Nama Jelek

Nama merupakan salah satu hadiah terindah yang diberikan orang tua kepada anaknya. Seringkali di dalam nama terselip harapan dan doa untuk masa depan sang anak. Walaupun tak dipungkiri, ada juga yang memberikan nama secara acak tanpa makna apa-apa. Terlepas dari latar belakang nama masing-masing orang, adalah penting bagi semua makluk untuk bisa memanggil orang dengan nama yang tepat. Tetapi, masih ada saja orang-orang yang bergurau dengan nama orang, gurauan yang mulanya lucu kemudian terbawa hingga beberapa puluh tahun ke depan.

Ketika SMP, beberapa puluh tahun lalu, ada trend memanggil nama teman dengan nama orang tuanya. Biasanya, yang pria dipanggil dengan nama Bapaknya sementara yang perempuan dipanggil dengan nama Ibunya. Tujuannya, mengejek ataupun menghina. Apalagi kalau nama orang tuanya asli Indonesia, seperti Tukiyem, Tuginem, ataupun nama-nama lainnya. Bagi orang Indonesia, nama-nama asli Indonesia seperti itu dianggap tak sekeren nama-nama yang diadopsi dari barat ataupun dari Arab. Ejekan-ejekan ini seringkali berakhir dengan perkelahian. Sebuah hal yang tak saya setujui, tapi saya pahami karena sang anak ingin membela kehormatan orang tuanya.

Saat SMP, saya tak pernah dipanggil dengan nama orang tua saya. Tapi sialnya, nama saya yang cantik, Ailsa tidak bisa diucapkan dengan benar oleh orang kebanyakan. Bahkan, nama panggilan saya, Ail, juga seringkali terdengar janggal di telinga orang. Salah seorang kenalan kemudian berinisiatif merubah nama saya menjadi Jumail. Disinilah semua bencana bermula, karena nama saya dengan semena-mena diganti oleh teman-teman saya. Saya kemudian dipanggil dengan panggilan Jum yang ‘dimaniskan’ menjadi Jumi. Panggilan yang kemudian melekat hingga saat ini dan sejujurnya saya tak pernah suka panggilan ini dan sudah berulang kali marah minta dipanggil dengan nama yang sesuai, tapi mereka tak pernah mendengarkan atau setidaknya berusaha. *sigh*

Ada cerita di balik nama saya. Nama saya ini diambil dari nama istri Professor pembimbing Bapak saya di Melbourne sana. Ailsa yang sering diasosiakan dengan Elisabeth, yang berarti janji Tuhan. Ailsa juga berarti supernatural victory dan di Scotlandia sendiri, terdapat sebuah pulau bebatuan yang bernama Ailsa craig. Orang-orang Scotlandia, bahkan yang tak saya kenal sekalipun, ketika tahu nama saya Ailsa (Kalimat favorit saya jika mengenalkan diri pada orang Skotlandia adalah: I’m from Indonesia but I have a Scottish name), akan menyambut saya dengan segala kehangatan, bahkan ada yang menciumi dan memeluk saya sambil berkata bahwa saya adalah Scottish. Makanya, saya selalu sedih ketika nama saya lebih dihargai orang asing ketimbang teman-teman saya sendiri. *curcol*

ailsa craig

Saya bukan satu-satunya orang yang dilabeli dengan nama julukan, saya yakin ada banyak orang di Indonesia yang mengalami hal serupa, termasuk salah satu teman SMA saya yang dipanggil Tomat. Pipinya bulat dan sering merona merah, persis tomat. Nah, baru-baru ini saya berhubungan kembali dengan dia dan dalam percakapan itu saya mengkonfirmasi nama aslinya karena saya lebih ingat nama julukannya. Sebuah tindakan bodoh dan memalukan, tapi setidaknya saya bisa belajar untuk memanggil dia dengan nama yang tepat. Tak hanya itu, saya juga tak perlu memanggil Tomat di depan anak-anaknya. Nggak pantes kalau Ibu yang mereka banggakan dipanggil dengan nama sayur-mayur.

Kendati sudah berusia tiga puluhan, saya masih sering mendengar orang-orang memanggil nama-nama aneh, atau memelesetkan nama orang lain. Nampaknya, mengganti-ganti ataupun memelesetkan nama orang lain menjadi guyonan yang tak memandang usia lagi. Padahal, orang-orang yang katanya dewasa, seperti kita semua ini, harusnya memberi contoh kepada mereka yang masih muda, sehingga mereka yang masih muda tak memiliki kebiasaan memberi nama jelek pada orang lain.

Kamu, punya nama jelek juga? Suka gak?

Xx,

Tjetje

Perkawinan Sesama Jenis di Irlandia

Salah satu topik yang juga disarankan untuk ditulis di dalam blog ini adalah tentang legalisasi perkawinan sesama jenis kelamin di Irlandia, terimakasih banyak Adie atas ide tulisannya. 

Lebih dari 60% pemilih pada bulan Mei lalu menyatakan persetujuannya terhadap perkawinan sesama jenis, melalui referendum. Irlandia kemudian menjadi negara pertama yang melegalkan perkawinan sesama jenis melalui referendum. Dan semua mata pun memandang negeri kecil yang penduduknya hanya 4.5 juta dengan penuh keheranan.

Wajar jika banyak orang menoleh keheranan terhadap hasil referendum yang menarik ini, mengingat 84.2% warga negara Irlandia adalah pemeluk Katolik Roma. Orang-orang Irlandia dikenal sebagai pemeluk Katolik yang cukup kuat. Apalagi jika berkaca pada sejarah ketika Henry VIII membuat Anglican supaya bisa menceraikan istrinya Catherine of Aragon. Saat itu, Irlandia mati-matian mempertahankan agamanya. Selain itu, sekolah-sekolah di Irlandia juga banyak dikelola oleh gereja, sehingga pengaruh gereja Katolik terhadap masyarakat Irlandia bisa dibilang cukup kuat. Sama seperti agama lainnya, Katolik juga menolak perkawinan gay.

Lalu bagaimana bisa orang-orang yang sangat Katolik ini menerima perkawinan sesama jenis? Ada yang mengatakan bahwa keberhasilan penggantian konstitusi untuk memperbolehkan perkawinan antara homoseksual serta lesbian ini merupakan tanda-tanda bahwa pengaruh Katolik dan Gereja telah memudar. Tetapi, ada juga yang mengatakan bahwa sebenarnya ini merupakan tanda keberhasilan Katolik mengajarkan cinta kasih terhadap sesama manusia, termasuk gay dan lesbian. Tingginya angka persetujuan menunjukkan tingginya kesetaraan, pemahaman hak asasi manusia serta cinta kasih kepada manusia lainnya, tanpa diskriminasi terhadap orientasi seksual.

Defisini perkawinan sendiri di Irlandia berbeda dengan definisi perkawinan di Indonesia. Di Indonesia perkawinan dianggap legal ketika sudah sah menurut agama. Sementara di Irlandia ada dua macam pencatatan perkawinan, agama dan sipil, ataupun secara sipil saja. Dengan persetujuan ini maka seluruh pasangan gay dan lesbian bisa mencatatkan perkawinan secara sipil dan menerima hak serta kewajiban yang sama dengan warga pasangan heteroseksual. Perkawinan gay pertama di Irlandia kemungkinan besar baru akan terjadi pada saat musim gugur, karena perubahan ini tak bisa terjadi instan. Ada proses administratif yang nampaknya cukup panjang. Walaupun secara hukum perkawinan ini masih agak lama, Tourism Ireland langsung mengeluarkan video yang menargetkan pasangan gay untuk kawin di Irlandia. Video ini dikeluarkan tak lama setelah pengumuman hasil referendum.

