Puasa Makanan Nasional Indonesia: Indomie

Seperti normalnya orang Indonesia, saya dulu cinta banget dengan makanan pokok orang Indonesia ini, Indomie. Indomie ya bukan yang merek lain. Rasa yang saya suka Indomie goreng, Indomie kari ayam dan kaldu ayam. Ada juga Indomie rasa nusantara yang cuma bisa dibeli di Pante Pirak Banda Aceh, rasa rendang pedas Medan. Tiap kali ke Banda Aceh pasti koper saya dijejali dengan mie cepat saji ini, enak sih. Herannya mie itu tidak pernah saya temukan di Medan.

indomie-goreng-rasa-rendang-pedas-medan

Indomie Goreng Rendang Pedas yang hanya saya temukan di Pante Pirak

Soal cara memasak ini, sepupu saya tercinta suka banget menambahkan banyak merica ke dalam Indomie, rasanya sampai bikin lidah terbakar. Buat saya aneh, tapi buat dia pasti itu indomie terbaik. Ada juga yang suka menambahkan potongan cabe rawit, saya anti banget melakukan ini, karena gak doyan yang pedes. Beberapa orang juga suka menambahkan sayur mayur dan poaching egg ke dalam mienya. Beda orang beda selera bukan?

Lama-lama saya merasa hubungan saya dengan Indomie ini harus ditinjau ulang, karena sudah pada tahap yang tidak sehat. Asal nggak ada makanan dan males keluar, saya makan Indomie. Udah makan lihat orang makan indomie pun ngikut. Nggak sehat banget kan?. Akhirnya pada ulang tahun saya tiga tahun lalu, saya memutuskan untuk puasa makan indomie sampai setahun. Eh ternyata berhasil lho, walaupun kalau ada orang yang masak indomie saya ngomel abis. Baunya itu lho bikin kepengen. 

Nggak cuma indomie aja, saya juga pernah mencoba puasa makan KFC selama setahun. Saya ini cinta banget sama KFC original, tapi yang dimakan cuma bagian kulit-kulitnya, dagingnya ngeri. Padahal dua-duanya sama-sama mengerikan. Jaman saya masih kerja jadi pegawai kontrakan di sebuah kementerian, tiap kali perjalanan dinas (dan selalu dengan Garuda), saya selalu mampir ke KFC dan makan, biarpun udah makan. Kata kolega: “Ail itu kalau lihat KFC kayak lihat jodoh”. Mungkin maksudnya saya jadi beringas dan agresif, bukan malah malu-malu.

Nah tahun kemarin, saya memutuskan untuk puasa makan indomie dan KFC secara bersama selama setahun. Sebelumnya saya sudah mencoba, tapi tak pernah melakukan puasa dua makanan sampah favorit secara bersamaan.  Ternyata puasa saya dari tahun ulang tahun di 2012 hingga ulang tahun di 2013 ini berjalan dengan aman, dengan sedikit omelan kalau ada yang makan KFC atau indomie. Lho puasa kok marah-marah? Komitmen saya untuk puasa ini emang luar biasa (muji diri sendiri dong), saking luar biasanya di tahun 2011 lalu, ketika saya ke Badui saya sukses nggak makan indomie dan memilih makan nasi putih dengan ikan kalengan yang saya bawa.

iklan indomie

Iklan Indomie, foto di Wikipedia

Ketika puasa tahun ini berakhir, saya sedang terbaring di ICU, jadi batal deh ulang tahun dengan makan KFC dan Indomie. Beberapa hari setelahnya, masih di RS, saya merayu mas bule untuk membelikan KFC & dibelikan oleh mas bule. Lihat box KFC rasanya riang gembira, eh pas dimakan rasanya nggak enak. Saya berikan ke mas bule dan dengan lahapnya dia habiskan.

Seminggu setelah keluar dari RS saya pun makan Indomie goreng. Lagi-lagi rasanya nggak karuan, kali ini ditambah dengan perut yang penuh gas dan reaksi ke toilet beberapa kali. Mungkin makanan ini nggak enak karena saya lagi proses penyembuhan dari DBD, jadi coba lagi nggak menyerah! Tapi tetep, indomie rasanya tak seenak dulu lagi dan perut kembungnya itu lho nggak kuku. Sepertinya saya udah nggak bisa makan banyak MSG lagi. KFC sendiri saya ulang beberapa hari yang lalu, rasanya tetep gak indah lagi, terlalu berminyak, ayamnya yang besarpun mengerikan karena kayaknya penuh lemak banget. Tapi tetep doyan makan kulitnya. Lho?

20131223_131335

Satu lorong khusus buat mie instant

Saudara saya bilang bahwa Indomie di Perancis yang nggak mengandung MSG, jadi rasanya tak seenak indomie di Indonesia. Lha kalau tak ada MSG di indomie yang dijual di Eropa (tentunya ini karena BPOM Perancis melarang) mengapa ada MSG di indomie di Indonesia?  Ada berita lama yang bilang indomie gak aman dan dilarang di Taiwan. Walaupun konon, konon lho ya,  pelarangan ini untuk proteksi produsen mie Taiwan yang kalah bersaing karena indomie murah banget. Di Indonesia nggak bakalan indomie dilarang, wong ini sudah jadi makanan pokok Indonesia. Bahkan Indomie yang warna hijaunya tak kalah dari kain batik aja bisa dijual di Indonesia. Masak iya masak mie dikasih cabe hijau warnanya bisa begitu?

Terus terang saya bahagia dengan kemajuan saya berpuasa. Saya sudah nggak beringas lagi kalau lihat KFC. Sekarang kalau lihat indomie, entah kenapa, otak saya mengasosiakan dengan perut kembung yang saya alami. Nyobain Indomie Bulgogi pun rasanya males banget, males menanggung resiko.

Sanggup gak puasa makan indomie, atau makanan lain selama setahun?

Kondom Tak Selalu Berarti Seks Pranikah

Haduh…pusing deh kalau ngomongin kondom dan orang Indonesia. Orang Indonesia itu mengasosiasikan kondom dengan kegiatan seks bebas. Kalau kemudian dikasih kondom gratisan, ya harus dipakai. Ini otak bego atau otak porno saya nggak tahu. Yang jelas, tiga tahun saya kerja di kantor yang memberikan kondom gratis dan selama tiga tahun itu saya cuma ambil dua kondom untuk difoto, bukan  untuk seks bebas. Jadi pertanyaanya, salah siapa kalau dikasih kondom pengen dipakai? Kalau kata saya, salah otaknya yang memilih mengasosiakan kondom dengan seks bebas.

Kondom, yang selalu saya promosikan setiap Jumat, dalam seri #JumatKondom adalah produk yang terbuat dari lateks yang mengurangi resiko penyebaran infeksi seksual menular termasuk HIV/AIDS. Kondom juga mengurangi resiko kehamilan, tapi mengurangi ya nggak menghentikan. Gesekan dalam hubungan seksual masih bisa bikin kondom bocor dan perempuan hamil. Ingat Rachel dan Ross yang tiba-tiba jadi orang tua karena kondom bocor kan? Tak hanya itu, pelumas salah pun, kondom bisa langsung bocor. Ada dua macam pelumas oil based untuk skin to skin dan water based untuk yang menggunakan kondom. Jangan keliru, salah pelumas masa depan bisa hancur.

