Bahasa Inggris Medok

Saya menghabiskan setidaknya empat tahun untuk belajar bahasa Perancis di Pusat Kebudayaan Perancis. Selama belajar tak pernah sekalipun, guru, ataupun orang yang bahasa aslinya Perancis, menyuruh saya untuk berhenti bicara. Keberanian untuk ngoceh, salah ataupun benar, dipupuk dengan baik oleh guru-guru di IFI Jakarta.

Usaha untuk bicara, walaupun dengan tata bahasa dan pengucapan yang nggak benar ini, sangat dihargai. Bukan berarti mereka menghargai kesalahan kita, tapi mereka menghargai kemauan diri untuk berproses menjadi pembicara Perancis yang lebih baik. Yang menarik untuk dicatat, ketika terdapat kesalahan, baik pengucapan maupun tata bahasa, dari guru sampai orang Perancis asli tak segan mengkoreksi. Sampai detik ini, saya masih terus belajar menggunakan Bahasa Perancis. Proses koreksi tentunya masih terus berlangsung. Prediksi saya, proses ini akan terus berlangsung hingga akhir hayat, terutama karena bahasa Perancis bukanlah bahasa ibu saya dan tidak digunakan secara terus-menerus.

Hal yang sama seharusnya diterapkan dalam praktik penggunaan bahasa Inggris. Namun, perlakuan masyarakat terhadap orang-orang yang berusaha menerapkan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari berbeda. Tengoklah salah satu tweet ini:

yantisubizorlu

Jangan ngomong bahasa inggris kalau secara struktur bahasa nggak benar. Kamu jadi kelihatan bodoh kalau melakukan hal tersebut. Tweet ini teriak-teriak tentang ngomong bahasa Inggris dengan baik, namun sang penulis sendiri salah nulis. Wajar karena dia juga bukan native speaker, nggak wajarnya karena dia nggak mendorong orang untuk jadi lebih baik tapi malah membodoh-bodohi. Kalau udah begini, kontribusi apa yang dia berikan pada kemajuan orang lain (dan dirinya sendiri)?

Manusia itu lahirnya ‘bodoh’ kok, bodoh dalam arti, kita nggak tahu apa-apa tapi berproses untuk menjadi manusia yang lebih tahu. Setelah lahir kita belajar untuk tengkurap, merangkak, kemudian belajar jalan dan lari. Dalam proses ini terjadi banyak kejatuhan, lecet disana-sini bahkan patah tulang. Belajar bahasa juga harusnya seperti itu. Salah melulu, lalu perlahan-lahan menuju arah yang lebih baik dengan tingkat kesalahan yang lebih rendah. Sayangnya, itu hanya bisa terjadi ketika ada orang yang mau menunjukkan dimana kesalahan. Masalahnya, orang malas mengkoreksi dan menjelaskan kepada orang lain. Beberapa orang bahkan menganggap mengkoreksi orang lain adalah suatu bentuk tata krama yang buruk. Pun kalau ada yang mengkoreksi, si pembicara biasanya jadi defensive, tersinggung, harga dirinya terluka dan lain urusan hati lainnya.

Selain itu, tuntutan untuk ngomong bahasa Inggris tanpa aksen bahasa daerah juga sangat tinggi. Orang yang nekat ngomong bahasa Inggris dengan campuran medok, dijamin bakal jadi bahan ketawaan. Padahal, di luar Indonesia sana yang ngomong dengan aksen medoknya juga banyak kok. Nggak usah jauh-jauh, tengoklah ke Singapore sana (eh saya ini nggak pernah ke Singapore dan nggak minat ke Singapore) kok ngajak melongok ke sana.  Ke India aja deh dengan aksen Indianya, ada juga akses Inggris yang bikin hati deg-degan karena seksi banget, aksen Amerika yang kita sangat dekat (thanks to the TV), Irish accent yang bikin temen saya ketakutan kalau ditinggal berdua sama Mas Gary, hingga aksen Australia yang identik dengan good die-nya.

Aksen ini juga kemudian diturunkan sesuai dengan daerahnya masing-masing, jadi Dubliner, ngomongnya nggak akan sama dengan mereka yang datang dari Galway, padahal sama-sama dari Irlandia. Begitu juga dengan mereka yang di Selatan Inggris dengan mereka yang di Utara Inggris. Jadi orang-orang Indonesia dengan aksen yang kuat, seperti saya yang aksen Malangannya kuat, nggak perlu malu ngomong bahasa dengan sentuhan medok. Ngomong pakai aksen medok daerah salah, ngomong pakai aksen Inggris atau Amerika lebih salah lagi. Orang yang nekat berlaku seperti ini alamat bakal dicela gaya karena karena gak bisa ngomong dengan gaya biasa aja.

Kata Agnes Monica, dia ingin menjadi versi dirinya yang lebih baik. Saya yakin kita semua seperti Agnes, ingin lebih maju. Ketika satu orang lebih baik tentunya sedikit banyak ini akan berdampak pada lingkungan di sekitarnya. Nggak ada salahnya juga kita berhenti menertawarkan orang lain yang penggunaan bahasanya salah dan mulai mengkoreksi, dengan cara santun tentunya tanpa mempermalukan orang yang berbicara. Mengatakan orang lain bodoh dan melarang orang lain untuk berbicara nggak akan berkontribusi terhadap perubahan dan kemajuan!

Gimana menurut kalian?

xx,
Tjetje
Sudah berulang kali dicela karena aksen Malangan sangat kuat. Sak karepmulah, aku memang wong Malang!

Menikmati Guyuran Air Songkran di Vang Vien

Alkisah minggu kemarin saya yang nggak ada kerjaan dan rindu masa kecil memutuskan ikutan Songkran di Hotel Borobudur Jakarta. Daripada muter-muter di mall dan bikin kantong bocor, lebih baik mainan air dan nyemprot orang, gratis pula. Niatnya aja udah nggak tulus, nyari gratisan, sampai venue nggak ada yang gratis sodara-sodara, cuma airnya buat semprot-semprotannya aja gratis.

Saya pun merogoh kocek seharga 55 ribu untuk beli ‘tongkat komando biar kayak jenderal’, demi main air! Sementara pistol-pistolan kecil dihargai 30 ribuan dan pistol maha besar dihargai 145ribu. Ini pistol “mahal banget:, padahal jaman dua tahun lalu beli di Laos ketika Songkran tak sampai 50 ribu.

Well, tapi sebagian keuntungan dari penjualan makanan (yang enak-enak!) disumbangkan. Udah menyumbang, peserta pun dibanjiri hadiah, bahkan satu orang yang beruntung mendapatkan paket liburan ke Thailand selama 4 hari 3 malam.