Situasi di Irlandia tentunya sudah tidak seperti dahulu lagi, sekarang saya melihat pasangan gay lebih terbuka, terutama di tempat-tempat umum. Di taman misalnya, pasangan gay tak malu-malu lagi untuk bermesraan dan bergandengan tangan menyusuri sisi-sisi Dublin. Di media masa, juga mulai ada pengumuman pertunangan antara pasangan-pasangan gay. Gay parade yang berlangsung hari Sabtu minggu lalu menjadi ajang perayaan besar-besaran, terbesar dalam sejarah Irlandia, terhadap perubahan ini. Sayangnya saya melewatkan gay parade tersebut karena harus kembali ke tanah air.

Perkawinan sejenis ini tentunya mendapat tentangan dari banyak pihak, terutama mereka yang konvensional. Alasannya agama, karena homoseksual dilarang oleh agama, semua agama, dan menjadi homoseksual itu berdosa. Alasan agama ini tentu saja tak akan pernah ketemu dengan konsep layanan antara negara sebagai penyandang kewajiban untuk memberikan pelayanan dan warga negara sebagai penyandang hak, termasuk hak perkawinan.

Banyak orang yang juga berargumen bahwa perkawinan gay tidaklah diperlukan. Saya pribadi melihat sungguhlah tidak adil jika pasangan heteroseksual bisa mencatatkan perkawinannya sementara pasangan gay tidak bisa. Padahal, dua-duanya sama-sama membayar pajak dan idealnya mendapatkan layanan dan juga privilege yang sama dari negara. Perkawinan gay itu penting untuk banyak hal, termasuk hak untuk membuat keputusan ketika salah satu pihak sakit, urusan warisan ketika salah satu pihak meninggal dua, adopsi anak, pembelian property, pemotongan pajak karena kawin (di Irlandia ada potongan pajak sebesar 3,300 euro per tahun bagi yang sudah kawin) serta urusan administrasi yang antara warga negara dan negara.

Gay marriage juga sering seringkali dituduh merusak tatanan keluarga tradisional, dimana anak-anak sewajarnya dibesarkan oleh bapak dan ibu, bukan ibu dan ibu, ataupun bapak dan bapak. Ada ketakutan bahwa mereka yang dibesarkan oleh pasangan gay & lesbian, kehilangan figur bapak ataupun ibu, kemudian tidak bisa tumbuh menjadi individu yang sempurna. Sepertinya ada ketakutan anak-anak ini akan tumbuh menjadi gay ataupun lesbian, seakan-akan menjadi gay ataupun lesbian itu bisa diwariskan, diajarkan atau lebih parahnya ditularkan. Padahal gay bukanlah penyakit, tidak menular dan bukan kelainan jiwa.

suasana perayaan gay marriage

Suasana perayaan di Dublin Caste. Photograph: Clodagh Kilcoyne/Getty Images taken from the Guardian. Click to see the original link

Akan selalu ada pro dan kontra terhadap perkawinan sesama jenis, bagi saya itu wajar, karena kacamatanya berbeda. Satu dari kacamata agama, satu dari kacamata administrasi negara dan hak asasi manusia. Dan debat panjang pun nggak akan pernah usai, baik di negeri ini maupun di negeri lain. Tapi satu hal yang bisa kita akhiri adalah perilaku homophobic kita, penghakiman-penghakiman serta perilaku diskriminatif kita terhadap mereka. Konon katanya kita ini berbudi luhur, tapi kenapa kita sering sekali melabeli gay sebagai pendosa berat, hingga lupa bahwa kita sebenarnya juga sama-sama pendosanya. Pendosa yang tak punya hak untuk menunjuk dan menimbang dosa orang lain.

Selamat berakhir pekan!

xx,

Tjetje

Tukang bikin dosa

Panggil Mereka Pekerja Rumah Tangga

Dalam sebuah kelas Perancis saya tahun lalu, kami membahas tentang kata-kata yang secara politik tepat. Ada beberapa kata yang dibahas dan harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang tepat, salah satunya femme de ménage. Terjadi perdebatan yang untungnya gak sengit di dalam kelas ketika saya menjelaskan terjemahan yang tepat. Saat itu banyak yang memilih menggunakan pembantu rumah tangga dan saya ngotot bahwa mereka adalah pekerja rumah tangga.

Dalam Bahasa Indonesia, pembantu rumah tangga dipahami sebagai orang yang membantu, menolong, atau orang upahan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Sementara asisten sendiri merupakan orang yang bertugas membantu dalam tugas profesional. Kedua kata ini menekankan pada kegiatan membantu, sementara menggunakan kata pekerja rumah tangga (PRT) menekankan bahwa mereka adalah pekerja yang tentunya berhak mendapatkan perlakuan seperti pekerja.

Budak

Foto: Liputan 6

Seperti saya pernah bahas di tulisan edisi bahasa Inggris di sini, PRT di Indonesia itu seringkali nggak dianggap sebagai pekerja, malah kalau saya mau lebay sedikit, mereka seringkali cenderung dianggap seperti budak modern. Saya punya alasan dan argumen sendiri, di antaranya:

  • Pekerja Rumah Tangga di Indonesia gak punya jam kerja

Coba, siapa di antara kita yang mau kerja non-stop dari pagi sampai malam, dari Senin sampai Senin lagi, tanpa henti. Emang sih PRT ini diberikan kesempatan untuk tidur siang, nonton sinetron (for the sake of our future generation, jangan racuni mereka dengan sinetron deh) tapi coba hitung berapa jam seminggu mereka kerja, lebih dari 40 jam? Nah kalau melebihi jam kerja, sudahkah mereka mendapatkan lembur?

  • Pekerja Rumah Tangga gak punya libur

Merujuk (duile bahasa saya) pada hal di atas, PRT di Indonesia itu kebanyakan nggak punya libur. Mau tanggal merah, Sabtu dan Minggu, sebagian besar dari mereka pasti nggak libur. Kalau hari Sabtu mereka mau pergi ke suatu tempat, apalagi mau pacaran pasti minta ijin dulu. Terus, kalau tiap Sabtu dan Minggu ijin melulu, dijamin tuannya sang pemberi kerjanya ngomel-ngomel.

  • Gaji tak layak

Alasan orang selalu sama: PRTnya kan live in, kamar disediakan makan juga disediakan. Otomatis gaji dipotong untuk dua hal tersebut. Motongnya gak tanggung-tanggung, bisa 50 hingga 75% dari UMR. Emang nggak bisa dipungkiri bahwa pekerja rumah tangga itu kebanyakan nggak punya skill & nggak berpengalaman (gimana nggak berpengalaman kalau banyak dari mereka masih anak-anak, masih usia sekolah dan di bawah 18 tahun?). Tapi apakah itu semua jadi alasan untuk memberikan mereka upah tak layak?

Ngomong-ngomong soal makanan, kalau gaji mereka dipotong buat makanan, siapa yang bisa kontrol kalau makanan bagi mereka adalah makanan yang layak telan? Saya yakin masih ada  majikan pemberi kerja yang ngasih mereka makanan sisa dari tiga hari lalu, yang kira-kira kita udah nggak tega nelennya lagi. Udah rasanya amburadul, gizinya pun ilang semua.