Kenapa saya gencar menginformasikan fakta-fakta ajaib tentang kondom, dari tentang anal seks dan kondom, sampai tentang bahan-bahan kondom? Pertama karena saya mendapatkan akses informasi, saya mendapatkan training tentang infeksi seksual menular dan HIV/AIDS. Sayang kalau ilmu saya cuma berakhir di otak saya, jadi lebih baik dibagikan. Kedua, karena seperti SBY, saya prihatin. Banyak teman-teman saya yang melakukan hubungan seks pranikah atau bahkan jajan dengan pekerja seksual tanpa pengaman. Bukan tugas saya menghakimi perilaku mereka, mereka toh manusia dewasa yang udah tahu apa mau mereka, tapi ketika mereka yang terpelajar ini mendadak jadi bodoh dan oon serta melupakan kondom, rasanya pengen diuyel-uyel deh. Nggak cuma pria yang menolak kondom, perempuan pun ada yang cukup bodoh dan menolak kondom karena ketidaknyamanannya, padahal kondom itu adalah satu-satunya alat kontrasepsi yang tidak merubah tubuh perempuan. Dengan kondom, badan perempuan nggak perlu berubah hormonnya seperti kalau nelan pil KB, suntik hormon. Tubuh juga gak tersiksa karena IUD yang cara memasukkannya pun sudah pengen bikin tutup telinga. Bayangkan, perempuan secara sadar membiarkan dirinya berhubungan dengan beberapa pria pada kesempatan yang berbeda-beda dan secara sadar memaparkan dirinya pada infeksi menular seksual hanya karena kondom dirasa tidak nyaman, kurang bodoh apa itu?

condom_vs_tampon706

Picture was taken from addfunny.com

Pemerintah dan Kondom

Bukan rahasia lagi kalau Ibu Menteri Kesehatan kita mendukung distribusi kondom ke berbagai pihak. Saya pribadi mendukung ini. Kenapa? karena mental orang Indonesia yang masih anti kondom. Asal ada kondom selalu diasosiasikan dengan seks pranikah, seks bebas ataupun homoseksual. Mentalitas ini yang harus dirubah, mengasosiakan kondom dengan hal negatif. Ada lagi perilaku menghakimi pasangan  homoseksual dan perilakuk seks mereka. Data membuktikan bahwa penyebaran HIV/AIDS terbanyak itu ada pada pasangan heteroseksual, bukan homoseksual. Nah lho?

Penderita HIV/AIDS yang banyak itu justru ibu rumah tangga. Lha kalau ini ibu rumah tangga baik-baik yang setia pada suaminya aja, darimanakah kira-kira dapat HIV/AIDS atau infeksi menular seksual lainnya? Ya dari mana lagi kalau gak dari bapak rumah tangga yang hobinya jajan, yang kalau dinas ke Jakarta pasti menyempatkan mampir ke utara Jakarta dan nggak pakai kondom. Entah karena tidak nyaman, tidak tahu dan tidak mau tahu fungsi kondom (karena anti kondom itu cool), atau karena emang mereka tidak punya akses pengetahuan terhadap infeksi menular seksual dan kondom. Tak hanya bagi-bagi kondom, bu Menteri harus mengedukasi para tukang jajan ini supaya lebih paham tentang resiko dan bisa memilih untuk mengurangi resiko.

Aktivitas Pranikah dan Remaja

Nggak bisa dipungkiri juga bahwa kegiatan seks pranikah di negeri ini emang cukup tinggi. Dari jaman saya sekolah dulu, kehamilan pranikah dan aborsi itu adalah hal yang biasa saya dengar. Catat ya, saya sekolah di Malang, kota biasa-biasa aja, bukan kota gaul. Banyak perempuan dari jaman saya dulu yang sudah sibuk berasyik masuk ketika usia belum memasuki 20, bahkan saya tahu beberapa teman yang melakukan aborsi ketika mereka belum lulus kuliah. Setelah aborsi langsung disuruh dokternya pulang, rahim baru diobok-obok, langsung disuruh pulang dari kabupaten Malang, naik bis ke Kotamadya Malang. Itu jaman saya sekolah, puluhan tahun lalu, ketika jaman Nanda dan Ahmed heboh bikin video Bandung Lautan Asmara.

Jaman sekarang, internet makin mudah diakses, film biru dengan mudahnya di download. Tifatul boleh aja bikin program internet sehat, tapi selalu ada banyak cara untuk mengunduh film porno dan mempraktikannya. Nggak ada yang bisa menghentikan anak-anak muda ini dalam mempraktikan keingintahuan mereka untuk mengeksplor seks. Rayuan maut selalu dilancarkan pria untuk membuat perempuan bertekuk lutut, tak hanya pria yang merayu, perempuan pun juga merayu pria. Ini udah hukum alam, dari jaman mama saya sekolah sampai jaman saya sekolah, selalu bisa menunjuk, siapa-siapa aja yang hamil di luar nikah. Anehnya, mereka selalu disalahkan karena kebodohan tidak mengeluarkan diluar, nggak pernah disalahkan karena tidak pakai kondom. Sementara, pendidikan seksual yang memadai tabu untuk diberikan dengan beribu alasan. Padahal informasi yang tepat adalah cara untuk mengurangi resiko. Anak-anak ini perlu dibuka matanya agar melek resiko infeksi sesual. Kalau masih nggak takut juga dan kalau agama pun ikutan gagal menghentikan mereka, ya sudah biarkan mereka melakukan, toh itu hidup mereka. Tapi beri mereka akses terhadap perlindungan. Setidaknya mereka bisa memilih, jalan mana yang mereka mau ambil, jalan aman atau jalan tidak aman.

Soal akses pengetahuan, berapa banyak sih dari yang anti kondom yang tahu cara buka bungkus kondom yang baik dan benar. Masih cara buka lho ya, belum cara pasang yang baik dan benar. Saya yakin, dari sekian banyak orang yang teriak nolak kondom itu, nggak semuanya tahu cara buka bungkus kondom dengan baik dan benar, apalagi cara pasang kondom. Yang saya mau garis bawahi, kalau dikasih kondom gratis dan anda pelaku seks pranikah, silahkan digunakan untuk keselamatan. Kalau nggak suka, buang aja. Gitu aja kok repot? Hidup udah ribet nggak usah ditambah ribet dengan kondom. Kondom itu bisa berguna banget, kalau otak emang niatnya menggunakan kondom untuk hal yang baik dan bisa juga menjadi tidak baik kalau emang niatnya udah nggak baik.

condom

Pictures was taken from http://www.69jokes.com

Saya ulang sekali lagi, di kantor saya ada puluhan orang yang tiap hari punya akses terhadap kondom gratis dan kami hanya membiarkan kondom-kondom itu berdebu hingga masa kadarluarsanya tiba. Entah mengapa kami nggak tertarik untuk mengambil kondom itu dan mencobanya. Mungkin karena kami tahu resiko seks pranikah, kami tahu resiko infeksi seksual menular, kami  menerima pengetahuan yang memadai tentang infeksi seksual menular dan kami memilih untuk tidak menuju jalan itu. Selain itu juga karena otak kami tidak mengasosiakan kondom dengan seks bebas, seks pranikah dan langsung iseng pengen nyoba kondom. Kami memilih mengasosiasikan kondom dengan perlindungan, sebagai benda yang mengurangi resiko penyakit seksual menular.

Lanjutkan bagi-bagi kondomnya ibu Menteri, saya mendukungmu untuk mengurangi resiko penyebaran HIV/AIDS! Kalau kemudian mereka pada ribut karena otak mereka memilih mengasosiakan kondom dengan seks pranikah ya biarkan saja, toh sudah pada besar, sudah seharusnya tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Tahukah kamu kalau para pekerja seksual di Filipina tidak menggunakan kondom karena dilarang agama?

Lupa Bahasa Ibu

Alkisah si Noni menulis tentang orang bermuka Jawa yang nggak bisa bahasa Jawa sama sekali, layaknya kacang lupa kulitnya. Tulisannya ada di sini. Si Noni juga meletakkan link blognya mbak Yoyen yang membahas orang Indonesia yang lupa bahasa Ibunya sendiri, bisa dibaca di sini . Dua tulisan di atas itu membuat saya terhenyak karena saya orang yang suka lupa kata-kata di dalam bahasa Indonesia dan rajin sekali menyelipkan bahasa Inggris di dalam kalimat. Kalau ada temen lama yang ketemu saya pasti langsung menghakimi bilang “kemenyek”, belagu, mentang-mentang lakinya bule sekarang kalau ngomong pakai bahasa Inggris terus, medok pula.

