Oleh-oleh Untuk Pasien Rumah Sakit

Seumur hidup saya sudah masuk RS dua kali. Sekali ketika menyerahkan diri untuk dioperasi amandel dan yang kedua ketika demam sehari tapi tak boleh pulang berhari-hari. Kali pertama ngamar, saya sakit beneran, jadi masuk rumah sakit pun minta extra night. Ketika keluar, saya rasanya nggak iklas, karena masih tak bisa ngomong dan tenggorokan seperti terganjal anak kodok.

Kali ke dua di rumah sakit saya bosannya minta ampun. Sebenarnya setelah semalam di rumah sakit saya sudah sembuh. Tapi Bu Dokter spesialis yang menghabiskan jatah asuransi masih suka sama saya. Alhasil saya ‘ditahan’di RS selama tiga malam. Selama ‘ditahan’, saya digempur dengan infus dan vitamin. Diagnosanya ngaco, sirosis. Tapi ketika check ulang dengan dokter lain, saya gak sirosis, cuma demam biasa. Haduh Indonesia!!

image

Sudut RS JMC yang dipenuhi mainan. Ini playground apa RS?

Anyway, pengalaman dua kali di Rumah sakit membuat saya tergelitik membuat tulisan tentang oleh-oleh untuk orang sakit. Sebagai orang Indonesia, oleh-oleh itu kan barang penting nggak penting.  Jadi siapa tahu pengalaman saya nongkrong di rumah sakit bisa memberi inspirasi.

Buah yang mudah dikupas
Orang sakit itu, badannya bawaannya lemes. Melakukan aktivitas malas, apalagi kupas buah. Maunya dikupasin, tapi kalau masuk rumah sakit sendiri, siapa yang mau kupas? Jadi kalau bawa buah untuk si sakit, sebaiknya bawa yang praktis dan tidak cepat busuk macam jeruk (bukan jeruk bali ya) ataupun anggur. Anggur termasuk buah yang gampang, tak perlu kupas cukup masukkan mulut. Eh tapi dicuci dulu ya sebelum masuk mulut. Saya tidak menyarankan membawa buah-buahan semacam pisang (karena cepat busuk) serta semangka dan melon. Buah apel sendiri juga nggak saya sarankan karena ngupasnya repot. Kalaupun mau membawakan buah-buahan yang perlu dikupas, sekalian bawakan pisaunya, karena kalau tak bawa pisau, buah-buahan tersebut berakhir jadi hiasan meja.

Bahan Bacaan

Waktu di rumah sakit itu berjalan sangat lambat. Oleh-oleh yang paling murah untuk hiburan si sakit ya tabloid gosip. Usahakan gosip di tiap tabloid berbeda ya, jadi biar beragam. Kalau kebetulan uangnya agak berlebih, belikan majalah fashion ataupun  majalah hobi. Jangan sekali-sekali membeli Indonesia tatler, yang ada si sakit akan tambah sakit karena mengumpat melihat kelakuan orang kaya yang pamer pesta ini itu, baju ini, sepatu itu dan tentunya pamer rumah lebah terbesar.

TTS/Sudoku
Nah ini pembunuh kebosanan, tapi hanya boleh diberikan jika si sakit rajin berpikir dan penyakitnya memungkinkan untuk berpikir. Kalau sakitnya vertigo berat dikasih ini bisa makin meledak kepala, apalagi kalau jawabannya nggak ketemu.

Aneka lauk
Orang sakit itu tak punya gairah makan, semakin ga bergairah lagi ketika melihat makanan rumah sakit. Beraneka rupa tapi rasanya sama, sama-sama tak berasa. Saya biasanya paling girang kalau temen kantor yang datang, apalagi pas jam makan siang, pas mereka lapar. Begitu datang langsung saya minta menghabiskan makanan tanpa rasa itu; suster girang, saya pun tak perlu risau menghabiskan makanan plain dan teman kantor kenyang. Untuk memeriahkan hari-hari si sakit (dan perutnya) saya sarankan boa aneka lauk yang rasanya enak dan menggoda, tapi perhatikan juga pantangan makanan si sakit. Kalau kena stroke dibawakan jeroan, itu namanya membunuh teman. Selain aneka lauk, oleh-oleh lain yang suka dibawa adalah aneka biskuit, aneka cake dan aneka rupa camilan. Nah kalau saya, biskuit dan cake biasanya akan berakhir di ruangan suster. Biar mereka nggak terlalu galak.

Peralatan toilet
Biasanya emang sudah disediakan  oleh rumah sakit. Tapi tak ada salahnya membawakan barang-barang kecil yang sering terlupakan. Yang paling penting sih, dari pengalaman saya, tisu toilet dan sabun cuci tangan. Di RS Jakarta misalnya, kamar yang kelas rendahan tak ada sabun cuci tangannya. Agak geblek juga sih, RS kok nggak menggalakkan cuci tangan. Tapi kalau dipikir-pikir ini strategi bagus, biar orang gak cuci tangan, terus sakit dan rumah sakit tetap rame. #eh.

Karangan Bunga

Oleh-oleh lain yang suka dibawa adalah bunga, apalagi di Medan. Haduh…Orang Medan itu emang pencinta bunga bener deh, dari sakit, kawinan sampai hari raya keagamaan bunganya banyak bener. Terus terang saya gak hobi lihat bunga di RS, apalagi kalau kebanyakan. Pengalaman di Medan dulu, dengan kamar luas pun bunga-bunga terpaksa dijajarkan di lantai. Lucunya yang girang kalau lihat bunga adalah para suster-suster dan staf rumah sakit. Biasanya mereka sudah memerhatikan bunga mana yang mereka incar lalu mereka minta ketika pasien keluar. Enak sih ada yang ngangkut pulang.

Favorit Saya

Bagi saya pribadi, buah tangan favorit saya ketika di RS adalah cat kuku. Menurut saya ide ini sangat orisinal dan lain daripada yang lain. Daripada bengong di rumah sakit emang lebih baik ngecat kuku. Selain cat kuku, favorit saya ya amplop isi uang. Soal isi nggak masalah, tapi dikasih amplopnya yang bikin girang dan elemen misteri pas buka amplop. Entah kenapa tapi saya emang paling demen dapat uang di amplop, beda rasanya kalau salam tempel yang tak diamplopi.

Sebenarnya oleh-oleh itu penting ga penting. Tapi datang tanpa oleh-oleh pun juga tetap menyenangkan, karena orang sakit sebenarnya cuma pengen ditengok dan diajak ngobrol. Biar nggak bosen lihat tembok rumah sakit.

