Tentang Disabilitas

Adik dari Eyang saya (yang juga saya panggil Eyang) memiliki seorang putra yang menyandang disabilitas. Sedari kecil, Eyang saya tidak pernah menyembunyikan Oom saya. Saat akhir pekan Oom saya bersama Eyang saya itu akan beraktifitas jalan pagi ke rumah kami. Oom saya terekspos dengan aktifitas sehari-hari dan bertemu banyak orang.  Oom saya bukan satu-satunya penyandang disabilitas yang saya tahu sejak kecil, ada Anto, teman antar jemput saya (kami sama-sama satu antar jemput di masa SD dan rumahnya tak jauh dari rumah saya). Anto merupakan penyandang disabilitas intelektual yang sekolahnya, sebuah SLB, terletak nun jauh di sisi lain kota. Setiap kali saya pulang ke Malang dan berpapasan dengan Anto, ia akan bersemangat bertanya tentang kabar saya juga kabar adik saya. Sementara temen saya yang lain lain boro-boro nyapa, bales sms aja ogah. Eh.

Oom saya dan juga Anto tidak disembunyikan, mereka berinteraksi dengan orang lain. Tak heran saya kaget luar biasa ketika salah satu guru les saya menyembunyikan anaknya yang menyandang disabilitas. Si anak hanya boleh berada di bagian belakang rumah saja dan tak boleh terlihat orang lain (tapi satu hari saya tak sengaja melihatnya). Padahal usia guru saya ini tidaklah muda, terus kalau beliau meninggal apa yang akan terjadi? Mestinya kan anak tersebut diajarkan bersosialisasi dengan orang.

Indonesia  boleh berbangga hati karena sudah meratifikasi Konvensi Penyandang Disabilitas di tahun 2011, harus bangga lho karena ternyata Irlandia belum melakukan hal tersebut. Tapi menyembunyikan penyandang disabilitas di negeri ini masih banyak terjadi. Alasannya malu ataupun takut dengan stigma dan label buruk dari orang lain. Parahnya, yang sering menyembunyikan penyandang disabilitas justru orang tua dari si anak.

Masyarakat kita juga punya andil besar mendiskriminasi dan juga mengolok-olok penyandang disabilitas. Makanya, masih banyak PR yang harus dilakukan oleh Indonesia. Negeri ini tak hanya perlu menghentikan stigma dan diskriminasi tapi juga perlu berbenah untuk menyediaakan pendidikan inklusif, pembangunan fasilitas yang akses, penyediaan lapangan pekerjaan, akses kesehatan yang layak. Dan masih banyak lagi PRnya yang terkait disabilitas. Ayo Pak Jokowi!

Sebagai individu, apa yang bisa lakukan? Paling gampang, kalau ada penyandang dengan disabilitas, nggak usah dilihatin dari ujung rambut sampai ujung jempol. Saya rasa, cuma Syahroni yang nyaman dilihatin dari atas dari bawah, manusia lain, termasuk penyandang disabilitas nggak nyaman dilihatin seperti itu. Jangan pula menghina dan mengolok-olok, karena dengan atau tanpa disabilitas, kita ini sama-sama manusia.

Penggunaan kata yang tepat juga penting untuk dilakukan. Penggunaan kata cacat misalnya, walaupun UU di Indonesia masih UU cacat (UU no. 4 tahun 1997), kata cacat tidak tepat lagi. Lebih tepat menggunakan penyandang disabilitas. Jangan pula mengatakan kita normal dan penyandang disabilitas tidak normal, lebih baik mengatakan kita adalah orang tanpa disabilitas. Idiot, tolol, lambat juga sebaiknya diganti dengan penyandang disabilitas intelektual atau orang dengan disabilitas dalam belajar.

Hari ini, 3 Desember diperingati sebagai hari internasional disabilitas. Penting bagi kita untuk tahu tentang disabilitas, karena semua orang bisa menjadi penyandang disabilitas kapan saja. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas. Saya bagi infografik  WHO tentang disabilitas. Sebenarnya versi Indonesianya sudah ada, tapi saya nggak sempat motret *padahal cuma di ujung kubikel*.

Disability

Tahukan kamu kalau dari setiap 100 orang yang dipekerjakan, perusahaan wajib memperkerjakan 1 orang penyandang disabilitas? Ini diatur UU lho. Hayo silahkan hitung jumlah manusia di kantornya masing-masing!

xx,
Tjetje

Sekilas tentang HIV/AIDS

Words you should know about HIV AIDS

courtesy of healthline.com.

Hari ini, 1 Desember, diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Mumpung momennya pas (walaupun setiap saat sebenarnya adalah saat yang tepat untuk berbagi infomasi tentang HIV/AIDS), saya ingin berbagi secuil informasi tentang mitos dan fakta yang berkaitan dengan HIV/AIDS:

HIV/AIDS hanya ditemukan pada homoseksual atau pengguna obat terlarang

HIV/AIDS tidak mendiskriminasi manusia. Dari anak-anak hingga orang dewasa, apapun orientasi seksualnya, bisa. Penyebaran HIV/AIDS terjadi karena percampuran cairan tubuh dan juga darah. Hubungan seksual yang tidak aman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah dan dari ibu ke anak (kelahiran) merupakan cara penularannya.

Di Indonesia, penyebaran tertinggi terjadi pada padangan heteroseksual, bukan pada pasangan homoseksual. Statistik menunjukkan bahwa banyak Ibu Rumah Tangga yang terkena HIV/AIDS. Masih menurut statistik, penyebaran tertinggi di Indonesia terjadi di Papua, padahal penduduk Papua hanya 1% dari penduduk Indonesia. Penyebabnya, hubungan seksual beresiko.