Di kantor, 99%  waktu saya digunakan untuk berbahasa Inggris dan terkadang membaca beberapa email gak jelas dalam bahasa Perancis. Dengan pasangan jiwa, kami ngobrol dalam bahasa Inggris  Irish, setiap hari. Kalau lagi smsan dengan mama kami kebanyakan berbahasa Indonesia. Biarpun bahasa Ibu saya bahasa Malang, saya sangat jarang ber “koen-koen” ria dengan Emes (di malang, ibu itu Memes).  Ketika bertemu teman gaul, bahasanya gado-gado, terkadang dalam satu kalimat ada bahasa Malang, Inggris dan Perancis (ini bahasa sandi saya kalau lagi membahas berapa harga yang layak). Saya bukan orang sombong yang sok-sokan pamer bisa beraneka rupa bahasa, buat saya kemampuan bahasa itu anugerah dan usaha yang nggak perlu dipamer-pamerkan, tiap orang kemampuannya beda-beda, jadi ya cuek aja dengan kemampuan diri sendiri. Jujur saja, saya mencampur bahasa karena saya sering LUPA kata-kata dalam bahasa Indonesia. Ini bukan lupa yang dibuat-buat karena saya pengen gaya kayak Cincau Lawrah, tapi ini lupa beneran yang menjadi semakin parah ketika usia bertambah. Biarpun pakai bahasa Inggris, logat saya tetep arema ya. Bahasa Inggris arema nggak ada matinya.

indonesia

Mencampur bahasa itu nggak bikin saya congkak, yang ada rasanya sedih, karena tahu ini terjadi karena otak yang terbatas. Saking terbatasnya saya suka colek kolega bule, hanya untuk tanya: “Bahasa Indonesianya ini apa ya?” atau kalau lagi di depan komputer saya tanya mbah google dulu.Keterbatasan ini kadang membuat saya takut, ngenes dan sedih. Masak nanya bahasa negeri sendiri mesti colek bule dulu atau buka google dulu. Saya sampai takut alzheimer karena dalam merangkai kalimat saya suka berhenti mendadak, karena lupa apa bahasa Indonesianya. Kadang malah berhenti total, karena nggak inget lagi ngomong apa. Habis itu tanya balik sama yang diajak ngomong “Aku lagi ngomong apa ya?”Parah….. Padahal saya ini menghabiskan hampir seluruh hidup saya makan nasi dan menjejak di negeri ini. Saking takutnya, saya sampai sampai bersumpah kalau punya anak, anak saya harus ngomong bahasa Malangan sama saya biar nggak lupa kulitnya dan biar saya sendiri nggak ikutan lupa. Niat mulia ini tapi dibarengi dengan fakta dahi yang mengernyit ketika melihat bahasa-bahasa yang digunakan para teman di di social media. Otak memerlukan sekian menit untuk menafsirkan maksud tersembunyi dari dari bahasa walikan tersebut.

Tapi saya tahu, bahasa itu masih tersembunyi di sudut otak saya. Setiap kali pulang ke Malang, saya butuh setidaknya satu sampai dua jam untuk menggali sudut otak dan mengeluarkan seluruh persediaan kata yang diam berjamur di sudut otak. Setelah penyesuaian, maka mulut pun lancar kembali berbahasa Ibu (maaf bahasa Ibu saya bukan bahasa Indonesia, tapi bahasa Malangan). Tapi tetep kalau di Jakarta, ngobrol sama temen, kata yang keluar dari mulut selalu bercampur dengan bahasa Inggris. Entah mengapa, tapi sungguh saya bukan sombong karena bisa bahasa Inggris, ini lebih karena otak saya yang terbatas aja. Bisa juga ini karena koleksi bahasa Indonesia saya yang lebih terbatas ketimbang bahasa Jawa dan Bahasa Inggris. Tapi bener lho banyak sekali kata dalam bahasa Jawa maupun bahasa Inggris yang tidak bisa dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

Kesimpulannya: saya, (ataupun mbak Farah Quinn) yang suka mencampur kata-kata Indonesia dengan Inggris ini nggak sombong kok. Kami nggak sok-sokan bahasa Inggris, tapi otak kami terbatas sekali dan ini (mungkin) karena kami terlalu sering berbicara bahasa Inggris. Biarpun mencampur bahasa Indonesia dan Inggris, hati saya masih 100% Indonesia kok. Otak boleh lupa bahasa Ibu sendiri, tapi hati nggak akan pernah bisa bohong, saya ini orang Indonesia Malang yang masih bisa menulis surat formal dalam bahasa Indonesia baku dengan baik dan benar dengan gaya PNS. Ini baru congkak?!

Ada yang suka lupa parah dengan bahasa ibu?

xx,

Tjetje

Mengunjungi Pulau Cheng Chau di Hong Kong

Tadinya, saya akan diajak ke sebuah pulau cantik, tapi karena kami tak menemukan dermaga keberangkatan (dan baru ketemu saat kembali),  kami secara random pergi ke pulau Cheung Chau di Hong Kong. Pulau ini bisa ditempuh dengan kapal cepat selama 20 menit saja. Soal ongkos jangan tanya karena kami hanya nempel-nempelin Octopus Card, kartu ajaib Hong Kong yang bisa dipakai buat bayar hampir apa saja.

Pulau kecil ini lumayan cantik  dengan pasir pantai yang besar layaknya di Lombok. Pasarnya dipenuni dengan ikan kering dan ikan asin hasil tangkapan para nelayan. Saya ini penggemar toilet publik, jadi begitu nemu toilet saya pun langsung masuk dan toiletnya bersih sodara-sodara. Bangsa yang beradab, buat saya adalah bangsa yang tahu bagaimana merawat toiletnya. Toiletnya kering, dilengkapi dengan tisu, nggak bau pesing dan flushnya pakai kaki, cukup injak pedalnya. Toilet untuk penyandang disabilitas juga tersedia lho. Rupanya ada mekanisme kontrol dari masyarakat untuk memonitor pelayanan yang diberikan kontraktor toilet dan ajakan itu ditempelkan di dalam toilet.

IMG_8178

Di dalam pasar nggak boleh merokok. Di banyak tempat di HK merokok memang dilarang

Image

Sepeda para nenek pun roda empat. Tengoklah di depannya ada bapak geret koper.

Kami tadinya berjalan berkeliling hingga menemukan persewaan  sepeda, lalu menyusuri pulau kecil ini dengan sepeda sewaan. Nyewa sepeda dibandrol dengan harga 20 HKD per jamnya, tapi perlu ninggal uang jaminan 100 HKD (sekitar 150ribu rupiah). Alat transportasi utama di pulau ini rupanya sepeda, tapi dilarang berboncengan, entah mengapa. Mungkin potensi jatuh, apalagi ketiup angin lebih gede ketika boncengan. Kalau nekat boncengan bisa didenda hingga 2000 HKD. Sadis!

Image

Satu hal lagi yang saya perhatikan, orang Hong Kong itu kalau kemana-mana suka bawa koper gede. Entah apa isinya, tapi dari Ngo Ping sampai restaurant top kami selalu menemukan orang yang bawa koper. Ada seorang bapak yang saya tengok bawa koper besar berisikan tabung oksigen dan si Bapak juga bernapas pakai kabel oksigen yang disambungkan dengan kopernya. Misteri isi koper lainnya hanya Tuhan dan sang pemilik koper yang tahu.

