Undangan Makan-makan

Makan-makan adalah napas pergaulan bagi bangsa Indonesia. Obrolan-obrolan dalam keseharian kita, baik yang ringan lebih sering berada di sekitar makanan, ketimbang minuman, apalagi minuman beralkohol. Para penikmat minuman pun, apalagi kopi, seringkali ditemani oleh makanan ringan. Pendek kata, kultur makan kita itu sangat kuat.

Orang-orang Indonesia yang pindah ke luar negeri juga seringkali berkumpul untuk sekedar ngobrol, merayakan hari spesial, atau bahkan arisan. Kumpul bersama ini biasanya model  pot luck, masing-masing orang membawa makanan yang mereka bisa masak.

Ketika awal pindah ke sini, saya nggak bisa masak sama sekali. Saya ingat sekali, di undangan makan-makan pertama, saya membawa sewadah coklat untuk tuan rumah (dan tuan rumah ternyata punya banyak coklat 😖). Di undangan selanjutnya, saya sudah lebih canggih, membawa cake. Tentunya bukan hasil bikin sendiri, tapi hasil membeli. Butuh waktu yang agak panjang bagi saya untuk bisa membawa hasil makanan sendiri, maklum gak bisa masak.

Satu prinsip bergaul yang seringkali diterapkan dan diharapkan, kalau diundang jangan pernah datang dengan tangan kosong. Kalau tak bisa masak, ya beli saja. Atau bisa juga membawa bunga, coklat ataupun anggur. Prinsip ini sendiri juga banyak dipakai di Indonesia, apalagi dengan budaya oleh-oleh kita yang kuat.

Bagi saya sendiri, datang dengan tangan kosong bukanlah satu hal yang harus menjadi isu. Pertama, karena mengundang orang berarti memang sudah siap untuk menyediakan makanan untuk mereka, jadi tak perlu mengandalkan orang lain untuk membawa. Kedua, mereka yang diundang mungkin tak sempat masak, tak bisa masak (seperti saya dulu), atau mungkin sedang bokek. Yang ketiga, sudah kebanyakan orang yang bawa makanan, jadi kalau ada lagi yang bawa jadi terlalu melimpah dan gak kemakan.

Tapi bawa makanan juga bisa menjadi bencana. Bawa makanan yang dinilai kurang oke buat tuan rumah atau kurang oke rasanya. Sudah sengsara bikin kue pandan, misalnya, tapi ternyata kue pandan bantat. Alamat jadi omongan karena kue bantat dibawa. Padahal, gak ada lagi yang bisa dibawa. Lagipula, peminat kue bantat juga banyak lho, apalagi kue cubit bantat. Duh jadi rindu kue cubit buatan abang-abang-abang.

Bikin makanan yang murah meriah juga bisa jadi bahan pembicaraan. Bawa nasi putih ketika ada kumpul-kumpul, atau model saya yang sering bawa kerupuk karena stok kerupuk saya banyak banget. Modyar deh, karena dianggap perhitungan. Sementara yang bawa daging-dagingan sudah berlimpah. Serba salah deh.

Acara makan-makan sendiri juga sering berbuntut dengan bungkus-bungkus. Apalagi kalau makanannya berlimpah dan dari banyak pengalaman, selalu berlimpah. Suatu hari, orang Irlandia yang saya kenal mempertanyakan, mengapa orang-orang pada bungkus-bungkus ketika acara makan-makan belum selesai. Ketika itu masih banyak tamu yang datang. Pola ini rupanya banyak dilakukan ketika tamu yang hadir hanya bisa datang sebentar, lalu buru-buru pulang. Saya sendiri nggak ngeh, karena sudah terlalu biasa melihat hal tersebut.

https://www.instagram.com/p/BdXZzR7Az95/?taken-by=binibule

Selain urusan bungkus-bungkus yang terlalu dini, bungkus-bungkus juga menjadi pembicaraan ketika bawa kerupuk, tapi pulang bawa ayam satu ekor. Nggak seekstrem itu juga kali sih ya, tapi rupanya ada orang-orang yang menghitung berapa yang dibawa dan berapa yang di bawa pulang. Padahal, bungkus-bungkus sendiri sangat didukung oleh tuan rumah yang punya hajat, bahkan plastik dan kotak plastik juga disediakan oleh tuan rumah. Biasanya tuan rumah menawarkan bungkus-bungkus karena makanan yang terlalu banyak dan tak ada yang makan; daripada terbuang percuma, lebih baik dibungkus.

Bagi saya, makan-makan adalah ajang untuk menyambung hubungan dengan rekan-rekan sebangsa dan tentunya memuaskan rindu akan makanan Indonesia. Yang jelas, makan-makan jadi memicu saya untuk jadi belajar masak makanan Indonesia.

Kalian, punya cerita soal makan-makan di tempat kalian tinggal? Liwetan mungkin?

xx,
Tjetje

Cerita bungkus-bungkus ketika saya masih jadi anak kos, pernah saya bahas di sini.

Bicara Sistem Kesehatan Irlandia

Halo semuanya, yang punya blog lagi sibuk menikmati matahari. Tiap kali mulai Spring dan Summer, sudah bisa dijamin tulisan saya di blog pasti gak akan sebanyak biasanya, karena saya repot berjemur dan tentunya repot menjemur pakaian di luar.

Di Irlandia, selain matahari sudah mulai muncul juga lagi rame kasus kanker serviks. Di sini ada organisasi yang khusus menangani kanker serviks dan tiap sekian tahun sekali perempuan di sini dipanggil untuk melakukan tes gratis. Tes gratisan ini ternyata lagi ada skandalnya; ada sekitar dua ratus perempuan yang didiagnosa baik-baik saja, tapi ternyata terkena kanker. Akibat salah diagnosa ini, mereka yang seharusnya bisa mendapatkan intervensi ketika kanker sedang dini tak bisa mendapatkan intervensi. Direktur organisasi ini sudah mundur, tapi tetep aja minta dituntut.

Kesehatan di Irlandia tak bisa lepas dari kasus orang menuntut petugas kesehatan, suster ataupun dokter. Saya kebetulan mengenal satu orang yang melakukan hal tersebut, dia menuntut rumah sakit karena suster melepas perban dengan tidak hati-hati hingga tangannya terluka. Jika di Indonesia kita begitu pemaaf, di sini banyak yang mencari kompensasi dan kompensasi yang dicari tak sedikit, setidaknya puluhan ribu Euro.

Kembali lagi ke isu kanker, bicara tentang kanker tak bisa lepas dari hospice. Hospice merupakan tempat perawatan mereka yang sudah penyakitnya sudah parah dan tak bisa disembuhkan lagi. Salah satu contoh pasien yang biasanya dirawat di hospice adalah pasien kanker yang kankernya sudah menyebar kemana-mana & sudah di stadium akhir. Di hospice, mereka tak hanya mendapatkan bantuan kesehatan (e.g suntik morphin untuk meredam sakit) tapi juga mendapatkan bantuan spritual. Di Indonesia sendiri saya tak pernah melihat hospice, silahkan dikoreksi kalau salah. Dari pengalaman saya di sini, ketika sudah ada pasien yang masuk hospice, biasanya orang akan menyempatkan menjenguk, sekaligus pamitan.

