Obsesi: Rambut Lurus

Rambut saya itu tak jelas, kadang-kadang keriting, kadang-kadang ikal, tapi yang jelas rambut saya tak pernah lurus, melambai-lambai seperti para gadis iklan shampoo itu. Menjadi orang berambut keriting ikal bagi saya bukanlah sebuah hal yang mudah. Setidaknya, ini pengalaman saya sebagai anak remaja lebih dari satu dekade yang lalu.

Dengan berbagai tekanan sosial yang ada, berambut tak lurus itu berat. Bagaimana tak berat? rambut yang sudah diolesin minyak cem-ceman ini begitu susah diatur, baru disisir sebentar sudah berantakan lagi. Lalu, lingkungan sekitar memuja rambut lurus. Setiap kali ada yang berambut lurus dipuji-puji, rambutnya bagus, mudah diatur dan segala puja-puji indah lainnya. Sementara yang rambut keriting, boro-boro dipuji, diingat sama produk shampo juga engga. Semua model iklan shampo pada jaman itu menunjukkan rambut lurus, panjang, hitam dan berkilau. Yang keriting? gak ada, karena kami yang berambut keriting memang terpinggirkan dan tak pernah diingat.

Ketika masa remaja (dan labil), memiliki rambut yang kemudian tak dianggap sebagai rambut ideal, saya berusaha untuk fit in dengan kondisi lingkungan. Apalagi, komentar-komentar tak sedap tentang rambut keriting bermunculan (tambahkan pula warna kulit yang tak putih di situ, hidup makin berat). Saya pun memantapkan hati untuk meluruskan rambut, saat itu metode meluruskan yang tersedia hanya dipapan, entah kenapa namanya keriting papan. Rambut diluruskan dengan obat, kemudian papan-papan plastik ditempelkan untuk meluruskan rambut tersebut.

Proses meluruskan rambut dengan papan itu tak mudah, saya harus menghabiskan setengah hari duduk di salon, membaca banyak majalah, memakan banyak gorengan dan sakit leher dan pundak karena menyangga puluhan papan plastik demi rambut lurus. Belum lagi, hidung harus terus menghirup bau obat yang tak sedap. Perjuangan saya membuahkan hasil: rambut saya jadi lurus, lurus palsu tentunya. Tapi ternyata ada bencana kecil, salah satu bagian rambut saya masih keriting, lokasinya persis di bagian belakang dan di tengah, jadi tak mungkin tak terlihat. Salon Harry yang ketika itu berlokasi di jalan Gajahyana di Malang tak mau bertanggung jawab. Sejak itu saya tak berhenti menyumpahi mereka atas ketidakprofesionalannya dan menolak untuk kembali lagi. Ongkos kerusakan untuk rambut lurus setengah jadi ini 150 ribu rupiah.

Rambut lurus ini tak bertahan lama, karena kemudian rambut asli mulai bermunculan. Lalu timbulah bencana lain, rambut keriting kecil-kecil yang tumbuh di akar kepala, bersanding manis dengan rambut lurus hasil . Sungguh sebuah hal yang aneh, tapi juga namanya remaja labil, ya tak mau melihat keanehan tersebut.

Begitu kuliah, saya masih tetap meluruskan rambut, kali ini berpindah ke sebuah salon kecil di sebuah gang di jantung kota Malang. Biarpun kecil dan nyempil di sebuah gang, salon ini begitu terkenal. Proses meluruskan rambut tak menggunakan papan lagi, tapi menggunakan teknologi rebonding. Rambut dicuci bersih, kemudian dicatok hingga lurus dan indah, lalu diberi obat dan didiamkan selama beberapa jam. Setelah itu rambut dibilas dan dicatok kembali. Hasilnya rambut lurus palsu juga, tapi kualitasnya jauh lebih baik dan terlihat lebih normal. Saat itu biayanya 300 ribu rupiah. Untuk ilustrasi saja, biaya kuliah saya di sebuah kampus negeri saat itu 325 ribu rupiah setiap semesternya.

Sumber: http://tallncurly.com
Coba cek deh komiknya kocak-kocak.

Untuk menjaga keindahan rambut saya yang sudah lurus dan indah, saya pun rajin perawatan, bahkan lebih sering keramas di salon ketimbang keramas di rumah. Harap maklum, jaman itu belum tahu bagaimana kerasnya mencari uang. Lalu komentar apa yang diterima setelah rambut diluruskan? Tentunya pertanyaan tentang mengapa rambut harus diluruskan yang ditemani dengan rontoknya rambut karena terpapar bahan kimia.

Obsesi dengan rambut lurus ini tak hanya dialami oleh saya saja, tapi banyak orang lain yang mengalaminya, perempuan dan pria. Salah seorang teman pria di kampus saya meluruskan rambutnya, demi punya rambut gondrong yang oke punya. Tentu saja rambutnya jadi gondrong lurus palsu ditemani rambut-rambut keriting.

Sementara itu, teman kuliah lainnya nekat meluruskan rambut menggunakan setrika. Alat setrika untuk pakaian itu. Kepalanya diletakkan di meja setrika, lalu teman kosnya membantu meluruskan rambut tersebut. Saat itu catokan rambut masih sangat mahal, bukan ratusan ribu rupiah, tapi jutaan.  Saya kemudian merekomendasikan meluruskan rambut di salon langganan saya. Hasilnya,  teman saya puas dengan rambut lurus, saya pun mendapatkan perawatan gratis dan ekstra uang tunai sebagai tanda terimakasih dari pemilik salon, dua puluh ribu rupiah. Hati pun riang gembira.

Begitu saja beranjak dewasa, saya mulai belajar menerima dan mencintai rambut saya. Saya tak tergoda lagi untuk meluruskan rambut, apalagi ketika melihat betapa anehnya rambut saya ketika rambut-rambut keriting tersebut mulai tumbuh. Sejak lepas dari salon, saya merawat rambut sendiri dengan menggunakan produk shampo dan pelembab organik (di Jakarta saya menemukan beberapa produk organik impor yang begitu bersahabat dengan rambut keriting saya).Proses mencintai rambut sendiri tak mudah, perlu waktu lama. Dan saya tahu, masih banyak orang-orang yang berjuang mencintai rambutnya sendiri. Semoga satu saat nanti, mereka bisa mencintai rambutnya, seperti saya mencintai rambut saya.

Kalian, punya masalah dengan rambut?

xx,
Tjetje

Penitipan Anak

Beberapa waktu lalu, di Luas, tram Irlandia, saya mendengarkan dua perempuan mengobrol dengan kencang dan mereka tak sedang berdekatan. Nampaknya, mereka sudah lama tak bertemu dan mereka saling mengupdate status masing-masing.

