Hadiah-Hadiah Khas Natal

Momen Natal di sini itu momen yang meriah. Rumah-rumah dan pusat kota dihiasi berbagai ornamen Natal. Toko-toko sendiri juga berlomba-lomba memamerkan dekorasi terbaik, membagikan hadiah dan coklat, serta menyajikan musik natal secara langsung. Natal yang identik dengan berbagi, baik itu berbagi hadiah atau beramal, juga identik dengan belanja. Belanja menjelang Natal itu mengerikan banget, karena satu Irlandia tumpah ke Dublin. Satu Irlandia ya, bukan satu Dublin lagi. Toko dan jalanan penuh dan para pegawai retail terlihat kelelahan dan tak jarang, nyolot.

Mumpung menjelang Natal gini, saya ingin sedikit berbagi tentang keruwetan mencari hadiah untuk acara tukar kado, yang di Irlandia lazim disebut sebagai Kris Kindle ataupun mencari hadiah untuk anggota keluarga. Untungnya ya, di keluarga besar di sini, kami tak perlu membeli hadiah Natal untuk semua orang. Cukup satu orang saja. Tapi tetap aja ribetnya bukan main, karena harus nyari hadiah yang sesuai. Nah setelah beberapa Kris Kindle, saya menemukan tipe-tipe hadiah yang paling sering diberikan:

  • Krim tangan dan pelembab bibir

Dua produk ini merupakan produk andalah selama musim dingin, karena bibir dan tangan yang cenderung kering. Lagipula pelembab bibir ini juga sangat penting ketika akan diwawancara oleh wartawan #EhKokNyindir. Fungsi mereka yang penting membuat kedua produk ini menjadi barang yang paling sering diberikan sebagai hadiah Natal. Bahkan salah satu merek Perancis yang handcreamnya terkenal okay sampai siap sedia dengan produk yang sudah dibungkus rapi.

Saking seringnya barang-barang ini diberikan, sampai detik ini saya hanya pernah membeli kedua produk ini satu kali saja. Sisanya dapat hadiah dan tak perlu beli lagi hingga beberapa Natal ke depan. Kalau produknya gak expired ya.

  • Toiletries dan parfum

Tiap natal itu toko-toko itu menyediakan banyak pilihan set parfum dan toiletries untuk berbagai budget. Dari yang paling murah sampai yang mahal. Parfum biasanya dipasang-pasangkan dengan sabun atau krim pelembab tubuh. Di Indonesia box set ini juga ada ketika musim liburan, tapi ragamnya, menurut saya lebih banyak di sini. Mungkin karena banyak orang memang mencari box set ini ketika menjelang Natal. Box set ini juga seringkali digunakan untuk hadiah ulang tahun, karena praktis.

Ragam parfum dan toiletries ini lebih banyak untuk perempuan ketimbang untuk pria. Sementara salah satu brand pria yang paling sering  saya lihat bermunculan saat Natal adalah Nivea. Mungkin pria-pria ini kalau lihat hadiah ini akan berseru: “Ah Nivea lagi”.🤣

  • Sikat gigi elektrik, celana dalam dan kaos kaki

Mencari hadiah Natal untuk pria itu tak semudah untuk perempuan. Pilihan untuk pria sebenarnya banyak, tapi entah mengapa kalau Natal kebanyakan orang memilih sikat gigi elektrik, celana dalam dan kaos kaki. Dua produk terakhir ini biasanya sudah diletakkan dalam kemasan kotak rapi, jadi mudah dibungkus. Produk-produk ini juga diletakkan di lokasi strategis, jadi mudah dijangkau.

Saya yang tadinya anti memberikan kaos kaki, karena standar banget, tahun ini breaking rules dan memberi satu boks kaos kaki lucu-lucu untuk bekas murid saya yang baik banget. Ternyata, memberikan hadiah seperti ini itu praktis, gak pakai pusing dan membungkusnya pun mudah. Tapi saya bayangin yang terima hadiah gak akan terlalu excited.Minuman keras & anggur

Konsumsi minuman keras pada saat Desember ini mungkin jauh lebih tinggi daripada bulan lainnya, selain karena konsumsi ketika orang bertemu di pub juga karena orang memberikan minuman keras sebagai hadiah, ragam minuman kerasnya macam-macam, dari anggur, prosecco (orang sini jauh lebih menyukai prosecco ketimbang champagne) hingga vodka, Baileys atau minuman lain. Minuman-minuman ini kemudian dibungkus dalam tas-tas yang lucu. Craft beer yang popular sejak berapa tahun belakangan juga sering diberikan sebagai hadiah dalam bentuk parsel cantik.

Tahun lalu, kami menerima sebotol wine dari sebuah perusahaan dan botol wine yang kami terima ditempeli dengan kertas yang bertuliskan ucapan selamat tahun baru, lengkap dengan nama perusahaan ini. Pintar sih, karena botol tersebut harus diminum dan tak bisa diberikan ke orang lain.

  • Hiasan Natal

Hiasan-hiasan untuk pohon natal juga menjadi salah satu pilihan hadiah yang seringkali diberikan. Beberapa hiasan bahkan dilengkapi dengan nama atau ucapan selamat natal untuk menjadi pengingat natal tahun tersebut. Salah satu merek lokal yang menjadi favorit banyak orang adalah Newbridge. Newbridge sendiri merupakan nama sebuah lokasi di Co. Kildare dimana produk-produk ini dibuat. Kebanyakan produk mereka sendiri disemprot perak, tapi bukan perak murni 925 seperti di Celuk atau Kotagede ya. Walaupun harganya jauh lebih mahal daripada perak beneran.

  • Penganan Natal

Mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan makanan? Parcel kue kering seperti di Indonesia sendiri gak lazim, kalaupun ada kue yang diberikan biasanya Christmas pudding, panatone, coklat atau biskuit berbalur coklat hasil beli. Jarang sekali saya melihat orang yang memberikan biskuit atau kue hasil buatan sendiri.

Tahun kemarin saya membagikan kaastengels dalam toples kecil untuk tetangga, karena saya kehabisan kartu Natal untuk mereka. Beberapa minggu kemudian toples ini dikembalikan, beda banget dengan di Indonesia. Tahun ini saya memilih gak bagi-bagi kue karena sibuk dan sampai saat ini belum nemu keju yang biasa saya pakai.

Penutup
hadiah Natal tak terlalu penting, yang terpenting adalah momen bersama keluarga. Ketika tulisan ini dipublikasikan, saya bisa dipastikan sedang berada di tengah-tengah keluarga sembari melihat para keponakan kegirangan luar biasa ketika membuka hadiah-hadiah Natalnya. Hadiah Natal penuh kebohongan, karena diklaim sebagai hadiah dari Santa. Wajah girang mereka akan menjadi hadiah terbaik saya, karena tahun ini kami belanja gila-gilaan untuk mereka, karena Natal adalah momen ajaib bagi mereka.

