[Irlandia] Negeri Hujan nan Hijau

Setelah menempuh perjalanan panjang, saya akhirnya tiba juga di Dublin. Yang menarik, begitu mendarat di Dublin tak ada petugas bea cukai yang menyapa saya, nampaknya semua petugas belum bertugas. Hanya ada hawa sedingin 3° yang menyambut saya. Kendati sudah pernah tinggal di negeri empat musim, saya masih tak profesional untuk urusan dingin. Hari itu saya sukses tiba dengan badan menggelembung karena banyaknya lapisan pakaian yang menempel di tubuh, lengkap dengan penutup telinga untuk melindungi telinga dari angin semriwing yang cukup dingin.

image

Seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, kesan pertama saya tentang Irlandia adalah mahal. Indonesia banget kan? Ongkos taksi dari bandara yang mencapai 38 Euro bikin saya hampir pingsan *lebay*. Kebiasan buruk ketika menjejak di negeri orang memang mengkonversi berapa harga jasa untuk kemudian dibandingkan dengan layanan taksi di Indonesia. Kebiasaan ini membahayakan apalagi ketika rupiah jatuh terpuruk tak berharga. Tentunya ini kebiasaan buruk yang harus dihilangkan.

Kesan kedua saya tentang Irlandia adalah hijau. Pagi saya disambut pemandangan yang cantik dengan matahari bersinar (jangan dibayangkan matahari itu sehangat matahari di Indonesia, bagi saya matahari itu hanya aksesoris tanpa efek apa-apa). Pagi itu banyak orang lari pagi. Anjing-anjing pun tak mau kalah berlarian dengan riang gembira. Serunya, di sungai itu banyak bebek liar. Dan lagi-lagi, saya tak pernah gagal  terpukau dengan bebek-bebek liar di ruang publik. Sungguh negeri yang cantik.

Kebiasaan membandingkan pun muncul lagi, kali ini saya membandingkan pemandangan ini dengan Jakarta. Pagi hari di Jakarta biasanya diwarnai dengan suara klakson, deretan kemacetan dan tentunya kemacetan luar biasa. Jangan bayangkan pula ada anjing-anjing yang berlarian kalau tak mau ditangkap orang untuk dijadikan santapan. Yang menyedihkan, apartemen seharga 3000 dollar pun di Jakarta tak akan bisa menawarkan pemandangan hijau. Begitu melihat keluar jendela, yang ada hanya hutan beton. Kalaupun ada pemandangan ‘cantik’ biasanya hanya kolam renang atau gunung yang baru muncul ketika tidak tertutup polusi. Kalau sudah begitu, siapa yang tahan buka jendela. Yang ada tutup jendela, nyalain TV untuk nonton sampahtainment.

image

Pemandangan dari jendela apartemen di kawasan Milltown Dublin

Soal pakaian musim dingin, saya yang novice ini kena batunya ketika harus bertemu calon mertua. Saya membawa jaket berwarna merah muda ngejreng yang saya padukan dengan boots berhak tinggi. Ternyata, keliling-keliling kota dengan hak tinggi hanya bisa bertahan selama beberapa jam. Kaki saya langsung teriak minta ganti sepatu, hore ada alasan untuk belanja sepatu. Begitu masuk toko sepatu, saya langsung kaget ketika sepatu biasa-biasa saja *cenderung jelek* dihargai dengan harga yang sama dengan sepatu bagus di Indonesia. Ternyata, barang-barang di Irlandia memang mahal, karena mereka menerapkan pajak pertambahan nilai yang tinggi. Barang-barang dengan merek serupa pun bisa didapatkan dengan harga yang jauh lebih murah di Jakarta, ini bahkan setelah dikurangi pengembalian pajak ya. Buyar sudah rencana belanja hura-hura macam anggota DPR.

Kembali ke jaket pink saya, begitu tiba di rumah mertua yang dekat dengan bukit, saya kedinginan tak karuan. Rupanya, jaket saya yang centil itu tak cocok untuk musim dingin. Kata mertua, jaket itu untuk summer. Saya pun makin shock ketika tahu harus mengenakan jaket saat musim panas. Lha ini negara apaan kok musim panas harus pakai jaket, bukannya jalan-jalan pakai bikini?

Ternyata Irlandia ini negeri hujan. Kalau dalam setahun kalender ada 365 hari, maka hujan pun mengguyur Irlandia selama 365 hari. Otomatis kemana-mana harus bawa payung, malah seringkali harus beli payung lagi karena payung jebol kena angin! Saking seringnya hujan, orang Irlandia jago melihat pergerakan awan dan memperkirakan datangnya hujan dalam hitungan menit ataupun jam. Kalau awan terlihat akan datang dengan hujan, kaki saya harus segera melangkah dengan cepat. Minggir menghindari hujan.

seasons in ireland

Saking seringnya hujan, ketika matahari bersinar pun akan hujan. Saya suka banget dengan sun shower, bukan dengan hujannya, tapi pelangi yang muncul bersamanya. Munculnya pelangi bagi saya adalah hadiah yang indah karena jarang terlihat di Jakarta. Orang Irlandia percaya bahwa konon di ujung pelangi terdapat pot of gold. Lha tapi ujungnya pelangi ada di mana?

Tak heran dengan hawa seperti ini, orang Irlandia doyan banget minum teh. Air putih kran yang gratis itu nggak laku karena semua orang ngeteh untuk menghangatkan badan. Sarapan minum teh, nyapu dikit minum teh, duduk nonton TV minum teh, nanti bertamu ke rumah orang minum teh lagi. Minum teh sehari di Irlandia bisa lebih dari lima kali, jadi jangan heran kalau banyak gigi orang tua berwarna coklat karena kebanyakan minum teh. Tradisi minum teh juga dilangsungkan ketika jalan-jalan, untuk menghangatkan tubuh. Banyak cafe shop yang menjual teh atau kopi ditemani dengan kue-kue manis. Secangkir teh sendiri di sini dihargai kurang dari 2 Euro. Yah kalau harga teh aja mah sama dengan harga ngeteh dan ngopi di Jakarta.

