bilang terimakasih kalau abis dikasih makanan, dikasih minum atau traynya dibersihkan?

Saya perhatiin juga kalau di GA, mendadak banyak orang yang minum susu. Saya besar dengan susu dan ketika sudah besar ini saya mendadak intoleran dengan laktosa; jadi saya nggak mengamati perkembangan cara minum susu. Jaman saya rajin dicekoki susu dulu, minum susu itu pagi hari ketika sarapan. Kalaupun harus minum susu pas makan siang biasanya dicampur sama kopi atau teh. Apa di Indonesia sekarang kalau abis makan siang minumnya susu ya *macam saya udah gak tinggal di Indonesia aja*? Atau orang-orang ini hanya aji mumpung, mumpung ada susu ya minum susu. Kagak begah apa perutnya abis makan siang minum susu? 

Bungkus!

Kalau pas puasaan, GA biasanya menaruh makanan di dalam kotak jadi para penumpang bisa bebas membawa makanannya pulang. Sendok garpunya kalau lagi puasaan juga berubah, jadi plastic semua, biar gak dibawa pulang.

Lha orang Indonesia suka banget ngebungkus segalanya, ini kayaknya mendarah daging kan, apalagi kalau acara buka bersama, kawinan orang atau acara apapun yang melibatkan makanan. Bungkus semuanya! Kalau di pesawat, sendok garpu dibungkus (saya dulu juga mantan pelaku, pas awal-awal kos nggak punya sendok garpu), makanan dibungkus, roti yang sekarang rajin disajikan dibungkus, kertas yang untuk menampung muntahan juga dimasukkan tas, bersama dengan tisu basah, tusuk gigi, garam dan pepper. Tak lupa majalah GA juga dibungkus. Nggak ada yang ngelarang ngebungkus sih, tapi saya lucu aja lihatnya. Terus wadah muntahan itu nanti dibuat apa? Bungkus gorengan?

Intip-intip Jendela

Nah kalau sudah mau landing nih ya, orang-orang tuh suka banget ngintip ke jendela. Mending kalau duduknya di deket jendela. Ini duduk di tengah, atau lebih parah di lorong, badannya dimiringkan mengganggu penumpang lainnya. Orang Indonesia emang suka nggak menghargai ruang gerak manusia lain. Yang penting urusan dia aja!

Lepas sabuk pengaman

Begitu landing, orang-orang ini suka banget cepet-cepet buka sabuk pengaman lalu berdiri ambil barang. Padahal pesawat belum benar-benar berhenti. Ingat kejadian Lion Air nabrak makam di Solo? Konon banyak penumpang meninggal atau terluka karena kelakuan begini nih.

HP juga langsung dinyalakan, suasanya langsung riuh karena manusia-manusia ini ingin cepet memberitahukan keluarganya kalau sudah landing. Gak bisa nunggu sepuluh menit lagi apa ya sampai di ruang tunggu.

Kelakuan penumpang yang suka bikin geleng-geleng kepala gak cuma itu. Kemarin malah ada yang bersiul-siul riang di dalam pesawat. Begitu saya pandangi (karena saya baru dari kamar kecil) eh dia berhenti, saya duduk dia bersiul lagi. Nggak mikir apa ya kalau penumpang di sekitarnya bukan burung di sangkar emas?

Soal toilet juga jangan ditanya. Kalau sudah agak lama terbang suka banget ada tetesan air seni (kenapa namanya harus air seni sih?) dari bapak-bapak yang sekali lagi merasa barangnya panjang. Apa sih susahnya ngangkat dudukan toilet, kalau jijik kan bisa pakai tisu, kalau tangannya kotor ada air ada sabun. Bekas jongkok pun juga suka ada di dalam toilet pesawat (sumpah gimana caranya jongkok di dalam toilet pesawat!). Padahal pesawat sekarang kan sudah menyediakan kertas untuk pelapis dudukan toilet, tisu juga ada banyak.