Jabat tangan dan berpelukan menularkan HIV/AIDS

Mungkin mitos ini timbul karena kita tidak diperkenankan dekat-dekat dengan orang sakit. Air liur dan keringat tidak menularkan HIV/AIDS. Jadi jabat tangan dan berpelukan pun tak akan menularkan. Dibutuhkan setidaknya 8 liter air liur untuk menularkan HIV/AIDS (ya bow minum air 3 liter aja udah mual, apalagi air liur 8 liter). Perlu diatat, ciuman juga tak menularkan HIV/AIDS,  kecuali kalau ciumannya terlalu heboh sehingga ada luka terbuka. Bagaimana dengan nyamuk? Jangan bingung sama Demam Berdarah Dengue ya, nyamuk tak ikut menularkan.

Kondom dan HIV/AIDS

Mengulang postingan saya, kondom mengurangi resiko HIV/AIDS, mengurangi lho ya. Jadi ibu-ibu kalau suaminya ditengarai tak setia, modalin dengan kondom. Ajarin juga untuk memasang kondom dengan baik dan benar. Bagi pasangan yang sudah sama-sama terinfeksi, penggunaan kondom juga diperlukan supaya tidak terinfeksi ulang (re-infection).

Belum ada obat untuk HIV/AIDS

Penderita HIV/AIDs biasanya diberikan antiretroviral therapy (ART), tapi ini bukan obat untuk membunuh virus. ART berfungsi untuk melambatkan pertumbuhan dan perkembangan HIV.

Singapura mendiskriminasi penderita HIV/AIDS

Ini fakta, bukan mitos. Orang-orang yang terkena HIV/AIDS tidak diperkenankan untuk masuk ke Singapura, bahkan bisa banyak yang dideportasi. Hanya mereka yang memiliki pasangan WN Singapura lah yang boleh tetap tinggal di Singapura.

image

Stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS tidak akan menyembuhkan mereka. Malah semakin membebani mereka. Supaya kita tidak termasuk dalam kelompok orang-orang yang mendiskriminasi orang lain, mari sama-sama belajar. Silahkan klik disini untuk mendapatkan informasi tentang kata-kata yang berkaitan dengan HIV/AIDS. Baca juga ini dan juga ini serta follow twitter UNAIDS.

xx,
Tjetje 

Menyindir Polisi Indonesia

Pada suatu malam, saya dan seorang teman dihentikan Polisi di sekitar Senayan City. Kami berada di jalur yang salah, makanya kami dihentikan dan akan ditilang. Berhubung kami tahu dan sadar bahwa kami bersalah, kami nggak menolak ditilang. Syaratnya, kami minta slip tilang warna biru. Menurut hasil baca sana-sini kalau tidak berniat membela diri dan mengaku salah, bisa meminta slip tilang biru. Dalam slip ini jumlah angka tilang akan diputuskan dan tinggal ditransfer lewat BRI. Kalau merasa tak bersalah dan ingin membela diri sih bisa minta slip merah muda untuk menghadap ke hakim. Ada gak sih yang pernah diputuskan tak bersalah ketika menggunakan slip merah muda ini?

Berbekal hasil membaca ini saya berkata dengan elegan kepada Polisi yang menilang:

“Boleh pak, silahkan ditilang, kami memang bersalah. Tapi minta slip biru ya Pak.”

Malam itu, Pak Polisi yang menilang lagi gemes lihat mbak-mbak elegan, jadi Pak Polisi menjawab:

“Mohon maaf Ibu, kami sudah tidak bekerjasama lagi dengan dengan BRI.”

Mbak-mbak sok elegan langsung pasang muka kaget sambil bilang:

“Hah masak sih pak? Sejak kapan? Saya kerja di BRI kok gak pernah tahu?”

Berhubung Polisinya pas SMA nggak pernah ikut ekstra kurikuler teater, mukanya udah gak bisa bohong lagi. Kaget dengan jawaban saya. Si Polisi langsung ngacir menghadap komandannya, laporan. Polisi tersebut tak pernah kembali lagi, dia mengirim Polisi lain yang meminta kami untuk segera pergi. “Kami bantu Ibu malam ini.” Bantu dari langit? Wong kita mau ngasih tambahan kas ke negara kok malah disuruh pulang.

Bukan sekali ini saja Polisi tak tegas dalam menindak kesalahan. Beberapa waktu lalu di jalan tol, pengemudi kami dihentikan dan diomeli. Setelah diomelin, pengemudi kami mengucapkan kata sakti: “Ambon Demak”. Pak Polisi pun tambah marah karena dia sudah terlanjur ngomel-ngomel, malu hati rupanya karena mencari-cari kesalahan. Saya tak melewatkan kesempatan untuk mengorek kode-kode, ternyata ada kode ajaib macam Ambon Demak, Ambon Lombok hingga Ambon Umar untuk ‘menyelamatkan diri dari tilang’. Tak cuma kata-kata sakti, pengemudi di kantor lama saya  juga menggunakan kode dengan klakson dan lampu supaya tidak dihentikan oleh Polisi.

Mengapa Polisi gak berdaya? Menurut saya karena Polisinya gak jujur (gak semua lho ya), mengada-ada bikin aturan sendiri menghapuskan slip biru. Coba kalau dia langsung kasih slip biru kan kas negara langsung bertambah. Tapi masyarakat kita juga banyak yang menolak menjadi disiplin karena punya kekuasaan. Kalau nggak, mana kode-kode itu. Polisi, yang punya keluarga dan anak untuk dikasih makan juga pada ketakutan kali kalau ‘bermasalah’ dengan pemegang kuasa. Bisa-bisa karir terhambat, dimutasi ke tempat yang ‘tak bahasa’ dan takut lainnya. Makanya, mereka pun menciptakan kode-kode khusus biar sama-sama tak dapat masalah.