Pembicaraan tentang cuaca juga menjadi topik pembicaraan penting dalam kehidupan sehari-hari orang Irlandia. Ngobrol-ngobrol dengan orang yang nggak kita kenal itu biasa (dan mereka sangat ramah dan doyan bicara dengan orang tak dikenal) biasanya tak jauh dari cuaca. Dari satu orang yang tak dikenal saya pun belajar bagaimana mencintai hujan, terutama ketika kehujanan. “Ah aku nggak terbuat dari gula, jadi nggak akan meleleh kena hujan. No harm done.”

xx,
Tjetje

Papua: Menabuh Darah Manusia

Pernah baca tentang Kall Muller yang banyak bekerja dengan orang Kamoro dan mempromosikan kerajian Kamoro? Gak pernah denger? Silahkan di Google kalau begitu. Thanks to him, hari ini saya mendapat kesempatan untuk bertemu orang Kamoro dari Papua dan melihat hasil kerajinan mereka serta merekam dalam kepala secuil tradisi mereka.

Pameran art Kamoro ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan dua kali dalam setahun dan disponsori oleh perusahaan pertambangan Amerika Freeport. Tujuan dari acara ini sih untuk menjelaskan dan berbagi tentang tradisi orang-orang Kamoro serta untuk menjual karya-karya orang Kamoro. Karya seni masyarakat Kamoro, baik dari yang kecil hingga yang paling besar, dibawa dari Timika ke Jakarta dan disimpan di Jakarta untuk dijual di galeri ini. Karya mereka bisa dibilang karya-karya yang sederhana, tak serumit karya orang Jepara, kadang tak ada maknanya sama sekali dan banyak terbuat dari kayu-kayu lokal. Saya bahkan sempat menemukan peti yang dihargai tak sampai dua juta rupiah. Peti tersebut tapi tak sempurna karena pegangan untuk mengangkatnya terbuat dari plastik, bukan dari kayu.

Denger kerajinan dikirimkan dari Papua ke Jakarta pasti langsung ngebayangin harganya kan? Jangan risau, karena harganya bisa dibilang sangat terjangkau walaupun diterbangan dari ujung timur Indonesia. Ongkos kirim ditanggung oleh perusahaan tersebut dan 100% hasil penjualan akan diserahkan pada artis yang membuat. Harga yang terpampang bukanlah harga mati, yang hobi nawar seperti saya masih boleh nawar. Tapi menawar sendiri tak terlalu disarankan, karena setiap rupiah yang kita tawar, adalah setiap rupiah yang kita ambil dari orang-orang Kamoro. Maklum, seluruh hasil penjualan memang diberikan kepada orang Kamoro tanpa dipotong apa-apa. Gak tega deh mau nawar kejam, apalagi nawar sampai lima puluh persen.

Tak hanya disuguhi karya seni, hari itu kami juga dimanjakan dan disambut dengan tarian selamat datang. Tarian sederhana ini melibatkan drum dan goyangan pantat. Bukan goyangan sensual macam dangdut, hanya goyangan sederhana yang unik dan bagi saya terlihat tak mudah.

image

Bagi orang Kamoro, drum atau alat tetabuhan, atau disebut juga tifa, adalah media komunikasi dengan leluhur. Makanya, keterlibatan darah dalam proses pembuatan drum ini sangatlah penting. Lagi-lagi saya merasa beruntung karena saya bisa melihat langsung prosesi pemasangan reptil air pada alat tabuh. Catat ya, pemasangan kulit ini wajib menggunakan darah manusia.

Darah diambil dengan cara menyayat lengan seorang pria. Sebelum disayat tangan tersebut diikat supaya pembuluh darahnya terlihat. Mirip ketika diambil darah di laboratorium. Darah ini kemudian ditampung dengan kulit kerang. Patut dicatat, tak ada diskriminasi gender, perempuan ataupun pria dapat ‘menyumbangkan’ darahnya.

image

Darah tersebut kemudian dicampur dengan kapur untuk dioleskan pada bagian alat tabuh.

image

Setelah dioleskan dengan rata, tibalah saat pemasangan kulit reptil.  Para pria itu kemudian beramai-ramai menarik kulit reptil tersebut dan mengikatnya.

image

Setelah dipasang, kulit reptil ini dibakar agar kulitnya mengembang dengan tepat.

image

Konon, tanpa darah manusia suara alat tabuh ini tidak akan “tepat”. Benarkan begitu? Entahlah karena saya tak bisa main drum.

image

Selain sukses membawa pulang wood carving, saya juga dihadiahi sebuah buku tentang Orang Kamoro. Wah pekerjaan rumah selanjutnya adalah melahap buku-buku ini. Bagi yang ingin belanja barang-barang kerajian Orang Kamoro, bisa bikin janji bertemu untuk belanja di galeri yang terletak di Menteng ini, persis di belakang Kedutaan Amerika.

Bagaimana, berminat mengkoleksi barang-barang kerajian orang Kamoro?

xx,
Tjetje

Serangan TKW

Setelah tersesat di konsulat Irlandia, akhirnya saya beneran pergi ke Irlandia. Perjalanan panjang selama lebih dari 19 jam dari Jakarta – Abu Dhabi – Dublin – Abu Dhabi – Dublin diwarnai banyak cerita. Menurut saya bagian paling kocak tapi juga menyedihkan adalah perjalanan yang barengan tenaga kerja wanita.

Pas berangkat, mbak TKW di samping saya, sebut saja mbak A, bawa 2 HP yang sukses bunyi ketika pesawat taxi. Bapak2 diujung kiri sampai melotot menyuruh mematikan. Si Mbak dengan polosnya bilang: “saya nggak tahu cara matiinnya”. Nggak cuma cara matiin HP, mbak ini juga gak tahu caranya connecting ke penerbangan berikutnya. Aduh saya sedih banget deh dengernya.

Dalam perjalanan pulang dari Irlandia, saya berhenti di di Abu Dhabi selama 6 jam. Rencanya saya: tidur, tapi rencanya tinggal rencana. Para TKW duduk beramai-ramai di lantai bawah, ngerumpi, cekikikan diiringi “Gelas-gelas Kaca”. Suaranya membahana di sekitar ruang tunggu. Kehebohan gerombolan TKW ini masih ditambahi dengan beberapa TKW yang memukul botol plastik kosong layaknya supporter tim sepakbola. Jangan ditanya urusan sampah, berserakan dengan indahnya di lantai bandara. Aduh bangsaku!

