Dikejar Oom-Oom di Pantai Base G

Pantai Base G konon merupakan salah satu pantai yang bayak disukai dan mudah diakses karena lokasinya tak jauh dari tengah kota. Selain terkenal karena keindahannya, pantai ini juga terkenal karena kemahalannya. Masuk ke lokasi pantai bayar sepuluh ribu, parkir kendaraan bayar lima puluh ribu, duduk di salah satu balai-balainya bayar – konon hingga dua ratus ribu, bahkan ada guyonan, sewa tikar bayar, nanti menggelar tikar sewaannya pun harus bayar.

 Senja di Base G

Kami tak berencana untuk duduk lama-lama di pantai itu, karena males dengan urusan bayar-membayarnya. Mobil sewaan kami tinggalkan dalam keadaan hidup, bersebelahan dengan mobil yaris warna merah. Baru juga kami meninggalkan mobil, kami sudah diteriaki dengan galak Bapak parkir. Mendadak, Oom-oom di mobil Yaris merah mengatakan pada pengemudi kami, dia yang akan atur semuanya. Melengganglah kami, tanpa prasangka apa-apa. Sementara bapak tukang parkir dipanggil Oom-oom dalam mobil, dan entah bagaimana, tiba-tiba si bapak yang galak itu tersenyum-senyum sambil menggangguk-angguk.

Konon pantai ini digunakan latihan lari pemain Persipura. Pasirnya bikin terjerembab kalau jalan kaki, lha jalan aja susah kok lari..

Ailsa in base G

Seperti di banyak tempat di Jayapura, pantai ini juga diwarnai oleh bekas ludah berwarna merah. Tak hanya itu, sampah pun merusak keindahan pantai ini. Sungguh disayangkan.

sampah di Base G

photo milik penulis

Nggak sampai sejam, kami pun kembali ke kendaraan. Masuk mobil, semuanya masih aman-aman. Begitu beranjak meninggalkan area parkir, pengemudi kami tiba-tiba memencet klakson dan melambai pada si mobil merah. Tiba-tiba mobil merah pun mengikuti kendaraan kami, mengejar rupanya. Eh maaf ya yang ngebayangin kejar-kejaran ala film India, kejar-kejarannya gak seheboh itu. Hadeuh, jadilah kami nyuruh si pengemudi untuk ngebut dan untungnya kami berhasil menghindari kejaran Oom-oom yang ternyata mabuk.

Kata pengemudi kami, orang-orang yang naik Yaris di Jayapura itu gaya doang, karena dengan struktrur berbukit gitu, mobil sedan nggak cocok. Biasanya mereka yang pakai sedan adalah pejabat yang gaya-gayaan doang. Baiklah, dicatat: kami dikejar Oom-oom dengan mobil merah yang mabuk dan gaya-gayaan doang. Tak apalah dikejar, nggak ketangkep juga, dan yang paling penting, kami gak bayar parkir di pantai base G. Lima puluh ribu bow!

Selain ke pantai base G, kami juga pergi ke Pantai Harlem; ini pantai tenang dan masih jarang terjamah. . Cerita tentang Harlem akan saya susulkan pada postingan berikutnya yah. Saya kasih intip bintang utama dari perjalanan saya di Harlem kemarin ya, Miyeki dan kapal kecilnya:

Miyeki Harlem

 

 

Melihat Koleksi Al-Qur’an di Chester Beatty Library

Terletak di belakang Dublin Castle, museum ini dinobatkan sebagai salah satu museum terbaik di Eropa. Tak heran jika Chester Beatty yang dinamakan dari nama sang kolektor penyimpan benda-benda di museum ini dinobatkan menjadi yang terbaik. Berikut cerita saya menyusuri satu-persatu koleksi museum yang digratiskan ini.

Membawa tas masuk ke dalam museum tak diperkenankan, sehingga kami harus menitipkan tas ke dalam loker. Awalnya, saya dan pasangan berkutat selama beberapa menit untuk mengunci loker ini, yang ternyata baru bisa dikunci jika kami meninggalkan deposit 1 Euro. Kenorakan kami ini sebaiknya tidak ditiru jika kalian berkesempatan menengok museum ini.

Koleksi di dalam museum ini merupakan hasil perburuan Sir Alfred Chester Beatty, pengusaha tambang yang juga warga negara kehormatan Irlandia yang pertama. Bapak kaya raya ini punya hobi unik mengumpulkan aneka rupa barang-barang bersejarah dari aneka sudut dunia. Nggak main-main, beliau juga mempekerjakan Kurator dari Museum di Perancis dan Inggris untuk membantu memilih “belanjaannya”.

Koleksinya beraneka rupa, tapi bagi saya highlight dari museum ini adalah koleksi aneka rupa Qur’an kuno dari berbagai wilayah. Konon koleksi Qur’an di Museum ini adalah yang terbanyak di luar Timur Tengah. Bahkan, ada juga Qur’an bergambar warna-warni, sangatlah cantik. Pewarnaan dari Qur’an ini juga menggunakan aneka macam batu berharga, seperti batu malachite untuk warna warna hijau), emas, perak dan batu-batu berharga lainnya. Rupanya, memberikan gambar pada Qur’an merupakan hal-hal yang dianggap tabu bagi agama Islam. Selain mengkoleksi Qur’an, ada aneka rupa koleksi dari berbagai agama lain, termasuk Sikh, Hindu, Budha dan juga Jainism. Ada juga aneka rupa koleksi bible. Saya bahkan menemukan sebuah lonceng/ genta dari Dalai Lama yang diberikan kepada Chester Beatty.

Jejak Indonesia sendiri bisa ditemukan pada sebuah sudut khusus yang memajang aneka rupa manuscript dari Batak. Selain itu, ada juga sebuah lukisan barathayuda dari Jawa yang konon dari tahun 1930an. Perasaan saya senang dan bercampur aduk ketika melihat jejak nusantara ini, di satu sisi karena barang-barang tersebut sangat terjaga, tetapi di sisi lain gemas karena barang tersebut berakhir di negara lain.