Makanan di pulau Cheng Chau tidak terlalu “murah”, kami membayar 100 HKD sekitar 120 ribu rupiah untuk makan siang berdua di warung biasa-biasa saja. Uniknya jus jeruknya asli jeruk, saking aslinya itu cuma jeruk yang dikupas lalu dicacah ke dalam gelas. Jadi minumnya pakai usaha karena nyari cairan. Seperti dibanyak tempat di Hong Kong, makanan halal susah ditemukan. Untungnya sapi juga tak banyak dilibatkan dalam menu makanan Hong Kong, jadi saya yang tak makan sapi pun bahagia.

Image

Warung Ikan Asin tanpa Ikan Hiu

Pulau ini bisa di jelajah dalam waktu singkat dan bisa langsung pulang hari. Kami kembali sekitar pukul 4 sore dengan feri lambat yang memakan waktu 40 menit. Worth the visit, lumayan cari angin segar, sebelum malamnya demam tinggi karena DBD.

IMG_8177

Public library dan penyandang difabel

Gimana ada yang berminat mengunjungi pulau kecil ini?

Nyasar Dramatik di Hong Kong

Gara-gara demam berdarah, jarak pandang tersisa  50 cm saja. Saya yang belum sadar kalau sedang terkena DBD tapi sadar sedang sakit, hanya bisa jalan perlahan menuju KJRI di Hong Kong. Mendadak, pasangan saya yang tadinya disamping hilang dari pandangan mata. Parahnya, saya tak punya kartu identitas, hanya memegang kartu Octopus (kartu tram di HK) serta uang 7 dollar saja. Baterai handphone yang saya pegang juga tinggal 15% sementara power bank dan semua dokumen ada di tas ransel yang dibawa pasangan. Mau lemes rasanya sudah tak bisa karena sudah lemas. Sementara otak tak bisa mikir dengan cepat.

Kami sudah keliling beberapa negara bersama dan baru kali ini terpisah sampai berjam-jam. Kok ya pas sebelum nyasar kami sempat diskusi kalau nyasar berjanji untuk diamdi suatu tempat. Sesuai instruksi, saya pun diam duduk hingga pukul 14.00 dan saya tak kunjung dijemput juga. Otak juga gak kepikiran untuk cari KJRI Indonesia, pokoknya duduk diam kedinginan di pinggir jalan macam homeless. Saking gemasnya, penjaga sebuah toko bahkan berniat panggil Polisi yang saya bilang tunggu hingga dijemput. Tak kunjung dijemput, maka sayapun berdiri dan cegat taksi tanpa uang satu sen pun, minta diantar ke Harbour Hotel Hong Kong. Pas ditanya alamat dimana, cuma bisa jawab: it’s a five stars hotel. Pengemudi pertama menurunkan saya langsung on the spot karena nggak tahu si hotel di mana. Pengemudi kedua berbaik hati mengantar saya, tapi ke hotel Harbour Hotel yang plus plus di daerah Mong Kok. Nggak dibayar pula, pas saya janji akan bayar saya minta nomer HP si bapak. Entah kenapa nomer telpon itu sekarang nggak ketemu di sudut celana. Duh merasa dosa banget karena belum bayar taksi dan nggak nemu nomer telpon si Bapak. Minta tolong sama resepsionis untuk dicariin Harbour Hotel yang sesungguhnya, dia nggak mau bantu. Alasannya: ” I just came back from UK, I don’t know”. Halah mas…

Akhirnya saya nelpon temen orang Indonesia sambil nunggu di lobi, tidur. Dijemput temen (aduh saya utang nyawa deh sama mbak Rosidah ini), dibawa ke MRT terus dibawa ke North Point. Sudah sampai di North Point, naik taksi ke Harbour hotel lagi, eh kembali lagi ke hotel yang sama, huhuhu pengen nangis banget. Sama si pengemudi saya dibawa muter-muter Mong Kok sampai argo taksi mencapai HKD 200. Dia teriak-teriak money…money. Uang 100 HKD pemberian teman saya simpan di dalam kantong dan tidak saya serahkan sampai saya tiba di hotel yang sesungguhnya. Akhirnya di pengemudi gemes, saya pun diserahkan ke pak Polisi. Sudah menyerahkan ke pak Polisi, si Pak Supir masih nekat teriak money…money. Oleh si Pak Polisi, si pengemudi di halau dan diomeli panjang lebar & saya pun dibebaskan dari ongkos taksi 200 dollar.

Pak Polisi lalu minta passport dan tentunya saya tak bisa tunjukkan. Minta Indonesian ID apalagi. Pusinglah pak Polisi. Saya cuma bisa bilang: five stars hotel calls Harbour Hotel. Nanya nomer HP yang bisa dihubungi, HP saya mati. Akhirnya dibawalah saya ke kantor polisi naik mobil polisi bersama pak Polisi. Serunya pak Polisi  memastikan saya pasang sabuk pengaman.

Tiba di kantor polisi, saya pun minta charger handphone dan dicarikan oleh pak Polisi. Begitu tersambung dengan charger saya pun langsung telpon minta dijemput di Mong Kong Police Station. Fiuh…..begitu dijemput rasanya lega. Biarpun dimarahin abis-abisan saya cuma bisa ngangguk-ngangguk sembari hampir nangis. Baru deh stressnya muncul. Hilang di Hong Kong dalam kondisi DBD bukan cita-cita saya.

Pelajaran berharga

Dalam setiap bencana orang lain harus ada pelajaran yang bisa diambil, pelajaran paling utama yang perlu anda ambil:

  1. Jangan terkena gigitan nyamuk DBD dimanapun, apalagi kalau mau liburan.
  2. Jangan pernah serahkan ID pada pasangan, lebih baik bawa sendiri.
  3. Catat baik-baik alamat hotel, apalagi kalau nama hotelnya pasaran. Hotel saya sendiri baru ketahuan namanya Harbour Grand dan lokasinya jauh dari hotel plus-plus.
  4. Pastikan bahwa baterai handphone ada isinya dan bawalah selalu power bank, rempong dikit nggak papa. Duh smartphone ini ngakunya smart tapi baterainya ancur-ancuran.

Saya sukses nggak makan dari jam 11 siang sampai ditemukan jam 8 malam. Jadi pastikan selalu ada makanan kecil di dalam tas, daripada kelaparan seperti saya.

  1. Image

    Biar nyasar masih bisa cengar-cengir kayak si Moose

Ada yang pernah nyasar di negeri orang? 

Thing Indonesians Like: Gorengan

I promised a colleague  that I am going to tell the world about the piggy bank in our office. Unlike the other piggy bank, the piggy bank in our office isn’t for a good cause. It is there to support our sinful ritual: buying gorengan. Gorengan is fritter or fried snack that normally consume in the morning, afternoon or evening. Well, we eat gorengan at any time and as much as we like. A normal Indonesians (including me!) fry everything that edible including sweet potato, tempe, casava, tofu, corn (with batter), carrot (also with batter), banana, breadfruit, etc.

According to a research that was conducted in 2007, our consumption of oil per capita in is 16,5 kg. Well, that is only as small as 22 inches luggage. While in 2005, it is estimate that household in Indonesia consume 6 million ton of oil; 83.3% of which come from palm oil. The cruel palm oil that destroyed my ancestors’ land and killed thousands of orangutan.

If queen and her corgi enjoy scone with a cup of tea, we, Indonesians enjoy gorengan with bird eye chili. Conversation around gorengan can be anything from politic to the quality of the gorengan. Speaking of the quality, we prefer it less oily. Of course we are aware that it is deep fried, but the vendor has to make it less oily because we hate greasy gorengan. What we love is tasty and crispy gorengan. If abang gorengan could make delicious gorengan, we will give our loyalty and will always come back for more tasty fatty delicious.