Sistem kesehatan di Irlandia sendiri sedikit berbeda dengan di Indonesia dan negara Eropa lainnya. Di sini, dokter tak gratis dan setiap orang harus daftar ke satu dokter umum. Satu kali kunjungan ke dokter biasanya dibandrol di harga 60 Euro per visit. Untuk mereka yang gak kerja atau para pensiunan, biasanya mereka dapat kartu kesehatan dan bisa akses dokter gratis.

Di Indonesia, pendekatan dokter dengan pasien itu lebih ke kamu keluhannya apa, mari saya kasih resep. Selesai masalah. Di Irlandia, dokter dan pasien itu berbeda, pasien daftar ke satu dokter dan cerita tentang semua cerita kesehatan keluarga ke dokter tersebut. Nanti berdasarkan cerita keluarga tersebut, si dokter bisa mengambil tindakan-tindakan yang dipandang perlu.

Misalnya, ada keluarga yang pernah mengalami kanker, darah tinggi, ataupun jantung maka dokter akan mengambil tindakan preventif untuk cek ini dan cek itu. Nah ketika direkomendasikan dokter untuk cek ini dan itu. Nanti rumah sakit akan kirim surat panggilan dan panggilan ini bisa beberapa bulan sebelumnya. Semua proses ini gratis, tapi tentunya antrian untuk jasa publik ini panjangnnya tak terkira.

Satu hal yang saya perhatikan, di Irlandia dokter berbicara dan berkonsultasi dengan pasien tentang kondisi mereka. Kondisi pasien adalah hak pasien untuk tahu dan bukan hak juru bicara keluarga. Menutup-nutupi kondisi pasien juga bukan hal yang wajar di sini. Dokter harus menginformasikan pasien dan dapat ijin dari pasien, karena pasien berhak menolak tindakan. Ini berbeda banget dengan di Indonesia, di mana juru bicara keluarga biasanya menjadi yang berkomunikasi dengan dokter.

Tenaga suster di Irlandia sendiri banyak datang dari luar Irlandia, Filipina termasuk salah satu negara yang mengirim suster ke Irlandia. Karena kemiripan orang-orang Indonesia dengan orang Filipina, saya seringkali disangka sebagai orang Filipina dan tentunya disangka sebagai suster. Saking seringnya sampai pengen bikin kaos dengan tulisan “No, I am not Filipino and I am not a nurse“. Gak semua yang coklat itu suster.

Bagaimana dengan sistem kesehatan di tempat kalian sekarang tinggal?

xx,
Tjetje

Ujian Menyetir Irlandia

Beberapa hari lalu saya mengirimkan pesan kepada Ibunda di Indonesia: “Mama, aku lulus ujian SIM Irlandia”. Krik..krik…krik… Sementara itu, begitu saya memberitahu mama dan papa mertua, suasanya langsung mengharu biru, diwarnai dengan pelukan dan ucapan selamat. Di Indonesia dan Irlandia, SIM memang diperlakukan dengan cara berbeda, karena cara mendapatkan keduanya tidaklah sama. Jauh lebih mudah di Indonesia. Makanya tak heran kalau banyak orang di Indonesia yang menyetir tanpa menghormati peraturan dan rambu-rambu lalu lintas, seperti meme yang dibuat oleh Mbot di bawah ini:


Proses saya mendapatkan SIM di negeri ini dimulai sejak saya datang ke negeri ini dan mereka tak mengindahkan fakta bahwa saya memiliki SIM Indonesia. SIM Indonesia, di sini tak ada nilainya. Hal pertama yang saya lakukan adalah membeli buku yang berisi peraturan-peraturan tentang menyetir. Buku itu harus saya tamatkan dahulu sebelum mengambil tes tulis tentang aturan lalu lintas. Empat puluh soal harus dijawab dalam waktu empat puluh lima menit saja. Setidaknya tiga puluh lima pertanyaan tersebut harus benar. Jika kurang dari tiga puluh lima, maka  harus mengulang dan tentunya bayar lagi.

Begitu lolos tes tertulis, SIM learner (L) yang berwarna hijau pun bisa diberikan. Kendaraan harus ditempeli stiker L dan pengemudi tak boleh menyetir sendiri. Harus menyetir bersama mereka yang memiliki SIM penuh (full license, bukan L lagi). Kendaraan juga wajib dilengkapi asuransi, harus membayar pajak dan lolos uji kelayakan. Tiga dokumen ini harus selalu ditempelkan dikaca mobil. Jika tertangkap menyetir sendiri, bisa terkena penalty poin yang bisa mengakibatkan dicabutnya SIM. Selain itu, ada kewajiban untuk melakukan 12 jam kursus menyetir dengan instruktur resmi. Kursus menyetir sendiri dibandrol dengan harga berbeda-beda, dari mulai 25 – 55 Euro setiap jamnya. Saya sendiri menggunakan empat instruktur yang berbeda dan menghabiskan lebih dari 20 jam, karena kebanyakan ganti instruktur.

Setelah kursus selama 12 jam ini terpenuhi, dan jika sudah siap, maka ujian praktik bisa diambil. Untuk ambil ujian praktik ini, pendaftarannya seara daring dan antrian ujian praktik ini sendiri lama, bisa berbulan-bulan. Di Irlandia sendiri ada beberapa tempat untuk mengambil ujian dan beberapa terkenal sangat sulit.

Ujian praktik sendiri melibatkan beberapa hal, dari mulai rambu-rambu, aturan lalu lintas hingga menerangkan bagian-bagian dari mesin. Pengetahuan tentang letak daki, minyak rem, oli, air untuk jendela mobil juga ditanyakan. Tak hanya itu, kapan dan bagaimana menggantinya pun juga ditanya, termasuk soal ketebalan ban. Lampu-lampu kendaraan juga dicek untuk memastikan semua lampu menyala dan kita tahu kapan dan bagaimana menggunakan lampu yang tepat.

Praktik menyetir sendiri melibatkan observasi ketika akan mulai dan selama menyetir. Soal gerakan kepala ketika melakukan observasi ini sendiri membuat banyak kontroversi, terutama bagi mereka yang terlihat tak menggerakkan kepala ketika menyetir. Posisi tangan pada kemudi, bagaimana kita harus feeding the wheel, tangan tak boleh diputar-putar (ajaran Indonesia!).