Banyak koleksi-koleksi lain yang menarik di museum ini, termasuk aneka rupa snuff bottle, botol kecil untuk menyimpan tembakau. Pada jamannya dulu, merokok rupanya tidak diperkenankan, sehingga orang-orang China menyimpan bubuk tembakau untuk dihirup. Botol-botol mungkin ini diukir dengan indahnya dan ukurannya sangatlah mungil.

snuff bottles

Photo: cbl.ie

Pada saat saya mengunjungi museum ini, ada pameran Costumes Parisien, pameran fashion plates dari tahun 1912-1914. Rupanya jaman dulu tante-tante Paris itu kalau ganti baju tiga sampai empat kali dan bajunya cakep-cakep. Tak hanya pakaian, tapi juga dipamerkan kipas raksasa berbahan bulu (yang saya lupa nama hewannya), saking gedenya kipas ini nampaknya harus dibawakan oleh orang lain. Konon istrinya Beatty ini juga suka belanja baju, kalau disamakan dengan dollar hari ini, si istri biasanya menghabiskan 21,000 dollar untuk belanja baju aja. Halah Tante, kalau jaman sekarang mah uang segitu cuma cukup buat beli sebiji tas di Hermes. Menariknya, pameran-pameran di Museum ini berganti tema setiap saat, karena banyaknya barang yang dikoleksi oleh Chester Beatty.

Museum gratisan ini tak main-main dalam menyediakan fasilitas. Pintu-pintu otomatis bahkan dilengkapi dengan tombol khusus bagi penyandang disabilitas yang duduk di kursi roda. Saya juga menemukan sudut dimana keluarga bisa duduk dan menggambar. Saya bahkan menemukan sepasang orang dewasa yang sibuk menggambar dan mewarnai di kartu sebesar kartu pos. Di lantai bawah museum ini juga disediakan coffee shop serta toko suvenir yang menjual pernak-pernik yang terinspirasi dari koleksi Cheaster Beatty.

Di bagian atas museum ini terdapat roof top garden, yang sayangnya pada hari itu tak dibuka karena alasan keselamatan. Beberapa hari ini di Irlandia memang hujan rintik-rintik tapi awet diwarnai dengan angin kencang (yang suaranya bikin gak bisa tidur). Dan saya pun semakin takjub lagi karena alasan keamanan supaya orang tak terpleset pintu pun ditutup.

Museum ini jadi mengingatkan saya pada Museum di Tengah Kebun di Kemang. Museum tersebut merupakan kediaman pribadi seorang Bapak yang doyan koleksi benda-benda antik. Salah satu koleksinya yang melekat di kepala saya adalah patung Budha Bule, dan juga kursinya Henry VIII yang sangat kecil.

Di akhir kunjungan, saya pun hanya bisa terpukau karena hobi belanja Chester Beatty, yang sangat berguna bagi generasi selanjutnya. Silahkan tengok disini untuk melihat informasi lebih lanjut tentang museum ini.

Xx,
Ailtje

Mengunjungi Pulau Cheng Chau di Hong Kong

Tadinya, saya akan diajak ke sebuah pulau cantik, tapi karena kami tak menemukan dermaga keberangkatan (dan baru ketemu saat kembali),  kami secara random pergi ke pulau Cheung Chau di Hong Kong. Pulau ini bisa ditempuh dengan kapal cepat selama 20 menit saja. Soal ongkos jangan tanya karena kami hanya nempel-nempelin Octopus Card, kartu ajaib Hong Kong yang bisa dipakai buat bayar hampir apa saja.

Pulau kecil ini lumayan cantik  dengan pasir pantai yang besar layaknya di Lombok. Pasarnya dipenuni dengan ikan kering dan ikan asin hasil tangkapan para nelayan. Saya ini penggemar toilet publik, jadi begitu nemu toilet saya pun langsung masuk dan toiletnya bersih sodara-sodara. Bangsa yang beradab, buat saya adalah bangsa yang tahu bagaimana merawat toiletnya. Toiletnya kering, dilengkapi dengan tisu, nggak bau pesing dan flushnya pakai kaki, cukup injak pedalnya. Toilet untuk penyandang disabilitas juga tersedia lho. Rupanya ada mekanisme kontrol dari masyarakat untuk memonitor pelayanan yang diberikan kontraktor toilet dan ajakan itu ditempelkan di dalam toilet.

IMG_8178

Di dalam pasar nggak boleh merokok. Di banyak tempat di HK merokok memang dilarang

Image

Sepeda para nenek pun roda empat. Tengoklah di depannya ada bapak geret koper.

Kami tadinya berjalan berkeliling hingga menemukan persewaan  sepeda, lalu menyusuri pulau kecil ini dengan sepeda sewaan. Nyewa sepeda dibandrol dengan harga 20 HKD per jamnya, tapi perlu ninggal uang jaminan 100 HKD (sekitar 150ribu rupiah). Alat transportasi utama di pulau ini rupanya sepeda, tapi dilarang berboncengan, entah mengapa. Mungkin potensi jatuh, apalagi ketiup angin lebih gede ketika boncengan. Kalau nekat boncengan bisa didenda hingga 2000 HKD. Sadis!

Image

Satu hal lagi yang saya perhatikan, orang Hong Kong itu kalau kemana-mana suka bawa koper gede. Entah apa isinya, tapi dari Ngo Ping sampai restaurant top kami selalu menemukan orang yang bawa koper. Ada seorang bapak yang saya tengok bawa koper besar berisikan tabung oksigen dan si Bapak juga bernapas pakai kabel oksigen yang disambungkan dengan kopernya. Misteri isi koper lainnya hanya Tuhan dan sang pemilik koper yang tahu.

Makanan di pulau Cheng Chau tidak terlalu “murah”, kami membayar 100 HKD sekitar 120 ribu rupiah untuk makan siang berdua di warung biasa-biasa saja. Uniknya jus jeruknya asli jeruk, saking aslinya itu cuma jeruk yang dikupas lalu dicacah ke dalam gelas. Jadi minumnya pakai usaha karena nyari cairan. Seperti dibanyak tempat di Hong Kong, makanan halal susah ditemukan. Untungnya sapi juga tak banyak dilibatkan dalam menu makanan Hong Kong, jadi saya yang tak makan sapi pun bahagia.

Image

Warung Ikan Asin tanpa Ikan Hiu

Pulau ini bisa di jelajah dalam waktu singkat dan bisa langsung pulang hari. Kami kembali sekitar pukul 4 sore dengan feri lambat yang memakan waktu 40 menit. Worth the visit, lumayan cari angin segar, sebelum malamnya demam tinggi karena DBD.