Setelah bersusah payah masuk ke dalam pesawat, karena mereka buru-buru ingin masuk pesawat, serundul sana sini, bahkan nekat masuk barisan Business Class (dan lolos, bravo atas kenekatan mereka!) akhirnya saya sampai di kursi yang terletak di sisi lorong. Di samping kanan saya ada mbak B, yang super jutek dan di dekat jendela mbak C. Biasanya saya paling males basa-basi, eh hari itu saya sok ramah nanya mau pulang ke mana, jawabannya: “Ya pulang ke Jakarta lah mbak, ini kan satu kapal tujuannya sama semua ke Jakarta.” Hahaha…bener juga sih.

Sebelum duduk saya sempat bersitegang sama mbak B ini, karena dia meletakan dua buah tas yang super besar di bawah kaki. Saya berbaik hati menjelaskan kalau itu bahaya. Jika ada kecelakaan mbak C pasti tidak bisa keluar karena terganjal tas. Dia ngotot gak mau menyimpan tasnya di atas. Saya pun nyerah sambil bilang: tunggu aja pramugarinya yang menjelaskan. Eh dia nyerah, tasnya langsung diberikan kepada saya untuk digotong ke atas. Lumayan!

Kalau mbak B jutek, mbak C lebih sering diam. Mbak ini giginya hampir habis, rontok dihantam bekas majikannya beberapa tahun lalu. Tapi gak kapok, dia balik lagi ke negeri unta, demi gaji 1.5 juta rupiah per bulan. Gaji memang kecil, tapi bonus bisa didapatkan setiap saat. Konon, jika ada tamu yang bertamu, mereka suka kecipratan uang jajan. Bahkan, jika puasa Ramadan penuh 30 hari, majikan pun tak segan memberi hadiah.

Godaan dalam perjalanan ini termasuk tidur. Setelah keberisikan 6 jam mendengarkan kehebohan para TKW, saya nggak bisa tidur & memutuskan nonton film. Eh sama mbak B saya dipaksa disuruh tidur karena sudah malam. Ketika akhirnya tertidur, saya pun dibangunkan mbak B dengan tubuh yang diguncang, “Kamu bangun dong”. Uaaaargh….perjalanan sangat tak tenang.

Saat paling seru adalah saat makan. Ketika menu dibagikan, mbak B nanya itu untuk apa. Saya yang lagi baik menjelaskan satu-satu. Eh si mbak lalu melipat tangannya, sambil manyun bilang “Saya nggak ngerti, kamu aja yang pesan makanannya”. Begitu sudah dipesankan yang kira-kira mirip makanan Indonesia dan mengandung nasi, dia ga doyan. Duh kasihan lihatnya, apalagi perjalanan panjang.

Masih seputar makanan, di sisi kiri depan saya, terpisahkan oleh lorong, ada mbak-mbak TKW juga, sebut saja namanya D. Ketika saya akan makan, tiba-tiba tangannya melayang ke atas makanan saya sambil berujar “Kamu makan apa?”. What sungguh serangan tiba-tiba yang tak saya duga, untungnya (masih sempat bilang untung) makanan saya masih tertutup rapi jadi tidak tercemari tangan orang. Duh aduh aduh mbak, kalau engga kan buyar semua…..

Soal toilet juga menjadi masalah. Mbak B & C ini nggak tahu gimana caranya ke toilet kering. Saya pun mengajarkan untuk menampung air dari wastafel dengan menggunakan gelas plastic. Pas mbak di kursi belakang berseru gak jadi ke toilet karena tak ada air, si Mbak B ini dengan galak dan gayanya ngomong: “Kata siapa gak ada? Itu kan ada kerannya”.

Anyway, para TKW ini kalau mau ke toilet nggak pakai permisi-permisi. Tiba-tiba berdiri nyeruduk di depan saya. Waktu pesawat sudah landing, pintu belum dibuka, kejadian nyeruduk terulang lagi. Gak cuma menyeruduk saya, mereka juga memerintah mas- mas yang duduk di depan kursi saya menjadi kuli angkut. Si Mas diminta menurunkan berbagai macam tas dari penyimpanan bagasi.

Perjalanan panjang hari itu, diakhiri dengan pembagian custom declaration. Saya pun lancar mengisi. Mbak B tiba-tiba berkata “Kamu isi punya saya yah”, mbak C juga ikut-ikutan minta diisi. Lalu dari kursi belakang, mbak TKW lainnya berdiri sambil berkata: “Mbak ini gimana ngisinya, tolong isiin dong.” Ngisi form itu adalah hal yang paling sederhana dan sedihnya mbak-mbak ini gak tahu cara ngisinya. Sejujurnya, saya sangat-sangat sedih. 

Urusan ngambil bagasi juga tak terbebas dengan kekocakan. Seorang TKW dengan polosnya ngecek bagasi yang sudah dinaikan ke troli salah satu penumpang. Ada juga yang jalan-jalan sampai lost and found dan mengecek bagasi yang diletakkan di luar satu persatu. Ketika petugas bandara tanya pesawatnya apa, si Mbak cuma bisa berujar “nggak tahu, nggak tahu” sambil kabur. Sebegitu takutnya mereka pada aparat.

Delapan jam bersama TKW, saya jadi bertanya-tanya:  Yayasan yang selama ini motong gaji TKW yang sudah kecil itu kerjaannya ngajari apa aja?

xx,
Tjetje

The Act of Killing – Jagal

Penantian saya selama satu bulan berbuah manis juga. Akhirnya kedapatan kesempatan nonton film documenter karya Joshua Oppenheinmer yang berdurasi 2 jam 39 menit dan ditaburi tokoh penting di Indonesia. Tokoh2 penting itu antara lain: Wapres Jusuf Kalla yang menggaris bawahi pentingnya pemuda, Ketua Pemuda Pancasila Yapto Soerjosumarno, Rahmad Shah anggota DPR yang hobinya berburu dan punya museum hewan di Medan, Sakhyan Asmara salah satu pejabat di Kemenpora. Ada juga anggota DPRD Medan dari Partai Golkar yang berkicau tentang bisnis illegal Pemuda Pancasila.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/ca/The_Act_of_Killing_(2012_film).jpg