Salah satu dari mereka sudah menjadi nenek dengan tiga orang cucu, kendati anak-anaknya baru menginjak awal dua puluh tahun. Dari nguping ini saya kemidian jadi tahu kalau si nenek tak mau menghabiskan hidupnya mengasuh cucu. She has life, begitu menurut si nenek. Makanya dia engga dititipi cucunya.

Sikap nenek ini berbeda dengan di Indonesia, begitu anak kawin langsung disuruh buru-buru punya anak supaya sang kakek dan nenek, yang biasanya menginjak usia hampir pensiun, bisa menghabiskan masa tuanya mengasuh cucu. Istilah setelah pensiun jadi MC pun muncul, bukan Master of Ceremony, tapi momong cucu (mengasuh cucu), gratis pula.

Saya  momong anjing orang

Di Irlandia, tak lazim memang menitipkan cucu pada neneknya, walaupun ada juga yang tak berkeberatan. Lalu di mana anak-anak ini dititipkan ketika orang tuanya bekerja? biasanya mereka dititipkan ke penitipan anak, mereka berada di sana sejak pagi hingga sekitar pukul tujuh malam.

Yang tak bekerja dan punya sedikit uang pun ada yang melakukan hal ini supaya bisa mendapat kebebasan, me time & sang anak bisa beninteraksi dengan anak kecil lainnya. Ongkos penitipan anak sendiri beraneka ragam, tergantung lokasi dan jumlah anak yang dititipkan. Kalau si anak punya kakak yang juga dititipkan, biasanya bisa mendapatkan sedikit diskon. Jadi berapa ongkos nitip anak? Bisa ratusan hingga ribuan Euro. Mahal? Relatif.

Di Irlandia sendiri juga ada penitipan gratis, tapi biaya penitipan gratis dari pemerintah hanya diberikan ketika si anak berusia dua tahun delapan bulan dan hanya hingga si anak masuk primary education. Setelah dan sebelum itu, orang tua harus merogoh koceknya. Tak heran kalau kemudian banyak ibu-ibu muda dengan gaji yang tak sepadan yang kemudian memilih untuk berhenti bekerja ketimbang menghabiskan seluruh penghasilannya untuk membayar penitipan anak.

Selain penitipan anak, banyak orang juga mengambil tenaga au pair, wah tenaga au pair di sini banyak diperas tenaganya karena tak ada aturan mengenai jam kerja mereka. Mereka juga tidak dilindungi hukum. Kebanyakan au pair ini berada di Irlandia untuk mengambil kursus bahasa Inggris. Jadi mereka menjaga anak ketika hari kerja dan kursus bahasa Inggris di akhir pekan. Berapa uang yang mereka terima? Tergantung kebaikan, kalau apes ya tak dibayar/ dibayar minimum, disuruh jaga anak, bersih-bersih, hingga memasak. Lalu buntutnya harus ke pengadilan untuk menuntut gaji. Tentu saja kasus seperti ini jarang terjadi.

Penutup

Beberapa orang mungkin ada yang bertanya mengapa orang tua tega menitipkan & meninggalkan anaknya seharian pada orang asing. Lha mau gimana lagi? Kondisi di sini memang berbeda, gak bisa seenaknya meminta si nenek mengasuh anak 365 hari.

Lagipula, di penitipan anak ini mereka justru bisa berinteraksi dengan anak-anak seusianya. Tumbuh kembang mereka juga diawasi oleh tenaga profesional yang punya kualifikasi. Gak sembarangan orang bisa bekerja di penitipan anak.

Di penitipan anak juga mereka bisa jatuh cinta, cinta monyet tentunya. Seorang bocah ingusan yang belum genap empat tahun jatuh cinta pada keponakan perempuan saya & satu hari keponakan saya tak masuk untuk dititipkan. Bocah itu menangis histeris dan tak bisa dihentikan, sampai ipar saya ditelpon. Lha bisa apa ipar saya, wong gak ikut punya anak. Akhirnya, untuk menenangkan si bocah ingusan itu, dia diberi obat pereda demam, biar lebih tenang. Ah cinta monyet.

Di tempat kalian tinggal, anak-anak dititipkan di mana ketiga orangtuanya bekerja?

xx,
Tjetje

Melihat Lebaran Dari Jauh

Selamat Hari Raya Idulfitri teman-teman. Bagaimanakah Idulfitri kalian? Semoga kiranya lancar dan menyenangkan. Semoga juga lebaran kemarin berlalu tanpa teror pertanyaan tak sopan tentang hal-hal pribadi. Dari Twitter saya melihat ada beberapa orang yang sudah mulai berani galak ketika ditanya pertanyaan tak sopan. Pertanyaan yang gak sopan ini pun dibalas dengan reaksi tak sopan juga. Banyak orang beranggapan ini gak sopan, tapi kita semua manusia yang punya emosi dan perasaan. Jadi ngerti bangetlah kalau dongkol banget, apalagi kalau berkaitan dengan hal-hal yang kita tak bisa kontrol. i.e jodoh, kehamilan.

Lebaran kali ini saya perhatikan juga banyak yang nyinyir politik, terutama tentang jalan tol. Yang pendukung Jokowi nyinyirin yang makai jalan tol, sementara yang anti-Jokowi nyinyirin orang-orang kecil di Pantura yang kehilangan penghasilannya karena Pantura sepi. Duh, lihat yang kayak gini ini saya bersyukur. Bersyukur tinggal di Irlandia karena gak harus berurusan dengan komentar-komentar politik panas gitu. Apalagi di saat suasana lebaran yang harusnya pada damai dan tenang.

Persoalan THR masih rame dan seru juga ya. Banyak yang udah mulai kepanasan oleh organisasi liar yang minta-minta duit THR. Mereka ini sungguh menyusahkan. Selama saya kerja, saya tak pernah dapat THR sama sekali. THR satu kali gaji itu mimpi di awang-awang. Paling banter dikasih duit dari bos menjelang lebaran. Jumlahnya gak satu kali gaji sih, tapi kejutan dikasih bonus itu yang luar biasa.

Nah, menjelang lebaran itu bagi saya saat terberat, karena pengeluaran bisa melonjak beberapa kali lipat. Semua elemen berharap THR, dari mulai jasa pengaman di kantor dulu (ini termasuk para petugas keamanan yang dibiayai negara), para satpam dan pekerja kost-kostan, hingga para remaja masjid dari kampung-kampung belakang kost yang saya tak pernah kenal. Tanpa segan mereka mengetuk pintu kos-kosan, tanpa nanya pula, apakah yang dimintai uang ini lebaran atau engga. Berbagi itu memang indah, tapi kalau udah pakai maksa-maksa gini kok jadi gimana ya?