Perayaan Songkran yang lebih awal kemarin, diadakan oleh Kantor Wisatanya Thailand. Strategi mereka sangat bagus, bikin acara menjelang Songkran, jadi orang kepengen pergi ke Thailand. Anyway, Songkran ini merupakan perayaan tahun barunya Thailand yang ditandai dengan siram menyiram air selama tiga hari berturut-turut. Siram-siraman ini merupakan simbol penyucian. Perayaan ini sendiri tak cuma ada di Thailand, tapi juga di Cambodia dan di Laos. Di Laos songkran ini sebut sebagai Pii Mai.

Dua tahun lalu saya backpacking dan kami terjebak ikutan festival air ini di Vang Vien, Laos. Sebelum  festival dimulai, kami sudah menyiapkan diri dengan pistol air, tas kedap air (dry bag) untuk membungkus peralatan elektronik dan dokumen berharga. Selama tiga hari berturut-turut kami bersiram-siraman air dengan aneka rupa manusia, dari anak-anak hingga orang dewasa. Dari orang asing hingga orang Laos asli. Cuma Biksu doang yang nggak berani kami siram.

Monk

Dosa nggak ya kalau nyiram mereka?

Hari pertama sih menyenangkan karena Vang Vien lagi panas-panasnya. Saking panasnya, sungai yang berada di salah satu sudut Vang Vien pun mengering dan bisa dilewati mobil. Begitu hari kedua kami udah mulai males kesiram air, apalagi air ini nggak bersih-bersih amat. Pas hari ketiga, udah BT aja lihat orang main air nggak selesai-selesai. Apalagi sebagai pemanggul ransel, kami nggak bawa banyak pakaian. Nggak cuma saya yang BT, pengemudi tuktuk pun ikutan ngamuk kalau disiram, apalagi pas ada yang menyemprotkan air berwarna.

Lao New Year

Turis diserang gadis-gadis kecil di Vang Vien, Laos

Anyway, kemarin di Hotel Borobudur saya sukses bikin anak berusia sekitar 4 tahun menangis. Bapaknya dan si Adik kecil mendekat ke bak plastik tempat air untuk mengisi senjata. Melihat manusia yang masih kering, kami pun langsung menyerbu si Bapak. Bapaknya lari terbirit-birit, anaknya ditinggal sendirian. Ya namanya juga lagi songkran, si adek pun jadi sasaran. Adik kecil pun tambah bingung lihat bapaknya lari dikejar. Dia marah, dan saya pun sukses dikejar dan dipukul. Mukulnya penuh dengan emosi. Puas mukul saya dia pun menangis sekencang-kencangnya. Puk..puk…puk.. aturan utama kalau lagi Songkran, dilarang ngambek kalau disiram.

Lao New Year

Yang mau berbasah-basahan di Songkran tahun ini, yang jatuh dari tanggal 13 hingga 15 April ini, jangan lupa bawa minuman herbal untuk menolak angin dan minyak kayu putih ya.

Happy Lao New Year. Gebyur!!!

Things Indonesians Do when Eating

I have a lot of respect to the nannies in Indonesia, their job is tough. In order to feed their employer’s kids, or should I call them the Queen and the King, they have to run around the mall, wedding hall, house, park or other places, while holding a bowl full of rice. The nannies, who are often wearing white, pink, or blue uniform with a rucksack on their back, have an important job to chase the kids and to feed them. Although we, Indonesians consider eat while walking (or even running) as rude, when it comes to kids, we make an exception.

Some, if not most, kids in Indonesia are not taught to eat by themselves. They need to be fed so that the nannies have job  so that their clothes and the tablecloth remain clean. Apparently, appearance is more important that the ability to be independent. Being fed feels good, the hands could freely doing anything else, while the mouth can chew the food. Maybe that is why many people do not want their parents to stop it until their adulthood. The menu however is replaced by cars, money, apartment, house, allowance for the monthly bills, or  a job. Providing for children is never wrong, but at some point the parents must teach their children to stand on their own feet.

Ailsa_Gary_WeddingDay_Bali_Inpairspho-0127

If the West opt for seating dinner during wedding party, many Indonesians opt for standing party. Some people might find it impolite, but standing party is the only way to accommodate hundreds if not thousands guests. In most of our wedding parties, chairs and tables are only reserved for VIP guests or family of the bride and groom. Eating while standing is impolite, but again, we make another exception.

Speaking about wedding, there a general rule about it, when invited, eat every single thing served at the buffet table. Mix the salad with the rice, pasta, beef, chicken, fish and the soup. If one can put everything in one plate, why put it in different plates? Our desire to mix food, might have been the reason for the invention of nasi campur, rice which served with many condiments. This meal allow us to taste as many food as possible. This might explain why set menu is not popular in this country, it is just too boring and not varied enough. Therefore, the next time you see Indonesia seating in a fancy French Restaurant, sharing foie gras or steak please do not be surprised. As I mentioned above, Indonesians tend to want to taste as many food as possible. Mr. Foreigner Chef, please do not complain about this. 

Any foreigner Chef who work in Indonesia should also never be offended when Indonesians put ketchup on foie gras or salad. No matter how good (and how expensive) the food is, if it is not spicy, then it does not deserve a place in the stomach. Providing a bottle of ketchup, soy sauce, vinegar, sambal on the table is a must.  Italian might find it sinful to put sambal in spaghetti carbonara, but again, if they want to rest peacefully in the stomach, then it has to be spicy. One might find joy in juicy steak, while other find the comfort in a spicy steak.

Beside proper three times per day meal, Indonesians also have ngemil time! If tea times come in the morning or in the afternoon, ngemil or snacking, comes at anytime. We love it so much that we do it all the time, even during working hour. Having gorengan, kerupuk (chips), keripik (also chips), bread, and/or other snack during working hour is important for us. Never mind the silence that needed by the other colleagues, just keep chewing.

Having a box of snack during meeting is also a common practice here. An institution or company might be considered miser if there is no snack served. Should there is a budget limitation, then at least coffee or tea should be provided. Make sure you put few spoonful of sugar to show that your company is wealthy enough.

Another interesting thing about Indonesians is that many of us remember the lesson taught from our tender age: to burp after meal. These babies who have the elephant’s memory, bring the lesson to their adulthood and do it anywhere they want. Some do it at warung (small and often less expensive eatery), while some do it at restaurant. Basically everywhere. Burping, sometimes, is not considered rude here.

Finally, foreigners are often surprised by our table manner, custom and etiquette. They often feel that Indonesians are just impolite. They are able to afford expensive meal but lack of manner. They also find it weird that we eat pre-cooked and re-heated meals for breakfast, lunch and dinner. What these people should remember is that we, Indonesians enjoy food in different way, it doesn’t mean that we do it better, but not worse either. We just eat different things in different way and we are happy with it.

