Dua Hal Aneh Yang Saya Dengar Minggu Ini

Perhatian, postingan ini tidak terlalu bermutu, sedikit informatif tapi lebih banyak elemen gossip dan ngerumpinya. Jadi kalau lagi puasa baca yang nggak penting, silahkan pencet tanda silang.

Ada dua hal aneh yang bikin saya super kaget minggu ini and I would like to share it with you. Yang pertama tentang sebuah pulau kecil di Ambon yang namanya mirip dengan nama belakang vokalis Gigi. Beberapa waktu yang lalu teman saya dan tiga orang lainnya menginap di pulau yang cuma punya dua cottages ini. Konon, pemandangan di pulau ini cantik banget, masih alami dan sepi. Cocok buat orang asing yang nggak suka dengan kebisingan dan keramaian.

Satu hari, satu orang dari grup ini berada di pantai, menikmati matahari dan berbikini. Sementara dua orang lainnya sedang snorkeling dan satu orang lainnya sedang mengambil uang di dalam cottage. Tiba-tiba, perempuan yang sedang berjemur itu dihampiri sekitar sepuluh pria senjata dan dua orang perempuan. Bukan senjata mainan saudara-saudara, tapi automatic gun dengan peluru tajam.

Pria garang-garang bersenjata itu kemudian mengajak mbak bule berfoto. Disangka lucu kali ya foto sama bule pakai bikini, sambil pamer senjata. Tak cukup diajak foto, mbak itu juga dicolek-colek. Padahal bagi kebanyakan orang Indonesia, mencolek-colek perempuan itu kan nggak sopan, kenapa kalau nyolek bule dianggap nggak dianggap tak sopan? Segitu nggak terhormatnya kah perempuan bule itu di mata orang Indonesia?

IMG_4431

foto nggak nyambung ini koleksi pribadi.

Begitu melihat gerombolan pria itu, teman saya yang berada di dalam cottage langsung berjalan menuju pantai, penuh amarah yang bercampur dengan ketakutan. Teman saya ini sempat dicegah oleh para staff cottage yang ketakutan, tapi melihat temannya di colek pria bersenjata, teman saya tak mau tinggal diam. Begitu melihat teman saya yang lagi hamil mendekat, para pria itu mendadak memutuskan untuk meninggalkan pulau tersebut. Tapi sebelum mereka pergi, ditembakkannya beberapa tembakan ke langit. (fakta gak penting: tembakan ke langit itu lebih berbahaya dan resiko kematiannya 80% lebih tinggi ketimbang tembakan langsung).

Saya yang denger aja kaget dan nggak bisa komentar, apalagi teman saya yang ngalami. Dia trauma banget setelah kejadian tersebut.  Konon hal ini, tembak-menembak, sudah biasa terjadi karena di seberang pulau Molana ini terdapat pulau kecil yang sering berkonflik antar kampung. Bahkan, kapal turis yang menuju Molana wajib mampir ke pulau kecil ini untuk melapor, supaya tidak ditembaki. Pertanyaannya: itu senjata dapat dimana dan buat apa?

Dari Ambon, mari kita berpindah ke sebuah gym-nya yang terletak di jalanan utama Jakarta, tempat teman saya rajin nge-gym. Selesai berolahraga, teman saya memutuskan masuk ke dalam sauna untuk melemaskan otot-otot. Apa yang terjadi begitu dia membuka pintu sauna? Ada tiga orang pria dan dua orang diantaranya sedang makan pisang di dalam sauna, begitu katanya. Saya yang denger cerita ini sih ketawa-ketawa aja sambil ngebayangin pria makan pisang di dalam sauna. Gak ada tempat yang lain apa ya?

Ternyata saya salah, pisang yang dimaksudkan disini adalah alat kelamin pria. Ya ampun, rupanya dua orang pria di dalam sauna tersebut sedang memberikan layanan mengeluarkan protein dari pria lainnya. Menurut kalian, mengapakah hal ini terjadi di ruang publik? Apakah ini karena mereka tak bisa melakukannya di kamarnya sendiri? ataukah ada sensasi tersendiri ketika melakukannya di ruang publik? atau justru karena penerimaan masyarakat kita tidak baik pada mereka sehingga mereka harus mencari ruang-ruang dimana mereka lebih nyaman tanpa dihakimi? *perhatian komentar anti-LGBT akan saya hapus atau akan saya edit*

Dua hal di atas bikin saya bertanya-tanya tentang keamanan di tempat umum, baik rasa aman dari potensi ditembaki maupun rasa aman dari hal-hal yang harusnya dilakukan di balik pintu kamar.

Cheers,

Ailsa

Tukang Pamer

Orang pamer pada dasarnya sah-sah aja, asal hal yang dipamerkan hasil keringatnya sendiri. Tapi sedari kecil, kebanyakan dari kita, dididik untuk sederhana dan nggak perlu pamer-pamer ke orang lain. Selain karena pamer itu berdosa, pamer juga bikin orang lain cemburu & orang cemburu itu membahayakan keselamatan kita.

Hadirnya media sosial sejak berapa tahun belakangan ini *eh sudah sepuluh tahun lebih kali ya*, mengubah perilaku manusia. Mendadak, kita semua lupa dengan ajaran orang tua untuk menjadi humble dan tidak pamer-pamer. Mereka yang suka pamer jadi bersorak riang gembira karena mendadak punya panggung pertunjukan kekayaannya. Tak hanya menyediakan ruang bagi pencinta pamer, sosial media  juga juga melahirkan tukang-tukang pamer yang baru, saya contohnya. *tutup muka, malu*

Secara nggak sadar saya suka pamer makanan & check-in di restaurant tempat saya makan. Sementara kalau lagi makan mie ayam pinggir jalan, saya nggak pernah check-in. Perilaku pamer makanan ini baru saya sadari sebagai perilaku yang menyebalkan ketika saya berada di luar Indonesia. Selain karena foto itu bikin kepengen (apalagi kalau lagi di negeri orang), foto-foto makanan yang kadang rupanya buruk rupa itu sedikit manfaatnya.  Saya dan banyak orang juga suka pamer foto jalan-jalan, di luar negeri ataupun di dalam negeri. Biar eksis dan bisa pamer kalau udah jalan ke luar negeri.

Orang bilang batasan antara pamer sama berbagi informasi itu tipis banget. Kalau kata saya, ketika postingannya nggak bermanfaat buat orang lain, nggak menghibur dan cuma bikin orang lain cemburu, itu udah mengarah ke pamer. Contohnya: pamer hasil belanjaan yang segambreng di depan menara Eiffel, lebih parah lagi kalau bon belanjaannya dimasukkan social media. Soal harga, ini jadi dilema banget buat blogger seperti saya. Niat hati cuma ngasih referensi orang supaya orang tahu dan bisa memperkirakan anggarannya, tapi di sisi lain disangkain pamer juga.  Tricky!

