Perempuan Bekerja

Dalam sebuah obrolan ringan saya tak sengaja menangkap sebuah topik menarik tentang perempuan bekerja. Perempuan bekerja memang bukanlah hal yang aneh lagi di abad ini, tetapi ketika perempuan tersebut memiliki pasangan yang sangat mapan, atau bahkan kaya timbul pertanyaan yang menjadi pertanyaan lumrah: “Ngapain kerja kalau suaminya kaya?”. Nampaknya, ada sebuah kewajaran bagi perempuan di masyarakat kita untuk tidak bekerja jika suaminya sudah mampu menanggung biaya hidup.

Di lingkungan yang patriarkis, beban biaya rumah tangga biasanya dibebankan pada pria, sementara perempuan kebagian tugas mengurus rumah tangga. Pekerjaan yang sering kali identik dengan leyeh-leyeh dan juga shopping untuk membelanjakan uang suami. Seperti pernah saya tulis sebelumnya, bagi sebagian orang, menjadi ibu rumah tangga merupakan sebuah kemewahan.

Mengapa saya sebut sebagai kemewahan? Karena tidak semua perempuan yang ingin menjadi ibu rumah tangga dapat sepenuhnya melakukan hal tersebut. Ada perempuan-perempuan yang karena tingginya tuntutan kebutuhan hidup harus berbagi beban biaya bersama suami. Saya sebut berbagi, karena saya tak menyukai ide dan konsep membantu ekonomi rumah tangga. Bagi saya konsep membantu itu terkesan mengurangi nilai kontribusi perempuan. Sudah kerjanya sama-sama capek, eh cuma dianggap sebagai bantuan, tidak dianggap sebagai kontribusi yang sama-sama utamanya.

Selain kelompok di atas, ada juga perempuan yang memang tak mau menjadi ibu rumah tangga secara penuh dan memilih bekerja. Ada banyak hal yang mendorong hal tersebut, dari mengaktualisasi diri, mengejar karir, tak ingin ilmunya hilang begitu saja, mengisi waktu karena bosan di rumah, hingga karena ingin kebebasan finansial dan segudang hal lainnya.

Kelompok yang terakhir dinilah yang tak hanya seringkali dipertanyakan dorongannya untuk bekerja, tetapi juga seringkali dicela karena keputusannya untuk bekerja, terutama ketika sudah memiliki anak. Mereka seringkali dianggap sebagai ibu yang kurang baik, kurang bertanggung jawab, tidak berperasaan dan segudang tuduhan-tuduhan lainnya yang bikin saya gemes. Bahkan, seringkali ada meme yang beredar di sosial media yang mempertanyaan mengapa sang ibu tega meninggalkan anaknya untuk diasuh dengan pekerja rumah tangga yang pendidikannya jauh lebih rendah ketimbang pendidikan sang ibu.

stay home dad

Bapak rumah tangga seringkali dituduh sebagai pria malas yang gagal menghidupi keluarga. Cartoon: http://www.onabrighternote.ca

Mengapa muncul hal-hal seperti itu? karena perempuan bekerja tidak dilihat sebagai sebuah hal yang normal dan wajar. Di lingkungan kita, perempuan bekerja memerlukan alasan, memerlukan dorongan, serta aneka kondisi lainnya. Sementara, jika pria bekerja dianggap sebagai sebuah hal yang normal yang tak perlu dipertanyakan alasannya  sama sekali.

Bahkan, ketika baru lulus kuliah pun masih seringkali ada orang tua yang mengharapkan anak perempuannya langsung kawin dan tak perlu sekolah lebih tinggi lagi (karena akan berakhir di dapur). Sementara, anak pria langsung diharapkan bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus, beli rumah, beli mobil dan melamar anak gadis orang. Ketika bekerja pun, apalagi jika pekerjaannya menuntut jam kerja yang panjang (contohnya menjadi jurnalis), perempuan seringkali diminta untuk berhenti bekerja. Kalimat aneh yang pernah saya dengar seperti ini: “Gak usah kerja sampai harus pulang malam, bapak masih bisa kok ngasih makan kamu”. Ya emangnya perempuan cuma perlu makan? Gak perlu mengaktualisasi diri?

Jika ditanya apakah hal ini bisa diubah? saya pribadi merasa pesimis hal ini bisa diubah secara cepat. Perlu banyak waktu untuk merubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang bekerja. Tapi setidaknya, diri kita sendiri bisa mulai melihat perempuan bekerja sebagai hal yang normal dan yang tak perlu dipertanyakan lagi alasannya.

Pernahkah kamu mempertanyakan mengapa seorang perempuan bekerja?

Xx,
Tjetje
Perempuan bekerja

Pengungsi

Beberapa waktu lalu saya menulis tentang menjadi relawan dan Wulan yang pernah menghabiskan waktunya menulis isu tentang pengungsi di Indonesia meminta saya menulis tentang isu ini. Isu pengungsi merupakan isu yang panas di Eropa sejak beberapa waktu (atau bahkan tahun) belakangan ini. Herannya, setiap kali ngobrol dengan beberapa orang di tanah air tentang  ini, kok saya mendapat kesan banyak orang yang tak peduli atau bahkan tak tahu. Jadi, ijinkan saya berbagi sekilas tentang isu ini dari kacamata saya.

Sebelum beranjak lebih lanjut, ada baiknya kita bahas dulu tentang terminologi. Ada tiga terminologi yang bisa digunakan ketika membahas isu ini, yaitu pengungsi, pencari suaka, dan juga migran. Pengungsi menurut definisi saya adalah orang atau sekelompok orang yang mencari perlindungan ke negara lain karena dalam situasi terancam di negaranya. Beberapa situasi terancam ini antara lain minoritas satu agama atau etnis yang ditekan di negaranya (Rohingya contohnya), LGBT yang dihukum karena orientasi seksualnya, pembela HAM yang dicari pemerintah karena aktivitasnya, jurnalis yang dicari mafia, atau bahkan masyarakat sipil yang negaranya dalam keadaan genting. Sebelum diputuskan menjadi pengungsi biasanya mereka disebut asylum seeker/ pencari suaka. Pencari suaka ini mereka yang mengklaim sebagai pengungsi tetapi status mereka sebagai pengungsi belum diputuskan karena masih diproses. Soal lamanya proses bermacam-macam tergantung negara yang dituju.

Kelompok ketiga adalah migran yang berpindah ke negara lain karena banyak alasan, biasanya alasan ekonomi (atau meminjam istilah Mbak Yoyen, migran cinta seperti saya) tapi kelompok ini bukanlah kelompok yang berada dalam keadaan bahaya. Dalam ilmu tolong-menolong, kelompok ini paling belakangan ditolong karena mereka tidak dalam keadaan bahaya. Di berita-berita pun istilah migran lebih banyak digunakan, karena mengatakan seseorang sebagai pengungsi ataupun pencari suaka itu gak bisa langsung, lagi-lagi mesti pakai proses. Dalam logika saya sih sederhana, ketika mereka belum minta suaka, belum diputuskan jadi pengungsi, masih di atas kapal di dekat Yunani ya otomatis disebut sebagai migran karena mereka berpindah.

Eropa sendiri, terutama di bagian barat dan di daratan utamanya, serta Inggris  dibanjiri oleh migran ini karena adanya gejolak keamanan di berbagai tempat di jazirah Arab dan juga di Afrika. Terus terang sebagai orang yang tinggal di Irlandia, saya tak tahu betapa parahnya keadaan di daratan Eropa sana. Yang saya baca hanya keriuhan penutupan perbatasan, migran yang setiap hari meninggal di dekat Yunani dan juga masalah penyerangan seksual oleh sebagian kecil migran yang terlambat ditulis media dan akhirnya bikin kisruh dan labelisasi parah pada para migran.