Dipinjam dari Wikipedia

Adegan dibuka dengan enam orang perempuan cantik, Anwar Congo dan Erman (anggota Pemuda Pancasila) menari-nari di bawah sebuah air terjun. Sungguh awal yang mengejutkan untuk film  yang membahas tentang kejahatan anak manusia.

https://i0.wp.com/static.guim.co.uk/sys-images/Film/Pix/pictures/2012/9/14/1347638153352/The-Act-of-Killing-008.jpg
                                       Dipinjam dari Guardian.co.uk

Anwar Congo lalu muncul, mengenakan celana putih (baju piknik katanya) & atasan hijau muda menyala. Membawa kita berpiknik ke tempat dimana dia mengeksekusi anak manusia yang dianggap berafiliasi dengan Partai terlarang. Anak-anak manusia yang tak bisa diselamatkan lagi. Dengan tenangnya, si Anwar menunjukkan bagaimana ia menghabisi korbannya dengan seutas tali/ senar dan meminimalisasi pertumpahan darah. Tak lupa dia menunjukkan tarian cha cha-nya yang bikin dia ngetop. Teknik membunuh lain yang diceritakan adalah dengan meja. Leher korban diletakkan di salah satu kaki meja, lalu mereka pun beramai-ramai duduk di atas meja sambil bernyanyi dan memandangi jalanan di luar jendela.

Selain Anwar Congo, ada juga rekan penjagal lainnya, Adi Zulkadry. Si Bapak ini gak merasa berdosa sama sekali atas perbuatannya. Calon mertua yang kebetulan keturunan Tionghoa pun dihabisi sama dia. Konyolnya, si anak bapak ini muncul beberapa kali di film ini. Lagi nge-mall, foto-foto narsis, bahkan totok wajah. Ini film lagi ngebahas tentang aksi non-humanis dan si Mbak muncul dengan ibunya dengan wajah lempeng, belanja di Mall. Bolehkah saya asumsikan bahwa keluarga Bapak ini menganggap apa yang dilakukan oleh si Bapak sebagai hal yang wajar, normal or worse, something that she should be proud of? Atau jangan-jangan mereka nggak pernah tahu?

Anyway, si Pak Adi ini mengganggap apa yang dilakukannya sebagai hal yang heroic dan dia merasa tidak bersalah. Bahkan nantangin supaya dia bisa dibawa ke Pengadilan Internasional di Den Haag. Pas ditanya tentang Konvensi Genewa, si Bapak malah nantang mau bikin Konvensi tandingan. Konvensi Jakarta.

Ada satu adegan yang menggelitik, tentang bebek. Seekor anak bebek terluka kakinya. Si Anwar lalu menyuruh entah anaknya, entah cucunya, untuk meminta maaf karena telah melukai si bebek. Bahkan si adik kecil ini diminta mengelus-elus si Bebek sebagai tanda cinta kasih. Saking takjubnya, saya gak bisa berkomentar sama adegan ini. Emosi keaduk-aduk.

Adegan lain yang saya anggap penting dan membuat saya Prihatin adalah adegan wawancara dengan TVRI. Si Pembawa Acara, memasang senyum, mengatakan bahwa Anwar Congo telah menemukan cara pembunuhan yang paling efisien dan humanis. D’uh..ini Mbak dulu sekolah di mana sih?

Di akhir cerita, Anwar menerima kalungan medali dari salah satu korbannya sebagai simbol terimakasih karena telah membunuhnya dan mengirimnya ke surga. Kalau benar ide adegan datang dari Anwar dan teman-temannya, maka saya cuma bisa mengelus dada.

Satu hal penting yang perlu digarisbawahi, mereka mengatakan bahwa PKI dianggap kejam. Tapi sebenarnya anggapan itu salah, karena yang lebih kejam itu adalah mereka, para penjagal ini. I couldn’t agree more.

Warning: Film ini mengganggu banget. Saya keluar dari tempat nonton dengan kondisi gemetar dan emosi bercampur aduk. Antara heran ada manusia yang menganggap dirinya tidak jahat padahal tangannya belumur darah dan gemas dengan ketidakadilan.

Yang berminat nonton film ini harap bersabar dan siapkan mental!

Update per 15/12/2013: Film ini sudah bisa diunduh gratis buat yang di Indonesia. Silahkan mengunduh disini: http://actofkilling.com/.

xx,
Tjetje

Pembicaraan Gila di Tan Son Nhat Airport

Postingan ini pernah dimuat di dalam blog lama saya multiply yang sudah tamat riwayatnya.

Halo, saya punya oleh-oleh cerita setelah jalan-jalan keliling Vietnam dari Ho Chi Minh hingga Halong Bay. Bukan cerita perjalanan, tapi cerita unik di hari terakhir di Vietnam. Tepatnya, cerita dari bandara. Warning, buat yang nggak suka bergunjing, lebih baik skip postingan ini karena ini edisi rumpi abis tanpa manfaat.

Dalam perjalanan menuju Jakarta, saya bertemu dengan perempuan Indonesia, sebut saja namanya Mawar. Ketika itu perempuan berusia 23 tahun dengan kulit sawo matang yang terbakar matahari duduk sendiri. Sambil menikmati roti lapis yang tak enak saya iseng-iseng ngobrol. Obrolan kami dimulai dengan kota-kota yang telah kami kunjungi, mbak Mawar mengindikasikan bahwa dia baru selesai liburan ke sebuah pantai, lupa namanya, bersama kekasihnya. Si Mbak Mawar ini rupanya memiliki pacar orang asing, dari Jerman yang merupakan GM sebuah perusahaan minyak di Indonesia.

Lalu, secara terbuka si Mbak menceritakan (tanpa ditanya) bahwa dia lulus SMP pergi ke Hong Kong, bekerja di keluarga Amerika sebagai nanny selama tiga tahun. Lalu kembali ke Indonesia dan bekerja di Bali. Di sanalah dia bertemu kekasihnya. Lalu berhenti bekerja, karena menurutnya kalau bekerja paling-paling gajinya hanya 1,5 juta, sementara kiriman dari kekasihnya jauh lebih besar dari itu. Disamping itu, hampir setiap saat dia harus pergi ke luar negeri mengikuti kekasihnya yang keliling-keliling. Ibunya, bekerja sebagai TKW juga di Malaysia. Tiap kali diajak jalan-jalan ke Malaysia, ia selalu seneng, karena bisa ketemu ibunya.