Gak cuma masyarakat yang nggak disiplin, Polisi sekali lagi nggak semua lho ya, juga banyak yang tak disiplin. Hampir setiap hari saya melewati jembatan Semanggi untuk menuju kantor. Uniknya, hampir setiap hari juga saya bertemu Polisi yang melanggar aturan. Pemandangan Polisi, baik dengan kendaraan dinas maupun scooter maticnya, melintas di jalur cepat Sudirman menjadi hal yang biasa. Padahal, hampir setiap sore saya amati, polisi menilang sepeda motor yang nekat melintas di Sudirman. Jangan heran kalau peraturan lalu lintas di Indonesia belum bisa ditegakkan. Wong yang menegakkan saja belum bisa disiplin.

image

Saya jadi berpikir, sebenarnya di Indonesia, siapa sih yang berhak menghukum Polisi? Bisa nggak masyarakat melaporkan ? Terus kalau ngelapor bakalan ditindaklanjuti gitu ? Ah entahlah, saya bisanya cuma ngambil foto sama nyindir-nyindir aja.

Selamat berakhir pekan dan semoga weekend ini tak ada yang kena tilang!

xx
Tjetje
Gak pernah kerja di BRI

Calo Passport

Tadinya saya berharap bikin passport pakai calo bisa dilakukan secara kilat dengan biaya yang tentunya lebih mahal daripada biaya normal. Harapan ini pupus karena bikin passport lewat calo prosesnya tetap tiga hari, biayanya dua kali lipat dan tentunya masih tetap antri panjang.

Saya mendapatkan rekomendasi ini dari seorang teman Blogger, tapi ternyata oleh si calo saya direkomendasikan ke calo lainnya, Ibu Mien. Si ibu meminta saya mengantar dokumen ke kantor imigrasi, tapi begitu sampai kantor imigrasi saya bingung karena tak ada seorang calo pun di luar. Bersih sodara-sodara, saking bersihnya, saya nyoba nelpon si ibu calo di lobby depan kantor imigrasi malah diusir halus oleh si security. Saya diminta masuk ke dalam saja kalau mau nelpon.

Di dalam, nelpon ibu Mien tidaklah mudah. Selain karena sinyal yang susah, maklum imigrasinya di samping penjara, saya juga harus berjuang fokus mendengarkan. Fokus mendengarkan telpon tapi juga fokus mendengarkan bapak-bapak yang yang ngomel menuduh petugas melakukan permainan, karena tak kebagian nomor antrian.

Bersih dari calo ternyata cuma pencitraan kantor imigrasi sodara-sodara, di lantai dua tepatnya loket sembilan kita akan disambut dengan puluhan calo passport, lebih dari tiga puluh orang calo. Ruangan ini, menurut saya bahkan lebih besar daripada ruang antrian jalur non-calo. Do tengah banyaknya manusia, seorang calo berteriak-teriak sambil berkata: ingat hari ini kita akan dipanggil berdasarkan nama, bukan nomor.

Dua hari setelah menyerahkan kopi dokumen, saya diminta datang kembali untuk wawancara dan foto. Semua dokumen asli harus dibawa. Saya diminta tiba tepat pukul dua. Setibanya disana, saya diberikan nomor antrian dan saya harus mengantri. Saya mengambil kesempatan itu untuk mengobrol dengan si Ibu Mien yang mengaku pensiunan kantor imigrasi tersebut. Halah Bu sumpah orang mah kalau pensiun lebih baik duduk-duduk menikmati uang pensiunan. Not to mention, Ibu ini belum kelihatan cukup usia untuk pensiun.

Si Ibu menjelaskan bahwa loket sembilan di kantor imigrasi ini memang dikhususkan untuk ‘agen’. Pelayanan sendiri diberikan dari pagi hingga sore. Sementara pelayanan internet dan jalur yang benar dilakukan di loket satu hingga enam. Saat itu saya juga diminta bayar tambahan seratus ribu rupiah, karena saya tak punya kartu keluarga asli. Selain susahnya koneksi ke website imigrasi, tak punya banyak cuti, kartu keluarga juga menjadi alasan saya daftar lewat calo.

Butuh satu jam bagi saya untuk mengantri supaya saya bisa masuk ruang foto dan wawancara, untuk antri lagi. Yang unik, monitor pemanggil antrian ini bisa memanggil hingga lima belas nomor tanpa ada orang yang muncul. Sungguh ajaib.

Ketika tiba giliran foto, saya yang mengenakan rok cantik warna kuning diminta untuk mengenakan blazer karena rok saya, seresmi apapun tidak ada kerahnya. Oh sungguh obsesi orang Indonesia dengan kerah ini luar biasa tak jelasnya. Yang penting itu kan bukan kerah tapi muka saya dan telinga saya? Emang petugas imigrasi di luar negeri mau nanya masalah kerah saya?

passport norway

Desain passport Norwegia yang baru-baru ini bikin heboh dunia internet

Soal wawancara lebih menyesakkan lagi. Petugas wawancara menanyakan kemana tujuan saya yang saya jawab Thailand untuk urusan bisnis. Lalu si Bapak melemparkan guyonan tak penting, hidung saya sudah mancung tak perlu ke Thailand lagi. Setelah sukses mengomentari hidung saya, bukti pembayaran di komputer bapak ini sukses tak bisa dicetak. Si bapak juga mengecek dokumen saya dan tentu saja kartu keluarga tidak di cek, sementara saya sudah kadung bayar ekstra 100ribu rupiah.