Bini-bini bule (disclaimer: ini ga semua lho ya, gak usah sensi) tanpa disadari juga ada yang suka pamer, dari yang printilan kecil-kecil macam parfum sampai tas-tas bermerek, koleksi perhiasan bling-bling sampai rumah ataupun mobil mewah milik pasangan. Cara pasang mobilnya kadang suka ajaib, dengan gelempohan macam putri duyung di depan mobil. Kemudian ditulisi mobil yayangku. Seperti saya omongin di atas, pamer  hasil keringat sendiri, atau pasangan itu monggo, silahkan, nggak melanggar hukum dan nggak bikin harm juga. Walau kadang saya suka bertanya, apakah nilai-nilai yang diajarkan orang tua pada jaman dahulu kala itu sudah efektif?

Kadang saya suka bertanya sendiri, apakah pameran yang dilakukan istri bule ini semakin menguatkan pandangan bahwa istri bule dilimpahi banyak uang, apalagi yang dipamerkan barang bagus melulu, tas bagus melulu yang tentunya tak dibeli di mangga dulu sementara yang buruk rupa tak pernah dikeluarkan. Mungkin mbak bule hunter kalau lihat pemandangan seperti ini jadi semakin terpecut untuk menggoogle PIN BB bule dan  mencari bule kaya, kalau perlu suami orang pun direbut. (catatan: hampir tiap hari ada orang menggogle bule kaya, pin BB bule kaya, kawin dengan bule kaya & search term ini muncul di blog saya)

Gak cuma istri bule yang demen pamer, ibu-ibu plat merah*maaf ya, bukannya saya tak mau inclusive, tapi postingan saya memang lebih sering melihat dari kacamata perempuan, walaupun sejujurnya bapak-bapak juga rajin pamer kok* juga demen banget pameran. Eh halo…kalau kerjanya dibayar oleh taxpayer money, ada nggak ngeri tuh pamer-pamer di social media? Ntar ada yang iseng angkat telpon dan laporan ke KPK gimana? Berabe kalau sampai jadi kartun di sebuah majalah dan dianalisa belanjaannya dari ujung rambut sampai ujung kepala, pakai price tag pula. Kayak si Ratu dari Barat Jawa itu.

Pada intinya, pamer pencapaian dalam sebuah hidup itu sah-sah aja. Tapi kalau pamer ati-ati, jangan sampai bikin orang jadi dengki atau malah nanya kabar untuk pinjam uang #eh. Akan lebih menyenangkan kalau kita pamer di sosial media hal-hal yang bikin orang seneng dan bermanfaat. Tapi itulah nature social media dan manusia, kita hanya mau menunjukkan yang bagus dan  menutupi yang kurang bagus.

Buat yang sering lihat temennya pamer di social media, nggak usah iri, ingatlah kalau hidup gak segampang pamer foto di media sosial. Jadi kalau ada yang pamer, ga usah terbuai, tapi semangat kerjalah. Kerja keraslah biar duitnya banyak. Kalau gak mau capek ya cari bule yang kaya raya *lho* atau cari anak pejabat kaya yang belum ketangkap KPK.

Ratu pamer favoritku Syahrini, siapa ratu pamer favoritmu?

Syahrini

Baca juga Kebablasan Berbagi di Sosmed.

Banyak Anak Tak Selamanya Banyak Rejeki

Orang Indonesia percaya bahwa banyak anak, banyak rejeki; atau anak akan membawa rejekinya masing-masing. Kalimat-kalimat tersebut kemudian menjadi justifikasi untuk punya banyak anak. Bagi saya yang bukan penganut aliran-aliran di atas, rejeki nggak tiba-tiba datang karena punya anak, semuanya harus diusahakan dan yang paling penting : banyak anak tak selamanya banyak rejeki.

Dari manakah asal usul banyak anak banyak rejeki?

Di Indonesia, membeli asuransi ataupun membeli rencana pensiun bukanlah hal yang wajar. Bagi kebanyakan orang, hanya bekerja menjadi PNS-lah yang menjamin hari tua. Makanya banyak orang berlomba-lomba jadi PNS, supaya dapat pensiun. Padahal kalau mau, mereka bisa bekerja keras di masa muda untuk membeli pensiun plan dan berleha-leha di masa tua.

Urusan asuransi juga begitu, banyak orang Indonesia yang belum sadar untuk membeli asuransi. Biasanya mereka beralasan untuk makan saja susah kok mau buang-buang uang untuk perusahaan asuransi. Urusan sakit lazimnya dipikirkan belakangan, ketika sudah kejadian. Bukan si sakit yang memikirkan, tapi keluarga besarnya yang kemudian harus gotong royong bayar ongkos rumah sakit.

Konsep kekerabatan yang besar dan tolong-menolong dalam lingkungan keluarga inilah yang kemudian dipercaya memunculkan anggapan banyak anak banyak rejeki (banyak anak banyak yang gotong royong kan?). Konsep ini selain sukses bikin penduduk membludak juga bikin kerjanya orang asuransi susah, karena semua orang bergantung pada anggota keluarganya. Secara teori, ketika anaknya banyak, sukses dan berpenghasilan cukup, tentunya rejeki orang tua akan banyak. Tapi, masih relevankah teori ini?

Punya anak dijaman ini bukanlah hal yang murah. Emang bener ketika anak bayi lahir cuma perlu susu dari ibunya. Tapi ada komponen biaya lain yang kalau digabungkan jumlahnya akan fantasis, dari biaya persalinan, popok, baju (karena anak cepat besar),  hingga gaji staf domestik untuk merawat anak. Ini belum termasuk biaya kesehatan dan biaya pendidikan lho! Di kota besar seperti Jakarta, biaya pendidikan yang baik itu sebulannya bisa buat beli berlian setengah sampai satu karat. Ini ongkos bulanan lho ya, belum termasuk ongkos antar jemput, jajan, seragam, ataupun rekreasi. Sekolah di Indonesia itu mahal banget.

Makanya buat saya, konsep banyak anak banyak rejeki itu sudah nggak relevan lagi. Yang ada, banyak anak banyak rejeki buat toko peralatan bayi, rumah sakit bersalin, dokter, sekolah, perusahaan jasa penyalur pekerja rumah tangga, bukan buat orang tua. Walaupun tak bisa dipungkiri anak-anak memberikan kebahagiaan yang tak bisa dibandingkan dengan uang. Banyak anak banyak rejeki mungkin cuma berlaku di negara-negara yang penduduknya rendah sehingga ketika bayi lahir negara memberikan dana yang jumlahnya lumayan.

