Kartu Pos dari Irlandia

Hello dari Irlandia.

G, saya dan mama saya sedang berada di Killarney, kota kecil nan cantik di barat daya Irlandia. Liburan kali ini saya membawa mama, mamamoon (honeymoon with mama) ceritanya. Ternyata liburan sama mama bisa penuh cerita, apalagi kalau mamanya nggak pernah long-haul lebih dari delapan jam. Jadi, belum liburan mamanya udah panik dan udah stres duluan.

image

Cerita mamamoon dan cerita cantiknya Killarney nanti saya upload kalau sudah punya waktu ya. Blogger gadungan ya begini ini, nulisnya kalau lagi mood doang. Buat spoiler saya kasih dulu beberapa foto cantik dari Killarney yang hawanya lagi bagus banget 16°C. Dengan hawa segitu orang Irlandia udah pada pakai baju nggak berlengan, sementara orang tropis macam saya terbungkus rapat.

image

Anyway, saya ingat ada beberapa orang yang suka kartu pos dan kali ini saya akan membeli dan mengirim kartu pos secara acak dari beberapa kota di Irlandia. Yang mau kartu pos boleh drop alamatnya di binibule.com at gmail dot com.

image

First in first served ya! Haffa a nice day everyone!

image

Note: Kartu Pos ditutup karena saya sudah kembali ke Indonesia.

Bertemu Pemimpin Negara

Dua belas hari terakhir ini saya berada di Bali untuk urusan pekerjaan. Selama dua belas hari saya kerja non-stop, kurang tidur dan kurang makan. Napsu makan menghilang karena saya bosan lihat makanan hotel. Saking sibuknya ngurusin kerjaan, saya tak sempat menengok pantai di siang hari, kesempatan melihat pantai hanya terjadi saat makan malam. Sedihnya. Hari Sabtu kemarin saya kembali ke Jakarta dan ada luapan kebahagiaan karena bisa kembali pulang ke rumah, terbebas dari beban pekerjaan, gembira karena pekerjaan telah selesai dengan baik dan gembira bakal bisa makan makanan normal. Percayalah, secantik apapun makanan hotel itu, lama-lama muak juga.

Ada banyak  hal yang berkesan dalam dua belas hari ini, dari  ketemu orang-orang dengan pengetahuan luar biasa, pejabat ngehek, hingga bertemu pimpinan-pimpinan negara. Sebagai pegawai biasa-biasa saja dengan prestasi biasa-biasa saja, saya tak pernah bermimpi bisa bertemu dengan orang nomor satu di negeri ini, Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam kesempatan resmi. Selain Ibu Dirjen kantor saya, ketika itu hanya empat orang yang diperkenankan menemui SBY. Saya, sebagai orang kelima dalam urutan hirarki tak banyak berharap, hingga kemudian bos tercinta mendelegasikan saya untuk bertemu beliau. Keputusan mengirim saya ke ruangan meeting berjalan cepat sehingga saya tak sempat berpikir apa-apa. Begitu ketemu SBY saya pun tata krama mengharuskan memanggil beliau Your Excellency. Ya maaf Pak Presiden, jaman belajar buku panduan tata krama nggak sampai pelajaran menyapa pemimpin negara.

Gimana rasanya ketemu SBY? Terus terang saat mati rasa, karena kejadiannya begitu cepat. Lempeng aja kayak robot, maklum selama beberapa hari itu saya sarapan espresso terus biar mata terjaga (untung ga jantungan). Dua hari kemudian saya baru sadar kalau saya ketemu Presiden dan kesempatan itu sangatlah langka.

Berkesankah ketemu SBY? Errr biasa aja, Presiden kan juga manusia. Tapi yang teringat dalam kepala, Presiden SBY itu pintar, pembawaannya tenang, formal,  bicaranya terstruktur dan bahasa Inggrisnya bagus. Satu hal yang saya tak bisa terlewatkan, beliau terlihat sangatlah lelah, kantong mata itu bukan tipuan. Aduh kenapa nggak di operasi aja si Pak? Surprisingly, urusan pengamanan tak seketat yang saya bayangkan. Saya bahkan bisa bawa backpack masuk ke dalam ruang meeting *maklum backpacker*. Foto saya salaman sama Presiden tak ada karena begitu saya salaman, fotographer kami terjatuh tersenggol awak media lain. Untungnya sang photographer dan kameranya tak apa-apa. Eh tapi kalau ada foto salaman sama Presiden saya janji nggak akan saya cetak dengan ukuran besar lalu dipasang di ruang tamu. Janji!

Ailsa dan SBY 2

Suasana ruangan meeting di hotel favourite SBY di Bali

Selain ketemu Presiden SBY, pekerjaan juga membawa saya juga bertemu PM Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmão. Pertemuan ini buat saya jauh berkesan, karena pribadi beliau yang sangat ramah dan hangat. Saya sebenarnya tidak kebagian kursi dan berdiri  ketika menghadiri pertemuan ini karena ruangan yang terlalu sempit, tapi oleh beliau, saya diminta duduk di dekat beliau. Beliau juga tak mengajak saya bersalaman, karena saya orang muda, saya malah diajak tos *aduh apa sih bahasa Indonesianya high five*.

Ailsa and Xanana 2

Ketemu PM ketawa cekakan

Dari pertemuan itu saya belajar banyak hal, tapi yang paling membuat saya terkesan adalah komitmen beliau untuk pembangunan Timor-Leste. Beliau berkata bahwa “every transition is fragile”, makanya beliau berharap kedamaian dapat tetap terjaga. Timor-Leste selama 15 tahun belakangan ini bertransisi untuk maju dan beliau tak ingin negaranya mundur ke 15 tahun lalu. Hal lain yang membuat saya takjub adalah ketiadaan jejak-jejak amarah maupun dendam terhadap Indonesia, justru beliau ingin membantu Indonesia bagian timur yang kurang maju.