Selamat Natal bagi kalian yang merayakan semoga Natal kalian damai . Bagaimana kalian menghabiskan hari ini?

xx,
Ailtje

Sekali lagi, Tradisi Natal di Irlandia

Kendati baru dua tahun di Irlandia, Natal ini menjadi Natal ke empat saya di sini. Selama empat kali Natal di sini, saya melihat begitu banyak tradisi yang menarik dan setiap tahunnya ada saja sesuatu yang baru.

https://www.instagram.com/p/BNQ5P5rhp10dYqNhwEpVzwqoUVCc-oCz_qLenk0/?taken-by=binibule

Penyalaan Lampu

Tradisi sederhana untuk pergi ke kota dan melihat lampu hiasan Natal dinyalakan. Jalanan-jalanan utama di kota Dublin dipenuhi para peminat lampu ini. Pemerintah tentunya membuat acara ini jauh lebih meriah dengan aneka penampilan. Bagi saya sendiri tradisi ini engga banget, karena cuaca yang sangat dingin. Lagipula ketika lampu sudah dinyalakan, kita masih bisa melihat meriahnya kota.

Tapi bagi mereka yang sudah memiliki anak, tradisi ini menjadi tradisi penting, untuk mengenalkan “keajaiban Natal” bagi anak-anak.

Jendela toko

Ini tradisi saya, tiap tahun saya melihat jendela dua toko besar di Dublin, Brown Thomas dan Arnott’s yang memasang jendela edisi Natal. Jendela toko-toko ini menarik banget dan dipenuhi dengan ornament-ornamen khas Natal ataupun manekin dengan pakaian yang meriah.

Tiap tahun saya selalu menyempatkan diri untuk melihat jendela-jendela ini, karena ingin tahu ide-ide para tim kreatif. Kadang sambil iseng lihat jendela ini, saya sambil ngitung berapa biaya yang dikeluarkan toko-toko tersebut, ah tapi toh semuanya akan terbayar ketika profit melejit tajam.

Misa Tengah Malam & Misa anak-anak

Tiap tahun, menjadi tradisi di keluarga pasangan saya untuk pergi ke gereja di tengah malam. Misa Tengah malam ini sangat syahdu dan berlangsung sekitar satu jam. Tak seperti di Indonesia dimana orang berdandan cantik untuk datang ke rumah ibadah, di sini orang-orang yang pergi misa mengenakan pakaian kasual saja dan membungkus diri dengan jaket tebal karena hawa yang dingin.

Misa anak sendiri saya hadiri untuk pertama kalinya tahun kemarin. Saat misa ini sang pastor banyak berinteraksi dengan anak-anak dan tentunya membahas Santy Klaus (Santa) dan hadiah yang akan dia bawa. Tentunya sang Pastur mengingatkan esensi Natal sebagai sebuah hari keagamaan.

Late Late Toy Show

TVRInya Irlandia itu bernama RTE dan menjelang Natal mereka selalu memutar episode khusus tentang mainan. Episode ini paling dinanti oleh satu Irlandia, karena anak-anak ini luar biasa lucunya, apalagi mereka yang tinggal di pedesaan.

Acara ini juga suka memberi kejutan. Menariknya, reaksi anak-anak yang diberi kejutan ini seringkali bikin ketawa. Dari bengong doang sampai reaksi mengharukan. Saya sendiri baru empat Natal di Irlandia, jadi belum punya banyak favorite. Tapi edisi kejutan dari Ed Sheeran dan kejutan Bapak yang pulang dari penugasan di Afrika jadi favorit saya.

Ada yang spesial dari Late Late Toy Show tahun ini. Tahun ini untuk pertama kalinya Angklung dan dua anak Indonesia, yang juga kembar, ikut dalam acara ini. Sebagai orang Indonesia (dan komunitas Indonesia di sini kecil), saya rasanya bangga luar biasa. Silahkan di klik video di bawah ini untuk melihat angklung:

 

Penutup

Natal tahun ini, untuk pertama kalinya saya akan terlibat dalam urusan dapur, biasanya saya tak pernah masak apapun dan tahu beres. Tahun ini saya akan menyajikan gado-gado. Di samping gado-gado, saya juga berambisi menyajikan kroket serta risoles untuk snack. Panganan ini setidaknya tak terlalu kaya bumbu dan semoga cocok dengan keluarga besar. Mungkin lebih tepatnya, semoga saya berhasil membuat dan menyajikannya. #Ambisius. Nanti kalau berhasil fotonya akan saya upload di Instagram ya.

Bagaimana dengan kalian, punya rencana apa di liburan Natal tahun ini?

xx,
Tjetje

Cerita Aneh Dari Dapur

Dapur merupakan elemen penting dari setiap rumah dimanapun. Di dapur makanan yang merupakan salah satu hal penting untuk melanjutkan hidup disiapkan dan dimasak. Jika diperhatikan, ada hal-hal sepele di dapur kita yang aneh dan dibiarkan tetap aneh. Saya mencatat tiga hal tersebut, yaitu jenis dapur, kompor serta cara mencuci piring.

Di Indonesia sebagian kecil kaum menengah ke atas suka sekali membuat dua macam dapur, dapur basah dan dapur kering. Dapur basah digunakan untuk tempat memasak aneka rupa masakan. Biasanya dapur basah tampak kurang rapi, kotor dan tak terawat. Sebaliknya dapur kering terlihat cantik, bersih dan rapi. Di beberapa rumah dapur kering digunakan juga sebagai ruang makan dan dihiasi dengan kompor empat tungku, lengkap dengan ovennya.

Saya mencari informasi di google secara cepat dan menemukan bahwa dapur basah dan dapur kering ternyata bermula dari kaum peranakan. Di dapur basahlah aneka rupa bumbu-bumbu yang baunya pekat, tak heran rupanya kurang cantik. Sementara fungsi dapur kering biasanya dibatasi pada kegiatan masak-memasak yang cantik dan tak menimbulkan banyak bau. Tapi seringkali saya perhatikan dapur kering di Indonesia berakhir menjadi hiasan rumah semata dan tak digunakan untuk kegiatan memasak.

