Konser Romantis Rio Febrian

Rio Febrian merayakan 15 tahun karirnya di Indonesia dengan konser bertajuk Love 15, Romantic Concert. Tak terasa sudah lima belas tahun ya sejak Rio menyanyikan lagu  I believe I can fly di Asia Bagus, lagu yang kalau dia yang nyanyi bikin merinding. Seperti biasa, ketika tiba di tempat konser, penikmat musik akan selalu disambut dengan gerombolan calo yang menawarkan tiket konser, harganya berkali lipat dari harga normal. Biasanya harga ini baru akan turun ketika penyanyi sudah mulai bernyanyi. Beberapa calo juga sempat mencoba mencari tahu jika saya memiliki kelebihan tiket, untuk dijual kembali.

IMG_1713

Gerombolan calo

Selain disambut calo, saya juga disambut SPG IndiHome yang hari itu menjadi salah satu sponsor pertunjukan Rio Febrian. Aslinya saya pikir IndiHome ini toko perabotan, tapi ternyata IndiHome ini merupakan anak perusahaan Telkom yang menawarkan TV Kabel, internet fiber (yang barusan saya google lebih cepet daripada internet biasa) serta telpon rumah.

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa saya masih sempat ngobrol dengan calo, mampir ke booth sponsor, ngobrol sama mas-mas perobek tiket, foto-foto aneka rupa pose, mainan Hayday sambil gelongsoran di tengah balai Sarbini, bahkan merhatiin sponsor-sponsor (sampai saya hapal kalau Telkom taglinenya sekarang jadi menggengam dunia), karena konsernya super telaaaat sodara-sodara. Konser yang dijadwalkan jam 19.00 malam itu belum juga mulai ketika kami masuk pukul 19.30. Akhirnya setelah penuh penantian, konser ini baru mulai jam 20.20.

IMG_2006

Yang gak disangka-sangka, konser ini ternyata bertaburan bintang. Glenn Fredly yang malam itu dikatakan tidak bisa datang, memberikan video ucapan selamat kepada Rio. Modusnya sih gak bisa datang, tapi di tengah-tengah lagu Katakan Kau Milikku, si Glenn Fredly nongol. Jangan tanya gimana histerisnya saya, karena saya emang ngefans berat sama Glenn. Nggak cukup nyanyi satu lagu, Glenn juga sempet nyanyiin All My Life yang jaman dulu banget pernah dinyanyiin berdua sama Rio. Video lama ini bisa ditengok disini. Menurut Glenn, yang hobi banget becanda, video lama ini diambil ketika Tompi (yang saat itu duduk di kursi penonton) masih belum jadi penyanyi dan masih bermimpi satu hari nanti harus bisa nyanyi sama Glenn. Kayaknya si Glenn salah, mungkin saat itu Tompi lagi bedah cadaver.

Glenn Fredly

Glenn Fredly, I love you!!! Kutunggu dirimu di Dublin ya!

Nggak cukup dengan Glenn, ada Audi Item yang berduet dengan Rio menyanyikan lagu Janji di Atas Ingkar. Andi Rianto, Yovie Widianto, dan peniup trompet, Rio Siddik  juga muncul mengiringi Rio bernyanyi. Malam itu Rio juga menghadirkan satu lagu milik Koes Plus yang berjudul Why Do You Love Me? Pendeknya malam itu super romantis, saking romantisnya, mawar putih pun dibagi-bagikan ke penonton yang kebanyakan perempuan. Selain mawar, handuk bekas ngelap keringatnya juga dilempar ke penonton dan yang beruntung dapat handuknya adalah rekan saya Eka. Semoga saja Eka ingat untuk mencuci handuk itu.

IMG_1986

Eka yang dapat handuk bekas lap keringat… Abaikan saja @nagacentil yang lagi nyanyi penuh penghayatan

Salah satu lagu Rio juga sempat diremix supaya penonton bisa bergoyang, tapi ya bow, saya perhatiin sekilas orang-orang banyak yang berdiri tertegun aja sambil pegang-pegang HP untuk ambil video ataupun ambil foto. Jangan salah, saya juga ikutan nimbrung ambil seribu foto, ngetes kemampuan hp untuk mengambil foto saat konser, serta kemampuan tangan menjaga HP supaya gak goyang. Tapi disela-sela motret-motret itu saya tetep menikmati alunan musik sambil menari-nari. Suka perhatiin gak sih kalau di konser, atau bahkan di tempat dugem, banyak banget orang yang diam membeku?

Rio Febrian

Andi Rianto di ujung kiri ketutupan topi tuh.

Album terbaru Rio Febrian berjudul Love is dan sebelum dia menyanyikan lagu itu ada video pendek yang menayangkan definisi cinta menurut beberapa artis ternama Indonesia. Video ini, menurut saya, dimunculkan supaya Rio juga punya waktu untuk ganti baju. Saya hitung-hitung, malam itu dia ganti baju dan sepatu setidaknya empat kali, tapi handuknya cuma ada sebiji, gak empat biji. Balik lagi ke definisi cinta, definisi yang paling teringat di kepala saya sih definisi yang dibuat Indi Barends. Cinta itu seperti jailangkung, datang tak dijemput, pergi tak diantar. Tapi kalau datang disambut ya. Bow, kalau kayak jailangkung, jadinya cinta mengerikan dong.

Konser apa yang pengen banget kamu tonton? Saya pengen nonton Ed Sheeran!

xx,

Tjetje

PS: Video Glenn nyanyi belum bisa ditransfer dari HP, tapi minggu ini semoga bisa dipasang di blog.

Car Free Day Jakarta

https://instagram.com/p/5mjdYKwxhT/?taken-by=binibule

Kendati tinggal tak jauh dari jalan utama Jakarta, Sudirman, serta pernah punya hobi lari, saya termasuk tak rajin menyambangi car free day (CFD). Panas, kepadatan manusia serta kemalasan bangun pagi menjadi beberapa alasan utama saya tidak menggemari inisiatif yang cukup bagus ini. Menjelang saat-saat meninggalkan Jakarta, saya memasukkan CFD ke dalam salah satu hal yang harus saya lakukan, selain karena pengen motret abang-abang starbike, saya juga pengen foto di depan Monas. Keputusan yang tepat, karena di CFD saja bisa mengamati aneka perilaku manusia dan tentunya trend dagangan terkini.

Starbike

Membuang sampah sembarangan masih menjadi penyakit utama manusia. Tempat sampah yang disediakan tak mampu menggerakkan hati manusia untuk mau membuang sampah. Petugas yang menghimbau melalui alat pengeras suara di sekitaran Bundaran HI juga tak digubris. Entah orang-orang ini terlalu sibuk selfie dengan bundaran HI atau mungkin kesadaran untuk membuang sampah memang belum ada. Agaknya Pak Anies Baswedan perlu membuat program yang mendisiplinkan generasi-generasi masa depan supaya tidak punya penyakit buang sampah sembarangan.