Ailsa and Xanana

Di akhir pertemuan, saya mendapatkan hadiah ciuman di kening dan ciuman itu sukses bikin saya nggak bisa tidur karena girangnya. Kegirangan ini lebih pada fakta bahwa ada pemimpin yang jauh dari formal. Saking ramahnya beliau, di Forum 6th UNAOC kemarin, beliau termasuk pemimpin tinggi yang sangat populer dan banyak berfoto dengan. Fotographer kami bahkan menangkap moment beliau dengan serunya ber-highfive  dengan Desy Anwar. Seneng deh kalau lihat pemimpin tanpa batas seperti ini.

Siapa yang pengen ketemu pemimpin?

xx
Tjetje

Kamboja: Negeri Satu Dollar

Suasana lebaran masih terasa, jadi walaupun telat, saya ingin mengucapakan selamat Idul Fitri dan mohon maaf lahir batin. Mohon maaf juga saya sedikit menerlantarkan blog, karena beberapa waktu ini jalan-jalan & missions terus. Sampai September ini saya bakalan super sibuk, jadi postingan akan semakin jarang.

Anyway, saya baru kembali dari Cambodia & untuk pertama kalinya dalam sejarah jalan-jalan, saya jatuh cinta dengan sebuah  negara, negara yang ‘hancur’ dan kembali ke titik nol karena Pol Pot. Cambodia, atau dalam bahasa Indonesia kita disebut sebagai Kamboja, adalah negara yang termasuk dalam kategori LDC, atau Least Developped Country. Tak seperti tetangganya, Thailand dan Vietnam, pembangunan dan ekonomi di Kamboja belumlah bersinar. Seperti biasa, saya yang suka mengamati orang dan mengobrol sebanyak-banyaknya dengan orang lokal untuk dapat cerita yang berbeda.

Terdapat dua buah mata uang di Kamboja, USD serta Cambodia Riel. Satu USD setara dengan 4000 Riel. Konon, UN-lah yang bikin mereka pakai USD, ditambah lagi mereka tak percaya terhadap kestabilan mata uangnya sendiri. Dari beberapa obrolan & membaca, UN juga dipercaya membawa HIV/AIDS ke Kamboja. Akibat pakai dollar ini, segala hal jadi ‘mahal’ karena harga termurah satu dollar. Air botolan, camilan pinggir jalan (gorengan), bahkan ular goreng pun satu dollar. Penggunaan dollar ini jadi agak ribet ketika harus bayar 0.5 dollar karena tak ada koin. Kalau lagi beruntung kita dikasih 2000 Riel tapi kalau lagi apes, dikasih permen sugus tiga biji. Jadi dihitung-hitung satu buah permen sugus itu 2000 rupiah saja. Sadis!

image

Moda transportasi tergampang adalah tuk-tuk. Bayarnya gak 1 dollar, tapi minimal 2 dollar. Mereka juga nanya berapa orang yang akan naik di dalam tuk-tuk itu, nampaknya semakin banyak semakin mahal. Beruntungnya kita di Jakarta yang cuma perlu bayar taksi 7000 kalau jaraknya dekat. Sama seperti di Bangkok, setiap kali kita jalan atau keluar dari restaurant tukang tuktuk akan menyerbu untuk menawarkan jasanya. Bedanya, tuktuk di  Cambodia nggak akan bawa kita mampir-mampir ke toko souvenir, toko gems atau tukang jahit. Yang menarik, tukang tuktuk selalu menyangka saya orang Filipina. Ketika saya tanya mengapa mereka menyangka saya Pinoy, jawabannya dua: karena saya pendek & karena hidung saya tak pesek. Kocak!

image

Saya tak menemukan modus tipu-menipu tuktuk, apalagi dihentikan ditengah jalan untuk minta tambahan. Harga tuktuk relatif standard untuk berbagai tujuan, ke Angkor sehari 15 dollar, sementara ke Banteay Srei 23 dollar. Tukang tuktuk kami di Siem Reap sukses menghilang di hari ketiga, karena sudah dibayar di hari kedua. Kami bertanya-tanya mengapa ia menghilang, tak butuh uangkah dia? Mungkin, mungkin ya, dia sudah merasa cukup dengan 45 dollar yang didapat dari dua hari kerja. Konon, penghasilan di Siem Reap itu berkisar 80 dollar saja per bulan, sementara untuk hidup layak diperlukan 150 dollar. Ajaran agama Budha, Theravada, juga membawa pengaruh besar terhadap karakteristik masyarakatnya yang nampak tak doyan menipu karena kerakusan untuk mendapatkan uang lebih. Bagi mereka uang identik dengan napsu. Seperti biasa, kalimat ini tidak berlaku untuk pemerintah.

Bukan berarti Kamboja bebas ‘penipuan’ atau pemerasan turis, masih ada kok. Yang paling sering saya lihat di Angkor orang-orang memberikan dupa untuk good luck, abis itu tetep disuruh bayar. Jatuhnya jadi bad luck lah yah, bukan good luck lagi. Museum National Pnom Penh yang cantik pun tak lepas dari modus ini, bukan dupa, tapi rangkaian bunga melati. Bagaimana bisa pihak museum membiarkan hal itu terjadi di setiap sudut museum? Entahlah. Anak-anak juga saya lihat banyak berkeliaran menjajakan kartu pos, suling dan souvenir lainnya. Kebanyakan dari mereka adalah anak laki-laki; konon mereka tak bersekolah karena lebih mudah mendapatkan uang dengan berdagang.

image

Makanan lokal Kamboja ragamnya terbatas dan kebanyakan diadopsi dari Vietnam, Cina, ataupun Thailand. Makanan yang terkenal Amok, ikan yang dimasak dengan kuah santan. Kamboja juga surganya extreme food, ada jangkrik, ular goreng, kodok goreng kecil-kecil, serta ostrich & buaya.  Ada juga sejenis kaki seribu, tapi jauh lebih gendut.  Saya perhatikan, tak ada orang Cambodia yang gemuk, semuanya kurus dan cuma turis yang gendut.

image

Saya masih punya banyak cerita lain lagi dari Kamboja, termasuk tentang kemiskinan, disabilitas, ketidakadaan listrik, ketidaksukaan pada Vietnam hingga soal Turis Cina Daratan yang bikin saya emosi jiwa. Pelan-pelan akan saya sempatkan untuk menulis ya.

image

Have a nice Sunday,
Tjetje

Gado-gado Dari Ambon

Hello from Ambon!