Jadi, suka bawa buah tangan apa kalau ke RS?

Belajar Membatik di Bandung

Ramadhan buat saya adalah bulan yang paling tepat untuk jalan-jalan dan wisata kuliner, karena mayoritas orang Indonesia beribadah bersama keluarga di rumah. Kali ini saya dengan @NonAling, @venniem dan @mario_sir berencana menjajal kuliner Bandung, tapi akhirnya urung setelah perut terisi makanan berlimpah dari warung Cepot.

Akhirnya kami memutuskan untuk ikut acara launching buku Iwet Ramadhan, Cerita Batik, yang dibarengi dengan belajar membatik. Sebenernya saya udah pesimis aja dengan belajar membatik, dulu jaman kuliah di Malang saya pernah mengeluarkan uang 250ribu untuk belajar batik. Hasilnya, batik abstrak mirip tulisan anak TK.

Kali ini, biaya mengikuti kursus dibandrol 70k, sudah termasuk attack batik cleaner, majalah Elle edisi lawas banget dan bukunya Iwet. Tapi dengan keberuntungan (bini) Irish, kami ga perlu bayar. Terimakasih pada dewa hujan yang hari itu mengguyur Bandung.

image
Hasil karya saya, batik parang rusak. Rusak beneran!

Buku Cerita Batik

Kalau biasanya buku batik dibandrol dengan harga mahal, dibuat bule, kali ini kita perlu berbangga hati karena buku ini dibuat anak bangsa yang prihatin dengan kondisi perbatikan. Buku ini juga penuh gambar berwarna serta cerita di balik motif kain batik, makanya judulnya pun cerita batik. Uniknya, di dalam buku ini terdapat tiga potong kain batik, yang satu batik print, batik cap dan batik tulis. Catat ya, batik print itu bukan batik, tapi cuma kain bermotif batik.

Saat peluncuran itu, Iwet juga membagi ilmunya tentang motif, makna dan doa pada setiap batik. Salah satu motif yang kami pelajari adalah mega mendung, yang ternyata motif China bikinan Sunan Kalijaga untuk seorang putri China. Gara-gara dibikinkan motif ini, si putri Cina kelepek-kelepek jatuh hati pada sang Sunan dan dipersunting jadi istri kesekian.

image
Putri Cina dan Batik Megamendung. Semoga sang putri cepat dapat jodoh dan tidak dipoligami.

Ada juga motif tambal yang digunakan sebagai alas melahirkan oleh seorang ibu. Jadi batik ini akan berlumuran darah dan air ketuban si Ibu. Si Bapak yang nantinya harus nyuci kain ini. Di kemudian hari, jika anak sakit, kain batik motif tambal ini yang akan digunakan untuk menyelimuti si anak. Nanti kalau saya punya anak dengan mas bule, dia sudi gak ya nyuci kain batik tambal?

Tips Merawat Batik

Kain batik itu bikinnya penuh perjuangan. Pewarnaannya juga special. Konon, lilin yang digunakan untuk mengandung minyak dari buah pinus serta bahan alami lainnya. Jadi, kalau nyuci batik sebaiknya gunakan lerak. Menyimpannya pun harus hati-hati dan tidak boleh dekat dengan kapur barus. Daripada repot, mendingan nyuci batik pakai attack batik cleaner aja, praktis. Catat baik-batik ya, nyuci kain batik dilarang pakai mesin cuci.

Gak afdol bikin acara kalau ga ada kuisnya. Nah kami bertiga bersemangat sekali untuk menyapu bersih hadiah yang diberikan. Kata Iwet kami ini ambisius banget. Ya maklum, trio ambisius ini sudah diberi ilmu batik di Pekalongan dan Madura, jadi malu kalau gak pulang bawa hadiah. Sang Ratu Kuis berhasil membawa persediaan attack selama satu tahun serta kaos Tik Shirt. Sementara saya, berhasil membawa satu buah kaos Tik Shirt. Non Aling gak kebagian hadiah disini, tapi dia kebagian hadiah setelah kalap belanja di Rumah Mode

image
Ratu Kuis @venniem yang berhasil memborong hadiah.

Acara batik ini rencananya akan diadakan lagi di Yogyakarta dan Surabaya. Sementara di Jakarta rencananya akan diadakan pada bulan Oktober. Kalau nggak mau ketinggalan pantengin terus twitter @iwetramadhan dan @elleindonesia.

 
Tjetje
Bukan tulisan berbayar

Cara Gila Pesen Kopi di Starbucks

Gara-gara lihat postingan tentang nama di gelas, ditambah pacar yang suka ngaco ngasih nama kalau pesen di Starbucks, saya terinspirasi melakukan kegilaan juga. Nggak gila banget sih, tapi agak iseng. Jadi saya pergi ke Starbucks dan pesen Mocha Frapuccino. Kali ini, pas ditanya nama, nama saya jadi:

image

Seperti biasa, pas udah selesai bikin order, Baristanya teriak dong, panggil nama. MOCHA FRAPUCCINO ATAS NAMA (pause sejenak, turunkan suara),  Ms Awesome! Mbak Barista tersenyum, saya pun tersenyum atas kegilaan ini.  Next time, I’ll be miss sexy.

Hayo siapa yang berani melakukan hal serupa?

Pulau Tunda: Surganya Kambing

Kumpul di Slipi Jaya jam 9.
Sampai di Pakupatan jam 1130
Nyambung ke Karangantu
naik boat ke Pulau Tunda jam 2
tiba di home stay jam 4 pagi

Waktu baca itinerary yang ambisius ini saya sempet malas ngikut, apalagi kondisi badan lagi teler. Tapi karena sudah bayar DP, akhirnya berangkat aja. Semuanya #DemiPulauTunda, demi lihat lumba-lumba.