Passport saya jadi tiga hari kemudian, tidak bisa dikirim dan harus diambil langsung. Setelah mengikuti semua proses ini saya cuma bisa bilang, bikin passport pakai calo itu nggak worth it sama sekali. Kalau soal reformasi birokrasi mah, ketawa aja, karena terbukti loket sembilan di samping penjara itu didedikasikan khusus untuk percaloan.  Dan mereka tumbuh subur karena masih ada orang-orang seperti saya yang maunya cepet dan mau bayar lebih demi kecepatan semu itu. Oh I am not proud of what I’ve done.

Pengemis

Jaman 2003, waktu saya masih kuliah, saya pernah memergoki ibu pengemis menukarkan recehan lima puluh ribu kepada abang penjaga fotocopy, padahal jam tangan baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Menurut si abang fotocopy, penghasilan segitu jam sepuluh pagi mah biasa. Mengangetkan, mengingat harga nasi lalapan ayam jaman tahun itu hanya tiga ribu rupiah per bungkus. Di Malang, pengemis tak hanya bertebaran di kampus, tapi juga di komplek-komplek perumahan. Pengemis datang ke rumah-rumah, terutama jika pintunya terbuka, berdiri di luar pagar sambil berteriak “Bu nyuwun……” (Ibu, minta). Kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu tua.

Di Ibukota, pengemis ada dimana-mana dan dari berbagai usia. Sebelum menjadi anak kos dan rajin naik bis, saya selalu menyimpan susu ataupun penganan kecil di dalam tas. Maaf ya, jaman itu saya belum tahu bahwa susu adalah hal yang tak baik bagi perut. Sengaja saya siapkan, supaya ketika bertemu pengemis anak-anak, saya bisa memberi mereka penganan. Suatu hari di tahun 2007 saya merogoh tas, setelah berkutat lama, saya akhirnya menemukan makanan kecil untuk si adik kecil. Si adik tersenyum bahagia dan saya pun ikut bahagia melihat muka si adik kecil. Tapi si Ibu tersenyum busuk, sebal tak dapat uang. Gila ya, anaknya dikasih sesuatu bukannya ikut girang malah senyum busuk.

Kendati sudah tak rajin naik bis, saya masih rajin sering bertemu dengan pengemis. Di Jakarta, saya rajin bertemu ibu-ibu pengemis dengan anak-anak di bawah usia setiap hari Jumat, di sekitar Masjid di dekat kantor, diantara mobil-mobil yang parkir sembarangan, malang melintang bikin macet. Kenapa sih kalau hari Jumat mendadak pada gak disiplin?  Selain meminta uang kepada mereka yang akan menunaikan ibadah, para pengemis ini juga akan meminta makanan ke Bapak Penjual Gudeg. Si Bapak memang rajin menyisihkan sebagian makanannya bagi para pengemis. Jadi tak heran kalau para pengemis tak akan segan-segan antri meminta makan. Herannya, para pengemis ini juga rajin jajan. Lha?

Jakarta juga masih punya pengemis di perempatan jalan. Dua hari lalu, saat Jakarta diguyur hujan lebat, saya bertemu dengan adik kecil yang mengemis di perempatan Masjid Al Azhar. Sementara orangtuanya (atau mungkin koordinator mafianya), berteduh di bawah tenda plastik tak jauh dari perempatan itu. Brengsek banget kan?

Kasihan selalu menjadi alasan untuk memberi pengemis. Ajaran kebaikan untuk memberi yang tidak mampu juga menjadi landasan kuat untuk memberi. Bagi kacamata kita, memang kita melakukan kebaikan, karena memberi mereka. Tapi tidakkah itu memupuk kemalasan mereka dan membiasakan mereka untuk menengadahkan tangan? Saya pribadi kok melihat kebaikan orang itu sengaja dimanfaatkan dengan baik. Lihatlah deretan gerobak pengemis yang menjamur di Jakarta pada saat menjelang Lebaran. Mereka sengaja muncul untuk mengais rejeki dari para orang kaya Jakarta.

 

alms

Pengemis bukan hanya masalah orang Malang, Jakarta, Bali (cuma Bali yang saya perhatikan rajin merapikan pengemis di ruang publik), tapi juga masalah dunia. Irlandia yang sudah maju pun masih dihiasi pengemis-pengemis. Tanggung jawab membehani mafia pengemis bukan hanya tanggung jawab pemerintah melalui program penurunan angka kemiskinnnya, tapi juga merupakan tanggung jawab kita semua.  Kalau menurut saya, daripada menyuburkan pengemis, lebih baik uang sumbangan disalurkan ke organisasi-organisasi, badan-badan ataupun yayasan-yayasan yang programnya jelas. Atau, kalau mau ngasih langsung, lebih baik diberikan kepada para abang pedagang asongan atau para tukang becak yang kendati sudah mengayuh dengan sekuat tenaga, penghasilannya belum tentu setinggi pengemis di kampus saya dulu.

Masih rajin memberi uang pengemis?

xx,
Tjetje

Budaya keseharian masyarakat Irlandia

Seperti biasa kalau mati ide saya suka lihat-lihat search term untuk mencari ide. Rupanya minggu lalu ada yang mencari tahu tentang keseharian masyarakat Irlandia. Berbeda dengan Indonesia yang bermandikan matahari, Irlandia disiram hujan setidaknya terjadi dua kali dalam seminggu. Hujan pertama bertahan selama tiga hari, selama hujan kedua bertahan selama satu minggu. Negeri itu memang kesiram hujan 366 kali selama setahun, tak heran jika budayanya berbeda dengan negeri kita, walaupun ada juga kebiasaan yang mirip dengan kita.