Persoalan minta-minta ini juga dialami oleh para bule-bule yang tentunya gak kenal dengan model THR. Di Eropa sini yang model minta-minta uang biasanya buat fundraising untuk kegiatan sosial, bukan untuk kepentingan kantong sendiri. Para bule yang tak kenal budaya THR ini kemudian dimaki-maki pelit, karena tak mau berbagi, padahal digaji ribuan dollar. Padahal, konsep minta-minta ini asing bagi mereka. Beberapa dari mereka bahkan ada yang meminta penjelasan secara mendetail kepada saya kenapa ada budaya seperti ini.

THR juga banyak diberikan buat anak-anak. Uang pecahan baru jadi serbuan masa untuk ditukarkan dan dibagi-bagikan. Saya sendiri biasanya gak repot-repot nyari uang baru, cukup uang lama, yang penting niatannya. Bicara tentang anak-anak, dulu di rumah saya ada segerombolan anak kecil yang entah dari mana asalnya, datang bertamu. Anak-anak ini berpakaian rapi dan baru, keliling kompleks rumah. Rupanya, mereka ini datang untuk merasakan penganan dan juga secara implisit mengharapkan uang lebaran, di Malang, kami menyebutnya galakgampil.  Saya sendiri tak pernah tahu tradisi ini sampai anak-anak itu muncul di depan rumah.

Ramadan di Irlandia sendiri sangat panjang, karena sudah mulai masuk musim panas. Sungguh salut saya melihat teman-teman kerja saya yang kukuh menjalankan ibadahnya, kendati panas menyengat. Panas di Irlandia memang tak seperti daratan Eropa, tak sampai menginjak 20 derajat, tapi tetap panas.

Warga Indonesia di Irlandia sendiri banyak yang mengadakan open house, konsepnya pot luck. Tamu datang membawa makanan. Tahun kemarin saya bergabung dengan salah satu open house. Orang-orang berkumpul, membawa makanan khas nusantara sambil melepas rindu mengobrol dengan bahasa Ibu. Rasanya mungkin tak sama dengan lebaran di negeri sendiri, apalagi tak ada tante-tante yang memberikan beberapa ratus ribu rupiah sebagai hadiah lebaran, tapi setidaknya mereka bisa merasakan kebersamaan.

Bagaimana liburan lebaran kalian?

Irlandia dan Aborsi

Hari ini, Jumat 25 April 2018 akan menjadi hari bersejarah bagi Republik Irlandia. Warga negara Irlandia, hanya mereka yang memiliki paspor Irlandia, akan menyuarakan pendapanya, melalui referendum, tentang Amandemen ke delapan. Amandemen yang berada di konstitusi ini melarang perempuan untuk mendapatkan akses aborsi. Akibatnya, ribuan perempuan harus terbang ke Inggris untuk melakukan aborsi serta banyak dari mereka yang harus membeli pil dari internet untuk aborsi, yang dianggap sebagai pil terlarang di negeri ini.

Tak seperti di Indonesia yang memperkenankan aborsi ketika kondisi ibu terancam, di sini aborsi dalam kondisi apapun tak diperkenankan. Maka, ketika perempuan-perempuan mengalami kehamilan bermasalah, di mana fetus yang berada di kandungan mereka memiliki ketidaknormalan, mereka tak bisa mendapatkan pertolongan di sini. Salah satu kasus yang ramai memicu perubahan kondisi ini adalah kasus Savita yang sekilas pernah saya bahas di tulisan saya pada hari perempuan. Link tulisan ini akan saya sertakan di akhir artikel ini.

Selama beberapa bulan terakhir, kondisi Irlandia memanas. Negara ini terbagi dua, sebagian orang berada dalam posisi Yes, atau Tá dalam bahasa Irlandia. Mereka adalah orang-orang yang menginginkan perubahan, supaya para perempuan bisa memutuskan apa yang mereka bisa lakukan terhadap tubuhnya. Jika pemilih Yes ini menjadi mayoritas dan menang, maka amandemen ke delapan yang berada di konsitusi negara (iya, di dalam konstitusi sodara-sodara) akan dihapus. Akses aborsi akan dibuka hingga usia 12 minggu, atau jika di atas 12 minggu ketika kondisi ibu tak memungkinkan dan ada persetujuan dari setidaknya 2 tenaga medis.

Perubahan ini tak diinginkan oleh mereka yang berada di sisi kampanye No. Mereka, termasuk institusi keagamaan (dalam hal ini gereja), aktif berkampanye untuk menyelamatkan amandemen ke delapan ini (di sini sebut sebagai the eight amandement). Jika mereka menang, artinya tak akan ada perubahan. Perempuan-perempuan yang mengalami masalah dengan kandungan, harus pergi ke Inggris, bayar ongkos pesawat, melakukan aborsi, kembali lagi ke Irlandia (kadang mengalami pendarahan di dalam pesawat), lalu kembali ke Inggris lagi untuk mengambil kremasi bayi mereka.

Panasnya situasi ini juga merambah hingga ke Google dan Facebook. Google membuat policy untuk tidak menerima iklan terkait dengan referendum, sementara Facebook hanya menerima iklan yang berasal dari Irlandia. Isu aborsi ini memang menjadi isu penting bagi banyak negara lain, utamanya dengan gereja.

Dari pantauan saya di jagat maya dan juga dari lingkungan teman-teman, kelompok Pro Choice, atau Yes Campaigner, nampaknya banyak diperlakukan tak baik karena pilihan mereka. Ada beberapa orang yang diludahi ketika mereka mengenakan pin bertuliskan Yes. Meja kampanye mereka juga diporak-porandakan oleh pendukung kampanye No.

Saya sendiri, dipanggil pembunuh bayi. Padahal saya tak pernah membunuh bayi manusia. Panggilan ini muncul karena pilihan untuk menjadi pro choice, karena pilihan untuk mempercayai perempuan dan menginginkan perempuan memutuskan hal yang terbaik bagi tubuh mereka. Agaknya menjadi perempuan itu memang tak pernah mudah, dikala memutuskan untuk melakukan aborsi, dituduh pembunuh bayi, tapi ketika memutuskan untuk melanjutkan kehamilan juga tetap dihujat karena memiliki kehamilan di luar perkawinan. Semuanya salah.