Pekerjaan kembali membawa saya mengunjungi Ambon. Beberapa waktu ini memang saya super sibuk, alhasil blog agak terlantar dan pengumuman hadiah kaos jalanan terpaksa tertunda. Hari ini setiba di Jakarta akan saya undi pemenangnya. Nanti tengok pengumumannya di twitter saya @binibuleID

Dari beberapa kali kunjungan, saya mengambil kesimpulan bahwa orang kebanyakan pria Ambon itu ramah-ramah. Dimana tempat, bahkan ketika menyeberang jalan, pasti ada pria yang menyapa saya dan tersenyum lebar. Kalaupun flirtatious tidak dengan vulgar seperti di kota-kota lain seperti Jakarta. Oh ya, pria-pria di Ambon saya perhatikan suka memakai aksesoris, utamanya kalung dan ukurannya pun besar-besar. Tak hanya pria dewasa saja, anak-anak kecil juga suka memakai aksesoris. Mungkin, bahan aksesorisnya adalah besi putih.

Perempuan Ambon saya perhatikan tak banyak mengenakan aksesories. Kalaupun ada yang mengenakan, biasanya mereka mengenakan kalung atau cincin yang berhiaskan mutiara. Nampaknya, bisnis meluruskan rambut di Ambon cukup Berjaya, karena saya menemukan banyak sekali perempuan yang rambutnya diluruskan.

Bapak-bapak polisi di Ambon juga sangat ramah. Teman saya sukses diantarkan Pak Polisi naik motor untuk membeli nomor perdana. Sinyal XL disini luar biasa leletnya, sementara simpati Berjaya. Saya juga sempat melihat seorang Polisi, lengkap dengan senjata laras panjangnya membantu seorang Ibu yang motornya tak bisa dinyalakan. Aksi-aksi kecil tersebut membuat Polisi jadi terlihat seperti pelayan masyarakat, sungguh berbeda dengan polisi di Ibukota yang tiap pagi gemar melanggar aturan dan masuk jalur cepat di bawah jembatan Semanggi.

Moda tranportasi

Selama di Ambon, saya memuaskan kegemaran saya naik becak. Kendati abang-abang ojek serta angkutan umum mudah ditemukan, saya lebih memilih naik becak kemana-mana.  Soal harga, saya tak pernah nanya dulu dan langsung masuk ke dalam becak. Pengemudinya pun tak ada yang pernah ngamuk ketika saya memberi uang. Berbeda sekali dengan di Yogyakarta, biarpun kita memberi berlebih, seringkali pengemudinya ngomel dan minta lebih. Apalagi kalau naiknya sama bule, alamat diperes abis-abisan.

image

Bule

Oh ya mbak-mbak bule hunter perlu banget ekspansi target area hingga ke Ambon, karena di Ambon banyak bule-bule yang berlibur. Bahkan, di Hotel tempat saya menginap, Swiss-belhotel, para pegawainya bekerja sambil mengobrol bahasa Inggris. Lagi belajar rupanya. I am forget..I am forget katanya.  Supaya potensi Ambon dapat dimaksimalisasikan, Pemerintah Kota Ambon juga akan menggelar Mangente Ambon 2015, visit Ambon 2015. Salah satu program yang saya lihat, melibatkan Glenn Fredly, penyanyi favorit saya.

Keponakan lucu

Tak afdol rasanya kalau ke Ambon dan tak bertemu keponakan-keponakan saya yang lucu. Kali ini saya makan di depan mereka dan komentarnya: “Tante jangan makan banyak-banyak, nanti perutnya tambah besar”. Tak hanya berkomentar soal makanan mereka juga mempertanyakan sepatu saya yang itu-itu saja. Walaupun punya banyak pasang sepatu, saya memang gemar memakai sepatu merah ini, gak heran kalau mereka bosan melihatnya. Oh ya, mereka juga sempat bertanya kapan saya hamil, karena mereka pengen punya adik untuk adiknya. Hahaha….untung mereka masih kecil, jadi lucu. Kalau sudah besar pasti saya manyun.

image

Ngomong-ngomong tentang hamil, sudah tahu kan kalau saya sering disangka hamil? Ceritanya bisa di baca disini. Nah baru-baru ini, seorang rekanan kerja dari Papua menelpon saya hanya untuk bertanyaan satu hal: “Ibu  sudah melahirkan atau belum?”. Saya nggak marah sama sekali tapi pengen ketawa ngakak, sungguh perut saya (dan kebiasaan saya mengelus perut) memang berbahaya.

Hayo siapa yang pengen ke Ambon?

Danke !

Tjetje

Serba-Serbi Tampon

Kendati tema postingan ini tentang tampon, pembalut dan perempuan, ada baiknya juga pria ikut membaca karena di paragraph paling akhir ada cerita menarik tentang seorang pria dan pembalut. Tapi kalau gak tahan, scroll down aja dan langsung baca cerita tentang si Bapak.

