Pengguna Internet Kejam?

Pernah dengan tentang #HasJustineLandedYet? Hashtag ini muncul pada tahun 2013 setelah Justine Sacco, seorang PR dari sebuah perusahaan di New York menulis twitter yang offensive. Bunyi tweetnya saat itu seperti ini:

Justine Sacco

Twit itu dituliskan ketika ia sedang menunggu penerbangan lanjutan dari London ke Afrika Selatan. Ketika kemudian twit itu menjadi viral, karena dipopulerkan oleh BuzzFeed, Justine sedang berada di atas pesawat dan tak bisa membela dirinya. Wah bisa dibayangkan keriuhan yang terjadi di twitter, ancaman mati pun dilayangkan ke Justine. Tak lama setelah Justine mendarat, dia dipecat dari pekerjaannya dan dunia pun bersorak-sorak menikmati kemenangan. Satu penjahat virtual berhasil dilumpuhkan. 1-0.

Kasus serupa tapi tak sama baru-baru ini terjadi dengan Holly Jones, seorang penata rambut di Amerika yang marah-marah karena urusan tagihan di sebuah bar tempat dia merayakan tahun barunya. Holly Jones kemudian memuat keluhan di Facebook bar tersebut sambil ngomel-ngomel tentang pengalaman tak mengenakkan di bar tersebut apalagi ketika seseorang ditandu keluar dari bar tersebut. Ia yang kepalang emosi menuduh orang yang ditandu tersebut adalah pengguna narkoba yang overdosis. Ternyata oh ternyata, yang ditandu adalah seorang nenek-nenek yang mengalami sakit jantung. Ya sudah bayangkan saja betapa marahnya para pengguna internet terhadap Holly.

holly-jones

Akun facebook Holly kemudian dihapus dan Holly mengatakan bahwa akunnya dibajak (ya kaleee…). Dan yang paling parah, laman Facebook salon tempat Holly bekerja dibombardir dengan tekanan-tekanan untuk segera memecat Holly. Konon si Holly sudah dipecat karena keluhannya ini.

Screen Shot 2016-01-09 at 16.54.12

Di Indonesia sendiri, kasus mirip pernah terjadi dengan Florence Sihombing, mahasiswa UGM yang berkicau tak enak tentang Yogyakarta di Path. Florence, harus menghadapi hukuman dari kampus dan diseret ke pengadilan karena menjelek-jelekkan orang Yogyakarta. Kasus ini kemudian berlanjut dan  tahun lalu ia dihukum percobaan selama enam bulan. Dalam kasus Florence tak ada pemecatan dari pekerjaan, tetapi langkah besar untuk membawa Florence ke pengadilan berhasil menempelkan  catatan tak mengenakkan yang tak hilang seumur hidup.

Dari kejadian tersebut bisa dilihat bahwa internet dan penggunanya bisa menjadi ‘ruang yang kejam’ ketika berhadapan dengan orang yang mengatakan hal-hal yang salah ataupun dianggap salah. Tak ada ruang dan celah untuk bisa melenggang meminta maaf seperti layaknya dalam kehidupan sehari-hari. Mendadak definisi keadilan yang baru bagi para pengguna internet yang berbuat salah adalah kehilangan pekerjaan, kembali ke level terdasar dalam karir dan hidup hancur berantakan.

Seperti biasa saya kemudian bertanya mengapa para netizen berubah menjadi monster yang senang dan mau berkontribusi terhadap kehancuran hidup orang lain? Jawaban yang tepat mungkin karena internet memberikan ruang bagi orang untuk bisa berekpresi marah tanpa takut kehilangan muka dan tanpa takut dihakimi orang lain. Internet memberikan ruang kebebasan untuk bisa berkomentar dan melepaskan marah kepada siapa saja yang sdianggap lah. Dan tentunya muncul norma untuk bersama-sama menghujat sang pendosa; kekuatan bersama inilah yang kemudian akan menjatuhkan orang-orang yang bersalah.

Tapi sepadankan hukuman yang diberikan kepada orang-orang tersebut? Kehilangan pekerjaan, kehilangan penghasilan, malu tak karuan, belum lagi tak bisa tidur dengan nyenyak dan  dikenali orang. Jeleknya, mereka dikenali dengan cara yang kurang baik dan dengan label yang kurang baik.  Salah sendiri memang. Tapi, tidakkah mereka layak mendapatkan kesempatan kedua, diberi kesempatan untuk belajar dan mungkin pengampunan? Entahlah, mungkin kasus-kasus tersebut menjadi moment belajar bagi mereka.

Yang jelas setelah melihat kasus-kasus itu saya jadi belajar untuk semakin berhati-hati dalam mengekspresikan diri dan tentunya, berusaha untuk menjadi lebih baik. Pada orang-orang seperti Holly Jones sekalipun, karena mereka adalah manusia yang tak luput dari  kesalahan. Sama seperti kita semua.

Xx,
Tjetje

Baca juga: Belajar dari kasus Florence Sihombing

Komentar Ajaib

Punya blog itu enak gak enak, seru gak seru. Di satu sisi kita bisa berbagi pikiran dan pendapat, tapi disisi lain ada pendapat dan komentar yang kadang gak enak dibaca dan gak enak dilihat. Untungya ya, saya ini bukan Syahrini ataupun Mulan Jameela yang dihujani dengan komentar gak enak secara rutin. Jadi komentar ajaib-ajaib ini hanya muncul sesekali.

Lucunya komentar-komentar ini seringkali berlindung didalam jubah anonim. Eh halo…. jaman sekarang jadi anonim itu susah, ada teknologi yang bisa mencari jejak komentator. Belum lagi ada tombol spam yang bisa dengan mudahnya dipencet dan memudahkan proses screening komentar di masa depan. Selain pencet tombol spam, saya biasanya juga repot mengalisa lebih jauh mengapa orang-orang ini berkomentar aneh-aneh.

Di postingan tentang “dear bule hunter” disini, saya menuliskan tentang jemuran yang kesiram hujan dan akibatnya berbau apek. Disiram Chanel no. 5 seember pun bakalan bau apek. Nah salah satu orang di Indonesia sana berkomentar kurang lebihnya: “Gak punya dryer ya?”. Komentar persisnya saya tak ingat karena keburu saya tandai SPAM. Tapi dibaca dari tonenya, sang penulis terlihat sekali ngenyek atau menghina karena saya tak punya dryer.

