Kendati Ibunda saya menggemari fotografi, tak semua perjalanan kanak-kanak saya terekam dalam rol film. Foto-foto kanak-kanak saya terbatas, beberapa foto terlihat lucu dan tentunya ada beberapa yang memalukan. Foto-foto kanak-kanak tersebut tersimpan dengan aman dalam tumpukan album-album foto.
Dulu ketika saya masih bekerja di Jakarta, ketika saya pulang ke Malang, saya sering iseng membuka album-album tersebut sambil membahas orang-orang yang berada di foto tersebut. Dari sana, saya jadi tahu orang-orang yang pernah berada dalam hidup saya. Sambil melihat foto tersebut, kami juga membahas apa yang sedang terjadi pada saat foto tersebut diambil.
Beberapa foto masa kecil saya juga berada di sebuah meja kaca, bersama dengan foto-foto beberapa anggota keluarga kami yang lain, dari Oom, hingga para sepupu. Meja yang berada di ruang keluarga kami itu berfungsi sebagai pengingat tentang masa kecil kami dan perjalanan keluarga.
Ibunda saya tak punya catatan tentang bagaimana saya menjalani potty training, tak ada foto, apalagi video yang merekam momen tersebut. Kalaupun sekarang saya ingin tahu, mungkin Ibu saya tak akan ingat lagi momen tersebut, karena momen tersebut sudah lebih dari tiga dekade yang lalu. Tapi karena keputusan ini saya sangat bersyukur sekali, setidaknya jejak masa kecil saya tak berceceran di dunia maya.
Buku catatan nilai sekolah, atau yang lazim disebut raport, milik saya juga masih disimpan dengan baik oleh Ibunda saya. Raport saya dari TK, hingga SMA tersimpan rapi dan dihiasi foto hitam putih berukuran 4 cm x 6 cm yang diambil dari studio foto Abadi di kawasan Oro-Oro Dowo Malang. Keluarga kami sangat loyal dengan studio foto ini dan kami hanya diperbolehkan foto di sini, walaupun mereka mematok harga yang sedikit lebih mahal dan lokasinya tak dekat lagi dengan kawasan kami tinggal.
Raport saya, untungnya tak pernah dipamerkan kepada siapa-siapa, tidak kepada teman-teman Ibu saya, ataupun anggota keluarga kami. Untungnya, ketika Ibu saya arisan tak pernah ada momen untuk memamerkan hasil nilai saya kepada Ibu-ibu satu RT, atau bahkan ke teman-teman gaulnya. Selain karena nilai saya yang biasa-biasa saja, juga karena Ibu saya memilih untuk tidak melakukan hal tersebut. Terimakasih ya Tuhan!
Sebagai anak 90-an, saya juga bersyukur dengan fakta bahwa saya besar tanpa komputer, tanpa ipod, ipad dan i-i lainnya. Video game seperti Nitendo sendiri mulai hadir di hidup kami melalui teman-teman, kami harus main ke rumah mereka untuk main video tersebut. Sebagian besar waktu kanak-kanak saya dihabiskan dengan bermain petak umpet, gobak sodor, bentengan, saat malam minggu kadang-kadang kami bermain di bawah terang bulan, di jalanan perumahan. Ada kalanya juga kami pergi berenang ke sebuah tempat pemandian umum dan berenang di air yang sangat dingin, lalu pulang membeli jagung bakar. Jaman dulu, jagung bakar itu jauh lebih keren dari aneka Frappé ataupun kopi-kopi jaman sekarang yang bermandikan gula. Tak ada foto apalagi selfie untuk momen-momen tersebut, semuanya terekam dalam memori masa kanak-kanak.
Selama bulan Januari ini saya banyak bernostalgia tentang masa-masa saya tumbuh, di jaman 90an. Tak muluk-muluk kalau saya sangat bersyukur dengan masa-masa tersebut, karena besar tanpa media sosial, besar tanpa foto dan video yang tercecer di media sosial, sungguh hal tersebut merupakan sebuah keindahan yang tak ternilai. Sekali lagi saya bersyukur sekali karena saat ini saya tak perlu repot-repot menghubungi Google dan mengisi form “the right to be forgotten” supaya jejak-jejak tersebut dihilangkan.
Dua atau tiga dekade yang akan datang, anak-anak yang tumbuh di jaman ini mungkin akan sibuk mengisi formulir tersebut, sembari protes keras dengan keputusan orang tuanya untuk mengunggah foto dan video mereka berlarian tanpa pakaian, latihan pipis, hingga ketika mereka bermain sambil disuapin yang tersebar di aneka media sosial, atau bahkan di YouTube. Mungkin pada saat itu mereka akan mempertanyakan, apakah sungguh sepadan keputusan orang tua mereka untuk membagikan masa kanak-kanak mereka demi like dan juga pundi-pundi uang dari hasil iklan. Mungkin lho ya, karena tahu apalah saya yang besar di jaman 90an ini.

Kalian, adakah yang kalian syukuri dari masa kanak-kanak tanpa media sosial dan orang tua oversharing?
xx,
Tjetje






Penutup