Nongkrong

Orang Indonesia hobinya nongkrong rame-rame sambil nyari Wifi gratisan, terus sibuk ngobrol lewat messenger cek sosial media atau malah mainan Hay Day. Eh. Nah, di Irlandia, budaya nongkrong lama-lama di pelataran minimarket itu gak ada, tapi budaya nongkrongnya punya dong. Mereka nongkrong di depan café pada saat matahari bersinar saat musim panas ataupun musim gugur, berjemur ceritanya. Tak hanya  di café orang Irlandia juga gemar nongkrong di taman sambil ngasih makan bebek & burung (ini mah saya) atapun baca buku. Gak cuma orang Irlandia yang hobi nongkrong di taman, orang-orang di belahan dunia lain yang beruntung punya ruang publik (taman) juga gemar berleha-leha di taman.

Tempat  nongkrong lainnya? di pub dong, sambil menikmati musik, nonton pertandingan olahraga, atau hanya ngobrol-ngobrol. Tanpa laptop, ipad, gadget dan juga power bank di atas meja. Penikmat nongkrong ini tak hanya anak muda, tapi juga orang-orang tua.

Minum teh

Orang Irlandia gemar banget minum teh atau kopi di Café ditemani scone atau cake. Setelah ngeteh, ngobrol-ngobrol ini itu, mereka pada cabut. Nggak lama-lama kalau nongkrong. Soal teh, walaupun tak punya upacara minum teh orang Irlandia konsumsinya tinggi banget. Kalau menurut website ini sih nomor dua di dunia. Ya gimana gak nomor dua kalau mereka jarang minum air putih dan selalu minum teh. Gak heran kalau gigi-gigi orang Irlandia itu pada kecoklatan terkena tannin dari teh. Oh ya, di Irlandia, teh dicampur dengan susu segar dan disajikan tanpa gula.

Nonton Olahraga

Tak cuma anak muda yang hobi nonton olahraga, nenek-nenek di Irlandia juga banyak yang hobi nonton olahraga. Nggak semua tentunya. Jika ada pertandingan tak cuma stadion yang penuh, tapi pub-pub pun dipenuhi para fans. Bahkan, saat ada pertandingan, sudut-sudut kota dan toko-toko pun berhias dengan pernak-pernik olahraga. Kilkenny contohnya, berhias dengan kucing hitam, simbol tim kesayangnnya. Menyusuri Kilkenny yang dipenuhi kucing hitam mengingatkan saya pada Malang saat Arema bertanding, penuh dengan Singo Edannya. Jangan tanya dari mana asalnya Singa di Malang!

Olahraga apa aja yang ditonton orang Irlandia? Selain sepakbola, mereka juga menonton segerombolan pria-pria kekar main rugby. Lihat pria-pria main rugby kan sudah biasa, nah bagaimana kalau rugby dikombinasikan dengan basket dan sepakbola jadilah gaelic football. Olahraga brutal, kalau kata saya. Bagaimana tak brutal jika 30 pria di lapangan ini boleh saling bertabrakan demi 3 poin jika memasukkan bola ke gawang, atau 1 point jika berhasil meloloskan bola di antara dua tiang di atas gawang. Tak seperti sepakbola, olahraga ini tak mengenal offside, jadi ya bablas tabrak sana sini, sikut sana sini, lalu lari sekencang-kencangnya. Mungkin moto olahraga ini tabraklah aku, ku tak peduli.

Gaelic football bukanlah ‘olahraga tercepat di lapangan’, hurling lebih cepat lagi. Hurling mirip dengan gaelic football tapi dengan bola yang lebih kecil dan ditemani stick kayu untuk memukul bola. Olahraga ini mengkombinasikan hoki, lacrosse dan baseball. Olahraga ini buat saya termasuk brutal. Di sepakbola, kalau ketendang dikit pemainnya pura-pura sakit biar wasit kasihan, nah di Hurling (serta Gaelic Football) mereka walaupun kesakitan akan pura-pura sehat. Brutal tho? Tadinya nggak ada peraturan pakai helm saat Hurling, alhasil banyak orang cedera wajah. Tapi sejak 2010 wajib pakai helm dan pelindung wajah, sejak itu cedera di wajah berkurang tapi tangan masih bisa cedera, kesambit stick. Ouch…..

Have a nice week everyone!
Tjetje

Arisan

Beberapa bulan terakhir ini, terutama saat akhir bulan saya meratap dan merana. Bukan karena gaji cuma numpang lewat aja, tapi karena saat mengocok arisan saya tak pernah menang. Menunggu nama keluar saat arisan itu rasanya menggemaskan dan sayangnya tak ada tips untuk menang arisan. Sama seperti banyak orang, saya mah maunya menang arisan di kocokan pertama, biar berasa lotere, tapi apa daya, hingga pengocokan hampir habis saya tak kunjung dapat. Tapi akhir bulan ini dipastikan saya menang arisan, karena akhir bulan ini pengocokan terakhir

Entah sejak kapan arisan ada di negeri ini. Saya sendiri sudah mengenal arisan semenjak kecil, bukan kecil-kecil hobinya ikut arisan ya, tapi karena suka ngikut Mama & Eyang Putri arisan. Perkenalan pertama saya dengan arisan justru dari arisan gaul Mama saya dengan tante-tante di Malang. Uniknya, yang saya ingat dari arisan itu justru mobil milik seorang tante yang ditabrak tante lainnya. Tante yang mobilnya ditabrak tak repot marah-marah, karena dia punya asuransi. Pelajaran berharga tentang asuransi itu meresap di kepala saya.

Selain arisan tante-tante gaul, mama saya juga ikut arisan ibu-ibu RT. Aktivitas ini buat saya menyenangkan setiap kali menang arisan, mama saya selalu bereksperimen menyajikan penganan yang berbeda-beda, dari  mulai serabi, siomay  (yang lain arisan, saya kepanasan di dapur mengukus siomay), aneka rupa pudding, hingga pasta. Arisan, tak cuma hahahihi dan mengocok dadu, tapi juga mengatur menu supaya tamu-tamu pulang ke rumah dengan perut girang. Saat saya kecil, saya sudah melakukan pemetaan tetangga favorit saat arisan (karena kemampuannya menyajikan makanan super lezat) serta tetangga yang tidak favorit (karena kebisaannya untuk menyajikan makanan dengan rasa amburadul). Kecil-kecil reseh ya.