Dapur kering bukan satu-satunya hal yang jarang digunakan, ada satu ‘ornamen’ yang jarang disentuh: kompor empat tungku. Kompor yang biasanya dilengkapi dengan oven dan harganya tak murah ini, entah mengapa jarang sekali disentuh. Bahkan di beberapa rumah ada yang tak pernah digunakan sejak dibeli. Jika ditanya mengapa kompor dan oven tersebut tak digunakan, alasannya beraneka rupa. Tapi alasan yang paling sering saya dengar ada dua, karena lebih enak memasak di dapur basah serta karena biaya untuk membayar listrik untuk menyalakan kompor dan oven tersebut tidaklah murah. Saya tentunya tak paham mengapa orang repot-repot membeli dan memasang kompor tersebut jika tak digunakan. Tapi tentunya dengan uang yang berlebih orang bisa saja membeli apapun untuk dapurnya.

Tak seperti di Indonesia, dapur di Irlandia menjadi ruang penting di dalam rumah. Selain untuk masak, dapur juga dijadikan tempat untuk ngobrol-ngobrol sembari minum teh Irlandia. Tak heran jika banyak orang berlomba-lomba membuat dapur mereka senyaman dan secanggih mungkin. Dapur-dapur di sini setidaknya dilengkapi dengan mesin cuci, mesin cuci piring dan pengering pakaian. Model-model rumah baru sendiri mulai memisahkan mesin cuci pakaian dan pengering pakaian ke utility room. Tapi yang jelas, mesin-mesin cantik ini tak jadi pajangan seperti di Indonesia. Semuanya digunakan.

Di kebanyakan rumah di Irlandia juga tak ada dapur kering dan dapur basah. Dapur hanya satu saja. Ketika digunakan berantakan seperti kapal pecah, tapi setelah digunakan harus bersih dan kinclong kembali seperti di katalog-katalog majalah. Semua perkakas dimasukkan ke dalam laci dan lemari sehingga sudut-sudut dapur bersih dari berbagai macam botol bumbu, atau barang-barang lain yang tak diperlukan.

Mendambakan dapur hitam

Yang pasti dapur di Irlandia juga bukan sudut menjijikkan yang sering dikunjungi tikus-tikus kelaparan di malam hari. Tapi bagi saya, ada satu masalah besar di dapur Irlandia, semua dapur di desain untuk orang-orang yang tinggi. Jadi orang bertubuh pendek seperti saya memerlukan kursi kecil.

Punya cerita menarik dari dapur kalian?

xx,
Tjetje
Ditulis di dapur, biar afdol

Ahli Hamil

Beberapa orang yang saya cintai sedang menanti buah hati mereka. Saya pun riang gembira untuk mereka, bahkan langsung bikin rencana untuk mengunjungi mereka. Menariknya, gak di Irlandia, gak di Indonesia, ternyata reaksi orang terhadap kehamilan itu sama, sama-sama kasih selamat, lalu dilanjutkan dengan memberikan saran-saran yang aneh-aneh.

Masalahnya, saran-saran ini tak diminta dan buntutnya jadi mengganggu banget. Mendadak semua orang jadi ahli dan suka memberikan tips-tips kehamilan yang bikin Ibu hamil makin eneg. Kasihan mereka, sudah kena morning sicks masih harus berhadapan dengan saran dan mitos ini. Mau dengar beberapa di antaranya? Yuk mari!

Makanan dan penghakiman

Ibu hamil makan mie instan, minum soda, atau makan junk food. Mendadak dunia runtuh dan orang tak dikenal sekalipun langsung ribut. Kadang-kadang mereka tak ribut sih, tapi memandang dengan tatapan tajam penuh penghakiman, beberapa yang nekat biasanya nyamperin dengan komentar pedas seperti ini:

Jangan makan ini, gak bagus banyak micin, nanti anaknya bego”

Jangan minum ini, banyak gula, nanti bayinya besar. Kalau bayinya besar, kamu susah ngeluarinnya”

Jangan makan junkfood, gak sehat”

Jangan makan yang pedes-pedes, nanti bayinya kepedesan dan kepanasan di dalam perut”

Beberapa saran ini mungkin ada benarnya, tapi janganlah membunuh kebahagiaan Ibu hamil yang mau makan (dan juga kebahagiaan pasangannya yang lihat makanan masuk ke dalam mulut para ibu hamil itu). Biarkan keluarganya dan sang calon Ibu bahagia karena bisa makan tanpa perlu dikeluarkan lagi. Lebih-lebih kalau gak kenal sama si Ibu hamil dan asal ngasih saran di depan umum.

Rencana Melahirkan

“Jadi nanti rencananya mau melahirkan normal atau Caesar? Jangan melahirkan Caesar deh, rasanya gak jadi Ibu beneran” #IbuPalsu

Nah Ibu-ibu yang diputuskan dokter harus melakukan operasi caesar karena alasan kesehatan biasanya pusing luar biasa, karena rencana melahirkan ini dianggap tak normal. Lalu mendadak mereka semua lebih pandai dari dokter dan menyarankan untuk pindah dokter saja supaya tak perlu operasi caesar. Ya ampun…

Sementara, yang mau melahirkan normal juga ada saja yang menyarankan untuk caesar, karena melahirkan normal bisa membuat anak bayi trauma. Nah, kalau ingin melahirkan di air, atau gentle birth, ampun, siap-siap ribut panjang deh.

Soal menyusui

Saya mendengar banyak sekali tekanan yang dialami oleh para Ibu ketika baru melahirkan dan proses menyusui, apalagi kalau ASI sedikit. Tapi sebenarnya tekanan ini sudah dimulai sejak kehamilan. Ini gak cuma di Indonesia lho, di luar negeri juga sama, walaupun di Indonesia mungkin tekanannya lebih keras! Para Ibu-ibu penggerak ASI tentunya menyemangati untuk memberikan asi. Lalu calon Ibu yang memutuskan akan memberi susu botol, habis deh kena ceramah panjang yang lagi-lagi tak pernah diminta.

Sebaliknya ibu-ibu yang niat memberikan ASI juga kadang-kadang dicela, karena tak sedikit orang yang menganggap memberikan ASI itu ewww. Btw, bicara soal tips, saya membaca di satu forum ada ibu-ibu yang diberi tips untuk mengeraskan puting dengan cara menyikat. Yang tak menyenangkan, saran ini diberikan oleh orang tak dikenal. Aduh…duh…

Penutup

Masih banyak lagi tips-tips dan mitos ajaib yang diberikan tanpa diminta kepada para ibu hamil. Dari mulai larangan menitipkan anak di penitipan anak (karena mudah sakit) atau sebaliknya harus menitipkan di sana, supaya lebih kuat dalam berhadapan dengan penyakit). Maksud memberi saran ini mungkin baik, berbagi pengalaman hidup. Tapi kasihan kan para calon ibu ini, apalagi kalau sebelum hamil sudah dihujani dengan pertanyaan kapan hamil, kok gak hamil-hamil, buruan keburu expired.