If there is only one thing that you should complain about our eating manner is when one could not close the mouth while chewing. That you can complain!

Mengatasi Phobia Ketinggian

Disela-sela kerjaannya, almarhum bapak saya hobinya terjun payung. Beliau pernah mendarat dengan sukses di tengah sawah, tapi juga pernah memenangkan medali pekan olahraga negeri ini. Berkebalikan dengan alm. bapak saya, saya justru takut ketinggian, alias mengalami acro phobia. Rasanya ketakutan ini sudah ada semenjak kecil. Seingat saya, saya pernah mandi keringat ketika harus naik jembatan penyeberangan di Malang (yang di depan Bioskop Merdeka) dan di Surabaya (yang di depan IAIN). Kedua jembatan ini, bagi saya, tidak dibangun dengan struktur yang kokoh karena beralaskan kayu. Di kepala saya, kayu yang terpapar matahari, tersiram hujan ini bisa patah kapan saja dan saya bisa terjerembab ke bawah dan langsung ditabrak mobil dibawahnya.

Begitulah kepala orang yang phobia, setidaknya kepala saya. Otak berimajinasi hal-hal yang negative dan imajinasi itu datang tanpa diundang. Selain takut jembatan, saya juga takut sama eskalator yang naik menuju ketinggian. Bagi saya, eskalator yang menyambungkan dua lantai, seperti eskalator sepatu hak tinggi di Senayan City ataupun eskalator dua lantai di Pacific Place sangatlah menakutkan. Saking takutnya, saya sampai bisa merasakan getaran eskalator, getaran itu yang kemudian memicu keringat di ketiak, kaki dan tangan saya.  Saya juga menghindari berada di sisi eskalator yang memberikan pemandangan bebas ke lantai bawah, apalagi kalau bangunannya tinggi. Rasanya hati tak tenang, kaki gemetar melihat ketinggian.

IMG_7997

Takut Ketinggian, tapi gak begitu takut naik cable car di Hong Kong

Nasib membawa saya terjebak ketinggia ketika menuju Badui Dalam. Ketika itu kami, segerombolan tukang jalan-jalan, harus mendaki pinggiran bukit yang licin karena hujan dan di sisi pinggir jurang. Nggak ada jalan lain selain naik karena pulang bukanlah opsi. Tanjakan terakhir itu akhirnya saya lawan dengan segala ketakutan sampai merangkak-rangkak, otak saya berpikiran bahwa gravitasi tak cukup menahan saya di tanjakan tersebut. Alam sedang baik dengan saya, selesai saya mendaki, kabut di puncak pun hilang dan saya mendapatkan pemandang gunung-gunung yang cantik. Sayangnya, kamera tak diperkenankan merekam karena kami sudah berada di Badui dalam. Herannya, saya tak pernah takut dengan lift, yang berkaca-kaca sekalipun, otak dan hati saya merasa aman dengan segala penutupnya. Bahkan saya tak takut terbang dengan pesawat di atas sekian ribu kaki. Tapi kalau olahraga ekstrim di Benoa Bali, dikasih seratus juta pun saya nggak akan mau.

Selain takut ketinggian, saya juga takut ular. Mungkin ini berhubungan dengan masa lalu ketika ada ular beracun masuk ke dalam rumah. Mama saya dengan tenangnya membunuh ular tersebut dengan air panas. Saya menduga, Ailsa kecil takut mamanya dilukai dan ketakutan itu membekas hingga sekarang. Tapi, jaman saya masih belajar jadi animal activist saya nekat duduk di kelas yang melibatkan ular. Nggak ada hewannya sih, tapi seluruh pelajaran yang diberikan isinya gambar ular semua. Bahkan sebelum kelas dimulai, seorang animal activist bernama Mbak Sri bertanya apakah saya akan baik-baik saja jika mengikuti kelas itu. Saya nekat melawan perasaan takut saya, toh hewannya gak ada disitu. Hari ini saya masih takut ular, saya pantang berfoto dengan ular melingkar di leher tapi saya tahu kalau berjalan di alam, ular akan menyingkir ketika mendengar suara langkah kaki kita. Fiuh!

Senayan City

Photo was taken from Skyscappercity.com

Cara Saya Melawan Phobia Ketinggian

Hari pertama saya kerja di Jakarta, waktu itu kantor saya di Chase plaza, saya diantarkan  sampai gerbang kantor. Aman, jadi saya tak perlu naik jembatan. Tapi hari kedua, saya diturunkan di seberang kantor. Ketika itu pilihannya hanya dua: mati ditabrak mobil karena menyeberang di Sudirman atau naik jembatan dan melawan ketakutan. Saya memilih yang kedua dan jalan perlahan menaiki jembatan sambil memegang pegangan jembatan. Dasar phobia, naik jembatan bukannya cepet-cepet malah menikmati setiap ketakutan dengan perlahan-lahan. Tapi kalau cepet-cepet saya takut jembatannya roboh karena terkena beban tubuh saya ketika berlari-lari. *bukan saya yang kegedean ya, tapi saya mikirnya struktur jembatan itu ringkih banget*

Berbulan-bulan saya berjuang melawan ketakutan dalam pikiran saya, setiap pagi saya tersengal-sengal karena kesulitan bernapas dan bermandikan keringat. Tapi usaha saya membuahkan hasil  dan saya nggak takut lagi menaiki jembatan penyeberangan, bahkan sekarang, kalau saya mau saya bisa lari-lari di jembatan-jembatan tersebut. Hari ini saya masih berjuang melawan ketakutan saya dengan eskalator. Saya mengatasi itu dengan melihat orang lain yang relaks naik eskalator, menyanyi di dalam hati dan terus mengalihkan pikiran supaya kaki tak merasakan getaran eskalator. Saya juga menghindari hak tinggi (menurut kepala saya keseimbangan saya berkurang kalau pakai hak tinggi) dan meminimalisasi bawaan sehingga tangan bisa focus pegangan. Semoga satu hari nanti saya bisa naik eskalator dua lantai dengan hak tinggi, tanpa merasa perlu cemas kehilangan keseimbangan atau membayangkan eskalator roboh. Segede apa sih saya ini kok sampai takut eskalator roboh.

Punya phobia nggak? Gimana mengatasi ketakutan phobia tersebut?

Tante Berdosa

Beberapa teman saya, yang menikah lebih dulu, sudah punya anak yang beranjak besar dan beranjak pengen tahu. Pengen tahunya bukan karena reseh tapi, saya menyebutnya, pengen tahu lucu-lucuan. Soalnya kalau nanya, mereka suka lucu banget. Termasuk dua bocah kecil, anak temen saya yang beruntung bisa menghabiskan akhir pekan bersama tante penuh dosa. Tante penuh dosa ini menemukan banyak pertanyaan sederhana yang jawabannya sulit banget atau malah bikin ketawa.