A well known TV station in Indonesian revealed the secret of gorengan in Indonesia. Here are the top secret tips and steps to make a good gorengan:

  • Mix flour, pepper, salt and water.
  • Ignore all the research on the bad effect of MSG in the body instead put as much MSG as possible in the batter mixture. Bear in mind that MSG makes food taste much better. Life is short, so you need to enjoy good food.
  • Make sure the batter is thin so that your gorengan will be crunchy.
  • Dip the banana, tempe, casava sweet potato or any other food in the batter.
  • Before frying the snacks; mix the hot oil with a bit of plastic or used straws. (No, I am not kidding, this is the top secret that keep the gorengan crispy even after few hours)
  • Now fried all your snacks then enjoy it.

Shock? Well you can only shock for few days, then go back to your regular abang gorengan (gorengan vendor) for some more gorengan. People in Indonesia have a fish memory when it comes to bad things. Indonesians also tend to ignore the consequences of consuming gorengan i.e increase the risk of obesity, high level of cholesterol and vascular diseases – the leading causes of death in Indonesia. Stupidly, people do believe that there is a good oil (companies make people believe), hello, no oil is good when it is heated! Consuming plastic may also cause cancer. But nothing will stop us from eating gorengan. For us, gorengan is like rice, without it, life is incomplete. Well, in the end straw is less dangerous that pork or lard eh?

Gorengan usually wrap in a used paper then covered with a black plastic bag. 15 pieces of gorengan only cost customer 1 USD, so fancy paper isn’t an option. The ink from the paper gives flavour to gorengan and make it more delicious. Here is a sample of tasty gorengan wrapped in used paper, not only you get gorengan,  you will get extra ink from the paper:

Indonesians never worry about health (that is why most Indonesians do not have health insurance). For us, having doctor’s number in speed dial is not needed. The most important thing for Indonesians is to enjoy life. Life is short and if one ever get sick, there is always a a dukun who will be more than happy to spit water on the face to cure the disease. Hepatities, hygiene? Forget it! Life is too wonderful, let’s eat gorengan!

Can you live without gorengan?  

Penganiayaan Terselubung dari Orang Terdekat

Tidak seperti kematian dan kelahiran, perkawinan merupakan tahap hidup yang tidak dijalani oleh semua orang. Padahal bagi kebanyakan orang Indonesia, perkawinan ini merupakan tujuan hidup yang utama. Rasanya hidup tak sempurna, tak bahagia kalau tidak/belum kawin, apalagi jika umur menginjak 30 tahun. Bahkan, banyak orang yang menargetkan ingin kawin di usia tertentu, dengan siapapun, tak peduli apakah mereka the one ataupun bukan.

Mereka, orang-orang Indonesia yang pernah kawin atau sedang menjalani kehidupan perkawinan (terlepas dari mereka bahagia atau tidak),boleh dibilang ‘beruntung’, karena mereka terbebas dari belenggu pertanyaan teror “Kapan Kawin?” atau bahkan “Nunggu apalagi?” Tanpa disadari, pertanyaan basa-basi ini banyak menyebabkan penganiayaan. Penganiayaan terhadap kondisi psikologis si single. Hari ini saya akan mengupas penganiayaan yang tak disadari yang dilakukan oleh orang-orang terdekat i.e keluarga dan teman baik.

Teror keluarga terdekat

Idealnya, keluarga merupakan tempat kita mencari kenyamanan ketika lingkungan membuat hidup rumit. Keluargalah yang paling memahami, atau setidaknya harus berusaha memahami situasi percintaan para lajang. Tapi, keluarga bisa juga menjadi monster ketika mereka frustrasi melihat si lajang yang tak ujung kawin.

Teror keluarga ini termasuk nodong pacar untuk segera kawin. Modusnya: tiba-tiba si pria disuruh duduk, ditanya kabar ngalor-ngidul, lalu ditanya oleh si Bapak “Niat kamu sama anak saya apa?”. Pria mana yang nggak akan gelagepan dalam situasi seperti itu? Apalagi kalau dikasih bonus ultimatum yang mewajibkan si pria datang membawa orang tuanya untuk melamar.

Duhai para Bapak, Ibu, Saudara sekalian, janganlah pernah melakukan hal tersebut kepada siapapun. Kemungkinan si pria untuk mundur teratur akan sangat besar. Lagipula, ketika si pria belum datang melamar, pasti dia punya alasan kuat. Entah lagi membiayai anggota keluarganya sekolah, sedang menabung untuk Dp rumah atau bahkan tidak yakin dengan perasaannya. Jadi, sabar ya, jika si pria cinta mati, dia pasti akan melamar.

Nggak cuma itu, teror juga bisa datang dari saudara sekandung yang sudah memiliki pasangan. Dalam pertengkaran persaudaraan pun, akan muncul umpatan-umpatan khas “Dasar kamu perawan tua, nggak punya laku”. Bagus mana, jadi lajang bahagia atau terburu-buru kawin dan berakhir dengan pria yang tak bisa setia?

Teman Keparat

Selain keluarga, pelaku teror lain yang bikin sesak dada adalah teman keparat. Biasanya pelakunya teman dekat yang berniat baik tapi malah bikin kacau hubungan pertemanan. Di negeri ini banyak yang berlaku bak pahlawan kesiangan. Gemas lihat temannya single, ambil inisiatif memulai perjodohan, macam kedua belah pihak tak tahu cara mencari jodoh. Padahal, menjodohkan itu bukan pekerjaan yang mudah. Paling tidak, karakter dua belah pihak harus dipahami dengan baik dan yang terpenting, chemistrydari dua belah pihak harus ada dan kuat!

Teman Keparat biasanya nggak akan peduli soal chemistry. Yang bolak-balik dielukan adalah dagangannya barang bagus banget, santun, beragama, calon bapak yang baik, bertanggung jawab dan ini dan itu. Layaknya kecap, bachelor dagangan match maker dadakan ini nomor satu. Kalau cuma sekali dua kali menawarkan dagangan sih tak masalah. Tapi teman keparat ini biasanya suka MLM, baca: nggak mau menyerah. Dalam berbagai kesempatan, si Keparat akan mencoba menyodorkan dagangannya. Bahkan menjebak agar si lajang terpaksa pulang dengan si dagangan. Padahal, di lajang udah ogah-ogahan.

Teman keparat ini sadar sekali bahwa temannya sudah dewasa, sudah dewasa. Alih-alih menghormati apapun keputusan si lajang, teman keparat biasanya akan menggunakan usia si lajang sebagai senjata. “Kamu itu sudah umur 30, apalagi yang ditunggu? Ingat lho kamu itu punya jam biologis?”.

Jangan sekali-sekali mencoba menolak kecapbachelor nomer satu dagangan si Keparat. Yang ada si lajang akan diserang dengan pertanyaan: “Memangnya kamu yakin bisa dapat yang lebih baik dari kecap saya? Biar kata kamu dandan abis-abisan, merubah penampilan akan susah dapat yang lebih bagus dari kecap saya?” pokoknya, dunia akan runtuh kalau si lajang nggak segera menyambar kecap ini.

Kalau si lajang nggak suka dengan situasi ini, gampang, ambil sarung tangan, remas satu genggam lombok dan jejalkan ke mulut si Keparat. Teman yang baik tidak akan memaksakan kehendaknya dan tidak akan menjodohkan temannya dengan kecap KW. Nanti kalau hubungan berantakan, si pedagang biasanya akan lari dan berteriak, bukan salah saya… Aku cuma menjodohkan menyodorkan.

Inti ocean saya hari ini:
1. Jodoh itu akan datang ketika saatnya sudah tepat. Nggak usah dipaksa. Ingat rumusnya: ketika pria sudah sangat jatuh cinta, dia akan melakukan apa saja demi membuat si perempuan jatuh ke pelukannya ranjangnya

2. Jangan rusak hubungan dengan anak, saudara ataupun teman dengan berbagai macam teror pertanyaan bodoh, apalagi perjodohan bodoh yang hanya akan memperkosa kedamaian jiwa si lajang. Tujuan hidup itu nggak cuma kawin, bersanggama, bikin banyak anak dan mengawinkan anak!