Perawan di Sarang Penyamun

Dari Slipi, kami naik bis menuju Merak. Rombongan berangkat dalam grup kecil karena ga ada bis kosong. Bayarnya 20k, tapi kalau naik primajasa 17k. Setelah 5 menit berdiri, saya dipersilakan duduk di bagian belakang bis yang wujudnya tampak seperti akuarium di karaoke plus-plus. Ada 11 pria, saya jadi satu-satunya perempuan. Ya sudahlah. Mereka kasih komentar usil masih bisa dicuekin, lagu dangdut dari hp murahan  masih bisa dicuekin, begitu ada yang ngrokok saya pindah deh ke depan, berdiri lagi. Nggak lama setelah berdiri, dapat kursi, niatnya sih mau tidur, tapi belum sempat tidur, eh sudah sampai di Terminal bis Pakupatan, Serang. Dari Slipi ke Serang memakan waktu sekitar 2.5 jam saja, tanpa macet. Sampai di terminal kami disambut 2 angkot yang siap mengangkut ke tempat Pelelangan Karang Antu.

image

Bule Pakistan

Semua orang sudah duduk manis di dalam angkot, tiba-tiba mobil polisi dengan lampu diskonya berhenti di tengah jalan. Pak Polisi kemudian nanya-nanya tujuan kita. Setelah itu si Bapak nanya dokumen seorang WNA yang ada di rombongan kami. Alasannya: imigran gelap dari Pakistan, padahal itu WNA itu tak terlihat seperti orang Pakistan. Karakter fisiknya sangat barat/ bule, lalu Pakistan dari mana coba? Dalam situasi seperti ini, apalagi udah bertele-tele, daripada dimintai uang ataupun digeret ke kantor polisi, saya pun mengeluarkan kartu identitas sakti, kali ini berhasil.

Syah Bandar

Ga cuma di terminal, di Pelelangan ikan Karang Antu, bule lagi-lagi jadi masalah. Alasannya sekali lagi: imigran gelap asal Pakistan. Entah pegawai kantor Syah bandar ini udah BBM-an sama pak polisi, atau emang orang Serang mengasumsikan semua bule aslinya Pakistan. Tiga puluh menit lebih temen saya urusan sama pegawai sudah bandar, panjang bener nggak selesai-selesai. Akhirnya saya turun, sekali lagi ngeluarin kartu identitas ajaib. Nggak pakai ngomel, cukup pasang muka tegas. Urusan bule selesai, eh kali ini dipermasalahkan urusan ijin berlayar, karena kapal yang kami tumpangi adalah hapal nelayan bukan untuk angkut manusia.

Duh ini pegawai kantor Syah Bandar kalau emang ada masalah itu mestinya semua masalah dikeluarkan semua, jadi nggak satu-satu, terkesan cari perkara. Alasan bapak-bapak ini, tanpa ijin berlayar mereka takut kalau ada patroli, resiko tertangkap patroli adalah: penjara. Solusinya, bapak nahkoda kami harus menghubungi seorang petinggi, minta ijin. Setelah bergelut nelpon, akhirnya kami pun diperbolehkan berlayar di tengah malam, dengan kapal nelayan, tanpa life jacket. Duh bertaruh nyawa deh.

Kambing, Kambing dan Kambing

Menjelang subuh kami sampai di pulau ini, ga disambut karpet merah tapi disambut hamparan mutiara hitam, kotoran kambing. Rupanya, kambing di sini dilepas untuk gaul bersama kucing, ayam dan bebek. Berebut tulang ikan, sumpah ga bohong, kambing di sini makan ikan.

Beberapa kambing yang terkantuk-kantuk terpaksa menyingkir dari tengah jalan demi memberi ruang pada rombongan kami yang malam itu berbagi tikar dan satu toilet di rumah pink di belakang sekolah. Satu toilet 26 orang, jangan tanya gimana antri nya kalau sakit perut!

image

Kapal nelayan ini dibandrol 80 juta

Pulau ini berpenduduk kurang lebih 1000 jiwa, semuanya Muslim. Jadi jangan coba2 jalan-jalan menggunakan bikini. Pakai baju lengkap saja jadi tontonan, apalagi bikini. Rupanya, pulau ini tak populer untuk snorkeling, kami merupakan satu-satunya rombongan turis snorkeling. Rombongan lainnya adalah rombongan pemancing, tapi nggak heboh kayak kami, jadi nggak layak jadi tontonan. Pulau ini punya Masjid, tapi belum jadi, ga punya dokter, tapi punya bidan & ruang bersalin. Transportasi publiknya, kapal kuning Tunda Express hanya ada pada hari Sabtu, Senin dan Rabu, ongkosnya 15k/kepala. Di luar hari tersebut, sang kapten bersedia mengantar asal rombongan terdiri dari 70 orang.

Snorkeling

Ga ada wisata lain yang bisa dilakukan di sini, cuma snorkeling. Spotsnya OK, bahkan nggak perlu turun pun bisa terlihat dari atas. Karena cuma ada dua spots, jadi jam dua siang pun kami sudah selesai. Selain snorkeling? tangkap kambing aja deh. Bisa juga jalan ke pantai yang cuma seiprit & kotor! Kalau punya keberanian bisa juga olahraga naik ke atas lighthouse.

Keesokan paginya kami sempat berburu lumba-lumba dengan muterin pulau ini, 360 derajat. Jarak tempuh 45 menit, lumayan sambil berjemur di atas kapal pagi-pagi. Kami nggak ketemu lumba-lumba, ternyata ini bukan daerah lumba-lumba. Dulu pernah ada grup yang ketemu, karena mereka lagi beruntung. Jadi kalau ke pulau ini, mendingan gak usah ngarep lihat lumba-lumba, tapi ngarep lihat  kapal tanker & kapal penambang pasir, pasti ketemu. Konon pasir yang dikeruk dari sini untuk Ancol!

image

Uniknya, air sumur di pulau ini nggak payau, jadi seger nggak lengket. Kalau mau mandi mesti nimba dulu ya. Lumayan olahraga. Biarpun ada mesin penyedot listik, kalau siang mesin itu gak jalan, karena listrinya gak ada. Mestinya kami kemaren ngajak pak Dahlan Iskan di rombongan supaya beliau tahu kalau listrik di pulau Tunda cuma ada di malam hari, sedangkan kalau siang mati.

image

Perlu dicatat makanan disini cukup sederhana. Sarapan dan makan siang kami ikan, nasi & oseng kulit belinjo. Sementara makan malamnya nasi goreng, mie goreng & ikan bakar. Kualitas makanannya belum seperti di pulau-pulau lain di kepulauan 1000, tapi justru karena kesederhanannya itulah pulau ini jadi berbeda.

Berhubung cuma bisa snorkeling & ga ada hiburan lain yang bisa dilakukan. Jadi pulau ini hanya disarankan untuk dikunjungi eksekutif muda yang gak bisa lepas dari gadget. Alamat bakal fresh kepalanya, karena tak ada sinyal Simpati. Sementara sinyal XL & Indosat hanya muncul di beberapa tempat, itupun harus jalan ke pinggir pantai.

Berminat ke Pulau Tunda?