Di Jaman modern ini saya malah pernah dengar seorang tetangga memberikan ikan kepada PRTnya. Saking baiknya, ikan yang diberikan mengandung gizi tambahan, belatung. PRTnya tak mungkin menelan makanan tersebut dan ceritanya pun menyebar ke seluruh perumahan. Soal kamar tinggal nggak usah dibahas lah ya. Kalau mereka beruntung dapat pemberi kerja yang baik dan berada, kamarnya bisa cukup layak. Tapi kalau nggak beruntung ya kamarnya selonjoran aja susah, kasurnya gak layak diduduki lagi (apalagi ditiduri), belum lagi pengap dan kondisi lain yang suka bikin prihatin.

PRT

Foto: liputan 6

Mungkin banyak yang nanya, kenapa saya ngulang tulisan ini lagi dan dalam bahasa Indonesia? Saya ingin benar-benar menekankan penggunaan kata pekerja bagi mereka yang sudah sangat berdedikasi dalam hidup kita semua. Supaya kita yang gajinya puluhan, belasan bahkan ratusan juga belajar berhenti untuk menyepelekan tenaga manusia lain. Kalau nggak bisa ngasih mereka gaji UMR, setidaknya berikan mereka jam kerja yang layak, hari libur dan waktu istirahat. Saya juga ingin kita jadi lebih baik terhadap pekerja rumah tanggal. Supaya kita gak bawel lagi kalau mereka sibuk telpon sama pacarnya atau keluarganya, seakan mereka manusia yang tak berhak atas waktu pribadi untuk berkomunikasi.

Kalaupun emang belum bisa memenuhi hak mereka dengan baik, tapi saya yakin kalau ngasih libur aja kita bisa ngasih, at least kasih mereka title yang bener. Jangan ketawa, apalagi setengah menghina kalau ada orang bilang mereka ini PEKERJA. Penekanan kata pekerja itu sangat perlu supaya persepsi kita semua berubah, supaya kita nggak melihat mereka sebagai orang yang bisa disuruh jalan ke supermarket jam berapapun. Supaya mereka bisa mendapatkan hak yang sama dengan kita. Masak sih kita nggak mau jadi negara maju yang menghormati, memenuhi dan melindungi kaum kecil. Dan tentunya supaya mereka nggak perlu jauh-jauh ke Arab Saudi, nyari kerja dengan gaji yang serupa UMR, 2,5 juta saja, dengan resiko yang tinggi.

UU PRT sudah ada di dalam daftar prioritas DPR sejak tahun lalu, tapi meskipun UU ini masuk program legislatif nasional, progressnya belum ada. Semoga saja anggota DPR yang sekarang tak sibuk dengan dana aspirasinya dan bisa lebih focus untuk memenuhi hak para Pekerja Rumah Tangga. Pahlawan dan tulang punggung sebagian masyarakat Indonesia.

Nah, kalau disuruh bayar mereka sesuai UMR, memberikan lembur, jam kerja dan cuti, mau nggak? Bukan soal sanggup ya, tapi mau?

Xx,
Tjetje

Ditulis di Jakarta pada 14 May 2014 tapi terlambat posting

Alih Fungsi Gereja

Setelah beberapa kali gagal, kami akhirnya bisa menengok The Church, sebuah bar dan restaurant yang mengambil tempat di bekas gereja. Gereja ini tadinya bernama St. Mary’s Church of Ireland dan didirkan pada abad ke 18. Lokasinya tepat di tengah kota, tak jauh dari Spire of Dublin, menara tinggi yang tak jelas fungsinya. Pada tahun 1964, gereja ini ditutup dan saya duga karena kehilangan jemaatnya. Singkat cerita, gereja ini kemudian dibeli dan direnovasi, lalu pada tahun 2005 dibuka menjadi bar yang bernama John M. Keating’s Bar, sesuai nama pemiliknya. Di Irlandia, punya bar dengan nama sendiri itu konon merupakan mimpi pria-pria. Baru pada tahun 2007 bar ini berganti kepemilikan dan mulai menjadi The Church Bar & Restaurant.

IMG_0482

The Church, tampak luar

Ada banyak nama-nama penting yang diasosiasikan dengan bar ini, termasuk Arthur Guiness, si pembuat bir hitam Irlandia yang punya 21 orang anak (dari satu istri ya, dari satu istri) yang perkawinannya diberkati di gereja ini. Patung dadanya bisa ditemukan di lantai dasar bar ini. Selain Arthur Guiness ada Jonathan Swift, penulis buku ‘Gulliver’s Travels’. Seperti kebanyakan gereja, di lantai gereja ini juga terdapat beberapa orang yang dimakamkan seperti Mary Mercer, pendiri Rumah Sakit Mercer dan juga Lord Norbury, hakim yang memerintahkan eksekusi Robert Emmett di tahun 1803. Nah proses eksekusi Robert Emmet ini boleh dibilang super kejam. Ceritanya bisa dibaca di sini. Di belakang The Church, juga bisa ditemukan sebuah lapangan yang tadinya merupakan kuburan. Masih kuburan sih karena tulang belulang itu katanya tak pernah dipindahkan.

IMG_0480

The Church sendiri terdiri dari Bar, Bar Garden, Restaurant serta Club. Kami nongkrong di lantai dua, di restaurantnya. Sayangnya ketika itu sudah terlalu sore untuk melakukan self-guided tur keliling, tapi kapan-kapan bisa balik lagi. Selain restaurant, ada juga bar yang terletak di lantai dasar dan juga di luar, sembari berjemur menikmati matahari yang malu-malu. Satu hal yang perlu dicatat, ada dress code untuk masuk the Church, casual. Tapi syukurnya ini tempat gak mewajibkan hak tinggi seperti di Jakarta. Aturan aneh yang saya tak paham karena tak seharusnya nightclub mengatur what to wear. Lagian, siapa sih yang mau lihat sepatu orang kalau lagi makan ataupun minum?

Jika dilihat sekilas, ada beberapa hal yang masih dipertahankan di restaurant ini seperti organ yang konon dibuat oleh Renatus Harris (salah satu tukang organ terkenal pada masanya), kaca-kaca dan dinding-dinding dengan tombstonenya. Bilik pengakuan dosa, kursi-kursi, apalagi altar sudah tak ada lagi. Padahal kursi-kursi yang menyerupai kursi di gereja sering kali digunakan sebagai kursi di bar Irlandia. Tempat altar berada sekarang berubah jadi tempat pertunjukan musik yang dilangsungkan pukul tujuh malam pada malam-malam tertentu.

IMG_0449

Bagi orang, beralihnya fungsi rumah ibadah mungkin merupakan skandal. Tetapi bangunan ini bukan satu-satunya gereja di Dublin yang berubah fungsi. Gereja St Andrew yang juga terletak di tengah kota, dibeli oleh pemerintah kota Dublin pada tahun 1994 dan dua tahun kemudian dibuka menjadi Dublin Tourism Center. Bangunan unik ini terletak di Suffolk street, persis di mana patung Molly Malone yang terkenal sekarang ditempatkan. Jika sedang berada di Dublin, tak ada salahnya masuk ke bangunan ini untuk sekedar duduk-duduk atau mencari informasi tentang pariwisata.