Sebagian kelompok tidak menyukai migran dan juga pengungsi karena banyak hal, beberapa hal yang saya tangkap misalnya takut adanya Islamisasi Eropa, takut perbedaan budaya terutama dalam hal memperlakukan perempuan dan yang paling utama takut kehilangan pekerjaan. Migran dianggap sebagai pencuri pekerjaan, bahkan di Eropa Timur sana ada yang sampai demo bawa-bawa poster. Agak lucu dan aneh ngelihat kelakukan mereka, karena sebagian penduduk dari negara itu migrasi ke Irlandia dan juga negara-negara Eropa lainnya untuk bekerja. Lha ya mereka boleh cari kerja kok yang dari negara lain gak boleh. Rasis!

Nah beberapa waktu terakhir ini, saya banyak menghabiskan waktu untuk sekadar ngobrol, ngopi atau bahkan makan siang dengan rekan-rekan dari jazirah Arab dan juga Afrika Utara untuk bertanya tentang pengalaman mereka selama tinggal di Irlandia. Hasilnya? Semua orang yang saya ajak ngobrol bahagia tinggal di Irlandia dan gak pernah mengalami diskriminasi ataupun perlakuan rasis di Irlandia. Bahkan mereka yang berjilbab sekalipun. Ini bukan berarti disini rasisme dan diskriminasi tak ada sama sekali, saya yakin pasti ada.

Keterbukaan orang Irlandia ini saya simpulkan dilandasi banyak hal, pertama karena orang-orang Irlandia pernah sengsara ketika terjadi kelaparan karena gagalnya panen kentang di jaman 1845-an. Sebagian penduduknya bermigrasi ke berbagai sudut dunia termasuk ke Amerika. Maka tak heran jika orang-orang di negeri ini, bahkan yang tua sekalipun, menerima manusia yang berpindah dari negara lain.

Bicara sejarah tentunya tak boleh lupa juga dimana orang Irlandia banyak ditekan karena agamanya yang Katolik, didiskriminasi urusan pekerjaan, pendidikan bahkan dianggap teroris (Catatan: jaman dulu hanya mereka yang Anglican yang bisa maju). Maka tak heran jika kepiluan dan didiskriminasi ini tak diulang oleh orang-orang Irlandia termasuk terhadap muslim. Jadi ya jangan heran kalau negara dan orang-orang di negara ini dianggap berperilaku Islami. Satu hal lagi yang bagi saya sangat menarik, keterbukaan ini juga dilatarbelakangi oleh fakta bahwa orang Irlandia itu moyangnya dari mana-mana, ada yang dari Spanyol, Inggris bahkan Viking.

Nah tapi walaupun Irlandia negara yang kelihatannya menarik, bahkan menjadi magnet para migran dari Eropa Timur, terutama Polandia, negara ini rupanya tak terlalu diminati oleh para migran dan pengungsi dari negara-negara yang terlanda konflik. Seorang pengacara yang fokus pada migran dan pengungsi pernah bercerita, satu hari ada trayek penerbangan baru yang dibuka dan langsung dari sebuah negara di Afrika ke Dublin (saya tak ingat negaranya). Pada penerbangan pertama ini sang pengacara memperkirakan pesawat ini akan dipenuhi oleh para migran dan para pencari suaka. Ternyata oh ternyata ia salah, saat itu hanya 7 orang saja yang mencari suaka.

Irlandia beberapa waktu lalu dikritisi oleh Merkel karena tidak menolong banyak migran dan juga pengungsi. Ya apa mau dikata, negara ini baru dihempas krisis ekonomi, terjadi krisis rumah yang bikin banyak orang menjadi homeless dan menggelandang. Bukan alasan juga untuk tidak menolong mereka, tapi ya apa pantas kalau orang-orang ini kemudian sampai di negeri ini kemudian menggelandang dan malah jatuh sengsara (ini yang banyak terjadi di daratan Eropa dan memicu sebagian kecil dari mereka kembali ke negaranya).

Anyway, cerita migran ini bisa berlanjut semakin panjang, tapi sebaiknya saya akhiri dulu dengan sebuah poster cantik yang tersebar di beberapa sudut Dublin:

Refugee Welcome

Bagaimana dengan kalian, ngikutin berita pengungsi juga gak?

xx,
Tjetje

Perempuan dan Aborsi

Ketika saya masih duduk di bangku kuliah sekitar belasan tahun lalu, seorang teman menelpon ke rumah saya. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, ia tiba-tiba bertanya tentang tempat untuk melakukan aborsi. Kata dia, teman kuliahnya hamil dan ia berinisiatif membantu mencarikan tempat untuk aborsi. Seketika itu juga saya langsung menangkap bahwa dialah yang hamil.

Pada saat itu saya banyak mendengar teman-teman yang melakukan aborsi, tapi hanya sebatas mendengar dari mulut kesekian. Hanya satu orang teman pria saja yang pernah menceritakan dengan gamblang bagaimana proses aborsi berlangsung. Aborsi yang saya bicarakan ini tentunya aborsi ilegal, tetapi dilakukan oleh tenaga medis, seorang dokter yang berada di luar Malang. Bagaimana mengerikannya proses aborsi tak perlu diceritakan lah ya karena sungguh bikin ngilu.

Kengiluan ini bertambah parah ketika tahu bahwa dokter yang melakukan proses itu tak memperkenankan pasien untuk menginap di tempat praktek. Ya ampun yang kepikiran di kepala saya tentunya perut diobok-obok lalu tak lama ‘diusir’ keluar (eh bayar dulu dong ya dan biayanya ketika itu cukup buat bayar kuliah satu tahun). Dalam kondisi mental dan fisik yang tentunya saya bayangkan tak karu-karuan, masih ada perjalanan yang harus ditempuh dari luar Malang untuk kembali ke Malang, yang rata-rata harus ditempuh oleh anak-anak mahasiswa jaman 90-an dengan naik motor atau naik bis. Sementara secara mental dan fisik sang perempuan pasti kelelahan tak karu-karuan.

pexels-cottonbro-studio-7585026

Teman-teman saya tersebut beruntung bisa melakukan aborsi yang ditangani oleh tenaga medis. Setidaknya prosesnya berlangsung dengan aman walaupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan ilegal. Ada banyak sekali proses-proses aborsi yang dilakukan tak aman, salah satunya dengan melakukan pijat. Pijatan yang dilakukan di area perut yang bertujuan untuk melepaskan fetus dari rahim, lalu dilanjutkan dengan peluruhan.

Proses peluruhan ini bisa dilakukan dengan pijat-memijat atau bahkan dengan meminum aneka rupa jamu-jamuan atau ramuan lainnya.  Selain minum jamu-jamuan, ada juga yang memakan nanas muda yang konon ‘panas’ sehingga menyebabkan kandungan yang masih muda luruh. Entah luruh semua atau luruh sebagian. Kalau luruh semua ya syukur, sementara kalau luruh sebagian dan infeksi, haduh…..

Bicara tentang aborsi tentunya tak bisa lepas dari proses menguburkan janin-janin tersebut. Konon tempat-tempat prakter dokter kandungan biasanya agak berhantu karena banyak terjadi proses aborsi. Nah, salah satu orang yang saya kenal pernah menguburkan janinnya di sebuah rumah miliknya yang tak ditempati. Rumah ini tak ditempati karena sedang mencari peminat untuk mengontrak. Orang-orang di perkampungan itu kemudian heboh karena di malam hari sering terdengar suara bayi menangis dari rumah kosong ini. Selidik punya selidik dan nampaknya penyelidikan tersebut melibatkan ‘orang pintar yang tidak minum tolak angin’, terungkaplah bahwa ada janin di rumah tersebut. Sang kenalan ini kemudian harus berurusan dengan warga kampung tersebut gara-gara urusan  janin bayi yang menangis tersebut. Saya sendiri tak tahu harus percaya atau tidak percaya dengan hal seperti ini.