 

Halo Kota Metro Lampung

Ada yang pernah tahu kota Metro ada di mana? Kota ini ternyata ada di provinsi Lampung, sekitar 50 km dari Bandar Lampung atau 30 menit dari bandara Raden Inten. Pekerjaan membawa saya untuk mengunjungi kotanya gajah ini untuk berbincang urusan disabilitas selama dua hari satu malam. Sebagai penduduk Jakarta, keluar dari metropolitan untuk menuju ke kota kecil yang dipenuhi dengan pepohonan hijau, kanal di pinggir sungai serta sawah-sawah itu merupakan sebuah kemewahan tersendiri.

image

Tidur di mana?
Saya menginap di Hotel NUBAN yang terletak di tengah kota dan hanya selemparan batu dari terminal. Kota ini nampaknya masih konservatif dan melarang perempuan untuk menginap sendirian tanpa ijin tertulis dari perusahaan ataupun keluarga. Untungnya saya tak diminta menyediakan surat-surat itu, mungkin karena pihak pemerintahan yang membantu proses booking hotel saya. Ketika saya berada disana, harga kamar non VIP dibandrol 250rb, termasuk AC dan sarapan, no hot water, cuma ada ember biru untuk menampung air. Sementara untuk kamar VIP dibandrol 275 termasuk bath tub dan wastafel. Biarpun ada bath tubnya, saya rasanya gak tega masuk. Kamarnya sendiri cukup luas dan layak untuk menginap dalam jangka pendek.

Sarapan pagi disiapkan di atas baki dan diletakkan di depan kamar. Menu sarapannya sederhana, terdiri dari roti, termos air panas, teh serta kopi. Sambil menikmati sarapan saya bisa menikmati pemandangan yang lagi-lagi buat saya adalah kemewahan, sapi sedang bermandikan cahaya matahari pagi. Setelah sarapan, saya diberkati dengan pemandangan cantik: matahari memandikan sapi dengan cahaya matahari pagi.

image

Sapi ini ketakutan ketika saya dekati

Ngapain aja?

Selain memandangi sawah dan kanal-kanal yang dibangun disekitar sawah, alternatif hiburan di kota Metro adalah jalan ke taman kotanya, atau alun-alun. Pemandangan menarik yang saya lihat adalah becak gajah mengelilingi kota. Di taman kota ini juga ada toilet bawah tanah, yang lagi-lagi bentuknya gajah.  Jika malam malam, taman kota ini cukuplah ramai. Anak-anak duduk di kolam ikan, memancing ikan-ikan magnet. Harga mancing itu dipatok 2000 rupiah saja, sepuasnya. Murah ya?Saya juga iseng jalan menyusuri kota, mencari yang tidak ditemukan di Jakarta, seperti: Warung telekomunikasi. Wartel yang dulu begitu sekarang tergusur oleh perkembangan teknologi. Di samping taman kota juga ada rumah dinas Pak Walikota yang megah. Masjid Rayanya sendiri sedang dalam proses renovasi.

Makan Apa?

Kota yang dibangun Belanda pada tahun 1932 ini berpenduduk sekitar 160k jiwa, tidak termasuk pelajar dari 9 provinsi yang belajar di 14 universitas. Penduduknya kebanyakan keturunan Jawa, bahasanya pun bahasa Jawa. Kendati latar belakangnya Jawa, makanannya banyak dipengaruhi makanan Sumatra. Di sana saya sempat nyoba masakan Padang serta masakan Jawa Timur. Ternyata, masakan Jawa Timur disini JUARA, rasanya lebih enak dari makanan Jawa Timur di Jakarta. Harganya pun bersahabat banget.

image

Yang paling top dan wajib dicoba sup ikan Baung, tapi di foto ini gambarnya ikan patin. Konon ikan Baung ini ikan sungai yang belum bisa dibudidayakan. Sup ikan ini dimasak dengan nanas, jadi rasanya segar, asam, dan pedas. Selain sup ikan baung, ada juga sambal nanas yang pedasnya bercampur dengan kesegaran nanas. Sungguh enak!

Fakta tentang kota Metro

  • Kota ini luasnya hanya 60km²
  • Banyak kanal kecil untuk irigasi sawah, mirip seperti di Belanda. Kanal tersebut memang dibangun oleh Belanda untuk pengairan sawah-sawah.
  • Kota ini terobsesi dengan gajah, selain odong-odong gajah, ada toilet gajah juga di tengah taman kotanya. Tapi tak ada gajah asli, mungkin saya belum lihat saja.

Yang sudah pernah ke Metro, cerita dong ada apa aja disana?

Memiskinan Orang Miskin

Motor tabrakan dengan mobil pasti mobil yang disalahkan.
Pejalan kaki ditabrak mobil pasti mobil yang disalahkan.

Begitulah hukum kebiasaan yang berlaku di negeri ini. Menurut saya hukum ini agak aneh, karena banyak faktor yang harus dilihat sebelum memutuskan siapa yang bersalah. Sehari setelah Nyepi, tepatnya tanggal 13 Maret 2013, taksi kesayangan warga Jakarta, si burung biru, menabrak seorang penyeberang jalan di jalur TransJakarta. Sekali lagi di jalur Trans Jakarta. Si penyeberang mengklaim sudah menyeberang dengan baik di zebra cross. Jadi dia tak bersalah & menuntut pertanggungjawaban dari sang pengemudi.

Suasana ibukota di jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (10/9).

Foto thejakartapost.com

Menurut perempuan Bandung yang menjadi korban tabrakan, dirinya ditabrak di zebra cross di Sudirman. Dan saya yang saat itu terbaring di rumah sakit yang sama dengan mbak itu, berpikir keras, mencari tahu dimana ada zebra cross di jalan protokol Sudirman? Menurutnya, Zebra Cross tersebut terletak di depan FX Mall.

Sepengetahuan saya, di sepanjang Sudirman itu tak ada satupun zebra cross. Untuk keselamatan & kenyamanan penyeberang jalan, disediakan 7 jembatan penyeberangan. Jarak dari jembatan satu ke jembatan lain pun tak terlalu jauh, hanya berkisar sepuluh hingga dua puluh menit jalan kaki saja.

Kalapun ada zebra cross di Sudirman saya yakin zebra cross itu hanya bisa dilihat dengan mata batin. Namanya pun jadi zebra cross imajinatif, jadi tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Dukun sehebat Ki Joko Bodo pun saya yakin mata batinnya tak bakal bisa melihat zebra cross ini.  Tapi si mbak masih ngotot bahwa dahulu di depan FX terdapat perempatan & jika ditengok di samping CIMB Niaga & Plaza ABDA terdapat zebra cross. Duh…dahulu kok dibawa-bawa mbak, kita mah sudah hidup di masa sekarang dan di masa sekarang tak ada zebra cross.