Tampon & Menjadi Perempuan

Sang Kakak yang lagi inspeksi kamar saya tiba-tiba mengambil bungkusan hijau dari dalam koper saya yang terbuka. Diangkatlah tampon itu sambil nanya: “Ini apa Tante?” Duh tantenya udah pucat aja, karena nggak tahu gimana mau ngejelasin tentang datang bulan dan apakah mereka sudah cukup umur mendengarnya. Tantenya pun  mencoba mejawab jujur dan berkata kalau itu untuk datang bulan.

Semakin dicecarlah si Tante:  “Bulannya datang tante? Kan bulan ada di langit”.

Tantenya pun bohong dan bilang: “Iya bulannya datang dari langit”

Keponakan lucu pun makin penasaran, gimana bulan yang ada di langit mendadak datang menghampiri si Tante. Setelah berputar-putar selama sekian detik, si Tante nyerah dan bilang “Kalau bulannya datang, Tantenya berdarah.”

Jawaban ini langsung disahuti: “Oh halangan tante! Kalau halangan ibuku pakai pampers!Walah kirain belum cukup umur ternyata udah tahu. Lalu ponakan pun mengoceh betapa beruntungnya dia terlahir sebagai perempuan karena nggak perlu sholat kalau lagi berhalangan. Ditambah lagi tak perlu repor-repot sholat Jumat ke Masjid.  Tantenya pun mencoba bijaksana dan bilang kalau jadi perempuan dan pria itu sama saja, laki dan perempuan kan tetap harus sholat. Tapi keponakan ngotot lebih enak jadi anak perempuan.

Dan si Adik pun berujar: “Tante Ailsa aku nggak mau kawin kalau sudah besar”. Tambah pucat aja tantenya denger anak umur lima tahun ngomong seperti itu. Dan si Adik berkata: “Soalnya nanti kalau punya anak kan sakit banget kayak mati, jadi aku nggak mau kawin”. Tantenya maklum dan tersenyum simpul, keponakan belum pernah dicium. Eh jangan sekarang nanti aja kalau udah cukup umur.

kids asking mom

Tentang Mas G

Dua orang gadis kecil ini sudah berkesempatan ketemu Mas G dalam sebuah perhelatan sahabat di Malang. Jadi ketika bertemu mereka nanya dimanakah Oom G? Yang saya jawab dengan informasi bahwa Oom G kerja di Irlandia. Jawaban ini kemudian ditimpali dengan pertanyaan tentang pekerjaan Oom G. Singkat kata tantenya nggak mau repot ngejelasin dan si tante bilang: “Oom G kerjaannya ngitung uangnya orang”.

Dan komentar kocak yang muncul: “Oh…Oom G kerjanya di dalam ATM ya tante? Nanti kalau sudah selesai kerja Oom G keluar dari dalam ATM dong?” Tantenya pun ketawa terbahak-bahak.

Baju Luar Negeri

Pas saya ke Irlandia dua tahun yang lalu, keponakan-keponakan ini mendapatkan buku bacaan dari saya. Tahun ini mereka gak dapat apa-apa dari Irlandia. Tantenya bokek dan nilai tukar rupiah lagi ancur-ancuran. Tapi tantenya nggak ketemu ponakan dengan tangan kosong dong, jadi mereka dapat baju dan celana. Reaksi pertama tentunya berterimakasih dan senang. Lalu nanya: “Ini bajunya beli di mana tante?”. Tantenya jujur, jadi tantenya bilang kalau bajunya beli di Factory Outlet di Ambassador (eh sumpah ya ini FO barangnya bagus-bagus harganya nggak nyekek. Nggak perlu pergi ke Bandung lah kalau belanja). Dan sang kakak pun menjawab: “Aku nggak mau tante, aku maunya baju yang beli di luar negeri!” Tantenya pun ngakak keras!

Yang paling epic tentunya ketika sang Tante dandan di kamar mandi hotel. Abis mandi tantenya pakai baju pink tanpa lengan. Si adik pun berkomentar  “Tante kok pakai kaos dalam sih?” Untuk menenangkan hati keponakan tantenya menjawab: “Tante nggak pakai kaos dalam kok, ini nanti tante kasih jaket.”

question

Tantenya pun aman, nggak dikasih pertanyaan apa-apa dan menghabiskan 45 menit sarapan aneka rupa makanan di hotel bersama keponakan lucu yang girang lihat aneka rupa makanan. Balik ke kamar, blazer tante dilepas dan sang ponakan pun komentar lagi:

“Tante kok pakai baju yang keliatan ketek (ketiak)nya sih? Belum juga tantenya ngejawab sudah dibilang “Itukan baju berdosa”.

Kali ini Tantenya nggak bisa ketawa dan cuma bisa terdiam, speechless….

Selamat bermalam Jumat,
Tante Berdosa

Perempuan Simpanan

Ada celetukan yang berkata, kalau pengen  makan sate kambing, pergi aja ke abang-abang penjual sate aja, beli sate, nggak perlu pelihara kambing. Celetukan ini bermaksud untuk menyindir para pria di Indonesia yang suka repot menyimpan perempuan. Biaya merawat kambing tentunya  lebih mahal ketimbang makan sate di abang-abang kan?

Saya mendefinisikan perempuan simpanan sebagai perempuan yang disimpan secara sembunyi-sembunyi tanpa dikawinin, baik secara agama maupun legal. Kepada perempuan-perempuan ini masyarakat memberikan label perusak rumah tangga. Beberapa memang merusak rumah tangga orang dengan penuh semangat dan strategi perusakan yang matang. Tujuan akhir perusakan ini: perceraian bagi sang pria yang diakhiri dengan perkawinan manis bagi perempuan simpanan.  Tapi banyak juga kasus dimana perempuan simpanan hadir ketika rumah tangga sudah terlanjur rusak. Merekalah yang jadi obat penghangat bagi para pria-pria yang kesepian.

mystery_marriage_affair_455495

picture was taken from: toonpool.com

Menyimpan perempuan, menurut saya tidaklah murah. Di kost-kostan tempat saya dulu tinggal ada beberapa perempuan simpanan. Tak hanya perempuan simpanan, pria simpanan pria lain pun juga ada. Kost-kostan di Jakarta emang penuh drama macam sinetron. Para pekerja kostlah yang suka bercerita betapa bergelimangnya para perempuan simpanan ini. Uang rutin datang setiap bulan, kendaraan disediakan dan abang juga rutin datang menagih jatah. Kedatangan abang ini bisa dilihat dari sepasang sepatu hitam mengkilat yang menunggu di luar pintu  kamar kos. Jika beruntung, perempuan simpanan bisa pindah dari kos ke apartemen & disediakan pekerja rumah tangga. Tetapi ketika masa pakai habis, sang penyimpan bosan, ataupun konflik timbul, maka perempuan ini beresiko kembali ke kostnya. Tak hanya perempuan simpanan yang merana, kalau sudah begini pekerja rumah tangga pun sengsara karena kehilangan pekerjaan.