Tapi kelakuan paling kocak, menurut saya, adalah kisah ibu binibule berbulu ketiak lebat. Si ibu dengan pedenya mengangkat tangan tinggi-tinggi untuk mengambil peralatan kecantikannya. Udah macam artis Indonesia jaman 80-90an deh, ketiaknya lebat banget, saya sampai sesak napas ngeliatnya. Si Ibu ini kemudian memasukkan colokan headset ke colokan listrik untuk ngecharge gadget di dekat layar. Ya nggak bisa lah ya, abis itu si Ibu panggil pramugari dan komplain. Pramugarinya kebetulan nggak ngerti juga. Kocak. Akhirnya saya berdiri bak pahlawan dan menjelaskan kalau colokannya ada di deket pegangan tangan!

Hayo sering nemu hal aneh apa lagi di dalam pesawat?

Belajar Disiplin dari Orang Hong Kong

Waktu saya ke Hong Kong kemarin, salah satu hal yang saya takjub adalah bagaimana mereka disiplin dan mengikuti aturan dengan baik. Mengutip kata bos gede saya, masyarakat Hong Kong itu being like a German, alias ikut aturan. Beberapa hal sederhana yang saya temukan dalam kehidupan sehari masyarakat di Hong Kong antara lain:

Nunggu orang keluar lift di pinggir

Kebanyakan orang Jakarta nunggu masuk lift di depan pintu lift dan langsung serobot masuk tanpa menunggu yang orang keluar.  Walaupun terlihat sederhana, ketidakdisiplinan ini bikin gemes. Di HK orang-orang itu menunggu di pojok luar lift yang tidak menghalangi orang-orang yang keluar.

Btw tip berguna dari Mbot  untuk menghukum orang-orang ini adalah dengan memencet semua lantai sebelum kita keluar. Jadi begitu mereka masuk, lift pun akan berhenti di setiap lantai. Mampus!

 Antri kayak bebek di halte bis

Di Hong Kong, nggak peduli tua dan muda, orang antri kalau mau naik bis. Antriannya satu-satu, baris, nggak kayak halte transjakarta yang antrianya gak jelas. Nggak hanya di bis, di MRT pun masyarakat Hong Kong ngantri dengan di sisi kanan kiri pintu dan memberikan ruang yang lega bagi mereka yang akan keluar.

Sementara di negeri ini, antrian halte transjakarta itu bikin orang mengelus dada karena aturannya cuma yang nggak punya malu dan yang paling kuat nyikutnya bisa langsung masuk ke dalam bis. Padahal, di halte transjakarta sebenernya sudah ada pembagian lajur penumpang turun dan naik, pernah nyadar kan garis tipis di pintu dengan panah yang menunjukkan arah lajur masuk bis atau keluar? Tapi lagi-lagi karena ketidakdisiplinan orang dan karena orang terburu-buru (semua orang juga terburu-buru kali) banyak yang suka menghalangi orang keluar dari bis karena ingin segera masuk bis.Hal kecil seperti ini memperlambat keluarnya penumpang.

Kalau udah ada yang kayak gini biasanya dengan gagah saya akan menabrak orang-orang dengan bahu kanan kiri, seruduk! Nggak cukup nabrak orang, saya juga gak sungkan injak kaki mereka. Kejam? Mereka ini udah gak bisa diajarin pakai aturan, jadi ya kita main kasar aja.

Eskalator & Travelator

Di Hong Kong, orang-orangnya kalau menggunakan escalator atau bahkan travelator sangat jelas; yang di kanan jalan pasti santai-santai diam dan tak terburu-buru, sementara yang di kiri khusus buat yang mau jalan cepet-cepet. Jadi nggak boleh berhenti di sebelah kiri. Di Indonesia saya perhatikan hanya sebagian orang yang melakukan hal ini. Bahkan baru-baru ini saya berujar permisi pun orang di depan saya tak mau minggir. Egois!