Seseorang pernah bertanya pada saya, mengapa perempuan-perempuan bule lebih nyaman menggunakan tampon ketimbang pembalut? Jawaban saya (lagi-lagi ngaco pinter), selain karena tampon mudah didapat dan merupakan barang yang umum di luar Indonesia sana, juga karena tampon memberikan kenyamanan untuk beraktivitas. Bagi perenang apalagi, bisa bebas berenang tanpa rasa cemas. Selain itu, tampon juga relative tak lembab seperti pembalut. Eh tapi gak semua bule pakai tampon lho, ada yang pakai pembalut dan ada juga yang pakai menstrual cup.

Iklan tampon OB

Iklan tampon OB

Wajarlah kalau kemudian ada yang nanya tentang tampon sama saya. Banyak perempuan di negeri ini yang tak tahu apa itu tampon. Kebanyakan perempuan Indonesia memang menggunakan pembalut pada saat menstruasi. Sementara perempuan pada masa lalu, menggunakan kain putih, semacam popok. Kemarin waktu ke Papua dan Badui harusnya saya bertanya apa yang digunakan perempuan asli Papua dan perempuan-perempuan Badui.

Bagi yang belum tahu, tampon adalah penyerap darah ketika menstruasi yang bentuknya mirip dengan peluru gendut. Kalau masih tak bisa membayangkan, bayangkan saja spidol marker dibagi tiga, lalu diberi tali. Tak seperti pembalut yang ditempelkan di celana, tampon dimasukkan ke dalam lubang keperempuannan (maaf gak mau ditulis namanya nanti diblokir sama Tiffie). Ada banyak cara memasukkannya, untuk yang ahli, bisa langsung dengan tangan. Sementara bagi pemula bisa menggunakan applicator plastic ataupun applicator kertas. Bagi saya, aplikator plastik ini sangat tak ramah lingkungan, tapi ramah bagi pemula karena lebih mudah dimasukkan. Silahkan digoogle kalau penasaran.

Saking jarangnya peminat tampon, di Indonesia, tampon hanya bisa ditemukan di Jakarta dan di Bali. Saya belum pernah menemukannya di kota lain. Di Jakarta pun, hanya supermarket besar, seperti Grand Lucky yang menjual tampon. Sementara di Bali, swalayan-swalayan kecil pun menjual. Harganya jangan ditanya, mahal. Satu kotak berisi sepuluh buah bisa dijual hingga 60 ribu rupiah, sementara di luar sana hanya dua euroan saja.

Kenapa tampon susah ditemukan di Indonesia? Selain karena rendahnya permintaan dan harganya mahal, tampon saya duga tak popular karena cara memasukkannya. Tahu sendiri kan di Indonesia keperawanan adalah segala-galanya. Salah satu indikator keperawanan adalah utuhnya selaput hymen, nah kalau pakai tampon ada resiko hymen sobek, lalu dianggap nggak perawan lagi deh. Padahal kalau olahraganya berkuda, panjat pohon rambutan, panjat pinang pas tujuh belasan juga bakalan robek kok, walaupun tipe robekannya beda. Ya tapi image di Indonesia kan segala-galanya. Anyway, tampon ini sangat tak direkomedasikan bagi para perempuan-perempuan yang harus menjalani test keperawanan untuk menjadi istri tentara *feminis-pun mengelus dada*

Konon, tampon juga bisa menimbulkan alergi. Tapi, tampon juga bisa bikin orang jadi terkenal. Dulu di Malang ada pelajar Jepang yang tamponnya gak bisa dikeluarkan, mungkin benangnya putus. Alhasil, tampon itu harus dikeluarkan oleh dokter dan si mbak pelajar jadi ‘terkenal’ kemana-mana. Selebriti tampon judulnya.

Btw, bersyukurlah kalau kita bisa punya uang untuk beli tampon, ataupun pembalut, karena banyak orang di India sana (dan di banyak negeri miskin sana) yang tak bisa membeli pembalut. Nggak percaya, baca sendiri disini.

Xx,
Tjetje

Modus Jualan Alkohol di Bulan Ramadan

Sebenernya saya udah beberapa kali nulis tentang Ramadan, dari menulis riuh ramainya karena anak kecil teriak-teriak di pagi buta, sampai soal abang-abang yang pada pulang kampung dan bikin anak kos yang sangat bergantung pada mereka ini tak tahu harus makan apa.  Tapi namanya hidup di Indonesia, selalu saja ada hal-hal baru yang muncul dan bisa dijadikan bahan tulisan. Kali ini, saya akan berbagai fakta menarik tentang alcohol di bulan Ramadan.

Awal Ramadan kemarin saya pergi makan malam dengan teman-teman lama di restaurant Lebanon di sebuah hotel di Jakarta. Untuk menghormati Ramadan, pihak restaurant tidak menyajikan alkohol. Bagus kan ya? Eh tapi ternyata  peraturan ini cuma berlaku sampai jam delapan malam. Setelah jam delapan malam alkohol kembali disajikan. Sebagai satu-satunya orang Indonesia di acara makan malam itu, saya pun didaulat untuk menjelaskan alasannya. Harusnya sih saya panggil pihak hotel manajemen untuk menjelaskan. Tapi berhubung saya suka ngaco pinter (ngaco tapi pakai logika dan jawabannya pinter –  ngaco kan?), saya jawab aja kalau alkohol diperkenankan setelah mereka selesai beribadah tarawih. Jawaban yang cukup meyakinkan ini pun tetep dianggap aneh.