Tanpa mengurangi peran pria, perempuan punya peran besar dalam memutus konsep banyak anak banyak rejeki ini. Yang hamil perempuan, yang ngatur keuangan rumah tangga juga kebanyakan perempuan dan yang memasang atau menelan kontrasepsi itu perempuan; maka, kalau disuruh beranak banyak, pikirkan dengan baik-baik. Bukan berarti tak boleh (your body, your rule), tapi pertimbangkan juga penghasilan. Cukupkah penghasilan berdua untuk membayar sekolah yang bagus, membeli asuransi yang bagus? Kalau anaknya bisa dimasukkan ke sekolah bagus, kenapa harus beranak banyak dan  masuk sekolah biasa-biasa saja?

Tiap-tiap orang punya cara dalam merencanakan hidupnya. Ada yang langsung punya anak tanpa membuat perencanaan keuangan, ada juga yang nabung dulu supaya bisa punya anak tanpa mengorbankan hobi belanjanya. Semuanya pilihan individu masing-masing. Apapun keputusannya, bertanggunjawablah atas keputusanmu, pada anak-anakmu. Satu lagi, sebelum punya anak pastikan punya asuransi kesehatan dan pension, jangan gantungkan dua hal itu pada mereka.

lorraine

Tulisan ini saya ikut sertakan dalam blogiversarrynya Chez Lorraine. Mbak Lorraine, atau yang biasa dipanggil mbak Yoyen, merayakan ulang tahun blognya yang kesepuluh. Silahkan tengok disini kalau ingin ikutan meramaikan, siapa tahu kecipratan hadiah.

Kenapa saya harus dipilih jadi pemenang? Selain karena tulisan ini memenuhi semua persyaratan, tema tulisan ini saya pikirkan selama dua minggu *serius bener kan* karena buat saya sepuluh tahun anniversary blog itu serius. Dalam sepuluh tahun pastinya banyak dampak positif terhadap pada cara pandang orang lain. Tulisan pendek ini layak menang karena dalam tulisan ini ada harapan supaya perempuan di Indonesia bisa berpikir matang-matang sebelum memutuskan sesuatu yang akan merubah tubuhnya dan hidupnya. *tetep serius*

Happy blogiversarry Mbak Yoyen !

 Xoxo

Ailtje

Keliling Harlem dengan Jukung

Begitu keluar dari Jayapura, kami langsung paham kenapa sang pengemudi meminta biaya 800ribu rupiah untuk mengantar kami ke dermaga di Distrik Depapre. Perjalanan yang harusnya dua jam pun molor jadi tiga jam karena jalan berlubang serta jembatang ambruk. Sungguhlah, Kabupaten Jayapura masih perlu perbaikan infrastruktur.

Kapal untuk mengantarkan ke Harlem dapat dengan mudah ditemukan di Dermaga Depapre. Kami dikenakan biaya 350ribu rupiah untuk antar jemput. Kali ini, kami tak mau menawar lagi.  Kapal yang mengantarkan kami kapal berbahan viber, bermesin 40 pk, dan tak dilengkapi dengan safety vest. Selama menuju pantai saya komat-kami berdoa supaya nggak nyemplung ; ini gara-gara beberapa hari sebelum kami ke Harlem rombongan polisi yang lagi mancing di Sulawesi kapalnya terbalik dan mereka terkatung-katung selama beberapa jam.

Jarak tempuh menuju pantai cantik ini ternyata hanya 15 menit saja. Dari kejauhan saya sudah bisa melihat pasir super putih. Garis pantainya pun tak panjang dan bisa disusuri dalam jangka waktu beberapa menit saja. Soal kebersihan, pantai ini masih relatif bersih, walaupun di beberapa sudut sudah ditemukan sampah. 

Harlem

Sayangnya, baju renang ketinggalan, begitu juga dengan celana pendek. Sebagai orang Indonesia asli saya pun cuek aja masuk air dengan pakaian lengkap. Hari itu, di sisi pantai yang lain ada rombongan yang snorkeling ber-banana boat. Entah dari mana datangnya banana boat tersebut.

Miyeki dan teman-temannya

Lagi ngelamun di pinggir pantai, tiba-tiba dari kejauhan muncul dua jukung yang dikemudikan *apa sih kata kerjanya yang tepat?* anak-anak kecil, termasuk seorang anak TK. Mereka kemudian menepi dan bermain di pantai Harlem. Kesempatan bergaul dengan masyarakat lokal tak disia-siakan dan teman saya (yang tak mau basah karena lupa peralatan renang) sukses merayu Miyeki, seorang murid kelas empat SD yang baru pulang sekolah untuk mengantar kami berkeliling pantai dengan jukungnya.

Kata Miyeki, boleh saja berkeliling, tapi bayar. Ketika ditanya berapa, ia menjawab seratus ribu. Kami pun mengiyakan saja, walaupun ini namanya mempekerjakan anak di bawah umur. Ah setidaknya dia sudah pulang sekolah. Btw, pengemudi kami ngomel-ngomel karena kami ‘merusak harga pasar’. Keputusan kami untuk merusak harga pasar ternyata sangat tepat dan membuat kami terenyuh;  si bocah berkata: Uangnya untuk Bapa’. Sang Bapa’ bekerja sebagai nelayan.

Dibawalah kami mengelilingi Harlem naik jukung yang super kecil, tapi ternyata pas untuk pantat saya (I am not that big eh?). Miyeki juga menunjukkan kampungnya, serta memperkenalkan saya pada seekor anjing yang bisa berenang di laut. Dia juga berceloteh tentang ular besar yang ditemuinya di dalam laut. Ular ini yang bikin dia minggir ke pantai, karena dia ketakutan. Terimakasih ular!

Bahasa menjadi kendala buat saya, kami sama-sama berbicara bahasa Indonesia, bahkan saya  mencoba berbica Indonesia lurus, tanpa aksen dan dengan pemilihan kata yang resmi.  Bahkan saya mencoba keras untuk berdiskusi tentang bola, walaupun saya gak tahu apa-apa tentang bola. Hasilnya, tetap komunikasi kami nggak nyambung. Ternyata tak mudah berkomunikasi dengan Miyeki.

Miyeki

Di tengah laut si Miyeki berkata kalau dia sudah loyo. Dengan instruksi Miyeki pun saya dan teman pun bergantian mendayung. Bukannya ke tengah, kami malah semakin ke pinggir. Dududududu….anak kota kompetensinya beda dengan anak laut. Perjalanan kami memang jadi lebih menarik karena interaksi kami dengan Miyeki dan teman-temannya, walaupun mereka malu-malu dan bahasa kami sering nggak nyambung.