Selain itu, ada tes untuk mundur di belokan (reverse corner) yang melibatkan banyak teori dan observasi. Bagaimana mulai menyetir di tanjakan dan 3 point turn (putar balik tanpa menyentuh pinggiran jalan dan tak boleh dry steering – lagi-lagi ini ajaran Indonesia), cara berhenti, menyetir roundabout. Semuanya dilakukan di jalan raya selama kurang lebih 20-25 menit. Selama tes kita juga tak boleh membuat terlalu banyak kesalahan. Ada tiga tipe kesalahan, hijau, oranye dan merah. Satu kesalahan tipe merah saja akan menyebabkan kegagalan. Salah satu kesalahan yang fatal di dalam ujian menyetir di Irlandia adalah melambaikan tangan ketika bertemu teman atau ketika mengucapkan terimakasih (di sini, hal-hal tersebut merupakan tradisi). Kalau melambaikan tangan aja gak boleh, apalagi ngobrol-ngobrol di jalanan seperti ini:

Selama kursus mengemudi ini saya diserang stress berat, tidurpun tak tenang. Pada saat tes pun, petugas yang mengetes saya sampai menyuruh saya mengambil napas dalam-dalam. Padahal saya ini termasuk tenang dalam menyetir. Tekanan tes ini memang luar biasa, jauh lebih berat daripada tes di Indonesia. Begitu dinyatakan lulus, saya diberi selembar kertas untuk membuat SIM penuh. Selain itu kendaraan saya juga harus ditempel stiker, di bagian depan dan bagian belakang dengan tulisan N, yang artinya novice driver. Stiker ini harus dipasang selama dua tahun.

Penutup

Di Irlandia, tak semua pengemudi disiplin, yang ngaco ada  dan jumlahnya tak sedikit. Banyak pula yang suka melebihi batas kecepatan yang diperkenankan, atau bahkan menyetir dengan alkohol melebihi batas yang diperkenankan. Tapi kesemrawutan jalanan di sini tak seperti di Indonesia, karena mendapatkan SIM di sini, tak semudah mendapatkan SIM di Indonesia.

xx,
Tjetje
Lulus ujian SIM di Irlandia & pernah tak lolos ujian SIM di Indonesia

Pelakor

Topik perselingkuhan sudah pernah saya bahas tiga tahun lalu dalam postingan yang berjudul Perempuan Simpanan. Silahkan klik di sini kalau ingin baca. Kali ini saya tak akan membahas soal perempuan simpanan, tapi membahas soal perselingkuhan dan pelakor, pencuri laki orang.

Saya menghabiskan hampir satu dekade hidup saya di Jakarta, ibu kota yang diwarnai dengan kesempatan untuk melakukan ketidaksetiaan. Ketika itu, melihat perselingkuhan bukanlah sebuah hal yang aneh bagi saya, malah saya cenderung menormalisasi hal tersebut. Perselingkuhan ini tak hanya saya lihat di kost-kostan saya, tapi juga di lingkungan pertemanan dan pekerjaan.

Ketika menjadi saksi perselingkuhan, rumus hidup saya cuma satu: tak peduli. Toh para pelakunya orang-orang dewasa yang bisa memilih hal-hal yang dianggap baik untuk hidup mereka. Bagaimana jika saya mengenal korban perselingkuhannya? Sama, prinsip saya mulut harus ditutup rapat, karena saya tak mau menjadi orang yang membawa berita buruk. Gak ada untungnya buat saya untuk menyampaikan hal-hal seperti itu, malah rumah tangga atau hubungan percintaan bisa tambah hancur karena kesaksian saya. Buntutnya, hubungan saya dengan orang-orang ini juga akan runyam. Prinsip saya ini berlaku untuk teman, keluarga ataupun kolega. Semua saya perlakukan sama.

Dari menyaksikan perselingkuhan ini, saya mengambil satu kesimpulan penting, bahwa perselingkuhan itu pada dasarnya terjadi karena dua belah pihak sama-sama mau. Baik pihak perempuan maupun pihak laki-laki. Pada saat yang sama, perselingkuhan terjadi karena terjadi ketidakpuasan dalam rumah tangga. Tapi mekanisme pertahanan banyak orang selalu mengatakan bahwa rumah tangga sebenarnya baik-baik saja, tapi sang pria terhipnotis ataupun terkena ilmu guna-guna. Bagi saya, kalau rumah tangga baik-baik saja, besar kemungkinan perselingkuhan tak akan terjadi.

Akibat penggambaran pria-pria sebagai orang suci yang tak mungkin tergoda dengan perselingkuhan, muncul istilah pelakor, pencuri laki orang. Norma kita mendikte bahwa para bapak-bapak ini adalah orang yang begitu mencintai keluarga atau pasangannya dan tak sengaja terpeleset ke godaan perempuan lain. Makanya dalam kasus seperti ini, perempuan SELALU disalahkan, karena mereka mau dengan pria yang telah berkeluarga. Sekali lagi adalah hanya perempuan yang salah, sementara sang pria adalah makluk suci.

Pengamatan saya sendiri melihat bahwa para pria yang tak setia pada pasangannya bisa berubah menjadi pencinta keluarga hanya dalam hitungan detik. Tak heran keluarga mereka akan melihat dengan kacamata yang berbeda, bahwa mereka adalah pihak yang tak salah. Hanya pelakor ini yang salah.

Buat saya ini tak adil, karena perempuan dan pria sama-sama punya andil dalam memulai perselingkuhan. Tak bisa dipungkiri ada kasus-kasus dimana perempuan menggoda pria yang sudah beristri, tapi juga tak boleh kita menutup mata banyak juga pria yang menggoda perempuan lain. Salah satu modus sederhana saja, SPG di pameran menawarkan produk yang dijual, bisa dengan mudahnya digoda dengan cheesy pick up line seperti: “Kalau saya gak tertarik dengan produknya, tapi tertarik dengan mbaknya aja bisa gak?”

Pada saat yang sama, tak semua pria bisa tergoda untuk tenggelam dalam arena perselingkuhan. Rumus kucing ditawari ikan asin akan selalu mau itu tak selamanya benar. Saya mengetahu banyak pria yang bisa teguh dengan pendiriannya untuk tidak tergoda dengan perempuan lain, walaupun mereka sudah disodori perempuan (maafkan penggunaan kata ini, tapi ini benar adanya). Mereka memilih untuk tidak berselingkuh walaupun kesempatan sudah jelas di depan mata. Sekali lagi, mereka memilih untuk tidak berselingkuh.

Saya bukan ahli perselingkuhan, tapi dari banyak perselingkuhan yang saya tahu, kedua belah pihak sama-sama mau melakukan perselingkuhan. Baik pihak perempuan, maupun pihak laki. Tak semuanya diiniasi oleh perempuan, ada banyak perselingkuhan yang dimulai oleh pria-pria. Jadi, tolonglah jangan disamarakatan bahwa semua perselingkuhan itu karena kesalahan perempuan, lalu hanya perempuan saja yang disalahkan dan dituduh menjadi pelakor, pria pun punya kontribusi dan seringkali kontribusinya besar. Mereka bisa mengaku single atau sedang dalam proses perceraian atau perpisahan. Lagipula, mencuri hati pria itu tak mungkin kalau mereka tak merelakan hatinya dicuri.