Es Goyang

Kerumunan massa yang cukup besar tentunya menarik perhatian copet. Ketika saya berada disana, seorang yang diduga copet tertangkap. Pria muda yang usianya saya duga masih belasan tahun, belum juga genap dua puluh tahun ini diapit dua orang pria dan digiring ke pos Polisi di bundaran HI. Ia membela diri dengan berargumen tak sengaja menabrak si korban. Seorang Bapak yang nampaknya sudah cukup emosi, si Bapak mengenakan baju bertuliskan Car Free Day, tak segan-segan menampar muka anak muda itu. Jelas saja aksi itu menarik perhatian banyak orang, tapi tak seorangpun, termasuk saya, yang menegur si Bapak itu. Sayang peristiwa itu tak hanya terekam di kepala saya, saya terlalu tertegun hingga lupa mengabadikannya.

IMG_0931

Car Free Day yang diinisiasi Pemerintah Provinsi DKI sejak tahun 2002 juga menjadi ajang perkumpulan penyuka hobi-hobi tertentu. Penikmat sepeda onthel misalnya, berkumpul di depan Plaza Indonesia dengan sepeda tua dan kostum kunonya. Sementara beberapa penggemar reptile juga tak berkumpul di beberapa titik untuk memamerkan ular ataupun iguana kesayangannya. Nampaknya BKSDA mesti rajin ikutan CFD untuk melihat kemungkinan hewan-hewan yang dilindungi dibawa berkeliling disini.

Kukang

Saya juga memperhatikan beberapa kelompok penggemar sepak bola. Sempat terjadi percekcokan mulut antara satu grup pendukung grup sepakbola dari Timur Indonesia dengan satu grup yang saya tak tahu. Grup yang satu menghina mereka yang dari Timur Indonesia. Tentu saja mereka tak terima tapi untungnya mereka tak jadi tawuran. Tak habis pikir mengapa saudara sebangsa dan setanah air kita mesti saling menghina.

Ular

Ajang CFD ini mulanya untuk memberikan ruang publik kepada masyarakat untuk beraktivitas seperti berjalan kaki, bersepeda, ataupun lari dengan anjing kesayangan. Tapi saya melihat ada pergeseran, CFD menjadi pasar kaget hari minggu yang menjual aneka rupa hal, dari makanan kucing, jam KW, sampai sepatu olahraga. Trend yang cukup baru adalah plastik spiral warna-warni untuk membungkus dan melindungi kabel. Harga yang ditawarkan tak terlalu mahal, sepuluh ribu untuk tiga kabel. Tapi sebenarnya harga ini lebih mahal dari harga di stasiun kereta yang hanya sepuluh ribu empat. Selain kabel pembungkus, ada juga clip untuk mengaitkan kabel. Harganya lagi-lagi lebih ‘jauh lebih mahal’ daripada harga biasa yang hanya enam ribu rupiah. Soal makanan jangan ditanya, ada bubur ayam, susu sapi segar, lontong sayur dan aneka rupa makanan lainnya. Pengamen ondel-ondel juga banyak, malah tak hanya ondel-ondel tapi juga Masha yang dengan manisnya berpose untuk saya. Anehnya, saya melihat beberapa anak kecil cium tangan dengan si Masha ini. Aneh sungguh aneh.

https://instagram.com/p/5nqXCcwxvT/?taken-by=binibule

Orang Jakarta memang haus dengan ruang publik dimana semua orang bisa berinteraksi dan berolahraga. Tapi alangkah indahnya jika ruang public ini tak dipenuhi dengan sampah dan pedagang dadakan, karena sesungguhnya berjalan-jalan, apalagi lari, di antara orang-orang yang sedang melihat-lihat barang dagangan itu nggak nyaman sama sekali.

https://instagram.com/p/5meSoFwxms/?taken-by=binibule

Di kotamu, adakah car free day? Jika ada, cerita dong.

Xx,
Tjetje

Perjalanan Dinas

Banyak orang yang berkata kerja kantoran itu enak, datang, duduk lihat computer lalu pulang dan gajian setiap bulannya. Tapi bekerja kantoran bukan melulu kerja di dalam kantor dan leyeh-leyeh di depan komputer seperti yang dibayangan orang, ada kalanya dibutuhkan perjalanan dinas keluar dari kota untuk bertemu dengan rekanan, pemangku kebijakan ataupun potential client. Perjalanan dinas itu kalau seringkali melelahkan, apalagi kalau harus terbang lama, karena mesti kerja keras dua kali lipat dengan jam kerja yang lebih panjang. Tanpa disadari, perjalanan dinas yang sering diduga enak ini menjadi sumber kecemburuan yang kemudian menyebabkan suasana kerja menjadi tidak enak.

Ada beberapa alasan mengapa perjalanan dinas bisa menjadi sumber kecemburuan, pertama soal uang. Uang saku yang diberikan kantor untuk melakukan perjalanan dinas seringkali berlebihan dan semua orang suka uang. Uniknya, kalau uang perjalanan dinas tak berlebih, selalu ada jalan untuk mencari kelebihan. Ambil contoh perjalanan yang diganti secara at cost, dalam benak kita tak ada ruang dan celah untuk mendapatkan ekstra. Tapi masih tetap ada yang bermain dengan hotel untuk menaikkan harga kamar, lalu nego hotelnya di ruang tunggu bandara Soetta, ngomongnya lewat telpon, kenceng pula.  Jika hotelnya tak mau menaikkan harga kamar, maka hotel lain yang lebih fleksibel yang akan dicari. Sementara, mereka yang mendapatkan lump sum, akan tinggal di hotel yang super murah, soal keselamatan gak penting, yang penting pulang kocek penuh uang tambahan.

business-travel

Daerah-daerah yang menawarkan uang saku besar, seperti Jakarta, Yogyakarta dan Bali menjadi daerah favorit untuk perjalanan dinas dan herannya sering sekali dijadikan tujuan konferensi-konferensi, ataupun meeting. Selain daerah wisata dan ibukota, perjalanan dinas ke luar negeri juga menjadi incaran. Alasannya bukan hanya uang, tetapi juga kesempatan untuk jalan-jalan. Perjalanan dinas memang tak melulu soal kerja, terkadang ada waktu luang yang bisa digunakan untuk jalan-jalan atau menambah hari dengan biaya sendiri untuk jalan-jalan.Terkadang lho ya, tapi ini tak setiap saat. Tapi perjalanan dinas sudah terlalu identik dengan jalan-jalan, makanya banyak yang cemburu karena tak diajak.

Nambah mileage, walaupun gak umum, juga salah satu alasan untuk melakukan perjalanan dinas. Mintanya penerbangan-penerbangan tertentu, yang harganya seringkali lebih mahal. Akibatnya, anggaran menjerit-njerit, sementara kartu keanggotan tertawa girang. Mileage yang terkumpul ini kemudian digunakan untuk jalan-jalan pribadi dan menjadi pemicu orang untuk iri. Ngomong-ngomong soal mileage, jaman dulu saya pernah berurusan dengan orang yang maunya terbang dengan penerbangan singa tetangga, bukan singa merah milik negeri ini, belum booking pun sudah ngasih kartu anggota dan ngotot gak mau terbang kalau gak pakai penerbangan itu, padahal penerbangan itu nggak direct, harus transit jadi lebih panjang dan capek, plus harganya lebih mahal. Demi mileages, apapun akan dilakukan, termasuk menghamburkan taxpayer’s money. Sampai tempat tujuan, kurang berguna dan berkontribusi. Eh capek deh.