Ailsa in Jayapura

Memori harlem beach kemudian disempunakan dengan teriak nenek-nenek minta uang, bukan kepada kami sih, tapi kepada orang lain. Fenomena ini emang terjadi dimana-mana di Papua; tapi ya harap dipahami saja, mereka meminta karena mereka tak kebagian gula-gula pembangunan. Sementara harga pinang juga tak murah. Sebelum meninggalkan pulau itu, kami memberikan uang buat si nenek itu. Nggak wajib sih, tapi begitulah adatnya disana. Tak lupa saya bawa kembali sampahnya karena saya tak ingin pantai cantik ini dikotori sampah.

20140524_130030

 

Selamat berakhir pekan kawan, semoga weekend kalian seindah pantai ini!

Dikejar Oom-Oom di Pantai Base G

Pantai Base G konon merupakan salah satu pantai yang bayak disukai dan mudah diakses karena lokasinya tak jauh dari tengah kota. Selain terkenal karena keindahannya, pantai ini juga terkenal karena kemahalannya. Masuk ke lokasi pantai bayar sepuluh ribu, parkir kendaraan bayar lima puluh ribu, duduk di salah satu balai-balainya bayar – konon hingga dua ratus ribu, bahkan ada guyonan, sewa tikar bayar, nanti menggelar tikar sewaannya pun harus bayar.

 Senja di Base G

Kami tak berencana untuk duduk lama-lama di pantai itu, karena males dengan urusan bayar-membayarnya. Mobil sewaan kami tinggalkan dalam keadaan hidup, bersebelahan dengan mobil yaris warna merah. Baru juga kami meninggalkan mobil, kami sudah diteriaki dengan galak Bapak parkir. Mendadak, Oom-oom di mobil Yaris merah mengatakan pada pengemudi kami, dia yang akan atur semuanya. Melengganglah kami, tanpa prasangka apa-apa. Sementara bapak tukang parkir dipanggil Oom-oom dalam mobil, dan entah bagaimana, tiba-tiba si bapak yang galak itu tersenyum-senyum sambil menggangguk-angguk.

Konon pantai ini digunakan latihan lari pemain Persipura. Pasirnya bikin terjerembab kalau jalan kaki, lha jalan aja susah kok lari..

Ailsa in base G

Seperti di banyak tempat di Jayapura, pantai ini juga diwarnai oleh bekas ludah berwarna merah. Tak hanya itu, sampah pun merusak keindahan pantai ini. Sungguh disayangkan.

sampah di Base G

photo milik penulis

Nggak sampai sejam, kami pun kembali ke kendaraan. Masuk mobil, semuanya masih aman-aman. Begitu beranjak meninggalkan area parkir, pengemudi kami tiba-tiba memencet klakson dan melambai pada si mobil merah. Tiba-tiba mobil merah pun mengikuti kendaraan kami, mengejar rupanya. Eh maaf ya yang ngebayangin kejar-kejaran ala film India, kejar-kejarannya gak seheboh itu. Hadeuh, jadilah kami nyuruh si pengemudi untuk ngebut dan untungnya kami berhasil menghindari kejaran Oom-oom yang ternyata mabuk.

Kata pengemudi kami, orang-orang yang naik Yaris di Jayapura itu gaya doang, karena dengan struktrur berbukit gitu, mobil sedan nggak cocok. Biasanya mereka yang pakai sedan adalah pejabat yang gaya-gayaan doang. Baiklah, dicatat: kami dikejar Oom-oom dengan mobil merah yang mabuk dan gaya-gayaan doang. Tak apalah dikejar, nggak ketangkep juga, dan yang paling penting, kami gak bayar parkir di pantai base G. Lima puluh ribu bow!

Selain ke pantai base G, kami juga pergi ke Pantai Harlem; ini pantai tenang dan masih jarang terjamah. . Cerita tentang Harlem akan saya susulkan pada postingan berikutnya yah. Saya kasih intip bintang utama dari perjalanan saya di Harlem kemarin ya, Miyeki dan kapal kecilnya:

Miyeki Harlem

 

 

Gado-Gado dari Jayapura

Saya ingat di acara Skyscanner Dodid Wijanarko, seorang pembuat film dokumenter, pernah bilang bahwa pantai dari ujung barat Papua sampai ujung timur Papua itu sama aja, yang membedakan itu orang-orangnya. Jadi, sebelum saya menuliskan pengalaman dikejar Oom-oom di pantai di Papua, ijinkan saya (duile bahasanya, kalau gak diijinin gimana?) untuk bertutur sekilas tentang Papua dan orang Papua. Beberapa hal random tentang Papua ini saya kumpulkan dari berbincang dengan seorang Antropolog, masyarakat yang saya temui selama beberapa hari di sana dan dari mengobservasi. Silahkan mengkoreksi jika ada yang salah, tapi koreksinya yang sopan ya.

Menjadi PNS

Orang Papua, kata Pak Gubernur termarginalisasi di tanahnya sendiri, perdagangan banyak dikuasai oleh pendatang dari Makassar, Ambon, ataupun Jawa. Soal pertambangan apalagi, tapi gak usah dibahas deh ya. Menariknya, orang pendatang, terutama generasi kedua yang lahir dan besar di Papua, juga banyak yang merasa terdiskriminasi. Mereka tak punya ikatan dengan tempat asal orang tuanya, tapi di tempat mereka lahir dan besar, mereka tak dianggap sebagai putra daerah. Alhasil, timbul kesulitan mendapatkan pekerjaan di kantor-kantor pemerintahan, alias menjadi PNS, karena orang Papua lebih diprioritaskan. Kalau gak diprioritaskan, apa mereka gak tambah terdiskriminasi?

Prostitusi dan HIV/AIDS

Saya emang agak ajaib, tiap kali mengunjungi suatu tempat selalu ingin tahu apakah ada tempat prostitusi. Lokasi prostitusi di Papua bersebelahan dengan danau Sentani yang cantik. Disini, penggunaan kondom wajib 100%. HIV/AIDS di Papua itu memang paling tinggi di negeri ini, jadi tak heran kalau kondom hukumnya wajib. Para pekerja seksual disini didatangkan dari luar Papua, termasuk Sulawesi, Jawa, bahkan ada yang dari Malang.

100% kondom

Ngomong-ngomong tentang HIV/AIDS ada satu project photo yang dikerjakan oleh Adrian Tambunan, judulnya Against All Odd. Saya kebetulan punya bukunya, buku photo tersebut merekam photo-photo tentang orang Papua dan HIV/AIDS. Sumpah bakalan nangis ngeliat photo-photo tersebut, karena bener-bener menyayat hati (saya emang cengeng).