IMG_8177

Public library dan penyandang difabel

Gimana ada yang berminat mengunjungi pulau kecil ini?

Nyasar Dramatik di Hong Kong

Gara-gara demam berdarah, jarak pandang tersisa  50 cm saja. Saya yang belum sadar kalau sedang terkena DBD tapi sadar sedang sakit, hanya bisa jalan perlahan menuju KJRI di Hong Kong. Mendadak, pasangan saya yang tadinya disamping hilang dari pandangan mata. Parahnya, saya tak punya kartu identitas, hanya memegang kartu Octopus (kartu tram di HK) serta uang 7 dollar saja. Baterai handphone yang saya pegang juga tinggal 15% sementara power bank dan semua dokumen ada di tas ransel yang dibawa pasangan. Mau lemes rasanya sudah tak bisa karena sudah lemas. Sementara otak tak bisa mikir dengan cepat.

Kami sudah keliling beberapa negara bersama dan baru kali ini terpisah sampai berjam-jam. Kok ya pas sebelum nyasar kami sempat diskusi kalau nyasar berjanji untuk diamdi suatu tempat. Sesuai instruksi, saya pun diam duduk hingga pukul 14.00 dan saya tak kunjung dijemput juga. Otak juga gak kepikiran untuk cari KJRI Indonesia, pokoknya duduk diam kedinginan di pinggir jalan macam homeless. Saking gemasnya, penjaga sebuah toko bahkan berniat panggil Polisi yang saya bilang tunggu hingga dijemput. Tak kunjung dijemput, maka sayapun berdiri dan cegat taksi tanpa uang satu sen pun, minta diantar ke Harbour Hotel Hong Kong. Pas ditanya alamat dimana, cuma bisa jawab: it’s a five stars hotel. Pengemudi pertama menurunkan saya langsung on the spot karena nggak tahu si hotel di mana. Pengemudi kedua berbaik hati mengantar saya, tapi ke hotel Harbour Hotel yang plus plus di daerah Mong Kok. Nggak dibayar pula, pas saya janji akan bayar saya minta nomer HP si bapak. Entah kenapa nomer telpon itu sekarang nggak ketemu di sudut celana. Duh merasa dosa banget karena belum bayar taksi dan nggak nemu nomer telpon si Bapak. Minta tolong sama resepsionis untuk dicariin Harbour Hotel yang sesungguhnya, dia nggak mau bantu. Alasannya: ” I just came back from UK, I don’t know”. Halah mas…

Akhirnya saya nelpon temen orang Indonesia sambil nunggu di lobi, tidur. Dijemput temen (aduh saya utang nyawa deh sama mbak Rosidah ini), dibawa ke MRT terus dibawa ke North Point. Sudah sampai di North Point, naik taksi ke Harbour hotel lagi, eh kembali lagi ke hotel yang sama, huhuhu pengen nangis banget. Sama si pengemudi saya dibawa muter-muter Mong Kok sampai argo taksi mencapai HKD 200. Dia teriak-teriak money…money. Uang 100 HKD pemberian teman saya simpan di dalam kantong dan tidak saya serahkan sampai saya tiba di hotel yang sesungguhnya. Akhirnya di pengemudi gemes, saya pun diserahkan ke pak Polisi. Sudah menyerahkan ke pak Polisi, si Pak Supir masih nekat teriak money…money. Oleh si Pak Polisi, si pengemudi di halau dan diomeli panjang lebar & saya pun dibebaskan dari ongkos taksi 200 dollar.

Pak Polisi lalu minta passport dan tentunya saya tak bisa tunjukkan. Minta Indonesian ID apalagi. Pusinglah pak Polisi. Saya cuma bisa bilang: five stars hotel calls Harbour Hotel. Nanya nomer HP yang bisa dihubungi, HP saya mati. Akhirnya dibawalah saya ke kantor polisi naik mobil polisi bersama pak Polisi. Serunya pak Polisi  memastikan saya pasang sabuk pengaman.

Tiba di kantor polisi, saya pun minta charger handphone dan dicarikan oleh pak Polisi. Begitu tersambung dengan charger saya pun langsung telpon minta dijemput di Mong Kong Police Station. Fiuh…..begitu dijemput rasanya lega. Biarpun dimarahin abis-abisan saya cuma bisa ngangguk-ngangguk sembari hampir nangis. Baru deh stressnya muncul. Hilang di Hong Kong dalam kondisi DBD bukan cita-cita saya.

Pelajaran berharga

Dalam setiap bencana orang lain harus ada pelajaran yang bisa diambil, pelajaran paling utama yang perlu anda ambil:

  1. Jangan terkena gigitan nyamuk DBD dimanapun, apalagi kalau mau liburan.
  2. Jangan pernah serahkan ID pada pasangan, lebih baik bawa sendiri.
  3. Catat baik-baik alamat hotel, apalagi kalau nama hotelnya pasaran. Hotel saya sendiri baru ketahuan namanya Harbour Grand dan lokasinya jauh dari hotel plus-plus.
  4. Pastikan bahwa baterai handphone ada isinya dan bawalah selalu power bank, rempong dikit nggak papa. Duh smartphone ini ngakunya smart tapi baterainya ancur-ancuran.

Saya sukses nggak makan dari jam 11 siang sampai ditemukan jam 8 malam. Jadi pastikan selalu ada makanan kecil di dalam tas, daripada kelaparan seperti saya.

  1. Image

    Biar nyasar masih bisa cengar-cengir kayak si Moose

Ada yang pernah nyasar di negeri orang? 

Belajar Membatik di Bandung

Ramadhan buat saya adalah bulan yang paling tepat untuk jalan-jalan dan wisata kuliner, karena mayoritas orang Indonesia beribadah bersama keluarga di rumah. Kali ini saya dengan @NonAling, @venniem dan @mario_sir berencana menjajal kuliner Bandung, tapi akhirnya urung setelah perut terisi makanan berlimpah dari warung Cepot.

Akhirnya kami memutuskan untuk ikut acara launching buku Iwet Ramadhan, Cerita Batik, yang dibarengi dengan belajar membatik. Sebenernya saya udah pesimis aja dengan belajar membatik, dulu jaman kuliah di Malang saya pernah mengeluarkan uang 250ribu untuk belajar batik. Hasilnya, batik abstrak mirip tulisan anak TK.