Perkawinan itu bukanlah goal, perkawinan adalah proses dua jiwa untuk bergandengan tangan menghadapi hidup.

image

Ocean random ini ditulis di Denpasar sambil lebih leyeh di taman cantik pada pukul 08.02 WITA, tanggal 4 Oktober 2013. Btw, di Denpasar ada keripik singkong yang dicelup ke sambal. Keriuk2 pedas.

Have a nice weekend everyone!

Firasat Sebelum Kecelakaan

Suka merhatiin gak kalau media di Indonesia itu suka terobsesi banget nulis firasat setelah ada kejadian kurang baik? Buat saya, berita tentang firasat itu  nggak penting sama sekali, karena nggak ada ilmu ataupun pelajaran berharga yang bisa diambil. Buntutnya berita tentang firasat ini hanya akan jadi bahan obrolan ringan dan nggak penting sama sekali. Nah buat yang keburu tertarik baca postingan ini karena judulnya yang sok gosipan, kali ini harus kecewa. Saya kali ini belajar dari orang bijak, kata mereka  dalam setiap tragedi kita mesti belajar sesuatu. Nah, marilah kita belajar dari kasus kecelakaan yang menimpa putra Ahmad Dhani barusan ini.

1) Sabuk Pengaman

Saya tidak ingat tahun berapa seat belt mulai digalakkan di negeri ini. Yang saya ingat banyak banget orang-orang yang ngomel karena aturan baru yang mewajibkan penggunaan seat belt untuk dua orang yang duduk di depan (silahkan dikoreksi kalau saya salah). Dengan adanya peraturan ini, mobil-mobil jaman dulu macam suzuki carry pun mulai berhias dan menambahkan seat belt. Walaupun kalau ditengok, seat belt itu dipasang untuk menghindari denda yang mahal, bukan karena alasan keselamatan. Kalaupun ada kecelakaan, seat belt sekedarnya ini nggak akan banyak menolong, malah mungkin mencekik pengemudi.

Saking malasnya pakai sabuk pengaman, para pengemudi taksi biasanya menduduki sabuk pengaman, jadi kalau ada kecelakaan terlempar juga. Beberapa pengemudi juga suka membiarkan notifikasi untuk penggunaan sabuk pengaman berkedip dan bunyi dengan nyaringnya. Buat mereka lebih baik telinga sakit & mati terlempar ketimbang pakai seat belt. Nggak cuma pengemudi, penumpang yang duduk di belakang biasanya juga malas menggunakan sabuk pengaman. Kadang nggak hanya malas dengan makainya, tapi juga malas ditanya “ngapain pakai sabuk pengaman”. Di Irlandia (dan negara lain) mana bisa berlaku seperti itu, begitu masuk mobil ya pasang sabuk pengaman. Disini mungkin orang sudah merasa aman atau mungkin punya asuransi trilyunan rupiah, jadi kalau mati “nggak rugi”. Kualitas keamanan mobil juga bisa dilihat dari sabuk pengamannya lho, tengoklah mobil yang laris bak kacang goreng dan harganya “murah itu”, penumpang di belakang tak disediakan sabuk pengaman. Murah kok minta aman?

Dalam kasus Dul, untungnya Dul menggunakan sabuk pengaman. Nggak hanya itu, dia juga dilindungi oleh airbag. Coba kalau nggak?

2) Pelindung Kepala

Di mobil, head rest merupakan elemen penting untuk melindungi tulang leher kita. Jadi kalau naik mobil nggak usah sok-sokan sombong gak mau pakai headrest dan melepasnya ya. In case ngerem mendadak, kepala tertarik ke belakang, leher bisa patah lho. Sukur kalau langsung mati, asuransi keluar dan nggak perlu ngerasain sakit. Nah kalau harus dirawat di rumah sakit sampai berbulan-bulan, hutang menumpuk, belum lagi harus terapi ini itu? Anyway, beberapa mobil juga tidak menyediakan headrest, apalagi untuk penumpang yang duduk di tengah bagiah belakang. Penumpang belakang-tengah ini nggak cuma beresiko patah leher tapi juga beresiko terlempar  jauh ke menembus kaca depan mobil karena tak ada penghalang di depannya.

Pelindung lain yang tak kalah pentingnya adalah helm. Eh bukan berarti harus pakai helm di dalam mobil ya, tapi ini helm untuk pengendara sepeda motor (biar sekalian ngebahasnya). Di Bali, kalau pakai kamen (kain tradisional) dan udeng (ikat kepala) pengemudi motor bebas melenggang tanpa helm lho. Entah ini memang secara hukum dibenarkan atau hanya kebiasaan belaka. Yang jelas, kebiasaan tidak memakai  helm tidak semestinya dibiarkan, kecuali kalau bisa beli kepala pengganti ketika pecah. Penyebab orang nggak pakai helm macam-macam, dari karena jarak yang dekat, demi merokok atau karena helm abang ojek yang baunya nggak enak. Saya juga ogah pakai helm abang ojek, tapi harga shampoo rambut jauh lebih murah dari harga kepala, jadi lebih baik pakai helm. Soal jarak dekat malas pakai helm sebaiknya juga tidak jadi justifikasi untuk meninggalkan helm, karena kecelakaan bisa datang kapan saja.

Image

Foto milik DetikOto

3) Handphone

Manusia yang ngotot bisa melakukan dual tasks dengan mudah itu adalah manusia yang bodoh, apalagi kalau ngotot bisa ngomong ditelepon sambil nyetir, atau bbm-an. Saya pernah melihat film dokumenter yang membahas hal tersebut dan melakukan dua hal itu tidaklah mudah. Mungkin sih, tapi pasti berantakan dan tidak sempurna. Apalagi nyetir mobil dalam kecepatan tinggi sambil konsentrasi jepret foto speedometer demi pasang foto dengan hastag #topspeed #TolJagorawi, ini nggak cool banget dan bodoh banget. Kontroversi tentang dugaan Dul sedang jepret foto nggak usah dibahas lah ya, udah kejadian, mau bener atau nggak, serahkan pada pihak yang berwajib.

4) SIM asli tapi palsu

Ada beberapa hal yang saya sayangkan dari kejadian kecelakaan si Dul. Selainnya sayangnya 6 nyawa itu melayang serta 11 orang luka-luka, saya juga menyayangkan Dul yang nggak punya SIM. Coba kalau dia punya SIM dengan usia 17 tahun, pastinya cerita ini akan menjadi pelajaran yang semakin berharga buat banyak orang & tentunya akan membuat insititusi Polisi berbenah diri. Bukan rahasia lagi kalau anak-anak di bawah umur bisa dapat SIM tanpa KTP. Nggak perlu jadi pejabat untuk dapat SIM ini, cukup siapkan uang ratusan ribu, atau at least sejutaan kalau gak jago nawar. Walaupun saya bukan orangtua, tapi alangkah baiknya kalau orang tua yang sehat jasmani dan rohani hanya memberikan SIM ketika anaknya berusia 17 tahun. Semuanya demi keamanan!

Penutup

Soal siapa yang salah dalam kejadian ini, apakah Ahmad Dhani, Maia atau Dul, bukanlah urusan kita. Hidup mereka dan para korban sudah berat banget, marilah kita nggak menambah beban mereka dengan hujatan yang nggak-nggak, apalagi menghujat kehidupan pribadi (dan ranjangnya). Pada akhirnya bukan firasat yang akan menolong kita mengurangi risiko kecelakaan. Tetapi kesadaran diri untuk mengamankan dirilah yang akan menolong kita. Kalau kemudian semua pengaman sudah dipasang dan masih terkena musibah, ya itu mah nasib. Btw, masalah pengaman nggak cuma di jalan lho, tapi juga di tempat tidur. Kalau penasaran dengan pengamanan di tempat tidur, pantengin #JumatKondom di twitter saya.