Lalu sampailah kami pada topic clubbing. Mbak mawar rupanya hobi clubbing dan tempat favoritnya B.A.T.S di Hotel Shangrilla. Buat yang belum pernah ke B.A.T.S, ini club ada di lantai dasar Hotel Shangrilla Jakarta. Kalau malam penuh dengan partygoers dan juga mereka yang menawarkan jasa kehangatan terutama pada pria-pria kulit putih. Perlu dicatat gak semua yang pergi ke B.A.T.S lagi buka lapak dagangan ya, jadi jangan digeneralisasi. Kenapa mbak Mawar suka B.A.T.S? Karena di sana suka ada bule error, dua kali dia ditemplokin duit 500.000.Saya pun menimpali kegerahan saya karena di hotel ini banyak yang menjajakan kehangatan. It’s their body their business lah ya. Tapi dari pengalaman saya, yang nyari cowok di sini itu suka reseh. Saya dan rombongan teman-teman datang ke BATS membawa teman WNA yang penasaran dengan gemerlap Jakarta. Ini kita serombongan pada disikutin, karena banyak yang rebutan pengen ngobrol dengan teman kami yang orang asing. Kami pun ternganga, karena keseharian kami, ini orang kagak ada yang mau. Tiba-tiba jadi super laku, super populer dan diperebutkan. Parahnya, kami, para teman-temannya kena sikut. Oh Jakarta, kadang kejam!

Entah gimana ceritanya, saya kemudian membahas harga service kencan yang konon USD 200 per malam. Sok-sokan baru tahu harga segitu, eh ternyata salah dan saya dikoreksi. USD 200 itu untuk short time. Lalu, sampailah kami pada pembicaraan yang membuat saya terbungkam, terdiam dan tercenung.

Si mbak Mawar bercerita bahwa dia pernah dua kali ketemu bule yang mau memakai dia, tarifnya 3 juta rupiah saja. Tapi tak seperti penjaja jasa kehangatan profesional yang lebih suka milih bule tua (karena mainnya singkat dan uangnya banyak),  si mbak Mawar hanya mau sama yang ganteng. Si Mbak Mawar  kemudian berkata:

Lalu saya pun tertegun, hanya tersenyum simpul sambil mengangguk-angguk tapi tak bisa menyembunyikan kekagetan. Too much information, otak saya nggak bisa mencernanya, apalagi komentar.

Buat saya apapun pekerjaan dia, selama itu bikin dia happy nggak masalah. Tapi saya nggak tahu mesti bereaksi apa kalau dapat informasi seperti ini, salah juga ngapain reseh ngobrol-ngobrol sama orang di Bandara.  Mestinya kan baca buku aja!

Jadi kalau ketemu yang model begini mesti jawab apa? 

xx,
Tjetje

Menghitung Prorata Salary

Postingan ini pernah dimuat di Multiply pada Jan 20, ’09 12:09 PM
Banyak di antara kita yang bingung bagaimana menghitung gaji secara prorata, hal sepele, kalau menyangkut uang, bisa jadi pemicu keributan yang buntutnya musuhan, nggak ngomong, atau bahkan membunuh. Berdasarkan pengalaman di kantor saya terdahulu, serta konsultasi pada bagian HR serta keuangan dari berbagai organisasi, sampailah saya pada kesimpulan cara menghitung gaji secara prorata. Ini merupakan kesimpulan saya sendiri yang digunakan pada banyak organisasi, tetapi bukan merupakan general konsensus. Tiap organisasi memiliki cara perhitungannya masing-masing. Jadi silahkan dikonsultasikan dengan bagian HRD.

Continue reading

Cara Memasak Nasi Jepang

Seringkali orang bertanya mengapa nasi di restoran Jepang rasanya lebih enak dari nasi dari tempat lain. Setelah diajak teman ke kursus Sushi, saya jadi tahu kalau ternyata rahasia kelezatan nasi Jepang itu terletak pada kesabaran, ketelatenan dan kekuatan kantong dalam membeli nasi. Beras berkualitas bagus, tidak datang dengan harga yang murah.

Beras Jepang terbagi dalam beberapa kualitas, untuk membuat sushi, beras yang dipilih harus yang kualitas super dan tak mudah patah. Tentunya beras ini tak boleh disemprot obat nyamuk apalagi bensin dalam membunuh hamanya. OOT: Baru-baru ini saya menghadiri seminar tentang hama wereng coklat dan perubahan iklim. Ternyata oh ternyata, banyak sekali petani yang membunuh hama wereng coklat itu dengan menyemprotkan hal-hal yang tidak seharusnya disemprotkan. Bahkan, banyak pestisida di Indonesia ternyata sudah lama dilarang di Eropa.

pexels-chevanon-photography-359992

Photo by Chevanon Photography: https://www.pexels.com/photo/prawn-sushi-on-black-platter-359992/ Beras Jepang merek ternama biasanya Nishiki.

Beras jepang biasanya short-grain, atau kalau kata keluarga saya beras yang gendut dan pendek. Jenis ini biasanya disebut juga oryza sativa var. Japonica. Daripada repot-repot ngapalain nama latin, cari saja berat Nishiki. Beras nan mahal yang harganya bisa mencapai ratusan ribu ini bisa dibeli di supermarket Jepang atau supermarket yang menjual barang-barang import. Di Jakarta, beras ini bisa dibeli di Papaya, Kamome, atau Grand Lucky.

Menurut chef sushi yang mengajari saya, cara memasak beras Jepang adalah sebagai berikut:

  1. Cuci beras, tapi ketika mencuci beras jangan diaduk-aduk dengan kasar, harus halus dan menggunakan perasaan. Jika mengaduk tanpa perasaan dan kasar, ditakutkan berasnya patah. Setelah satu atau dua kali mencuci, kucuri beras dengan air selama 2 (dua) menit.
  2. Setelah itu, tiriskan beras di atas kain (atau saringan yang teramat kecil lubangnya) selama 15 (lima belas) menit supaya berasnya mekar, merekah dengan sempurna.
  3. Setelah 15 (lima belas) menit, beras dapat dimasak. Nah rumus beras Indonesia yang airnya diukur pakai jempol itu jangan dipakai lagi, karena jempol orang yang satu dan yang lain berbeda. Supaya konsisten, gunakan takaran 1 kg beras = 1.8 lt air; tapi jika memasak  ½ kg beras airnya 1 liter, bukan 900 ml.
  4. Masukkan beras dalam rice cooker atau magic jar selama 45 menit dan jangan dibuka-buka sebelum 45 menit. Kalaupun sudah masak, biarkan saja hingga 45 menit. Mengapa begitu? Supaya matangnya sempurna, katanya.