“I’m flying to Los Angeles to use their wonderful video conferencing facilities.”

Pada awal-awal bekerja, saya bersemangat sekali dengan perjalanan dinas. Euphoria perjalanan dinas ini bertahan selama beberapa tahun, apalagi untuk daerah-daerah baru yang menarik. Tetapi, semakin lama saya semakin capek menyiapkan tetek bengek untuk pergi. Selain harus mengatur meeting beberapa minggu sebelumnya, masih harus mengepak barang sambil berhati-hati supaya gak salah kostum di daerah-daerah tertentu. Urusan bangun pagi, terkadang jam tiga pagi, juga bikin mood jadi rusak. Belum lagi jika harus berurusan dengan taksi yang tak muncul, nyasar, atau yang paling parah pengemudi yang nyetir sambil tidur. Wah soal yang terakhir ini jangan tanya gimana deg-degannya. Gara-gara kejadian itu (serta gara-gara lihat tabrakan beruntun di tol bandara), kalau pagi-pagi ke bandara saya lebih memilih untuk naik taksi premium saja, setidaknya pengemudinya lebih hati-hati karena kalau kecelakaan bayarnya lebih mahal.

Masuk bandara di pagi hari juga bukan hal yang menyenangkan karena seringkali kita disambut lautan manusia yang akan checkin untuk penerbangan pertama. Kapasitas bandara kita memang sudah tak memadai lagi dan perlu diperbesar. Dalam kondisi ngantuk dan lapar seperti itu, mencari kedai kopi juga susah, karena rata-rata baru buka pukul lima pagi. Untuk penerbangan luar negeri, antrinya ekstra, ditambahin antri imigrasi. Perjuangan perjalanan dinas seringkali tak berhenti disitu, masih ada delay, duduk kejepit diantara dua orang besar-besar, ketipu taksi di daerah tujuan, sakit perut karena makanan yang gak cocok, terpaksa makan di hotel selama beberapa hari berturut-turut, kecapekan lalu sakit, bagasi ketinggalan seperti waktu saya dinas ke Papua kemaren, serta duit habis karena beli oleh-oleh buat orang satu kantor dan karena nraktir makan para partner di daerah.

Perjalanan dinas itu tak seglamour yang dipikirkan kebanyakan orang dan tak perlu dianggap sebagai barang glamour yang perlu diperebutkan. Selayaknya perjalanan dinas, apalagi jika dibayar oleh taxpayer’s money,  dilakukan sesuai kebutuhan, bukan untuk hura-hura, jalan-jalan apalagi untuk mengambil keuntungan pribadi. Makanya, menyikut orang-orang di sekeliling untuk perjalanan dinas, ataupun cemburu karena perjalanan dinas orang lain, hingga menyebabkan suasana kerja menjadi kurang nyaman juga rasanya tak perlu dilakukan. Teorinya begitu, tapi prakteknya pemburu perjalanan dinas tak segan untuk mengambili perjalanan dinas, yang bahkan tak relevan dengan pekerjaannya atau bahkan memusuhi rekan kantornya yang dipercaya melakukan perjalanan dinas. Gagal paham saya.

Jadi, sukakah kamu dengan perjalanan dinas?

Xx,

Tjetje

Belum pernah rebutan perjalanan dinas, amit2 deh.

Nama Jelek

Nama merupakan salah satu hadiah terindah yang diberikan orang tua kepada anaknya. Seringkali di dalam nama terselip harapan dan doa untuk masa depan sang anak. Walaupun tak dipungkiri, ada juga yang memberikan nama secara acak tanpa makna apa-apa. Terlepas dari latar belakang nama masing-masing orang, adalah penting bagi semua makluk untuk bisa memanggil orang dengan nama yang tepat. Tetapi, masih ada saja orang-orang yang bergurau dengan nama orang, gurauan yang mulanya lucu kemudian terbawa hingga beberapa puluh tahun ke depan.

Ketika SMP, beberapa puluh tahun lalu, ada trend memanggil nama teman dengan nama orang tuanya. Biasanya, yang pria dipanggil dengan nama Bapaknya sementara yang perempuan dipanggil dengan nama Ibunya. Tujuannya, mengejek ataupun menghina. Apalagi kalau nama orang tuanya asli Indonesia, seperti Tukiyem, Tuginem, ataupun nama-nama lainnya. Bagi orang Indonesia, nama-nama asli Indonesia seperti itu dianggap tak sekeren nama-nama yang diadopsi dari barat ataupun dari Arab. Ejekan-ejekan ini seringkali berakhir dengan perkelahian. Sebuah hal yang tak saya setujui, tapi saya pahami karena sang anak ingin membela kehormatan orang tuanya.

Saat SMP, saya tak pernah dipanggil dengan nama orang tua saya. Tapi sialnya, nama saya yang cantik, Ailsa tidak bisa diucapkan dengan benar oleh orang kebanyakan. Bahkan, nama panggilan saya, Ail, juga seringkali terdengar janggal di telinga orang. Salah seorang kenalan kemudian berinisiatif merubah nama saya menjadi Jumail. Disinilah semua bencana bermula, karena nama saya dengan semena-mena diganti oleh teman-teman saya. Saya kemudian dipanggil dengan panggilan Jum yang ‘dimaniskan’ menjadi Jumi. Panggilan yang kemudian melekat hingga saat ini dan sejujurnya saya tak pernah suka panggilan ini dan sudah berulang kali marah minta dipanggil dengan nama yang sesuai, tapi mereka tak pernah mendengarkan atau setidaknya berusaha. *sigh*

Ada cerita di balik nama saya. Nama saya ini diambil dari nama istri Professor pembimbing Bapak saya di Melbourne sana. Ailsa yang sering diasosiakan dengan Elisabeth, yang berarti janji Tuhan. Ailsa juga berarti supernatural victory dan di Scotlandia sendiri, terdapat sebuah pulau bebatuan yang bernama Ailsa craig. Orang-orang Scotlandia, bahkan yang tak saya kenal sekalipun, ketika tahu nama saya Ailsa (Kalimat favorit saya jika mengenalkan diri pada orang Skotlandia adalah: I’m from Indonesia but I have a Scottish name), akan menyambut saya dengan segala kehangatan, bahkan ada yang menciumi dan memeluk saya sambil berkata bahwa saya adalah Scottish. Makanya, saya selalu sedih ketika nama saya lebih dihargai orang asing ketimbang teman-teman saya sendiri. *curcol*

ailsa craig

Saya bukan satu-satunya orang yang dilabeli dengan nama julukan, saya yakin ada banyak orang di Indonesia yang mengalami hal serupa, termasuk salah satu teman SMA saya yang dipanggil Tomat. Pipinya bulat dan sering merona merah, persis tomat. Nah, baru-baru ini saya berhubungan kembali dengan dia dan dalam percakapan itu saya mengkonfirmasi nama aslinya karena saya lebih ingat nama julukannya. Sebuah tindakan bodoh dan memalukan, tapi setidaknya saya bisa belajar untuk memanggil dia dengan nama yang tepat. Tak hanya itu, saya juga tak perlu memanggil Tomat di depan anak-anaknya. Nggak pantes kalau Ibu yang mereka banggakan dipanggil dengan nama sayur-mayur.