Kamu, pernah dapat tips atau saran tanpa diminta yang mungkin aneh?

xx,
Tjetje

Syarat Administrasi Mengawini WNA

Warning: Postingan ngomel.

Salah seorang Bapak teman saya, orang Irlandia, mengawini perempuan berusia muda dari negeri Bambu. Singkat cerita, setelah kawin, si Bapak pulang ke Irlandia dan pusing tujuh keliling melihat persyaratan administrasi untuk memboyong istrinya ke Irlandia. Tak mau ribet, si Bapak memutuskan menceraikan perempuan tersebut, lalu mengawini perempuan lain lagi di Thailand. Dan sang Bapak pun memutuskan pindah ke Thailand sembari menikmati pensiunnya dan hidup bak raja di sana.

Saya sering menerima surat elektronik dari mereka yang memiliki hubungan percintaan dengan WNA, menanyakan aneka rupa pertanyaan tentang hubungan mereka. Dari pertanyaan mesti ngapain, hingga detail prosedur untuk administrasi. Soal administrasi negara lain, saya tak tahu dan terus terang tak mau repot untuk mencari tahu. Ya kali enak banget nyuruh-nyuruh orang lain nyariin. Coba riset sendiri napa? Mental ndoro ini juga saya perhatiin sering banget di forum-forum perkawinan campur, parahnya ya pertanyaan ini sering banget diajukan berulang kali oleh orang yang berbeda. Mereka gak mau ribet nyari dulu. Padahal tinggal cari di kolom search.  Contoh paling gampang aja:

"Sis, rencananya saya akan kawin dengan bule [nama negara],  syarat-syaratnya apa saja ya?"

Saya sendiri membatasi membalas pertanyaan ini hanya khusus WNI yang akan kawin dengan WN Irlandia. Di sini, peraturan untuk pasangan orang Irlandia jauh berbeda dengan untuk orang pasangan orang Uni-Eropa yang tinggal di Irlandia (misalnya: istri orang Inggris, Perancis, German). Pasangan WN EU disini bisa langsung mendapatkan visa dengan lebih mudah ketimbang mereka yang mengawini WN Irlandia. Buntut-buntutnya saya kesel sendiri, karena menjelaskan urusan visa yang panjang, sementara pasangannya ternyata dari Irlandia Utara. Eh tolong apa ya, be specific.

Dari berbagai pertanyaan yang dikirimkan ke surat elekronik saya, saya melihat satu benang merah, bahwa orang-orang yang dimabuk cinta ini seringkali tak mencari tahu soal administrasi di negara tersebut hingga saat-saat terakhir ketika sudah akan kawin. Jatuh cinta memang indah, tapi seindah-indahnya cinta, ada hal yang harus dipikirkan juga, termasuk administrasi yang memperbolehkan tinggal bersama. Namanya jatuh cinta dan jodoh memang tak bisa direncanakan, tapi bukan rahasia lagi banyak orang yang memang secara spesifik memiliki target mengawini orang-orang dari negara tertentu, ingin pasangan spesifik dari Australia biar dekat dengan kampung halaman, dari Inggris karena aksennya seksi, atau dari Amerika supaya bisa menggapai mimpi. Pilihan masing-masing, selera masing-masing. Tapi ya tetep, ambisi untuk mengawini bule ini harus ditemani dengan logika, biar tidak kaget ketika akan kawin.

Bukan hal yang aneh ketika orang baru baru mikir untuk pindahan ke negara pasangan setelah proses perkawinan. Persis seperti bapak teman saya di atas. Lalu timbul masalah, tak bisa mendapatkan visa untuk tinggal bersama pasangan karena terbentur urusan administrasi dan keuangan.

Contoh sederhana saja, mengawini WN Australia itu ternyata MAHAL, biaya visanya saja 6,865. Jika ditolak, uang tak akan kembali. Ongkos visa ini cenderung akan semakin tinggi setiap tahunnya karena banyaknya perkawinan bohongan yang digunaan untuk mengambil kewarganegaraan.

Begitu juga dengan mengawini mereka yang berasal dari UK, syaratnya tak mudah dan biayanya tak kalah tinggi. Cuma Meghan Markle saja yang bisa mengawini orang Inggris tanpa perlu pusing untuk urusan visa. Bahkan, mereka yang menjadi pelajar di UK, kemudian jatuh cinta dengan teman sekelasnya tak bisa langsung kawin dan mendapatkan ijin tinggal. Prosesnya ribet, apalagi kalau penghasilan pas-pasan. Banyak pasangan yang kemudian tinggal di Irlandia karena kemudahan visa di sini sembari mengambil Surinder Singh route.

Salah pertanyaan, bukan enaknya tapi gimana prosesnya.

Tulisan ini tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang syarat perkawinan dan memang tak saya tujukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tapi bagi kalian yang sedang berhubungan dengan pria asing dan usia hubungan masih muda, coba cari tahu sebanyak-banyaknya apakah memungkinkan cinta kalian disatukan di negara tersebut. Jika tak memungkinkan, cari tahu alternatifnya.  Dan jangan males, apalagi ngandelin mental ndoro yang maunya beres dan ditunjukin jalan sama orang lain itu gak bisa dibawa ke sini. Kalau kemudian gak bisa disatukan karena kepentok urusan administrasi, ya dibicarakan berdua. Jangan kirim email ke saya minta solusi ya. Saya bukan tukang sulap yang bisa menawarkan solusi. Or worse, ngelempar pertanyaan ke forum dan dapat jawaban nggak nyambung dari pengalaman berbagai negara. Makin pusing deh!

Selamat berakhir pekan, semoga kita semua dijauhkan dari kemalasan mencari tahu.

xx,
Tjetje

Satu Atap Dengan Mertua

Tinggal satu atap sama mertua itu nista ya?

Pertanyaan ini saya ajukan ke Twitter beberapa waktu lalu. Jawaban yang saya terima bermacam-macam, tergantung kultur mana yang di pakai untuk melihat hal ini. Di Indonesia hal seperti ini dianggap normal, begitu juga di kultur China dengan pembatasan tiga rumah tangga dalam satu atap. Di Irlandia sendiri, ada beberapa pasangan yang melakukan hal seperti ini dengan alasan bermacam-macam. Kebanyakan orang yang saya tahu ketika melihat hal seperti ini tak begitu peduli.