Orang asing yang menyimpan perempuan juga banyak. Sebenarnya mereka ini nggak perlu repot-repot mencari perempuan, karena menjadi orang asing di Indonesia itu magnet berdaya tarik super kuat untuk mencari perempuan. Bukan rahasia lagi kalau banyak perempuan Indonesia bisa disimpan WNA dengan ongkos yang relatif murah. Dulu, seorang tetangga kos yang berasal dari Africa pernah mendadak curhat ke kamar saya karena pacarnya punya perempuan lain yang dibiayai setiap bulannya dan perempuan ini  menjadi frustasi dibuatnya. Eh lucunya, si pacar masih rajin mampir untuk ambil jatah dam diterima dengan kaki tangan terbuka. Lha gimana sih?

Kenapa perempuan mau disimpan?

Ada banyak alasan perempuan mau disimpan. Easy money menjadi alasan kuat perempuan mau disimpan. Tapi uang juga bukan satu-satunya alasan. Ada juga kasus perempuan yang mau disimpan pria-pria yang tak berkantong tebal, karena masalah hati, kehangatan tempat tidur dan perhatian. Perempuan simpanan memang berbeda dengan pekerja seksual. Mereka pakai hati ketika berhubungan dengan pria. Kendati pakai hati, tak semuanya setia pada satu pria, saya kebetulan pernah tahu beberapa (nggak cuma satu lho ya) perempuan yang disimpan dua orang pria. Entah bagaimana perempuan-perempuan ini membagi jadwal setorannya. Untungnya (dasar orang Jawa), tak ada bayi yang lahir dari hubungan-hubungan tersebut. Coba kalau ada, gimana ngeklaim bapaknya? Test DNA lah!

Perempuan yang kehilangan suaminya, baik karena kematian maupun perceraian, juga seringkali dilabeli tidak baik oleh masyarakat kita. Para janda sering kali menjadi korban kekejaman masyarakat dan secara semena-mena dituduh menjadi perempuan simpanan. Padahal, banyak janda yang berjuang mati-matian untuk menghidupi dirinya sendiri serta keluarganya tanpa menjadi perempuan simpanan. Anehnya, perilaku masyarakat berubah menjadi sedikit lebih baik kepada istri simpanan, alias istri yang sudah halal secara agama, tapi disembunyikan dari istri pertama dan juga para keluarga. Mungkin masyarakat berpikir bahwa setidaknya perempuan ini tidak sedang berbuat dosa dengan pria lain. Anehnya, masyarakat begitu jahat kepada perempuan-perempuan tapi jarang menjadi jahat kepada pria-pria yang punya simpanan.

President Perancis

kalau ini diambil dari: http://jeffreyhill.typepad.com/

Punya rantangan (perempuan simpanan ini, seringkali disebut sebagai rantangan, karena sering dan mudah dibawa kemana –mana), kambing, atau apapun istilah lainnya yang ajaib itu pilihan para pria. Menjadi perempuan simpanan juga merupakan pilihan. Tubuh, hati dan hidup perempuan-perempuan ini adalah milik mereka, bukan milik kita. Jadi kalau mereka memilih untuk menjadi perempuan simpanan itu hak mereka. Tapi sesungguhnya ketika perselingkuhan ini terjadi, ingatkan para perempuan simpanan ini dengan istri sah dan anak-anak yang menangis pilu karena rindu ayahnya? Wahai para pria yang suka menyimpan kambing, ketika rumah tangga tidak sehat dan tidak ada keinginan untuk menyehatkan, kenapa nggak pisah aja sih?

Tjetje
Pernah dituduh jadi simpanan oleh tetangga gila

Nyepi di Bali: Bagaimana dan Ngapain?

Di postingan tentang Aceh kemarin, saya pamer colongan nulis kalau akhir bulan ini mau ke Bali, lagi! Ngomongnya sih mau ke Bali, tapi sampai detik ini saya belum pegang tiket. Masih santai-santai karena kalau Nyepi biasanya tak banyak yang jalan ke Bali dan tiket, biasanya, murah.

Dua tahun belakangan ini saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati Nyepi di Bali, di rumah seorang teman baik. Setelah aktivitas selama 364 hari, rasanya menyisihkan satu hari bagi tubuh untuk ‘istirahat’ itu dibutuhkan. Bagi saya, Nyepi itu seperti lari, bikin ketagihan. Gimana nggak ketagihan jika pikiran serta telinga dijauhkan dari segala kebisingan. Jauh dari social media, jauh dari kegilaan dan hiruk pikuknya Jakarta. Menyepi itu bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja, tak perlu menunggu Neypi, tapi suasanya Nyepi di Bali lah yang membuat saya selalu ‘pulang’ kembali.

Selamat Nyepi!

copyright: Ailtje

Bagi penyuka jalan-jalan, Nyepi juga merupakan momen untuk melihat Bali dari sisi yang berbeda. Rentetan upacara menyambut Nyepi dilakukan jauh sebelum tahun baru ini dilaksanakan dan diakhiri dengan Pawai Ogoh-ogoh. Sebenarnya pawai ini bukan bagian dari agama dan baru dibuat pada sekitar tahun 1970 atau 1980an. Saya tak ingat persisnya. Tapi tradisi ogoh-ogoh ini kemudian berlangsung hingga sekarang. Di Denpasar, tempat pawai ogoh-ogoh yang wajib didatangai berada persis di seberang patung Catur Muka di depan kantor Walikota Denpasar. Dari sekitar pukul 3 sore, beraneka raga ogoh-ogoh dari dilombakan. Ogoh-ogoh sendiri merupakan simbol kenegatifan yang kemudian akan dibakar acara selesai.

 Tiap tahun ada trend ogoh-ogoh yang berbeda, tergantung topik yang lagi ‘hot’. Dua tahun lalu ogoh-ogoh bisa muter-muter sendiri, bahkan dilengkapi LCD di dadanya. Upin-ipin, Mbak Inul  Daratista juga sempat jadi ogoh-ogoh. Jika tak sedang dilombakan, ogoh-ogoh biasanya diarak keliling Banjar, diiringi musik tradisional dan nyala lampu obor. Ogoh-ogoh ini kemudian dibakar di pantai atau di lapangan. Nggak semuanya dibakar, ogoh-ogoh yang berharga mahal dan bagus biasanya dipajang di depan Balai Banjar masing-masing atau bahkan dijual ke Hotel.

Ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh di Catur Muka Denpasar

Ketika pawai ogoh-ogoh dimulai, jangan harap bisa melintasi area di kawasan Bali. Semua area pasti macet-cet-cet! Bandara serta pelabuhan juga ditutup. Saya, bersama seorang rekan photographer (dia photographer; saya tukang foto abal-abal), pernah harus berjalan berkilo-kilometer seusai pawai ogoh-ogoh karena tak ada taksi maupun moda transport lainnya yang bisa melintas. Dari jalan kaki itu saya jadi tahu bahwa convenience store serta bilik ATM jendelanya ditutup dengan plasik hitam supaya lampu dari layar mesin ATM ataupun kulkas tak memancar keluar.

Nyepi dimulai pada pukul 06.00 dan akan berakhir pada pukul 06.00 keesokan harinya. Selama 24 jam pemeluk agama Hindu Nusantara akan melaksanakan Tapa Brata Nyepi yaitu: amati geni, amati karya, amati lelanguan, amati lelungaan. Amati geni artinya tak ada api, untuk memasak atau menyalakan lilin serta tak menghidupkan listrik. Ibu-ibu yang punya anak kecil serta orang sakit juga menapatkan ijin untuk menyalakan lilin atau alat penerang lainnya, tapi mereka harus minta melapor dulu ke Banjar.

Amati karya berarti tak melakukan apapun, tak memasak, atau hanya bersemedi. Sedangkan amati lelanguan artinya tak bersenang-senang, walaupun tak dapat dipungkiri banyak orang-orang yang belum mampu, ataupun belum mau melaksanakan tapa brata Nyepi yang meceki atau bermain kartu (dan berjudi) pada saat Nyepi. Tapa Brata yang terakhir adalah Amati lelunggaan yang artinya tidak bepergian. Bisa ditangkap pecalang (pria-pria penjaga keamanan tradisional) kalau nekat bepergian dari luar rumah. Hanya mereka yang akan melahirkan atau menderita sakit keraslah yang boleh bepergian. Tahun kemarin, Nyepi jatuh pada hari Jumat dan umat Muslim di Bali diperkenankan untuk pergi ke Masjid untuk menunaikan ibadah, tanpa keributan tentunya.

pecalang

pecalang

Ada satu ‘bonus’ tapa yang boleh dilakukan oleh mereka yang sanggup, yaitu Mona Brata alias puasa ngomong. Selain kelima ‘puasa’ tersebut, saat Nyepi, mereka yang bisa serta mau juga dianjurkan tidak makan dan minum selama dua puluh empat jam.

Nyepi selalu jatuh pada saat Tilem, atau bulan mati, alhasil, langit-langit di Bali sempurna gelapnya. Yang ada hanya kerlipan bintang yang diiringi gongongan anjing, suara kodok dan juga suara jangkrik. Karena penggunaaan listrik yang turun dalam satu hari, suhu di Bali biasanya juga turun. Nggak akan sedingin Bandung sih, tapi tetep jadi adem.

Satu hari setelah Nyepi, di Banjar Kaja, di Sesetan, ada prosesi Omed-omedan. Saya menyebutnya Festival Cium-cuman bagi anak bajang (lajang) di desa tersebut. Perempuan dan pria ditemukan untuk saling berciuman. Yang sudah lama naksir biasanya saling bercumbu, tapi kalau nggak naksir dari jauh-jauh kepala sudah digeleng dan mulut ditutup tangan dengan rapat. Dua tahun lalu saya berkesempatan mengabadikan festival ini, silahkan menengok postingan saya tentang Omed-omedan ini disini.

omed2an3

kecupan basah

Tahun ini Nyepi akan jatuh pada hari Senin, tanggal 31 Maret. Yang mau menikmati syahdunya Bali & melihat anak-anak manusia saling melumat bibir, silahkan booking pesawatnya dari sekarang. Bagi mereka yang akan merayakan Nyepi, saya ucapkan Selamat Menyambut Tahun Baru Çaka 1936. Semoga tahun ini membawa kedamaian, damai di hati, damai di bumi dan damai selamanya.

Namaste,
Tjetje

Secuil Oleh-Oleh dari Ambon

Kali pertama saya ke Ambon di sekitar tahun 2008 an. Saat itu kondisi Ambon masih ada sedikit ketegangan. Pendamping perjalanan saya saat itu menggunakan jilbab, ketika kami melintasi kampung Kristen, si Nona ini akan ketakutan dan mencoba bersembunyi di mobil. Ambon yang sekarang sudah banyak berubah. Akses dari bandara menuju kota Ambon sudah lancar, tanpa jalan berbatu ataupun longsoran. Perjalanan dari bandara ke kota bisa ditempuh selama satu jam bahkan lebih cepat jika kita naik ferry. Akhir Desember ini, setelah jembatan Merah Putih selesai, akses bandara ke Ambon diharapkan akan jadi lebih cepat.

image

Ferry yang menghubungkan bagian kota Ambon dan bagian yang menuju bandara. Ongkosnya untuk mobil 23.000, lama tempuk tak sampai lima menit

Kendati Ambon sudah aman dari konflik, areal perumahan di Ambon masih terpisahkan oleh agama. Masyarakat yang Muslim tak berani tinggal di areal masyarakat Kristen, begitu pula sebaliknya. Di sebuah perbatasan kampung Muslim dan kampung Kristen, di daerah Batu Merah, ada pos tentara yang berdiri untuk menjaga keamanan masyarakatnya supaya tak ada konflik lagi. Semoga tak ada lagi konflik di Ambon.

Selain terkenal oleh mutiara berharga ‘murah’, sedikit lebih murah dari mutiara Lombok, Ambon juga terkenal akan seafoodnya yang murah. Jika di Jakarta seekor ikan dibagi-bagi untuk beberapa orang, di Ambon, satu orang mendapakan satu ekor ikan. Ikannya pun aneka rupa dan warnanya sungguh cantik. Berhubung saya orang gunung, hanya dua ikan yang saya tahu: kakatua dan red snapper. Sisanya nggak kenal semua. Harga ikan bervariasi tergantung besar kecilnya, tapi berkisar dari 40 – 70 ribu, termasuk dengan nasi, sambal dan aneka rupa lalapannya. Di Ambon ada teknik menangkap ikan menggunakan panah dari dalam air yang dilakukan pada malam hari, nama teknik ini molo. Sambil menyelam memanah ikan! Ikan kemudian dibakar atau digoreng dan dicocolkan ke colo-colo, semacam ‘sambal’ khas Ambon. Colo-colo ini hampir sama dengan dabu-dabu.

image

ikan-ikan cantik dari Ambon

Saya yang lagi kerajingan lari juga menyempatkan diri bergabung dengan warga Ambon berlari di lapangan Patimura yang terletak di depan Balaikota dan Kantor Gubernur. Lari di Ambon ternyata nggak semudah lari di GBK  karena panas (matahari jam 6 sore masih bersinar). Fakta menarik yang saya lihat dari memperhatikan orang, orang Ambon itu larinya cepat-cepat. Yang bikin saya agak risih, di lapangan ini bertebaran air liur. Rupanya banyak orang yang suka meludah, tak hanya di lapangan olahraga, tapi dimana-mana.