Kendati sudah berusia tiga puluhan, saya masih sering mendengar orang-orang memanggil nama-nama aneh, atau memelesetkan nama orang lain. Nampaknya, mengganti-ganti ataupun memelesetkan nama orang lain menjadi guyonan yang tak memandang usia lagi. Padahal, orang-orang yang katanya dewasa, seperti kita semua ini, harusnya memberi contoh kepada mereka yang masih muda, sehingga mereka yang masih muda tak memiliki kebiasaan memberi nama jelek pada orang lain.

Kamu, punya nama jelek juga? Suka gak?

Xx,

Tjetje

Perkawinan Sesama Jenis di Irlandia

Salah satu topik yang juga disarankan untuk ditulis di dalam blog ini adalah tentang legalisasi perkawinan sesama jenis kelamin di Irlandia, terimakasih banyak Adie atas ide tulisannya. 

Lebih dari 60% pemilih pada bulan Mei lalu menyatakan persetujuannya terhadap perkawinan sesama jenis, melalui referendum. Irlandia kemudian menjadi negara pertama yang melegalkan perkawinan sesama jenis melalui referendum. Dan semua mata pun memandang negeri kecil yang penduduknya hanya 4.5 juta dengan penuh keheranan.

Wajar jika banyak orang menoleh keheranan terhadap hasil referendum yang menarik ini, mengingat 84.2% warga negara Irlandia adalah pemeluk Katolik Roma. Orang-orang Irlandia dikenal sebagai pemeluk Katolik yang cukup kuat. Apalagi jika berkaca pada sejarah ketika Henry VIII membuat Anglican supaya bisa menceraikan istrinya Catherine of Aragon. Saat itu, Irlandia mati-matian mempertahankan agamanya. Selain itu, sekolah-sekolah di Irlandia juga banyak dikelola oleh gereja, sehingga pengaruh gereja Katolik terhadap masyarakat Irlandia bisa dibilang cukup kuat. Sama seperti agama lainnya, Katolik juga menolak perkawinan gay.

Lalu bagaimana bisa orang-orang yang sangat Katolik ini menerima perkawinan sesama jenis? Ada yang mengatakan bahwa keberhasilan penggantian konstitusi untuk memperbolehkan perkawinan antara homoseksual serta lesbian ini merupakan tanda-tanda bahwa pengaruh Katolik dan Gereja telah memudar. Tetapi, ada juga yang mengatakan bahwa sebenarnya ini merupakan tanda keberhasilan Katolik mengajarkan cinta kasih terhadap sesama manusia, termasuk gay dan lesbian. Tingginya angka persetujuan menunjukkan tingginya kesetaraan, pemahaman hak asasi manusia serta cinta kasih kepada manusia lainnya, tanpa diskriminasi terhadap orientasi seksual.

Defisini perkawinan sendiri di Irlandia berbeda dengan definisi perkawinan di Indonesia. Di Indonesia perkawinan dianggap legal ketika sudah sah menurut agama. Sementara di Irlandia ada dua macam pencatatan perkawinan, agama dan sipil, ataupun secara sipil saja. Dengan persetujuan ini maka seluruh pasangan gay dan lesbian bisa mencatatkan perkawinan secara sipil dan menerima hak serta kewajiban yang sama dengan warga pasangan heteroseksual. Perkawinan gay pertama di Irlandia kemungkinan besar baru akan terjadi pada saat musim gugur, karena perubahan ini tak bisa terjadi instan. Ada proses administratif yang nampaknya cukup panjang. Walaupun secara hukum perkawinan ini masih agak lama, Tourism Ireland langsung mengeluarkan video yang menargetkan pasangan gay untuk kawin di Irlandia. Video ini dikeluarkan tak lama setelah pengumuman hasil referendum.

Situasi di Irlandia tentunya sudah tidak seperti dahulu lagi, sekarang saya melihat pasangan gay lebih terbuka, terutama di tempat-tempat umum. Di taman misalnya, pasangan gay tak malu-malu lagi untuk bermesraan dan bergandengan tangan menyusuri sisi-sisi Dublin. Di media masa, juga mulai ada pengumuman pertunangan antara pasangan-pasangan gay. Gay parade yang berlangsung hari Sabtu minggu lalu menjadi ajang perayaan besar-besaran, terbesar dalam sejarah Irlandia, terhadap perubahan ini. Sayangnya saya melewatkan gay parade tersebut karena harus kembali ke tanah air.

Perkawinan sejenis ini tentunya mendapat tentangan dari banyak pihak, terutama mereka yang konvensional. Alasannya agama, karena homoseksual dilarang oleh agama, semua agama, dan menjadi homoseksual itu berdosa. Alasan agama ini tentu saja tak akan pernah ketemu dengan konsep layanan antara negara sebagai penyandang kewajiban untuk memberikan pelayanan dan warga negara sebagai penyandang hak, termasuk hak perkawinan.

Banyak orang yang juga berargumen bahwa perkawinan gay tidaklah diperlukan. Saya pribadi melihat sungguhlah tidak adil jika pasangan heteroseksual bisa mencatatkan perkawinannya sementara pasangan gay tidak bisa. Padahal, dua-duanya sama-sama membayar pajak dan idealnya mendapatkan layanan dan juga privilege yang sama dari negara. Perkawinan gay itu penting untuk banyak hal, termasuk hak untuk membuat keputusan ketika salah satu pihak sakit, urusan warisan ketika salah satu pihak meninggal dua, adopsi anak, pembelian property, pemotongan pajak karena kawin (di Irlandia ada potongan pajak sebesar 3,300 euro per tahun bagi yang sudah kawin) serta urusan administrasi yang antara warga negara dan negara.