Di Indonesia, aborsi sebenarnya bukanlah hal yang ilegal dan bisa dilakukan pada kasus-kasus tertentu, pada usia kehamilan tertentu tetapi hanya pada pasangan yang sudah kawin. Jauh berbeda dengan di Irlandia yang tidak memperbolehkan aborsi dalam kondisi apapun. Bahkan ketika nyawa ibunya menjadi taruhan, tak ada dokter yang berani melakukan tindakan karena takut dibawa ke pengadilan karena membunuh janin. Aturan ini merujuk pada agama Katolik yang dominan di Irlandia. Jeleknya, aturan ini berlaku pada siapapun, dengan agama apapun. Termasuk pada Savita Halappanavar, pelajar beragama Hindu yang meninggal karena ada kasus dengan kehamilannya. Saat itu tak ada dokter yang berani mengaborsi bayinya, sehingga menyebabkan infeksi dan kerusakan organ yang berujung kematian sang ibu. Tragis, sungguh tragis.

Savita

photo: thejournal.ie

Perempuan-perempuan yang hendak melakukan aborsi dengan alasan apapun harus melakukan perjalanan ke luar Irlandia. Persis dengan pengalaman teman saya di paragraf atas yang harus pergi ke luar Malang dahulu. Ketika mereka punya cukup waktu untuk mempersiapkan perjalanan untuk aborsi sih ‘masih okay’, tapi begitu dalam kondisi emergency, aduh gak kebayang deh berapa Savita lagi yang harus meninggal sampai peraturan di Irlandia berubah.

Dalam urusan aborsi, saya memposisikan diri untuk tidak menghakimi perempuan yang melakukan hal tersebut karena banyak hal. Tetapi yang paling utama, perempuan adalah penguasa tubuhnya, bukan negara, bukan politikus dan bukan orang-orang lain di sekitarnya. Maka ketika seorang perempuan memutuskan untuk melakukan aborsi, sudah sepatutnya ia mendapatkan akses aborsi yang aman. Aman secara medis, aman secara hukum dan tentunya aman dari kecaman dan hujatan, karena sesungguhnya, memutuskan untuk melakukan aborsi itu tak semudah mulut-mulut mengeluarkan hujatan kepada mereka.

Selamat hari Perempuan!
Bagaimana dengan kalian, setujukah kalian dengan aborsi?

Xx,
Tjetje
Kematian Savita Halappanavar (Bahasa Inggris)

[Dear Bule Hunter]: Iya Kawin Sama Bule itu Enak Kok!

Ada yang berkata pada saya, “Mbak, kenapa sih kok nulis Dear Bule Hunternya negatif banget dan gak ada bagusnya. Padahal kan kawin sama bule itu tak selamanya sengsara, pasti ada enak-enaknya. Kenapa gak nulis sukanya juga, jangan dukanya doang. “Baiklah, demi para pembaca yang budiman, akan saya berikan gambaran indahnya kawin sama bule dan tinggal di luar negeri.

Lapar tinggal buka tudung saji 

Ingat jaman-jaman indah ketika dalam kondisi kelaparan pulang kerumah lalu membuka tudung saji dan terhamparlah makanan nusantara di bawah tudung saji tersebut? Hamparan makanan nusantara yang masaknya rumit, bumbunya banyak dan terkadang perlu berjam-jam untuk sekedar mematangkan potongan daging dan santan supaya meresap. Rasanya buka tudung saji itu kan nikmat sekali, apalagi ketika ada kepulan nasi hangat bersama tempe, ayam goreng dan sambal kecap. Persis seperti kenikmatan membuka tumpukan hadiah di hari Natal.

Nah kawin sama bule itu enak banget. Saking enaknya, tiap kali kelaparan tinggal buka aja itu tudung saji. Jreng…jreng…jreng…di luar negeri tudung saji itu kosong dan harus diisi sendiri. Eh tapi ngisi tudung saji itu gampang banget kok. Pengen tempe penyet? Gampang, tinggal ke toko Asia beli tempe. Pengen nasi goreng pete, gampang, tinggal rogoh recehan beli pete. Pengen makan kerak telor? Lebih gampang lagi, taruh laptop di bawah tudung saji, masukkan nomor kartu kredit lalu pulang untuk beli kerak telor.

Wueeeenak kok kalau kawin sama bule itu, pengen makan apa-apa tinggal masak sendiri. Bahan-bahan juga gampang ditemukan, kalau gak ketemu mah tinggal pulang aja ke Indonesia. Kalau males, bisa order online. Makan makanan Indonesia di luar negeri itu gampang, gak perlu sakit tenggorokan manggil-manggil si Mbak, apalagi repot-repot nungguin gerobak pedagang nasi goreng yang tak kunjung lewat. Tinggal jalan aja ke dapur, racik sendiri.

Rambut kece badai

Image sebagai istri bule yang nyonya besar itu kan harus tetap terjaga, jadi dalam kondisi apapun rambut harus tertata rapi, serapi rambut Dian Sastro. Angin musim dingin pun tak boleh merusak tatanan rambut ini, kalau perlu hairspray satu botol disemprotkan ke rambut. Nah biar tak kalah dengan para artis-artis ibu kota, ada baiknya jika para penata rambut itu dipanggil ke rumah supaya bisa menata rambut.

Gak punya uang buat bayar penata rambut? Ya ampun, malulah sama gaji Euro? Anak kos di Jakarta aja yang gajinya rupiah aja tiap pagi bisa manggil tukang salon untuk ngeblow rambut di pagi hari. Potong rambut pun tak perlu repot-repot ke salon tinggal hair dressernya yang dipanggil. Kualitasnya pun tak ciamik, bisa bikin rambut jadi mengkilat seperti model-model shampoo terkini.

Eh tapi menjadi istri bule kan bikin pintar, pintar mengakali. Gak sanggup panggil hair dresser ke rumah ya tinggal beli hair dryer mutakhir, lalu duduk diam selama dua jam ngeblow rambut sendiri. Enak kan gak perlu kehilangan pulsa untuk sms atau telpon hair dresser dan yang paling penting lebih irit 40 Euro untuk ngeblow rambut?

Kawin sama bule bisa punya istana mewah

Luar negeri itu ya penuh dengan rumah-rumah besar seperti Downtown Abbey. Orang-orang bule itu pada kaya raya, rumahnya segede gaban, domestic helpernya segambreng, yang ngurusin kebun ada sendiri, yang ngurusin dapur ada sendiri. Miriplah dengan Downton Abbey yang punya pasukan untuk ngurusin rumah. Tapi perlu dicatat, rumah-rumah segede gaban itu adanya pada abad 17, jadi kalau mau rumah segede itu balik aja ke abad 17an dan kawini bule dari abad itu. Atau, mungkin bisa mengincar pangeran Harry yang  masih lajang, karena jaman sekarang keluarga mereka salah satu keluarga yang punya helper segambreng-gambreng.

Nah bini bule abad 21 itu rumahnya beda dari bini bule abad 17. Rumahnya kecil gak ada kolam renangnya pula. Eh tapi jangan salah lho rumah kecil itu enak banget, mau ke dapur dekat, mau ke toilet dekat. Lebih enak lagi ketika dapur kotor, bersihinnya cepet. Kalau toilet kotor, gampang tinggal ambil brush dan pembersih, semprot-semprot, gosok-gosok, hitung-hitung bakar tempe penyet dari bawah tudung saji tadi.

Penutup

Tulisan Dear Bule Hunter ini muncul karena adanya orang-orang yang meng-Google kata kunci: “kawin dengan bule itu enak”. Tulisan-tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang realitas kerasnya kehidupan di luar negeri supaya mereka yang berburu bule tidak keblinger dengan fantasi bahwa hidup dengan bule di luar negeri itu indah, seindah gambar-gambar cantik di media sosial.

Jangan salah lho, istri-istri bule yang kaget melihat kehidupan di luar negeri itu jumlahnya tak sedikit, karena harapan mereka yang terlalu tinggi. Banyak yang secara terbuka mengungkapkan kekagetannya, banyak yang marah dengan keadaan mereka, banyak yang kemudian ngiri dengan orang lain yang dianggap mengawini bule yang lebih baik. Ditambah lagi mereka tak punya pengalaman mengalami hidup di luar negeri dan gambaran tentang luar negeri hanya didapat dari film Hollywood atau film seri macam Downtown Abbey.