Di Ambon tak ada kemacetan, apalagi angkot yang memenuhi jalanan, seperti di Bogor. Struktur kota Ambon yang berbukit membuat kota ini tak memungkinkan punya jalan super lebar. Jadi jalannya kecil-kecil, berkelok dan naik turun. Moda transport ada berbagai macam, dari angkot, becak, ferry hingga ojek.  Abang ojeknya sungguh membingungkan karena tarif yang dikenakan: “Ibu beri saja”. Aduh, repot banget kalau udah kena tarif ini. Anyway, saya juga berkesempatan untuk joy ride panser di Ambon:

 Waktu diinformasikan bahwa saya akan dibawa joy ride, kepala saya sudah memikirkan harus naik dari sisi atas, celana robek dan nggak kuat ngangkat badan (karena pengalaman snorkeling di Amed, saya kesulitan mengangkat badan naik ke atas jukung). Ternyata, celana nggak robek karena pintunya otomatis. Di dalam terdapat AC, ada pegangan tangan seperti di dalam bis, serta tombol-tombol buat melucurkan granat. Panser ini MADE IN INDONESIA lho!

image

Kegirangan macam anak TK ketika berhasil naik panser

Saya juga berkesempatan menjenguk makan Mayor A.J. Meijer di dalam bekas benteng Victoria. Makam ini dikelilingi oleh pohon-pohon buah naga. Saya nggak tahu siapa si A.J Meijer ini, karena hasil google cuma menemukan website  dalam bahasa Belanda yang menyebutkan tentang ekspedisi Saparua. Sayang telpon genggam saya tak bisa menerjemahkan Wikipedia. Mungkin nanti harus saya terjemahkan ketika kembali ke Jakarta.

AJ Meijer

Makam AJ Meijer

Kecantikan Ambon ini sungguh menenangkan hati. Dimana mata memandang pemandangan hijau dan lautan yang cantik. Tapi hati rasanya tersayat ketika mendengar burung kakatua, serta nuri cantik berteriak-teriak dari dalam sangkar. Mungkin mereka meneriaki bapak-bapak yang sedang berjalan-jalan membawa tas berisikan burung-burung monogami ini (sekali mereka menemukan pasangan, mereka tak akan berganti-ganti lagi) yang bulu terbangnya dicabut, demi kepuasan hati manusia.

20140323_112523

Entah apa yang dilakukan polhut di Ambon. Saya mendengar banyak kakatua dan nuri yang teriak2 (Burung2 ini emang demen teriak)

Salam cinta dari Ambon,

Binbul

 

Cerita Pintu Cantik Dublin

Kalau beli kartu pos buat oleh-oleh, saya nggak pernah terlalu ribet memilih gambar. Pokoknya ada nama kota yang dipilih dan ada landmarknya, selesai. Pas milih kartu pos di Dublin, saya sering memperhatikan gambar pintu-pintu yang berwarna warni dengan aneka rupa gantungan pengetuk pintu. Model pintu ini pun mirip dan lebar-lebar. Apa istimewanya sih ini pintu sampai-sampai mereka bisa layak jadi kartu pos? Waktu nanya mas G, jawabannya simple: Georgian Doors, alias pintu-pintu dari era Georgia (ketika era itu ada empat raja bernama George yang memimpin Inggris dan juga Irlandia). Tapi jawaban itu nggak menjawab kenapa pintu ini layak diabadikan dalam kertas kecil dan dikirimkan ke seluruh penjuru dunia.

Jawaban atas mengapa pintu-pintu ini begitu terkenal, akhirnya saya temukan ketika saya berkeliling Dublin dengan hop on hop off bus. Bangunan Georgia dan tentunya pintu Georgia ini dibuat pada masa King George sekitar tahun 1700 – 1800-an. Kebanyakan bangunan ini berlantai empat yang terdiri dari basement, living room di lantai dua serta area kamar di lantai tiga dan empat. Basement sendiri berfungsi sebagai area masak-memasak, living room berfungsi sebagai area dining dan juga duduk-duduk. Jaman segitu nggak ada listrik, jadi nggak bisa duduk-duduk di living room sambil nonton tv kabel. Sedangkan area lantai tiga merupakan kamar tidur untuk para tuan dan nyonya, sedangkan area tertinggi untuk para pekerja rumah tangga.

IMG_8342

Saat itu ada aturan ketat yang mengatur tentang pembangunan rumah-rumah ini, pokoknya rumah-rumah harus kembar, pintunya harus lebar, harus simetris. Biar nggak kembar orang-orang mengecat pintunya berwarna-warni dan menambahkan aneka rupa elemen, termasuk pengetuk pintu. Konon saat Queen Victoria meninggal dunia, para horang kaya di Irlandia ini diminta untuk mengecat pintu-pintu tersebut menjadi hitam.

Pintu-pintu ini lebar banget, agak gak lazim dari lebar pintu biasa. Rupanya, pintunya sengaja didesain lebar supaya para perempuan di masa itu bisa masuk ke dalam rumah. Pakaian jaman dahulu kan lebar-lebar macam ada kandang ayam di bawah roknya. Kebayang kalau pintunya dibuat slim, bisa nyangkut itu rok di pintu.

Kenapa saya bilang orang yang punya pintu (dan tentunya rumah) Georgian ini kaya? Karena rumahnya punya beberapa jendela di tiap lantai dan pada jaman itu, pajak kaca itu mahal. Orang yang lebih kaya lagi biasanya meletakkan dua buah kaca kecil-kecil di samping pintu. Sejak tahu hal tersebut, saya jadi suka memperhatikan pintu-pintu itu untuk mencari tahu rumah yang punya dua kaca kecil di sisi pintu. Ternyata tak begitu banyak. Ngomong-ngomong soal pajak kaca, di Trinity College yang merupakan universitas terkemuka di Dublin bangunannya bertaburkan banyak kaca. Kira-kira universitas bikinan Queen Elizabeth the Virgin ini bayar pajak kaca juga gak ya.