Saya yakin dua bangunan di atas hanya sedikit dari gereja yang beralihfungsi. Perubahan ini pun tak hanya terjadi di Dublin. Skotlandia dan Amerika merupakan negara lain yang menjadi tuan rumah dari gereja yang berubah fungsi. Di Indonesia sendiri saya yakin hal seperti ini akan sangat ditentang oleh masyarakat. Kalau kalian sendiri, setujukah jika salah satu bangunan rumah ibadah kalian dirubah fungsinya menjadi restaurant atau bahkan bar?

xx,
Tjetje

Tentang Rasisme & Irlandia

Salah satu ide yang diberikan kepada saya dalam postingan bagi-bagi kartu pos adalah tentang rasisme di Irlandia. Menurut Adi, seorang penulis perjalanan yang juga blogger pernah menulis tentang rasisme di Irlandia. Terus terang saya tak pernah membaca buku tersebut, jadi saya tak bisa berkomentar tentang tulisannya, tetapi saya harap penulisnya tidak menggeneralisasi Irlandia dan orang-orangnya sebagai negara yang rasis.

Selama beberapa tahun wira-wiri ke Irlandia, berinteraksi dengan orang lokal dari mulai yang diperkotaan hingga yang dipedesaan, saya tak pernah mengalami diskriminasi, harassment, eklusi, ataupun pengalaman tak mengenakkan lainnya berdasarkan warna kulit dan ras. Sejauh ini pengalaman saya semuanya baik-baik saja. Bahkan, baru-baru ini saya duduk di sebuah bar tertua di Irlandia, mengobrol dengan barmannya yang super duper ramah. Dia bertanya pada saya mengapa saya tak pindah ke Irlandia saja jika saya menyukai Irlandia, pertanyaan yang saya jawab bahwa saya akan segera pindah musim gugur ini. Pria tersebut berusia tak muda lagi, sekitar enam puluh atau tujuh puluh tahun. Asumsi saya, kalau Irlandia tertutup terhadap pendatang dengan kulit berwarna seperti saya, biasanya orang muda apalagi orang tuanya tak akan seterbuka itu apalagi nanya kenapa saya gak pindah kesana aja.

Pengalaman lainnya terjadi saat saya pertama kali mengunjungi sebuah kantor pos, saya tak ingat ketika itu saya di Dublin atau di Galway, sebuah kota kecil di barat Irlandia. Ketika itu saya memandangi semua sudut kantor pos, mungkin terlihat kebingungan, padahal saya sedang membaca semua informasi. Lalu seorang nenek datang dan menawarkan bantuannya kepada saya. Sekali lagi, kalau mereka rasis, saya tak akan ditawari bantuan, malah mungkin akan dicela karena sibuk memandangi semua sudut kantor pos. Dua hari lalu, saya ngobrol bersama seorang perempuan Irlandia-Amerika, ibunya, serta perempuan yang sudah berpindah ke Irlandia sejak enam tahun. Perempuan ini mengatakan pada kami bahwa jika kelihatan bingung selama sekian detik saja di Irlandia, pasti akan ada yang datang dan bertanya “Are you okay love? Are you lost love?”. Pada saat yang sama ia dan saya juga takjub dengan keramahan orang Irlandia dan kedoyanan mereka untuk ngobrol dengan orang asing. Catet tapi ya orang Irlandia itu akan bereaksi ramah kalau kitanya juga chatty kalau kitanya jutek saya jamin mereka akan jutek juga.

Pengalaman saya berinteraksi juga terjadi dengan tetangga-tetangga di wilayah saya tinggal. Orang-orang yang kami temui juga ramah, khas Irlandia. Pembicaraan yang paling nyerempet ke warna kulit cuma terjadi saat kami membahas matahari, biasanya berkaitan dengan mandi matahari atau sun bathing yang sering saya balas bahwa saya tak suka mandi matahari karena saya sudah cukup tan dan karena panas di Irlandia itu ‘boongan’. Kalau ngebahas matahari, saya nggak cuma ngebahas dengan tetangga, tapi dengan banyak orang, dari tukang kapal, sampai orang yang tak saya kenal. Di sini, ngebahas cuaca dan matahari itu merupakan topik favorit.

Menurut saya pribadi, Irlandia termasuk ramah terhadap pendatang karena kota ini merupakan melting pot dari berbagai kultur. Banyak perusahaan-perusahaan internasional membuka kantor pusatnya disini, bahkan mereka memiliki Silicon Valleynya sendiri. Perusahan-perusahan ini tak hanya punya pegawai dari Irlandia saja, tapi juga secara rutin mencari pegawai dari berbagai belahan dunia. Irlandia juga menjadi satu tempat yang menarik untuk belajar bahasa Inggris bagi orang-orang non-English speaker. Melihat orang non-Irlandia yang berkulit tak putih menenteng buku-buku bahasa Inggris, termasuk buku IELTS (dan nongkrong si Sbux) bukanlah hal yang aneh. Di kendaraan umum mendengar bahasa non-Inggris juga bukan hal aneh.

Kendati tak pernah mengalami diskriminasi, bukan berarti diskriminasi berdasarkan ras tak terjadi. Jika melihat hasil penelitan, ada banyak kejadian di kendaraan umum, ruang publik, jalanan maupun kendaraan umum. Berdasarkan sebuah riset tentang imigran yang bisa dilihat di sini, orang Asia dan Eropa Timur paling sedikit didiskriminasi, sementara orang Afrika yang berkulit hitam paling sering didiskriminasi. Riset ini kendati dilakukan bertahun-tahun lalu, dan mungkin tidak terlalu relevan, bisa sedikit memberikan gambaran bahwa rasisme juga ada di negeri ini. Pelabelan terhadap orang-orang dari golongan tertentu, seperti Traveller juga ada di negeri ini, tapi bukan berarti Irlandia dan orang-orangnya rasis, hanya segelintir yang seperti itu.

Sebuah kampanye tentang rasisme juga diluncurkan oleh Board of Racism di Irlandia tahun lalu yang mendorong orang-orang untuk melaporkan tentang kejadian rasisme, jika mereka melihat atau mengalami. Poster-posternya saya temui di bandara, maupun kendaraan umum seperti kereta api. Saya tak pernah memotret poster-poster tersebut, tapi nanti jika ketemu poster ini akan saya potret dan post di Instagram, silahkan follow instagram saya @binibule (sekalian promosi).

Berbicara tentang rasisme tak bisa lepas dari negeri kita sendiri yang sebagian kecil (semoga saya benar, hanya ada sebagian kecil saja) tidak menyukai orang Indonesia dari keturunan tertentu. Kendati sudah beberapa generasi lahir dan besar di Indonesia, makan nasi sama sambal terasi, ngomong Jawa medok, atau bahkan bahasa Nias medok, membangun Indonesia dan berkontribusi pada pembangunan negeri, tapi mereka masih sering dilabeli segala kata sifat yang negatif. Tak hanya dengan orang Indonesia, seringkali orang-orang rasis terhadap mereka yang berkulit hitam, baik kulit hitam dari negeri sendiri maupun dari Afrika. Seorang teman kos saya pernah curhat sambil panik, karena kos kami akan digusur. Rupanya, banyak sekali penolakan yang dialaminya untuk mendapatkan kos karena kulitnya yang hitam.

Tak selayaknya manusia didiskriminasi atas dasar apapun, baik itu ras, warna kulit, agama, orientasi seksual, jender ataupun disabilitas. Pada saat yang sama, tak selayaknya pula kita menyebut suatu komunitas bahkan negara sebagai tempat yang diskriminatif, karena sebenarnya diskriminasi dan rasisme itu dilakukan oleh segelintir manusia saja.