Dihina karena dianggap tak punya dryer itu bukan hal yang penting. Saya memang gak punya dan gak pernah beli dryer. Kalaupun ada dryer di dapur, itu juga bukan hasil keringat saya jadi saya gak bisa klaim. Sekalian saya tambahin informasi biar ada bahan untuk ngenyek, saya di Irlandia juga gak punya rumah, kulkas, kompor, mesin cuci, mangkok, serbet, keset, dan makin panjang lagi daftarnya. Lha wong saya datang ke negara ini hanya bermodalkan koper yang berisikan buku-buku, tas, pakaian, sepatu seadanya saja.

Di balik komentar pendek tersebut, saya melihat sebuah kesombongan dan penghinaan terhadap kemampuan ekonomi orang lain. Betapa materialistisnya orang-orang di sekitar kita dan betapa dangkalnya cara menilai orang lain, apalagi yang tak memiliki apa-apa. Jadinya jangan heran kalau dalam lingkungan seperti ini ada orang-orang tak punya yang tak kuat iman sehingga memaksakan diri untuk terlihat kaya dan supaya lebih dihargai, bahkan hingga kartu kreditnya jebol.

Ada lagi komentar lain yang sampai sekarang gak saya approve karena emailnya abal-abal, walaupun IPnya gak bisa bohongIsinya begini:

menurut gue sih ada baiknya kalo istri-istri bule yang tinggal di indo, dandan yang cakep dong. jadi stigma istri bule mukanya kayak pembokat bisa ilang.
nggak cuma dandan cakep tapi elegant terus juga berpakaiannya mode yg lagi trendy.
jadi biarpun misalnya punya muka standart tapi setidaknya ditolong dengan dandanan yg manis dan baju oke, otomatis siapapun jadi respeklah.

ditempat gue bermukim di negara suami(bule); rata-rata perempuan bule juga pada modis loh sehari-hari. nggak ngasal. kalo dandan & pakaiannya ngasal, biasanya mereka juga jadi malu sendiri karena perempuan yang lain pada berusaha agar terlihat uptodate.

kalo di indo ada baiknya perempuan indo juga gitu deh. nggak perlu mahal-mahal bajunya yg penting dandannya oke tapi elegant.

gue sendiri beruntung punya muka diatas standard &modis trendy ….cieeee…gubrak…., jadi nggak ada dan mudah2an selamanya nggak ada label2an spt diatas.

artikelnya bagus loh..

Jreng-jreng…….muka pembantu pekerja rumah tangga dibahas lagi. Nampaknya masih ada orang-orang yang tak mengetahui bahwa PRT jaman sekarang itu penampilannya luar biasa dan dandanan mereka juga keren. Pola pikir yang masih menyuruh-nyuruh orang untuk dandan menurut saya tak menyelesaikan masalah. Orang kan gak setiap saat bisa dandan dan gak semua orang juga mau dandan. Menurut pemikiran saya, yang harus dirubah bukan dandanan orang lain, tapi pola pikir kita dalam menghargai orang lain. Orang harusnya dihargai karena mereka adalah manusia, bukan karena make up yang mereka tempelkan di kulitnya. Tapi sekali lagi di Indonesia orang memang sangat dinilai dari penampilan, biar kata gayanya selangit dengan dandangan heboh, dan kartu kredit yang sudah di ambang limit, pasti lebih dihormati. Sementara yang tak dandan dan duitnya banyak tak bakalan dilirik.

Screen Shot 2016-01-09 at 23.03.31

Photo: polyvore

Ada satu lagi komentar-komentar ajaib dari satu orang di postingan saya tentang pamer tas bermerek. Nah ini satu ngebom postingan saya dengan banyak komentar. Pendek kata komentar-komentar tersebut kalau digabungkan bakal jadi satu postingan tersendiri. Nggak perlu dikutip disini lah ya, tapi silahkan dibaca sendiri komentar-komentar di postingan lama tentang pamer tas bermerek tersebut. Hitung-hitung untuk menghibur diri.

Sering terima komentar ajaib di blog?

xx,
Tjetje

Catatan Kecil dari Serangan Sarinah

Kamis pagi itu waktu Dublin saya kaget luar biar ketika mendengar ada ledakan bom di Sarinah, Jakarta. Pikiran saya langsung melayang ke sebuah gedung tempat banyak kolega, kenalan dan juga teman-teman saya bekerja. Tak hanya teman-teman, saya juga teringat para penggerak ekonomi pagi hari di sekitar Sarinah. Abang gorengan, tukang taksi, tukang bajaj, tukang palak supir taksi (supir taksi kalau angkut penumpang dari daerah tersebut harus bayar) dan pekerja informal lainnya.

Saat itu saya membayangkan akan ada banyak korban karena kepadatan lokasi. Ternyata,  Polisi Indonesia bekerja dengan cepat di area ring 2 ini sehingga jumlah korban dapat diminimalisasi. Bravo banget deh Polisi Indonesia yang bergerak cepat dan sigap untuk mengamankan lokasi dan melumpuhkan korban. Tentunya Polisi Indonesia tak bisa dibandingkan dengan Polisi di Irlandia yang modalnya cuma pentungan sama semprotan merica.

Dari serangan di Starbucks dan juga di Sarinah itu, saya melihat masih banyak sekali perilaku-perilaku negatif  yang bermunculan di sosial media, dari mulai nyebarin berita tanpa ngecek dahulu (e.g kematian WN Belanda yang bekerja di UN padahal ybs masih hidup), media bikin berita hoax, foto-foto korban yang berceceran di sosial media bahkan selfie. Konon saking banyaknya yang selfie sampai Polisinya ngeluh. Ah Indonesia.

  

Tapi di sisi lain, banyak sekali hal-hal positif yang bermunculan dari mulai inisiatif Jakarta Safety Check,  Gojek yang gratis, hingga yang nawarin nebeng. Bom kemarin juga memunculkan hashtag kontrovesial #KamiTidakTakut.  Bagus sih, ketidaktakutan pada teroris memang harus dipupuk untuk menggagalkan tujuan teroris. Tapi ada baiknya juga dalam kondisi seperti ini untuk menyegarkan kembali ingatan tentang hal-hal yang mesti dilakukan dalam kondisi emergency supaya tidak menambah korban dan bikin tugas aparat semakin rumit.