Tulisan ini tak boleh dipahami sebagai larangan untuk memburu bule. Berburu pria itu, termasuk pria berkulit putih adalah hak setiap manusia. Tapi sekali lagi,  memburu pria karena warna kulitnya itu rasis. Bahkan bagi beberapa teman bule saya, memilih karena warna kulit itu penghinaan. Memilih pasangan sejatinya berdasarkan kualitasnya sebagai manusia, bukan karena warna kulitnya.

Permisi dulu, saya mau enak-enakan ngosek toilet sampai bersih. Enak tho?

Xx,
Tjetje

Sekilas Tentang Seks Bebas

Beberapa waktu lalu Stephanie dan juga Astrid mempublikasikan tulisan di blog mereka yang berkaitan dengan seks bebas. Stephanie menerima pertanyaan tak sopan dari temannya tentang budaya seks bebas di luar, sementara Astrid mendapatkan pertanyaan tak senonoh tentang hubungannya dengan pasangannya. Benang merah yang saya tangkap dari kedua postingan tersebut ada pada bagaimana persepsi dan keponya sebagian orang Indonesia terhadap seks bebas di dunia barat.

Sebagian orang Indonesia suka sekali mengatakan bahwa bule merupakan penganut seks bebas tanpa mau melihat ke dalam negeri sendiri dan memahami fenomena seks bebas yang juga terjadi di Indonesia. Sebagian orang Indonesia juga suka menganggap bahwa seks adalah pembicaraan yang tabu jika dilakukan oleh orang Indonesia, tetapi hal ini tak menjadi tabu ketika urusannya dengan mereka yang memiliki pasangan bule.

Sebelum bicara lebih lanjut tentang hal ini, mari kita lihat dulu apa sih sebenarnya definisi seks bebas. Dari berbagai definisi yang muncul saya menyimpulkan bahwa seks bebas adalah:  “Kegiatan senggama (coitus) yang dilakukan di luar ikatan perkawinan dan bertentangan dengan norma agama ataupun norma sosial”.

Tak bisa diingkari di negara barat, hubungan seksual di luar perkawinan adalah hubungan yang wajar terjadi, apalagi jika dua orang dewasa sama-sama suka. Tak ada pelanggaran norma disini, karena norma di barat dan di Indonesia jauh berbeda. Tetapi berbeda dengan pemikiran banyak orang Indonesia, ini bukan berarti orang barat itu langsung nyosor dan suka kegatelan jika melihat lawan jenis kemudian langsung grepe-grepe macam kasus di Jerman pada saat tahun baru kemarin. Satu kata kunci yang penting dari hubungan di luar perkawinan ini adalah dua-dua individu sebagai pemilik tubuh sama-sama setuju dan sama-sama cukup usia. Masyarakat barat cenderung tak peduli dengan urusan ranjang orang lain, karena mereka tak ikut memiliki tubuh orang lain apalagi ranjang orang lain. Bagi mereka bukan tugas mereka untuk meluruskan moral orang lain. Apalagi orang lain yang sudah dewasa.

Walaupun begitu, perlu dicatat bahwa tidak semua orang di barat seperti ini. Masih ada komunitas dan kelompok yang mempertahankan keperawanan dan keperjakaan. Biasanya, mereka yang mempertahankan keperawanan dan keperjakan adalah kelompok-kelompok relijius.

Hal ini tentunya berbeda dengan di Indonesia dimana hubungan seks tidak hanya menjadi urusan dua individu yang memiliki alat kelamin, tapi menjadi bahan konsumsi seluruh masyarakat dan juga pemerintah yang ingin ikut ngurusi kelamin yang bukan milik mereka apalagi jika mereka dianggap melanggar norma-norma. Padahal lho ya mereka yang melakukan hubungan seks di luar perkawinan ini biasanya melakukan di balik pintu tertutup, jauh dari pandangan masyarakat. Tapi kegiatan ini kemudian berubah menjadi kegiatan terbuka karena pintu yang terkunci ini didobrak oleh masyarakat.

Seperti saya sebut di atas, bule dan bangsa barat kemudian dianggap sebagai bangsa yang tak bermoral karena melakukan hubungan seks bebas, sementara Indonesia dianggap sebagai bangsa bermoral yang menghindari hubungan seks bebas. Satu hal yang perlu diketahui, orang-orang yang dianggap tak bermoral ini jauh lebih cerdas dalam urusan ranjang karena mereka sudah dibekali dengan informasi mengenai penyakit menular seksual, cara pencegahannya serta tentang kontrasepsi dan pencegahan kehamilan. Jika kemudian anak-anak muda ini memutuskan untuk melakukan hubungan di luar perkawinan setidaknya mereka sudah tahu resiko -resiko yang akan dihadapi.

Lagi-lagi hal ini berbeda dengan di Indonesia, dimana pendidikan seks menjadi hal yang tabu, bertentangan dengan norma dan tak layak diajarkan. Kok pendidikan seks, ngajarin masang kondom seperti foto saya di bawah ini saja dianggap sebagai sebuah hal yang berdosa karena dianggap mempopulerkan hubungan seks di luar perkawinan. Tabunya pendidikan seks ini secara tak langsung berkontribusi pada tingginya penularan penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS yang di Indonesia pertumbuhan tertingginya ada pada pasangan heteroseksual, bukan pada pasangan homoseksual. Nah kalau sudah begini, silahkan tanyakan pada diri sendiri mengapa ibu-ibu rumah tangga banyak yang terkena HIV/AIDS di Indonesia. Karena bapak-bapak yang suka jajan ke Mangga Dua, Kalijodo, Alexis dan aneka surga dunia lainnya itu tak pernah tahu cara masang kondom yang benar dan tak punya kesadaran untuk mengenakan kondom. Bahkan mungkin mereka tak tahu resiko yang mereka hadapi ketika jajan. Mungkin juga mereka memasrahkan diri, kalau waktunya kena STI (sexually transmitted disease) ya waktunya. 

Di negeri barat, perempuan-perempuan yang memutuskan untuk melakukan hubungan seks tidak kemudian dianggap sebagai perempuan murahan karena sudah tak perawan lagi. Jauh berbeda dengan perempuan-perempuan di Indonesia yang langsung dicap murahan karena pernah melakukan hubungan seks di luar perkawinan. Sebaliknya, sang pria tak pernah dicap murahan, malah mereka dianggap sukses merenggut keperawanan anak orang. Konon di Indonesia perempuan dianggap lebih berharga ketimbang pria, sehingga perempuan harus bisa menghargai dirinya dengan mempertahankan keperawanannya. Tidakkah ini kemudian sebuah diskriminasi kepada pria-pria karena mereka dianggap tak lebih berharga ketimbang perempuan sehingga mereka bisa mengumbar keperjakaannya?

Bicara tentang hal ini ini saya jadi teringat pada seorang mbak-mbak gaul di Malang yang baru bercinta dengan pacarnya yang juga anak gaul Malang. Keesokan harinya, sang pria yang merasa jawara karena sudah berhasil menggauli perempuan ini bertutur kemana-mana menceritakan kehebatannya di atas ranjang dan detail panasnya percintaan mereka di atas ranjang. Sementara sang perempuan lebih tertutup untuk urusan percintaan. Ya konstruksi sosial kita memang membolehkan pria kehilangan keperjakaannya, malah sering dianggap hebat karena bisa menaklukkan anak gadis.

Pemahaman sebagian orang Indonesia tentang seks bebas di luar negeri seringkali salah. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa di negeri barat itu, berhubungan seks bisa dilakukan semudah para aktor dan aktris di televisi mendapatkan pasangan untuk tidur bersama seperti di film-film seri yang ditayangkan di TV. Pria-pria Indonesia yang haus dengan seks kemudian juga sering menggoogle bagaimana caranya mendapatkan pasangan perempuan bule supaya mereka bisa dapat seks dengan mudahnya. Di blog saya ini pria-pria bule hunter makin banyak dan kata kuncinya selalu nyerempet ke urusan ranjang. Terlihat sekali kalau ada kelompok-kelompok kecil yang berambisi menjadi seperti Barney di How I Met Your Mother yang maunya meniduri perempuan untuk kesenangan belaka. Padahal, gak semua orang di barat seperti Barney dan tentunya tak semudah itu meniduri perempuan. Salah menangkap sinyal dari perempuan bisa berakhir di penjara karena percobaan pemerkosaan.