Kesimpulan saya, perselingkuhan itu terjadi karena hubungan percintaan memang tak sehat dan salah satu pihak tak puas dengan hubungan tersebut.

xx,
Tjetje

Rupa-rupa Arisan

Beberapa waktu lalu saya ngobrol dengan seorang sahabat di Indonesia tentang arisan yang memberatkan ekonomi. Berat bagi kami yang masuk golongan ekonomi menengah ngehek, mungkin tak berat bagi mereka yang memang dilimpahi rejeki yang kekinian dan bisa digunakan untuk mengikuti banyak arisan.

Arisan, entah ditemukan oleh siapa, dibuat untuk membantu ekonomi para anggotanya dan juga untuk kegiatan sosial. Seperti kita tahu, dalam arisan semua orang sebenarnya mendapatkan kembali uang yang mereka setorkan, hanya urutannya saja yang berbeda. Arisan pun bermacam-macam tipenya, tak selalu soal uang, ada arisan panci, tas, emas, hingga arisan berondong. Nah kalau soal yang terakhir, tujuannya tentunya untuk membantu keadaan ekonomi si berondong dan kepuasan batin si pemenang arisan.

Menjadi perempuan jaman sekarang, apalagi di Indonesia, menuntut untuk ikut arisan di berbagai tempat. Arisan pertama level RT, rukun tetangga. Jika sang perempuan sudah memiliki anak, maka kesempatan arisan yang ada berdasarkan jumlah anak yang dimiliki. Punya tiga anak berarti memiliki setidaknya tiga kelompok arisan yang berbeda sesuai kelas si anak. Sebut saja ini arisan mama-mama di sekolah. Nanti ada pula grup arisan di luar sekolah anak, tentunya tergantung aktivitas si anak. Kursus ini itu, lalu bertemu dengan Ibu-ibu lainnya, dan membuat kelompok-kelompok arisan. Semakin banyak arisan yang diikuti, maka semakin banyak dana yang harus dialokasikan setiap bulannya. Ya hitung-hitung menabung.

Tunggu dulu, ternyata arisan jaman sekarang tak bisa dianggap sebagai kegiatan menabung, karena kebanyakan arisan menuntut dress code. Dress code ini akan disesuaikan dengan tema-tema yang disetujui atau ditentukan bersama. Arisan bulan ini temanya Gatsby, arisan bulan selanjutnya glamor, lalu arisan selanjutnya warna mejikuhibiniu, kemudian army look. Nanti begitu di saat bulan Ramadhan, kaftan putih menjadi dress code. Pendek kata runaway kalahlah. Lalu untuk mengabadikan momen spesial ini, fotografer kadang dipekerjakan, tapi jika tak ada fotografer cukup membawa kamera atau kamera dari telepon genggam. Jangan lupa meminta pelayan untuk membantu mengambil foto.

Tak cukup dengan dress code, lokasi arisan juga tak lagi di rumah. Sekarang arisan pindah ke ruang meeting di mall, seperti di sebuah mall di kawasan Sudirman. Hotel juga sering menjadi tempat tujuan arisan, ditemani dengan afternoon tea yang seringkali lebih mahal dari uang arisan. Restauran-restauran yang baru keluar dan banyak dibicarakan juga harus menjadi tempat tujuan arisan. Apalagi kalau restauran ini interiornya menarik dan punya banyak sudut untuk foto. Pemotretan memang menjadi bagian tak terlepaskan dari sebuah arisan.

Beberapa kelompok tertentu bahkan mengadakan penutupan arisan dengan jalan-jalan keluar kota, hingga keluar pulau. Penutupan arisan model ini mendorong pariwisata Indonesia berkembang dan tentunya memberikan kesempatan untuk lepas dari rutinitas rumah.

Arisan juga tak terlepaskan dari drama. Drama perkelahian anggota atau saling gosip-menggosip tentunya bukan hal baru lagi. Sementara mereka yang tak ikut arisan juga terkucilkan dari kelompok. Selain itu, drama urusan uang juga seringkali terjadi. Dari uang dibawa kabur oleh koordinator arisan hingga pembayaran yang susah ketika sudah menang. Yang repot, penerima arisan paling akhir biasanya tak langsung menerima uang arisan dengan penuh, karena ada saja anggota yang belum mengirimkan uang. Akibatnya, pembayaran jadi dicicil, apes banget kan udah dapat paling akhir, dicicil pula. Soal alasan pembayaran terlambat, jangan ditanya lagi, karena alasan mereka beraneka rupa & bikin geleng-geleng kepala.

Arisan keluarga sendiri menjadi arisan favorit saya, karena menjadi ajang berkumpul untuk bertemu keluarga. Apalagi jika tinggal di kota besar seperti Jakarta. Tapi bagi yang lajang atau belum kunjung hamil setelah kawin, ada baiknya arisan ini dihindari karena pertanyaan yang muncul bisa menusuk hati hingga berdarah-darah.

Kalian, ikut arisan atau kegiatan sosial lainnya?

xx,

Tjetje
Cukup sekali saja, tak mau ikut arisan lagi

Cerita Badai Salju di Dublin

[TLDR; Tulisan ini panjang]

Dari hari Senin kemarin berita badai akan datang di Irlandia sudah mulai ramai di mana-mana. Penduduk Irlandia juga panik berat hingga kemudian memborong segala macam makanan dari supermarket, utamanya roti dan susu. Gak di Irlandia gak di Indonesia, kelakuan manusia sama saja.

Stok susu habis diborong, begitu juga dengan daging, ikan, roti dan telur

Beruntung saya bisa hidup tanpa keduanya tapi tetap saja, Senin malam itu saya harus keliling mencari stok makanan. Malam itu memang kulkas kami kosong, jadi mau tak mau harus beli makanan. Saya pun akhirnya menemukan banyak makanan di Tesco lokal dan membeli secukupnya untuk beberapa makan malam saja serta air putih. Parno, takut pipa air beku.

Hari Selasa cuaca di Dublin begitu Indah, matahari bersinar terang dan suasananya kalem sekali. Suasana ini yang disebut calm before the storm. Kantor sendiri juga masih berjalan normal.

Rabu pagi saya bangun pagi sekali dan semua pemandangan jadi putih, tertutup salju. Hati saya riang gembira, bukan karena salju (saya bukan penyuka salju) tapi karena red warning dari pemerintah. Artinya, kami tak boleh kemana-mana dan tak perlu ke kantor. Pagi itu saya habiskan untuk keliling kompleks mengecek ketinggian salju, membersihkan rumah, beres-beres setrikaan, baca buku, nonton Netflix, baca buku hingga tak ada lagi yang bisa dikerjakan. Baru satu hari saja, saya sudah bosan dikurung di dalam rumah.

Kamis pagi, salju sisa kemarin mulai tinggi lagi. Pemerintah sendiri menyerukan orang-orang harus berada di dalam rumah pada pukul 4 sore. Saya yang gerah di dalam rumah pun berjalan ke toko lokal tanpa ada niatan untuk belanja. Ternyata di toko lokal terjadi kehebohan, orang pada borong roti yang baru tiba. Dan antriannya mengular panjang sampai mengelilingi dalam toko. Panik rupanya. Tetangga saya bahkan ada yang membeli 10 bungkus roti (dan masuk TV). Roti segitu banyaknya mau dibuat apa?