Masih seringkah kalian mendengarkan atau melihat hal yang rasis?

xx,

Tjetje

Pengumuman Kartu Pos

Terimakasih banyak atas ide-idenya rekan-rekan. Beberapa ide akan saya tulis dan persiapkan dulu materinya. Ada banyak ide menarik yang saya dapatkan, dari mulai pengumpulan sampah di Irlandia, perangko special, koleksi, kartun Eropa, kebiasaan orang Indonesia yang jadi aneh di Dublin, sekolahdi Indonesia yang bisa buat bayar PhD, rasisme di Irlandia, same sex marriage yang baru saja disetujui sebagian besar rakyat Irlandia melalui referendum, etos kerja orang Irlandia, kehidupan muslim dan Ramadan (yang puasa summer ini panjang bener deh ), sejarah perpecahan Irlandia, sampai soal summer di Irlandia yang suka bikin saya ketawa.

Soal musim panas, bagi orang Irlandia 18 derajat itu sudah tropical dan hawanya sudah enak banget. Begitu naik di atas 20 derajat mereka sudah kepanasan, sementara saya di atas 20 derajat aja masih kurang panas. Mana mataharinya disini kayak listrik di Medan, byar pet, muncul lima menit, terus ilang lagi kesamber angin. Anyway, cerita tentang musim panas baru bisa saya publikasikan tahun depan, karena tahun ini saya cuma ngerasain musim panas seimprit.

Satu postingan tentang rasisme akan dipublikasikan minggu ini, pada hari Jumat jam 11 siang. Dan seperti yang ditunggu-tunggu, dua orang yang beruntung mendapatkan kartu pos adalah:

Puji dan Adie.

Post card 1

Untuk kedua pemenang, silahkan mengirimkan alamatnya ke email saya binibule.com (at) gmail (dot) com sebelum tanggal 24 Juni ya supaya kartu postnya dapat segera saya kirimkan.

https://instagram.com/p/38_Cb0wxkG/?taken-by=binibule

Pantengin terus blog ini karena bulan Oktober nanti ada satu kartu pos yang sudah beberapa tahun saya simpan. Kartu pos itu dikeluarkan PBB dengan gambar-gambar Palestina dan rencananya akan saya kirimkan untuk satu orang yang beruntung pada tanggal 24 Oktober 2015, tepat pada hari PBB. Sengaja saya tunggu untuk dikirimkan dari Paris karena kota itu menjadi kota bersejarah yang mencatat sejarah menarik tentang sebuah badan spesial, PBB serta Palestina. Tunggu ceritanya Oktober besok ya.

xx,

Tjetje

Menonton The Look of Silence

[postingan ini mengadung deskripsi adegan kejam, silahkan kuatkan mental]

Satu hal yang jarang saya lakukan di Jakarta dan selalu saya lakukan jika berada di Dublin adalah nonton film di bioskop, padahal harga tiket nonton film di Dublin itu berkali lipat dari Jakarta,  tapi di Dublin saya gak perlu bergulat dengan kemacetan untuk mencapai bioskop. Kali ini saya menonton ‘sekuel’  The Act of Killing (Jagal) yang pernah saya bahas di sini. Film ini boleh dibilang sekuelnya, walaupun sebenarnya bisa ditonton tanpa perlu menonton film sebelumnya.

Joshua Oppenheinmer sekali lagi membuat saya ternganga dan bercucuran air mata dengan karya terbarunya, The Looks of Silence (senyap). Film documenter ini sekali lagi merekam perilaku para jagal yang mengambil peran menghabisi orang-orang yang dituduh sebagai bagian dari komunis. Di film ini Joshua mempertemukan saudara dari korban yang dituduh sebagai komunis, sengaja saya beri kata dituduh karena mereka tak pernah mendapatkan pengadilan yang layak dan langsung dihukum dengan cara yang sadis.

Pria yang saudaranya dituduh komunis dan dieksekusi secara sadis itu bernama Adi Rukun, ia berumur 44 tahun dan berjualan kacamata keliling. Melalui kacamata itulah Adi bertemu dengan sebagian para penjagal abangnya. Selain Adi, ada juga orang tuanya, Bapaknya yang sudah sangat tua, buta, lumpuh dan tinggal tulang berbalut kulit, serta Ibunya yang masih punya ketakutan luar biasa akan keselamatan anaknya. Pedih rasanya melihat keluarga miskin itu berjuang menghadapi ketakutan mereka dan trauma mereka yang tak pernah sembuh. Lebih pedih lagi ketika melihat Adi, saya melihat keluarga yang dituduh komunis yang tidak bisa mengakses pekerjaan formal karena tuduhan komunis yang menempel pada kakaknya dan diturunkan ke berbagai generasi. Kakak yang bahkan dia tak pernah temui. Ketika melihat anaknya pun saya makin trenyuh, karena saya menduga anak-anaknya, yang juga muncul di film tersebut, akan mengalami ‘kesulitan’ di masa depan, bahkan tak bisa menjadi bagian dari pemerintahan.

Para penjagal ini adalah orang-orang yang beragama dan menunaikan ibadah. Salah satu dari mereka bahkan menjadi wakil rakyat. Bagi mereka, komunis itu tak mengenal agama oleh karenanya wajib dibunuh dengan cara sadis, karena mereka mengganggu keamanan negara. Seorang penjagal ketika ditanya apa itu deskripsi komunisme malah marah-marah dan menuduh Joshua melarikan ini ke ranah politik. Saya menduga, mereka tak mengerti apa itu komunisme lalu menjadi defensif. Yang mereka pahami, komunis tak mengenal Tuhan, berpesta seksual serta bergantian pasangan. Ya kalau definisi komunisme sendiri mereka tak paham, apalagi definisi swinger.

Para penjagal ini tak segan menunjukkan cara mereka membunuh korbannya, dari mulai memotong di bagian tengkuk, ataupun di bagian depan leher. Bahkan salah satu dari mereka membuat sebuah buku yang dilengkapi dengan ilustrasi cara menjagal. Buku itu kemudian dipersembahkan kepada Joshua. Menjagal hewan menurut saya bukanlah hal yang mudah, apalagi menjagal manusia. Untuk menguatkan hati dan menghindari masalah kejiwaan mereka meminum darah dari korban yang mereka jagal. Darah yang keluar dari tenggorokan mereka tampung di gelas dan mereka minum. Konon ada beberapa penjagal yang tak kuat dan mengalami masalah kejiwaan, hingga mereka menaiki pohon kelapa untuk mengumandangkan panggilan beribadah. Kasihan sekali mereka tak diberi akses untuk konsultasi masalah kejiwaan.

the looks of silence

Menariknya, keluarga dari para penjagal ini rata-rata tak pernah tahu masa lalu Bapaknya (semua penjagal yang ditampilkan di film ini adalah pria). Kalaupun mereka dikonfrontasi dengan pekerjaan bapak atau suaminya, mereka akan menjadi defensif dan mengatakan: yang lalu biarlah berlalu, atau luka lama tak perlu dibuka lagi karena luka sudah menutup. Istri yang ikut hadir ketika suaminya (yang sekarang sudah meninggal dunia) memberikan buku berisi cara eksekusi juga terkesan sangat menghindar, tak mau tahu, atau jika tahu pura-pura lupa.

Satu hal yang menarik, seorang penjagal berkata bahwa mereka adalah pahlawan karena mereka berjasa menghapuskan komunisme dan mendorong demokrasi. Membantu Amerika, oleh karena itu mereka berhak untuk diajak jalan-jalan ke Amerika, kalau tak bisa naik pesawat terbang ya naik kapal pesiar ke Amerika. Kalau saya boleh misuh, rasanya saya pengen misuh, mbahmu *nc*k. Emangnya Amerika mau ngasih visa buat para penjagal?