Pada akhirnya, sebelum kita menghujat moral bangsa barat karena keputusan sebagian dari mereka untuk melakukan hubungan seks sebelum perkawinan, ada baiknya kita melihat ke dalam negeri dahulu. Melihat pergeseran nilai di masyarakat kita dimana banyak anak-anak muda tak perjaka dan tak perawan lagi. Seks bebas bukan ekslusif punya orang asing saja, tapi juga menjadi fenomena gunung es di Indonesia. Fenomena yang tabu dibicarakan dan didiskusikan. Tanyakan pada diri sendiri, solusi apa yang bisa ditawarkan pada mereka? Yang jelas, melarang penjualan kondom seperti yang dilakukan Satpol PP di Makasar pada saat Valentine lalu tak akan menyelesaikan masalah, karena seks tanpa kondom jauh lebih beresiko.

Pernah ngobrol dengan remaja jaman sekarang tentang seks bebas?

Xx,
Tjetje

Melamar Pria Pada Tahun Kabisat

Tahun kabisat yang datang sekali dalam empat tahun, pada tahun-tahun yang bisa dibagi habis menjadi empat. Tahun ini menjadi spesial karena ditandai dengan bulan Februari yang jauh lebih panjang daripada bulan Februari biasanya, karena adanya hari special yang datang pada tanggal 29 Februari.

Tanggal ini menjadi spesial, tak hanya bagi mereka yang lahir pada tanggal ini, tetapi juga bagi banyak perempuan-perempuan terutama di Irlandia. Pada tanggal ini, perempuan yang biasanya dilamar memiliki kesempatan untuk melamar kekasihnya. Sebuah tradisi unik yang juga pernah difilmkan dalam sebuah film berjudul Leap Year. Filmnya sendiri kurang menarik dan mengambil rute ajaib untuk menuju Dublin.

Tak ada yang tahu bagaimana awal mulanya perempuan diperkenankan untuk melamar pria pada tanggal ini. Tetapi konon tradisi kuno ini bermula pada abad ke lima ketika St. Brigit dari Kildare protes kepada St. Patrick. (St. Patrick merupakan sosok yang sangat dihormati di Irlandia, beliau dipercaya sebagai penyebar agama Katolik dan tentunya dipercaya mengusir semua ular dari Irlandia. St.Patrick’s Day diperingati setiap tanggal 17 Maret. Link untuk membaca perayaan hari ini ada di bagian akhir tulisan ini). Balik lagi ke St. Brigit, ketika itu ia protes karena perempuan harus menunggu untuk dilamar protes ini kemudian ditanggapi oleh St. Patrick yang memutuskan memperbolehkan perempuan melamar pria pada tanggal 29 Februari. Hanya pada tanggal tersebut.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir agak aneh juga kenapa St. Brigit memprotes proses menunggu ini, karena sebagai suster ia tak memiliki kepentingan untuk kawin. Mungkin saja saat itu ia memperjuangkan kepentingan perempuan-perempuan yang lelah menunggu pria melamar. Tapi yang lebih aneh lagi, St. Brigit lahir pada tahun 453 sebelum masehi sementara St. Patrick meninggal pada tahun 461 sebelum masehi. Berarti St. Brigit berusia setidaknya delapan tahun ketika St. Patrick meninggal dunia. Tentu saja otak saya tak bisa memahami kapan kira-kira St. Brigit bertanya pada St. Patrick. Masak anak umur 8 tahun protes soal lamar-melamar ketika mungkin ia masih sibuk belajar membaca secara benar.

Setiap kali melamar, selalu ada resiko untuk ditolak. Ternyata tradisi mengharuskan pria-pria yang menolak lamaran untuk membayar penalti. Penaltinya macam-macam, dari mulai kain hingga 12 belas buah sarung tangan. Sarung tangan ini kemudian berfungsi untuk untuk menyembunyikan jari-jemari, bukan dari gigitan hawa yang dingin tapi dari mata-mata yang menghakimi karena jari-jemari tersebut tak berhiaskan cincin pertunangan apalagi cincin perkawinan. Ah kejamnya mata-mata tersebut.

leap year proposal

illustration: leapyearday.com

Tradisi melamar pada tanggal 29 Februari ini tak hanya dilakukan di Irlandia, tapi juga banyak diadopsi negara-negara lain seperti Finlandia, Amerika, Perancis, Scoatlandia dan tentunya Inggris. Tapi ternyata tradisi ini tak hanya ada di negara-negara barat saja, hasil google saya menunjukkan bahwa di pesisir utara Jawa, tepatnya di Lamongan ada tradisi turun-temurun yang mirip sejak Raden Panji Puspokusumo, penguasa Lamongan pada 1640 – 1665. Bedanya, di negara barat perempuan hanya diperkenankan melamar pada satu hari itu saja, sementara di Lamongan mereka bisa melamar kapan saja dengan membawa aneka rupa seserahan.

Tradisi ini konon dimulai ketika dua anak kembar Panji Puspokusumo ditaksir oleh dua putri kembar raja Wiroboso (sekarang dikenal dengan sebutan Kertosono, Nganjuk) dan sang raja pun melamar kedua putra kembar tersebut demi putrinya. Ah manisnya.

Saya sendiri jika diminta melamar pasangan tak berkeberatan, tapi males. Males nyari-nyari momen apalagi nyari-nyari cincin. Bagaimana dengan kalian, lebih suka dilamar atau melamar?

xx,
Tjetje

Baca juga: Perayaan Hari Saint Patrick
Tradisi melamar pria di Lamongan

Bahasa Inggris Irlandia dan ‘Keanehannya’

Kata orang, dengan kemampuan bahasa Inggris saya yang sebenarnya biasa-biasa aja ini, saya akan bertahan dan mudah beradaptasi di Irlandia. Tapi ternyata, adaptasi bahasa di Irlandia bukanlah hal yang mudah, karena saya jauh lebih familiar dengan bahasa Inggris Amerika dan kurang paham dengan Irish English, apalagi dengan bahasa slang mereka.

Tantangan pertama dalam memahami Inggris Irlandia adalah aksen mereka yang kental. Kalau sudah berkumpul dengan segerombolan orang Irlandia, apalagi  ngumpulnya di dalam pub, saya cuma bisa berkata yas-yes-yas-yes padahal tak mengerti satu katapun yang mereka ucapkan. Apalagi kalau yang ngomong berkumur-kumur dan tak jelas. Saat itu rasanya kalau boleh memilih saya lebih baik dimasukkan ke dalam bioskop dan disuruh nonton film tanpa teks, ketimbang mendengarkan segerombolan orang Irlandia ngobrol. Film Amerika ya, bukan film Irlandia!

Saya tidak sendirian, rupanya banyak orang yang seringkali tak paham dengan aksen Irlandia. Dalam sebuah perhelatan, tiga orang teman saya berbincang-bincang dengan pasangan saya. Dua orang yang berasal dari daratan Eropa berakhir kebingungan dan pembicaraan tersebut harus diterjemahkan ulang oleh rekan saya yang dari Inggris. Padahal, aksen Irish pasangan saya tidaklah ‘semedok’ orang-orang Irlandia lainnya. Lucunya hingga saat ini sahabat saya masih ada yang ‘ketakutan’ jika ditinggal berduaan dengan pasangan saya, ketakutan tak memahami bahasa Inggrisnya. Harap dimaklumi, sahabat saya ini memang belajar bahasa Inggris di Amerika.