Singkat cerita si penyeberang jalan berdosa ini tertabrak taksi yang juga sedang bikin dosa karena masuk lajur TransJakarta. Saat itu si taksi melaju kencang dan si Mbak tiba-tiba muncul dari balik kemacetan. Terjadilah tabrakan. Kaca taksi pecah berkeping-keping mengenai punggung penyeberang jalan. Untungnya, tak ada tulang yang patah, tapi tetap sang penyeberang jalan harus dilarikan ke RS dan dirawat beberapa hari. Duh mbak, untung dirimu nggak terlindas bus TransJakarta gandeng yang baru itu.

Biaya kerusakan RS yang mencapai 7 juta itu hendak dibebankan pada pengemudi taksi, karena dianggap ini kesalahannya. Jangan tanya soal maki-makian dan marahan yang ditumpahkan kepada pengemudi yang cuma punya uang 300 ribu saja. Tak hanya terancam kehilangan pekerjaan, si pengemudi yang menuruti permintaan tamunya untuk masuk lanjur TransJakarta, terancam masuk dalam daftar orang sangat miskin, tak hanya harus membayar biaya rumah sakit, dia pasti dipaksa membayar kerusakan taksi. Heran, burung biru ini gak bisa ngasih asuransi all-risk untuk kendaraannya dan tak membebani pengemudinya kah? 

Apa yang bisa kita pelajari dari kasus ini?

  1. Sudah banyak yang meninggal tragis di jalur TransJakarta,  jadi kalau masih sayang nyawa, jangan males naik jembatan penyeberangan atau menyeberanglah di zebra cross beneran, bukan zebra cross imajinatif.
  2. Kalau orang lain melakukan hal bodoh bukan berarti kita boleh melakukan hal yang sama. Ya kecuali kalau sama-sama bodohnya.
  3. Biarpun terburu-buru, jangan nyuruh pengemudi masuk ke lajur TransJakarta. Jangan buat orang lain kehilangan pekerjaan.
  4. Sebelum nyalahin orang & maksa orang untuk tanggung jawab, apalagi orang yang tidak mampu, sebaiknya pikir baik-baik, apakah kita punya kontribusi dosa.

Finally, si Pengemudi memang salah mengambil jalur TransJakarta (dan harus dihukum karena ini),  tapi penyeberang jalan itu, bagi saya tak kalah berdosa. Nggak cuma kebodohannya bikin dia terluka, tapi dia mungkin telah sukses membuat sebuah keluarga kehilangan livelihood-nya dan seorang pengemudi taksi menjadi stress dan mendadak punya beban hutang. Oh sungguh kejamnya dirimu, membebankan seluruh kesalahan bersama pada sang pengemudi taksi.

xx,
Tjetje

[Irlandia] Negeri Hujan nan Hijau

Setelah menempuh perjalanan panjang, saya akhirnya tiba juga di Dublin. Yang menarik, begitu mendarat di Dublin tak ada petugas bea cukai yang menyapa saya, nampaknya semua petugas belum bertugas. Hanya ada hawa sedingin 3° yang menyambut saya. Kendati sudah pernah tinggal di negeri empat musim, saya masih tak profesional untuk urusan dingin. Hari itu saya sukses tiba dengan badan menggelembung karena banyaknya lapisan pakaian yang menempel di tubuh, lengkap dengan penutup telinga untuk melindungi telinga dari angin semriwing yang cukup dingin.

image

Seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, kesan pertama saya tentang Irlandia adalah mahal. Indonesia banget kan? Ongkos taksi dari bandara yang mencapai 38 Euro bikin saya hampir pingsan *lebay*. Kebiasan buruk ketika menjejak di negeri orang memang mengkonversi berapa harga jasa untuk kemudian dibandingkan dengan layanan taksi di Indonesia. Kebiasaan ini membahayakan apalagi ketika rupiah jatuh terpuruk tak berharga. Tentunya ini kebiasaan buruk yang harus dihilangkan.

Kesan kedua saya tentang Irlandia adalah hijau. Pagi saya disambut pemandangan yang cantik dengan matahari bersinar (jangan dibayangkan matahari itu sehangat matahari di Indonesia, bagi saya matahari itu hanya aksesoris tanpa efek apa-apa). Pagi itu banyak orang lari pagi. Anjing-anjing pun tak mau kalah berlarian dengan riang gembira. Serunya, di sungai itu banyak bebek liar. Dan lagi-lagi, saya tak pernah gagal  terpukau dengan bebek-bebek liar di ruang publik. Sungguh negeri yang cantik.

Kebiasaan membandingkan pun muncul lagi, kali ini saya membandingkan pemandangan ini dengan Jakarta. Pagi hari di Jakarta biasanya diwarnai dengan suara klakson, deretan kemacetan dan tentunya kemacetan luar biasa. Jangan bayangkan pula ada anjing-anjing yang berlarian kalau tak mau ditangkap orang untuk dijadikan santapan. Yang menyedihkan, apartemen seharga 3000 dollar pun di Jakarta tak akan bisa menawarkan pemandangan hijau. Begitu melihat keluar jendela, yang ada hanya hutan beton. Kalaupun ada pemandangan ‘cantik’ biasanya hanya kolam renang atau gunung yang baru muncul ketika tidak tertutup polusi. Kalau sudah begitu, siapa yang tahan buka jendela. Yang ada tutup jendela, nyalain TV untuk nonton sampahtainment.

image

Pemandangan dari jendela apartemen di kawasan Milltown Dublin

Soal pakaian musim dingin, saya yang novice ini kena batunya ketika harus bertemu calon mertua. Saya membawa jaket berwarna merah muda ngejreng yang saya padukan dengan boots berhak tinggi. Ternyata, keliling-keliling kota dengan hak tinggi hanya bisa bertahan selama beberapa jam. Kaki saya langsung teriak minta ganti sepatu, hore ada alasan untuk belanja sepatu. Begitu masuk toko sepatu, saya langsung kaget ketika sepatu biasa-biasa saja *cenderung jelek* dihargai dengan harga yang sama dengan sepatu bagus di Indonesia. Ternyata, barang-barang di Irlandia memang mahal, karena mereka menerapkan pajak pertambahan nilai yang tinggi. Barang-barang dengan merek serupa pun bisa didapatkan dengan harga yang jauh lebih murah di Jakarta, ini bahkan setelah dikurangi pengembalian pajak ya. Buyar sudah rencana belanja hura-hura macam anggota DPR.