Orang asli Papua

Saya inget banget jaman saya getol belajar Antropolog (bahkan bela-belain beli bukunya Koentjoroningrat & jadi satu-satunya murid yang punya buku ini), kalau suku bangsa orang Papua itu beda dari orang Afrika. Suku bangsa mereka adalah Melanesia.  Saking senengnya, dulu saya bahkan njelimet ngapalin aneka rupa upacara, yang saya ingat, di salah satu wilayah Papua, ada proses penguburan/ pembakaran mayat dimana posisi jenazah diposisikan seperti posisi bayi dalam rahim. Guru Antropologi saya, Ibu Anoek, bilang: datang dan berpulang dalam posisi yang sama.

Di Papua sendiri ada 250 suku bangsa di Papua dan mereka dipisahkan dalam enam wilayah adat. Bahasa adat suku yang satu dengan suku yang lain juga berbeda, tetanggaan pun bisa berbeda bahasa. Makanya mereka menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, kendati tak semuanya bisa berbahasa Indonesia.

sebaran wilayah dan bahasa

Hayo dimanakah orang pohon itu berdiam?

Dua suku katanya mendapatkan benefit langsung dari Freeport, Kamoro dan Amungme. Kalau saya tak salah mengingat selain Kamoro dan Amungme ada beberapa suku lain yang mendapatkan benefit. Katanya lho ini, kebenarannya nggak tahu. Btw, sekelumit cerita tentang Kamoro dan tifa bisa dibaca disini.

Masih menurut sang Antropolog, orang Papua, punya kepercayaan bahwa suatu hari orang kulit putih akan datang membawa kebahagiaan, makanya misionaris diterima dengan baik oleh mereka. Tapi saya lupa nanya, suku yang mana yang punya mitologi ini, karena Rockefeller yang berkulit putih pun mati di tanah Papua.

Menariknya, orang Papua gak kenal koteka, bagi orang Papua, penutup penis itu disebut sebagai honim. Saya membeli sebuah honim, yang ternyata labu yang dikeringkan, harganya 80 ribu untuk yang besar dan sekitar 60 ribu untuk ukuran kecil. Konon besar atau kecil, panjang atau pendek tidaklah melambangkan sesuatu.

Entah oleh siapa, di Papua orang-orang juga dipisahkan menjadi orang pantai dan orang gunung. Konon orang pantai lebih ramah ketimbang orang gunung. Orang gunung katanya kakinya lebar, entah apa maksudnya, dan temperamental. Ini pelabelan yang bagi saya terdengar tidak baik. Buat saya, mereka terlihat sama, sama-sama orang Papua dan sama-sama orang Indonesia. Oh ya, orang Papua menurut saya sangatlah ramah, karena orang yang tidak kita kenal pun menyapa “Selamat Sore, Selamat Siang” dan ini gak cuma anak-anak kecil lho, tapi juga orang dewasa.

Di Papua, tradisi mengunyah pinang masih merupakan bagian dari keseharian masyarakat. Pedagangnya bisa ditemukan dimana-mana, begitu juga dengan liur merahnya. Liur ini menempel dimana-mana, bahkan di pantai. Jorok banget ya dan sedihnya, warna ini tampak tak bisa hilang. Yang ngunyah pinang nggak cuma orang tua lho, anak-anak muda juga ngunyah pinang. Padahal ngunyah pinang itu ternyata berisiko bikin kanker mulut dan juga jadi media penyebaran TBC.

Jayapura

Oh ya ada yang lucu, pejabat-pejabat di Jayapura itu rumahnya di kawasan Angkasapura, tapi wilayah ini lebih sering disebut Angkasa. Pejabat tinggal di angkasa, jadi ya jangan heran kalau susah banget ngeraih mereka.

Mahal

Kendati harga bensin di Jayapura sama dengan harga di Jakarta, beberapa hal, terutama pakaian dan makanan masihlah mahal. Katanya kemahalan ini karena semua barang dikirim dari luar Jayapura, termasuk beras. Lha terus apa yang diproduksi di Jayapura?

Mahal itu mungkin juga disebabkan karena struktur Kota Jayapura yang berbukit-bukit dan infrastrukrur yang begitulah. Bandaranya ada di atas, dekat danau Sentani, sementara kota Jayapuranya di pinggir laut. Kontur tanahnya rawan longsor (ya karena berbukit-bukit), konon, kalau mau bikin jalan, bukit-bukit itu harus di bom dulu. Nggak heranlah kalau apa-apa mahal, saking mahalnya taksi dari bandara ke Hotel aja lima ratus ribu rupiah. Hadeuh…..Tapi, biarpun jalanannya naik turun, bahkan ada tanjakan yang kira-kira 50 derajat, orang-orang Jayapura saya lihat semangat lari sore-sore. Demi apa lari-lari di bukit, itu dengkul apa nggak sakit ?

Bagasiku Hilang di Jayapura

Dari Palu, saya terbang ke Makassar untuk transit selama kurang dari 12 jam dan dilanjutkan ke tujuan akhir: Jayapura. Rupanya, pesawat kami mampir dulu di Timika. Entah mengapa turun di bandara di Timika saya merasakan ketegangan. Pengamanan cukup ketat dan orang-orangnya tak bermuka ramah. Bandara Timika sendiri rupanya seperti kantor Freeport, karena dipenuhi tulisan Freeport dimana-mana, dari bis yang menjemput kami hingga ruang tunggu.

20140521_084211

Timika from the top

Menariknya, toilet di bandara, sama seperti toilet di kantor saya, menawarkan kondom gratis. Biar gratisan, stok kondomnya juga terlihat menumpuk. Wajar saja kondom mudah didapat di Papua, karena pertumbuhan HIV/AIDS disana tertinggi di seluruh Nusantara. Soal kebersihan, toilet di Timika luar biasa bersihnya, lebih bersih daripada toilet di bandara Jakarta. Btw, saya ngantri lama di toilet cuma buat mengambil dua foto ini:

Kondom dan Toilet

Duh segitunya ya kita sampai mesti diajarin cara duduk di toilet?

Destinasi akhir kami, Jayapura ditempuh selama kurang lebih 1 jam. Sampai di bandara, kami disambut pemandangan burung-burung yang mati kaku di luar jendela ruang tunggu. Entah mengapa. Sama seperti di Timika, hal pertama yang saya lihat adalah toiletnya. Dimana tempat emang saya selalu menyempatkan mampir ke toilet karena toilet, bagi saya, adalah secuil gambaran tentang kualitas orang-orang di suatu wilayah. Kualitas kebersihan tentunya.