Ely Place Dublin

Orang kaya, di samping kanan kirinya ada kaca.

Di atas pintu-pintu ini juga ada kaca yang berbentuk setengah lingkaran. Pada sedikit pintu, ada bagian kaca yang agak menggelembung keluar. Rupanya, disanalah lampu-lampu dipasangkan untuk menerangi living room. Saya tak tahu bagaimana wujud lampunya, tapi dalam bayangan lampunya kayak lampu teplok yang biasa dibawa abang-abang nasi goreng kali ya, tapi lebih gendut.

Pintu Rumah Orang Kaya

Yang bagian atas tempat lampu teplok

Beberapa bangungan ini sempat dihancurkan karena dianggap sebagai simbol penjajahan Inggris di Irlandia. Namun, masyarakat Dublin kemudian sadar kalau banyak turis yang tertarik dengan pintu ini. Bahkan pintu-pintu ini jadi salah satu landmarknya Dublin. Kalau saya tak salah mengingat, seorang fotografer di New York lah yang punya peran mempopulerkan pintu-pintu ini pada dunia.

Bangunan ini sekarang banyak yang berfungsi jadi restaurant, Hotel, atau bahkan kantor. Ada juga yang berfungsi jadi Museum, salah satunya Dublin Writer Museum. Semoga kalian semua yang baca postingan ini satu saat nanti berkempatan ke Dublin untuk melihat warna-warninya pintu-pintu ini. Atau, kalau berminat mendapatkan kartu pos, seperti Ira, boleh kontak saya kalau lagi di Dublin, musim gugur ini.

Biar telat, Happy St. Patrick’s Day! Slainte!

 

Salam Cinta dari Ambon,

Binbul

Tertikam Pilu di Serambi Mekkah

Dari pasca tsunami hingga saat ini, tak terhitung berapa kali saya menjejak di Aceh, menikmati ayam tangkapnya, asam udangnya dan menghirup aroma kopinya. Ada banyak tempat menarik di Banda Aceh, tapi dua yang paling saya rekomendasikan adalah PLTD Apung dan Kedai Kopi Jasa Ayah.

PLTD Apung                                         

Setiap kali naik ke PLTD ini hati saya pilu dan tersayat, teringat  ratusan ribu saudara kita di Aceh yang tahun 2004 lalu diguncang gempa besar lalu dihempas tsunami. Begitu kuatnya tsunami sampai-sampai kapal seberat 2.600 ton yang saat itu berada di laut terseret hingga sejauh 3 KM ke daerah Plunge Blang Cut dan dan menimpa beberapa rumah di bawahnya. Konon di bawah kapal ini ada beberapa jenazah yang tak pernah bisa dipindahkan.

CIMG6154

View from the top

Waktu awal saya kesini, tak ada pungutan ataupun batas jam kunjungan. Tapi tahun kemarin ketika saya kembali, banyak hal yang berubah. Area sekitar PLTD sudah ditutup pagar rapi dan pengunjung tak boleh masuk saat waktu Sholat tiba karena pagar dikunci. Berapa biaya masuknya? Gratis!

IMG_2794

Bajunya harus sopan ya, kalau gak sopan nanti ditangkap Polisi Syariah

Warung Kopi Jasa Ayah

Seorang rekan yang juga ex-combatant bercerita bahwa sebelum perjanjian damai di Aceh ditandatangani, kedai kopi yang berada di Ulee Kareng ini sering disinggahi para Tentara Indonesia dan juga petinggi GAM. Rupanya ketika di dalam warung kopi, baku tembak terlupakan. Bagaimana tak lupa jika kedai ini menawarkan aneka rupa kopi yang nikmatnya menusuk kalbu. Beberapa kopi racikan Aceh yang khas antara lain kopi hitam tanpa campuran apapun, kopi susu yang memadukan susu dan kopi, juga kopi sanger yang berisikan kopi, susu kental manis, serta gula. Untuk menambah energi, sekali-sekali cobalah kopi kocok yang dicampur dengan kuning telur ayam kampung. Kopi –kopi ini disajikan bisa dingin ataupun panas, sesuai selerai.  Harga kopi ini pun tergolong murah karena tak mencapai sepuluh ribu rupiah per gelas. Yang istimewa, minum kopi di Aceh juga ditemani aneka rupa jajanan nikmat yang lagi-lagi harganya bersahabat dengan kantong.

Kopi Solong

Nama warungnya Jasa Ayah, tapi lebih ngetop dipanggil Solong Coffee karena pemilihnya bernama Abu Solong

Kendati tak ada larangan bagi perempuan untuk duduk di kedai kopi, jumlah pria di kedai kopi jauh lebih banyak ketimbang perempuan. Jarang sekali saya melihat perempuan nongkrong di kedai Kopi Jasa Ayah. Uniknya di Kedai Kopi Solong ini, nama lain Kedai Kopi Jasa Ayah, tak ada Wifi. Rupanya interaksi antar manusia dianggap lebih penting ketimbang interaksi dunia maya.

Tsunami yang memporak-porandakan beberapa wilayah Aceh tak mampu menghancurkan keelokan wilayah ini. Kini, setelah lebih dari 8 tahun perjanjian damai di tandatangani, para penyuka jalan-jalan dapat dengan mudah mengakses Banda Aceh tanpa rasa takut akan letusan senjata. Untuk mendapatkan penerbangan ke Bandara Sultan Iskandar Muda yang murah, silahkan cari tiket pakai www.skyscanner.co.id. Skyscanner ini website pencari tiket termurah, bukan website buat jualan tiket. Biasanya pemburu tiket murah kan suka buka banyak tabs di komputernya, pegang pensil dan bikin coretan harga-harga tiket. Sudah nggak jaman lagi karena sudah ada skyscanner, jutaan penerbangan akan kelihatan harganya dan bisa disortir harga yang paling murah, lama penerbangan, hingga maskapainya. Jadi bisa lebih hemat & kalau hemat uangnya bisa buat beli oleh-oleh khas Aceh, ayam tangkap, pia sabang atau bubuk kopi Solong!

Anyway, di atas saya nggak nulis gimana caranya mencapai tempat-tempat tersebut. Harap maklum, di Aceh nggak ada taksi, jadi kalau mau keliling-keliling harus sewa mobil. Berita baiknya, sewa mobil (dan juga hotel) bisa dicari via www.Skyscanner.co.id. Praktis kan?

Skyscanner 1

Skyscanner juga sudah ada aplikasi androidnya, jadi kalau bengong mending cari tiket murah di HP. Hasilnya, minggu depan ke Ambon dan akhir bulan saya ke Bali #pamcol.

Kalau kamu habis ini pengen liburan kemana?

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi #SkyscannerSeru #WisataIndonesiaKita Bloscars 2014.