Setelah empat puluh lima menit makan beras siap disajikan. Patut diingat, kandungan gula dalam beras Jepang ini sangatlah tinggi, makanya enak. Jadi kalau ambil nasi, harap tahu diri, terutama mereka yang level gula darahnya tinggi.

Cara masak yang panjang ini sebenarnya adalah cara masak nasi untuk sushi-meshi (nasinya sushi). Setelah nasi matang, nasi ini harus diletakkan di wadah kayu untuk didinginkan, dicampur dengan sedikit kecap asin dan juga miri, sake manis Jepang, untuk kemudian dibuat menjadi sushi yang cantik. Tapi, cara ini boleh diterapkan untuk memasak beras Indonesia yang biasa-biasa saja supaya nasi lebih enak.

Masih menurut chef sushi yang mengajari saja, sushi di Indonesia itu kebanyakan tidaklah halal, karena kecap asin yang disajikan di restaurant sushi, Kikkoman, mengandung alkohol. Konon, baru Singapura yang bisa jualan sushi halal, dengan kecap tanpa alkohol. Selain kecap, nasi untuk sushi, atau sushi-meshi juga sering dicampur dengan mirin yang sudah saya sebut di atas. Tak semua chef mencampurkan mirin, tapi penambahan mirin ke dalam nasi membuat sushi, menurut saya, jauh lebih enak.

Beberapa restaurant terkemuka sushi juga tak mencantumkan label halal di restaurantnya, menariknya, tak banyak orang yang tahu atau masa bodo dengan hal-hal tersebut. Mungkin karena sushi identik dengan ikan yang bukan hewan terlarang.

xx,
Tjetje

The Passage of Colourful Batik Madura

Attack dan Elle Magazine berbaik hati mengajak 15 orang perempuan jalan-jalan ke Madura dengan ongkos 500rb rupiah saja. Judul tripnya Attack Batik Trip. Biaya itu termasuk harga pesawat garuda PP, hotel 2 malam di Santika Surabaya serta makan. Sebagai penganut prinsip travel semurah dan senyaman mungkin saya pun tidak melewatkan kesempatan jalan-jalan mengelilingi Madura. Beberapa tempat yang kami kunjungi, saya rangkum buat bahan referensi untuk yang mau ke Madura ya!

Museum Tjakraningrat Bangkalan.

Museum yang bisa berjarak sekitar 1 jam dari Surabaya ini tergolong kecil. Lebih kecil dari lapangan sepakbola. Isinya juga tak banyak dan kondisinya begitulah. Kursi bekas ratu dan rajanya pun tanpa anyaman, berlubang sana-sini. Debunya jangan ditanya lagi, bahkan laba-laba pun bersarang di salah satu sudut museum ini. Kondisi museum di Indonesia emang mengenaskan ya.

Selain bercerita sejarah pak pemandu juga bersemangat membagikan cerita mistis di museum ini. Jadi, ada satu set gamelan yang suka bunyi sendiri pada hari-hari tertentu, mungkin gamelannya sudah di auto play untuk waktu-waktu tertentu. Konon, jika gamelan dan sitarnya bunyi, tandanya lapar, minta sesajian. Ada lagi gamelan yang tak boleh dilangkahi oleh perempuan, kalau perempuan melangkah, alamat nggak akan punya anak. Wah, daripada pemerintah susah-susah bikin program KB alangkah baiknya jika ibu-ibu yang anaknya lebih dari dua diminta berlomba melangkahi gamelan ini.

Ole Olang Restaurant

Restaurant Makyus, karena pernah dikunjungi oleh Pak Bondan. Kalau pak Bondan doyan cumi kuning yang empuk (empuk, tapi pedes banget) saya berpegang teguh dengan niat makan nasi jagung. Sebagai orang Malang yang sudah terekspos dengan nasi jagung sejak kecil, kesempatan ini tak boleh disia-siakan. Biasanya di Malang nasi jagung disajikan dengan ikan asin, tempel mendol, sayur berkuah santan dan rempeyek kacang. Ini menu sarapan yang bisa di beli di pasar-pasar tradisional di Malang. Tapi di Madura, nasi jagung disajikan dengan cara yang berbeda. Ketika itu sayur yang ditawarkan adalah sayur daun katu bening. Ini salah sayur kesenangan saya dan dulu kami hanya perlu memetik dari halaman rumah (jadi nostalgia). Tapi tetep, percampuran nasi jagung dan sayur bening buat saya kurang bergreget.

Batik Patimura, Tanjung Bumi

Saya menyebutnya toko batik pejabat, karena toko ini telah pernah dikunjungi bu Ani Yudhoyono serta pejabat pemerintahan lainnya. Biarpun langganan pejabat, harga tetep bersahabat. Saya “hanya” sukses memborong tiga lembar batik tulis, itupun berhutang dahulu karena toko ini tak kenal alat gesek, baik penggesek ATM maupun penggesek kartu kredit. Semuanya harus cash!  Ada satu batik yang khas dari daerah ini, namanya batik gentong, tapi saya menahan diri tak membeli karena harganya yang mencapai 1,2 juta.

Batik gentong itu batik khas Madura yang pewarnaannya dilakukan di dalam gentong selama berbulan-bulan. Ada kepercayaan, kalau ada tetangga atau kerabat yang meninggal, proses pewarnaan bisa kacau. Ya kalau ada yang meninggal hati aja kacau, apalagi mewarnai. Oh ya, ilmu menawar sadis nggak berguna di Madura. Biarpun jurus bahasa Madura pas-pasan dikeluarkan, tetep aja mereka nggak terpukau. Diskon paling banyak yang diberikan, 20 ribu saja! Setelah belanja, kami juga sempat disuguhin demo mencuci dengan Attack.