Perjuangan memahami Inggris Irlandia ini masih ditambah dengan pelafalan bahasa Inggris yang tak sama. Beberapa waktu lalu, saya duduk di samping kakek tua yang bersemangat mengajak saya ngobrol tentang Irlandia dan cuacanya. Obrolan kami kemudian mengarah pada bencana banjir di Galway, sebuah kota di barat Irlandia. Si Bapak tak bisa menangkap bahasa Inggris saya, karena saya melafalkan banjir, flood, sebagai /flʌd/. Sementara bagi bapak ini (dan kebanyakan orang Irlandia) melafalkannya seperti flute tetapi dengan huruf d di belakang. Si kakek ngeyel bahwa pelafalan itu yang benar, sementara saya tak bergeming. Saya tak mau berbicara Inggris dengan aksen Irish, sekalipun aksen ini dianggap seksi, karena tak ada yang paham. Flood bukan satu-satunya kata yang membawa kesalahpahaman. Ada banyak kata-kata lain, terutama yang mengandung huruf U. Disini, huruf U memang dilafalkan secara jelas, jadi bus bukan bʌs.

Selain urusan pelafalan, saya juga harus berhadapan dengan tata bahasa yang jauh dari pakem. Salah satu contohnya penggunaan pronoun possesive: my. Bagi yang nonton PS I Love You pasti ingat ketika Gerry berkata “me arse”. Nah disini, my memang digantikan dengan me. Me mother, me-self, me folks, dan segala me-lainnya. Gak penting banget sih tapi tiap kali dengar orang berbicara seperti ini saya pengen mengkoreksi, it’s my, not me.

Urusan membaca jam di Irlandia juga agak ngacau. Jam 2.30 yang seharusnya dibaca sebagai half pas two oleh mereka dibaca langsung menjadi half two. Ini gak cuma Irlandia sih yang begini, di Inggris juga sama aja. Nah kalau ada orang Indonesia yang mengartikan bahasa Inggris kata-perkata maka jam 2.30 ini bisa diartikan sebagai setengah dua.

Kesulitan lain yang saya hadapi adalah kosakata Inggris yang lagi-lagi jauh berbeda dengan Inggris Amerika. Kentang goreng misalnya disebut sebagai chips, bukan fries. Terdengar sepele memang, tapi kalau sedang ngidam keripik kentang dan order keripik kentang yang muncul kentang goreng kan lumayan fatal (ini saya pernah ngalamin sendiri). Btw, sampai saat ini saya tak bisa melafalkan crisps dengan baik dan benar, mungkin karena dari hati saya sudah nggak niat belajarnya. It’s chips, not crisps. Gak hanya urusan kentang saja, ada banyak sekali koleksi kata-kata yang berbeda ini, dari mulai liburan sampai bagian-bagian mobil. Saking seringnya menggunakan koleksi kata Inggris Amerika saya sampai “dituduh” ingin mengamerikanisasi (aduh ini gimana sih nulisnya) keponakan saya yang masih piyik. 

Orang Irlandia juga memiliki koleksi-koleksi slangnya sendiri. Bertanya kabar misalnya tak dijawab fine or good, tapi dijawab “grand”. Mereka juga suka sekali mengucapkan kata yoke yang berarti hal-hal yang tak diketahui namanya.  “I bought that yoke for a fiver”, “This yoke is not working”, “Pass me that yoke”. Apa aja yang gak ketahuan namanya atau kelupaan namanya diganti semua jadi yoke. Sapu yang kelihatan di depan mata pun bisa dirubah namanya menjadi yoke. Mereka juga suka sekali mengucapkan kata ‘your man’. “That is your man there” yang kira-kira jika diartikan berarti itu orangnya. Your man ini rupanya kata pengganti untuk menghindari menyebutkan nama orang. Anehnya, mereka punya istilah “I will yea” yang memiliki sense negative padahal tak mengandung kata not sama sekali. Jadi, kalau ada orang ditanya mau teh dan dijawab “Sure, I will yea”, artinya gak mau.

Urusan mengumpat di dalam bahasa Inggris Irlandia juga “tak kalah anehnya”. Seperti saya tulis di atas huruf U di dalam Inggris Irish dibaca sebagai U kalau ada yang mengumpat fuck maka dibaca dengan dengan huruf u. Mirip-miriplah pengucapannya dengan krim perawatan wajah Tje Fuk.  Orang Irlandia juga memiliki versi halus dari fuck yaitu feck; feck off, for feck sake dan aneka rupa feck lainnya. Selain the f word, mereka juga menggunakan kata shite sebagai pengganti dari shit. Dengan mayoritas masyarakatnya yang beragama Katolik, maka jangan heran kalau banyak yang menggunakan Jaysus sebagai exclamation. Persislah kayak orang Indonesia yang sering memakai kata “ya Allah”. Terus terang saya masih sering ketawa-ketawa sendiri jika mendengarkan orang-orang Irlandia misuh dengan caranya sendiri karena terdengar kurang serius.

Feck Off

Anggapan saya bahwa bahasa Inggris Irlandia itu bahasa yang aneh sebenarnya karena saya tak terbiasa saja dengan koleksi kata, tata bahasa dan juga slang mereka. Seiring dengan waktu tentunya saya akan semakin memahami bahasa Inggris mereka. Bahasa Inggris yang menyumbang banyak pemasukan bagi negeri ini karena banyak pelajar dari negara-negara seperti Amerika Latin dan Spanyol yang belajar bahasa Inggris disini. Selain urusan visa yang relatif mudah, belajar bahasa Inggris di Irlandia juga murah.

Kalian, pernah berurusan dengan slang atau aksen yang ‘aneh’?

Xx,
Tjetje
Berbicara bahasa Inggris dengan aksen Jawa

Cerita Kematian

Saya jarang sekali bercakap-cakap dengan tetangga sebelah rumah, kalapun ada biasanya hanya obrolan ringan tentang cuaca Irlandia dan bisa dihitung dengan jari di tangan kiri. Awal bulan Januari lalu ada ambulans lengkap dengan lampu disko birunya parkir di depan tempat kami tinggal. Saking cerahnya, lampu tersebut masuk ke dalam rumah dan lumayan menyilaukan kami yang ada di dalam. Rupanya tetangga kami sakit dan harus masuk ke rumah sakit. Kami para tetangganya tak repot menjenguk ataupun menanyakan kabar.

Menjelang akhir bulan, tetangga kami meninggal. Tak ada bendera kuning, kursi, apalagi tenda. Semuanya begitu tenang, tampak normal seperti hari biasa. Kami sendiri mengetahui berita ini karena ibu mertua yang tinggal tak jauh dari rumah kami mengetuk rumah mereka untuk menanyakan kabar tetangga yang sakit. Entah kenapa malam itu ibu mertua tak tahan dan tergerak mengetuk rumah tetangga untuk menanyakan kabar.

Kematian tetangga saya ini bukan kematian pertama yang saya lihat di Irlandia. Sebelumnya saya sudah sempat menengok upacara kematian yang tak seperti di Indonesia. Disini proses penguburan memerlukan waktu beberapa hari dan biaya yang tak murah. Setelah meninggal, biasanya jenasah dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan selama satu atau dua hari, tergantung situasi. Tetangga dan kenalan pun bergantian menengok yang berpulang untuk memberikan penghormatan terakhir. Tak ada yang membawa amplop, beras ataupun gula di dalam nampan yang ditutup oleh serbet. Banyak keluarga jaman sekarang yang juga menolak pemberian bunga.

Di Dublin, pakaian hitam sebagai tanda duka yang diinspirasi oleh Ratu Victoria sudah tak digunakan lagi. Sementara pada peristiwa kematian lainnya, saya lihat hanya keluarga yang mengenakan pakaian hitam. Yang pria mengenakan jas dan dasi, sementara yang perempuan mengenakan gaun berwarna hitam. Mereka yang memberikan penghormatan mengenakan pakaian sesuai musim, saat musim dingin berjaket tebal, sementara saat musim panas mereka datang mengenakan pakaian berwarna cerah dengan sandalnya. Sungguh jauh dari kesan muram durja kematian.