Kembali ke jaket pink saya, begitu tiba di rumah mertua yang dekat dengan bukit, saya kedinginan tak karuan. Rupanya, jaket saya yang centil itu tak cocok untuk musim dingin. Kata mertua, jaket itu untuk summer. Saya pun makin shock ketika tahu harus mengenakan jaket saat musim panas. Lha ini negara apaan kok musim panas harus pakai jaket, bukannya jalan-jalan pakai bikini?

Ternyata Irlandia ini negeri hujan. Kalau dalam setahun kalender ada 365 hari, maka hujan pun mengguyur Irlandia selama 365 hari. Otomatis kemana-mana harus bawa payung, malah seringkali harus beli payung lagi karena payung jebol kena angin! Saking seringnya hujan, orang Irlandia jago melihat pergerakan awan dan memperkirakan datangnya hujan dalam hitungan menit ataupun jam. Kalau awan terlihat akan datang dengan hujan, kaki saya harus segera melangkah dengan cepat. Minggir menghindari hujan.

seasons in ireland

Saking seringnya hujan, ketika matahari bersinar pun akan hujan. Saya suka banget dengan sun shower, bukan dengan hujannya, tapi pelangi yang muncul bersamanya. Munculnya pelangi bagi saya adalah hadiah yang indah karena jarang terlihat di Jakarta. Orang Irlandia percaya bahwa konon di ujung pelangi terdapat pot of gold. Lha tapi ujungnya pelangi ada di mana?

Tak heran dengan hawa seperti ini, orang Irlandia doyan banget minum teh. Air putih kran yang gratis itu nggak laku karena semua orang ngeteh untuk menghangatkan badan. Sarapan minum teh, nyapu dikit minum teh, duduk nonton TV minum teh, nanti bertamu ke rumah orang minum teh lagi. Minum teh sehari di Irlandia bisa lebih dari lima kali, jadi jangan heran kalau banyak gigi orang tua berwarna coklat karena kebanyakan minum teh. Tradisi minum teh juga dilangsungkan ketika jalan-jalan, untuk menghangatkan tubuh. Banyak cafe shop yang menjual teh atau kopi ditemani dengan kue-kue manis. Secangkir teh sendiri di sini dihargai kurang dari 2 Euro. Yah kalau harga teh aja mah sama dengan harga ngeteh dan ngopi di Jakarta.

Pembicaraan tentang cuaca juga menjadi topik pembicaraan penting dalam kehidupan sehari-hari orang Irlandia. Ngobrol-ngobrol dengan orang yang nggak kita kenal itu biasa (dan mereka sangat ramah dan doyan bicara dengan orang tak dikenal) biasanya tak jauh dari cuaca. Dari satu orang yang tak dikenal saya pun belajar bagaimana mencintai hujan, terutama ketika kehujanan. “Ah aku nggak terbuat dari gula, jadi nggak akan meleleh kena hujan. No harm done.”

xx,
Tjetje

Papua: Menabuh Darah Manusia

Pernah baca tentang Kall Muller yang banyak bekerja dengan orang Kamoro dan mempromosikan kerajian Kamoro? Gak pernah denger? Silahkan di Google kalau begitu. Thanks to him, hari ini saya mendapat kesempatan untuk bertemu orang Kamoro dari Papua dan melihat hasil kerajinan mereka serta merekam dalam kepala secuil tradisi mereka.

Pameran art Kamoro ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan dua kali dalam setahun dan disponsori oleh perusahaan pertambangan Amerika Freeport. Tujuan dari acara ini sih untuk menjelaskan dan berbagi tentang tradisi orang-orang Kamoro serta untuk menjual karya-karya orang Kamoro. Karya seni masyarakat Kamoro, baik dari yang kecil hingga yang paling besar, dibawa dari Timika ke Jakarta dan disimpan di Jakarta untuk dijual di galeri ini. Karya mereka bisa dibilang karya-karya yang sederhana, tak serumit karya orang Jepara, kadang tak ada maknanya sama sekali dan banyak terbuat dari kayu-kayu lokal. Saya bahkan sempat menemukan peti yang dihargai tak sampai dua juta rupiah. Peti tersebut tapi tak sempurna karena pegangan untuk mengangkatnya terbuat dari plastik, bukan dari kayu.

Denger kerajinan dikirimkan dari Papua ke Jakarta pasti langsung ngebayangin harganya kan? Jangan risau, karena harganya bisa dibilang sangat terjangkau walaupun diterbangan dari ujung timur Indonesia. Ongkos kirim ditanggung oleh perusahaan tersebut dan 100% hasil penjualan akan diserahkan pada artis yang membuat. Harga yang terpampang bukanlah harga mati, yang hobi nawar seperti saya masih boleh nawar. Tapi menawar sendiri tak terlalu disarankan, karena setiap rupiah yang kita tawar, adalah setiap rupiah yang kita ambil dari orang-orang Kamoro. Maklum, seluruh hasil penjualan memang diberikan kepada orang Kamoro tanpa dipotong apa-apa. Gak tega deh mau nawar kejam, apalagi nawar sampai lima puluh persen.

Tak hanya disuguhi karya seni, hari itu kami juga dimanjakan dan disambut dengan tarian selamat datang. Tarian sederhana ini melibatkan drum dan goyangan pantat. Bukan goyangan sensual macam dangdut, hanya goyangan sederhana yang unik dan bagi saya terlihat tak mudah.

image

Bagi orang Kamoro, drum atau alat tetabuhan, atau disebut juga tifa, adalah media komunikasi dengan leluhur. Makanya, keterlibatan darah dalam proses pembuatan drum ini sangatlah penting. Lagi-lagi saya merasa beruntung karena saya bisa melihat langsung prosesi pemasangan reptil air pada alat tabuh. Catat ya, pemasangan kulit ini wajib menggunakan darah manusia.