Ada beberapa tips sederhana dari saya yang ada di kepala dan kebetulan saya ingat. Menghindari bom dan baku tembak tentunya tak semudah ini, tapi semoga tips sederhana ini bisa berguna untuk merubah kebiasaan kita:

  • Buat kebiasaan untuk tahu dimana pintu keluar alias emergency exit. Ini kebiasaan penting supaya segera tahu kemana harus keluar, tak hanya kalau ada bom dan baku tembak tapi juga bencana lain, termasuk kebakaran.
  • Hindari duduk di dekat jendela. Apalagi jika jendela tersebut dekat dengan alur lalu lintas kendaraan. Memang sih duduk di jendela menyenangkan bisa lihat orang lalu lalang, tapi begitu ada apa-apa, kaca jendela itu kalau pecah, jadi kecil, masuk kulit. Aduh mak gak kebayang deh gimana ngebersihinnya.
  • Jika ada ledakan dan bisa lari menghindar, lari menghindar. Gak usah ngetweet dulu ya, lari aja dulu. Nanti kalau sudah selamat baru ngetweet. Gak usah repot bawa barang-barang berharga juga, tinggal aja! Jika sepatu, apalagi kalau hak tinggi, mengganggu juga lepas aja. Prinsipnya sama kayak lari dari pesawat, barang berharga mesti ditinggal.
  • Jika kemudian ada baku tembak seperti di Thamrin kemarin, lari juga, jangan repot nonton dan membuat kerumunan. Kalau gak bisa lari sembunyi.
  • Kenapa gak boleh repot nonton dalam kejadian bom dan juga tembakan kemarin? Ini logika banget, selain menghindari peluru nyasar juga karena kita harus selalu mengasumsikan ada ledakan kedua dan kerumunan adalah target paling bagus. Ya kebayang kalau di antara orang nonton kemarin  itu tiba-tiba ada bom meledak lagi, berapa banyak korbannya? Aparat tambah repot pula kan?
  • Kalau mau nolong orang, tolong tapi hanya jika memungkinkan dan jika orangnya tidak dalam kondisi terluka parah. Di Indonesia ada kebiasaan orang terluka, apapun kondisinya pasti dipindahkan, apalagi kalau tabrakan. Padahal ya, memindahkan korban itu bisa bikin kondisi makin parah. Niatnya baik, malah nyakitin atau bahkan ‘membunuh’ orang.
  • Speed dial nomor-nomor penting di handphone (e.g Polisi, pemadam kebakaran, ambulans).

Manusiawi kok jika manusia itu penasaran terhadap sebuah kejadian, tapi bukan berarti rasa ingin tahu yang besar ini harus mengalahkan kewaspadaan. Berani sih berani, tapi juga bukan berarti nekat untuk nonton kemudian menantang maut. Btw, ada sebuah artikel menarik yang ditulis Kompas Minggu kemarin, menurut penulis, orang Indonesia itu pasrah dan nrimo. Tapi ya, apa sepadan kalau kemudian jadi korban karena nonton baku tembak. Entahlah, tapi lebih baik kita sama-sama belajar tanpa menunggu ada yang tak sengaja tertembak.

Dalam kondisi seperti di Sarinah kemarin, apa saja hal-hal yang akan kalian lakukan?

xx,
Tjetje

Cerita dari Supermarket

Salah satu kegemaran saya jika berkunjung ke negara-negara baru adalah mengunjungi supermarket dan pasar untuk melihat barang-barang yang mereka jual. Terkadang saya tak membeli apa-apa, hanya sekedar mengitari untuk melihat produk-produk yang ditawarkan dan tentunya membanding-bandingkan harga. Tapi seringkali kebiasaan ini berakhir dengan belanja camilan-camilan dan sabun mandi. Camilan dan sabun mandi bisa langsung dihabiskan dan tak perlu dibawa pulang.

Dari berbagai negara yang saya kunjungi supermarket yang paling ‘berkesan’ bagi saya ada di Nha Trang, Vietnam. Saya diteriaki satpam ketika masuk supermarket membawa tas. Teriakan tersebut dalam bahasa Vietnam tanpa henti yang tentunya tak saya pahami sama sekali. Rupanya, sama seperti di Indonesia, tas harus dititipkan. Tapi saat itu saya berhasil bikin satpam keki, karena tas saya berisi kamera, lensa dan dompet yang tentunya tak bisa dititipkan.

Kendati di Indonesia penitipan barang masih diwajibkan, beberapa supermarket di Jakarta seperti Ranch Market sudah mulai tak peduli jika pengunjung membawa tas-tas besar. Saya bahkan sering melenggang dengan tas gym super besar untuk berbelanja. Sementara supermarket Perancis, Carrefour, sering memberi cellotape untuk ‘mengunci’ tas-tas yang dibawa pengunjung. Perubahan perilaku ini mungkin karena petugas keamanan sudah lebih percaya terhadap konsumen, atau karena gerak-gerik sudah dipantau CCTV. Lagipula kalau mau mencuri, tak perlu bawa tas besar yang menyolok, cukup modal kaki saja untuk mengapit kaleng-kaleng susu. Eh…

Supermarket di Indonesia, bagi saya sangat identik dengan budaya mencicipi buah-buahan. Kebiasaan mencicipi ini akan sangat terlihat apabila buah-buahan yang dijual adalah kelengkeng. Wah bisa dipastikan banyak orang yang berkerumun, membungkus kelengkeng sambil tak berhenti “mencicipi”. Tentu saja kelengkeng yang dimasukkan mulut tersebut tak dibayar dan tak ada satpam yang menegur. Entah kenapa orang-orang suka sekali mencicipi kelengkeng, mungkin karena mudah dimasukkan mulut juga karena harganya yang “relatif lebih mahal”.

Tak seperti di Indonesia, di Dublin mencicipi beresiko ditegur satpam. Beberapa bulan lalu saya melihat ibu-ibu yang memasukkan tangannya ke dalam wadah kacang almond dan mengambil segenggam almond. Ternyata segenggam almond tersebut memang tak direncanakan untuk dibayar, tapi untuk dimakan. Hebatnya, petugas pengaman pun langsung menegur dan memberikan plastik sebelum kacang tersebut masuk mulut. Ketika anak laki-laki ibu tersebut datang, perang mulut pun terjadi antara si anak dengan petugas keamanan. Anak laki-laki itu menuduh petugas rasis, karena mereka imigran berkulit hitam. Ya kale gak ada hubungannya kali. Lagian itu almond dikeruk gitu aja pakai tangan, jorok.

Sama seperti di Indonesia, disini orang menggunakan troli untuk mengangkut belanjaan. Bedanya, troli baru bisa digunakan setelah menyelipkan koin satu atau dua Euro. Jika sudah selesai menggunakan, para pengguna troli bisa mengembalikan di tempat semula dan koin bisa diambil kembali. Di Irlandia, mempekerjakan orang untuk mengumpulkan trolley tentunya tak murah, tak seperti di tanah air. Repotnya, jika kebetulan mau belanja dan tak punya koin mesti menukarkan koin dulu. Makanya saya sekarang mengakali dengan membeli gantungan kunci dengan koin berukuran sama. Di Indonesia, orang seringkali malas mengembalikan troli dan meninggalkan begitu saja di tempat parkir, tapi menurut saya konsep koin ini tak bisa digunakan karena koin di Indonesia nilainya tak seberapa. Mungkin supermarket mesti menciptakan koinnya sendiri untuk dibeli para pengunjung.