Sedikit berbeda dengan hotel tersebut, sebuah mini swalayan di sekitaran Jakarta Pusat baru mulai berjualan alcohol (bir) setelah waktu berbuka puasa tiba. Ketika Adzan Maghrib berkumandang, pegawai mini swalayan itu mengeluarkan stok alcohol dan memasukkannya ke lemari pendingin. Konon, begitu waktu sahur tiba, kaleng dan botol bir tersebut akan disingkirkan. Daripada repot, mendingan dedikasikan satu lemari es buat alcohol yang bisa dikunci, kan gampang, nggak perlu bolak-balik ngeluarin botol dan kaleng. Atau sekalian nggak jual alkohol, tapi mungkin profit dari alkohol terlalu menggiurkan.

Yang paling epic buat saya adalah pengalaman pegawai-pegawai asing yang makan di sebuah mall di kawasan SCBD. Dalam sebuah episode makan siang, mereka memesan dua buah bir. Sang pegawai datang dengan cangkir dan poci teh. Pesen bir kok dibawain teh? Eits… jangan salah, ternyata poci sakti itu berisikan the gadungan, alias bir. Selama hampir sepuluh tahun tinggal di Jakarta baru kali ini saya dengar ada bir disajikan dari dalam poci teh. Kreatif, sungguh kreatif.

Konon, tujuan alkohol tidak dijual selama bulan Ramadan adalah untuk menghormati umat Islam yang sedang berpuasa. Terus terang saya kurang paham hubungan antara tidak menjual alcohol dan bulan puasa. Apakah kemudian ini supaya orang Islam tak tertarik minum bir? Lha tapi orang Islam kan pada dasarnya tak boleh minum alcohol karena memabukkan? Entahlah. Mungkin juga supaya orang tak bermabuk-mabukan dan mengganggu umat yang sedang berkonsentrasi beribadah.

Tapi di jaman seperti sekarang, keuntungan menjual alcohol tentunya lebih menggoda. Apalagi para bos-bos di bulan ini wajib mengeluarkan Tunjangan Hari Raya untuk para pegawainya, belum lagi tunjangan-tunjangan untuk kelompok tertentu serta baju baru untuk anak-anaknya. Terus curhat nggak penting: saya nggak dapat THR.

Anyway, minggu-minggu ini akan banyak yang mengadakan buka bersama. Buka bersama berarti makanan yang disajikan melimpah ruah. Saya selalu memperhatikan kalau lagi buka bersama gini, orang-orang jadi kalap; kalap makan segalanya karena habis berpuasa, lalu perutnya begah kekenyangan. Nggak semua orang sih, tapi saya perhatikan lebih banyak yang kalap daripada yang engga. Atau saya salah gaul? Biarpun makannya sudah sampai begah, biasanya, makanannya juga tetep bersisa banyak. Duh semoga saja makanan-makanan ini nggak terbuang percuma ya, karena masih banyak orang kelaparan.

Selamat berpuasa teman-teman, jaga berat badan, level kolesterol dan pastikan dompetnya nggak jebol karena kebanyakan beli baju baru.

manisan

Selamat menikmati aneka kue cantik, seperti kue yang saya temukan di Bangkok ini. 

Xx,
Tjetje

Catatan Kecil tentang Musim Kampanye Pilpres 2014

prabowo jokowi

Photo courtesy of Metronews

Ketika jaman sekolah dulu kita selalu diajari bahwa prinsip pemilihan umum adalah LUBER; langsung, umum, bebas dan rahasia. Hari ini saya nggak melihat lagi pemilu yang rahasia. Para pemilih, baik itu pemula ataupun yang berpengalaman, tak segan lagi menunjukkan pilihannya. Pendukung Jokowi memasang foto “I stand on the right side” yang kemudian diributkan karena grammarnya tak benar; sementara pendukung Prabowo memasang garuda merahnya yang juga diributkan. Fenomena menarik, mengingat lima tahun lalu, ketika SBY mencalonkan diri untuk kedua kalinya, para pengguna media social tak seheboh ini dalam menunjukkan pilihannya.

Perdebatan

Saya memperhatikan, banyak dari kita yang mendadak jadi ahli debat. Sayangnya keahlian ini tak dibarengi dengan kematangan diri untuk menerima pendapat yang berbeda. Ketika pilihan orang lain berbeda, maka hujatan & cacian yang nggak relevan pun dilemparkan. Debat  kusir *apa sih debat kusir itu* akhir-akhir ini sering terjadi di jagat social media. Tak ada salahnya berdebat dan mempertahankan pilihan masing-masing, tapi harusnya perdebatan ini dilakukan secara santun. Idealnya, dua belah pihak harus sama-sama bisa menerima kekurangan calonnya dan mengakui kelebihan lawannya.

Pertemanan dan afiliasi politik

Yang lebih mengejutkan, akibat pilpres ini, banyak teman-teman yang berbeda pandangan kemudian memutuskan hubungan pertemanan. Pertemanan di social media memang pertemanan maya, tapi alangkah disayangkannya kalau pertemanan maya itu harus rusak karena pilihan presiden yang hanya hangat selama beberapa bulan. Mungkin bagi sebagian orang, kehilangan satu, dua atau bahkan sepuluh teman di facebook bukanlah masalah, karena masih ada 1400 teman maya lainnya *siapakah yang bisa menjalin perteman baik dengan orang 1000?*

Suami istri yang berbeda pilihan juga tak kalah banyak, akibatnya perdebatan sengit dalam rumah tangga (dan di ranjang) pun tak terelakkan. Adakah yang kemudian bercerai karena perbedaan ini? Entahlah.

Multi Level Marketing

Pemilihan Presiden kali ini juga memunculkan kemampuan multi level marketing, kemampuan untuk jualanan dan mempengaruhi orang.  Pemilih, seperti saya, yang sempat terombang-ambing dalam menentukan pilihan, dijadikan target empuk. Dalam satu kesempatan saya pernah bertemu teman yang relatif kurang cerdas dan sangat pasif, tapi begitu dia tahu saya belum menentukan pilihan, ia langsung agresif dan gigih dalam menjual capres favoritnya. Ajaib!