Satu hal yang orang seringkali lupa, memutuskan untuk menggugurkan bayi adalah keputusan yang tak akan pernah mudah, bagi siapapun. Jikalau kemudian perempuan memutuskan untuk melakukan itu, kita harus percaya bahwa keputusan itu sudah didahului dengan pertimbangan matang-matang. Tentunya, sebagai penonton dari luar, kita tak pernah tahu pergulatan batin mereka ketika kemudian mereka memutuskan hal tersebut. Who are we to judge them, apalagi nuduh-nuduh dosa dan rentetan panjang penghujatan lainnya? 

Dari beberapa hari ini, jagat twitter diramaikan dengan hashtag #HomeToVote. Beberapa orang-orang Irlandia terbang kembali dari Canada, Hanoi, Swedia, untuk mendukung perempuan-perempuan di Irlandia. Penerbangan mereka tentunya bukanlah penerbangan yang susah, mengingat ribuan perempuan Irlandia harus terbang ke Inggris, dalam kondisi pucat, kesakitan, tubuh dan hatinya berdarah karena harus kehilangan bayi mereka.

Sebagai pemegang paspor hijau, saya hanya bisa melihat dari kejauhan riuhnya voting amandemen ini. Tapi dalam lubuk hati terdalam saya, saya berharap hari ini perempuan menang. Semoga kiranya pilihan itu tersedia dan perempuan Irlandia tak perlu melakukan perjalanan jauh lagi.

Good luck Ireland, Tá, Tá, Tá!!

xx,
Tjetje

Baca juga: Perempuan dan Aborsi

Warna-warni Forum Internet

Suka ikutan forum-forum di internet atau group di media sosial? Saya mengikuti beberapa group dan forum seperti ini. Dari beberapa group yang saya ikuti, beberapa bermanfaat, tapi ada pula yang manfaatnya tak ada dan hanya jadi forum orang ngobrol tanpa jelas arahnya.

Ada beberapa hal menarik yang bisa juga menjengkelkan yang saya lihat dari berbagai group. Pilihan untuk menjadikan ini menarik atau menjengkelkan memang tergantung bagaimana kita melihatnya dan beberapa di antaranya saya rangkum di sini:

Tukang males cari informasi

Sebenarnya gak hanya di grup sih, orang malas kayak gini ada di mana-mana. Padahal sudah ada teknologi yang bisa membantu mencari informasi dengan kata-kata kunci. Contoh paling sederhana, nanya di forum gimana cara perpanjangan sebuah dokumen. Nah, informasi untuk perpanjangan itu sudah ada di website resmi dan juga pernah dibahas berkali-kali di pos sebelumnya. Pos sebelumnya memang sudah tenggelam dalam lautan diskusi, tapi kalau rajin, bisa dicari dengan bantuan kolom search. Kasihan lho para insinyur yang bikin fungsi itu kerjanya bikin fungsi gak gampang, gak dipakai pula.

Tukang kepo

Pada dasarnya semua manusia itu kepo, pengen tahu tentang segala sesuatu. Tapi ada tempat, ada waktu dan ada cara untuk melakukan hal ini. Di sebuah forum kelompok orang yang berada di satu wilayah, serta di sebuah forum perkawinan lintas bangsa saya seringkali menemukan hal seperti ini. Yang pertama di forum berbasis wilayah saya menemukan orang bertanya bagaimana ceritanya netizen berada di forum tersebut berada di lokasinya masing-masing. D’oh…tolong lah ya, keponya gak bisa disimpan di rumah aja apa ya. Jaman sekarang orang pindah ke luar negeri itu bukan sebuah hal yang aneh lagi. Ada yang kerja, kawin, sekolah, ada pula yang lagi liburan panjang atau mengikuti pasangan yang kerja atau sekolah. Kok ya reseh pengen tahu.

Di forum perkawinan lintas bangsa sendiri banyak yang suka menanyakan soal pertemuan dengan pasangan. Cerita perkawinan lintas bangsa itu macam-macam, tapi gak jauh-jauh dari ketemu waktu kerja, sekolah, liburan, situs jodoh, dikenalin temen dan lain-lain. Cerita pertemuan perkawinan lintas bangsa itu sebenarnya sama saja seperti cerita perkawinan satu bangsa, cuma herannya banyak banget yang kepo tapi tak pernah nanya hal serupa kepada pelaku perkawinan satu bangsa.

Harus Jawab

Yang model seperti ini banyak banget. Pertanyaan sudah dijawab dengan jelas dan gamblang oleh orang lain, bahkan sudah dijawab dari beberapa hari lalu. Udah basi lah ya pertanyaannya, tapi masih ada pengen jawab. Mending gitu kalau jawabannya informasi baru, jawabannya informasi yang sama diulang lagi. ya kali, ini kan bukan kuis yang pertanyaan sama harus dijawab ratusan kali. Model orang kayak gini gak mau repot-repot baca komentar-komentar sebelumnya, langsung nyamber aja dan menuh-menuhin notifikasi. Clearly, saya agak gemes kalau lihat yang model gini.

Jawaban Gak Nyambung
Tukang jawab nggak nyambung ini biasanya motifnya sama dengan orang yang harus jawab. Pokoknya harus nimbrung aja biar keliatan berkontribusi. Pertanyaan gimana cara ganti oli Mini Cooper, eh dia ngasih jawaban nggak tahu, tapi ngasih cara ganti oli honda bebek. Di forum kawin campur ini sering terjadi, biasanya nanya cara kawin di sebuah negara dan akan dijawab dengan cara kawin di negara lain-lain. Kasihan baca ginian, karena yang nanya jadi kebanyakan informasi.

Yang model ini lebih seru lagi. Pertanyaan beli telur bebek di kampung A di mana, tiba-tiba nyamber paling pertama ngasih tahu beli telur di warung sebelah, salah pula jawabannya dan ternyata orangnya gak di kampung itu, ya capek deh ya. Model-model orang yang sok tahu tapi gak punya konteks ini banyak banget, biasanya jawabannya berdasarkan kebiasaan di mana orang tersebut berada, atau hasil google kilat.

Penegasan Melakukan Hal Ilegal & menawar aturan

Nah ini favorit saya. Orang-orang yang mencari dukungan bagaimana melakukan hal ilegal. Orang-orang model gini biasanya sudah tahu aturan dan sudah baca, tapi terbawa kebiasaan menawar. Jadi aturan 10, nawar minta jadi 5. Masalahnya, mereka nawar dengan orang yang salah, di forum yang ramai pula. Jadilah makin ramai dan makin kocak lihatnya.