Alasan memilih tinggal dengan mertua

Di Indonesia, pasangan baru yang tinggal dengan mertua bukanlah sebuah hal yang aneh. Ada banyak alasan mengapa pasangan-pasangan ini memilih tinggal bersama mertua. Alasan ekonomi seringkali menjadi alasan utama tak tinggal sendiri. Mengumpulkan uang untuk uang muka properti jadi alasan utama, karena memang tak ada properti dengan uang muka nol persen. Lagipula, sayang jika uang digunakan untuk membayar kontrakan, sementara rumah mertua banyak memiliki ruang kosong. Masuk akal kan? Apalagi kalau kemudian sang mertua tak berkeberatan.

Mertua yang sudah beranjak tua juga seringkali menjadi alasan tinggal satu atap. Mertua yang biasanya sudah sendirian dan tua, seringkali menjadi bahan kecemasan anak-anaknya. Di beberapa keluarga yang besar, salah satu anak biasanya ditunjuk untuk tinggal dan menjaga orang tua tersebut.

Selain usia, kondisi kesehatan mertua juga banyak menjadi pertimbangan. Apalagi mertua yang menderita sakit-sakit tertentu. Mertua terkena diabetes, jantung dan harus diawasi karena makannya tak terkontrol, mertua terkena kanker sehingga harus rutin kemoterapi, ataupun mertua terkenal sakit ginjal serta harus rutin cuci darah. Beberapa keluarga yang mampu biasanya akan mempekerjakan suster juga untuk mengawasi mertua yang sakit, tapi kehadiran anak, apalagi cucu, sedikit banyak akan sangat membantu menyemangati mereka yang sedang dalam kondisi sakit.

Ada juga mereka yang ingin anak-anaknya tak keluar dari rumah, karena memang ingin terus bersama sang anak dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak-anaknya. Saya sendiri mengetahui salah satu orang kaya yang melakukan hal ini. Dengan segala uangnya, sang mertua bisa membelikan rumah-rumah untuk anak mantunya, tapi ia meminta anak-anaknya tinggal bersama. Sweet banget.

Tantangan tinggal dengan mertua

Tinggal dengan mertua bisa saya bayangkan sebagai sebuah hal yang tak mudah dilakukan. Rutinitas dan kebiasaan yang tak sama, belum lagi ego yang saling bertubrukan. Bisa dibayangkan sang anak biasanya harus terhimpit dengan orang tua vs pasangan. Banyak konflik yang timbul, apalagi jika semua pihak keras kepala.

Akan ada perebutan area di dalam rumah juga, misalnya dapur yang biasanya dikuasai oleh salah satu pihak, entah itu sang mertua atau menantu. Soal menu makanan pun bisa menjadi sumber argumentasi yang tak berkesudahan. Tak cuma berebut area, beberapa bahkan ada yang mengalami kecemburuan karena berebut perhatian. Tak heran kalau banyak bertebaran meme kejam seperti ini di internet, karena hubungan mertua dan mantu tak pernah mudah.

OMG, this one is harsh!

Privacy juga menjadi salah satu tantangan berat. Lingerie seksi-seksi tiba-tiba akan menjadi sumber kekagetan luar biasa dari mertua. Kamar tidur yang seharusnya menjadi area untuk tinggal berdua tiba-tiba “dijelajah” mertua yang beralasan ingin membantu beres-beres. Belum lagi mertua yang tiba-tiba ingin ikut campur dalam membuat keputusan-keputusan rumah tangga. Dari yang paling sederhana seperti warna lipstick, hingga memilih merek mobil.

Pendek kata, tinggal dengan mertua itu tak pernah sederhana.

Pandangan orang

Tekanan tinggal satu atap dengan mertua yang tak mudah ini masih ditambah dengan pandangan dan omongan tak enak dari lingkungan sekitar. Penghakiman dari masyarakat, karena pilihan, atau karena keadaan yang memaksa untuk tinggal dengan mertua, misalnya dengan cara menilai pria yang setuju melakukan hal tersebut sebagai pria yang tak mampu menghidupi pasangan dan keluarganya. Label tak mandiri pun melayang.

Di banyak lingkungan, tinggal di rumah mertua itu menjadi bahan pembicaraan. Saya sendiri pernah digosipkan miring tinggal dengan mertua. Gosip yang bagi saya sangat aneh, karena tinggal dengan mertua itu bukanlah sebuah skandal, seperti sebuah perselingkuhan. Dosa pun tidak. Lucunya saya ini tak pernah tinggal dengan mertua, hanya beberapa kali menginap di rumah mertua ketika berkunjung ke Irlandia (back then saya belum kawin).

Tapi begitulah lingkungan sosial kita dan cara berpikir orang lain, mereka terbentuk untuk terus mencari kesalahan orang lain dan membicarakan hal yang kemudian dianggap salah menurut standar mereka. Kebayang kan betapa pusingnya mereka yang memang harus tinggal dengan mertua dan dicibir karena keputusan mereka. Mau tak mau memang kita harus kebal dengan kenyataan bahwa banyak dari kita masih suka ngurusin dapur orang lain. Lagipula, ngurusin dapur orang lain itu kan menyenangkan dan bisa menambah kepercayaan diri yang seringkali rendah.

Jadi, apa pandanganmu tentang mereka yang tinggal dengan mertua?

xx,
Tjetje

Warna-warni Salon

Jaman saya kuliah dulu, saya hampir tak pernah cuci rambut di rumah, selalu di salon. Harap maklum, jaman itu saya masih pelajar yang hanya tahu betapa mudahnya menghabiskan uang dan tak begitu paham bagaimana susahnya mencari uang. Apalagi, cuci rambut di jaman itu tergolong murah meriah, apalagi di kota Malang.

Nah, selama hobi nyalon itu, saya suka banget mengobservasi hal-hal yang terjadi di salon. Beberapa pengamatan akan saya ulas di sini.

Penghematan handuk

Pernahkan kalian menghitung dan memperhatikan, berapa banyak handuk yang digunakan ketika mencuci rambut? Satu di punggung, kemudian setelah selesai, rambut akan dikeringkan dengan handuk lain lagi. Pada intinya, untuk mencuci rambut di salon diperlukan banyak handuk.

Nah untuk melakukan penghematan, beberapa salon menggunakan kembali handuk yang diletakkan di punggung kita, yang seringkali tak basah, pada klien yang berbeda. Geli dan jijik banget kan ya?! Tips saya, kalau berada di salon, minta supaya semua handuk yang digunakan baru, kalau perlu perhatikan darimana mereka mengambil handuk.