Batik Love Story

Makan malam kami ditemani dengan film karya Teh Nia Dinata yang berjudul “Batik Love Story”. Film documenter ini menceritakan tentang batik di Jawa, dari Cirebon sampai ke Madura. Duh..setelah  menonton film ini saya jadi ngenes sendiri melihat para pembatik yang resah dengan regerasi. Sayangnya film ini nggak didistribusikan dengan luas, tapi kalau berminat nonton boleh kontak Attack atau Teh Nia Dinata untuk nonton bareng.

Day 2 – 9 September 2012

Pasar 17 Agustus

Sebenarnya kami akan diinapkan di Madura sehingga nggak perlu wira-wiri melintasi jembatan Suramadu.  Tapi karena konflik Syiah dan Sunni, rencana ini buyar. Tuh kan, konflik itu gak bagus, gak bagus buat traveler dan gak bagus buat pedagang batik. Tapi beruntungnya kami diinapkan di Hotel Santika Surabaya. Sarapan tradisionalnya bikin saya gak mau meninggalkan hotel, tapi tetep harus ditinggalkan, kalau nggak timbangan meronta-ronta.

Jadilah kami menempuh perjalanan panjang dari Surabaya menuju pasar 17 Agustus yang letaknya nun jauh di ujung timur Madura. Pasar ini cuma buka dua kali seminggu, hari Kamis dan Minggu, dan  bubar pada saat adzan Dhuhur dikumandangkan. Ya nasib, setelah pantat diratakan dengan perjalanan selama 3 jam lebih, adzan berbunyi lima belas menit setelah kami tiba. Pasar bubar, saya tegar, dompet tetap bugar!!

Akhirnya saya ngekor Eka memilih batik di Asmara Batik. Lumayan dapat motif klasik junjung drajat. Diharapkan dengan memakai kain ini, derajat kita akan naik. Harganya, 125 ribu saja & batiknya tulis saudara-saudara. Murah banget kan? Sayang pewarnanya naptol, bukan pewarna

Kendati selama perjalanan ini waktu habis “terbuang” untuk mondar-mandir Surabaya-Madura, melintasi Jembata Suramadu & Madusura, saya tetep seneng karena bisa melihat kekayaan negeri ini & bisa menjejakkan kaki di Madura. Jadi orang Jawa Timur, tapi nggak pernah menjejak di Madura.

Rangkaian perjalanan ini merupakan rangkaian terakhir dari attack batik trip setelah sebelumnya diadakan di Pekalongan, Yogyakarta dan Solo. Terimakasih Attack dan Elle Magazine yang telah membawa saya jalan-jalan pintar. Terimakasih juga buat Iwet yang sudah menambah pengetahuan saya tentang batik. 

 

xx,
Tjetje

Lokasi Konsulat Irlandia di Jakarta

Menjadi warga negara Indonesia, dengan passport hijau memanglah tidak mudah. Setiap kali mau jalan-jalan ke negara tetangga jauh, dokumen yang disiapkan mesti segambreng. Saya yang berencana syuting sequel P.S I love you jenguk calon mertua ke Irlandia, minggu lalu harus apply visa dengan membawa dokumen ½ rim saja. Karena saya daftar di konsulat, otomatis dokumen ½ rim ini harus di copy lagi untuk konsulat, sedangkan yang asli dikirim ke Singapore. Jadi total dokumennya, satu rim saja ya bow!

Dokumen sebanyak satu rim itu terdiri dari foto cantik saya yang di belakangnya dibubuhi angka pendaftaran aplikasi online. Surat referensi kerja dari Pak Bos yang menjamin bahwa saya akan kembali pulang setelah cuti. Slip gaji selama tiga bulan terakhir, bank statement selama 6 bulan terakhir, masih ditambah pula surat referensi dari bank. Surat referensi selembar ini dihargai Bank Mandiri 50rb saja. Iya, 50ribu aja. Sadis! Tak lupa saya lampirkan copy passport hijau yang tidak sakti itu dan berkas asuransi beserta polisnya.

Host saya di Irlandia juga harus mengirimkan mengirimkan bank statement selama 6 bulan terakhir, surat undangan, rekening utilities selama 3 bulan terakhir dan copy passport. Karena saya baik, saya memberi ekstra dokumen, kontrak kerja saya dari awal saya kerja di kantor ini dan form cuti yang sudah disetujui oleh direktur kantor.

Konsulat Irlandia Nyempil

Di website ditulis bahwa alamat konsulat Irlandia ada di Gedung BEJ tower I, lantai 12. Duh..kalau masuk di gedung yang super ajaib gini saya jadi suka nervous dan norak. Sampai urusan masuk lift aja saya mengalami kebingungan, untung ada mas-mas dari World Bank yang yang membantu saya. Nama si Mas, Bli Ida Bagus Oka. Semoga jodoh dan rejeki si Bli Oka ini lancar ya.

Setelah sampai di lantai 12, saya clingak-clinguk toleh kanan dan kiri, pilihannya Cuma dua: Ernst and Young atau  Kantor Roosdiono & partners. Saya puterin lantai 12 itu sampai ke depan pintu tangga darurat, mushola juga gak ketemu. Nanya-nanya, nggak ada yang tahu dimana letak. Sementara telpon selalu nyambung ke mesin fax. Akhirnya, setelah berkutat selama 15 menit nelpon konsulat (di dalam kamar mandi) tanpa henti, ketahuan lokasinya: di dalam kantor pengacara Roosdiono itu. Pantesan gak ada yang tahu! Catat baik-baik ya: Konsulat Irlandia itu ada di dalam kantornya Roosdiono.

Saya disambut ibu Anna yang kemudian mengecek kelengkapan dokumen saya. Ternyata saya harus menyertakan copy akte kelahiran yang sudah di translate, untungnya dokumen tersebut bisa di email. Kemudian saya diberi tanda terima dan diminta bayar 500ribu. Lha, katanya visanya gratis kok bayar? Ternyata uang 500rb ini adalah administrasi, karena mereka harus kirim dokumen ke Singapore.

Proses visa ini katanya akan memakan waktu 3-4 minggu. Jadi selama 4 minggu ini saya akan berdoa secara rajin biar prosesnya lancar. Semoga!