Krisis roti: truk ini menjadi pemandangan indah

Urung membeli roti, saya keluar ke apotek langganan mertua untuk mengambil obat beliau. Rasanya sedih gitu ketika masuk apotek ada seorang Ibu-ibu agak tua yang kakinya patah harus mengambil obat ke apotek. Jasa layanan antar di apotek ini terpaksa dihentikan karena sang pengantar tak tercover oleh asuransi.

Menariknya, di belakang apotek ini terdapat pub lokal yang tentunya buka dan tak peminatnya tak surut. Sementara chipper (istilah lokal untuk warung yang jual kentang, burger, dan gorengan lain) bersiap untuk buka. Hujan badai, alkohol dan kentang tetaplah barang penting di sini.

Prioritas di Irlandia: bir dan wine!! Padahal antrian lumayan panjang

Hari Jumat situasinya masih sama dan kami yang terkena cabin fever ini memaksakan untuk keluar demi mendapatkan udara segar. Kami kembali lagi ke supermarket lokal dengan antrian panjang, hanya karena ingin mengambil foto. Rupanya antriannya sudah mencapai luar supermarket. Duh tak terbayang stressnya para pegawai.

img_4018-1

Orang-orang yang heboh antri di supermarket.

Begitu hari Sabtu tiba, kami keluar rumah pagi-pagi demi mencari bahan pangan. Ternyata di kompleks sebelah, saljunya tak kalah parah dan beberapa kendaraan harus ditinggalkan dipinggir jalan. Stasiun tram sendiri tertutup salju dan tak bisa dilewati tram.

Stasiun tram yang terendam salju hingga lebih dari 60 cm.

Supermarket yang kami pilih agak jauh, sekitar 20 menit jalan dan ternyata buka dengan jam normal, karena red warning juga telah berubah menjadi oranye. Oranye artinya kami sudah boleh keluar rumah. Saya berhasil membeli beberapa bahan makanan, baik untuk saya maupun untuk mertua yang tinggal tak jauh. Antrian kasirnya juga tak begitu panjang.

img_4041

Mobil yang diterlantarkan karena jalanan tak bisa dilewati lagi.

Bagi banyak orang yang tinggal di negeri salju mungkin badai salju ini sebuah hal yang biasa. Di Irlandia, negaranya tak sesiap negara lain dalam menghadapi salju. Begitu salju besar turun, dipastikan layanan publik, terutama transportasi akan melayani secara terbatas atau berhenti. Penerbangan dibatalkan, sekolah dan penitipan anak tutup, sementara petugas kesehatan terpaksa tidur di rumah sakit demi melayani masyarakat. Di beberapa tempat bahkan listrik tak tersedia. Aduh gak kebayang deh dinginnya.

Superheroes!

Penjarahan juga terjadi sekitar 15 menit dari wilayah kami tinggal. Tak tanggung-tanggung, mereka menjarah lemari besi Lidl (supermarket murah dari Jerman) dan kemudian menghancurkan Lidl dengan mesin besar yang mereka curi dari lokasi pembangunan tak jauh dari TKP. Di wilayah yang sama, mobil-mobil yang diparkir juga dibakar. Gak di Indonesia, gak di Irlandia, anarkismenya sama saja.

Bosan di dalam rumah, bikin snowman deh

Ketika tulisan ini ditulis, salju sudah berhenti turun dan mulai mencair. Yang tersisa sekarang hanya becek, salju yang bercampur tanah kotor dan tentunya kerja keras untuk menyekopi salju tersebut. Satu kompleks kami keluar rumah, kerja bakti tanpa ada yang mengkomando. Saya juga sesiangan ikut menyekop salju. Untung ya di Irlandia ini badai salju cuma datang sesekali dalam satu dekade.

Hari Minggu, jalanan besar mulai dibersihkan.

Tapi kerja keras kami untuk membersihkan salju ini tak ada apa-apanya dibandingkan para pekerja emergency dan kesehatan yang berjalan ke rumah sakit demi menjalankan tugas. Juga para pekerja supermarket yang harus berhadapan dengan kepanikan massa. Mereka adalah pahlawan!

Salju di halaman depan rumah kami. Perjuangan banget untuk keluar dari pintu utama.

Selamat hari Senin kawan, kalian sudah pernah terjebak badai salju? Atau mungkin terjebak banjir parah?

xx,
Tjetje

Jual Beli Makanan di Luar Negeri

Bulan Desember kemarin, Instagram saya meriah dengan instastory dan juga foto-foto risoles. Euphoria karena baru bisa bikin risoles dan risolesnya, kebetulan enak serta creamy. Rupanya peminat risoles ini banyak, bahkan ada yang mau pesan untuk sebuah acara ulang tahun. Mimpi apa anak yang tak bisa masak ini tiba-tiba dapat orderan? Tapi orderan berbayar itu saya tolak dan risoles pun saya berikan gratis sebagai hadiah ulang tahun. Saya, menolak menjual makanan karena banyak alasan.

Di Indonesia, jual makanan itu prosesnya gampang sekali dan tak memerlukan “banyak modal”. Cukup dengan bahan-bahan makanan dan meja, makanan pun bisa digelar di luar rumah. Peminatnya juga ada saja. Soal kualitas makanan, para pembelilah yang akan menilai. Jika enak, makanan tersebut akan bertahan, jika tak enak, pasti akan gulung tikar.

Para pelaku usaha makanan di Indonesia juga banyak, apalagi menjelang hari Raya. Semua orang mendadak berwirausaha dengan resep andalan keluarga. Dapur-dapur rumah pun berubah menjadi unit usaha kue kering dan juga makanan lain.

Pada usaha-usaha kecil dan rumahan ini, saya lihat tak ada mekanisme kontrol untuk melihat berapa kilo micin yang dimasukkan ke dalam makanan, apalagi mengontrol jenis daging yang dimasukkan. Bahkan bahan-bahan yang tak seharusnya menjadi makanan pun bisa dimasukkan, termasuk pewarna pakaian. Bicara micin, di dekat kantor saya di kawasan jalan Galuh Kebayoran Baru, ada tukang soto yang cukup terkenal. Suatu pagi saya mendapati bapak tukang soto dengan santainya memasukkan bungkusan besar micin ke dalam panci soto. Tak cukup satu bungkus besar, setiap meracik, satu sendok micin akan dituangkan ke dalam mangkok. Itu baru micin, soal kebersihan adalah isu lain yang tak terkontrol. Bila kemudian ada yang sakit perut, tak ada mekanisme pelaporan dan siapa yang peduli?

Di Irlandia, jual makanan itu bisnis yang tak mudah. Ada banyak aturan mengenai proses penanganan hingga penyimpanan makanan. Makanan di sini tak boleh dipajang hingga seharian seperti di Indonesia, apalagi dihinggapi lalat. Mereka yang berjualan pun wajib punya ijin, area masak yang memenuhi standar kesehatan dan tentunya wajib bayar pajak. Tak heran kalau kemudian harga jual makanan di luar negeri itu relatif “mahal”. Bahan-bahannya mungkin lebih murah karena bisa beli dalam jumlah besar dan tak bayar PPN, tapi ongkos tenaga kerja, asuransi dan lain-lain membuat harga menjadi tinggi.