Kali ini, biaya mengikuti kursus dibandrol 70k, sudah termasuk attack batik cleaner, majalah Elle edisi lawas banget dan bukunya Iwet. Tapi dengan keberuntungan (bini) Irish, kami ga perlu bayar. Terimakasih pada dewa hujan yang hari itu mengguyur Bandung.

image
Hasil karya saya, batik parang rusak. Rusak beneran!

Buku Cerita Batik

Kalau biasanya buku batik dibandrol dengan harga mahal, dibuat bule, kali ini kita perlu berbangga hati karena buku ini dibuat anak bangsa yang prihatin dengan kondisi perbatikan. Buku ini juga penuh gambar berwarna serta cerita di balik motif kain batik, makanya judulnya pun cerita batik. Uniknya, di dalam buku ini terdapat tiga potong kain batik, yang satu batik print, batik cap dan batik tulis. Catat ya, batik print itu bukan batik, tapi cuma kain bermotif batik.

Saat peluncuran itu, Iwet juga membagi ilmunya tentang motif, makna dan doa pada setiap batik. Salah satu motif yang kami pelajari adalah mega mendung, yang ternyata motif China bikinan Sunan Kalijaga untuk seorang putri China. Gara-gara dibikinkan motif ini, si putri Cina kelepek-kelepek jatuh hati pada sang Sunan dan dipersunting jadi istri kesekian.

image
Putri Cina dan Batik Megamendung. Semoga sang putri cepat dapat jodoh dan tidak dipoligami.

Ada juga motif tambal yang digunakan sebagai alas melahirkan oleh seorang ibu. Jadi batik ini akan berlumuran darah dan air ketuban si Ibu. Si Bapak yang nantinya harus nyuci kain ini. Di kemudian hari, jika anak sakit, kain batik motif tambal ini yang akan digunakan untuk menyelimuti si anak. Nanti kalau saya punya anak dengan mas bule, dia sudi gak ya nyuci kain batik tambal?

Tips Merawat Batik

Kain batik itu bikinnya penuh perjuangan. Pewarnaannya juga special. Konon, lilin yang digunakan untuk mengandung minyak dari buah pinus serta bahan alami lainnya. Jadi, kalau nyuci batik sebaiknya gunakan lerak. Menyimpannya pun harus hati-hati dan tidak boleh dekat dengan kapur barus. Daripada repot, mendingan nyuci batik pakai attack batik cleaner aja, praktis. Catat baik-batik ya, nyuci kain batik dilarang pakai mesin cuci.

Gak afdol bikin acara kalau ga ada kuisnya. Nah kami bertiga bersemangat sekali untuk menyapu bersih hadiah yang diberikan. Kata Iwet kami ini ambisius banget. Ya maklum, trio ambisius ini sudah diberi ilmu batik di Pekalongan dan Madura, jadi malu kalau gak pulang bawa hadiah. Sang Ratu Kuis berhasil membawa persediaan attack selama satu tahun serta kaos Tik Shirt. Sementara saya, berhasil membawa satu buah kaos Tik Shirt. Non Aling gak kebagian hadiah disini, tapi dia kebagian hadiah setelah kalap belanja di Rumah Mode

image
Ratu Kuis @venniem yang berhasil memborong hadiah.

Acara batik ini rencananya akan diadakan lagi di Yogyakarta dan Surabaya. Sementara di Jakarta rencananya akan diadakan pada bulan Oktober. Kalau nggak mau ketinggalan pantengin terus twitter @iwetramadhan dan @elleindonesia.

 
Tjetje
Bukan tulisan berbayar

Pulau Tunda: Surganya Kambing

Kumpul di Slipi Jaya jam 9.
Sampai di Pakupatan jam 1130
Nyambung ke Karangantu
naik boat ke Pulau Tunda jam 2
tiba di home stay jam 4 pagi

Waktu baca itinerary yang ambisius ini saya sempet malas ngikut, apalagi kondisi badan lagi teler. Tapi karena sudah bayar DP, akhirnya berangkat aja. Semuanya #DemiPulauTunda, demi lihat lumba-lumba.

Perawan di Sarang Penyamun

Dari Slipi, kami naik bis menuju Merak. Rombongan berangkat dalam grup kecil karena ga ada bis kosong. Bayarnya 20k, tapi kalau naik primajasa 17k. Setelah 5 menit berdiri, saya dipersilakan duduk di bagian belakang bis yang wujudnya tampak seperti akuarium di karaoke plus-plus. Ada 11 pria, saya jadi satu-satunya perempuan. Ya sudahlah. Mereka kasih komentar usil masih bisa dicuekin, lagu dangdut dari hp murahan  masih bisa dicuekin, begitu ada yang ngrokok saya pindah deh ke depan, berdiri lagi. Nggak lama setelah berdiri, dapat kursi, niatnya sih mau tidur, tapi belum sempat tidur, eh sudah sampai di Terminal bis Pakupatan, Serang. Dari Slipi ke Serang memakan waktu sekitar 2.5 jam saja, tanpa macet. Sampai di terminal kami disambut 2 angkot yang siap mengangkut ke tempat Pelelangan Karang Antu.

image

Bule Pakistan

Semua orang sudah duduk manis di dalam angkot, tiba-tiba mobil polisi dengan lampu diskonya berhenti di tengah jalan. Pak Polisi kemudian nanya-nanya tujuan kita. Setelah itu si Bapak nanya dokumen seorang WNA yang ada di rombongan kami. Alasannya: imigran gelap dari Pakistan, padahal itu WNA itu tak terlihat seperti orang Pakistan. Karakter fisiknya sangat barat/ bule, lalu Pakistan dari mana coba? Dalam situasi seperti ini, apalagi udah bertele-tele, daripada dimintai uang ataupun digeret ke kantor polisi, saya pun mengeluarkan kartu identitas sakti, kali ini berhasil.

Syah Bandar

Ga cuma di terminal, di Pelelangan ikan Karang Antu, bule lagi-lagi jadi masalah. Alasannya sekali lagi: imigran gelap asal Pakistan. Entah pegawai kantor Syah bandar ini udah BBM-an sama pak polisi, atau emang orang Serang mengasumsikan semua bule aslinya Pakistan. Tiga puluh menit lebih temen saya urusan sama pegawai sudah bandar, panjang bener nggak selesai-selesai. Akhirnya saya turun, sekali lagi ngeluarin kartu identitas ajaib. Nggak pakai ngomel, cukup pasang muka tegas. Urusan bule selesai, eh kali ini dipermasalahkan urusan ijin berlayar, karena kapal yang kami tumpangi adalah hapal nelayan bukan untuk angkut manusia.