Karena dua film documenter ini Joshua Oppenhemeir menjadi persona non grata dan tak bisa kembali ke Indonesia. Saya sendiri hanya bisa berdoa semoga Adi Rukun yang dengan beraninya mengkonfrontir penjagal abangnya, menceritakan luka keluarganya yang saya yakin tak mudah untuk diceritakan, bisa senantiasa selamat dan dijauhkan dari marabahaya. Konon, demi keamanannya dia harus dipindahkan dari tempat dia tinggal ke sebuah tempat di Indonesia.

Sekali lagi Joshua telah membuka cerita lama, cerita tentang kekejaman terhadap anak manusia lainnya atas nama ideologi politik. Dan saya pun merekomendasikan film ini untuk ditonton, supaya kita bisa melihat sisi yang berbeda yang selama ini kita dengar di sekolah. Untuk yang pengen nonton filmnya bisa isi formulirnya di sini. Semoga film ini, seperti film Jagal, bisa segera diunduh secara gratis.

xx,

Tjetje

Etika Mengunggah Foto

Semenjak kehadiran media sosial dan telephone genggam pintar, fotografi yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita (dan seringkali diasosiasikan dengan hobi mahal), berubah menjadi hobi yang bisa diakses semua orang. Fotografi menjadi media untuk berbagi, tak hanya momen baik dalam hidup, tetapi juga momen yang penuh kesedihan, dari kelahiran, kesakitan, hingga kematian. Sayangnya kemudahan mengambil foto tidak dibarengi dengan etika untuk menghormati orang lain.

Kelahiran di banyak negara, atau bahkan semua negara, dirayakan sebagai momen yang membahagiakan. Bagi orang tua baru (maupun tante baru seperti saya), mengabadikan setiap momen dan membaginya di sosial media kemudian menjadi hobi baru. Tak ada yang salah dengan berbagi foto bayi-bayi paling lucu sedunia tersebut, asal gak terlalu sering dan gak bikin orang muak, tetapi seperti pernah dibahas Mbak Yoyen disini, hobi baru ini membuat lahirnya sharent, sharing parent. Menurut pendapat saya, ada kecenderungan orang tua jaman sekarang kebablasan dalam mengunggah foto anaknya ke dalam media sosial dan lupa bahwa anak-anak ini juga punya privacy yang harus dihormati. Nggak semua orang tua tentunya, hanya sebagian. Saat mereka masih kecil, mereka tak punya suara untuk protes foto-fotonya diunggah demi kesenangan orang dewasa melihat perilaku anak kecil, tapi ketika mereka sudah besar, menjadi valedictorian, artis ternama, atau menjadi apa saja, akan ada momen dimana mereka merasa malu fotonya sedang bertelanjang ikut kontes bedak bayi beredar di sosial media dan googleable. Foto-foto yang seringkali tak bisa dengan mudahnya dihapuskan begitu saja, tak hanya karena the rights to be forgotten belum eksis di Indonesia, tapi juga karena jejaknya bertebaran dimana-mana, dari blog hingga email pengikut blog.

Over-Sharing

Bahaya yang ditimbulkan dari pamer foto secara berlebihan tak hanya timbul di masa depan, tapi juga ada di masa ini. Tak cuma penjahat kelamin yang mengincar foto anak-anak, tetapi juga musuh dari orang orang tua. Awal bulan Mei lalu, saya berkesempatan bertemu dengan seorang pengamat media yang mengajarkan betapa mudahnya melakukan profiling orang, bahkan kita bisa segera tahu keluarga dan anak-anaknya mereka yang mereka letakkan ke dalam ranah publik. Informasi tentang sekolah, rutinitas, dan aktivitas anak-anak lainnya bisa dengan mudahnya dikumpulkan dari Facebook, Twitter, Instagram, Path ataupun media sosial lain milik orang tuanya. Dampaknya, anak-anak itu akan sangat mudah menjadi sasaran kejahatan dan sekali lagi, orangtuanyalah yang meletakkan mereka pada posisi yang cukup berbahaya.

Selain kelahiran, momen sakit dan kematian juga menjadi momen yang seringkali dibagi. Foto orang sakit dalam kondisi yang sangat rapuh dengan berbagai selang dan alat oksigen terpasang misalnya dengan seenaknya dipasang di media seperti Facebook lalu dilabeli dengan seratus nama orang teman-teman si sakit. Lucunya, semua orang akan mengucapkan cepat sembuh di media sosial tersebut, bukan kepada yang sakit secara langsung. Bagi saya, foto orang sakit ini tak etis dipamerkan, kecuali jika mereka yang sakit memang menghendaki.

Jika foto orang sakit dapat mudah diturunkan ketika sang empunya melihatnya, tak begitu dengan foto jenasah. Mereka yang meninggal, baik yang mengalami kecelakaan, sakit maupun bencana lainnya, seringkali fotonya diumbar, tak hanya di media sosial saja, tetapi juga di media massa (biasanya media massa murahan yang melakukan hal tersebut dan sebaiknya media seperti itu tidak dibaca). Sudah sewajarnya kalau foto jenasah tidak dipasang, selain urusan persetujuan, ada juga urusan kepantasan. Bukan karena mati itu tidak pantas, tetapi saat kematian adalah saat yang paling rapuh, baik bagi keluarga maupun orang tersebut, tak selayaknya kalau kita berlomba-lomba mencari jempol like dan komentar dari foto-foto tersebut. Ketika suatu hari saya nanti meninggal, saya tak akan ingin foto saya diumbar seperti itu, makanya jika ada foto seperti itu bertebaran, saya tak segan melaporkannya. Kalaupun ingin mengabarkan kematian, tak cukupkah dengan menggunakan kata-kata? Jika dirasa tak cukup, kenapa tidak menggunakan foto terbaik dari almarhum?

dead body

Selain foto-foto yang disebut di atas, saya baru-baru ini melihat seorang so-called travel blogger yang mempublikasikan karya-karyanya di pinggir pantai, memotret perempuan-perempuan yang sedang mengenakan bikini, berjemur. Foto-foto tersebut saya yakin diambil dengan cara diam-diam lalu dipublikasikan tanpa sepengetahuan sang empunya badan. Saya tak ingat nama blognya karena saya begitu jijik dengan perilaku itu dan segera menutup blog tersebut. Sungguh tak elok dan tak pantas mengambil foto tubuh perempuan untuk kemudian diumbar untuk menyenangkan mata. Dimana nilai edukasi dan pengetahuan yang bisa diberikan seorang blogger kepada pembacanya? Saya tak sempat melihat lebih dalam blog tersebut, tetapi kalau ada satu iklan saja di blog tersebut, saya tak segan menuliskan surat protes terhadap produk tersebut, karena produk tersebut secara tak langsung memperbolehkan blogger pervert untuk mengiklankan produknya.

Sebagian dari kita tak lahir sebagai generasi Y, generasi yang tumbuh dengan sosial media, otomatis banyak dari kita yang gagap dengan segala teknologi baru ini. Tapi saya yakin, generasi Y yang besar dengan sosial media pun juga banyak yang tak paham dengan etika dan sosial media. Oleh karenanya mari kita sama-sama belajar untuk menjadi individu yang lebih baik dan lebih menghormati tubuh serta muka orang, dari mulai yang masih kecil, hingga yang besar. Dari yang masih hidup hingga mereka yang sudah meninggal dunia. Menjadi orang tua, juga bukan berarti bisa semena-mena mengumbar foto-foto anaknya ke dalam dunia maya.

Tell me, selain foto di atas, foto apa yang paling sering diunggah dan mengganggu pemandangan di sosial media?

Xx,

Tjetje

PS: yang berminat kartu post dengan perangko special dari Irlandia boleh tengok IG saya: binibule.