Seperti pernah saya tulis disini, plastik di Irlandia tak diberikan gratis. Makanya banyak orang yang membawa tas belanja sendiri. Selain membawa tas belanja dari kain, atau dari plastik yang agak kuat, banyak juga yang membawa shopping trolley. Shopping trolley ini banyak digunakan orang-orang tua untuk belanja karena mereka tak perlu repot-repot mengangkut belanjaan. Saya sendiri mulai mengikuti trend belanja seperti nenek-nenek ini karena males angkut-angkut belanjaan. Tapi shopping trolley saya lebih keren dan lebih berwarna ketimbang punya nenek-nenek yang beroda empat dan kaku. Shopping trolley ini juga tak mudah untuk dinavigasi, selain karena berat juga karena rodanya cuma dua, jadi mesti dimiringkan dulu untuk ditarik. Jika sedang menarik troli ini saya seringkali teringat para abang sampah di Indonesia yang menariki gerobak di bawah teriknya matahari. Duh betapa beratnya beban mereka dan betapa kacaunya bau sampah yang belum dipilah-pilah itu.

Bulan Februari ini rencananya beberapa kota besar di Indonesia akan mulai berdiet dengan plastik. Wah ini berita super baik. Setidaknya mulai sekarang para pedagang di Instagram bisa mulai berlomba-lomba menjual tas belanja yang cakep. Kalau perlu para fakeshionista di Indonesia juga bisa mulai minta para pedagang di mangga dua untuk jualan versi KW shopping trolley Louis Vuitton di bawah ini. Shopping trolley ini dibandrol dengan harga 5000 dollar saja. Ya belanjaan sayur kangkung cuma dua ribuan masak tasnya lima ribu dollar.

LV shopping trolley

Bagaimana dengan kalian, sudah siap bawa kantong belanja sendiri?

xx,
Tjetje

Baca juga: Sampah Plastik

Tukang Telat

Satu hari di Malang saya janjian dengan seorang teman untuk sarapan pecel. Kami janjian bertemu jam 7 pagi. Janjian pukul 7, jam 6.50 saya baru bangun, karena saya yakin banget teman saya akan terlambat. Ternyata saya salah sangka, dia muncul lebih awal itupun sudah nyasar  ketika mencari rumah saya. Saya yang ketika itu sudah bergulat dengan ketidaktepatan waktu selama rentang hidup saya di Jakarta pun langsung terpukau dengan ketepatan waktu ini. Akibatnya bisa diduga, saya tak mandi demi makan pecel tumpang:

https://www.instagram.com/p/zYoVn-wxi8/?taken-by=binibule
Penampilan pecel di dalam pincuk kalah keren dengan gelas jadul, tapi rasanya jawara

Orang-orang yang tinggal di Jakarta memang terkenal tak bisa tepat waktu. Bukan hanya karena tak disiplin, tapi karena kondisi kemacetan luar biasa yang seringkali tak bisa diprediksi. Janjian makan  misalnya, bisa molor hingga satu atau bahkan dua jam. Menanti orang saat perut lapar itu tentunya siksaan. Makanya jangan heran kalau orang banyak yang makan dahulu sambil menunggu. Kebiasaan makan duluan ini bagi sebagian orang dianggap sebagai kebiasaan tak sopan dan tentunya bikin bule yang lagi ngedate ilfil. (Baca tips ngaco biar dipacari bule

Faktor lain yang membuat orang Jakarta sering terlambat adalah sistem transportasi yang amburadul dan tak bisa diandalkan. TransJakarta misalnya, tak jelas kemunculannya setiap berapa menit sekali. Belum lagi armadanya selalu penuh sehingga penumpang yang berjejal tak bisa memprediksi lama perjalanan. Cari taksi sendiri juga seringkali susah, apalagi pada jam-jam tertentu. Jaman Uber belum masuk, pengemudi taksi mau yang biru apalagi yang putih, juga sering belagu. Mereka seringkali menolak penumpang jarak dekat. Kondisi ini semakin parah saat hujan datang, jalanan tambah macet, taksi tambah susah, datang makin terlambat.

Saking terbiasanya dengan jam karet ini, saya pun seringkali sengaja terlambat. Janjian jam sebelas, ya jam sebelas itu saya baru mandi. Tinggal di jantung kota memberikan kemudaan akses bagi saya untuk bisa pergi ke berbagai tempat dengan cepat, apalagi di akhir pekan. Dengan gaya menerlambatkan diri seperti ini, saya masih sering datang lebih awal ketimbang yang lainnya. Kebayang kalau saya datang tepat waktu, bakalan garing di tempat janjian.

Jaman sekolah, saya termasuk pelajar yang disiplin dan selalu datang tepat waktu. Saat SMA kelas dua, saya pernah dua kali datang terlambat, dua-duanya disengaja. Kali pertama saya terlambat sepuluh menit sementara kali kedua, saya terlambat lebih dari sepuluh menit. Dalam dua kesempatan itu saya tak diperkenankan masuk ke dalam kelas dan harus menunggu di kantin sekolah. Tentunya sebelum dibebaskan dari pelajaran saya dihukum membersihkan sekolah dengan bulu ayam. Hukuman tak jelas yang hanya formalitas belaka karena sekolahan sudah dibersihkan. Oh ya, saat itu saya sengaja terlambat karena saya tak suka dengan pelajaran pada jam pertama, nggak usah dibahas lah ya mata pelajarannya apa.

Di Irlandia, saya kembali ke jalan yang benar, jalan tepat waktu. Transportasi disini bisa diprediksikan dengan baik. Jadwal tram dan jadwal bis sangat jelas, bahkan ada aplikasi yang bisa diunduh di gawai yang bisa menunjukkan kapan kendaran-kendaraan tersebut akan datang. Apesnya, jika ada masalah di tram, penumpang diminta turun dan harus cari alternatif transportasi lain. Waktu awal-awal pindah, saya suka panik sendiri kalau mengalami ini, selain karena takut terlambat, saya juga tak tahu mesti pergi ke arah mana dan naik bis apa. Sekarang saya sudah lebih tenang dan lebih nekat menaiki bis yang lewat.

https://www.instagram.com/p/BAcYPRMwxnG/?taken-by=binibule

Bagi saya, datang terlambat itu rasanya tak mengenakkan. Eh tapi tunggu dulu, ternyata di Irlandia ada: Irish Standard Time. Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya: jam karet. Janjian ketemu di pub jam 9, jam 10 baru muncul. Begitu muncul, gak minta maaf karena telat, gak ngasih alasan dan gak ada yang peduli. Yang paling penting muncul dan having fun ketemu temen. Haiyah…sama aja kayak di Jakarta.