Shampo murah meriah

Shampo di salon-salon itu biasanya shampo yang dibeli dalam jumlah besar di toko-toko perlengkapan salon. Kualitas shampo ini jangan ditanya, tak akan sebagus kualitas sampo yang kita gunakan di rumah. Tentu saja semakin bagus salon yang kita kunjungi, akan semakin bagus shampo yang mereka gunakan. Ada satu hal menarik yang pernah saya lihat di sebuah salon, mereka menggunakan botol shampo ternama, tapi di dalamnya di isi dengan sampo literan berkualitas murahan. Kepala gak bisa bohong bow, entengnya gak sama.

Untuk ngakalin hal-hal seperti ini, ada baiknya kalau kita bawa shampo sendiri dan tak perlu repot-repot menggunakan shampo murah meriah. Tapi tentunya kita jadi repot sendiri, karena bawa-bawa botol shampo dan conditioner.

Ruang merokok

Masuk ke salon itu tujuannya satu, supaya rambut bersih dan wangi. Nah, salah satu salon yang pernah saya kunjungi di Mall Ambassador sana (ya elah, nyalon kok ke Ambassador) punya ruangan khusus untuk merokok yang baunya aduhai tak terkira. Tahu sendiri kan bau rokok itu melekat di rambut, kulit dan pakaian.

Jadi sesungguhnya saya kurang paham kenapa harus ke salon dan melakukan perawatan rambut jika akhirnya rambut harus bau rokok lagi? Oh well, buat perokok mungkin ini bukan masalah, tapi buat saya ini masalah banget, karena bau rokok dari ruang sebelah akan masuk ke ruang lain yang bebas merokok. Gagal deh rambut bau wangi layaknya taman bunga.

Ganti-ganti capster dan tips

Ini saya perhatikan khas Jakarta banget, yang mencuci rambut biasanya tak sama dengan yang ngasih creambath, nanti yang ngeblow beda lagi. Nah kalau sudah begini, kerepotan akan ada saat ngasih tips, karena para pegawai ini biasanya banyak bergantung dari tips. Nyarinya bakalan susah, karena balik lagi orangnya beda-beda. Jaman saya di Malang dulu gampang banget, yang ngurusin satu atau dua orang saja, jadi ninggal tipsnya juga gampang.

Dengan jumlah orang yang banyak gini, ngetipsnya juga pusing, karena untuk banyak orang.

Asuransi Salon

Jaman saya masih remaja dulu, rambut saya pernah dipapan yang pakai banyak papan di atas kepala. Berat banget deh. Begitu hasil papan jadi, ada seiprit rambut saya yang masih keriting. Waktu saya balik ke salonnya, sang pemilik salon tak peduli gitu. Boro-boro peduli, minta maaf aja engga. Coba kalau di sini, bisa dituntut!

Nah, satu hal yang membedakan Irlandia dan Indonesia adalah asuransi. Di Irlandia, salon itu luar biasa mahalnya, karena tak sembarang orang boleh menyewa kursi di salon, mereka harus punya kualifikasi dan juga punya asuransi. Asuransi ini berguna untuk melindungi hairdresser dan juga klien, jika ada hal-hal yang tak berjalan sesuai rencana. Seperti rambut saya tadi. Tujuannya diluruskan, jadinya malah lurus campur keriting.

Nah hal-hal di atas yang umum di salon-salon di Indonesia, tak akan ada di salon-salon di Irlandia. Pendapatan mereka juga sudah layak, sehingga tips tak lagi diharapkan. Sayangnya, salon di Irlandia tak menawarkan creambath, karena creambath cuma ada di Indonesia. Kalaupun ada creambath, konsumen Indonesia pasti akan kecewa berat, karena pijit di sini hanya dielus-elus, tak seperti di Indonesia yang penuh tenaga.

Kamu, kapan terakhir kali ke salon?

xx,
Tjetje
Keluar masuk beberapa salon ketika mudik

Skandal Kesusteran Irlandia

Mayoritas orang Irlandia itu Katolik dan gereja punya peran besar dalam kehidupan masyarakatnya sedari dulu. Layaknya di Indonesia, masyarakatnya di jaman dulu juga mengecam perempuan-perempuan yang hamil di luar perkawinan. Mereka dianggap sebagai aib hingga kemudian diasingkan. Aborsi sendiri bukanlah sebagai opsi, karena sampai hari ini negara ini tak memberikan akses aborsi yang aman.

Magdalene Laundries 

Saya pernah sekilas membahas Philomena di postingan ini

Pernah nonton Philomena? Perempuan yang hamil di luar perkawinan dan terpaksa bekerja mengurus laundry di sebuah kesusteran untuk membalas kebaikan kesusteran yang mau menampung dia dan menyembunyikan dia dari bahan gosip. Philomena dan banyak perempuan lain harus bekerja di dalam kondisi hamil karena kehamilan di luar perkawinan adalah hal yang tabu. Setelah melahirkan, mereka hanya diberi akses terbatas untuk berhubungan dengan anaknya.

Anak-anak ini kemudian diserahkan untuk adopsi pada pasangan-pasangan di luar Irlandia, seperti Amerika ataupun Inggris. Seringkali anak-anak ini diserahkan untuk diadopsi tanpa persetujuan ibu-ibunya. Anak Philomena sendiri mencoba mencari Ibunya, tapi lagi-lagi, kesusteran ini menolak untuk memberi informasi tentang si Ibu. Si anak akhirnya meninggal tanpa tahu siapa Ibunya. Segitu jahatnya mereka!

Institusi yang namanya terinspirasi dari Mary Magdalene, pekerja seksual, ini beroperasi di banyak tempat di Europa dan Amerika. Dan kesusteran yang mestinya memberi perlindungan pada perempuan-perempuan ini justru memperlakukan mereka dengan tak baik, karena mereka dianggap pendosa. Tentunya hanya perempuan yang dianggap pendosa, laki-laki kebal dari dosa. Di Irlandia sendiri, Magdalene laundry baru ditutup tahun 1996 saudara-saudara. Baru kemaren dulu! Dan setidaknya ada 60.000 bayi yang “dijual” pada orang-orang kaya untuk diadopsi.

Bagaimana dengan para ibu-ibu yang anak-anaknya diadopsi? Banyak dari mereka dipaksa bekerja di laundry hingga puluhan tahun, selain untuk membayar “kebaikan” kesusteran juga untuk “membayar dosa” mereka karena punya anak di luar perkawinan. Banyak dari mereka juga tak diterima kembali ke keluarganya, karena pada jaman itu norma mendikte perempuan-perempuan ini harus dibuang dari keluarga. Kejam.