Dari rumah duka, jenasah biasanya dibawa menuju ke gereja untuk removal. Saat removal ini keluarga yang mengenakan pakaian hitam berjalan di belakang kendaraan yang membawa peti jenasah dari rumah duka ke gereja. Sepanjang jalan kendaraan memberikan jalan dan orang-orang berhenti sejenak untuk membuat tanda salib ketika melihat peti jenasah tersebut. Tak ada anak-anak muda yang repot membawa bendera warna kuning dan menutup jalan untuk memberikan jalan, karena otomatis tanpa perlu diberi komando orang berjalan melambat memberikan jalan bagi jenasah.

Setelah removal, keesokan harinya dilakukan misa arwah. Wah ini prosesi yang sangat mengharukan dan menyedihkan. Tetangga saya sendiri harus disemayamkan di rumah duka agak lama karena gereja sudah fully booked. Rupanya banyak orang yang meninggal dunia pada akhir pekan tersebut sehingga sang Pastor tak bisa melayani misa lagi. Seusai misa, jenasah bisa dikuburkan ataupun dikremasi sesuai keadaan ekonomi masing-masing dan juga pilihan dari yang meninggal dan keluarganya.

Di Dublin, kremasi jauh lebih murah ketimbang dimakamkan, karena satu petak tanah kuburan harganya tak murah, sekitar 2000€. Jauh lebih murah tentunya ketimbang pemakaman super mewah di dekat Jakarta sana. Tak semua orang Irlandia menerima ide kremasi dengan tangan terbuka, terutama mereka yang tinggal di pedesaan yang belum kenal dengan konsep kremasi. Prosesi pemakaman ini sendiri biasanya memerlukan setidaknya 6000 Euro atau sekitar sembilan puluh juta rupiah. Tak ada gotong royong, keluarga yang berduka mesti menyiapkan sendiri atau lewat asuransi.

Ereveld Ancol

Ketika prosesi pemakaman usai, masih ada lagi satu tradisi yang banyak dijalankan oleh orang-orang disini, yaitu pergi ke pub untuk sekadar minum. Tradisi ini untuk menemani keluarga yang ditinggalkan supaya tidak sendirian. Mereka yang berpulang kemudian dikenang dan dibicarakan dengan cara yang baik, diberikan banyak toast, dan tak satu hal yang jelek dibicarakan. Jika pernah melihat film PS I Love you, ada satu sesi dimana semua keluarga berkumpul menegak Jameson’s dan mengenang Gerry di dalam pub. Nah mirip-mirip deh.

Beberapa waktu lalu saya bertemu suami dari tetangga yang meninggal. Saya pun berbincang dan mengucapkan belasungkawa. Dia bercerita tentang prosesi pemakaman dan bagaimana indahnya cuaca saat prosesi berlangsung (disini cuaca memang topik yang gak ada matinya), satu hal yang kemudian bikin saya sedih, dia berkata: “I will never get over it”. Ah ditinggal mati memang sebuah patah hati yang tak pernah bisa tersembuhkan.

Bagaimana prosesi kematian di tempat kalian tinggal?

Xx,
Tjetje
Baru saja menggoogle apa yang akan terjadi jika ratu Inggris meninggal, ternyata ribet.

Baca juga: Ereveld Peristirahatan Penuh Kedamaian

 

Nostalgia Telepon

Sebagai anak generasi 90-an, saya merasakan perubahan dari tak punya telpon rumah hingga kemudian kabel telpon datang ke perumahan tempat kami tinggal. Ketika kabel tersebut datang rasanya girang luar biasa, mungkin persis dengan orang-orang jaman dahulu yang kedatangan kabel listrik untuk pertama kalinya.

Keriaan ini tak berhenti hingga kemudian telepon berdering. Perebutan mengangkat telepon pun terjadi demi bisa berbicara dengan telepon. Norak sih, tapi girangnya ketika mendengar telepon berbunyi itu memang tak bisa dibandingkan dengan keriaan jaman sekarang ketika telepon genggam kita berbunyi. Saya akan semakin girang jika panggilan tersebut adalah panggilan yang bersifat interlokal atau bahkan internasional, dari sanak saudara yang jauh. Ah rasa senang bisa berbicara dengan mereka, saat itu sungguh tak terdeskripsikan. Ya maklum jaman segitu belum ada sosial media, apalagi internet.

Sebagai anak nakal, tak sah tentunya jika saya tak mengakali telepon yang dikunci. Batang bagian belakang lidi saya selipkan untuk memencet tombol-tombol telepon. Ide ini tak saya contek dari mana-mana, tapi datang ketika saya sedang akan tidur. Sebelum menggunakan batang lidi, saya mencoba dengan jarum rajut milik ibunda saya, tapi jarum rajut itu terlalu gemuk.

Ketika tagihan telepon membengkak, bahkan hingga bermeter-meter panjangnya, ibunda saya mengganti pesawat telepon dengan pesawat tanpa tombol. Eh sebelum digantikan, saya dimarahin habis-habisan terlebih dahulu. Tapi saya yang nakal tak kehilangan akal, saya pun belajar melakukan panggilan dengan cara memencet tombol koneksi. Entah apa nama yang tepat untuk tombol ini. Satu kali untuk angka satu, dan sepuluh kali untuk angka nol. Teknik ini sering berhasil tapi juga sering gagal. Yang jelas, saya memastikan tagihan telepon terlihat wajar-wajar saja dan tak tinggi.

Selain telpon rumah, saya juga pengguna telpon umum, seperti telepon koin, hingga telepon kartu, baik yang tipis maupun yang menggunakan chip. Jaman itu, salah satu tetangga saya berhasil melubangi koin seratus rupiah dan mengikatnya dengan benang. Ketika hubungan telepon tersambung, tangan pun harus cepat menyambar koin supaya tak segera masuk ke kotak. Bicara di telepon pun harus cepat, karena dengan ongkos seratus rupiah, kita hanya diperkenankan berbicara selama tiga menit saja. Ketika ongkos telepon naik, dengan koin yang sama kita hanya bisa berbicara selama satu menit. Tak hanya itu, bicara pun harus kencang, karena seringkali pengguna harus bersaing dengan suara kendaraan yang lewat.

Ketika telepon kartu hadir, saya ingat betul PT Telkom berkata bahwa kartu telpon seharga dua puluh lima ribu rupiah tersebut tak bisa diakali. Faktanya, kartu-kartu tersebut bisa diakali dengan mudahnya dengan menempelkan isolasi berwarna hitam. Tentu saja ada teknik khusus yang saya tak tahu bagaimana, tapi yang jelas kartu tersebut bisa digunakan hingga berpuluh-puluh kali hanya dengan membayar mahasiswa-mahasiswa teknik sebesar lima ribu rupiah saja. Akibatnya, kartu menjadi tergesek-gesek dan tak bisa dikoleksi lagi.

Berbicara tentang telepon tentunya tak bisa lepas dari jasa warung telekomunikasi, atau yang lebih lazim disingkat menjadi wartel. Ruang-ruang wartel biasanya dibedakan untuk yang khusus interlokal serta yang khusus lokal saja. Berbicara di wartel pun harus berbisik-bisik, supaya mereka yang ada di kubikel sebelah tidak terganggu dan tak mendengar bisikan-bisikan khas remaja yang baru berkenalan dengan asmara.

Telepon rumah sudah bukan menjadi barang mewah lagi, bahkan dianggap sebagai barang kuno yang tak terlalu penting. Di Irlandia, kami mendapatkan telepon rumah secara gratis dari penyedia internet dan tv kabel kami. Saking gratisnya, biaya telepon ke beberapa negara pun digratiskan.

wpid-20140912_195136.jpg

Telpon umum di Galway

Telepon umum sendiri, perlahan-lahan mati karena kehadiran telepon genggam. Di Irlandia, telepon umum masih bisa ditemukan di beberapa sudut kota. Bahkan di Cork, saya menemukan telepon umum di dalam pub. Bodohnya, telepon tersebut tak saya abadikan. Saya tentunya tak tahu apakah telepon tersebut masih berfungsi atau tidak, karena ide untuk masuk ke dalam bilik telepon umum membuat saya geli, apalagi telepon umum tersebut dalam kondisi kotor. Kondisi telepon umum ini masih sedikit lebih baik ketimbang telepon umum di Indonesia yang lebih sering gagang atau bahkan teleponnya hilang.