Bagaimana dengan kalian, suka telat?
Have a nice weekend!

xx,
Tjetje

Cerita Koran

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar saya sudah diajarkan untuk membaca koran. Tentu saja saya tak begitu ingat dengan berita-berita yang dimuat pada saat jaman itu. Tapi saya ingat betul rutinitas kedatangan koran di rumah kami pada pukul dua siang. Pada saat itu Kompas, koran pilihan kami, belum dicetak di Jawa Timur sehingga koran pagi ini berubah menjadi koran siang di Jawa Timur. Beberapa kali terjadi keterlambatan yang menyebabkan koran baru tiba pada sore hari atau bahkan datang pada keesokan harinya.

Begitu koran datang, saya akan duduk di ruang tamu, mengangkat kaki ke kursi (kalau gak ketahuan) dan mulai membaca-baca berita. Jaman tersebut, pilihan berita di televisi sangat terbatas, sementara internet belum dikenal. Otomatis koran menjadi salah satu sumber berita pilihan. Kendati koran Kompas datang pada siang hari, Eyang Putri saya tak mau mengganti Kompas dengan media-media lokal yang terbit di pagi hari. Bagi beliau isi koran-koran lain tak menarik dan tentunya tak bermutu. Dan saya yang anak kencur tak paham kenapa  saya tak diperkenankan membaca koran lokal yang memuat berita-berita pembunuhan, kecelakaan dan juga berita ajaib lainnya yang lebih juicy dan dibicarakan orang banyak.

Ketika awal-awal pindah ke Jakarta, saya sempat tak berlangganan kompas dan hanya membeli edisi Kompas Minggu secara eceran. Sampai kemudian saya menemukan tukang koran dan mulai berlangganan. Lama-lama empet juga saya berlangganan dengan tukang koran di Jakarta, karena koran yang seharusnya lebih murah ketika berlangganan bulanan dibandrol dengan harga eceran dikalikan jumlah hari dalam satu bulan. Saya menyebutnya harga kreatif, dan di Jakarta tukang koran tak hanya kreatif dengan harga langganan tapi juga harga majalah. Tempo, misalnya, dijual di perempatan jalan dengan harga 59.000, lebih mahal 30.000 dari harga aslinya. Modusnya, harga asli dihapus dan ditimpa dengan bolpen. Kreatif dan rapi.

Saya kemudian membaca Kompas cetak  secara daring dan pada saat itu masih gratis. Sampai suatu saat  Kompas menetapkan biaya. Ketika internet dipenuhi koran-koran gratis, mana mau saya membayar. Kebiasaan mencari gratisan ini gak bertahan lama, karena baca koran gratisan itu tak enak. Berita yang ditampilkan kebanyakan kurang bermutu dan bahasanya acak-acakan. Parahnya, untuk mengejar jumlah klik dari pembaca, mereka memutus berita menjadi beberapa artikel yang sebenarnya tak perlu. Contohnya: ini rumah si korban, ini rumah pelaku, ini kata tetangga korban, ini kata teman sekolah, ini kata Kapolres, ini kata media sosial, begini begitu. Pembaca dibuat tertarik untuk terus menerus mengklik demi traffic, soal kualitas tak dipedulikan.

Akhirnya saya memutuskan berlangganan Kompas cetak online dan membayar secara tahunan. Tak hanya dapat hadiah, saya juga diberi kompas cetak. Enaknya berlangganan daring, saya bisa membaca berita-berita terkini dari Nusantara melalui handphone. Dan karena saya bermukim di Eropa, berita-berita tersebut bisa saya baca ketika orang-orang di Indonesia sedang terlelap. Seringkali berita-berita tersebut saya printscreen dan saya muat di Twitter.

Sahabat saya mengamati bahwa ketidakbiasaan saya dalam berpikir dan menganalisa banyak dipengaruhi oleh Kompas. Harus diakui bahwa analisis dan kualitas tulisan di Kompas memang sangat bagus. Tak hanya itu, bahasa Indonesia baku yang digunakan Kompas juga memperkaya kosakata saya. Walapun terkadang ada kosakata baru yang cukup membingungkan. Konon, halaman luar negeri Kompas juga wajib dibaca secara rutin bagi mereka yang ingin lolos tes menjadi PNS di Kementerian Luar Negeri. Testimoni salah satu sahabat yang sudah bolak-balik lolos tes tertulis, soal-soal tes memang sering keluar dari halaman tersebut.

Media memiliki peran kuat dalam membentuk karakter dan membangun cara bepikir kita. Tak heran, banyak orang-orang kaya dan politikus yang membeli media supaya bisa mengatur persepsi publik. Kontrol untuk memilih media terbaik, baik daring maupun cetak, sepenuhnya ada di tangan kita.  Jadi menurut saya, ada baiknya kita mulai membayar kembali koran yang kita baca untuk mendukung berita-berita bermutu dan tentunya untuk menikmati kembali kenikmatan membuka lembaran-lembaran koran di pagi hari. Koran toh tak begitu mahal, bahkan mereka yang tinggal di Jakarta bisa mendapatkan Kompas dengan murah di halte-halte TransJakarta pada pagi hari. The early bird gets the worms. Lalu saya mendengar mereka yang tinggal di luar Jakarta berteriak, gak adil kenapa lagi-lagi yang di Jakarta bisa dapat akses koran murah.

Masih baca koran cetak? Apa koran favoritmu?

xx,
Tjetje

 

 

Aneka Rupa Cerita Tentang Nama

Di desa-desa di Jawa, ada tradisi dan kebiasaan mengganti nama ibu-ibu menjadi nama suaminya. Istrinya Pak Edi  misalnya dipanggil menjadi Ibu Edi atau Nyonya Edi. Sementara di Papua, ada tradisi mengganti nama ibu dengan nama anak pertamanya. Jika anak tertua bernama Thomas, maka si Ibu berganti menjadi Mama Thomas. Satu kampung tahunya mama Thomas.

Kendati tradisi ini merupakan tradisi yang dipegang selama bertahun-tahun dan dilestarikan banyak orang, ada hal-hal yang kurang mengenakkan. Pertama, perempuan menjadi kehilangan nama yang diberikan sebagai hadiah (dan dibeberapa keluarga dianggap sebagai doa) dari orang tuanya. Selain itu, secara administrasi jadi menyusahkan. Ambil contoh ketika urusan surat harus dikirimkan dan alamat rumah tak lengkap karena sistem yang belum sempurna. Pak Pos pun bakal kerepotan karena tak tahu siapa sebenarnya Ibu Valensia, kecuali jika diberikan tambahan Mama Thomas.