Duh ini pegawai kantor Syah Bandar kalau emang ada masalah itu mestinya semua masalah dikeluarkan semua, jadi nggak satu-satu, terkesan cari perkara. Alasan bapak-bapak ini, tanpa ijin berlayar mereka takut kalau ada patroli, resiko tertangkap patroli adalah: penjara. Solusinya, bapak nahkoda kami harus menghubungi seorang petinggi, minta ijin. Setelah bergelut nelpon, akhirnya kami pun diperbolehkan berlayar di tengah malam, dengan kapal nelayan, tanpa life jacket. Duh bertaruh nyawa deh.

Kambing, Kambing dan Kambing

Menjelang subuh kami sampai di pulau ini, ga disambut karpet merah tapi disambut hamparan mutiara hitam, kotoran kambing. Rupanya, kambing di sini dilepas untuk gaul bersama kucing, ayam dan bebek. Berebut tulang ikan, sumpah ga bohong, kambing di sini makan ikan.

Beberapa kambing yang terkantuk-kantuk terpaksa menyingkir dari tengah jalan demi memberi ruang pada rombongan kami yang malam itu berbagi tikar dan satu toilet di rumah pink di belakang sekolah. Satu toilet 26 orang, jangan tanya gimana antri nya kalau sakit perut!

image

Kapal nelayan ini dibandrol 80 juta

Pulau ini berpenduduk kurang lebih 1000 jiwa, semuanya Muslim. Jadi jangan coba2 jalan-jalan menggunakan bikini. Pakai baju lengkap saja jadi tontonan, apalagi bikini. Rupanya, pulau ini tak populer untuk snorkeling, kami merupakan satu-satunya rombongan turis snorkeling. Rombongan lainnya adalah rombongan pemancing, tapi nggak heboh kayak kami, jadi nggak layak jadi tontonan. Pulau ini punya Masjid, tapi belum jadi, ga punya dokter, tapi punya bidan & ruang bersalin. Transportasi publiknya, kapal kuning Tunda Express hanya ada pada hari Sabtu, Senin dan Rabu, ongkosnya 15k/kepala. Di luar hari tersebut, sang kapten bersedia mengantar asal rombongan terdiri dari 70 orang.

Snorkeling

Ga ada wisata lain yang bisa dilakukan di sini, cuma snorkeling. Spotsnya OK, bahkan nggak perlu turun pun bisa terlihat dari atas. Karena cuma ada dua spots, jadi jam dua siang pun kami sudah selesai. Selain snorkeling? tangkap kambing aja deh. Bisa juga jalan ke pantai yang cuma seiprit & kotor! Kalau punya keberanian bisa juga olahraga naik ke atas lighthouse.

Keesokan paginya kami sempat berburu lumba-lumba dengan muterin pulau ini, 360 derajat. Jarak tempuh 45 menit, lumayan sambil berjemur di atas kapal pagi-pagi. Kami nggak ketemu lumba-lumba, ternyata ini bukan daerah lumba-lumba. Dulu pernah ada grup yang ketemu, karena mereka lagi beruntung. Jadi kalau ke pulau ini, mendingan gak usah ngarep lihat lumba-lumba, tapi ngarep lihat  kapal tanker & kapal penambang pasir, pasti ketemu. Konon pasir yang dikeruk dari sini untuk Ancol!

image

Uniknya, air sumur di pulau ini nggak payau, jadi seger nggak lengket. Kalau mau mandi mesti nimba dulu ya. Lumayan olahraga. Biarpun ada mesin penyedot listik, kalau siang mesin itu gak jalan, karena listrinya gak ada. Mestinya kami kemaren ngajak pak Dahlan Iskan di rombongan supaya beliau tahu kalau listrik di pulau Tunda cuma ada di malam hari, sedangkan kalau siang mati.

image

Perlu dicatat makanan disini cukup sederhana. Sarapan dan makan siang kami ikan, nasi & oseng kulit belinjo. Sementara makan malamnya nasi goreng, mie goreng & ikan bakar. Kualitas makanannya belum seperti di pulau-pulau lain di kepulauan 1000, tapi justru karena kesederhanannya itulah pulau ini jadi berbeda.

Berhubung cuma bisa snorkeling & ga ada hiburan lain yang bisa dilakukan. Jadi pulau ini hanya disarankan untuk dikunjungi eksekutif muda yang gak bisa lepas dari gadget. Alamat bakal fresh kepalanya, karena tak ada sinyal Simpati. Sementara sinyal XL & Indosat hanya muncul di beberapa tempat, itupun harus jalan ke pinggir pantai.

Berminat ke Pulau Tunda?

 

Halo Kota Metro Lampung

Ada yang pernah tahu kota Metro ada di mana? Kota ini ternyata ada di provinsi Lampung, sekitar 50 km dari Bandar Lampung atau 30 menit dari bandara Raden Inten. Pekerjaan membawa saya untuk mengunjungi kotanya gajah ini untuk berbincang urusan disabilitas selama dua hari satu malam. Sebagai penduduk Jakarta, keluar dari metropolitan untuk menuju ke kota kecil yang dipenuhi dengan pepohonan hijau, kanal di pinggir sungai serta sawah-sawah itu merupakan sebuah kemewahan tersendiri.

image

Tidur di mana?
Saya menginap di Hotel NUBAN yang terletak di tengah kota dan hanya selemparan batu dari terminal. Kota ini nampaknya masih konservatif dan melarang perempuan untuk menginap sendirian tanpa ijin tertulis dari perusahaan ataupun keluarga. Untungnya saya tak diminta menyediakan surat-surat itu, mungkin karena pihak pemerintahan yang membantu proses booking hotel saya. Ketika saya berada disana, harga kamar non VIP dibandrol 250rb, termasuk AC dan sarapan, no hot water, cuma ada ember biru untuk menampung air. Sementara untuk kamar VIP dibandrol 275 termasuk bath tub dan wastafel. Biarpun ada bath tubnya, saya rasanya gak tega masuk. Kamarnya sendiri cukup luas dan layak untuk menginap dalam jangka pendek.