Tak cuma arisan dengan teman ataupun dengan tetangga, arisan keluarga juga eksis. Tujuannya lebih untuk ngumpul-ngumpul antar keluarga dan saling menjaga hubungan. Bagi saya, arisan keluarga itu penting, supaya bisa saling kenal dengan saudara, apalagi kalau keluarganya besar. Yang tak kalah pentingnya, ajang arisan ini juga menjadi momen tepat untuk meneror si lajang supaya segera bisa menjadi istri laki orang. Eh.

dice

Image by Free-Photos from Pixabay

Arisan tak cuma jadi ajang kumpul-kumpul tapi juga jadi ajang investasi. Arisan panci contohnya. Jangan salah lho, harga panci yang bagus, itu ternyata tak murah, bisa berjuta-juta dan demi mendapatkan panci yang bagus, ibu-ibu banyak yang rela berarisan. Arisan investasi lainnya adalah arisan emas, emas koin tentunya, bukan perhiasan emas. Bagi yang duitnya berlimpah, arisan berlian juga bisa menjadi alternatif.

Tak selamanya ajang arisan itu positif, terkadang arisan juga bisa negatif. Salah satu penyebabnya gagal bayar, karena sang partisipan tak menyadari kemampuan keuangannya. Ikut arisan karena gengsi dan malu sama temannya, buntutnya, malah bikin musuhan seumur hidup. Arisan juga seringkali jadi ajang memutakhirkan gossip, tak ubahnya infotainment di pagi, siang, sore dan malam hari (gila ya TV kita isinya infotainment melulu!). Kalau soal pamer-pamer di arisan, dari pamer perhiasan, tas, hingga pamer tinggi sarang lebah di rambut sih udah biasa lah ya.

Banyak orang beranggapan bahwa arisan hanyalah aktivitas perempuan saja, padahal pria-pria juga suka berarisan. Baik sebagai partisipan aktif yang turut rutin membayar, maupun sebagai objek yang dijadikan bahan kemenangan para perempuan peminat arisan. #Eh. Arisan yang satu ini tentunya hanya untuk kenikmatan beberapa menit saja, basuh peluh ya Tante.

Xx,
Tjetje
Berharap segera menang arisan
 
Mbak Yoyen pernah menulis tentang Arisan juga disini, silahkan ditengok.

Tawar Menawar

Menawar adalah bagian dari keseharian dan merupakan sebuah permainan keegoan. Uang memang menjadi salah satu alasan untuk menawar, tapi menurut saya, kegeosian lebih dominan. Ego untuk ‘memenangkan perdebatan’ dan mempengaruhi orang lain. Walaupun dalam tawar menawar, tak ada yang menang ataupun yang kalah, dua-duanya sama-sama mendapatkan keuntungan. Konsumen dapat harga yang lebih murah dari harga yang ditawarkan, sementara pedagang tetap mendapat keuntungan.

Kendati tawar-menawar merupakan bagian dari keseharian kita, tak semua orang punya hati untuk melakukannya. Saya termasuk golongan penawar sadis. Prinsip saya, kalau nawar harus di atas 50%, atau malah 70% supaya kesepakatan harga bisa bertemu di titik 50%. Kelihatan sadis sih, tapi sebenarnya harga-harga yang ditawarkan acapkali sudah dinaikkan berpuluh kali lipat, bahkan di Borobudur harga patung kecil Budha bisa ditawarkan 20 kali lipat dari harga aslinya. Tak selamanya saya sadis, kadang saya suka menawar sampai harga yang saya inginkan, tapi tetap membayar sesuai harga pertama yang ditawarkan, apalagi jika selisihnya tak terlalu banyak.

Selain ‘kesadisan’, pantang hukumnya pasang tampang pengen banget jika ingin menawar. Diperlukan gaya cuek & pura-pura tak berminat. Kalau vendor A tak mau memberikan harga yang kita minta  lebih baik ngeloyor ke kios B sambil minta harga yang lebih murah dari kios A. Kalau toko B tak mau, ya terpaksa telan gengsi balik lagi ke toko A. Makanya, sebelum proses tawar menawar, keliling area untuk melihat harga pasar itu wajib.

Kunci lain dari menawar adalah kemampuan bahasa daerah. Selain bahasa Jawa, saya bisa berbahasa Bali. Jadi di pasar-pasar di Bali saya slamet dari harga yang mencekik karena selalu disangka orang Bali yang kelamaan tinggal di Jakarta. Tapi teknik bahasa daerah tak selamanya berguna, di Madura, saya gagal mendapatkan diskon yang signifikan karena pengrajin batik di sana cenderung malas tawar-menawar, dengan bahasa Madura sekalipun.

Datang pada hari-hari tertentu dan saat toko masih baru buka juga merupakan salah satu trik untuk melancarkan tawar-menawar. Soal hari-hari tertentu, kalau saya tak salah mengingat, Selasa termasuk hari yang kurang baik, jadi banyak pedagang dari etnis tertentu yang ‘jual murah’. CMIIW. Sementara, ketika toko baru buka, pedagang cenderung menjual murah karena tak ingin nasib buruk menimpa sepanjang hari jika menolak pembeli pertama.