Dari semua kenangan terindah saya dengan pesawat telepon, momen terindah bagi saya terjadi di sebuah telepon umum yang rusak. Ketika itu puluhan koin seratus seratus rupiah keluar dari bagian bawah telepon umum. Rasanya seperti menang jackpot walaupun uangnya hanya cukup untuk sekedar membeli anak mas rasa keju dan chiki balls.

Apa kenangan terindah kalian tentang telepon?

Xx,
Tjetje
Masih suka makan Chiki

 

Anak Kost dari Neraka

Judul postingan ini memang agak provokatif karena saya menyadur bahasa Inggris “Lodger from Hell”. Ceritanya, saya yang sedang menjadi ibu kos ini harus berhadapan dengan anak kos yang kelakukannya aneh-aneh. Berhadapan dengan anak kos bukanlah hal yang aneh buat saya, karena ibu saya juga pernah menjadi ibu kos. Mereka yang pernah ngekos di rumah saja ada yang super baik ada pula yang kelakukannya ajaib. Keajaibannya bermacam-macam, dari yang tak menyeterika pakaian dan meletakkannya di bawah kasur supaya lurus (dan ternyata pakaiannya rapi), hingga yang mencari oom-oom di pinggir jalan (untuk bayar kos!).

Anak kos pemburu oom-oom ini satu ketika berada di pinggir jalan utama tak jauh dari kediaman kami. Saat itu ia berdiri berdua bersama seorang anak kos yang cukup relijius. Entah bagaimana, tiba-tiba sang anak kos berhasil menghentikan Oom-oom di pinggir jalan hingga kemudian terjadi proses tawar-menawar. Transaksi pun disetujui dan pemberian jasa akan dilakukan di kota tahu, Kediri. Anak kos relijius yang terseret dalam transaksi itu tak mau terlibat dan minta diantarkan kembali pulang. Sebelum turun meninggalkan kendaraan, ia diberi uang 250.000 rupiah. Peristiwa ini membekas sekali di kepala saya, karena Mbak yang kejatuhan uang ini mengajak saya nonton dan mentraktir saya belanja. Prinsipnya uang tersebut harus dihamburkan dan jaman itu, menghamburkan 250.000 begitu susah. Bagaimana tak susah jika ongkos nonton bioskop saja masih 2500 saja. Lebih membekasnya, anak kos yang dibawa oom-oom itu baru pulang keesokan harinya, dan langsung membayar uang kos yang sudah terlambat selama berhari-hari. Hidup itu keras!

Jika ibunda saya menampung anak-anak kost dari berbagai sudut nusantara yang penuh drama, saya menjadi ibu kos internasional. Anak-anak kos yang tinggal bersama kami berasal dari aneka rupa negara. Baru-baru ini, salah satu anak kos saya dideportasi karena keseringan bolos. Anak kos ini memegang visa pelajar bahasa Inggris, tapi jika bertemu dengan kami ia dia seribu bahasa karena tak bisa bahasa Inggris. Komunikasi hanya bisa kami lakukan dengan pasangannya yang orang Spanyol. Tak lama setelah ia diderpotasi, pasangannya kembali ke negaranya. Rupanya mereka berdua memang berada di Irlandia supaya bisa pacaran. Ah pacaran kelas internasional nih!

Kamar yang kosong ini kami sewakan kepada seorang pendatang baru di Irlandia. Dari mulai hari pertama, mbak ini sudah ‘berulah’ karena tak punya selimut di kamarnya dan tak mau beli selimut sendiri. Di negara dia sewa kamar sudah termasuk selimut, tapi masalahnya kita berada di Irlandia. Urusan gak mau modal ini ternyata masih berlanjut karena dia gak punya kabel colokan. Alih-alih permisi minjam, dia buka lemari di living room kami dan makai kabel tanpa permisi. Tiap kali kabel diminta, besoknya diambil lagi tanpa permisi. Alhasil kalau saya perlu, saya yang harus kerepotan.

Satu hal yang tidak saya prediksi, ia datang dari tempat yang dikelilingi laut, otomatis kalau ngomong saingan sama ombak. Suatu kali di tengah malam yang sunyi, anak kos ini menyalakan musik kencang-kencang. Ditegur, boro-boro minta maaf, ngerespons aja engga. Kalau bicara di telpon, atau skype juga tak kalah kencangnya dan tak kenal waktu. Kalau ketawa, ampun deh kenceng banget kayak nenek sihir. Buka dan nutup pintu juga gitu, gebrak-gebrak tak bisa pelan. Parahnya, sudah dipanggil, didudukkan dan ditegur, masih aja gak bisa mengecilkan suara. Emang suara itu bawaan orok, saya pun sebagai orang Malang kalau ngomong super kencang. Tapi berada di Eropa yang super senyap, saya juga berusaha dan belajar untuk tidak bersuara dengan kencang, terutama di malam hari.

Selain suara, kebersihan juga jadi hal yang bikin saya pengen garuk-garuk. Kompor selalu ditinggal bermandikan cipratan minyak, persis kaya pedagang nasi goreng yang meninggalkan jejak minyak hitam di atas trotoar. Penggorengan juga seringkali ditinggalkan di atas kompor; kalaupun dipindahkan gak dicuci sampai berapa hari.  Dapur dan rumah juga jadi bau tak karu-karuan karena sang anak kos malas menyalakan exhaust. Yang ngegemesin, ditegur pun nggak berubah. Saking frustasinya,  saya sudah pengen ngeluarin aja, apalagi pas dia berkomentar tak sopan tentang berat badan. Anak kost ini berkata bahwa saya bertambah gemuk sejak terakhir ia bertemu ya. Nyebelinnya kami terakhir ketemu malam sebelumnya. Langsung sensi deh dan pengen buka jendela dan lempar-lempar barang dia dari jendela seperti di drama-drama televisi. Tapi di negeri ini, anak kos tidak bisa seenaknya dikeluarkan, plus saya kasihan bener karena dia baru di negeri ini.

Masalah saya dengan anak kos ini masih banyak, termasuk repotnya menjelaskan tentang urusan sampah, sampah yang tak bisa didaur ulang misalnya dimasukkan ke dalam kotak sampah makanan. Aduh gemes deh pengen saya uyel-uyel padahal informasinya sudah jelas dan ada di pintu kulkas. Kalau dijelaskan pun masih ngeyel dulu, tapi begitu ditunjukkan kicep. Ya beginilah kalau dapat anak kos yang baru datang di negeri orang, mesti ngajarin ini itu. Ya bayangin aja gimana ngurusin proses integrasi migran yang membanjiri Eropa.

Menjadi ibu kos berarti juga mengalami hal yang aneh-aneh. Si anak kos pria di kos saya sering kedatangan pacarnya. Sang pacar, sebut saja namanya Mawar, tinggal di dekat rumah tetangga kami, dan mendapatkan kos atas rekomendasi ibu mertua saya. Saya cinta banget sama Mawar ini karena kalau dia lagi iseng bersih-bersih kamar mandi, kamar mandi saya jadi bersih buaaaaaanget. Suatu hari, sang anak kos pria mengirimkan sms, permisi mau bawa temannya menginap di rumah. Eh tapi setelah diberi ijin dia bilang: “tolong ya, Mawar gak perlu tahu tentang hal ini.” Ya geblek, rupanya bawa selingkuhan. Tapi edannya pacarnya tinggal gak jauh dari sini, cari mati bener deh. Dalam hati saya berdoa, semoga selingkuhannya hamil, biar geger sekalian dunia perkost-kostan di Dublin.

Punya pengalaman dengan anak kos atau tetangga kos?

xx,
Tjetje

Baca juga: Memilih Kost di Jakarta