Darah diambil dengan cara menyayat lengan seorang pria. Sebelum disayat tangan tersebut diikat supaya pembuluh darahnya terlihat. Mirip ketika diambil darah di laboratorium. Darah ini kemudian ditampung dengan kulit kerang. Patut dicatat, tak ada diskriminasi gender, perempuan ataupun pria dapat ‘menyumbangkan’ darahnya.

image

Darah tersebut kemudian dicampur dengan kapur untuk dioleskan pada bagian alat tabuh.

image

Setelah dioleskan dengan rata, tibalah saat pemasangan kulit reptil.  Para pria itu kemudian beramai-ramai menarik kulit reptil tersebut dan mengikatnya.

image

Setelah dipasang, kulit reptil ini dibakar agar kulitnya mengembang dengan tepat.

image

Konon, tanpa darah manusia suara alat tabuh ini tidak akan “tepat”. Benarkan begitu? Entahlah karena saya tak bisa main drum.

image

Selain sukses membawa pulang wood carving, saya juga dihadiahi sebuah buku tentang Orang Kamoro. Wah pekerjaan rumah selanjutnya adalah melahap buku-buku ini. Bagi yang ingin belanja barang-barang kerajian Orang Kamoro, bisa bikin janji bertemu untuk belanja di galeri yang terletak di Menteng ini, persis di belakang Kedutaan Amerika.

Bagaimana, berminat mengkoleksi barang-barang kerajian orang Kamoro?

xx,
Tjetje

Serangan TKW

Setelah tersesat di konsulat Irlandia, akhirnya saya beneran pergi ke Irlandia. Perjalanan panjang selama lebih dari 19 jam dari Jakarta – Abu Dhabi – Dublin – Abu Dhabi – Dublin diwarnai banyak cerita. Menurut saya bagian paling kocak tapi juga menyedihkan adalah perjalanan yang barengan tenaga kerja wanita.

Pas berangkat, mbak TKW di samping saya, sebut saja mbak A, bawa 2 HP yang sukses bunyi ketika pesawat taxi. Bapak2 diujung kiri sampai melotot menyuruh mematikan. Si Mbak dengan polosnya bilang: “saya nggak tahu cara matiinnya”. Nggak cuma cara matiin HP, mbak ini juga gak tahu caranya connecting ke penerbangan berikutnya. Aduh saya sedih banget deh dengernya.

Dalam perjalanan pulang dari Irlandia, saya berhenti di di Abu Dhabi selama 6 jam. Rencanya saya: tidur, tapi rencanya tinggal rencana. Para TKW duduk beramai-ramai di lantai bawah, ngerumpi, cekikikan diiringi “Gelas-gelas Kaca”. Suaranya membahana di sekitar ruang tunggu. Kehebohan gerombolan TKW ini masih ditambahi dengan beberapa TKW yang memukul botol plastik kosong layaknya supporter tim sepakbola. Jangan ditanya urusan sampah, berserakan dengan indahnya di lantai bandara. Aduh bangsaku!

Setelah bersusah payah masuk ke dalam pesawat, karena mereka buru-buru ingin masuk pesawat, serundul sana sini, bahkan nekat masuk barisan Business Class (dan lolos, bravo atas kenekatan mereka!) akhirnya saya sampai di kursi yang terletak di sisi lorong. Di samping kanan saya ada mbak B, yang super jutek dan di dekat jendela mbak C. Biasanya saya paling males basa-basi, eh hari itu saya sok ramah nanya mau pulang ke mana, jawabannya: “Ya pulang ke Jakarta lah mbak, ini kan satu kapal tujuannya sama semua ke Jakarta.” Hahaha…bener juga sih.

Sebelum duduk saya sempat bersitegang sama mbak B ini, karena dia meletakan dua buah tas yang super besar di bawah kaki. Saya berbaik hati menjelaskan kalau itu bahaya. Jika ada kecelakaan mbak C pasti tidak bisa keluar karena terganjal tas. Dia ngotot gak mau menyimpan tasnya di atas. Saya pun nyerah sambil bilang: tunggu aja pramugarinya yang menjelaskan. Eh dia nyerah, tasnya langsung diberikan kepada saya untuk digotong ke atas. Lumayan!

Kalau mbak B jutek, mbak C lebih sering diam. Mbak ini giginya hampir habis, rontok dihantam bekas majikannya beberapa tahun lalu. Tapi gak kapok, dia balik lagi ke negeri unta, demi gaji 1.5 juta rupiah per bulan. Gaji memang kecil, tapi bonus bisa didapatkan setiap saat. Konon, jika ada tamu yang bertamu, mereka suka kecipratan uang jajan. Bahkan, jika puasa Ramadan penuh 30 hari, majikan pun tak segan memberi hadiah.

Godaan dalam perjalanan ini termasuk tidur. Setelah keberisikan 6 jam mendengarkan kehebohan para TKW, saya nggak bisa tidur & memutuskan nonton film. Eh sama mbak B saya dipaksa disuruh tidur karena sudah malam. Ketika akhirnya tertidur, saya pun dibangunkan mbak B dengan tubuh yang diguncang, “Kamu bangun dong”. Uaaaargh….perjalanan sangat tak tenang.

Saat paling seru adalah saat makan. Ketika menu dibagikan, mbak B nanya itu untuk apa. Saya yang lagi baik menjelaskan satu-satu. Eh si mbak lalu melipat tangannya, sambil manyun bilang “Saya nggak ngerti, kamu aja yang pesan makanannya”. Begitu sudah dipesankan yang kira-kira mirip makanan Indonesia dan mengandung nasi, dia ga doyan. Duh kasihan lihatnya, apalagi perjalanan panjang.

Masih seputar makanan, di sisi kiri depan saya, terpisahkan oleh lorong, ada mbak-mbak TKW juga, sebut saja namanya D. Ketika saya akan makan, tiba-tiba tangannya melayang ke atas makanan saya sambil berujar “Kamu makan apa?”. What sungguh serangan tiba-tiba yang tak saya duga, untungnya (masih sempat bilang untung) makanan saya masih tertutup rapi jadi tidak tercemari tangan orang. Duh aduh aduh mbak, kalau engga kan buyar semua…..

Soal toilet juga menjadi masalah. Mbak B & C ini nggak tahu gimana caranya ke toilet kering. Saya pun mengajarkan untuk menampung air dari wastafel dengan menggunakan gelas plastic. Pas mbak di kursi belakang berseru gak jadi ke toilet karena tak ada air, si Mbak B ini dengan galak dan gayanya ngomong: “Kata siapa gak ada? Itu kan ada kerannya”.

Anyway, para TKW ini kalau mau ke toilet nggak pakai permisi-permisi. Tiba-tiba berdiri nyeruduk di depan saya. Waktu pesawat sudah landing, pintu belum dibuka, kejadian nyeruduk terulang lagi. Gak cuma menyeruduk saya, mereka juga memerintah mas- mas yang duduk di depan kursi saya menjadi kuli angkut. Si Mas diminta menurunkan berbagai macam tas dari penyimpanan bagasi.