 

Cerita Gado-gado Tentang Abdi Negeri Ini

Awalnya saya ingin menuliskan tentang “Thing Indonesians Like: Being a Civil Servant”. Akhirnya saya belum jadi memposting cerita itu, karena menghindari segala kontroversinya. Jadinya nulis versi gado-gado ini. Anyway, di negeri ini banyak banget orang tua yang terobsesi agar anaknya menjadi PNS, bahkan rela mengeluarkan uang beratus-ratus juta agar anak bisa menjadi pelayan masyarakat. Sayangnya, banyak PNS yang kualitas dan kelakukannya bikin mengelus dada. Kebanyakan PNS model begini ini adalah mereka yang lupa kalau mereka sebenarnya adalah abdi masyarakat. Saya bukan orang yang anti PNS macam pekerja NGO, tapi banyak banget kejadian yang bikin saya melirik tajam macam artis di sinetron, ketika berurusan dengan PNS.

Click untuk melihat sumber photo Click untuk melihat sumber photo

Alat Komunikasi

Entah mengapa, berurusan sama instansi pemerintahan itu harus lewat mesin fax. Boro-boro  nemu nomor fax, nemu nomor telepon aja susahnya setengah mati. Nggak semua website mencantumkan alamat dan nomor telpon yang bisa dihubungi. Nelpon 108 pun lebih menggemaskan lagi, karena operator satu ke operator lain jawabannya berbeda-beda. Nah kalau telpon aja susah, apalagi email. Beberapa waktu lalu saya masih sempet komunikasi sama PNS yang teriak: “Eh..nomor email apa, nomor email?”

Pas jaman post-tsunami, saya pernah kelimpahan rejeki ngirimkan fax ke berbagai daerah di Aceh. Saya nggak ingat daerah mana, tapi saya ingat ada seorang Bapak yang ketika saya hubungi lewat kantor, beliau minta maaf karena tidak ada yang mengangkat telepon. Para staff, menurut beliau, banyak yang meninggal dunia terhempas gelombang tsunami. Kalau ingat itu, saya suka sedih. Sementara di daerah lainnya, seorang mbak, minta maaf karena ruangan fax dikunci di ruangan pak kepala, sehingga nggak ada yang bisa mencet tombol untuk memberi nada fax, alhasil fax gagal terus. Nah kalau ingat yang ini, saya gondok banget, beli mesin fax kok dikandangin.

Gaji Kecil, Hidup Nyaman

Udah bukan rahasia lagi kalau bikin acara, walaupun bagi-bagi ilmu, honorarium dan uang transport itu wajib hukumnya. Kewajiban untuk bayar transport dan honor ini ada aturan Menteri Keuangan, namanya SBU. Tiap tahun, SBU ini berganti-ganti angkanya. Nah, kalau selama seminar, workshop atau apapun namanya peserta mengantuk-ngantuk dan nggak serius, begitu urusan menyelesaikan administrasi, biasanya mereka mendadak serius. Orang yang ngurusin keuangan biasanya jadi orang yang paling dicari pada saat makan siang. Saking seriusnya, saya pernah ditelpon seorang Ibu yang sudah menandatangani dan mengambil uang transportnya. Menurut ibu itu, uangnya kurang, si Ibu bahkan bawa-bawa nama Tuhan. Saya yang pada saat itu masih anak baru terdiam nggak bisa ngomong apa-apa (padahal saya ini galak lho). Untung ada yang saat itu lebih galak dari saya (dan pada saat itu ikut ngitung uang) jadilah si Ibu itu disemprot.

Ada lagi yang menarik, SBU itu mengatur honorarium untuk moderator, satu jamnya (jaman dulu) sekitar 500.000-an. Nah, kalau ketemu PNS yang agak tamak nih, dia bisa minta jadi moderator hingga berjam-jam. Yang kalau ditotal, ongkos honor menjadi moderator selama satu hari = gaji fresh graduate satu bulan. Biarpun jadi moderator pada saat jam kerja, tetep berhak dapat honor lho. Terlihat seperti pemborosan, lha emang diatur sama menterinya mau gimana? Kalau ada PNS yang naik mobil BMW, berpikir positif aja, kerjanya pasti keras, sehari bisa 10 jam jadi moderator.

Satu hal yang berubah ketika Sri Mulyani jadi menteri keuangan, beliau merubah kebijakan perjalanan dinas yang lumpsum menjadi at cost. Jadi dulu banyak yang suka mengumpulkan uang sisa lumpsum perjalanan dinas dengan naik penerbangan yang pailng murah, tidur di hotel yang paling sederhana. Soal praktik ajaib seputar perjalanan dinas nggak perlu diceritakan disini lah ya.

Anyway, dari semua hal di atas, ada satu hal yang tak terlupakan di dalam hidup saya, pembelian laptop seharga 30 juta. Waktu saya menemukan hal tersebut, saya pun meminta klarifikasi. tahu jawabannya: “Jadi menurut adik, ada praktik mark up gitu?” saya yang setengah terintimidasi cuma bisa mengangguk. Jawaban sakti dari si Bapak pejabat: “Barang ini kan didatangkan dari Jakarta. Suppliernya kan perlu biaya ke Jakarta, pengirimannya pun juga perlu biaya, belum lagi supplier ini kan punya keluarga yang harus diberi makan. Jadi wajar dong kalau suppliernya mengambil keuntungan”. Saya speechless, dipikir si Bapak saya ini goblok apa ya.

Laptop 30 juta gak pakai emas ya! Laptop 30 juta gak pakai emas ya!

Nah, kalau honor-honor itu nggak cukup dan pengen mengotori tangan, bolehlah berlaku seperti pak Lurah saya. Alkisah, keluarga saya sedang membuat surat hak ahli waris. Begitu mendengar kata waris, Pak Lurah saya matanya langsung berubah menjadi hijau. Disebutlah angka sekian juta untuk meloloskan surat warisan itu. Entah dimana otak pak Lurah ini ya, sekolah dibayar negara, makan dibayar negara (dan semuanya itu uang rakyat), kok ya masih mikir pengen meres rakyat. Solusinya, datang kembali ke kelurahan dikawal aparat hijau, naik mobil hijau, pak Lurah kicep nggak berani minta uang.

Biarpun gaji kecil, PNS itu bisa sekolah di luar negeri (bahkan tak sedikit anak PNS yg sekolah dengan biaya pribadi di luar negeri). PNS itu punya banyak akses terhadap beasiswa di seluruh dunia. Biasanya ada kuota-kuota tertentu dari negara/ instansi pemberi beasiswa yang dikhususkan untuk PNS. Saktinya, mereka bisa mendapatkan beasiwa walaupun dengan Bahasa Inggris yang pas-pasan. Entah gimana dengan kemampuan bahasa pas-pasan mereka bisa sekolah di luar negeri, pulang ke Indonesia bahasa Inggrisnya ya tetep pas-pasan. Saking pasnya kalau ada acara yang menggunakan Bahasa Inggris masih minta penerjemah. Lha, dulu sekolahnya bagaimana?