Perubahan nama ini juga seringkali merepotkan di dunia sosial media. Bagi saya, yang paling mengganggu adalah ibu-ibu yang mengganti namanya menjadi Bundanya X, Ibunya Y, Mamanya Z, kemudian memasang foto profil dengan foto anaknya dan request friend di facebook.  Lha siapa yang bisa memperkirakan siapa kira-kira ibu dari anak-anak tersebut dan kemudian mencari data-data wajah dari masa SMP atau SMA. Aduh, aku kan bukan google image yang bisa cari wajah asli.

Kawin dengan orang asing sedikit banyak juga berurusan dengan kemungkinan pergantian nama keluarga. Saya sendiri tak berganti nama keluarga, karena seperti kebanyakan orang Indonesia dokumen-dokumen saya tak ada nama keluarga. Well, sebenarnya saya punya nama keluarga tapi nama keluarga ini tak pernah dituliskan di dalam dokumen-dokumen resmi. Jadi, saya pun mudah tinggal mengadopsi secara tidak resmi nama keluarga pasangan saya (kalau mau adopsi resmi mesti lewat pengadilan). Ketiadaan nama keluarga sendiri juga sempat merepotkan ketika pihak catatan sipil di Hong Kong melihat dokumen-dokumen saya. Lha bapak ini nampaknya belum ketemu Pak Suharto ataupun Ibu Suharti yang dagangan ayam enak itu.

Pergantian nama sendiri sebenarnya merupakan pilihan dan tak selayaknya menjadi paksaan, seperti di Jepang di mana perempuan diwajibkan mengganti nama keluarganya menjadi nama suaminya. Bagi banyak perempuan, mengganti nama keluarga itu menjadi satu hal yang berat karena nama keluarga merupakan identitas yang sudah melekat semenjak lahir. Perubahan nama untuk mengadopsi nama pria juga dilihat sebagai dominasi dan sisa jejak patriarkis. Tak hanya itu, pergantian nama juga dianggap merepotkan ketika terjadi perceraian. Makanya banyak perempuan yang tak mengganti nama keluarga, atau kemudian menggabungkan nama keluarga, seperti Jolie-Pitt. Di Spanyol sendiri wajib hukumnya untuk menuliskan dua nama keluarga dari pihak ibu dan  bapak. Jadi jangan heran kalau nama mereka kemudian menjadi sangat panjang.

last name

Bicara tentang nama tentunya tak bisa lepas dari salah pengucapan nama. Nama saya, Ailsa, yang sering salah diucapkan menjadi Ailisa, Alisa, Elisa, Eilisa, Aisyah, Aisah, Ashley, dan seribu satu salah ucap lainnya. Nama saya sebenarnya tak terlalu susah diucapkan, apalagi kalau dibandingkan dengan nama-nama Irlandia yang antara penulisan dan pengucapannya jauh berbeda. Ambil contoh nama Saoirse, pemeran utama film Brooklyn, yang namanya salah diucapkan pada saat nominasi Golden Globe. Saoirse sendiri dilafalkan sebagai Seer-sha. Kalau kata Ryan Gosling, “It’s Seer-sha like inertia”.

Masih banyak lagi nama-nama Irlandia yang penulisan dan pengucapannya jauh berbeda. Beberapa di antaranya saya list disini:

Caoimhe      : KEE-va atau KWEE-va

Siobhan       : shi-VAWN

Sadhbh         : Sa-iv

Aoife             : EE-fa

Ciara             : KEE-ra atau KEE-ar-a

Maeve          : Mayv

Niamh          : Nee-av atau NEEV

Sinéad          : Shi-NAYD

Daithi           : DAH-hee

Eoin              : O-in

Oisin             : UH-Sheen atau O-sheen (persis karakter film Jepang itu)

Seamus        : Shay-mus

Cian               : Kee-an atau KEEN

Nah karena saya sudah merasakan betapa gak enaknya dipanggil seenak udelnya orang, saya berusaha keras untuk bisa belajar mengucapkan nama-nama tersebut dengan benar. Tapi yang jelas, saya belum pernah mendengar orang Irlandia yang mengganti namanya karena keberatan nama.

Bagaimana dengan kalian, punya cerita seru tentang nama?

Mengapa Mengajak Bule Kawin Itu Susah

Pertanyaan susahnya mengajak bule ke pelaminan merupakan pertanyaan populer yang sudah pernah saya bahas sekilas di postingan ini dan juga pernah dibahas beberapa blogger seperti Mbak Yoyen dan Noni. Tapi pertanyaan ini tak pernah basi dan herannya masih sering ditanyakan. Saya melihat, penanya biasanya sedikit frustasi karena pasangannya yang orang asing enggan untuk untuk segera mengikat janji. Saya mencoba merangkum dan membahas beberapa hal yang saya anggap sebagai alasan untuk merusak hubungan dan tentunya menghambat proses hubungan percintaan naik ke pelaminan. Perlu dicatat, saya bukan ahli yang berhasil mengajak banyak pria asing ke pelaminan, ini murni hasil observasi iseng-iseng saya dan mendengarkan beberapa curhatan kawan-kawan ekspat saya di Jakarta.

Baru kenal udah cepet-cepet ngajak kawin

Di Indonesia, perkawinan memang menjadi sebuah tujuan hidup dan pencapaian. Tak heran mereka yang memiliki pacar biasanya punya satu tujuan dan berlomba-lomba untuk segera minta dikawini. Kadang-kadang, disertai ultimatum putus jika janur kuning tak segera dilengkungkan. Bagi banyak pria-pria asing, hal-hal seperti ini membuat mereka mundur. Pertama, mereka mundur beberapa langkah, kemudian setelah dinilai aman, mereka akan lari terbirit-birit tak menoleh lagi ke belakang. Apalagi jika hubungan tersebut baru seumur jagung.

Salah satu argumen yang sering digunakan untuk urusan kawin ini adalah soal keseriusan atau tidak. Jika dalam usia hubungan yang baru hitungan bulan itu tak segera diajak kawin, maka si pria dituduh tak serius.  Ya ela, padahal di banyak negara, kawin itu tak semudah membalikkan telapak tangan dan menandatangani secari kertas. Ada tahapan-tahapan dulu yang seringkali melibatkan tinggal bersama sebelum memutuskan bahwa mereka adalah pasangan yang benar-benar cocok. Kawin dimana-mana tak murah dan cerai, lebih nggak murah lagi. Jadi banyak yang kemudian sangat berhati-hati. Dipikirkan baik-baik dan pilihan pun perlu dimatangkan dulu. Makanya jangan heran kalau banyak yang kabur kalau dipaksa-paksa kawin cepet.