Sarapan pagi disiapkan di atas baki dan diletakkan di depan kamar. Menu sarapannya sederhana, terdiri dari roti, termos air panas, teh serta kopi. Sambil menikmati sarapan saya bisa menikmati pemandangan yang lagi-lagi buat saya adalah kemewahan, sapi sedang bermandikan cahaya matahari pagi. Setelah sarapan, saya diberkati dengan pemandangan cantik: matahari memandikan sapi dengan cahaya matahari pagi.

image

Sapi ini ketakutan ketika saya dekati

Ngapain aja?

Selain memandangi sawah dan kanal-kanal yang dibangun disekitar sawah, alternatif hiburan di kota Metro adalah jalan ke taman kotanya, atau alun-alun. Pemandangan menarik yang saya lihat adalah becak gajah mengelilingi kota. Di taman kota ini juga ada toilet bawah tanah, yang lagi-lagi bentuknya gajah.  Jika malam malam, taman kota ini cukuplah ramai. Anak-anak duduk di kolam ikan, memancing ikan-ikan magnet. Harga mancing itu dipatok 2000 rupiah saja, sepuasnya. Murah ya?Saya juga iseng jalan menyusuri kota, mencari yang tidak ditemukan di Jakarta, seperti: Warung telekomunikasi. Wartel yang dulu begitu sekarang tergusur oleh perkembangan teknologi. Di samping taman kota juga ada rumah dinas Pak Walikota yang megah. Masjid Rayanya sendiri sedang dalam proses renovasi.

Makan Apa?

Kota yang dibangun Belanda pada tahun 1932 ini berpenduduk sekitar 160k jiwa, tidak termasuk pelajar dari 9 provinsi yang belajar di 14 universitas. Penduduknya kebanyakan keturunan Jawa, bahasanya pun bahasa Jawa. Kendati latar belakangnya Jawa, makanannya banyak dipengaruhi makanan Sumatra. Di sana saya sempat nyoba masakan Padang serta masakan Jawa Timur. Ternyata, masakan Jawa Timur disini JUARA, rasanya lebih enak dari makanan Jawa Timur di Jakarta. Harganya pun bersahabat banget.

image

Yang paling top dan wajib dicoba sup ikan Baung, tapi di foto ini gambarnya ikan patin. Konon ikan Baung ini ikan sungai yang belum bisa dibudidayakan. Sup ikan ini dimasak dengan nanas, jadi rasanya segar, asam, dan pedas. Selain sup ikan baung, ada juga sambal nanas yang pedasnya bercampur dengan kesegaran nanas. Sungguh enak!

Fakta tentang kota Metro

  • Kota ini luasnya hanya 60km²
  • Banyak kanal kecil untuk irigasi sawah, mirip seperti di Belanda. Kanal tersebut memang dibangun oleh Belanda untuk pengairan sawah-sawah.
  • Kota ini terobsesi dengan gajah, selain odong-odong gajah, ada toilet gajah juga di tengah taman kotanya. Tapi tak ada gajah asli, mungkin saya belum lihat saja.

Yang sudah pernah ke Metro, cerita dong ada apa aja disana?

[Irlandia] Negeri Hujan nan Hijau

Setelah menempuh perjalanan panjang, saya akhirnya tiba juga di Dublin. Yang menarik, begitu mendarat di Dublin tak ada petugas bea cukai yang menyapa saya, nampaknya semua petugas belum bertugas. Hanya ada hawa sedingin 3° yang menyambut saya. Kendati sudah pernah tinggal di negeri empat musim, saya masih tak profesional untuk urusan dingin. Hari itu saya sukses tiba dengan badan menggelembung karena banyaknya lapisan pakaian yang menempel di tubuh, lengkap dengan penutup telinga untuk melindungi telinga dari angin semriwing yang cukup dingin.

image

Seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, kesan pertama saya tentang Irlandia adalah mahal. Indonesia banget kan? Ongkos taksi dari bandara yang mencapai 38 Euro bikin saya hampir pingsan *lebay*. Kebiasan buruk ketika menjejak di negeri orang memang mengkonversi berapa harga jasa untuk kemudian dibandingkan dengan layanan taksi di Indonesia. Kebiasaan ini membahayakan apalagi ketika rupiah jatuh terpuruk tak berharga. Tentunya ini kebiasaan buruk yang harus dihilangkan.

Kesan kedua saya tentang Irlandia adalah hijau. Pagi saya disambut pemandangan yang cantik dengan matahari bersinar (jangan dibayangkan matahari itu sehangat matahari di Indonesia, bagi saya matahari itu hanya aksesoris tanpa efek apa-apa). Pagi itu banyak orang lari pagi. Anjing-anjing pun tak mau kalah berlarian dengan riang gembira. Serunya, di sungai itu banyak bebek liar. Dan lagi-lagi, saya tak pernah gagal  terpukau dengan bebek-bebek liar di ruang publik. Sungguh negeri yang cantik.

Kebiasaan membandingkan pun muncul lagi, kali ini saya membandingkan pemandangan ini dengan Jakarta. Pagi hari di Jakarta biasanya diwarnai dengan suara klakson, deretan kemacetan dan tentunya kemacetan luar biasa. Jangan bayangkan pula ada anjing-anjing yang berlarian kalau tak mau ditangkap orang untuk dijadikan santapan. Yang menyedihkan, apartemen seharga 3000 dollar pun di Jakarta tak akan bisa menawarkan pemandangan hijau. Begitu melihat keluar jendela, yang ada hanya hutan beton. Kalaupun ada pemandangan ‘cantik’ biasanya hanya kolam renang atau gunung yang baru muncul ketika tidak tertutup polusi. Kalau sudah begitu, siapa yang tahan buka jendela. Yang ada tutup jendela, nyalain TV untuk nonton sampahtainment.

image

Pemandangan dari jendela apartemen di kawasan Milltown Dublin

Soal pakaian musim dingin, saya yang novice ini kena batunya ketika harus bertemu calon mertua. Saya membawa jaket berwarna merah muda ngejreng yang saya padukan dengan boots berhak tinggi. Ternyata, keliling-keliling kota dengan hak tinggi hanya bisa bertahan selama beberapa jam. Kaki saya langsung teriak minta ganti sepatu, hore ada alasan untuk belanja sepatu. Begitu masuk toko sepatu, saya langsung kaget ketika sepatu biasa-biasa saja *cenderung jelek* dihargai dengan harga yang sama dengan sepatu bagus di Indonesia. Ternyata, barang-barang di Irlandia memang mahal, karena mereka menerapkan pajak pertambahan nilai yang tinggi. Barang-barang dengan merek serupa pun bisa didapatkan dengan harga yang jauh lebih murah di Jakarta, ini bahkan setelah dikurangi pengembalian pajak ya. Buyar sudah rencana belanja hura-hura macam anggota DPR.