Gay marriage juga sering seringkali dituduh merusak tatanan keluarga tradisional, dimana anak-anak sewajarnya dibesarkan oleh bapak dan ibu, bukan ibu dan ibu, ataupun bapak dan bapak. Ada ketakutan bahwa mereka yang dibesarkan oleh pasangan gay & lesbian, kehilangan figur bapak ataupun ibu, kemudian tidak bisa tumbuh menjadi individu yang sempurna. Sepertinya ada ketakutan anak-anak ini akan tumbuh menjadi gay ataupun lesbian, seakan-akan menjadi gay ataupun lesbian itu bisa diwariskan, diajarkan atau lebih parahnya ditularkan. Padahal gay bukanlah penyakit, tidak menular dan bukan kelainan jiwa.

suasana perayaan gay marriage

Suasana perayaan di Dublin Caste. Photograph: Clodagh Kilcoyne/Getty Images taken from the Guardian. Click to see the original link

Akan selalu ada pro dan kontra terhadap perkawinan sesama jenis, bagi saya itu wajar, karena kacamatanya berbeda. Satu dari kacamata agama, satu dari kacamata administrasi negara dan hak asasi manusia. Dan debat panjang pun nggak akan pernah usai, baik di negeri ini maupun di negeri lain. Tapi satu hal yang bisa kita akhiri adalah perilaku homophobic kita, penghakiman-penghakiman serta perilaku diskriminatif kita terhadap mereka. Konon katanya kita ini berbudi luhur, tapi kenapa kita sering sekali melabeli gay sebagai pendosa berat, hingga lupa bahwa kita sebenarnya juga sama-sama pendosanya. Pendosa yang tak punya hak untuk menunjuk dan menimbang dosa orang lain.

Selamat berakhir pekan!

xx,

Tjetje

Tukang bikin dosa

Panggil Mereka Pekerja Rumah Tangga

Dalam sebuah kelas Perancis saya tahun lalu, kami membahas tentang kata-kata yang secara politik tepat. Ada beberapa kata yang dibahas dan harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang tepat, salah satunya femme de ménage. Terjadi perdebatan yang untungnya gak sengit di dalam kelas ketika saya menjelaskan terjemahan yang tepat. Saat itu banyak yang memilih menggunakan pembantu rumah tangga dan saya ngotot bahwa mereka adalah pekerja rumah tangga.

Dalam Bahasa Indonesia, pembantu rumah tangga dipahami sebagai orang yang membantu, menolong, atau orang upahan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sementara asisten sendiri merupakan orang yang bertugas membantu dalam tugas profesional. Kedua kata ini menekankan pada kegiatan membantu, sementara menggunakan kata pekerja rumah tangga (PRT) menekankan bahwa mereka adalah pekerja yang tentunya berhak mendapatkan perlakuan seperti pekerja.

Budak

Foto: Liputan 6

Seperti saya pernah bahas di tulisan edisi bahasa Inggris di sini, PRT di Indonesia itu seringkali nggak dianggap sebagai pekerja, malah kalau saya mau lebay sedikit, mereka seringkali cenderung dianggap seperti budak modern. Saya punya alasan dan argumen sendiri, di antaranya:

  • Pekerja Rumah Tangga di Indonesia gak punya jam kerja

Coba, siapa di antara kita yang mau kerja non-stop dari pagi sampai malam, dari Senin sampai Senin lagi, tanpa henti. Emang sih PRT ini diberikan kesempatan untuk tidur siang, nonton sinetron (for the sake of our future generation, jangan racuni mereka dengan sinetron deh) tapi coba hitung berapa jam seminggu mereka kerja, lebih dari 40 jam? Nah kalau melebihi jam kerja, sudahkah mereka mendapatkan lembur?

  • Pekerja Rumah Tangga gak punya libur

Merujuk (duile bahasa saya) pada hal di atas, PRT di Indonesia itu kebanyakan nggak punya libur. Mau tanggal merah, Sabtu dan Minggu, sebagian besar dari mereka pasti nggak libur. Kalau hari Sabtu mereka mau pergi ke suatu tempat, apalagi mau pacaran pasti minta ijin dulu. Terus, kalau tiap Sabtu dan Minggu ijin melulu, dijamin tuannya sang pemberi kerjanya ngomel-ngomel.

  • Gaji tak layak

Alasan orang selalu sama: PRTnya kan live in, kamar disediakan makan juga disediakan. Otomatis gaji dipotong untuk dua hal tersebut. Motongnya gak tanggung-tanggung, bisa 50 hingga 75% dari UMR. Emang nggak bisa dipungkiri bahwa pekerja rumah tangga itu kebanyakan nggak punya skill & nggak berpengalaman (gimana nggak berpengalaman kalau banyak dari mereka masih anak-anak, masih usia sekolah dan di bawah 18 tahun?). Tapi apakah itu semua jadi alasan untuk memberikan mereka upah tak layak?

Ngomong-ngomong soal makanan, kalau gaji mereka dipotong buat makanan, siapa yang bisa kontrol kalau makanan bagi mereka adalah makanan yang layak telan? Saya yakin masih ada  majikan pemberi kerja yang ngasih mereka makanan sisa dari tiga hari lalu, yang kira-kira kita udah nggak tega nelennya lagi. Udah rasanya amburadul, gizinya pun ilang semua.

Di Jaman modern ini saya malah pernah dengar seorang tetangga memberikan ikan kepada PRTnya. Saking baiknya, ikan yang diberikan mengandung gizi tambahan, belatung. PRTnya tak mungkin menelan makanan tersebut dan ceritanya pun menyebar ke seluruh perumahan. Soal kamar tinggal nggak usah dibahas lah ya. Kalau mereka beruntung dapat pemberi kerja yang baik dan berada, kamarnya bisa cukup layak. Tapi kalau nggak beruntung ya kamarnya selonjoran aja susah, kasurnya gak layak diduduki lagi (apalagi ditiduri), belum lagi pengap dan kondisi lain yang suka bikin prihatin.

PRT

Foto: liputan 6

Mungkin banyak yang nanya, kenapa saya ngulang tulisan ini lagi dan dalam bahasa Indonesia? Saya ingin benar-benar menekankan penggunaan kata pekerja bagi mereka yang sudah sangat berdedikasi dalam hidup kita semua. Supaya kita yang gajinya puluhan, belasan bahkan ratusan juga belajar berhenti untuk menyepelekan tenaga manusia lain. Kalau nggak bisa ngasih mereka gaji UMR, setidaknya berikan mereka jam kerja yang layak, hari libur dan waktu istirahat. Saya juga ingin kita jadi lebih baik terhadap pekerja rumah tanggal. Supaya kita gak bawel lagi kalau mereka sibuk telpon sama pacarnya atau keluarganya, seakan mereka manusia yang tak berhak atas waktu pribadi untuk berkomunikasi.

Kalaupun emang belum bisa memenuhi hak mereka dengan baik, tapi saya yakin kalau ngasih libur aja kita bisa ngasih, at least kasih mereka title yang bener. Jangan ketawa, apalagi setengah menghina kalau ada orang bilang mereka ini PEKERJA. Penekanan kata pekerja itu sangat perlu supaya persepsi kita semua berubah, supaya kita nggak melihat mereka sebagai orang yang bisa disuruh jalan ke supermarket jam berapapun. Supaya mereka bisa mendapatkan hak yang sama dengan kita. Masak sih kita nggak mau jadi negara maju yang menghormati, memenuhi dan melindungi kaum kecil. Dan tentunya supaya mereka nggak perlu jauh-jauh ke Arab Saudi, nyari kerja dengan gaji yang serupa UMR, 2,5 juta saja, dengan resiko yang tinggi.