Media dan Pemilu

Jangan ditanya betapa penuhnya media dengan berita kampanye. Yang menyedihkan, semua televisi di Indonesia berafiliasi dengan partai politik tertentu, alhasil, berita tentang capres yang didukung televisi tersebut tak henti-hentinya ditayangkan. Pendek kata bosen deh denger Jokowi dan Prabowo terus menerus. Untungnya saya tak berlangganan media cetak, kalau langganan tambah eneg kali ya.

Twitterland, blog dan facebook juga diwarnai dengan postingan promosi capres. Nggak cuma promosi kebaikan masing calon, tapi juga keburukan lawannya. Informasi yang kredibilitasnya diragukan pun tetap dipublikasikan, semua demi memenangkan calon presiden favoritnya.

Satu hal yang saya suka dari pemilu ini adalah meme yang berseliweran di twitterland, apalagi kalau jika debat capres sedang berlangsung. Debatnya sih biasa-biasa aja, tapi komentar dan meme #debatcapres yang berseliweran di twitter sungguh menghibur. Saya rasa itu satu-satunya hal yang akan saya rindukan dari kampanye ini. Semoga saja kreatifitas ini tidak hilang.

Anyway, selamat menunaikan tugas sebagai warga negara, memilih pemimpin untuk lima tahun kedepan. Pilihlah pemimpin yang terbaik, yang bisa membawa kedamaian, kemajuan dan tentunya pemimpin yang bisa memastikan, menghormati dan memenuhi hak-hak asasi warga negaranya. Siapapun yang terpilih, semoga Indonesia damai dan maju.

Salam,

Ailsa

Sehari di Kilkenny

Dalam salah satu weekend di Irlandia, mas G dan saya naik bis perjalanan terkenal,  Paddy Wagon. Bis ini membawa kami dari Dublin ke Glendalough. Sebuah areal hijau tempat reruntuhan gereja tua dan danau kecil. Nggak banyak yang bisa diceritakan dari keliling danau selama satu jam ini, tapi yang terekam di memori adalah keindahan alam Irlandia, keramahan orang-orangnya (dari anak kecil hingga orang dewasa saling menyapa Good morning walaupun nggak saling kenal) dan tentunya domba-dombanya.

20140208_120026

Dari Glendalough  kami dibawa menuju Kilkenny, sebuah kota kecil yang terkenal akan birnya. Di Kilkenny, kami diberi kesempatan beberapa jam untuk berjalan kaki mengelilingi kotanya. Dasar Irlandia, baru juga keluar bis kami langsung tersiram hujan hingga sangat basah. Pada saat seperti ini, payung sudah tak berguna lagi dan kami berdua sukses basah kuyub. Fakta gak penting: untuk resepsi, kami berniat bayar rainstopper, tapi pihak hotelnya ketawa ngakak pas saya request. Rupanya profesi ini tak eksis, mungkin tingkat keberhasilannya sangat kecil.

glendalough2

 

Kilkenny Castle

Selain mengunjungi salah satu barnya yang terkenal, nonton rugby di bar (dan ngumpul sama segerombolan nenek-nenek yang semangat meneriaki para pemain rugby yang ganteng) saya juga menyempatkan diri menjelajah rumah orang kaya di masa lalu, Kilkenny Castle.

Bangunan yang dibangun dari abad ke 11 ini dibuka untuk umum dengan biaya Euro 7.5. Sayangnya dengan biaya segitu nggak ada pemandu, apalagi mesin yang bisa ngoceh untuk menjelaskan setiap ruangan di castle ini. Informasi di tiap ruangan juga pelit banget. Tapi, di tiap sudut ruangan ada pegawai museum yang duduk, mungkin mengawasi karena kita nggak boleh motret, nah mereka inilah yang akhirnya saya tanyai macam-macam.

domba

Salah satu yang menarik hati saya adalah love chair atau sofa cinta berbentu oval yang kemudian dibagi menjadi empat. Kursi ini rupanya ditujukan untuk mereka yang mencari jodoh. Jaman dulu, perempuan dan laki-laki tak boleh berdua-duaan. Untuk berkenalan dengan lawan jenis, mereka harus duduk berpunggung-punggungan ditemani chaperone yang juga duduk bersama dalam satu kursi itu. Satu sofa kecil diduduki empat orang yang berpunggung-pungguan, nggak romantis banget dan pasti gak bisa gombal-gombalan, karena kalau ngegombal chaperone-nya bisa langsung nyubit.

Selain sofa cinta ini, saya juga tertarik pada sofa kecil yang cukup pendek yang saya pikir buat anak-anak. Rupanya sofa itu untuk orang dewasa dan pada jaman itu lagi ngetrend. Sofa yang pendek ini juga memudahkan para perempuan (dengan rok kandang ayamnya) untuk duduk karena mereka hanya bisa duduk di ujung kursi. Duh beruntunglah kita di hari ini bisa duduk seenak hati tanpa kostum yang aneh-aneh.

Selain dua hal tersebut, ada satu lagi yang bikin saya terkagum-kagum, sebuah long hall yang dipenuhi lukisan orang-orang pada jaman dahulu kala. Hall ini gede banget, kira-kira bisa buat tiga lapangan futsal. Sayangnya, hall ini juga gak bisa difoto dan walaupun nggak ada penjaga, saya pun patuh aturan (walau sejujurnya saya agak kesel, udah bayar mahal, nggak pakai guide, nggak bisa difoto pula).