Kembali ke jaket pink saya, begitu tiba di rumah mertua yang dekat dengan bukit, saya kedinginan tak karuan. Rupanya, jaket saya yang centil itu tak cocok untuk musim dingin. Kata mertua, jaket itu untuk summer. Saya pun makin shock ketika tahu harus mengenakan jaket saat musim panas. Lha ini negara apaan kok musim panas harus pakai jaket, bukannya jalan-jalan pakai bikini?

Ternyata Irlandia ini negeri hujan. Kalau dalam setahun kalender ada 365 hari, maka hujan pun mengguyur Irlandia selama 365 hari. Otomatis kemana-mana harus bawa payung, malah seringkali harus beli payung lagi karena payung jebol kena angin! Saking seringnya hujan, orang Irlandia jago melihat pergerakan awan dan memperkirakan datangnya hujan dalam hitungan menit ataupun jam. Kalau awan terlihat akan datang dengan hujan, kaki saya harus segera melangkah dengan cepat. Minggir menghindari hujan.

seasons in ireland

Saking seringnya hujan, ketika matahari bersinar pun akan hujan. Saya suka banget dengan sun shower, bukan dengan hujannya, tapi pelangi yang muncul bersamanya. Munculnya pelangi bagi saya adalah hadiah yang indah karena jarang terlihat di Jakarta. Orang Irlandia percaya bahwa konon di ujung pelangi terdapat pot of gold. Lha tapi ujungnya pelangi ada di mana?

Tak heran dengan hawa seperti ini, orang Irlandia doyan banget minum teh. Air putih kran yang gratis itu nggak laku karena semua orang ngeteh untuk menghangatkan badan. Sarapan minum teh, nyapu dikit minum teh, duduk nonton TV minum teh, nanti bertamu ke rumah orang minum teh lagi. Minum teh sehari di Irlandia bisa lebih dari lima kali, jadi jangan heran kalau banyak gigi orang tua berwarna coklat karena kebanyakan minum teh. Tradisi minum teh juga dilangsungkan ketika jalan-jalan, untuk menghangatkan tubuh. Banyak cafe shop yang menjual teh atau kopi ditemani dengan kue-kue manis. Secangkir teh sendiri di sini dihargai kurang dari 2 Euro. Yah kalau harga teh aja mah sama dengan harga ngeteh dan ngopi di Jakarta.

Pembicaraan tentang cuaca juga menjadi topik pembicaraan penting dalam kehidupan sehari-hari orang Irlandia. Ngobrol-ngobrol dengan orang yang nggak kita kenal itu biasa (dan mereka sangat ramah dan doyan bicara dengan orang tak dikenal) biasanya tak jauh dari cuaca. Dari satu orang yang tak dikenal saya pun belajar bagaimana mencintai hujan, terutama ketika kehujanan. “Ah aku nggak terbuat dari gula, jadi nggak akan meleleh kena hujan. No harm done.”

xx,
Tjetje

Papua: Menabuh Darah Manusia

Pernah baca tentang Kall Muller yang banyak bekerja dengan orang Kamoro dan mempromosikan kerajian Kamoro? Gak pernah denger? Silahkan di Google kalau begitu. Thanks to him, hari ini saya mendapat kesempatan untuk bertemu orang Kamoro dari Papua dan melihat hasil kerajinan mereka serta merekam dalam kepala secuil tradisi mereka.

Pameran art Kamoro ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan dua kali dalam setahun dan disponsori oleh perusahaan pertambangan Amerika Freeport. Tujuan dari acara ini sih untuk menjelaskan dan berbagi tentang tradisi orang-orang Kamoro serta untuk menjual karya-karya orang Kamoro. Karya seni masyarakat Kamoro, baik dari yang kecil hingga yang paling besar, dibawa dari Timika ke Jakarta dan disimpan di Jakarta untuk dijual di galeri ini. Karya mereka bisa dibilang karya-karya yang sederhana, tak serumit karya orang Jepara, kadang tak ada maknanya sama sekali dan banyak terbuat dari kayu-kayu lokal. Saya bahkan sempat menemukan peti yang dihargai tak sampai dua juta rupiah. Peti tersebut tapi tak sempurna karena pegangan untuk mengangkatnya terbuat dari plastik, bukan dari kayu.

Denger kerajinan dikirimkan dari Papua ke Jakarta pasti langsung ngebayangin harganya kan? Jangan risau, karena harganya bisa dibilang sangat terjangkau walaupun diterbangan dari ujung timur Indonesia. Ongkos kirim ditanggung oleh perusahaan tersebut dan 100% hasil penjualan akan diserahkan pada artis yang membuat. Harga yang terpampang bukanlah harga mati, yang hobi nawar seperti saya masih boleh nawar. Tapi menawar sendiri tak terlalu disarankan, karena setiap rupiah yang kita tawar, adalah setiap rupiah yang kita ambil dari orang-orang Kamoro. Maklum, seluruh hasil penjualan memang diberikan kepada orang Kamoro tanpa dipotong apa-apa. Gak tega deh mau nawar kejam, apalagi nawar sampai lima puluh persen.

Tak hanya disuguhi karya seni, hari itu kami juga dimanjakan dan disambut dengan tarian selamat datang. Tarian sederhana ini melibatkan drum dan goyangan pantat. Bukan goyangan sensual macam dangdut, hanya goyangan sederhana yang unik dan bagi saya terlihat tak mudah.

image

Bagi orang Kamoro, drum atau alat tetabuhan, atau disebut juga tifa, adalah media komunikasi dengan leluhur. Makanya, keterlibatan darah dalam proses pembuatan drum ini sangatlah penting. Lagi-lagi saya merasa beruntung karena saya bisa melihat langsung prosesi pemasangan reptil air pada alat tabuh. Catat ya, pemasangan kulit ini wajib menggunakan darah manusia.