Toilet di bandara Jayapura sejauh ini mengalahkan kualitas toilet di bandara Aceh pasca tsunami. Mengalahkan lho, artinya juara jeleknya. Langit-langitnya berlubang, pintunya tanpa kunci, banjir dimana-mana. Lampunya, ya temaram nggak karuan, wong langit-langit buat naruh lampu aja ambrol. Soal kebersihan ya jauh banget dari kata higienis. Jadi ini bandara dana perawatannya kemana saja?

Rupanya, terkejut melihat toilet buruk rupa belumlah cukup. Garuda Indonesia dan Angkasa Pura berbaik hati memberi saya kejutan indah: bagasi sukses ditinggalkan di Makassar. Begitu melihat saya masih menungu bagasi, petugas bandara di Jayapura dengan coolnya menggiring saya ke ruang lost and found. Nampaknya, petugas di Jayapura sudah BIASA menangani penumpang yang bagasinya tak muncul. Kalau kata mereka: “Memang biasa petugas bandara di Makassar itu begini”. Parahnya, petugas di bandara Makassar juga tak punya itikad menaikkan bagasi saya ke penerbangan lain yang ke Jayapura.

Prosedur pelaporan bagasi hilang sangatlah sederhana, copy tag bagasi saya diambil oleh pihak bandara dan diganti dengan selembar bukti laporan berwarna pink. Berapa ganti rugi yang diberikan atas kelalaian ini? NOL rupiah saja saudara-saudara.

Hasil google saya menunjukkan kalau Pemerintah meregulasi bahwa penumpang yang menunggu bagasi yang tak muncul selama maksimal tiga hari berhak atas uang tunggu 200.000 per hari. Yes, you read it right, 200 ribu rupiah saja sehari selama maksimal tiga hari. Bagasi sendiri baru dianggap hilang setelah empat belas hari. Jadi, kalau apes bagasi nggak muncul, dari hari ke empat sampai hari ke empat belas, silahkan gigit jari tanpa kompensasi apa-apa. Entah siapa yang bikin peraturan ini, yang jelas, di Jayapura dengan uang segitu beli dalaman saja nggak cukup.

Entah aturan dari mana, bagasi saya bisa diantarkan ke hotel tapi saya tak berhak mendapatkan uang tunggu. Padahal, bukan pihak Garuda, apalagi pihak bandara yang mengantarkan bagasi saya, tapi bagasi saya dititipkan kepada petugas hotel tempat saya menginap. Petugas hotel ini rupanya secara rutin menjemput pramugari dan pilot Garuda di bandara. Jadi, kemana hak saya atas uang tunggu tersebut? Ya begitulah hak penumpang di negeri ini, nggak dihargai.

20140522_092334

Bagasi saya akhirnya kembali satu hari setelah saya tiba. Kondisinya tak bisa dibilang baik-baik saja, karena koper saya mendadak jadi lengket dan bermandikan gula. Untungnya (masih bisa bilang untung), koper saya tak dibongkar dan tak ada satupun barang yang hilang.

Apa pelajaran berharga dari semua drama ini? Belilah asuransi perjalanan supaya nggak kaget-kaget amat kalau harus mendadak keluar uang untuk beli baju. Apalagi, pakaian di Jayapura itu ternyata nggak murah dan pilihannya terbatas.

Semalam di Palu

Semalam di Palu membuat saya belajar banyak hal dari kota yang terkenal dengan kayu besi dan bawang gorengnya ini. Yang paling utama, saya belajar sabar karena semua hal di kota ini lambat banget. Kelambatan pertama terjadi ketika Hotel tempat kami menginap sukses jemput setelah kami check in di hotel.  Untungnya, saya gak jadi panggil manager, karena diingatkan kalau kami lagi di Palu, bukan Genewa.

Nggak cuma hotel yang menguji kesabaran, tapi taksi di Palu juga cukup menguji saya karena laju kendaraan yang maksimal 40 km per jam.  Rasanya udah pengen injek gas aja, padahal saya gak bisa nyetir. Tapi kemudian saya jadi berpikir, apakah kerja di Jakarta bikin saya pengen selalu cepet-cepet dan gak bisa menikmati kelambanan?

Masih soal taksi, taksi di Palu bisa dipesan lewat telepon genggam dan jika taksi yang kita order tak muncul, pengemudi akan mencarikan pengemudi lainnya. House music dengan volume keras nampaknya menjadi favorit dari para pengemudi taksi, sambutan tak hanya music tapi juga hiasan aneh-aneh di dalam taksi. Salah satu taksi yang kami tumpangi dipenuhi dengan lampu yang bikin taksi kelihatan seperti tempat disko ketimbang taksi. Taksi lainnya berhiaskan karpet bulu-bulu warna putih di dashboardnya. Tak lupa sebagai pemanis, ditambahkan miniatur kapal pinisi dari kayu besi. Soal argo jangan tanya deh, kuda banget.

IMG_20140520_071129

Pemandangan dari jendela kamar hotel

Kelambanan juga terasa di dalam toko oleh-oleh bawang goreng. Pegawai toko ada dua, tapi ketika satu pegawai bekerja, pekerja satunya sibuk menonton rekannya bekerja. Padahal di saat yang sama dia bisa membungkus belanjaan kami atau menghitung belanjaan orang lain. Mesin EDC mandiri juga saya perhatikan ada dimana-mana, termasuk di toko oleh-oleh tersebut, tapi mbak pegawainya takut make itu mesin. Jadi pas giliran bayar, mereka cuma pandang-pandangan penuh ketakutan. Saya pun berinisiatif menawarkan diri menggesekkan kartu, padahal sumpah seumur hidup saya belum pernah pakai mesin EDC. Saya pun nekat gesek kartu sendiri, ngeluarin slip sampai tiga lembar dan mengatur mana lembar yang untuk toko dan mana yang untuk kami simpan.  Setelah memproses itu semua saya jadi berpikir, gimana kalau yang datang gak jujur dan memasukkan angka yang lebih rendah?

Menariknya, pria-pria yang saya temui disini, dari pengemudi taksi, hingga pegawai hotel semuanya pernah merantau ke berbagai sudut Indonesia. Resepsionis hotel bahkan pernah tinggal di Jayapura, sekolah di Kebayoran Lama dan bisa berbahasa Arab. Beruntungnya, kami jadi dapat kursus kilat tentang Jayapura. Cerita tentang Jayapura akan saya susulkan dalam postingan selanjutnya.

Makan apa di Palu?