Di castle ini juga disediakan satu ruangan video dimana para pengunjung bisa mendengarkan sejarah panjang pembangunan dan restorasi rumah ini. Tapi ruangan video ini nyempil, jadi kalau nggak karena kami nyari tea room buat menghangatkan diri, kami nggak akan nemu ruangan ini. Kayaknya ruangan ini bekas ruangan untuk mengintai musuh, karena ada jendela persegi yang slim untuk menembakkan anah panah.

glendalough

Castle ini gede banget, dilengkapi dengan taman indah yang bisa buat lari-larian serta deket dengan sungai. Ngelihat taman itu yang terbayang di kepala saya siapa yang motongin dan perlu berapa jam buat motongin rumput-rumput ini. Nggak heran kalau kemudian keturunan yang punya castle ini bangkrut karena ongkos perawatan rumah yang aduhai. Tapi perawatan castle ini saya yakin nggak semahal belanjaan Mbak Syahrini deh. Saking bangkrutnya, isi castle dilelang & hanya menyisakan lukisan di long hall sama karpet-karpet. Lha terus itu sofa-sofa cantik, lemari, tempat tidur dan lain-lain dari mana asalnya?

Selain dijadikan museum, bangungan yang sekarang dirawat oleh negara ini juga menjadi salah satu tempat untuk mengambil wedding picture. Di tengah hujan rintik-rintik dan suhu dingin, sepasang pengantin dan para bridesmaidnya berdiri di depan castle untuk ngambil foto. Lalu saya berteriak pada mereka, you’ll be in my blog, dan pengantinnya pun tersenyum. So here they are, the happy couple, may both of them showered with lot of love!

pengantin

Dua Hal Aneh Yang Saya Dengar Minggu Ini

Perhatian, postingan ini tidak terlalu bermutu, sedikit informatif tapi lebih banyak elemen gossip dan ngerumpinya. Jadi kalau lagi puasa baca yang nggak penting, silahkan pencet tanda silang.

Ada dua hal aneh yang bikin saya super kaget minggu ini and I would like to share it with you. Yang pertama tentang sebuah pulau kecil di Ambon yang namanya mirip dengan nama belakang vokalis Gigi. Beberapa waktu yang lalu teman saya dan tiga orang lainnya menginap di pulau yang cuma punya dua cottages ini. Konon, pemandangan di pulau ini cantik banget, masih alami dan sepi. Cocok buat orang asing yang nggak suka dengan kebisingan dan keramaian.

Satu hari, satu orang dari grup ini berada di pantai, menikmati matahari dan berbikini. Sementara dua orang lainnya sedang snorkeling dan satu orang lainnya sedang mengambil uang di dalam cottage. Tiba-tiba, perempuan yang sedang berjemur itu dihampiri sekitar sepuluh pria senjata dan dua orang perempuan. Bukan senjata mainan saudara-saudara, tapi automatic gun dengan peluru tajam.

Pria garang-garang bersenjata itu kemudian mengajak mbak bule berfoto. Disangka lucu kali ya foto sama bule pakai bikini, sambil pamer senjata. Tak cukup diajak foto, mbak itu juga dicolek-colek. Padahal bagi kebanyakan orang Indonesia, mencolek-colek perempuan itu kan nggak sopan, kenapa kalau nyolek bule dianggap nggak dianggap tak sopan? Segitu nggak terhormatnya kah perempuan bule itu di mata orang Indonesia?

IMG_4431

foto nggak nyambung ini koleksi pribadi.

Begitu melihat gerombolan pria itu, teman saya yang berada di dalam cottage langsung berjalan menuju pantai, penuh amarah yang bercampur dengan ketakutan. Teman saya ini sempat dicegah oleh para staff cottage yang ketakutan, tapi melihat temannya di colek pria bersenjata, teman saya tak mau tinggal diam. Begitu melihat teman saya yang lagi hamil mendekat, para pria itu mendadak memutuskan untuk meninggalkan pulau tersebut. Tapi sebelum mereka pergi, ditembakkannya beberapa tembakan ke langit. (fakta gak penting: tembakan ke langit itu lebih berbahaya dan resiko kematiannya 80% lebih tinggi ketimbang tembakan langsung).

Saya yang denger aja kaget dan nggak bisa komentar, apalagi teman saya yang ngalami. Dia trauma banget setelah kejadian tersebut.  Konon hal ini, tembak-menembak, sudah biasa terjadi karena di seberang pulau Molana ini terdapat pulau kecil yang sering berkonflik antar kampung. Bahkan, kapal turis yang menuju Molana wajib mampir ke pulau kecil ini untuk melapor, supaya tidak ditembaki. Pertanyaannya: itu senjata dapat dimana dan buat apa?

Dari Ambon, mari kita berpindah ke sebuah gym-nya yang terletak di jalanan utama Jakarta, tempat teman saya rajin nge-gym. Selesai berolahraga, teman saya memutuskan masuk ke dalam sauna untuk melemaskan otot-otot. Apa yang terjadi begitu dia membuka pintu sauna? Ada tiga orang pria dan dua orang diantaranya sedang makan pisang di dalam sauna, begitu katanya. Saya yang denger cerita ini sih ketawa-ketawa aja sambil ngebayangin pria makan pisang di dalam sauna. Gak ada tempat yang lain apa ya?

Ternyata saya salah, pisang yang dimaksudkan disini adalah alat kelamin pria. Ya ampun, rupanya dua orang pria di dalam sauna tersebut sedang memberikan layanan mengeluarkan protein dari pria lainnya. Menurut kalian, mengapakah hal ini terjadi di ruang publik? Apakah ini karena mereka tak bisa melakukannya di kamarnya sendiri? ataukah ada sensasi tersendiri ketika melakukannya di ruang publik? atau justru karena penerimaan masyarakat kita tidak baik pada mereka sehingga mereka harus mencari ruang-ruang dimana mereka lebih nyaman tanpa dihakimi? *perhatian komentar anti-LGBT akan saya hapus atau akan saya edit*

Dua hal di atas bikin saya bertanya-tanya tentang keamanan di tempat umum, baik rasa aman dari potensi ditembaki maupun rasa aman dari hal-hal yang harusnya dilakukan di balik pintu kamar.