Nyuruh pindah agama

Urusan agama di Indonesia memang ribet. Negara tak mengakui perkawinan beda agama.  Satu-satunya yang saya tahu memperbolehkan perkawinan beda agama adalah gereja Katolik, dengan perjanjian anak-anak yang lahir akan dibesarkan secara Katolik. Tapi kawin di gereja pun tak mudah, karena secara administrasi perkawinan masih harus dicatatkan menjadi satu agama. Karena sistem adminsitrasi dan juga agama yang melarang perkawinan beda agama, banyak yang kemudian meminta atau bahkan pasangannya untuk pindah agama. Jika pasangan tak mau pindah agama dituduh tak cinta, sementara dirinya sendiri yang mengklaim mencintai pasangan gak mau pindah agama. Double standard jadinya.

Cerita bule-bule pindah agama memang banyak, banyak juga yang sukses menemukan kedamaian di agama barunya. Good for them. Tapi banyak juga yang susah diajak memeluk atau pindah agama, apalagi mereka yang atheis atau yang besar di negara yang sangat relijius dengan satu agama.

Bicara tentang pindah agama jadi mengingatkan saya pada beberapa orang asing  yang sakit hati luar biasa karena urusan sunat maksa. Bagi orang dewasa, pindah agama itu tak mudah, apalagi kalau harus diikuti keputusan memotong bagian dari kelamin. Memotong kulit ini memang tak semudah motong kuku, jadi diperlukan pendalaman agama dan pendalaman agama itu butuh proses, tak instan. Tapi ada kasus-kasus dimana keluarga tak memikirkan perasaan si pria, lalu si pria tiba-tiba dijebak dan diserahkan ke dukun sunat. Modyar, tanpa ba bi bu keluar dari ruang dukun sunat sudah kehilangan secuil anggota tubuh ditambah lagi dengan rasa nyeri. Kebayang gimana jengkelnya? gondoknya membekas sampai sisa hidup!

Minta duit

Topik lama, tapi layak diulang kembali biar banyak yang tahu kalau minta-minta duit sama bule itu bikin susu sebelanga rusak semua. Banyak orang asing yang lama-lama gerah juga kalau masih pacaran sudah dijadiin sapi perah, buntutnya sebagian perempuan Indonesia jadi identik dengan tukang minta-minta, apalagi minta duit untuk ngasih keluarga, encing, babah, tetangga dan juga temen.

Memberi uang  untuk keluarga memang menjadi tradisi bagi sebagian orang Indonesia dan tak ada yang salah dengan hal tersebut. Tapi hal serupa tak semestinya diharapkan pada bule karena budaya memberi uang ke seantero dunia, seperti Olo Panggabean*, tak eksis. Ketika ada ekpektasi mereka harus menghidupi keluarga ekstra di Indonesia, beberapa memutuskan untuk balik badan dan jauh-jauh dari ide pelaminan. Ini salah satu topik sensitif yang saya tahu banyak merusak hubungan percintaan, bahkan perkawinan orang.

Hal yang juga jadi perhatian adalah ekspektasi “gaya hidup mewah” yang dianut sebagian kecil orang-orang yang memiliki pacar orang asing. Lucunya, banyak yang nodong pacar, bahkan nodong pacar bayarin makan temen-temennya hanya untuk menujukkan kekuatan ekonomi. Capek-capek kerja untuk bayarin orang satu desa.

Tukang ngelarang dan pencemburu

Harus diakui memang di Indonesia punya pasangan orang asing itu pusingnya gak karu-karuan, banyak bule hunter yang berkeliaran dimana-mana yang siap menyergap bule, baik yang masih lajang, suami orang, masih muda atau yang sudah tua banget sekalipun. Mereka tersebar dimana-mana, dari tempat fotokopi hingga hotel dan restaurant mewah.  Tapi bukan berarti ini menjadi alasan untuk cemburu lalu melarang dan tentunya mengekang.

Konsep cemburu juga seringkali dilencengkan sebagai bukti cinta, padahal, bagi kebanyakan warga dunia cemburu adalah perwujudan rasa tidak aman yang tak semestinya dipupuk. Cemburu sedikit mungkin bisa dianggap sebagai hal yang lumrah, tapi cemburu berlebihan apalagi cemburu dengan masa lalu bikin hubungan runyam. Parahnya, kecemburuan ini seringkali diikuti dengan stalking dan snooping sungguh bikin pria makin cepet kaburnya.

Sebenarnya ada pertanyaan besar yang patut ditanyakan sebelum mengajak mereka ke pelaminan, kenapa sih mesti buru-buru? Takut hilang? Kalau memang jodoh tak kemana-mana kok.

xoxo,
Tjetje
*Olo Panggabean: raja judi dari Medan yang terkenal sangat dermawan. 

Dear Bule Hunter: Tinggal di Luar Negeri itu Nggak Enak

Selamat tahun baru, kali ini saya datang kembali untuk membangunkan para bule hunter dari mimpinya, terutama mereka yang bermimpi tinggal di luar negeri. Beneran lho ada yang mimpi pengen tinggal di luar negeri, lalu buntutnya cari bule karena di luar negeri dianggap lebih enak ketimbang di Indonesia. Ealah kasihan bener cari pria kok buat batu loncatan ke luar negeri. shallow.  Entah darimana sumber mimpi ini, tapi perkiraan saya media seperti televisi dan sosial media yang menggambarkan sudut-sudut yang indah saja membuat negara barat terkesan lebih wah. Akibatnya banyak yang kemudian bermimpi untuk menjadi nyonya-nyonya besar di negara orang sambil menenteng tas bermerek bak Syahrini.  Bahkan, di abad ke 21 ini masih banyak yang berpikiran hidup di luar negeri itu mengangkat derajat gengsi dan martabat.

Kebiasaan mengagungkan luar negeri dan orang-orang di dalamnya secara tak langsung merendahkan negeri kita sendiri. Benar memang, ada hal-hal tertentu yang lebih baik di luar negeri, tapi bukan berarti kawin dengan bule dan tinggal di luar negeri itu bisa seenak para nyai-nyai di jaman penjajahan. Kata suami saya sih, para bule hunter jangan sampai matanya tak bisa melihat realita kerasnya hidup di luar negeri karena fantasi tinggal di luar negeri yang terlalu muluk-muluk.

Salju itu jorok dan ngerepoti

Luar negeri itu katanya cantik karena saat musim dingin tertutupi salju yang putih. Wajar banyak yang penasaran pengen main salju, karena di Indonesia gak ada salju. But let me tell you something, salju yang cantik itu begitu meleleh jadi jorok, licin, membahayakan dan yang paling penting ngerepotin. Silahkan digoogle kalau gak percaya.