20140520_123233

Hasil google merekomendasikan RM. Putri Heni Kaili. RM yang pertama berada di pinggir laut ini lagi-lagi full music super kencang (d’oh!). Menu yang disajikan aneka rupa seafood serta makanan Kaili. Pas nanya apakah ada seafood, si Mbak menjawab tak ada. Begitu tanya ada ikan, cumi langsung dijawab ada. Nampaknya si Mbak tak tak tahu kalau seafood itu termasuk ikan dan cumi. Sayangnya hari itu ikan-ikan yang disajikan tak terlalu segar, mata para ikan sedang sendu seperti diputuskan pacarnya.

Perlu dicatat porsi makanan di RM ini besar-besar, nasi setengah porsi hampir sama lebih banyak dari satu porsi nasi di Jakarta. Kelapa mudanya pun tak kalah jumbo, tak heran kalau kemudian diberi judul kelapa romantis, karena memang bisa dihabiskan berdua. Soal harga tak terlalu mahal  untuk ukuran kantong Jakarta. Karena saya tak makan hewan berkaki empat (kecuali babi), saya tak mencoba Kaledo (Kaki Lembu Donggala) yang merupakan makanan khas Palu.

Tempat makan kedua yang saya jajal adalah warung makan yang menyajikan makanan khas Kaili. Kaili ini adalah suku bangsa yang mendiami Sulawesi Tengah. Perlu dicatat kalau di Sulteng ada juga orang Bugis, Gorontalo, Pamona (kata wikipedia ini orang Poso) dan Mori.

Kembali ke makanan orang Kaili, makanan yang direkomendasikan adalah daun kelor yang dimasak dengan pisang, singkong dan santan encer. Perpaduan ini jadi seperti kolak minus gula ditaburi sayur-sayuran kecil. Konon yang punya susuk tak dianjurkan makan sayur ini, karena kelor melunturkan susuk. Jangankan makan, nyenggol daun ini aja nggak diperkenankan.

20140520_121638

Untuk teman sayur, saya memilih nasi jagung, mangga muda yang dibumbui kacang, serta ikan garam (ikan asin) bermandikan sambal, juga ikan kecil-kecil yang saya tak tahu namanya. Perlu dicatat bahwa makanan di warung ini dimasak dengan kayu, tak heran rasanya enak. Oh ya, warung sederhana ini mempekerjakan seorang transjender. Kuddos for that!

Satu hal dari Palu yang mengusik saya adalah reklamasi yang terjadi di teluk Palu. Mungkin itu sebabnya jika siang lautan yang saya pandang dari jendela kamar hotel warnanya coklat semua. Duh, tidakkah mereka tahu bahwa reklamasi menghancurkan biota laut dan pendapatan para nelayan?

Dikriminasi Bangsa Sendiri

Kemarin siang saya ngobrol-ngobrol sama temen sebilik kerja tentang diskriminasi di negeri sendiri. Temen saya ini baru aja belanja di sebuah supermarket premium. Ketika itu, dia ngantri dilayani tukang daging. Ternyata, selesai melayani orang Jepang, si tukang daging ini nggak mau ngelayani temen saya dan malah memanggil anak baru untuk melayaninya. Entah apa alasannya, yang jelas temen saya emang asli Indonesia dan penampilannya biasa-biasa aja (baca: nggak pakai high heels, rambutnya bukan hasil dikeringkan di salon, matanya bebas bulu mata palsu, nggak nenteng tas mewah, tapi juga gak nenteng tas KW)

Belum juga selesai ngomel tentang perlakuan beda yang diterima oleh teman saya, eh tiba-tiba kemarin mendengarkan kalau Bapak Duta Besar Indonesia untuk Iran, Bapak Dian Wirengjurit, diperlakukan tak baik oleh ground staff nya perusahaan penerbangan Emirates. Pak Dubes memilih jalur biasa-biasa aja, tanpa meminta perlakukan khusus. Biasanya, pejabat Indonesia itu urusan penerbangannya ditangani oleh protokoler dan  mereka tinggal naik ke atas pesawat aja. Bahkan kalau telat, protokolerlah yang akan “ngeganjel ban” pesawat dan bikin satu pesawat nungguin.

Pak Dubes dengan sukses gak disambut ramah oleh staff ground Emirates, mbak Dwi Nopiawati yang juga asli Indonesia. Beliau menduga ini terjadi karena bawaannya yang banyak banget. Masih menurut Pak Dubes, Mbak Nopiawati ini melayani Pak Duta Besar dengan ketidakramahan khas Indonesia, tapi begitu tamu bule yang muncul si mbak langsung baik hati.

Berita-berita yang diturunkan di media Indonesia sementara ini baru memaparkan pendapat dari sisi Pak Ambassador dan belum menyampaikan pembelaan dari Mbak Dwi Nopiawati ataupun Emirates (PRnya Emirates dimana sih kok lelet banget ngasih statement?).

Ngomongin soal diskriminasi, sadarkan kita kalau didiskriminatif di negeri ini SERING dilakukan oleh orang Indonesia terhadap orang Indonesia. Menurut saya, orang-orang dengan wajah asli Indonesia (baca: rambut keriting, tinggi biasa-biasa saja, badan nggak slim dan kulit sawo matang) malah jauh lebih rentan terhadap diskriminasi karena dengan semena-mena diidentikkan dengan kemampuan ekonomi dan daya beli yang lemah.

Stop discrimination

Saya termasuk yang sering didiskriminasi dan diperlakukan tak ramah, apalagi kalau lagi nggak dandan dan banyak nanya tentang produk yang harganya tak murah. Ajaibnya, perilaku diskriminatif ini tiba-tiba nggak akan muncul ketika kita dandan. Saya pernah iseng mencoba mengetes layanan sebuah vendor, hasilnya kalau dengan dandan cantik, parfum yang bisa kedeteksi dari jarak sekian meter dan  kacamata hitam di kepala, pelayanan akan jauh lebih ramah. Jadi jangan heran kalau orang Indonesia suka dandan abis-abisan walaupun cuma buat keluar beli cabe segenggam.

Selain harus berdandan cantik, untuk mengurangi kemungkinan didiskriminasi pakailah bahasa Inggris. Agak sok sih, tapi pelayanan berubah 180 derajat ketika kita pakai bahasa Inggris. Komplain cepet ditanggapi, minta perbaikan ini itu juga lebih cepet direspons. Padahal bahasa Inggris saya itu medok dan tak sempurna. Rupanya, bahasa Inggris awut-awutan bukanlah masalah. Mungkin disangka yang komplain bule, jadi langsung diprioritaskan.