Bayi-bayi Tuam

Tuam, sebuah kota kecil di barat Irlandia yang berjarak sekitar 30 km dari Galway. Di kota kecil ini ditemukan tulang-tulang dari anak-anak dan bayi-bayi kecil yang dibuang dalam 20 ruang terpisah di septitank. Seorang sejarahwan lokal, Catherine Corless, kemudian melakukan investigasi tentang bayi-bayi ini selama enam tahun. Awalnya, sang sejahrawan mengira hanya akan menemukan belasan atau puluhan bayi saya, tapi ternyata ada hampir 800 bayi yang dibuang di tempat tersebut.

Tadinya, ada spekulasi bahwa bayi-bayi ini dikuburkan di sana ketika masa kelaparan di Irlandia, pada tahun 1800 an. Tapi investigasi dari pemerintah menunjukkan bahwa bayi-bayi ini memang dikubur pada saat kesusteran ini masih aktif. Penyebab kematian para bayi ini sendiri beraneka rupa, termasuk sakit dan kurang gizi. 796 nama bayi ini sendiri dapat ditemukan di postingan sebuah media Irlandia di sini.

Sama seperti ibu-ibu di atas, bayi-bayi yang lahir di luar perkawinan dilihat sebelah mata dan tak dianggap setara seperti manusia pada umumnya. Terdengar familiar kan, karena bisik-bisik ini di Indonesia juga ada. Sang sejahrawan sendiri hanya ingin satu hal untuk para bayi-bayi ini, dignity, supaya anak-anak yang telah berpulang ini diperlakukan dengan layak.

Kesusteran Bon Secours yang ditutup pada tahun 1961 ini sampai sekarang belum meminta maaf dan pembahasan panjang tentang bayi-bayi ini masih akan terus berlanjut.

Penutup

Masih ada skandal yang melibatkan kesusteran di Irlandia, termasuk soal kekerasan pada anak yang dilakukan Sister of Mercy. Saya sendiri enggan melakukan riset lebih lanjut, karena semakin banyak saya membaca sejarah kelam ini, semakin sedih lihatnya.

Sekarang saya sedikit memahami, kenapa banyak orang yang kehilangan kepercayaan pada insitusi keagamaan dan mengapa gereja-gereja di sini lebih banyak di isi muka orang-orang asing yang masih muda, ketimbang muka anak-anak muda Irlandia. Sejarah masa lalu mereka, terlalu kelam.

xx,
Tjetje

 

Nostalgia Suara-suara Indonesia 

Hidup di Eropa itu bisa dibilang sangat tenang, kelewatan banget tenangnya. Begitu malam dan gelap datang, dingin dan senyap juga turut menenani. Di musim dingin seperti sekarang, ada banyak suara yang saya rindukan. Mungkin buat kalian suara-suara ini sebagai sebuah hal yang biasa, malah mengganggu, tapi buat saya, suara ini Indonesia banget.

Suara kucing

Tak banyak suara hewan yang saya dengar di Indonesia, hanya gonggongan anjing, kucing dan burung hantu. Tiap kali mendengar burung hantu atau melihat mereka terbang, rasanya magis banget.

Selain burung hantu, saya juga merindukan suara kucing. Ada banyak tipe suara kucing yang saya rindukan, dari yang menyayat karena menangisi anaknya yang hilang hingga kucing yang ramai dan gaduh berkelahi. Terkadang saya juga mendengar kucing yang sedang birahi meraung memecah keheningan malam. Di sini, saya tak pernah mendengar kucing mengeong karena tak ada kucing liar. Kucing-kucing milik para tetangga yang terkadang berkeliaran juga sangat sombong, tak mau disapa orang asing.

Suara aneka pedagang 

Jaman masih tinggal di Indonesia dan punya anjing, anjing saya bisa mendeteksi abang bakso langganan. Langganan anjing saya tentunya. Suara ketukan abang bakso ini khas banget dan bisa ditemukan dari pukul 3 sampai setelah matahari tenggelam saja. Setelah itu, jangan harap ada bakso Malang yang berkeliling dengan gerobaknya.

Abang tukang mie, pahlawan kita di kala kelaparan

Pada jam yang sama abang pedagang mie ayam juga beredar. Nah di telinga saya abang mie ayam ini suara ketokannya jauh lebih dalam ketimbang abang bakso. Tentunya kalau urusan kedalaman suara ketokan, abang mie dog-dog jauh lebih dalam suaranya. Alat pengetuknya juga lebih besar, tak heran suaranya cenderung dok…dok…dok…. Jam beredar mereka sendiri dimulai setelah Maghrib hingga menjelang tengah malam. Selain menyukai nasi goreng saya juga menggemari mie goreng buatan mereka.

Malam hari di Indonesia juga lebih meriah karena adanya abang tukang angsle. Di kompleks tempat saya tinggal, abang angsle ini biasanya mengetukkan sendok atau garpu ke mangkok, sehingga suaranya ting…ting…ting….Sayangnya, saya sudah tak pernah mendengar suara mereka lagi ketika pulang, mungkin para peminat angsle sudah mulai hilang seiring dengan memanasnya udara di daerah Malang. Suara pedagang angsle sendiri mirip dengan pedagang bubur ayam dan bubur kacang hijau serta ketan hitam. Yang membedakan hanya waktu berjualan mereka, bubur di pagi hari dan angsle di malam hari.

Di samping para abang (semuanya abang karena tak ada perempuan yang mendorong gerobak menjual makanan di malam hari) yang bermodalkan alat untuk membuat suara-suara, ada juga abang-abang yang bermodalkan kekuatan suaranya, tak lain tak bukan, abang tukang sate. Lagi-lagi di Malang, abang tukang sate dengan aksen Maduranya yang kuat akan berteriak menawarkan dagangan sembari mendorong gerobak mereka yang mirip dengan kapal. Telinga kita sebagai pelanggan juga harus jeli ketika mendengar suara mereka, jangan sampai keliru memanggil abang tukang sate yang bukan langganan.

Masih banyak lagi suara-suara yang khas Indonesia banget. Ketika saya pulang kemaren misalnya saya mendengar takbir. Ada pula suara adzan yang berkumandang memanggil pemeluk agama Islam untuk beribadah. Tak dilupakan juga suara petugas keamanan yang memukul tiang listrik untuk menandakan waktu, termasuk 12 kali di tengah malam. Bising tapi dirindukan. Tentunya ada suara yang tak saya rindukan, suara tetangga yang berteriak maling atau kebakaran di malam hari untuk membangunkan tetangga. Wah kalau sudah gini langsung panik.

Punya suara khas dari tempat kalian tinggal?

xx,
Tjetje

Masalah Turis Indonesia Ketika Jalan-jalan

Gara-gara tulisan Puji, saya jadi tergerak menulis masalah turis-turis Indonesia ketika berada di Irlandia.