Cheers,

Ailsa

Tukang Pamer

Orang pamer pada dasarnya sah-sah aja, asal hal yang dipamerkan hasil keringatnya sendiri. Tapi sedari kecil, kebanyakan dari kita, dididik untuk sederhana dan nggak perlu pamer-pamer ke orang lain. Selain karena pamer itu berdosa, pamer juga bikin orang lain cemburu & orang cemburu itu membahayakan keselamatan kita.

Hadirnya media sosial sejak berapa tahun belakangan ini *eh sudah sepuluh tahun lebih kali ya*, mengubah perilaku manusia. Mendadak, kita semua lupa dengan ajaran orang tua untuk menjadi humble dan tidak pamer-pamer. Mereka yang suka pamer jadi bersorak riang gembira karena mendadak punya panggung pertunjukan kekayaannya. Tak hanya menyediakan ruang bagi pencinta pamer, sosial media  juga juga melahirkan tukang-tukang pamer yang baru, saya contohnya. *tutup muka, malu*

Secara nggak sadar saya suka pamer makanan & check-in di restaurant tempat saya makan. Sementara kalau lagi makan mie ayam pinggir jalan, saya nggak pernah check-in. Perilaku pamer makanan ini baru saya sadari sebagai perilaku yang menyebalkan ketika saya berada di luar Indonesia. Selain karena foto itu bikin kepengen (apalagi kalau lagi di negeri orang), foto-foto makanan yang kadang rupanya buruk rupa itu sedikit manfaatnya.  Saya dan banyak orang juga suka pamer foto jalan-jalan, di luar negeri ataupun di dalam negeri. Biar eksis dan bisa pamer kalau udah jalan ke luar negeri.

Orang bilang batasan antara pamer sama berbagi informasi itu tipis banget. Kalau kata saya, ketika postingannya nggak bermanfaat buat orang lain, nggak menghibur dan cuma bikin orang lain cemburu, itu udah mengarah ke pamer. Contohnya: pamer hasil belanjaan yang segambreng di depan menara Eiffel, lebih parah lagi kalau bon belanjaannya dimasukkan social media. Soal harga, ini jadi dilema banget buat blogger seperti saya. Niat hati cuma ngasih referensi orang supaya orang tahu dan bisa memperkirakan anggarannya, tapi di sisi lain disangkain pamer juga.  Tricky!

Bini-bini bule (disclaimer: ini ga semua lho ya, gak usah sensi) tanpa disadari juga ada yang suka pamer, dari yang printilan kecil-kecil macam parfum sampai tas-tas bermerek, koleksi perhiasan bling-bling sampai rumah ataupun mobil mewah milik pasangan. Cara pasang mobilnya kadang suka ajaib, dengan gelempohan macam putri duyung di depan mobil. Kemudian ditulisi mobil yayangku. Seperti saya omongin di atas, pamer  hasil keringat sendiri, atau pasangan itu monggo, silahkan, nggak melanggar hukum dan nggak bikin harm juga. Walau kadang saya suka bertanya, apakah nilai-nilai yang diajarkan orang tua pada jaman dahulu kala itu sudah efektif?

Kadang saya suka bertanya sendiri, apakah pameran yang dilakukan istri bule ini semakin menguatkan pandangan bahwa istri bule dilimpahi banyak uang, apalagi yang dipamerkan barang bagus melulu, tas bagus melulu yang tentunya tak dibeli di mangga dulu sementara yang buruk rupa tak pernah dikeluarkan. Mungkin mbak bule hunter kalau lihat pemandangan seperti ini jadi semakin terpecut untuk menggoogle PIN BB bule dan  mencari bule kaya, kalau perlu suami orang pun direbut. (catatan: hampir tiap hari ada orang menggogle bule kaya, pin BB bule kaya, kawin dengan bule kaya & search term ini muncul di blog saya)

Gak cuma istri bule yang demen pamer, ibu-ibu plat merah*maaf ya, bukannya saya tak mau inclusive, tapi postingan saya memang lebih sering melihat dari kacamata perempuan, walaupun sejujurnya bapak-bapak juga rajin pamer kok* juga demen banget pameran. Eh halo…kalau kerjanya dibayar oleh taxpayer money, ada nggak ngeri tuh pamer-pamer di social media? Ntar ada yang iseng angkat telpon dan laporan ke KPK gimana? Berabe kalau sampai jadi kartun di sebuah majalah dan dianalisa belanjaannya dari ujung rambut sampai ujung kepala, pakai price tag pula. Kayak si Ratu dari Barat Jawa itu.

Pada intinya, pamer pencapaian dalam sebuah hidup itu sah-sah aja. Tapi kalau pamer ati-ati, jangan sampai bikin orang jadi dengki atau malah nanya kabar untuk pinjam uang #eh. Akan lebih menyenangkan kalau kita pamer di sosial media hal-hal yang bikin orang seneng dan bermanfaat. Tapi itulah nature social media dan manusia, kita hanya mau menunjukkan yang bagus dan  menutupi yang kurang bagus.

Buat yang sering lihat temennya pamer di social media, nggak usah iri, ingatlah kalau hidup gak segampang pamer foto di media sosial. Jadi kalau ada yang pamer, ga usah terbuai, tapi semangat kerjalah. Kerja keraslah biar duitnya banyak. Kalau gak mau capek ya cari bule yang kaya raya *lho* atau cari anak pejabat kaya yang belum ketangkap KPK.

Ratu pamer favoritku Syahrini, siapa ratu pamer favoritmu?

Syahrini

Baca juga Kebablasan Berbagi di Sosmed.