Lebih gak enak lagi kalau gak punya garasi dan mesti parkir di luar rumah. Tiap malam mesti nginget-nginget mobil diparkir di mana, begitu pagi datang harus bawa shovel untuk bersihin salju. Sambil ngebersihin salju mesti berdoa, supaya mobil yang dibersihkan bukan mobil tetangga. Itupun sambil berharap engga kepleset es.

everyday-im-shoveling

photo: weknowmemes.com

Shaun the sheep

Di Indonesia urusan pakaian itu gampang dan santai, saking santainya, belanja di supermarket pun bisa pakai daster dan sandal jepit, selama gak malu. Di luar negeri yang sering diagungkan ini, pakai baju saat musim dingin itu mesti berlapis-lapis. Akibatnya badan jadi menggelembung karena kebanyakan lapisan dan tentunya makin mirip dengan shaun the sheep, apalagi kalau ketumpahan salju. Masang pakaian berlapis-lapis itu ribet, harus ektra beberapa menit. Belum lagi jalan dengan badan menggelembung dan harus melawan angin. Berat neng.. berat…. Pilihan untuk pakai baju yang lebih santai juga gak mungkin, salah pakai baju bisa menggigil kedinginan. Sementara kalau kelebihan lapisan, bisa kepanasan macam ayam di dalam oven. Masih mikir tinggal di luar negeri enak?

i-love-winter

Jemuran

Di negeri sendiri, jemur baju sejam dua jam sudah pasti kering. Di luar negeri, jemur baju itu pakai deg-degan, apalagi di negeri yang cuacanya berubah terus menerus. Matahari bisa bersinar super cerah, semua jemuran dikeluarin. Eh dalam sekedipan mata, hujan turun dengan derasnya. Kalau sudah gini, mau diambil mesti mikir-mikir karena keluar rumah, walaupun ke jemuran doang mesti berubah jadi Shaun the Sheep. Pasang jaket, pasang sepatu, cari kunci. Ribetlah. Kalaupun diambil, jemuran juga sudah kepalang basah lagi. Mau teriak “Mbaaaaak tolong dong jemurannya diangkat” juga gak bakalan bisa. Wong para bule itu gak semuanya bisa bayar pekerja rumah tangga. Baju-baju itu kalau gak kering juga baunya minta ampun, biar disiram Chanel number 5 seember juga tetep bau apek.

Gak ada kopaja, taksipun mahal

Katanya hidup di luar negeri itu enak, karena sistem transportasi lebih tertata dan rapi. Duh gimana-gimana lebih enak di negeri sendiri, mau berangkat jam berapa aja pasti nemu angkutan umum. Nunggunya pun gak pakai lama-lama. Di luar negeri ketinggalan bis itu sengsara, mesti nunggu lagi sepuluh, dua puluh, tiga puluh, bahkan satu jam kemudian. To make it worse, nunggu kendaraan di halte pas musim dingin itu juga gak enak, apalagi kalau kesamber angin musim dingin yang kekuatannya dasyat. Mau naik taksi setiap saat juga mikir, bayarnya gak semurah taksi di negeri sendiri. Mau nyetir sendiri lebih mikir lagi, karena dalam kondisi berangin mobil bisa bergeser-geser sendiri.

Memburu pria berkulit putih karena mimpi untuk tinggal di luar negeri dengan bayangan hidup di luar negeri itu enak, bagi saya adalah sebuah kekonyolan dan kedangkalan pikiran. Apalagi kalau mimpi itu ditambahi dengan anggapan bahwa hidup di luar negeri itu glamor dan wah, persis seperti yang digambarkan di televisi ataupun majalah-majalah. Padahal, hidup di luar negeri jauh lebih keras ketimbang Jakarta yang segala sesuatu bisa didapat dengan mudah. Jadi sebelum memburu para bule, apalagi laki orang, untuk untuk mewujudkan mimpi tinggal di luar negeri dan menikmati hidup yang katanya enak, mendingan dipikir lagi deh. Sayangkan kalau kuku sudah rapi-rapi harus patah karena mesti cepet-cepet ngangkat jemuran?

xx,
Tjetje
Bahagia karena gak ada salju di Irlandia

Good Bye 2015, Hello 2016

The year 2015 is the year where few of my wishes (both the silly and the serious one) came true. Back to August 2014 when I attended the UNAOC Conference, I secretly wished that I could meet the first lady of that time. For me, the Instagram superstar was more interesting than any other world leaders. At exactly a year later, my wish came true. In August 2015, I had the chance to meet her and took selfie in the most stylist Javanese way. I supposed we never know how the universe works to make any dream and wish come true.

https://www.instagram.com/p/6vDoupQxvC/?taken-by=binibule

Another wish that I made is I wanted to attend upacara before leaving Indonesia. I made this silly wish because I miss the feeling of standing in an upacara. Again, I got what I wanted. My cool boss assigned me to attend Upacara Hari Pramuka in Monas. The happy me sitting in a front row until few people tapped my shoulder to tell me that the seat is reserved for someone else. Poor me, I had to flash my badge to few different people in order to tell them that I am indeed from that institution. I guess this people did not expect a young petite Indonesian lady. Perhaps, again perhaps, they were expecting someone tall with fair complexion who can’t speak an Indonesian word to sit there. Funnily, it wasn’t there first time that people doubt my affiliation during a formal event. Again, perhaps people are not aware that Indonesian woman could work in an international organisation. D’oh.

https://www.instagram.com/p/6WPFNrwxhX/?taken-by=binibule

This year, my wish to visit Banda Neira was also materialised. I received a fabulous invitation to go to a luxurious trip to see the underwater creatures and the historical places. The morning walk around the island was lovely, the underwater was superb and the seafood was just succulent. One thing that I could not forget is of course the unbroken sun that made everything so beautiful. Oh how I miss the sun! Darn it winter!

https://www.instagram.com/p/2McgaswxsI/?taken-by=binibule

The year 2015 also taught me that there is always good bye in a hello. After more than four years of working in the institution, I had to leave in order to join my other half in Ireland. It was not an easy farewell, but that’s what life is. The new life in Ireland is surprisingly an easy one, though I dearly miss the spicy food that I used to dislike. If I could share one good thing to do in the next year, is to stop gluing your eyes to your gadget and do enjoy every single second that you have with your lovely friends, family and colleagues while they are still there beside you. You never know when you have to bid them farewell and when the time arrives, it sucks!

Have a lovely New Year’s Eve Celebration everyone. I hope all your wishes come true!