Dibangunkan Jerit Tangis Anak-anak Badui

Tidur saya yang nyenyak, walaupun hanya beralaskan sleeping bag di atas lantai bamboo yang berisik, dikoyak oleh sahut-sahutan tangisan anak-anak Badui dalam, termasuk anak Ibu Pemilik Rumah yang berteriak-teriak ‘Ambu…Ambu….’. Di kejauhan ayam berkokok dengan nyaring dan kisah pertemuan alu dan lesung dengan bantuan lengan kokoh para perempuan Badui pun dimulai.

Badan saya super remuk, kaki saya sekeras batu, kaku dan susah dilipat. Tapi dengan kondisi seperti itu saya memaksakan diri untuk ke sungai, melihat kehidupan Badui di pagi. Para ibu-ibu ternyata sudah sibuk menumbuk padi, beberapa melakukannya sambil menggendong bayi di punggungnya. Beberapa perempuan yang bertelanjang dada di sungai langsung menaikkan kembennya ketika melihat kami berjalan ke arah sungai, nampaknya mereka malu. Suasana di sungai saat pagi ternyata sangatlah ramai tak hanya dengan orang dewasa tapi juga dengan adik bayi yang belum genap satu tahun. Seorang anak kecil yang baru bisa berdiri, mungkin baru berumur setahun juga sudah dimasukkan ke dalam sungai. Bikin saya yang anak kota ini deg-degan, takut kalau ia terpleset dan terguling masuk ke dalam sungai. Sambil melihat anak-anak kecil itu saya bertanya dalam hati, apakah anak-anak ini mengenal vaksin? Gak usah repot dijawab, jawabannya sudah jelas gak kenal. Huruf aja gak kenal kok vaksin.

soaking wet

Little Red Riding Hood basah kuyup dari atas kepala sampai ujung kaki. Kamera pun mengalami kelembaban luar biasa, makanya tak bisa ambil foto banyak-banyak. (foto courtesy of Ms. A.R. Amalia)

Little Red Riding Hood basah kuyup di Badui. Kamera pun ikutan mandi, makanya foto cuma seiprit.

Menu sarapan pagi kami adalah nasi dan mie instant yang kami bawa dari kota, saya tetap konsisten dengan puasa tidak makan mie instan dan hanya memakan nasi putih dan abon ayam. Pagi itu Ajak, porter saya juga sudah muncul di tempat kami tinggal dan bergabung untuk sarapan mie instant. Perut orang Badui dalam pun sudah teracuni mie instant. Yang menyedihkan, tuan rumah meminta kami meninggalkan botol plastik yang akan kami bawa pulang. Nampaknya botol ini diminati oleh beliau supaya bisa digunakan lagi untuk mengisi air. Ah padahal bambu tempat air mereka lebih baik ketimbang plastik-plastik itu.

Pagi itu kami melewati rute yang berbeda dan sempat melewati kuburan serta  lumbung padi milik masyarakat Badui. Lumbung itu nampaknya menjadi incaran tikus, kami bahkan bertemu bayi-bayi tikus yang masih merah di areal lumbung. *teringat Ibu saya yang anti tikus dan pernah menyiram bayi tikus merah itu dengan air mendidih* Saya sudah sangat berharap tidak ada tanjakan yang mengerikan lagi, ataupun turunan yang mengerikan. Harapan saya pupus, kali ini turunan yang luar biasa curam dan licin. Awalnya saya sukses tak jatuh sama sekali, hingga akhirnya saya jatuh sebanyak 5 kali, padahal saya tak membawa beban apa-apa di pundak, apalagi di punggung. Bandingkan dengan pedagang bakso pikulan yang kami temui di sebuah tanjakan, ia sedang menuju Badui Dalam dan tentunya berusaha untuk tidak jatuh sama sekali.

Kami juga sempat terpisah dari rombongan pertama dan nyasar. Untung saja kami bertemu dengan rombongan kedua, jika tidak, mungkin kami berakhir satu malam di tengah hutan. Hikmah dibalik nyasar itu kami berpapasan dengan makluk terganteng se-Badui Dalam (versi saya), kulitnya bersih seperti porselen, dengan muka mirip-mirip orang Jepang atau Korea. Saya sebenarnya penyuka pria eksotis dengan kulit coklat, tapi untuk mas Badui Dalam ini saya membuat pengecualian karena ia ganteng banget. Sayangnya si Mas tak bisa diajak selfie karena kami ada di dalam Badui Dalam. Aaaaarhg!!!!

Ketika kami mulai masuk ke dalam Badui Luar, ada satu hal yang membuat saya bersorak kegirangan: kamar mandi. Kamar mandi yang tanpa lampu ini terasa sebagai modernisasi yang indah. Tak hanya menemukan kamar mandi, kami juga menemukan pedangan aneka rupa minuman botol. Ajak, sang porter saya dari Badui Dalam yang setia mengangkut tas saya selama dua hari ini memilih SPRITE untuk menghilangkan dahaga. Owalah sarapan mie instan, siang minum soft drink ya. 

Badui Blog 1

Tukang bakso vs Mbak-mbak takut ketinggian. Jembatan segitu aja bikin saya keder. Btw, teman-teman saya ada yang berpapasan dengan anak Badui yang lagi bermain, bikin jembatan!!!! Photo courtesy of Ms. A.R. Amalia

Perjalanan kami diakhiri dengan istirahat di rumah guide kami, Lamri, seorang anak Badui Luar. Tak banyak foto yang bisa diambil dari perjalanan ini karena hujan yang senantiasa menemani. Tapi yang paling banyak kami rekam adalah pelajaran hidup. Dalam perbicangangan kami dengan Lamri, sempat timbul pertanyaan, mengapa orang Badui tidak mau sekolah, rupanya  bagi mereka sekolah itu membuat pintar, sementara kepintara itu membuat kita membodohi orang. Sebuah sindiran halus bagi kita semua untuk selalu merunduk, seperti padi yang menjadi salah satu tanaman andalan orang Badui.

Saya juga belajar dari Ajak tentang hidup. Ketika melihat tanjakan 45 derajat ia meyakinkan saya untuk tidak memikirkan tantangannya, “Jangan dipikir, kalau dipikir susah”. Hidup ini memang jangan memikirkan apa yang akan kita hadapi, susah ataukah mudah, tetapi yang paling penting diri kita harus selalu siap dan bersemangat untuk menghadapi keduanya.

Kepulangan kami tak berkesan dan tak memiliki cerita menarik, karena kereta yang lebih mahal dua kali lipat panas, bau, pesing dan kursinya terbatas. Tak apa yang penting kami berhasil meracuni satu gerbong dengan bau Ciboleger. Ini istilah yang diberikan pedagang asongan di atas kereta.

Biaya mengunjungi Badui sangatlah murah, tetapi diperlukan tenaga dan kaki yang kuat. Kalau kakinya tak biasa jalan mendaki seperti saya bakalan sengsara. Bagi kalian yang masih muda, saya sarankan untuk pergi ke Badui. It worth every pain and every fall.

Selamat hari Senin, mari bekerja keras seperti orang Badui!

Xx,
Tjetje

Semalam di Desa Cibeo Badui Dalam

Warning: postingan ini super panjang!

Saya yang takut ketinggian ini sempat menyesal karena nekat pergi ke Badui demi melihat desa yang menolak teknologi, apalagi ketika harus naik sebuah bukit dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Tapi penyesalan terbayar setelah saya tiba di puncak pelataran, disambut indahnya gunung berkalung awan dan bukit-bukit nan hijau. Sayangnya kami sudah berada di Badui Dalam sehingga tidak boleh mengambil foto.