Perjalanan panjang hari itu, diakhiri dengan pembagian custom declaration. Saya pun lancar mengisi. Mbak B tiba-tiba berkata “Kamu isi punya saya yah”, mbak C juga ikut-ikutan minta diisi. Lalu dari kursi belakang, mbak TKW lainnya berdiri sambil berkata: “Mbak ini gimana ngisinya, tolong isiin dong.” Ngisi form itu adalah hal yang paling sederhana dan sedihnya mbak-mbak ini gak tahu cara ngisinya. Sejujurnya, saya sangat-sangat sedih. 

Urusan ngambil bagasi juga tak terbebas dengan kekocakan. Seorang TKW dengan polosnya ngecek bagasi yang sudah dinaikan ke troli salah satu penumpang. Ada juga yang jalan-jalan sampai lost and found dan mengecek bagasi yang diletakkan di luar satu persatu. Ketika petugas bandara tanya pesawatnya apa, si Mbak cuma bisa berujar “nggak tahu, nggak tahu” sambil kabur. Sebegitu takutnya mereka pada aparat.

Delapan jam bersama TKW, saya jadi bertanya-tanya:  Yayasan yang selama ini motong gaji TKW yang sudah kecil itu kerjaannya ngajari apa aja?

xx,
Tjetje

The Act of Killing – Jagal

Penantian saya selama satu bulan berbuah manis juga. Akhirnya kedapatan kesempatan nonton film documenter karya Joshua Oppenheinmer yang berdurasi 2 jam 39 menit dan ditaburi tokoh penting di Indonesia. Tokoh2 penting itu antara lain: Wapres Jusuf Kalla yang menggaris bawahi pentingnya pemuda, Ketua Pemuda Pancasila Yapto Soerjosumarno, Rahmad Shah anggota DPR yang hobinya berburu dan punya museum hewan di Medan, Sakhyan Asmara salah satu pejabat di Kemenpora. Ada juga anggota DPRD Medan dari Partai Golkar yang berkicau tentang bisnis illegal Pemuda Pancasila.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/ca/The_Act_of_Killing_(2012_film).jpg

Dipinjam dari Wikipedia

Adegan dibuka dengan enam orang perempuan cantik, Anwar Congo dan Erman (anggota Pemuda Pancasila) menari-nari di bawah sebuah air terjun. Sungguh awal yang mengejutkan untuk film  yang membahas tentang kejahatan anak manusia.

https://i0.wp.com/static.guim.co.uk/sys-images/Film/Pix/pictures/2012/9/14/1347638153352/The-Act-of-Killing-008.jpg
                                       Dipinjam dari Guardian.co.uk

Anwar Congo lalu muncul, mengenakan celana putih (baju piknik katanya) & atasan hijau muda menyala. Membawa kita berpiknik ke tempat dimana dia mengeksekusi anak manusia yang dianggap berafiliasi dengan Partai terlarang. Anak-anak manusia yang tak bisa diselamatkan lagi. Dengan tenangnya, si Anwar menunjukkan bagaimana ia menghabisi korbannya dengan seutas tali/ senar dan meminimalisasi pertumpahan darah. Tak lupa dia menunjukkan tarian cha cha-nya yang bikin dia ngetop. Teknik membunuh lain yang diceritakan adalah dengan meja. Leher korban diletakkan di salah satu kaki meja, lalu mereka pun beramai-ramai duduk di atas meja sambil bernyanyi dan memandangi jalanan di luar jendela.

Selain Anwar Congo, ada juga rekan penjagal lainnya, Adi Zulkadry. Si Bapak ini gak merasa berdosa sama sekali atas perbuatannya. Calon mertua yang kebetulan keturunan Tionghoa pun dihabisi sama dia. Konyolnya, si anak bapak ini muncul beberapa kali di film ini. Lagi nge-mall, foto-foto narsis, bahkan totok wajah. Ini film lagi ngebahas tentang aksi non-humanis dan si Mbak muncul dengan ibunya dengan wajah lempeng, belanja di Mall. Bolehkah saya asumsikan bahwa keluarga Bapak ini menganggap apa yang dilakukan oleh si Bapak sebagai hal yang wajar, normal or worse, something that she should be proud of? Atau jangan-jangan mereka nggak pernah tahu?

Anyway, si Pak Adi ini mengganggap apa yang dilakukannya sebagai hal yang heroic dan dia merasa tidak bersalah. Bahkan nantangin supaya dia bisa dibawa ke Pengadilan Internasional di Den Haag. Pas ditanya tentang Konvensi Genewa, si Bapak malah nantang mau bikin Konvensi tandingan. Konvensi Jakarta.

Ada satu adegan yang menggelitik, tentang bebek. Seekor anak bebek terluka kakinya. Si Anwar lalu menyuruh entah anaknya, entah cucunya, untuk meminta maaf karena telah melukai si bebek. Bahkan si adik kecil ini diminta mengelus-elus si Bebek sebagai tanda cinta kasih. Saking takjubnya, saya gak bisa berkomentar sama adegan ini. Emosi keaduk-aduk.

Adegan lain yang saya anggap penting dan membuat saya Prihatin adalah adegan wawancara dengan TVRI. Si Pembawa Acara, memasang senyum, mengatakan bahwa Anwar Congo telah menemukan cara pembunuhan yang paling efisien dan humanis. D’uh..ini Mbak dulu sekolah di mana sih?

Di akhir cerita, Anwar menerima kalungan medali dari salah satu korbannya sebagai simbol terimakasih karena telah membunuhnya dan mengirimnya ke surga. Kalau benar ide adegan datang dari Anwar dan teman-temannya, maka saya cuma bisa mengelus dada.

Satu hal penting yang perlu digarisbawahi, mereka mengatakan bahwa PKI dianggap kejam. Tapi sebenarnya anggapan itu salah, karena yang lebih kejam itu adalah mereka, para penjagal ini. I couldn’t agree more.

Warning: Film ini mengganggu banget. Saya keluar dari tempat nonton dengan kondisi gemetar dan emosi bercampur aduk. Antara heran ada manusia yang menganggap dirinya tidak jahat padahal tangannya belumur darah dan gemas dengan ketidakadilan.

Yang berminat nonton film ini harap bersabar dan siapkan mental!

Update per 15/12/2013: Film ini sudah bisa diunduh gratis buat yang di Indonesia. Silahkan mengunduh disini: http://actofkilling.com/.

xx,
Tjetje