Pasar besar

Sesadis-sadisnya saya dalam menawar, ketika berurusan dengan pedagang yang usianya sudah tua, saya seringkali tak tega. Di kos saya yang lama, ada pedagang buah yang usianya mungkin sudah di atas 70 tahun. Setiap kali datang beliau pasti mengetuk kamar saya dan menawarkan buah. Tanpa tawar-tawar buahnya sering saya beli, walau kadang saya tak doyan buah yang dia jual. Sedih rasanya melihat orang yang seharusnya menikmati hari tua harus berdagang di bawah teriknya Jakarta dengan beban dagangan yang berat. Prinsip ini  tak saya terapkan ketika berurusan dengan anak-anak yang berdagang, pantang hukumnya beli dari anak-anak; Walaupun ketika saya di Kamboja saya membeli kartu pos dari anak di bawah umur *nggak tega*.

Tak cuma di pasar, menawar wajib dilakukan dimana saja. Menawar gaji, menawar jasa calo, bahkan tawar menawar tanggal perkawinan *uhuk* bahkan ketika mendaftar gym.  Bicara tentang gym, selain ngotot minta harga yang murah, saya juga suka minta bonus ini itu. Buntutnya, saya punya banyak tas gym. Sales person di gym saya berkata bahwa hanya perempuan yang hobi menawar gila-gilaan. Sementara pria cenderung gengsi untuk menawar. Saya cenderung setuju dengan pernyataan ini, walaupun tak semua pria malas menawar.

Bagi sebagian orang asing, tawar-menawar bukanlah hal yang menyenangkan. Malah cenderung dilihat sebagai wujud ketidaksopanan dan kesombongan. Menawar, apalagi hingga lebih dari lima puluh persen, adalah bentuk penghinaan atas kemampuan ekonomi dari pedagang serta atas kualitas produk yang dia jual. Banyak juga pedangang yang tersinggung jika dagangannya ditawar, apalagi ditawar dengan kejam. Lain ladang, tentunya lain belalang.

Xx,
Tjetje

RSVP

Suatu hari saya memberikan ucapan selamat saya berikan kepada sepasang kenalan yang baru saja kawin. Setelah mengucapkan terimakasih, pasangan ini kemudian nanya kenapa saya tak hadir pada perkawinan mereka. Sungguh pertanyaan yang agak ajaib basa-basi banget, mengingat saya tidak pernah menerima undangan perkawinan mereka, baik yang elektronik maupun yang cetak. Pertanyaan tersebut saya jawab dengan sopan bahwa saya tak menerima undangan dan kemudian ditimpali: Lho kalau tahu kenapa nggak datang aja?

Sekalipun tahu tempat dan tanggal perkawinan seorang kenalan, pantang buat saya untuk tiba-tiba nongol ke kawinan mereka (kecuali saya jadi plus one ya). Kalau pas pengantennya menerima dengan baik sih mending tapi kalau gak diterima dengan baik kan jadi rusak acara orang. Bagi saya perkawinan itu acara sakral (bukan konsumsi TV lho Mas Raffi), makanya kalau saya ga diundang saya paham sekali.

Undangan perkawinan, secara teori berlaku untuk dua orang, yang lajang biasanya bawa plus one supaya gak bengong. Tapi tak sedikit yang datang ke sebuah perkawinan beramai-ramai (agak ga tau malu sih yang begini), saya menyebutnya plus-plus. Tamu-tamu seperti ini alasannya macam-macam, biar bisa makan gratis atau memang biar rame. Padahal kurang rame apa kawinan di Indonesia itu? Lagian tak ada yang mengecek undangan, jadi biasanya orang bisa melenggang ke kawinan orang lain. Tak heran kalau pengantin sekarang menghitung satu undangan itu sama dengan tiga atau empat orang, supaya tak ada kekurangan makanan.

RSVP cartoon

Di Barat (lalu dituduh kebarat-baratan) dan di beberapa perkawinan di Indonesia, RSVP menjadi hal yang wajib. RSVP itu singkatan bahasa Perancis,  répondez s’il vous plaît. Kalau dalam Bahasa Indonesianya : tolong bales dong. Balasnya dengan konfirmasi kehadiran atau ketidakhadiran dan harus dijawab secepat mungkin karena di banyak acara, terutama dalam pesta perkawinan, RSVP diperlukan agar menu dapat dipesan sesuai dengan jumlah tamu.

Tak seperti perkawinan di Indonesia, saat jamuan makan di ‘perkawinan barat’ tamu wajib duduk manis. Sementara kita, dari kecil diajari untuk makan duduk tapi saat pesta perkawinan disuruh makan berdiri. Makanya RSVP diperlukan segini mungkin. Ngatur siapa duduk dengan siapa itu repot dan butuh waktu untuk mikir. Biasanya yang lajang didudukkan dengan lajang lainnya biar bisa ngobrol (di Barat, perkawinan itu ajang mencari jodoh). Tapi memutuskan lajang mana duduk dengan lajang mana mesti dipertimbangkan baik-baik supaya mereka bisa saling nyambung.

Bagaimana kalau sudah RSVP tapi nggak jadi datang? Di beberapa tempat, jika sudah melakukan RSVP dan gak muncul ke acara, wajib hukumnya untuk tetap memberikan hadiah perkawinan untuk mengkompensasikan ‘kerugian’ atas makanan yang dipesan. Lalu, bagaimana kalau telat RSVP? Gampang, tinggal ditolak aja karena makanan dan kursi sudah diatur. Di Indonesia menolak hal seperti ini pasti segan, tapi di luar Indonesia mah biasa aja.