Beli Tiket

Nah kalau ini gak di Hong Kong tapi di Irlandia. Orang-orang Irlandia tidak sedisiplin orang Hong Kong dalam menggunakan escalator, ataupun ketika keluar masuk tram, tapi yang saya perhatikan bagaimana masyarakatnya dilatih jujur dalam membeli tiket. Pengguna Luas, tramnya Dublin, harus membeli tiket bisa membeli tiket di mesin dan langsung masuk ke Luas. Nggak ada alat pengecek tiket, jadi modalnya cuma jujur.

luas_dublin_mainimg

photo: aecom.com

Sekali-sekali ada pemeriksaan petugas, waktunya tak tentu. Kata Mas G sih mereka kadang suka ngecek di pagi hari yang penumpangnya penuh sesak. Kalau ketangkap tanpa tiket, dendanya lumayan gede, Euro 50. Sementara tiketnya sendiri berharga 2 euro untuk jarak dekat dan bisa lebih mahal lagi jika jarak tempuh jauh. Btw, selama dua minggu terakhir saya di Irlandia, saya selalu menggunakan Luas. Dalam waktu dua minggu itu saya cuma ketemu mereka tiga kali aja & ngeliat mereka mendenda orang satu kali.

Indonesia memang indah dengan segala kekacauannya. Tapi kalau tiap hari harus berkutat rebutan naik ke dalam bis Transjakarta, pusing gak sih? Capek mental dan fisik nggak sih? Belum lagi sampai di dalam kantor harus rebutan lift. Tambah BT kan? Jadi belajarlah  untuk lebih disiplin karena disiplin itu harus dimulai dari diri sendiri dan harus sekarang; kalau nggak sekarang dan kalau nggak kita yang memulai, kapan lagi? *eh jadi kayak partai deh*

Selain hal-hal di atas, orang Indonesia suka nggak disiplinnya apalagi ya?

Restaurant di Indonesia vs Restaurant di Irlandia

Waktu berangkat ke Irlandia, saya nggak ngecek berapa rupiahkah 1 euro itu. Jujur saja otak masih mikir 13 ribuan lah ya. Jadinya kalau makan-makan di luar (dan kami selalu makan di luar) suka cuek aja gesek-gesek ATM dan gantian bayar sama Mas G. Tiba-tiba pas cek rekening saya kaget karena 1 Euro itu ternyata udah melonjak hampir 17 ribu, ya ampun kemana aja selama ini?! Setelah itu otak sibuk menghitung dan ternyata satu kali makan di Irlandia itu bisa mencapai 225 ribu, langsung ketawa nyengir pakai berdarah.

Makanan di Irlandia memang sedikit lebih mahal daripada di Jakarta, tapi ada banyak hal yang saya suka kalau makan di restaurant di Irlandia. Yang paling utama sih karena air putih itu gratis udah gratis dikasih es dikasih potongan lemon lagi. Gratis ini dimana-mana lho, dari restaurant Perancis yang super keren, Hotel bintang lima macam Westin, sampai tempat sarapan self-service murah meriah. Bandingkan sama restauran di Indonesia boro-boro kasih air putih gratis, yang ada mereka “merampok pelanggan” dengan menjual air kemasan dengan harga berpuluh kali lipat dari harga wajar. Rekor saya bayar air paling mahal di Jakarta adalah 90 ribu rupiah saja untuk air dalam kemasan sebanyak 330 ml dan ini bukan air kemasan dalam botol kaca dari Eropa ya. Ini air lokal.

Di Indonesia kalau makan di restaurant itu pasti makanannya dicicil. Entah mengapa para chef di Indonesia itu nggak bisa mengeluarkan semua makanan pada saat yang bersamaan. Kayaknya mereka nggak suka kalau ngelihat orang Indonesia makan bebarengan. Pokoknya harus dicicil dan suka-suka ati mereka yang di dapur, kalau perlu meja sebelah yang pesennya belakangan pun makanannya bisa datang lebih dulu. Anehnya lagi banyak restauran di Indonesia yang nggak paham mana makanan pembuka mana makanan utama, sering kali makanan pembuka datang belakangan. Btw, saya pernah sering mengalami kejadian di Warung Pepenero, dimana semua orang sudah makan, bahkan sudah hampir habis, tapi satu orang di antara kami belum dapat makanan. Hela napas panjang.