Seperti saya tulis di atas, tak selamanya orang-orang ini mengesalkan, kadang bisa jadi hiburan murah meriah. Pilihan kita untuk menjadi sebal, atau tertawa melihat hal-hal seperti ini. Mungkin malah beberapa dari kita bersalah atas hal-hal di atas. I certainly do, sometimes.

Kalian, punya pengalaman berinteraksi dengan yang aneh-aneh di forum?

xx,
Tjetje

Undangan Makan-makan

Makan-makan adalah napas pergaulan bagi bangsa Indonesia. Obrolan-obrolan dalam keseharian kita, baik yang ringan lebih sering berada di sekitar makanan, ketimbang minuman, apalagi minuman beralkohol. Para penikmat minuman pun, apalagi kopi, seringkali ditemani oleh makanan ringan. Pendek kata, kultur makan kita itu sangat kuat.

Orang-orang Indonesia yang pindah ke luar negeri juga seringkali berkumpul untuk sekedar ngobrol, merayakan hari spesial, atau bahkan arisan. Kumpul bersama ini biasanya model  pot luck, masing-masing orang membawa makanan yang mereka bisa masak.

Ketika awal pindah ke sini, saya nggak bisa masak sama sekali. Saya ingat sekali, di undangan makan-makan pertama, saya membawa sewadah coklat untuk tuan rumah (dan tuan rumah ternyata punya banyak coklat 😖). Di undangan selanjutnya, saya sudah lebih canggih, membawa cake. Tentunya bukan hasil bikin sendiri, tapi hasil membeli. Butuh waktu yang agak panjang bagi saya untuk bisa membawa hasil makanan sendiri, maklum gak bisa masak.

Satu prinsip bergaul yang seringkali diterapkan dan diharapkan, kalau diundang jangan pernah datang dengan tangan kosong. Kalau tak bisa masak, ya beli saja. Atau bisa juga membawa bunga, coklat ataupun anggur. Prinsip ini sendiri juga banyak dipakai di Indonesia, apalagi dengan budaya oleh-oleh kita yang kuat.

Bagi saya sendiri, datang dengan tangan kosong bukanlah satu hal yang harus menjadi isu. Pertama, karena mengundang orang berarti memang sudah siap untuk menyediakan makanan untuk mereka, jadi tak perlu mengandalkan orang lain untuk membawa. Kedua, mereka yang diundang mungkin tak sempat masak, tak bisa masak (seperti saya dulu), atau mungkin sedang bokek. Yang ketiga, sudah kebanyakan orang yang bawa makanan, jadi kalau ada lagi yang bawa jadi terlalu melimpah dan gak kemakan.

Tapi bawa makanan juga bisa menjadi bencana. Bawa makanan yang dinilai kurang oke buat tuan rumah atau kurang oke rasanya. Sudah sengsara bikin kue pandan, misalnya, tapi ternyata kue pandan bantat. Alamat jadi omongan karena kue bantat dibawa. Padahal, gak ada lagi yang bisa dibawa. Lagipula, peminat kue bantat juga banyak lho, apalagi kue cubit bantat. Duh jadi rindu kue cubit buatan abang-abang-abang.

Bikin makanan yang murah meriah juga bisa jadi bahan pembicaraan. Bawa nasi putih ketika ada kumpul-kumpul, atau model saya yang sering bawa kerupuk karena stok kerupuk saya banyak banget. Modyar deh, karena dianggap perhitungan. Sementara yang bawa daging-dagingan sudah berlimpah. Serba salah deh.

Acara makan-makan sendiri juga sering berbuntut dengan bungkus-bungkus. Apalagi kalau makanannya berlimpah dan dari banyak pengalaman, selalu berlimpah. Suatu hari, orang Irlandia yang saya kenal mempertanyakan, mengapa orang-orang pada bungkus-bungkus ketika acara makan-makan belum selesai. Ketika itu masih banyak tamu yang datang. Pola ini rupanya banyak dilakukan ketika tamu yang hadir hanya bisa datang sebentar, lalu buru-buru pulang. Saya sendiri nggak ngeh, karena sudah terlalu biasa melihat hal tersebut.

https://www.instagram.com/p/BdXZzR7Az95/?taken-by=binibule

Selain urusan bungkus-bungkus yang terlalu dini, bungkus-bungkus juga menjadi pembicaraan ketika bawa kerupuk, tapi pulang bawa ayam satu ekor. Nggak seekstrem itu juga kali sih ya, tapi rupanya ada orang-orang yang menghitung berapa yang dibawa dan berapa yang di bawa pulang. Padahal, bungkus-bungkus sendiri sangat didukung oleh tuan rumah yang punya hajat, bahkan plastik dan kotak plastik juga disediakan oleh tuan rumah. Biasanya tuan rumah menawarkan bungkus-bungkus karena makanan yang terlalu banyak dan tak ada yang makan; daripada terbuang percuma, lebih baik dibungkus.

Bagi saya, makan-makan adalah ajang untuk menyambung hubungan dengan rekan-rekan sebangsa dan tentunya memuaskan rindu akan makanan Indonesia. Yang jelas, makan-makan jadi memicu saya untuk jadi belajar masak makanan Indonesia.

Kalian, punya cerita soal makan-makan di tempat kalian tinggal? Liwetan mungkin?

xx,
Tjetje

Cerita bungkus-bungkus ketika saya masih jadi anak kos, pernah saya bahas di sini.

Bicara Sistem Kesehatan Irlandia

Halo semuanya, yang punya blog lagi sibuk menikmati matahari. Tiap kali mulai Spring dan Summer, sudah bisa dijamin tulisan saya di blog pasti gak akan sebanyak biasanya, karena saya repot berjemur dan tentunya repot menjemur pakaian di luar.

Di Irlandia, selain matahari sudah mulai muncul juga lagi rame kasus kanker serviks. Di sini ada organisasi yang khusus menangani kanker serviks dan tiap sekian tahun sekali perempuan di sini dipanggil untuk melakukan tes gratis. Tes gratisan ini ternyata lagi ada skandalnya; ada sekitar dua ratus perempuan yang didiagnosa baik-baik saja, tapi ternyata terkena kanker. Akibat salah diagnosa ini, mereka yang seharusnya bisa mendapatkan intervensi ketika kanker sedang dini tak bisa mendapatkan intervensi. Direktur organisasi ini sudah mundur, tapi tetep aja minta dituntut.