Duitnya Kegedean dan Kebanyakan

Selama bolak-balik liburan ke sini, hingga kemudian bermukim, saya tak pernah melihat mata uang Euro yang lebih besar dari pecahan 50 Euro. Semua traksaksi saya lakukan lewat kartu, karena kebanyakan transaksi di sini sudah cashless.  Orang-orang di sini juga pada anti dengan pecahan besar, karena resiko uang palsu. Uang ini biasanya ya diraba-raba dulu, setelah diraba diletakkan di bawah sebuah mesin untuk melihat keasliannya. Nggak cukup, abis itu dicoret-coret dengan bolpen khusus.

Begitu pindah ke sini dan bertemu dengan turis-turis Indonesia, masalah mereka selalu sama. Uang Euro yang mereka bawa selalu dalam pecahan besar. Bahkan ada yang pernah bawa uang terkecil 50 Euro dengan jumlahnya terbatas, jumlah pecahan 100, 200 dan 500 jauh lebih banyak. Gara-gara membwa uang dalam pecahan besar ini, seorang turis yang hendak memborong oleh-oleh (dan sudah menghabiskan waktu keliling, mencari oleh-oleh yang disukai) ditolak belanja karena pecahan 500 Euro.

Sekali waktu, saya pernah berinisiatif membantu dengan memasukkan uang tersebut ke rekening saya, kemudian ditarik lagi dalam pecahan kecil. Dengan metode ini tak ada potongan biaya  seperti yang dialami Puji ketika menukar di tempat penukaran uang. Tapi jeleknya, ada keterbatasan jumlah uang yang bisa ditarik, alhasil tiap hari saya harus bolak-balik ambil uang karena melewati limit. Ya gitu deh, orang Indonesia kalau jalan-jalan duitnya muntah-muntah. 

Kerepotan Beli Oleh-oleh dan Open PO

Definisi jalan-jalan saya mungkin tak sama dengan kebanyakan orang. Jalan-jalan buat saya ya menikmati pemandangan, duduk-duduk di cafe sambil baca, nulis, menikmati secangkir teh dan people watching. Nah, turis Indonesia kebanyakan sibuk dengan belanja oleh-oleh dan buka orderan online.

Waktu yang dihabiskan untuk duduk dan belanja oleh-oleh ini luar biasa lamanya, satu toko bisa dikelilingi lalu keluar dengan beberapa tas berisikan gantungan kunci, magnet atau oleh-oleh lain yang harganya gak murah. Gantungan kunci seharga 7 Euro untuk rekan satu tim, magnet seharga 10 Euro untuk para anggota grup rumpi, snowball dan coklat.

Oh jangan lupa juga barang-barang bermerek titipan para teman-teman sosialita. Wah kalau soal titipan ini jangan tanya deh betapa pusingnya. Minta tolong nitip baju yang mereknya ada di Indonesia, terus nitipnnya gambar, disuruh cari sendiri. Tradisi ndoro, maunya tau beres. Ada pula yang udah nekat nitip dengan semena-mena dibatalkan, atau minta ganti warna ketika yang membeli sudah meninggalkan tempat belanja. Tapi ada juga turis Indonesia yang rela balik  dan rela berburu belajaan demi bukan PO dan untung beberapa ratus, atau juta rupiah.

Soal belanjaan barang bermerek ini, bagi beberapa orang buka PO tas-tas mahal itu menyenangkan. Semakin mahal tas yang dibeli semakin bagus, karena adanya pengembalian pajak. Gak heran juga kalau orang berjuang keras biar modal jalan-jalan bisa balik dari open PO ini. Sampai bandara nangis, karena harus bayar pajak. 

Nah kalau sudah kebanyakan belanja gini, akibatnya koper meledak karena kepenuhan belanjaan. Makanya jangan kaget kalau lihat barang bawaan yang dibawa ke kabin bisa banyak banget. Tukang jalan-jalan, eh maaf, penjual yang pinter sih biasanya beli ekstra bagasi, tapi yang gak, alamat bakalan ngemis-ngemis bagasi orang lain di bandara. Apalagi kalau sesama orang Indonesia. #PernahJadiKorban

Kecapekan jalan kaki

Apakah orang Indonesia itu malas jalan kaki? Bukan males, tapi lebih karena gak biasa dan karena infrastruktur dan cuaca di Indonesia gak cocok buat jalan jauh. Jadi, kalau diajakin jalan-jalan keliling kota dan melihat pemandangan, biasanya turis kita suka teler duluan. Kelelahan karena emang badan gak terbiasa jalan kaki. Apalagi di kampung halaman punya kendaraan pribadi. Diajak jalan 2-3 jam saja suka teler.

Eits…tapi jangan salah, orang Indonesia ternyata kalau di luar negeri bisa jalan jarak jauh lho. Bukan keliling lihat pemandangan, tapi jalan-jalan keliling pusat perbelanjaan, keliling toko suvenir sampai gempor (dan ini bisa berjam-jam). Bahkan kalau ikut tur, mereka bisa muncul terlambat atau bahkan ditinggal bis karena kelamaan belanja.

Masalah toilet 

“Aduh ini gimana, kamar mandinya gak ada airnya? Coba beliin air (biasanya nama merek) botol dong”

“Duh air dalam kemasan mahal, sebotol satu Euro. Lima belas ribu masak buat cebok?”

“Punya baby wipes gak?”

No comment kalau yang ini.

Kesusahan cari nasi dan sambal

Selera nusantara gak bisa bohong, kalau liburan mesti makan nasi dengan rendang, kering tempe, abon dan tentunya SAMBAL. Dan soal lidah ini gak mengenal status ekonomi, dari yang terbang ekonomi sampai terbang naik bisnis, seleranya serupa. Saya bahkan pernah menemukan penumpang yang naik bisnis class, dengan makanan cantik-cantik, lalu mengeluarkan cabe segar untuk menemani makanan cantik itu. Cabe segar di atas pesawat. Jawara!

Soal nasi sendiri sekarang mudah diatasi, tinggal bawa rice cooker. Persoalan perut ini mudah sih mengatasinnya, tapi resikonya juga besar, kalau ketangkap membawa makanan yang tak diperbolehkan oleh negara tujuan bakalan nangis-nangis di depan TV deh.

Tapi kalau lolos, orang-orang seperti saya bakalan girang, girang karena biasanya menerima limpahan makanan yang tak perlu dibawa kembali. Lumayan, bisa dapat mie instan dengan micin yang sensasional.

Jadi, apalagi masalah turis Indonesia kalau jalan-jalan ke luar negeri?

xx,
Tjetje