Penutup

Anyway, nggak semua PNS itu bobrok dan perlu upgrade kapasitas. Ada banyak PNS yang membawa perubahan dan punya kualitas luar biasa, bahkan lancar berbahasa Inggris, saya sendiri beruntung pernah kerja dengan salah satu yang terbaik di negeri ini. Sayangnya, kebanyakan dari PNS berkualitas ini kerjanya di Jakarta. Saya sendiri jarang (jarang bukan berarti tak ada ya) menemukan PNS yang berkualitas tinggi di daerah. Saat ini lagi banyak lowongan untuk PNS, sepertinya jumlah PNS yang ada nggak cukup untuk melayani masyarakat. Kalau merasa bersih dan berkualitas, jangan segan jadi PNS. Gaji mungkin kecil, tapi bisa dapat honor dengan cara jadi moderator sampai rahang kaku. Satu hal yang mesti diingat, kalau mau jadi PNS mentalnya harus benar-benar super kuat tak tergoyahkan ya, biar kalau ngadepin bapak-PNS-yang-bikin-speechless bisa ngelawan dan biar kelakuannya nggak seperti Pak Lurah. Resikonya kalau nggak tergoyahkan, ya pangkat tertunda, tapi yang penting kan hidup bermanfaat karena melaksanakan tugas mulia untuk mengabdi pada masyarakat, bukan mengambil & menghamburkan uang masyarakat.

Gimana berminat mengabdi pada masyarakat?

Cara Membuat CV dan Melamar Pekerjaan

Dulu jaman di Multiply saya pernah nulis serius panduan cara melamar yang baik. Dalam ingatan saya, ada seorang Bapak yang melamar posisi project manager untuk proyek post-conflict, minta gaji 30 juta & kendaraan kantor. Kalau kualifikasi OK sih nggak papa, boro-boro nemu kata konflik atau peace di CV-nya, yang saya temukan malah favorite TV channel (fashion TV), favorite piano composer, favorit designer & hobinya yang main golf.

Kendati bukan bagian HRD, saya seringkali mendapat pekerjaan untuk menyortir CV dan mencari kandidat yang tepat, baik lewat email maupun manual (baca: buka karung dan buka amplop). Menyortir CV online menurut saya banyak tantangannya, apalagi kalau filenya super besar. Dari ribuan CV yang saya lihat, saya jadi belajar cara membuat CV dan melamar pekerjaan.

Tentang CV

CV Satu halaman. Informasi nama, alamat email dan nomer telpon dipasang di atas, biar gampang nyarinya. Nomor KTP, status kepemilikan rumah, status kepemilikan kendaraan, nggak perlu dipajang, kecuali kalau lagi ngelamar untuk kredit di bank. Sebelum menuliskan informasi, tanya pada diri sendiri, adakah hubungan informasi ini dengan pekerjaan yang dilamar.

Kata Kunci. Pengalaman kerja sebisa mungkin dimasukkan dengan bahasa yang menarik, singkat dan menggunakan kata-kata kunci yang sesuai, supaya CVnya terlihat menarik dari ribuan CV yang lain.

Pendidikan terakhir. Nggak perlu menuliskan dulu TK dimana & pamer di negara mana. Cukup tuliskan kuliahnya dimana & ambil jurusan apa. Judul skripsi & thesis kalau relevan, apalagi kalau melamar jadi peneliti, boleh dimasukkan, tapi kalau posisinya nggak memerlukan informasi judul penelitian, mendingan nggak usah. Soal IPK, kalau pas-pasan, sebaiknya disimpan saja, karena tujuan CV adalah untuk memukau.

Bahasa Inggris formal. Kemampuan bahasa asing menjadi poin penting di banyak organisasi dan perusahaan. Oleh karena itu jangan pernah menggunakan google translate. Jika kemampuan bahasa Inggris pas-pasan, bacalah referensi contoh CV bagus dari internet. Bicara soal bahasa jangan pernah nulis mahir kalau kemampuan pas-pasan, karena bohong di CV itu hukumnya dosa banget.

Pengalaman Organisasi yang relevant. Kesalahan yang banyak dilakukan fresh graduate adalah memajang semua pengalaman organisasinya demi CV yang panjang, padahal CV panjang itu bikin capek baca. Nulis pengalaman organisasi itu boleh, tapi bukan berarti ngurusin konsumsi pada saat kedatangan orkes dangdut ke kampus harus dimasukkan, apalagi kalau orkesnya datang tujuh kali & ketujuh pengalaman tersebut ditulis. Pengalaman yang dimasukkan sebaiknya pengalaman yang membuat relevant, misalnya jadi presiden organisasi mahasiswa, terus jelaskan secara singkat tanggung jawabnya, apa saja kegiatannya dan perubahan apa yang dilakukan.

Fresh graduate juga suka nulis pengalaman seminar, dari seminar kecantikan sampai table manner. Kalau ngelamar jadi guru table manner informasi itu akan diperlukan, tapi kalau melamar jadi akuntan? Keikutsertaan di seminar sebaiknya dicantumkan jika pengalaman itu relevan dengan pekerjaan yang diincar.

Pastikan pula file yang dikirimkan diberi nama lengkap dan posisi yang diincar. Contohnya CV_Ailtje_PresidenBankDuniaMistis.pdf. Saran saya, CV dan surat lamaran sebaiknya dijadikan satu dan dalam format yang tidak bisa diedit (agar daftar riwayat hidup tidak disalagunakan). Ini untuk mempercepat proses seleksi. Semakin cepat menyeleksi, semakin cepat pelamar dipanggil.

Surat Lamaran

Selain CV, hal esensial lain yang sering terlupakan adalah cover letter. Padahal, cover letter itu punya fungsi penting. Di secarik kertas itulah pelamar harus meyakinkan calon pemberi kerja kenapa dia pantas dipanggil untuk tahap selanjutnya. Untuk bisa membuat surat lamaran yang baik, maka pelamar wajib hukumnya tahu tentang posisi yang dilamar, kualifikasi yang diminta dan deskripsi pekerjaannya. Makanya biasakan membaca job deskripsi, jangan random ngirim lowongan. Lalu yakinkan pemberi kerja dengan menyambungkan keahlian dan pengalaman dengan kualifikasi pekerjaan. Dalam 15 detik biasanya tukang sortir akan segera tahu pelamar yang niat melamar dari surat lamarannya.

Satu hal lagi kalau mengirimkan lewat email, jangan pernah meninggalkan badan dan subyek email kosong. Dalam satu tempat kadang ada puluhan posisi yang dibuka dan daripada buang waktu mencari tahu mana posisi yang kira-kira cocok buat pelamar, mendingan langsung baca aplikasi yang lebih niat.

Kesalahan lain yang sering dibuat adalah mengirimkan satu cover letter ke banyak perusahaan. Saya paham kalau cari pekerjaan itu tidaklah mudah, tapi bukan berarti pelamar harus bertindak desperate dan asal ngirim lamaran. Contohnya nulis ingin bergabung di perusahaan, padahal ngelamarnya ke Kementerian. Ada juga yang memuja-muja nama besar sebuah rumah sakit dan sangat ingin bekerja di rumah sakit tersebut, padahal ngirimnya ke lembaga internasional yang nggak ngurusin orang sakit sama sekali.

Penutup

Saya tidak menyarankan mengirimkan foto, kecuali diminta. Di kantor terdahulu, foto-foto banyak yang berakhir tragis di tempat sampah. Sementara yang cantik lebih beruntung karena berakhir di hall of fame. Selain itu, pelamar sebaiknya gak usah masukin lampiran yang gak penting, macam kartu kuning, surat keterangan lulus, transkrip, sertifikat seminar, ijasah dari TK, kecuali diminta. Semakin besar file yang dikirim, semakin besar pula kemungkinan file tersebut masuk kotak spam.

Alamat email yang digunakan sebaiknya alamat yang pantas, kalau perlu bikin email khusus untuk melamar. Jangan pernah kirim lamaran dengan id: SiCantikCintaDennySumargo atau AnakBaikCintaMama. Simpan baik-baik copy iklan lowongan dan lamaran, jadi giliran dipanggil, sudah tahu bagaimana wawancaranya akan berjalan.

Pelamar yang cerdas juga sebaiknya tidak menuliskan hal-hal yang membuat dirinya didiskriminasi, seperti status perkawinan dan agama. Kecuali diminta, gaji juga sebaiknya tidak dituliskan.

xx,
Ailtje
Bekas Tukang Sortir