Kesehatan di Irlandia tak bisa lepas dari kasus orang menuntut petugas kesehatan, suster ataupun dokter. Saya kebetulan mengenal satu orang yang melakukan hal tersebut, dia menuntut rumah sakit karena suster melepas perban dengan tidak hati-hati hingga tangannya terluka. Jika di Indonesia kita begitu pemaaf, di sini banyak yang mencari kompensasi dan kompensasi yang dicari tak sedikit, setidaknya puluhan ribu Euro.

Kembali lagi ke isu kanker, bicara tentang kanker tak bisa lepas dari hospice. Hospice merupakan tempat perawatan mereka yang sudah penyakitnya sudah parah dan tak bisa disembuhkan lagi. Salah satu contoh pasien yang biasanya dirawat di hospice adalah pasien kanker yang kankernya sudah menyebar kemana-mana & sudah di stadium akhir. Di hospice, mereka tak hanya mendapatkan bantuan kesehatan (e.g suntik morphin untuk meredam sakit) tapi juga mendapatkan bantuan spritual. Di Indonesia sendiri saya tak pernah melihat hospice, silahkan dikoreksi kalau salah. Dari pengalaman saya di sini, ketika sudah ada pasien yang masuk hospice, biasanya orang akan menyempatkan menjenguk, sekaligus pamitan.

Sistem kesehatan di Irlandia sendiri sedikit berbeda dengan di Indonesia dan negara Eropa lainnya. Di sini, dokter tak gratis dan setiap orang harus daftar ke satu dokter umum. Satu kali kunjungan ke dokter biasanya dibandrol di harga 60 Euro per visit. Untuk mereka yang gak kerja atau para pensiunan, biasanya mereka dapat kartu kesehatan dan bisa akses dokter gratis.

Di Indonesia, pendekatan dokter dengan pasien itu lebih ke kamu keluhannya apa, mari saya kasih resep. Selesai masalah. Di Irlandia, dokter dan pasien itu berbeda, pasien daftar ke satu dokter dan cerita tentang semua cerita kesehatan keluarga ke dokter tersebut. Nanti berdasarkan cerita keluarga tersebut, si dokter bisa mengambil tindakan-tindakan yang dipandang perlu.

Misalnya, ada keluarga yang pernah mengalami kanker, darah tinggi, ataupun jantung maka dokter akan mengambil tindakan preventif untuk cek ini dan cek itu. Nah ketika direkomendasikan dokter untuk cek ini dan itu. Nanti rumah sakit akan kirim surat panggilan dan panggilan ini bisa beberapa bulan sebelumnya. Semua proses ini gratis, tapi tentunya antrian untuk jasa publik ini panjangnnya tak terkira.

Satu hal yang saya perhatikan, di Irlandia dokter berbicara dan berkonsultasi dengan pasien tentang kondisi mereka. Kondisi pasien adalah hak pasien untuk tahu dan bukan hak juru bicara keluarga. Menutup-nutupi kondisi pasien juga bukan hal yang wajar di sini. Dokter harus menginformasikan pasien dan dapat ijin dari pasien, karena pasien berhak menolak tindakan. Ini berbeda banget dengan di Indonesia, di mana juru bicara keluarga biasanya menjadi yang berkomunikasi dengan dokter.

Tenaga suster di Irlandia sendiri banyak datang dari luar Irlandia, Filipina termasuk salah satu negara yang mengirim suster ke Irlandia. Karena kemiripan orang-orang Indonesia dengan orang Filipina, saya seringkali disangka sebagai orang Filipina dan tentunya disangka sebagai suster. Saking seringnya sampai pengen bikin kaos dengan tulisan “No, I am not Filipino and I am not a nurse“. Gak semua yang coklat itu suster.

Bagaimana dengan sistem kesehatan di tempat kalian sekarang tinggal?

xx,
Tjetje

Ujian Menyetir Irlandia

Beberapa hari lalu saya mengirimkan pesan kepada Ibunda di Indonesia: “Mama, aku lulus ujian SIM Irlandia”. Krik..krik…krik… Sementara itu, begitu saya memberitahu mama dan papa mertua, suasanya langsung mengharu biru, diwarnai dengan pelukan dan ucapan selamat. Di Indonesia dan Irlandia, SIM memang diperlakukan dengan cara berbeda, karena cara mendapatkan keduanya tidaklah sama. Jauh lebih mudah di Indonesia. Makanya tak heran kalau banyak orang di Indonesia yang menyetir tanpa menghormati peraturan dan rambu-rambu lalu lintas, seperti meme yang dibuat oleh Mbot di bawah ini:


Proses saya mendapatkan SIM di negeri ini dimulai sejak saya datang ke negeri ini dan mereka tak mengindahkan fakta bahwa saya memiliki SIM Indonesia. SIM Indonesia, di sini tak ada nilainya. Hal pertama yang saya lakukan adalah membeli buku yang berisi peraturan-peraturan tentang menyetir. Buku itu harus saya tamatkan dahulu sebelum mengambil tes tulis tentang aturan lalu lintas. Empat puluh soal harus dijawab dalam waktu empat puluh lima menit saja. Setidaknya tiga puluh lima pertanyaan tersebut harus benar. Jika kurang dari tiga puluh lima, maka  harus mengulang dan tentunya bayar lagi.

Begitu lolos tes tertulis, SIM learner (L) yang berwarna hijau pun bisa diberikan. Kendaraan harus ditempeli stiker L dan pengemudi tak boleh menyetir sendiri. Harus menyetir bersama mereka yang memiliki SIM penuh (full license, bukan L lagi). Kendaraan juga wajib dilengkapi asuransi, harus membayar pajak dan lolos uji kelayakan. Tiga dokumen ini harus selalu ditempelkan dikaca mobil. Jika tertangkap menyetir sendiri, bisa terkena penalty poin yang bisa mengakibatkan dicabutnya SIM. Selain itu, ada kewajiban untuk melakukan 12 jam kursus menyetir dengan instruktur resmi. Kursus menyetir sendiri dibandrol dengan harga berbeda-beda, dari mulai 25 – 55 Euro setiap jamnya. Saya sendiri menggunakan empat instruktur yang berbeda dan menghabiskan lebih dari 20 jam, karena kebanyakan ganti instruktur.

Setelah kursus selama 12 jam ini terpenuhi, dan jika sudah siap, maka ujian praktik bisa diambil. Untuk ambil ujian praktik ini, pendaftarannya seara daring dan antrian ujian praktik ini sendiri lama, bisa berbulan-bulan. Di Irlandia sendiri ada beberapa tempat untuk mengambil ujian dan beberapa terkenal sangat sulit.