Dari perkawinan mari kita bergeser ke acara seremonial dimana RSVP diperlukan untuk pengaturan kursi VIP dan salah mengatur kursi untuk VIP bisa menyebabkan insiden. Di Indonesia, VIP tak punya kebiasaan konfirmasi kehadiran, biasanya pihak pengundang yang harus rajin meneror menelpon untuk mengkonfirmasikan kedatangan tamu. Kebiasaan nggak RSVP ini merepotkan, karena beberapa jam sebelum acara jadi repot nyari-nyari sofa tambahan buat tamu VIP dadakan. Agenda acara juga mesti disesuaikan untuk mengakomodir tamu VIP. Banyak juga yang sudah RSVP, tapi buntutnya gak muncul atau malah mengirimkan pejabat pengganti yang tak tahu apa-apa. Ya gimana mau tahu kalau pagi-pagi baru dikasih arahan untuk pergi.

Melakukan RSVP itu bukanlah hal yang susah, cuma tinggal atur agenda dan angkat telpon. Jadi kalau dapat undangan (apalagi pejabat2 nih), jangan males RSVP dong karena RSVP itu bikin hidup orang lebih mudah.

xx 
Tjetje

Pertanyaan Pribadi

Kalau menurut buku “Why Asians Are Less Creative Than Westerner”, orang Asia itu cenderung malu bertanya jadi kurang kreatif. Malu bertanya memang bagian dari kebudayaan dan kebiasaan kita. Ada, mungkin banyak, yang menganggap rajin bertanya berarti tak paham dan kurang cerdas. Dalam urusan scientific memang kita cenderung malas bertanya, takut jadi bahan tertawaan. Konon karena pola pendidikan inilah orang Asia lebih sering dapat medali olimpiade fisika, ketimbang dapat Nobel. Fisika cukup dengan menghapal rumus (cmiiw), sementara Nobel menuntut pemikiran kritis yang memunculkan banyak pertanyaan.

Sebaliknya dalam urusan sosial, bertanya menjadi bagian yang paling digemari; kalau bahasa saya sih orang kita juara. Pertanyaan-pertanyaan yang gak jelas manfaatnya banyak ditanyakan orang. Orientasi seksual contohnya. Orang suka banget bertanya apakah si X gay atau bukan. Orientasi seksual bukanlah suatu hal yang bersifat pribadi dan tidak perlu ditutup-tutupi. Tapi, mengutarakan orientasi seksual di negeri ini beresiko, beresiko didiskriminasi dan dikucilkan. Jika ada orang yang bertanya atau bahkan berkomentar tentang orientasi seksual orang lain, saya akan bertanya balik: Emang kenapa?  Dan seringkali dijawab, ya gak papa sih. Kalau gak papa dan gak penting kenapa nanya? Palingan kan mau bisik-bisik yang menyayangkan ganteng-ganteng kok gay? Please deh, they were born that way. Terus mau menghakimi mereka sebagai pendosa. Lupa ya kalau kita sendiri juga pendosa?

Ketika bertemu transjender, orang juga suka nanya apakah mereka sudah operasi atau belum. Ya kali, mereka aja gak pernah nanya bentuk alat kelamin kita kok kita lancang menanyakan bentuk alat kelamin mereka. Soal kelamin, seorang istri WNA  yang rajin baca blog ini pernah ditanyain masalah suaminya sunat atau belum. Nggak cukup dengan sudah sunat atau belum, orang juga banyak yang nanya masalah ukuran, besar ya? Hah disangka kita perempuan suka ngebanding-bandingin besar terong di toko A dengan warung B apa? Gimana coba tahunya terong A lebih besar dari terong B? Pakai penggaris atau dijajarkan untuk diobservasi? Edan! Orang yang nanya gini sih baiknya dijawab, besar banget, jauh lebih besar dari punya pasangan anda, saya sudah buktikan. Daya nakal deh

Saya sendiri pernah menerima pertanyaan ajaib tentang keperawanan, bukan dari pasangan saya tapi dari orang lain. Kalau pasangan saya yang menanyakan itu wajar karena kami memiliki hubungan, lha tapi kalau orang lain yang nanya, mau ngapain coba? Emangnya saya ini calon istri perwira apa pakai ditanya-tanya? (catatan : di Indonesia calon istri perwira wajib hukumnya mengikuti tes keperawanan).

Pertanyaan mengenai saya dan pasangan tidur bersama juga pernah ditanyakan kepada saya. Kalau dijawab belum, akan ditimpali dengan ‘ooooo’, tapi gak akan percaya. Masak pacaran sama bule gak pernah diapa-apain?  Sementara kalau dijawab sudah tidur bersama saya yakin akan dilanjutkan dengan pertanyaan bagaimana rasanya, bagaimana posenya, dan bagaimana-bagaimana lainnya. Tentunya, detail ini kemudian akan beredar kemana-mana, lengkap dengan bumbu yang super pedas.

Nah itu tadi urusan kelamin dan ranjang, urusan keuangan juga sering ditanyakan. Bertanya gaji, tak cuma gaji saya tapi juga gaji pasangan. Mirip konsultan pajak yang akan menghitung Pph 21. Tak cuma gaji, hadiah natal saya pernah ada yang memperkirakan berapa harganya. Bahkan, ketika saya dilamar, pertanyaan tentang jenis batu di cincin serta ukuran batu juga diungkapkan (demi mengkonfirmasi ketidaknyamanan, situs2 etika saya jelajah). Lalu jika cincin saya tak berbatu, atau malah batu kerikil mau diapakan? Diberi cincin oleh pasangan itu bukan masalah hati, tapi simbolisasi bahwa kami berkomitmen untuk serius dan maju ke jenjang selanjutnya. Eh kalau pengen puas nilai-nilai perhiasaan orang, kerja di pegadaian aja gih!

engagementecard

Basa-basi itu penting, tapi etika, sopan santun dan penghormatan privacy orang lain juga tak kalah pentingnya. Mari berbenah diri dan belajar untuk menjadi individu yang lebih baik, stop nanya-nanya yang gak penting.

xx,
Tjetje