Update: Lokasi Konsular sudah pindah ke alamat sbb:

Embassy of Ireland, Jakarta-Indonesia
CEO Suite, Indonesia Stock Exchange Building (BEJ)
17th Fl, Tower II, Jl. Jend. Sudirman Kav.52-53
Jakarta 12190
Phn : (021) 5291 7453 atau 5291 7455
Fax : (021) 515 77 99
 
Update lagi: urusan visa sekarang ditangani oleh kedutaan langsung, silahkan baca cara mendaftar visa ke Irlandia di sini. 
 
xoxo,
Ailtje

Omed-omedan: Ciuman Basah a la Warga Sesetan

Omed-omedan..

Saling kedengin, saling gelutin.

Diman-diman….
Omed-omedan ..Besik ngelutin,

ne len ngedengin .

Diman-diman….

Setelah menyepi selama 24 jam, warga banjar Kaja, Sesetan merayakan tahun barunya dengan cara unik: pesta ciuman dan berbasah-basah ria. Omed-omedan, yang berarti tarik-menarik dimulai sekitar jam 3 sore persis di depan balai banjar Kaja. Kendati ini pesta ciuman, para peserta wajib hukumnya menghadap Tuhan dan sembahyang dulu.

 

babi bangkung 1

foto milik penulis

 

Acara Omed-omedan dimulai dengan tarian tradisional yang melibatkan Barong Bangkung (Barong babi) yang mengalami trance (kerauhan ataupun kemasukan). Tak hanya si barong, beberapa peserta juga tampak ikut kemasukan. Dengan sedikit percikan tirta  serta mantra-mantra suci, mereka yang kerauhan pun segera tersadarkan dan siap untuk memulai pesta menarik ini. Mari berciuman!

Tak lama setelah, sederatan pemuda dan pemudi dibariskan di depan balai banjar beberapa pemuda lainnya mengiringi mereka dengan lagu yang penggalannya saya tuliskan di atas (Maaf kalau salah mengutip, Bahasa Bali saya tak bagus). Pestapun dimulai & para pemuda ini berlari menuju bibir gadis-gadis di seberang mereka. Konon, hanya mereka yang masih single yang boleh ikut acara ini. Beberapa bahkan ada yang menemukan jodohnya karena ciuman di acara ini.

running toward the girls

Untuk lebih menghayati, saya berangkat ke acara ini dengan mengenakan kamen, kain panjang. Ternyata oh ternyata, para fotografer disediakan dek khusus untuk memotret. Jadilah saya yang berkamen ini harus naik ke atas dek tersebut. Entah bagaimana ceritanya, saya sukses naik ke atas dek itu. Tak hanya saya, ada banyak penyuka fotografi yang ikut berdiri bersama saya di atas dek itu. Tak hanya saya, tapi ada juga anak-anak kecil yang bahkan belum genap berusia 7 tahun.

Selain memotret, saya juga menjadi juru teriak, meneriaki orang yang nekat bergelantungan di bawah dek kami. Setiap kali ada orang yang mencoba naik, adik kecil yang duduk di dekat kaki saya akan mencolek kaki saya, lalu menunjuk si pelaku. Meneriaki mereka yang bergelantungan jadi wajib dilakukan demi keselamatan saya dan juga kamera tercinta. Urusan keselamatan sepertinya terlupakan karena selama saya berada di atas dek tersebut, tidak ada satu orang pecalang pun yang mencoba mengatur para fotografer (dan penonton) di atas dek. Semua bebas untuk naik, sementara kekuatan kayu tak bisa diandalkan. Tapi seperti biasa di Indonesia, nunggu ada kecelakaan dulu baru akan ada tindakan preventif. Kalau gak ada kecelakaan, biarkan saja.

 

Dan saya menjadi satu-satunya perempuan

Terdapat tiga dek fotografer dan saya menjadi satu-satunya perempuan. Selama kurang lebih 2 jam, telinga saya mendengarkan berbagai celotehan, dari yang tak senonoh hingga masalah asuransi kamera. Pria-pria ini dengan tak segannya berkomentar tentang kemolekan peserta, teknik berciuman hingga menanyakan speed untuk memotret (lha sudah di atas kok baru kursus kilat tentang speed), tak hanya itu, mereka juga sempat membahas ketiadaan asuransi kamera di Indonesa. Beberapa pria juga berceletuk mengenai FPI, mereka bersyukur karena ketidakadaan FPI di Bali. Jika mereka ada di Bali, alamat omed-omedan akan diharamkan. Nggak sih, jika mereka ada di Bali, maka pecalang harus bersatu mengusir FPI dari Tanah 1000 Pura.

gak mau dicium

Yang gak mau dicium pasti tutup muka begitu melihat lawannya.

Apa yang saya takutkan terjadi. Ketika acara hampir usai, dek yang saya tempati dengan sukses berbunyi kriet…kriet dan kayunya patah. Para peminat fotografi di atas dek itu pun langsung membubarkan diri, termasuk saya. Saya yang bisa naik, kali ini kesulitan turun karena kamen yang melilit bagian bawah tubuh. Alhasil, saya berteriak pada seorang pria: “Bli tolong dong, gendong saya!”. Pria pertama melengos dan untungnya ada pria kedua yang dengan baiknya mengulurkan tangan membantu saya turun, tanpa menggendong tentunya. Fiuh….Semoga bli yang membantu saya turun dimudahkan jodohnya dan dilancarkan rejekinya!

 

omed2an3

Tips untuk yang mau motret Omed-omedan:

  1. Datang lebih awal dan segera cari tempat yang tinggi (kecuali kalau kameranya tahan air)
  2. Bungkus kamera dengan plastik. Biarpun sudah di atas, peluang kesemprot masih tinggi karena air disiramkan melalui selang dan ember.
  3. Bawa baju ganti karena bakalan basah.
  4. Pakai sunblock dan kacamata hitam, karena posisi dek ada di sisi timur.
  5. Tinggalkan tripod karena tempat di dek sangat terbatas
  6. Kalau punya uang lebih, silahkan cari asuransi kamera!

 Jadi gimana, berminat untuk melihat pesta ciuman akbar nan basah ini?

…Muach…