Ujian praktik sendiri melibatkan beberapa hal, dari mulai rambu-rambu, aturan lalu lintas hingga menerangkan bagian-bagian dari mesin. Pengetahuan tentang letak daki, minyak rem, oli, air untuk jendela mobil juga ditanyakan. Tak hanya itu, kapan dan bagaimana menggantinya pun juga ditanya, termasuk soal ketebalan ban. Lampu-lampu kendaraan juga dicek untuk memastikan semua lampu menyala dan kita tahu kapan dan bagaimana menggunakan lampu yang tepat.

Praktik menyetir sendiri melibatkan observasi ketika akan mulai dan selama menyetir. Soal gerakan kepala ketika melakukan observasi ini sendiri membuat banyak kontroversi, terutama bagi mereka yang terlihat tak menggerakkan kepala ketika menyetir. Posisi tangan pada kemudi, bagaimana kita harus feeding the wheel, tangan tak boleh diputar-putar (ajaran Indonesia!).

Selain itu, ada tes untuk mundur di belokan (reverse corner) yang melibatkan banyak teori dan observasi. Bagaimana mulai menyetir di tanjakan dan 3 point turn (putar balik tanpa menyentuh pinggiran jalan dan tak boleh dry steering – lagi-lagi ini ajaran Indonesia), cara berhenti, menyetir roundabout. Semuanya dilakukan di jalan raya selama kurang lebih 20-25 menit. Selama tes kita juga tak boleh membuat terlalu banyak kesalahan. Ada tiga tipe kesalahan, hijau, oranye dan merah. Satu kesalahan tipe merah saja akan menyebabkan kegagalan. Salah satu kesalahan yang fatal di dalam ujian menyetir di Irlandia adalah melambaikan tangan ketika bertemu teman atau ketika mengucapkan terimakasih (di sini, hal-hal tersebut merupakan tradisi). Kalau melambaikan tangan aja gak boleh, apalagi ngobrol-ngobrol di jalanan seperti ini:

Selama kursus mengemudi ini saya diserang stress berat, tidurpun tak tenang. Pada saat tes pun, petugas yang mengetes saya sampai menyuruh saya mengambil napas dalam-dalam. Padahal saya ini termasuk tenang dalam menyetir. Tekanan tes ini memang luar biasa, jauh lebih berat daripada tes di Indonesia. Begitu dinyatakan lulus, saya diberi selembar kertas untuk membuat SIM penuh. Selain itu kendaraan saya juga harus ditempel stiker, di bagian depan dan bagian belakang dengan tulisan N, yang artinya novice driver. Stiker ini harus dipasang selama dua tahun.

Penutup

Di Irlandia, tak semua pengemudi disiplin, yang ngaco ada  dan jumlahnya tak sedikit. Banyak pula yang suka melebihi batas kecepatan yang diperkenankan, atau bahkan menyetir dengan alkohol melebihi batas yang diperkenankan. Tapi kesemrawutan jalanan di sini tak seperti di Indonesia, karena mendapatkan SIM di sini, tak semudah mendapatkan SIM di Indonesia.

xx,
Tjetje
Lulus ujian SIM di Irlandia & pernah tak lolos ujian SIM di Indonesia

Pelakor

Topik perselingkuhan sudah pernah saya bahas tiga tahun lalu dalam postingan yang berjudul Perempuan Simpanan. Silahkan klik di sini kalau ingin baca. Kali ini saya tak akan membahas soal perempuan simpanan, tapi membahas soal perselingkuhan dan pelakor, pencuri laki orang.

Saya menghabiskan hampir satu dekade hidup saya di Jakarta, ibu kota yang diwarnai dengan kesempatan untuk melakukan ketidaksetiaan. Ketika itu, melihat perselingkuhan bukanlah sebuah hal yang aneh bagi saya, malah saya cenderung menormalisasi hal tersebut. Perselingkuhan ini tak hanya saya lihat di kost-kostan saya, tapi juga di lingkungan pertemanan dan pekerjaan.

Ketika menjadi saksi perselingkuhan, rumus hidup saya cuma satu: tak peduli. Toh para pelakunya orang-orang dewasa yang bisa memilih hal-hal yang dianggap baik untuk hidup mereka. Bagaimana jika saya mengenal korban perselingkuhannya? Sama, prinsip saya mulut harus ditutup rapat, karena saya tak mau menjadi orang yang membawa berita buruk. Gak ada untungnya buat saya untuk menyampaikan hal-hal seperti itu, malah rumah tangga atau hubungan percintaan bisa tambah hancur karena kesaksian saya. Buntutnya, hubungan saya dengan orang-orang ini juga akan runyam. Prinsip saya ini berlaku untuk teman, keluarga ataupun kolega. Semua saya perlakukan sama.

Dari menyaksikan perselingkuhan ini, saya mengambil satu kesimpulan penting, bahwa perselingkuhan itu pada dasarnya terjadi karena dua belah pihak sama-sama mau. Baik pihak perempuan maupun pihak laki-laki. Pada saat yang sama, perselingkuhan terjadi karena terjadi ketidakpuasan dalam rumah tangga. Tapi mekanisme pertahanan banyak orang selalu mengatakan bahwa rumah tangga sebenarnya baik-baik saja, tapi sang pria terhipnotis ataupun terkena ilmu guna-guna. Bagi saya, kalau rumah tangga baik-baik saja, besar kemungkinan perselingkuhan tak akan terjadi.

Akibat penggambaran pria-pria sebagai orang suci yang tak mungkin tergoda dengan perselingkuhan, muncul istilah pelakor, pencuri laki orang. Norma kita mendikte bahwa para bapak-bapak ini adalah orang yang begitu mencintai keluarga atau pasangannya dan tak sengaja terpeleset ke godaan perempuan lain. Makanya dalam kasus seperti ini, perempuan SELALU disalahkan, karena mereka mau dengan pria yang telah berkeluarga. Sekali lagi adalah hanya perempuan yang salah, sementara sang pria adalah makluk suci.

Pengamatan saya sendiri melihat bahwa para pria yang tak setia pada pasangannya bisa berubah menjadi pencinta keluarga hanya dalam hitungan detik. Tak heran keluarga mereka akan melihat dengan kacamata yang berbeda, bahwa mereka adalah pihak yang tak salah. Hanya pelakor ini yang salah.

Buat saya ini tak adil, karena perempuan dan pria sama-sama punya andil dalam memulai perselingkuhan. Tak bisa dipungkiri ada kasus-kasus dimana perempuan menggoda pria yang sudah beristri, tapi juga tak boleh kita menutup mata banyak juga pria yang menggoda perempuan lain. Salah satu modus sederhana saja, SPG di pameran menawarkan produk yang dijual, bisa dengan mudahnya digoda dengan cheesy pick up line seperti: “Kalau saya gak tertarik dengan produknya, tapi tertarik dengan mbaknya aja bisa gak?”