Setelah berjalan 5,5 jam, bermandikan hujan dan berbalut lumpur ( dibeberapa sudut desa saya harus meluncur, perosotan karena licin) rombongan kami tiba di desa Cibeo dan disambut anak-anak berpakain tradisional yang kecantikannya mengalahkan Manohara. Anak-anak perempuan mengenakan perhiasan layaknya perempuan Dayak, sementara anak laki-laki bersenjatakan golok di pinggangnya. Seorang  perempuan paruh baya berjilbab tampak duduk tak jauh, menjual jajanan khas kota berbungkus plastik. *WHAT?????!!!!*

Di depan rumah Badui yang dibangun tanpa paku, terletak sebuah penggorengan untuk menampung air hujan dari atap. Mulanya saya agak bingung, mengapa mereka meletakkan penggorengan di tanah, hingga seorang anak berdiri di dalam penggorengan itu, mencuci kakinya. Rumah orang Badui Dalam, atau urang Kanekes, tempat kami menginap terdiri dari satu satu kamar saja, di dalam kamar tersebut terdapat tungku untuk memasak. Selebihnya tak ada sekat.

Masyarakat Cibeo membagi sungai menjadi dua, untuk pria dan perempuan. Untuk perempuan lokasinya di dekat tempat menumbuk padi, dekat dengan jembatan bambu yang merupakan gerbang kampung Cibeo. Mereka yang berkunjung ke desa Cibeo pasti disambut dengan pemandangan perempuan segala usia yang sedang sibuk melakukan aktivitas buang air, mencuci peralatan memasak, mencuci pakaian, mandi, bahkan mengambil air untuk memasak. Tak hanya manusia yang melakukan aktivitasnya disini, anjing pun minum dari air ini.

Sungai untuk pria berada agak jauh dari aktivitas para perempuan. Para pria mewarisi air yang mengalir dari lokasi perempuan. Makanya mereka sudah biasa melihat kotoran manusia, hadiah dari perempuan Badui, mengalir ketika mereka sedang beraktivitas. Persis yang dialami seorang rekan dalam rombongan kami.

Pakaian perempuan Cibeo berupa kain panjang untuk menutup bagian bawah dan kemben untuk bagian atas. Jika mereka hendak buang air, maka mereka tinggal mengangkat kain panjangnya dan jongkok memasukkan pantatnya ke air. Pengamatan saya, tidak ada kegiatan cebok karena arus air langsung membersihkan ketika mereka jongkok. Konon para pria di Badui Dalam juga tidak mengenal celana dalam, pakaiannya hanya berupa sarung pendek.

Ajak Badui

Fotonya sengaja dipotong supaya yang berdiri disampingnya tak ikutan nongol di blog

Fakta menarik lain yang kami temukan, ternyata, hanya perempuan yang mengambil air dari sungai, laki-laki tidak melakukan hal tersebut. Padahal bambu untuk mengangkut air itu beratnya ketika penuh air luar biasa. Bambu mirip kentongan itu panjangnya sekitar 60-70 cm dengan dua lubang kecil di sisi atas, dekat pegangannya untuk mengeluarkan air dan diletakkan berjajar di  depan rumah mereka. Saya sendiri tidak sanggup mengangkutnya, kalah dengan anak kecil di Badui.

Kami mengobrol dan mengajukan banyak pertanyaan kepada Tuan Rumah, dari mulai upacara kematian, warisan, perkawinan hingga program KB. Tak ada listrik di Cibeo, karena mereka menolak modernisasi, untungnya mereka tidak menolak senter, sehingga saya dapat menyalakan senter untuk menjadi penerang di rumah seluas 6 x 7 meter tersebut.

Mereka yang meninggal dikuburkan di makam yang terletak di seberang sungai. Jenazah dibungkus kain dan ditali pada bagian atas kepala, leher dan kaki, serta tak lupa dimandikan terlebih dahulu. Tidak di sungai tersebut, tetapi ada tempat pemandian khusus. Setelah dikuburkan, selesailah urusan antara yang hidup dan yang mati, tidak ada acara ziarah seperti kita yang tinggal di kota, walaupun ada selamatan kematian pada hari 1, 3 dan 7.

Menurut tuan rumah kami, warisan dibagi rata, tidak ada perbedaan antara laki dan perempuan. Warisannya berupa tanah untuk bercocok tanam. Jika mereka hendak membuka lahan baru untuk bercocok tanam, maka Pu’un-lah (kepala suku) yang berhak memberikan izin, apakah mereka diperkenankan atau tidak.

Perjodohan merupakan hal yang lazim dilaksanakan di Cibeo, kualitas yang dicari bukan kecantikan ataupun kekayaan, tetapi kemampuan bertanam. Proses lamarannya bisa memakan waktu hingga 1 tahun dan “mas kawin” yang disiapkan berupa kain dari pihak pria untuk pihak perempuan dan dari pihak perempuan untuk pihak pria. Salah satu bagian dari upacaranya adalah perempuan mencuci kaki pria.

penenun badui

Perempuan Badui Luar sedang menenun di depan rumahnya

Kendati snack modern masuk mengincar anak kecil, KB tak masuk di Cibeo. Tak heran desa ini dipenuhi oleh anak kecil. Anak-anak perempuan berusia 5 tahun pun sudah sibuk menggendong adiknya yang masih bayi. Masyarakat Badui juga tidak mengenal perceraian karena mereka monogami. Di Cibeo juga tidak ada kasus kehamilan di luar perkawinan. Komentar seorang teman, “Ya bagaimana ada kasus kehamilan di luar perkawinan jika mereka dikawinkan ketika libido mereka belum muncul”. Satu pertanyaan yang tak pernah saya tanyakan tentang dimana mereka membuat bayi, karena rumah mereka tanpa sekat yang berlantai bambu, berisik jika diinjak.

Urang Kanekes tidak diperkenankan kawin dengan Badui Luar, jika melanggar, mereka harus keluar dari Badui Dalam. Begitu juga dengan Badui Luar,  mereka tak diperkenakan kawin dengan orang non-Badui. Hukuman keluar juga dilakukan jika mereka melakukan kesalahan seperti naik kendaraan. Sebelum keluar mereka akan dipaksa bekerja, tanpa dibayar, kemudian dipindahkan ke sebuah wilayah khusus untuk “mereka yang bersalah”. Setelah mereka membayar kesalahan, barulah mereka dikeluarkan.

Rupiah dan perdagangan sudah mulai dikenal di Cibeo. Ketika kami datang, langsung ada  yang datang membawa tenunan, cincin dan gelang. Model tenunannya sederhana dengan warna yang cerah. Orang Badui Dalam kadang juga bekerja menjadi porter, mengangkut barang bagi anak kota yang manja seperti saya. Selain itu, mereka juga berjualan madu hutan, ini yang seringkali dibawa ke Jakarta. Berjalan kaki tanpa alas tentunya.

Di wilayah Cibeo terdapat satu area terlarang yang tidak boleh dimasuki pendatang seperti kami, yaitu daerah “Alun-alun”, dimana Pu’un bertempat tinggal. Kami tidak sempat bertemu Pu’un, apalagi minta jampi-jampi, karena saat itu sedang musim upacara. Ah sudah bisa masuk Badui saja kami bersyukur, apalagi karena kami membawa seorang teman yang bermata sipit. Konon mereka menolak orang Indonesia keturunan China, walaupun mereka berhati merah putih.

xx,
Tjetje