Ketika mengalami reaksi tak biasa setelah maka, konsumen pun tinggal menelpon dan membuat laporan, seperti yang dilakukan seorang teman saya. Konon mereka yang banyak dilaporkan akan diinspeksi dan bisa kehilangan lisensi untuk berjualan sehingga usaha makanannya ditutup. Tiap tahun selalu ada beberapa restauran yang ditutup karena hal seperti ini dan nama serta alamat mereka akan diumumkan kepada publik.

Orang-orang Indonesia di berbagai belahan dunia membawa budaya berjualan makanan ini ke tempat mereka tinggal. Coba tanya deh sama yang tinggal di luar negeri, pasti ada yang bisa bikin bakso, nasi Padang, lapis legit, hingga aneka panganan lain. Budaya jualan secara informal tak hanya terbatas di satu negara, kadang bisa lintas negara juga. Makanan tinggal dibungkus vacuum lalu dikirimkan melalui pos. Para penjual makanan ini kemudian menjadi penyelamat bagi orang-orang yang tak pandai masak seperti saya.

Mereka tak hanya menjadi sumber penyelamat tapi juga menjadi sumber kritik; kritik utama biasanya soal harga yang terlalu mahal, apalagi jika bahannya-bahannya terbilang murah. Argumen terkuat dari pengkritik biasanya karena mereka tak bayar pajak, jadi tak seharusnya menjual dengan harga “mahal”. Biasanya, para pengkritik ini hanya ingat menghitung biaya bahan-bahan dan seringkali lupa menghitung ongkos tenaga kerja. Ongkos tenaga kerja di negara-negara Eropa, apalagi Eropa Barat tidaklah murah, apalagi jika waktu yang dihabiskan untuk menyiapkan sebuah makanan cukup banyak. Kebiasaan mengkritik dengan pedas ini juga mungkin karena kita terbiasa dengan harga tenaga kerja yang kelewatan murahnya di Indonesia.

Selain mengkritik harga, rasa makanan yang tak sesuai di lidah membuat konsumen suka mengeluh. Kurang pedes, kurang asin, gak berani bumbu, kurang ini dan kurang itu. Mungkin juga kurang micin.

Selain karena alasan-alasan di atas, ketidakadaan ijin juga membuat orang kepanasan. Makin panas ketika terjadi keracunan makanan dan pembeli tak bisa membuat laporan. Eh bisa juga sih mereka menuntut, tapi urusannya akan panjang karena ijin usaha yang tak ada. Nah kalau sudah gini pun aparat dan tukang pajak akan ikut terlibat.

Kegiatan berdagang makanan ini tak hanya menjadi kebiasaan orang Indonesia, tapi saya perhatikan banyak dilakukan oleh orang-orang Asia. Melalui seorang rekan kerja, saya pernah membeli satu kilo bakso hasil buatan orang Thailand yang rasanya super enak. Orang-orang Filipina juga suka ada yang menjual lunchbox.

Bagi banyak orang, apalagi yang hobi memasak, berjualan makanan mungkin menjadi suatu kepuasan tersendiri. Menyiapkan banyak makanan, mengolahnya menjadi lezat dan kemudian memperoleh sedikit keuntungan. Bagi saya, mereka yang berjualan makanan ini menjadi penyelamat ketika saya merindukan makanan nusantara dan tak tahu, atau bahkan malas, memasak. Kalau kemudian ada kontroversi dengan pembeli yang lain, saya tak urusan. Yang penting makanan saya sesuai pesanan, tanpa sambal.

Untuk menjadi penjual sendiri saya enggan, karena saya enggan jual makanan tanpa ijin, apalagi kalau sampai bikin orang sakit perut dan sakit hati. Soal yang terakhir ini bahaya, karena sakit hati bisa dibawa ke media sosial dan petugas negara. Modyar. Bicara soal ijin, di sini makanan harus ketahuan asalnya dari mana dan isinya apa saja, apalagi kalau berkaitan dengan alergi, seperti kacang-kacangan, susu, dan panjang lagi. Lupa nyantumin orang bisa sampai meninggal. Ngeri deh urusan sama petugas negara.

Jadi, kalian beli makanan apa hari ini?

Xx,
Tjetje

Seputar Televisi

Sungguh saya kaget luar biasa ketika melihat perkawinan Angel Elga dan Vicky dimasukkan ke dalam televisi nasional dan kemudian menjadi TT di jagat Twitter. Kalau saya masih di Indonesia, saya akan lihat merek-merek apa saja yang bersedia membayari acara televisi model seperti itu dan berhenti membeli produk-produk mereka. Agak ekstrem mungkin, tapi televisi itu mestinya kan menjadi ajang pendidikan dan atau hiburan berkualitas. Bukan hiburan yang tak jelas manfaatnya apalagi memfasilitasi perusakan terhadap bahasa kita.

Di Irlandia, kami memilih untuk mempensiunkan televisi. TV-TV kami letakkan di gudang sejak lebih dari setahun terakhir. Ada banyak alasan mengapa saya tak mau ada televisi. Pertama, karena menggunakan televisi di Irlandia itu harus membayar pajak tahunan sebesar €160 per tahunnya.

Pajak ini mirip dengan pajak yang dibayarkan jaman Presiden Suharto dulu. Uang tersebut konon akan digunakan negara untuk membayar stasiun lokal, di sini namanya RTÉ. Nah, banyak orang ribut soal ini, karena gaji-gaji mereka yang kerja di RTÉ itu banyak yang berlebihan/ terlalu besar untuk ukuran Irlandia. Sementara tak membayar pajak televisi ini sendiri juga membuat orang bisa dipenjara.

Selain soal pajak, saya juga enggan membayar TV kabel sebesar €70-100 untuk televisi setiap bulannya, karena penggunaan TV sangat rendah. Kami berdua bekerja dan lebih memilih baca buku, ngobrol atau nonton Netflix.

Kualitas televisi di Irlandia sendiri bermacam-macam, tergantung paket televisi yang kita ambil. Tapi tentunya film-film seri Amerika tak sebanyak di Indonesia. Kualitas drama di Irlandia sendiri saya tak bisa menilai, karena saya tak rajin menonton. Tapi saya paling tak suka dengan drama lokal yang panjangnya mengalahkan sinetron Tersanjung di Indonesia. Judul dramanya Fair City. Drama ini sudah ada di televisi sejak satu dekade lebih dan nampaknya belum akan usai. Yang mengerikan, tak seperti Tersanjung yang diputar tiap Jumat, drama ini diputar hampir setiap hari. Selain Fair City ada juga drama panjang Inggris berjudul East Enders, sama juga, panjang dan banyak pencinta fanatiknya.