Pada saat yang sama, tak semua pria bisa tergoda untuk tenggelam dalam arena perselingkuhan. Rumus kucing ditawari ikan asin akan selalu mau itu tak selamanya benar. Saya mengetahu banyak pria yang bisa teguh dengan pendiriannya untuk tidak tergoda dengan perempuan lain, walaupun mereka sudah disodori perempuan (maafkan penggunaan kata ini, tapi ini benar adanya). Mereka memilih untuk tidak berselingkuh walaupun kesempatan sudah jelas di depan mata. Sekali lagi, mereka memilih untuk tidak berselingkuh.

Saya bukan ahli perselingkuhan, tapi dari banyak perselingkuhan yang saya tahu, kedua belah pihak sama-sama mau melakukan perselingkuhan. Baik pihak perempuan, maupun pihak laki. Tak semuanya diiniasi oleh perempuan, ada banyak perselingkuhan yang dimulai oleh pria-pria. Jadi, tolonglah jangan disamarakatan bahwa semua perselingkuhan itu karena kesalahan perempuan, lalu hanya perempuan saja yang disalahkan dan dituduh menjadi pelakor, pria pun punya kontribusi dan seringkali kontribusinya besar. Mereka bisa mengaku single atau sedang dalam proses perceraian atau perpisahan. Lagipula, mencuri hati pria itu tak mungkin kalau mereka tak merelakan hatinya dicuri.

Kesimpulan saya, perselingkuhan itu terjadi karena hubungan percintaan memang tak sehat dan salah satu pihak tak puas dengan hubungan tersebut.

xx,
Tjetje

Rupa-rupa Arisan

Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang sahabat di Indonesia tentang arisan yang memberatkan ekonomi. Berat bagi kami yang masuk golongan ekonomi menengah ngehek, mungkin tak berat bagi mereka yang memang dilimpahi rejeki yang kekinian dan bisa digunakan untuk mengikuti banyak arisan.

Arisan, entah ditemukan oleh siapa, dibuat untuk membantu ekonomi para anggotanya dan juga untuk kegiatan sosial. Seperti kita tahu, dalam arisan semua orang sebenarnya mendapatkan kembali uang yang mereka setorkan, hanya urutannya saja yang berbeda. Arisan pun bermacam-macam tipenya, tak selalu soal uang, ada arisan panci, tas, emas, hingga arisan berondong. Nah kalau soal yang terakhir, tujuannya tentunya untuk membantu keadaan ekonomi si berondong dan kepuasan batin si pemenang arisan.

Menjadi perempuan jaman sekarang, apalagi di Indonesia, menuntut untuk ikut arisan di berbagai tempat. Arisan pertama level RT, rukun tetangga. Jika sang perempuan sudah memiliki anak, maka kesempatan arisan yang ada berdasarkan jumlah anak yang dimiliki. Punya tiga anak berarti memiliki setidaknya tiga kelompok arisan yang berbeda sesuai kelas si anak. Sebut saja ini arisan mama-mama di sekolah. Nanti ada pula grup arisan di luar sekolah anak, tentunya tergantung aktivitas si anak. Kursus ini itu, lalu bertemu dengan Ibu-ibu lainnya, dan membuat kelompok-kelompok arisan. Semakin banyak arisan yang diikuti, maka semakin banyak dana yang harus dialokasikan setiap bulannya. Ya hitung-hitung menabung.

Tunggu dulu, ternyata arisan jaman sekarang tak bisa dianggap sebagai kegiatan menabung, karena kebanyakan arisan menuntut dress code. Dress code ini akan disesuaikan dengan tema-tema yang disetujui atau ditentukan bersama. Arisan bulan ini temanya Gatsby, arisan bulan selanjutnya glamor, lalu arisan selanjutnya warna mejikuhibiniu, kemudian army look. Nanti begitu di saat bulan Ramadhan, kaftan putih menjadi dress code. Pendek kata runaway kalahlah. Lalu untuk mengabadikan momen spesial ini, fotografer kadang dipekerjakan, tapi jika tak ada fotografer cukup membawa kamera atau kamera dari telepon genggam. Jangan lupa meminta pelayan untuk membantu mengambil foto.

Tak cukup dengan dress code, lokasi arisan juga tak lagi di rumah. Sekarang arisan pindah ke ruang meeting di mall, seperti di sebuah mall di kawasan Sudirman. Hotel juga sering menjadi tempat tujuan arisan, ditemani dengan afternoon tea yang seringkali lebih mahal dari uang arisan. Restauran-restauran yang baru keluar dan banyak dibicarakan juga harus menjadi tempat tujuan arisan. Apalagi kalau restauran ini interiornya menarik dan punya banyak sudut untuk foto. Pemotretan memang menjadi bagian tak terlepaskan dari sebuah arisan.

Beberapa kelompok tertentu bahkan mengadakan penutupan arisan dengan jalan-jalan keluar kota, hingga keluar pulau. Penutupan arisan model ini mendorong pariwisata Indonesia berkembang dan tentunya memberikan kesempatan untuk lepas dari rutinitas rumah.

Arisan juga tak terlepaskan dari drama. Drama perkelahian anggota atau saling gosip-menggosip tentunya bukan hal baru lagi. Sementara mereka yang tak ikut arisan juga terkucilkan dari kelompok. Selain itu, drama urusan uang juga seringkali terjadi. Dari uang dibawa kabur oleh koordinator arisan hingga pembayaran yang susah ketika sudah menang. Yang repot, penerima arisan paling akhir biasanya tak langsung menerima uang arisan dengan penuh, karena ada saja anggota yang belum mengirimkan uang. Akibatnya, pembayaran jadi dicicil, apes banget kan udah dapat paling akhir, dicicil pula. Soal alasan pembayaran terlambat, jangan ditanya lagi, karena alasan mereka beraneka rupa & bikin geleng-geleng kepala.

Arisan keluarga sendiri menjadi arisan favorit saya, karena menjadi ajang berkumpul untuk bertemu keluarga. Apalagi jika tinggal di kota besar seperti Jakarta. Tapi bagi yang lajang atau belum kunjung hamil setelah kawin, ada baiknya arisan ini dihindari karena pertanyaan yang muncul bisa menusuk hati hingga berdarah-darah.

Kalian, ikut arisan atau kegiatan sosial lainnya?

xx,

Tjetje
Cukup sekali saja, tak mau ikut arisan lagi