UU PRT sudah ada di dalam daftar prioritas DPR sejak tahun lalu, tapi meskipun UU ini masuk program legislatif nasional, progressnya belum ada. Semoga saja anggota DPR yang sekarang tak sibuk dengan dana aspirasinya dan bisa lebih focus untuk memenuhi hak para Pekerja Rumah Tangga. Pahlawan dan tulang punggung sebagian masyarakat Indonesia.

Nah, kalau disuruh bayar mereka sesuai UMR, memberikan lembur, jam kerja dan cuti, mau nggak? Bukan soal sanggup ya, tapi mau?

Xx,
Tjetje

Ditulis di Jakarta pada 14 May 2014 tapi terlambat posting

Alih Fungsi Gereja

Setelah beberapa kali gagal, kami akhirnya bisa menengok The Church, sebuah bar dan restaurant yang mengambil tempat di bekas gereja. Gereja ini tadinya bernama St. Mary’s Church of Ireland dan didirkan pada abad ke 18. Lokasinya tepat di tengah kota, tak jauh dari Spire of Dublin, menara tinggi yang tak jelas fungsinya. Pada tahun 1964, gereja ini ditutup dan saya duga karena kehilangan jemaatnya. Singkat cerita, gereja ini kemudian dibeli dan direnovasi, lalu pada tahun 2005 dibuka menjadi bar yang bernama John M. Keating’s Bar, sesuai nama pemiliknya. Di Irlandia, punya bar dengan nama sendiri itu konon merupakan mimpi pria-pria. Baru pada tahun 2007 bar ini berganti kepemilikan dan mulai menjadi The Church Bar & Restaurant.

IMG_0482

The Church, tampak luar

Ada banyak nama-nama penting yang diasosiasikan dengan bar ini, termasuk Arthur Guiness, si pembuat bir hitam Irlandia yang punya 21 orang anak (dari satu istri ya, dari satu istri) yang perkawinannya diberkati di gereja ini. Patung dadanya bisa ditemukan di lantai dasar bar ini. Selain Arthur Guiness ada Jonathan Swift, penulis buku ‘Gulliver’s Travels’. Seperti kebanyakan gereja, di lantai gereja ini juga terdapat beberapa orang yang dimakamkan seperti Mary Mercer, pendiri Rumah Sakit Mercer dan juga Lord Norbury, hakim yang memerintahkan eksekusi Robert Emmett di tahun 1803. Nah proses eksekusi Robert Emmet ini boleh dibilang super kejam. Ceritanya bisa dibaca di sini. Di belakang The Church, juga bisa ditemukan sebuah lapangan yang tadinya merupakan kuburan. Masih kuburan sih karena tulang belulang itu katanya tak pernah dipindahkan.

IMG_0480

The Church sendiri terdiri dari Bar, Bar Garden, Restaurant serta Club. Kami nongkrong di lantai dua, di restaurantnya. Sayangnya ketika itu sudah terlalu sore untuk melakukan self-guided tur keliling, tapi kapan-kapan bisa balik lagi. Selain restaurant, ada juga bar yang terletak di lantai dasar dan juga di luar, sembari berjemur menikmati matahari yang malu-malu. Satu hal yang perlu dicatat, ada dress code untuk masuk the Church, casual. Tapi syukurnya ini tempat gak mewajibkan hak tinggi seperti di Jakarta. Aturan aneh yang saya tak paham karena tak seharusnya nightclub mengatur what to wear. Lagian, siapa sih yang mau lihat sepatu orang kalau lagi makan ataupun minum?

Jika dilihat sekilas, ada beberapa hal yang masih dipertahankan di restaurant ini seperti organ yang konon dibuat oleh Renatus Harris (salah satu tukang organ terkenal pada masanya), kaca-kaca dan dinding-dinding dengan tombstonenya. Bilik pengakuan dosa, kursi-kursi, apalagi altar sudah tak ada lagi. Padahal kursi-kursi yang menyerupai kursi di gereja sering kali digunakan sebagai kursi di bar Irlandia. Tempat altar berada sekarang berubah jadi tempat pertunjukan musik yang dilangsungkan pukul tujuh malam pada malam-malam tertentu.

IMG_0449

Bagi orang, beralihnya fungsi rumah ibadah mungkin merupakan skandal. Tetapi bangunan ini bukan satu-satunya gereja di Dublin yang berubah fungsi. Gereja St Andrew yang juga terletak di tengah kota, dibeli oleh pemerintah kota Dublin pada tahun 1994 dan dua tahun kemudian dibuka menjadi Dublin Tourism Center. Bangunan unik ini terletak di Suffolk street, persis di mana patung Molly Malone yang terkenal sekarang ditempatkan. Jika sedang berada di Dublin, tak ada salahnya masuk ke bangunan ini untuk sekedar duduk-duduk atau mencari informasi tentang pariwisata.

Saya yakin dua bangunan di atas hanya sedikit dari gereja yang beralihfungsi. Perubahan ini pun tak hanya terjadi di Dublin. Skotlandia dan Amerika merupakan negara lain yang menjadi tuan rumah dari gereja yang berubah fungsi. Di Indonesia sendiri saya yakin hal seperti ini akan sangat ditentang oleh masyarakat. Kalau kalian sendiri, setujukah jika salah satu bangunan rumah ibadah kalian dirubah fungsinya menjadi restaurant atau bahkan bar?

xx,
Tjetje

Tentang Rasisme & Irlandia

Salah satu ide yang diberikan kepada saya dalam postingan bagi-bagi kartu pos adalah tentang rasisme di Irlandia. Menurut Adi, seorang penulis perjalanan yang juga blogger pernah menulis tentang rasisme di Irlandia. Terus terang saya tak pernah membaca buku tersebut, jadi saya tak bisa berkomentar tentang tulisannya, tetapi saya harap penulisnya tidak menggeneralisasi Irlandia dan orang-orangnya sebagai negara yang rasis.

Selama beberapa tahun wira-wiri ke Irlandia, berinteraksi dengan orang lokal dari mulai yang diperkotaan hingga yang dipedesaan, saya tak pernah mengalami diskriminasi, harassment, eklusi, ataupun pengalaman tak mengenakkan lainnya berdasarkan warna kulit dan ras. Sejauh ini pengalaman saya semuanya baik-baik saja. Bahkan, baru-baru ini saya duduk di sebuah bar tertua di Irlandia, mengobrol dengan barmannya yang super duper ramah. Dia bertanya pada saya mengapa saya tak pindah ke Irlandia saja jika saya menyukai Irlandia, pertanyaan yang saya jawab bahwa saya akan segera pindah musim gugur ini. Pria tersebut berusia tak muda lagi, sekitar enam puluh atau tujuh puluh tahun. Asumsi saya, kalau Irlandia tertutup terhadap pendatang dengan kulit berwarna seperti saya, biasanya orang muda apalagi orang tuanya tak akan seterbuka itu apalagi nanya kenapa saya gak pindah kesana aja.