Anyway, ada satu lagi hal yang tiba-tiba bikin seluruh jagad raya jadi super ramah pada perempuan berkulit kelam dan bersandal jepit (macam saya), cukup gandeng aja bulenya.  I kid you not, sudah banyak orang Indonesia yang dilayani dengan tidak ramah karena jalan sendiri, eh begitu pasangan WNAnya muncul pelayanan berubah 180 derajat. Saya menyebut hal ini sebagai power of bule. Asal bule yang muncul layanan jadi ramah dan urusan apapun jadi lancar.

Saya sendiri pernah berada di dalam sebuah pertemuan resmi dengan orang yang sudah menggondol aneka rupa gelar akademik. Setelah selesai pemaparan tentang sebuah program, pendapat saya tak diminta, yang diminta malah pendapat orang berambut pirang yang kebetulan lagi belajar kerja, alias magang. Sampai pertemuan selesai kami yang WNI (dan kami berdua sama-sama menyadari) tak pernah ditanya pendapatnya. Segitu nggak berartinya ya pendapat orang Indonesia?

Wahai saudara-saudaraku sesama orang Indonesia, jangan silau dan membeda-bedakan perlakukan kepada orang asing dan orang orang lokal. Sesungguhnya kita sama-sama manusia, apapun ras dan warna kulitnya.

Surat Pak Dubes soal ini bisa dibaca di sini.

Catatan tambahan: ada informasi dari beberapa sumber (termasuk dari beberapa komentar di bawah) bahwa ternyata yang arogan adalah Bapak Duta Besar. CCTV nya belum dikeluarkan, tapi semoga segera dikeluarkan oleh Emirates agar mematahkan dugaan saya di atas dan membersihkan nama Mbak Dwi.

Salah satu komentar di bawah dari PR Companynya. Semoga cepet diselesaikan tanpa drama.

PR Emirates

xoxo,
Tjetje

Tukang Bungkus-bungkus

Dalam satu perhelatan perkawinan, saya pernah menangkap basah saudara pengantin, dengan seragam kebanggaannya, mengeluarkan kotak-kotak plastik aneka rupa. Tanpa malu-malu, dimasukkanlan makanan yang disajikan di area VIP tersebut ke dalam kotak plastik. Padahal, pada saat itu tamu masih banyak berseliweran dan belum pulang. Perilaku tersebut merupakan perilaku terencana yang direncanakan dengan matang. Kalau ini merupakan pembunuhan, maka pembunuhan berencana itu hukumannya lebih besar ketimbang yang tidak direncanakan.

Budaya bungkus-membungkus di negeri kita ini sudah mendarah daging sejak dahulu kala. Tengok saja ketika arisan, ibu-ibu itu sudah diberikan kotak berisi makanan untuk dibawa pulang, eh masih juga kotak itu dipenuhi hingga mau meledak dengan sisa makanan yang tersaji di meja. Ya harap maklum, ibu-ibu ini kan diajari kalau nyapu harus bersih, jadi kalau dalam arisan, semua makanan di piring juga harus disapu bersih dan tak bersisa. Lagipula, para ibu ini berhati mulia lho, motonya: lebih baik saya yang kegendutan daripada tuan rumah yang kegendutan.

Pada dasarnya, kebiasaan bungkus membungkus ini didasari kecintaan kita pada perut sendiri, kecintaan pada orang lain di rumah serta keengganan untuk membuang makanan dan budaya berbagi. Dua yang terakhir nggak perlu diperdebatkan, niatnya mulia kan, biar bumi lebih indah dan biar orang yang kelaperan bisa kenyang.

Kecintaan pada perut sendiri biasanya terjadi kepada anak kos, seperti saya, melihat makanan berlimpah ruah, sayang jika terbuang. Bagi anak kos, kesempatan membungkus itu tidak boleh disia-siakan,  supaya anak kos nggak perlu repot-repot masak, tinggal menghangatkan untuk makan hingga seminggu ke depan. Disamping itu, membungkus makanan sisa juga memberikan kesempatan bagi anak kos untuk menghemat uang karena nggak perlu makan di luar. Biar gaji anak kos belasan atau puluhan juta juga tetep ngelakuin ini, prinsipnya kan menghemat biar cepet kaya.

Selain anak kos, ibu-ibu yang males masak juga suka kegiatan bungkus membungkus ini. Alasannya, selain supaya orang-orang tercinta di rumah bisa merasakan makanan, biar menghemat uang dan biar nggak perlu repot masak. Istri yang pintar mengatur uang, tentunya akan jadi pujaan suami. Perkara  makanan yang dibungkus mengandung micin sekilo, digoreng pakai minyak jelantah atau bahkan mengandung minyak B2, urusan belakangan. Soal penampilan makanan juga tak penting, yang penting bawa aja dulu. Bener deh kalau ketemu ibu-ibu brutal begini, biasanya aneka makanan dijejalkan ke dalam plastik, hingga bentuk (dan tentunya rasanya) berubah.

Ibu-ibu vs Pekerja dengan Keterampilan Terbatas

Suka nggak suka, di negeri ini pembagian kasta itu masih eksis. Gak percaya? Lihat aja kalau ada perhelatan makan-makan, pasti para pekerja dengan keterampilan terbatas (unskilled labour) seperti pekerja pembersih, pekerja rumah tangga, aparat keamanan biasanya baru boleh makan, atau baru mau makan, setelah para VIP ini selesai makan.

Mereka ini lebih tahu diri dari kita lho, buat mereka mendingan dapat sisa makanan tapi semua tamu kenyang dan bahagia, daripada mereka makan dahulu lalu tamunya nggak kebagian.Lucunya, saya sering mendapati mereka beradu cepat dengan ibu-ibu yang membungkus makanan. Sudah mereka mendapatkan makanan ‘sisa’, masih juga harus beradu cepat dengan para pembungkus makanan. Kita memang sering lupa kalau para pekerja ini berhak makan dengan tenang, seperti tamu agung.

Dari merekalah seharusnya kita belajar. Belajar supaya nggak usah bungkus-bungkus makanan dan memprioritaskan makanan sisa untuk dibagikan ke mereka yang memerlukan. Harusnya merekalah yang kita encourage untuk bungkus-bungkus, bukan kita yang nggak pernah kesulitan beli sayur, apalagi beli daging-dagingan.

Saya juga gak menampik fakta bahwa saya suka bungkus-bungkus, walaupun sekarang lebih memilih membungkus buah-buahan dari rumah tante. Kalaupun kemudian saya bungkus lauk pauk atau makanan lain yang non-buah-buahan, makanan tersebut biasanya berakhir di  post keamanan kos atau pekerja kos . Selain takut kegendutan, saya juga males kalau harus makan makanan yang sama selama seminggu kedepan.

Jadi, kapan terakhir kali kamu ngebungkus makanan?