Bagi saya, ini bukan kali pertama saya memilih tak punya TV, dulu ketika baru awal menjadi anak kost, saya pernah hidup bertahun-tahun tanpa TV, karena tak melihat manfaat positif. Kendati saat itu tak punya televisi, saya memiliki radio dan CD player. Jadi kalau butuh hiburan, koleksi CD bisa dimainkan.

Keteguhan saya untuk tak punya televisi goyah ketika SCTV menayangkan kembali telenovela Marimar yang dibintangi oleh Thalia bersama anjingnya. Saya langsung beli TV dong, demi nonton telenovela. Setelah beli TV saya hanya menonton satu atau dua episode saja, lalu beralih ke TV5 untuk melatih kemampuan telinga mendengar bahasa Perancis.

TV5 sendiri saya dapatkan dari TV kabel. Jaman itu, tahun 2009-2010an, TV kabel dibandrol dengan harga sekitar 300ribu Rupiah untuk berbagai macam stasiun televisi. Nah saya diberi tawaran untuk mengambil TV kabel sebesar 100ribu rupiah setiap bulannya. Tentu saja saya langsung setuju, karena murah.

TV kabel murah itu ternyata hasil menyogok saudara-saudara. Salah satu anak kos rupanya menyogok pegawai TV kabel untuk membuka koneksi TV kabel bagi beberapa orang. Ketika semua TV kabel sudah menggunakan dekoder, penyedia TV kabel yang ini masih manual, jadi tinggal colok kabel. Tagihan tiap bulan ini yang kemudian dibagi tiga, sesuai jumlah peminat.

Metode ini nampaknya banyak digunakan di kost-kostan, karena begitu saya pindah ke kost lain, mereka juga menggunakan sistem TV kabel yang sama. Bedanya di kost baru saya tak perlu membayar, semua sudah dibayar oleh pemilih kos. Ah kalau urusan ekonomi kreatif, Indonesia memang jawara.

Sayangnya TV kabel gratisan tersebut tak bertahan lama, karena perusahaan TV kabel tersebut memperbarui jaringannya dan saya pun harus bayar harga normal demi kualitas TV yang lebih baik. Setidaknya kala itu saya tak perlu nonton sinetron, debat politik yang tak jelas, apalagi kawinan nasional dipajang di TV nasional.

Jadi bagaimana kualitas acara TV di tempat kalian tinggal?

xx,
Ailtje

Serba-serbi Dana Kesejahteraan Sosial di Irlandia

Jaminan kesejahteraan sosial menjadi sebuah hal yang membuat Irlandia lebih baik dari banyak negara. Orang-orang yang bekerja membayar pajak cukup tinggi, berkisar dari 20-40%, sementara mereka yang sedang mencari pekerjaan bisa dibantu oleh negara.

Bantuan dari negara ini ada beberapa macam tipenya. Untuk mereka yang mencari pekerjaan misalnya, pemerintah menyediakan uang mingguan yang bisa mencapai hampir €200/ minggu. Jangan keburu silau dulu, karena cuma itu relatif tak banyak.

Selain uang mingguan, para pencari kerja juga bisa meminta penambahan keterampilan. Misalnya ingin menjadi tukang potong rambut, maka pemerintah akan mencarikan kursus dan membayar kursus tersebut. Seringkali, kursus-kursus tersebut tak murah, bisa mencapai ribuan Euro. Nanti, ketika sudah selesai kursus dan tak juga mendapatkan pekerjaan, bisa juga meminta kursus tambahan.

Kursus bahasa Inggris juga banyak diberikan untuk mereka yang memang kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas dan kesulitan mendapat pekerjaan. Kursus ini untuk mereka yang bukan penutur asli, untuk membantu mereka mendapatkan pekerjaan.

Selain uang mingguan, pemerintah juga menyediakan rumah-rumah sosial. Soal rumah ini pernah saya bahas dalam tulisan terpisah. Nanti linknya akan saya taruh di bawah. Menariknya, seringkali orang menolak tawaran rumah dari pemerintah dengan beragam alasan, misalnya: tak ada tempat parkir, terlalu jauh dari tempat kerja, harus naik tangga, atau lokasin yang berada di daerah kurang baik. Orang-orang ini kemudian ditaruh di hotel berbintang dan berstatus homeless. Dari luar kita melihatnya mungkin wah, tinggal di hotel. Tapi ruang gerak di hotel itu sangat terbatas. Tempat menjemur pakaian tak ada, dapur apalagi. Jadi, banyak yang mengeluh dengan kondisi ini, bahkan ada yang bunuh diri.

Selain ditawari rumah, pemerintah juga memberikan rental allowance untuk yang tak memiliki cukup uang untuk menyewa rumah, alias uang sewa dibayari oleh Pemerintah. Tak semua landlord tapi menyukai rental allowance, jadi banyak dari mereka yang mendapatkan rental allowance ini kesulitan mendapatkan rumah kontrakan.

Irlandia yang memiliki sejarah gelap terhadap perempuan yang memiliki anak di luar perkawinan, sekarang menjamin Ibu-ibu tunggal. Rumah disediakan, atau melalui rental allowance, tunjangan juga diberikan. Pendeknya hidup mereka terjamin, walaupun tak berlebihan. Pepatah banyak anak banyak rejeki juga bisa diterapkan dalam situasi seperti ini, karena memang semakin banyak anaknya semakin besar tunjangan dari Pemerintah. Seorang teman bahkan bercerita ada yang mendapatkan tunjangan hingga €60,000/tahun, karena anaknya banyak. Jumlah ini 2,5-3 kali lipat lebih besar dari mereka yg bekerja dengan upah minimum.

Para istri yang kehilangan suaminya juga berhak mendapatkan tunjangan/ pensiun jika suaminya pernah bekerja selama sekian puluh minggu, saya lupa persisnya. Jumlah pensiun ini lagi-lagi tak banyak, tapi cukup untuk belanja kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu tersebut termasuk susu, roti, sayur dan daging.

Di lingkungan sehari-hari, orang-orang yang kehilangan pekerjaan tak perlu malu untuk mengambil tunjangan sosial hingga menemukan pekerjaan. Namun masyarakat juga suka gemas pada mereka yang bergantung pada social welfare sepanjang hidupnya. Sekali lagi, SEPANJANG HIDUP. Orang-orang seperti ini ada banyak di Irlandia dan mereka tak pernah bekerja selama hidupnya. Lucunya, orang-orang yang bergantung pada social welfare ini tak segan membicarakan bagaimana cara mendapatkan uang lebih banyak lagi. Padahal mereka ini selain mendapatkan dana mingguan, juga mendapatkan jaminan kesehatan gratis. Sementara mereka yang bekerja setidaknya harus merogoh hingga €60/ kunjungan ke dokter. Selain kesehatan gratis, mereka juga dibebaskan dari biaya TV license (ongkos punya TV). Dengan begitu banyaknya “kenyamanan”, tak heran kalau banyak yang memilih tak bekerja. Terkadang, dana social welfare ini jauh lebih banyak ketimbang bekerja.