Pengalaman lainnya terjadi saat saya pertama kali mengunjungi sebuah kantor pos, saya tak ingat ketika itu saya di Dublin atau di Galway, sebuah kota kecil di barat Irlandia. Ketika itu saya memandangi semua sudut kantor pos, mungkin terlihat kebingungan, padahal saya sedang membaca semua informasi. Lalu seorang nenek datang dan menawarkan bantuannya kepada saya. Sekali lagi, kalau mereka rasis, saya tak akan ditawari bantuan, malah mungkin akan dicela karena sibuk memandangi semua sudut kantor pos. Dua hari lalu, saya ngobrol bersama seorang perempuan Irlandia-Amerika, ibunya, serta perempuan yang sudah berpindah ke Irlandia sejak enam tahun. Perempuan ini mengatakan pada kami bahwa jika kelihatan bingung selama sekian detik saja di Irlandia, pasti akan ada yang datang dan bertanya “Are you okay love? Are you lost love?”. Pada saat yang sama ia dan saya juga takjub dengan keramahan orang Irlandia dan kedoyanan mereka untuk ngobrol dengan orang asing. Catet tapi ya orang Irlandia itu akan bereaksi ramah kalau kitanya juga chatty kalau kitanya jutek saya jamin mereka akan jutek juga.

Pengalaman saya berinteraksi juga terjadi dengan tetangga-tetangga di wilayah saya tinggal. Orang-orang yang kami temui juga ramah, khas Irlandia. Pembicaraan yang paling nyerempet ke warna kulit cuma terjadi saat kami membahas matahari, biasanya berkaitan dengan mandi matahari atau sun bathing yang sering saya balas bahwa saya tak suka mandi matahari karena saya sudah cukup tan dan karena panas di Irlandia itu ‘boongan’. Kalau ngebahas matahari, saya nggak cuma ngebahas dengan tetangga, tapi dengan banyak orang, dari tukang kapal, sampai orang yang tak saya kenal. Di sini, ngebahas cuaca dan matahari itu merupakan topik favorit.

Menurut saya pribadi, Irlandia termasuk ramah terhadap pendatang karena kota ini merupakan melting pot dari berbagai kultur. Banyak perusahaan-perusahaan internasional membuka kantor pusatnya disini, bahkan mereka memiliki Silicon Valleynya sendiri. Perusahan-perusahan ini tak hanya punya pegawai dari Irlandia saja, tapi juga secara rutin mencari pegawai dari berbagai belahan dunia. Irlandia juga menjadi satu tempat yang menarik untuk belajar bahasa Inggris bagi orang-orang non-English speaker. Melihat orang non-Irlandia yang berkulit tak putih menenteng buku-buku bahasa Inggris, termasuk buku IELTS (dan nongkrong si Sbux) bukanlah hal yang aneh. Di kendaraan umum mendengar bahasa non-Inggris juga bukan hal aneh.

Kendati tak pernah mengalami diskriminasi, bukan berarti diskriminasi berdasarkan ras tak terjadi. Jika melihat hasil penelitan, ada banyak kejadian di kendaraan umum, ruang publik, jalanan maupun kendaraan umum. Berdasarkan sebuah riset tentang imigran yang bisa dilihat di sini, orang Asia dan Eropa Timur paling sedikit didiskriminasi, sementara orang Afrika yang berkulit hitam paling sering didiskriminasi. Riset ini kendati dilakukan bertahun-tahun lalu, dan mungkin tidak terlalu relevan, bisa sedikit memberikan gambaran bahwa rasisme juga ada di negeri ini. Pelabelan terhadap orang-orang dari golongan tertentu, seperti Traveller juga ada di negeri ini, tapi bukan berarti Irlandia dan orang-orangnya rasis, hanya segelintir yang seperti itu.

Sebuah kampanye tentang rasisme juga diluncurkan oleh Board of Racism di Irlandia tahun lalu yang mendorong orang-orang untuk melaporkan tentang kejadian rasisme, jika mereka melihat atau mengalami. Poster-posternya saya temui di bandara, maupun kendaraan umum seperti kereta api. Saya tak pernah memotret poster-poster tersebut, tapi nanti jika ketemu poster ini akan saya potret dan post di Instagram, silahkan follow instagram saya @binibule (sekalian promosi).

Berbicara tentang rasisme tak bisa lepas dari negeri kita sendiri yang sebagian kecil (semoga saya benar, hanya ada sebagian kecil saja) tidak menyukai orang Indonesia dari keturunan tertentu. Kendati sudah beberapa generasi lahir dan besar di Indonesia, makan nasi sama sambal terasi, ngomong Jawa medok, atau bahkan bahasa Nias medok, membangun Indonesia dan berkontribusi pada pembangunan negeri, tapi mereka masih sering dilabeli segala kata sifat yang negatif. Tak hanya dengan orang Indonesia, seringkali orang-orang rasis terhadap mereka yang berkulit hitam, baik kulit hitam dari negeri sendiri maupun dari Afrika. Seorang teman kos saya pernah curhat sambil panik, karena kos kami akan digusur. Rupanya, banyak sekali penolakan yang dialaminya untuk mendapatkan kos karena kulitnya yang hitam.

Tak selayaknya manusia didiskriminasi atas dasar apapun, baik itu ras, warna kulit, agama, orientasi seksual, jender ataupun disabilitas. Pada saat yang sama, tak selayaknya pula kita menyebut suatu komunitas bahkan negara sebagai tempat yang diskriminatif, karena sebenarnya diskriminasi dan rasisme itu dilakukan oleh segelintir manusia saja.

Masih seringkah kalian mendengarkan atau melihat hal yang rasis?

xx,

Tjetje

Pengumuman Kartu Pos

Terimakasih banyak atas ide-idenya rekan-rekan. Beberapa ide akan saya tulis dan persiapkan dulu materinya. Ada banyak ide menarik yang saya dapatkan, dari mulai pengumpulan sampah di Irlandia, perangko special, koleksi, kartun Eropa, kebiasaan orang Indonesia yang jadi aneh di Dublin, sekolahdi Indonesia yang bisa buat bayar PhD, rasisme di Irlandia, same sex marriage yang baru saja disetujui sebagian besar rakyat Irlandia melalui referendum, etos kerja orang Irlandia, kehidupan muslim dan Ramadan (yang puasa summer ini panjang bener deh ), sejarah perpecahan Irlandia, sampai soal summer di Irlandia yang suka bikin saya ketawa.

Soal musim panas, bagi orang Irlandia 18 derajat itu sudah tropical dan hawanya sudah enak banget. Begitu naik di atas 20 derajat mereka sudah kepanasan, sementara saya di atas 20 derajat aja masih kurang panas. Mana mataharinya disini kayak listrik di Medan, byar pet, muncul lima menit, terus ilang lagi kesamber angin. Anyway, cerita tentang musim panas baru bisa saya publikasikan tahun depan, karena tahun ini saya cuma ngerasain musim panas seimprit.

Satu postingan tentang rasisme akan dipublikasikan minggu ini, pada hari Jumat jam 11 siang. Dan seperti yang ditunggu-tunggu, dua orang yang beruntung mendapatkan kartu pos adalah:

Puji dan Adie.