Darah diambil dengan cara menyayat lengan seorang pria. Sebelum disayat tangan tersebut diikat supaya pembuluh darahnya terlihat. Mirip ketika diambil darah di laboratorium. Darah ini kemudian ditampung dengan kulit kerang. Patut dicatat, tak ada diskriminasi gender, perempuan ataupun pria dapat ‘menyumbangkan’ darahnya.

image

Darah tersebut kemudian dicampur dengan kapur untuk dioleskan pada bagian alat tabuh.

image

Setelah dioleskan dengan rata, tibalah saat pemasangan kulit reptil.  Para pria itu kemudian beramai-ramai menarik kulit reptil tersebut dan mengikatnya.

image

Setelah dipasang, kulit reptil ini dibakar agar kulitnya mengembang dengan tepat.

image

Konon, tanpa darah manusia suara alat tabuh ini tidak akan “tepat”. Benarkan begitu? Entahlah karena saya tak bisa main drum.

image

Selain sukses membawa pulang wood carving, saya juga dihadiahi sebuah buku tentang Orang Kamoro. Wah pekerjaan rumah selanjutnya adalah melahap buku-buku ini. Bagi yang ingin belanja barang-barang kerajian Orang Kamoro, bisa bikin janji bertemu untuk belanja di galeri yang terletak di Menteng ini, persis di belakang Kedutaan Amerika.

Bagaimana, berminat mengkoleksi barang-barang kerajian orang Kamoro?

xx,
Tjetje

Pembicaraan Gila di Tan Son Nhat Airport

Postingan ini pernah dimuat di dalam blog lama saya multiply yang sudah tamat riwayatnya.

Halo, saya punya oleh-oleh cerita setelah jalan-jalan keliling Vietnam dari Ho Chi Minh hingga Halong Bay. Bukan cerita perjalanan, tapi cerita unik di hari terakhir di Vietnam. Tepatnya, cerita dari bandara. Warning, buat yang nggak suka bergunjing, lebih baik skip postingan ini karena ini edisi rumpi abis tanpa manfaat.

Dalam perjalanan menuju Jakarta, saya bertemu dengan perempuan Indonesia, sebut saja namanya Mawar. Ketika itu perempuan berusia 23 tahun dengan kulit sawo matang yang terbakar matahari duduk sendiri. Sambil menikmati roti lapis yang tak enak saya iseng-iseng ngobrol. Obrolan kami dimulai dengan kota-kota yang telah kami kunjungi, mbak Mawar mengindikasikan bahwa dia baru selesai liburan ke sebuah pantai, lupa namanya, bersama kekasihnya. Si Mbak Mawar ini rupanya memiliki pacar orang asing, dari Jerman yang merupakan GM sebuah perusahaan minyak di Indonesia.

Lalu, secara terbuka si Mbak menceritakan (tanpa ditanya) bahwa dia lulus SMP pergi ke Hong Kong, bekerja di keluarga Amerika sebagai nanny selama tiga tahun. Lalu kembali ke Indonesia dan bekerja di Bali. Di sanalah dia bertemu kekasihnya. Lalu berhenti bekerja, karena menurutnya kalau bekerja paling-paling gajinya hanya 1,5 juta, sementara kiriman dari kekasihnya jauh lebih besar dari itu. Disamping itu, hampir setiap saat dia harus pergi ke luar negeri mengikuti kekasihnya yang keliling-keliling. Ibunya, bekerja sebagai TKW juga di Malaysia. Tiap kali diajak jalan-jalan ke Malaysia, ia selalu seneng, karena bisa ketemu ibunya.

Lalu sampailah kami pada topic clubbing. Mbak mawar rupanya hobi clubbing dan tempat favoritnya B.A.T.S di Hotel Shangrilla. Buat yang belum pernah ke B.A.T.S, ini club ada di lantai dasar Hotel Shangrilla Jakarta. Kalau malam penuh dengan partygoers dan juga mereka yang menawarkan jasa kehangatan terutama pada pria-pria kulit putih. Perlu dicatat gak semua yang pergi ke B.A.T.S lagi buka lapak dagangan ya, jadi jangan digeneralisasi. Kenapa mbak Mawar suka B.A.T.S? Karena di sana suka ada bule error, dua kali dia ditemplokin duit 500.000.Saya pun menimpali kegerahan saya karena di hotel ini banyak yang menjajakan kehangatan. It’s their body their business lah ya. Tapi dari pengalaman saya, yang nyari cowok di sini itu suka reseh. Saya dan rombongan teman-teman datang ke BATS membawa teman WNA yang penasaran dengan gemerlap Jakarta. Ini kita serombongan pada disikutin, karena banyak yang rebutan pengen ngobrol dengan teman kami yang orang asing. Kami pun ternganga, karena keseharian kami, ini orang kagak ada yang mau. Tiba-tiba jadi super laku, super populer dan diperebutkan. Parahnya, kami, para teman-temannya kena sikut. Oh Jakarta, kadang kejam!

Entah gimana ceritanya, saya kemudian membahas harga service kencan yang konon USD 200 per malam. Sok-sokan baru tahu harga segitu, eh ternyata salah dan saya dikoreksi. USD 200 itu untuk short time. Lalu, sampailah kami pada pembicaraan yang membuat saya terbungkam, terdiam dan tercenung.

Si mbak Mawar bercerita bahwa dia pernah dua kali ketemu bule yang mau memakai dia, tarifnya 3 juta rupiah saja. Tapi tak seperti penjaja jasa kehangatan profesional yang lebih suka milih bule tua (karena mainnya singkat dan uangnya banyak),  si mbak Mawar hanya mau sama yang ganteng. Si Mbak Mawar  kemudian berkata:

Lalu saya pun tertegun, hanya tersenyum simpul sambil mengangguk-angguk tapi tak bisa menyembunyikan kekagetan. Too much information, otak saya nggak bisa mencernanya, apalagi komentar.

Buat saya apapun pekerjaan dia, selama itu bikin dia happy nggak masalah. Tapi saya nggak tahu mesti bereaksi apa kalau dapat informasi seperti ini, salah juga ngapain reseh ngobrol-ngobrol sama orang di Bandara.  Mestinya kan baca buku aja!

Jadi kalau ketemu yang model begini mesti jawab apa? 

xx,
Tjetje