Penyelewengan dana social welfare sendiri ini bukan sebuah hal yang aneh. Baru-baru ini misalnya seorang guru musik berkewarganegaraan Perancis diputuskan bersalah karena memalsukan identitas dan mengambil Dana Kesejahteraan hingga €175ribu. Begitu ketahuan, guru ini harus membayar kembali sebesar €100 setiap minggunya. Entah kapan lunasnya.

Social welfare ini tak hanya untuk mereka yang WN Irlandia, para pemegang passpor asing EU pun bisa mendapatkan dana ini. Orang Indonesia pub ada beberapa yang bergantung pada dole. Angka 180-200 ini memang terbilang kecil di Irlandia, tapi di banyak negara lain di EU menjadi cukup besar, karena sama dengan setengah gaji. Jaman dulu ada banyak yang memanfaatkan celah ini, mereka datang untuk mendaftar, kemudian kembali ke negaranya sambil menikmati uang pajak dari sini. Jumlah uang yang tak seberapa ini menjadi sangat berharga ketika mereka datang dari negara yang biaya hidupnya relatif rendah. Modus ini lama-lama ketahuan dan pemerintah membuat aturan yang lebih ketat. Di berbagi forum, kalau googling tentang model scam ini kita akan dihadapkan dengan banyak komentar-komentar rasis terhadap para pelakunya.

Connor McGregor adalah salah satu contoh orang yang bergantung pada social welfare. Sampai seminggu sebelum bertanding di UFC, McGregor masih mengambil cek welfarenya sebesar €180. Sekarang sih kondisinya berbalik, dia menjadi salah satu pembayar pajak terbesar di negeri ini, apalagi ia masuk dalam daftar salah satu orang terkaya di Irlandia.

Di Indonesia sendiri pernah ada, entah masih ada atau tidak, dana serupa dengan nama Bantuan Langsung Tunai. Begitu dana ini keluar, harga kebutuhan pokok langsung melonjak. Oh inflasi.

Kalian, kalau ada dana serupa, apakah sudi membayar pajak tinggi?

xx,
Tjetje

Baca juga: Jaminan Rumah di Irlandia

Nostalgia Tiket Kereta Berdiri

Hampir satu dekade lalu, saya dan dua orang teman perempuan nekat pergi ke stasiun kereta api Gambir untuk membeli tiket berdiri kereta Gajahyana jurusan Jakarta-Malang, kampung halaman kami semua. Tiket normal sendiri sudah tak bisa didapatkan, karena kereta sudah penuh dan saat itu akhir pekan panjang.

Kenekatan kami membeli tiket berdiri, adalah keputusan tergila yang tentunya tak akan saya ulang lagi. Apa itu tiket berdiri? Tiket ekstra yang bisa dibeli dengan harga yang hampir sama, tapi penumpang harus berdiri, tak boleh duduk, karena memang sudah tak ada tempat duduk lagi. Perlu dicatat, ini bukan berdiri di gerbong tempat para penumpang eksekutif duduk ya, tapi di sambungan gerbong, dekat kamar mandi kereta yang baunya aduhai.

Saya tak ingat berapa persisnya harga tiket duduk tersebut, masih di kisaran 200-300ribuan. Tapi yang jelas perbedaan harga tiket duduk dan berdiri tidaklah terlalu signifikan. Tiketnya sendiri bisa dibeli di petugas yang berdiri di dekat kereta, ketika kereta sudah akan berangkat.

Ketika memasuki kereta tersebut kami berhasil duduk di restauran kereta dan mengamankan tiga kursi. Sayangnya, kami tak lama duduk di kursi tersebut karena beberapa penumpang, bapak-bapak, mulai bermunculan dan juga merokok sehingga membuat restauran bau. Ditambah lagi, saat itu tiga perempuan, berada di dekat bapak-bapak bukanlah ide yang bagus. Kami lebih rentan menjadi korban pelecehan apalagi ketika komen-komen dari mulut mereka yang bau alkohol sudah mulai keluar. Heran ya kalau di Indonesia orang mabuk itu jadi suka kurang ajar sama perempuan.

Jadilah kami pindah duduk ke dekat toilet. Hanya ada dua kursi di dekat toilet, kursi lipat, mirip kursi petugas di pesawat terbang. Salah satu dari kami harus duduk di lantai, beralaskan koran. Jangan tanya betapa tak nyamannya, apalagi ditambah dengan bau dari dalam toilet. Tapi momen itu kami bertiga jadi banyak ngobrol tentang hidup, pekerjaan dan juga pria, hingga tentunya kelelahan.

Tidur sendiri menjadi pilihan yang susah, karena kereta eksekutif ini berhenti di banyak stasiun dan banyak pedagang makanan yang mencari pembeli. Para pedagang ini memang tak diperbolehkan naik ke dalam kereta eksekutif, tapi mereka tak kehilangan akal, mereka menekan tombol khusus di pintu yang membuat pintu tak bisa otomatis tertutup.

Begitu pintu terbuka, teriakan nama makanan yang mereka jajakan akan membahana ke seantero gerbong. Wingko Babat, Bakpia Pathuk dan Pecel Madiun menjadi tiga nama makanan yang masih lekat di kepala saya, jangan dilupakan juga aneka minuman. Sisanya saya tak ingat lagi. Yang jelas teriakan perjuangan hidup itu bercampurkan dengan dinginnya malam, AC dari gerbong yang keluar, serta aroma toilet.

Tiket kami sendiri juga dicek oleh inspektur tiket dan agaknya sudah menjadi kegiatan tahu sama tahu jika ada penumpang berdiri. Penderitaan kami berakhir ketika beberapa penumpang mulai turun di kawasan Timur Jakarta dan kursi-kursi mulai kosong. Kami setidaknya bisa tidur sebentar, walaupun terus menerus cemas, karena takut jika kursi tersebut dimiliki oleh orang lain.

Sampai di Malang, kondisi tubuh saya jangan ditanya lagi. Lelah tak terkira dari perjalanan panjang tanpa istirahat, tapi hati bahagia karena sampai di kampung halaman. Pengalaman itu sendiri menjadi pengalaman yang meninggalkan trauma, hingga saya enggan pulang naik kereta lagi. Saat itu saya juga memilih kembali dengan Garuda Indonesia, harus Garuda. Kembali ke Jakarta harus nyaman, setelah tersiksa semalaman.

Pengalaman gila ini sudah tak bisa tak bisa diulang lagi, karena PT. KAI sudah menghapuskan tiket berdiri (thanks God for this). Kalaupun mereka masih menjual tiket ini, saya tak akan pernah mau membelinya lagi, Selain karena ketidaknyamanan, juga karena saya sangsi para penumpang berdiri ini akan dilindungi dengan asuransi. Uang hasil penjualan tiket tersebut juga saya yakin tak tercatat di dalam buku keuangan.

Kalian, punya pengalaman menarik dengan kereta?

xx,
Tjetje

Baca juga pengalaman saya di kereta ekonomi yang manusiawi dan penuh cerita di sini.