Post card 1

Untuk kedua pemenang, silahkan mengirimkan alamatnya ke email saya binibule.com (at) gmail (dot) com sebelum tanggal 24 Juni ya supaya kartu postnya dapat segera saya kirimkan.

https://instagram.com/p/38_Cb0wxkG/?taken-by=binibule

Pantengin terus blog ini karena bulan Oktober nanti ada satu kartu pos yang sudah beberapa tahun saya simpan. Kartu pos itu dikeluarkan PBB dengan gambar-gambar Palestina dan rencananya akan saya kirimkan untuk satu orang yang beruntung pada tanggal 24 Oktober 2015, tepat pada hari PBB. Sengaja saya tunggu untuk dikirimkan dari Paris karena kota itu menjadi kota bersejarah yang mencatat sejarah menarik tentang sebuah badan spesial, PBB serta Palestina. Tunggu ceritanya Oktober besok ya.

xx,

Tjetje

Menonton The Look of Silence

[postingan ini mengadung deskripsi adegan kejam, silahkan kuatkan mental]

Satu hal yang jarang saya lakukan di Jakarta dan selalu saya lakukan jika berada di Dublin adalah nonton film di bioskop, padahal harga tiket nonton film di Dublin itu berkali lipat dari Jakarta,  tapi di Dublin saya gak perlu bergulat dengan kemacetan untuk mencapai bioskop. Kali ini saya menonton ‘sekuel’  The Act of Killing (Jagal) yang pernah saya bahas di sini. Film ini boleh dibilang sekuelnya, walaupun sebenarnya bisa ditonton tanpa perlu menonton film sebelumnya.

Joshua Oppenheinmer sekali lagi membuat saya ternganga dan bercucuran air mata dengan karya terbarunya, The Looks of Silence (senyap). Film documenter ini sekali lagi merekam perilaku para jagal yang mengambil peran menghabisi orang-orang yang dituduh sebagai bagian dari komunis. Di film ini Joshua mempertemukan saudara dari korban yang dituduh sebagai komunis, sengaja saya beri kata dituduh karena mereka tak pernah mendapatkan pengadilan yang layak dan langsung dihukum dengan cara yang sadis.

Pria yang saudaranya dituduh komunis dan dieksekusi secara sadis itu bernama Adi Rukun, ia berumur 44 tahun dan berjualan kacamata keliling. Melalui kacamata itulah Adi bertemu dengan sebagian para penjagal abangnya. Selain Adi, ada juga orang tuanya, Bapaknya yang sudah sangat tua, buta, lumpuh dan tinggal tulang berbalut kulit, serta Ibunya yang masih punya ketakutan luar biasa akan keselamatan anaknya. Pedih rasanya melihat keluarga miskin itu berjuang menghadapi ketakutan mereka dan trauma mereka yang tak pernah sembuh. Lebih pedih lagi ketika melihat Adi, saya melihat keluarga yang dituduh komunis yang tidak bisa mengakses pekerjaan formal karena tuduhan komunis yang menempel pada kakaknya dan diturunkan ke berbagai generasi. Kakak yang bahkan dia tak pernah temui. Ketika melihat anaknya pun saya makin trenyuh, karena saya menduga anak-anaknya, yang juga muncul di film tersebut, akan mengalami ‘kesulitan’ di masa depan, bahkan tak bisa menjadi bagian dari pemerintahan.

Para penjagal ini adalah orang-orang yang beragama dan menunaikan ibadah. Salah satu dari mereka bahkan menjadi wakil rakyat. Bagi mereka, komunis itu tak mengenal agama oleh karenanya wajib dibunuh dengan cara sadis, karena mereka mengganggu keamanan negara. Seorang penjagal ketika ditanya apa itu deskripsi komunisme malah marah-marah dan menuduh Joshua melarikan ini ke ranah politik. Saya menduga, mereka tak mengerti apa itu komunisme lalu menjadi defensif. Yang mereka pahami, komunis tak mengenal Tuhan, berpesta seksual serta bergantian pasangan. Ya kalau definisi komunisme sendiri mereka tak paham, apalagi definisi swinger.

Para penjagal ini tak segan menunjukkan cara mereka membunuh korbannya, dari mulai memotong di bagian tengkuk, ataupun di bagian depan leher. Bahkan salah satu dari mereka membuat sebuah buku yang dilengkapi dengan ilustrasi cara menjagal. Buku itu kemudian dipersembahkan kepada Joshua. Menjagal hewan menurut saya bukanlah hal yang mudah, apalagi menjagal manusia. Untuk menguatkan hati dan menghindari masalah kejiwaan mereka meminum darah dari korban yang mereka jagal. Darah yang keluar dari tenggorokan mereka tampung di gelas dan mereka minum. Konon ada beberapa penjagal yang tak kuat dan mengalami masalah kejiwaan, hingga mereka menaiki pohon kelapa untuk mengumandangkan panggilan beribadah. Kasihan sekali mereka tak diberi akses untuk konsultasi masalah kejiwaan.

the looks of silence

Menariknya, keluarga dari para penjagal ini rata-rata tak pernah tahu masa lalu Bapaknya (semua penjagal yang ditampilkan di film ini adalah pria). Kalaupun mereka dikonfrontasi dengan pekerjaan bapak atau suaminya, mereka akan menjadi defensif dan mengatakan: yang lalu biarlah berlalu, atau luka lama tak perlu dibuka lagi karena luka sudah menutup. Istri yang ikut hadir ketika suaminya (yang sekarang sudah meninggal dunia) memberikan buku berisi cara eksekusi juga terkesan sangat menghindar, tak mau tahu, atau jika tahu pura-pura lupa.

Satu hal yang menarik, seorang penjagal berkata bahwa mereka adalah pahlawan karena mereka berjasa menghapuskan komunisme dan mendorong demokrasi. Membantu Amerika, oleh karena itu mereka berhak untuk diajak jalan-jalan ke Amerika, kalau tak bisa naik pesawat terbang ya naik kapal pesiar ke Amerika. Kalau saya boleh misuh, rasanya saya pengen misuh, mbahmu *nc*k. Emangnya Amerika mau ngasih visa buat para penjagal?

Karena dua film documenter ini Joshua Oppenhemeir menjadi persona non grata dan tak bisa kembali ke Indonesia. Saya sendiri hanya bisa berdoa semoga Adi Rukun yang dengan beraninya mengkonfrontir penjagal abangnya, menceritakan luka keluarganya yang saya yakin tak mudah untuk diceritakan, bisa senantiasa selamat dan dijauhkan dari marabahaya. Konon, demi keamanannya dia harus dipindahkan dari tempat dia tinggal ke sebuah tempat di Indonesia.

Sekali lagi Joshua telah membuka cerita lama, cerita tentang kekejaman terhadap anak manusia lainnya atas nama ideologi politik. Dan saya pun merekomendasikan film ini untuk ditonton, supaya kita bisa melihat sisi yang berbeda yang selama ini kita dengar di sekolah. Untuk yang pengen nonton filmnya bisa isi formulirnya di sini. Semoga film ini, seperti film Jagal, bisa segera diunduh secara gratis.

xx,

Tjetje