Setelah makanan di keluarkan, pelayan biasanya datang kembali ke meja kita dan menanyakan apakah semuanya baik-baik saja? Biasanya dalam satu area ada satu pelayan yang melayani dan pelayan ini akan sibuk mengitari area makan untuk mengecek. Di Indonesia, cuma segelintir restauran yang menanyakan hal serupa. Kebanyakan dari mereka malah pura-pura nggak lihat atau sibuk dengan meja yang lain (atau emang beneran sibuk). Di Indonesia juga tak ada sistem  yang jelas tentang pelayan mana yang berurusan dengan meja kita. Kalau kata Abang Mikel, di Indonesia itu ribet, pesen bir aja bisa dilayani enam orang yang berbeda; satu orang catat orderan, satu orang isi gelas bir, satu antar bir, satu orang antar tagihan, satu orang ambil uang pembayaran dan satu orang lain anterin kembalian.

Anyway, Harga makanan di restaurant-restauran di Irlandia relatif sama, kurang lebih berkisar antara 10 – 13 Euro untuk makanan utama, sementara kalau dinner di restaurant yang agak bagus, bisa mencapai 20 Euro. Harga ini emang terkesan mahal tapi porsinya gede banget, bisa buat makan bapak, ibu dan anak. Sekali makan ayam yang disajikan per orang sekitar setengah kilo, belum termasuk kentangnya, seperempat kilo sendiri, sementara sayurnya cuma seiprit. Herannya habis makan saya masih bisa berdiri dan masih bisa jalan beberapa kilometer ke tram.

Saking gedenya porsi makanan di Irlandia, saya sampai kehilangan minat mengemil. Saya juga seringkali nggak minat beli makanan penutup karena udah kadung kekenyangan. Kalaupun pengen makan dessert, saya biasanya  pergi minum teh (yang dimana-mana harganya sama; 2 – 2.5 Euro) dan makan cake, satu potong cake dijual dengan harga 4 – 5 Euroan. Kalau dirupiahkan emang jauh lebih mahal dari cake di Indonesia, tapi yang jelas cake di Irlandia nggak semanis cake di Indonesia. Jadi nggak merasa berdosa lah ya!

Berapa harga pelayanan ciamik ini? Jangan cemas saudara-saudara kalau di Irlandia gak ada namanya biaya terselubung macam service charge yang nggak jelas aturan dan persentasinya (berkisar 5 – 11 %, tergantung restaurantnya), apalagi PPN 10%. Apa yang ditulis itu yang dibayarkan, service charge hanya dikenakan jika datang dalam kelompok besar di atas enam atau delapan orang. Tipping di Irlandia, sama dengan di Indonesia, bukanlah hal yang wajib diberikan. Kalau punya uang kecil silahkan tipping, kalau gak punya ya nggak usah maksa. Urusan pembayaran kalau gesek pun simple, pelayan akan membawa mesin EDC ke meja dan pelanggan pun bisa langsung memasukkan PIN. Nggak perlu repot-repot ke meja kasir kayak di Indonesia!

Kendati Irlandia lebih unggul dalam pelayanan, porsi, dan juga ‘unggul’ dalam hal harga saya masih tetep suka restaurant di Indonesia. Selain karena banyak kejutan yang bikin hidup lebih menarik, tentunya karena harganya lebih murah dengan porsi yang lebih bersahabat. Restaurant favorit saya di Jakarta adalah restaurant Turki bernama Turkuaz di daerah Gunawarman Jakarta Selatan; kalau untuk makanan Indonesia favorit saya Beautika yang menyajikan aneka macam makanan pedas khas Manado.

Apa restaurant favoritmu?