Nostalgia Anak Jaman Dahulu

Kendati Ibunda saya menggemari fotografi, tak semua perjalanan kanak-kanak saya terekam dalam rol film. Foto-foto kanak-kanak saya terbatas, beberapa foto terlihat lucu dan tentunya ada beberapa yang memalukan. Foto-foto kanak-kanak tersebut tersimpan dengan aman dalam tumpukan album-album foto.

Dulu ketika saya masih bekerja di Jakarta, ketika saya pulang ke Malang, saya sering iseng membuka album-album tersebut sambil membahas orang-orang yang berada di foto tersebut. Dari sana, saya jadi tahu orang-orang yang pernah berada dalam hidup saya. Sambil melihat foto tersebut, kami juga membahas apa yang sedang terjadi pada saat foto tersebut diambil.

Beberapa foto masa kecil saya juga berada di sebuah meja kaca, bersama dengan foto-foto beberapa anggota keluarga kami yang lain, dari Oom, hingga para sepupu. Meja yang berada di ruang keluarga kami itu berfungsi sebagai pengingat tentang masa kecil kami dan perjalanan keluarga.

Ibunda saya tak punya catatan tentang bagaimana saya menjalani potty training, tak ada foto, apalagi video yang merekam momen tersebut. Kalaupun sekarang saya ingin tahu, mungkin Ibu saya tak akan ingat lagi momen tersebut, karena momen tersebut sudah lebih dari tiga dekade yang lalu. Tapi karena keputusan ini saya sangat bersyukur sekali, setidaknya jejak masa kecil saya tak berceceran di dunia maya.

Buku catatan nilai sekolah, atau yang lazim disebut raport, milik saya juga masih disimpan dengan baik oleh Ibunda saya. Raport saya dari TK, hingga SMA tersimpan rapi dan dihiasi foto hitam putih berukuran 4 cm x 6 cm yang diambil dari studio foto Abadi di kawasan Oro-Oro Dowo Malang. Keluarga kami sangat loyal dengan studio foto ini dan kami hanya diperbolehkan foto di sini, walaupun mereka mematok harga yang sedikit lebih mahal dan lokasinya tak dekat lagi dengan kawasan kami tinggal.

Raport saya, untungnya tak pernah dipamerkan kepada siapa-siapa, tidak kepada teman-teman Ibu saya, ataupun anggota keluarga kami. Untungnya, ketika Ibu saya arisan tak pernah ada momen untuk memamerkan hasil nilai saya kepada Ibu-ibu satu RT, atau bahkan ke teman-teman gaulnya. Selain karena nilai saya yang biasa-biasa saja, juga karena Ibu saya memilih untuk tidak melakukan hal tersebut. Terimakasih ya Tuhan!

Sebagai anak 90-an, saya juga bersyukur dengan fakta bahwa saya besar tanpa komputer, tanpa ipod, ipad dan i-i lainnya. Video game seperti Nitendo sendiri mulai hadir di hidup kami melalui teman-teman, kami harus main ke rumah mereka untuk main video tersebut. Sebagian besar waktu kanak-kanak saya dihabiskan dengan bermain petak umpet, gobak sodor, bentengan, saat malam minggu kadang-kadang kami bermain di bawah terang bulan, di jalanan perumahan. Ada kalanya juga kami pergi berenang ke sebuah tempat pemandian umum dan berenang di air yang sangat dingin, lalu pulang membeli jagung bakar. Jaman dulu, jagung bakar itu jauh lebih keren dari aneka Frappé ataupun kopi-kopi jaman sekarang yang bermandikan gula. Tak ada foto apalagi selfie untuk momen-momen tersebut, semuanya terekam dalam memori masa kanak-kanak.

Selama bulan Januari ini saya banyak bernostalgia tentang masa-masa saya tumbuh, di jaman 90an. Tak muluk-muluk kalau saya sangat bersyukur dengan masa-masa tersebut, karena besar tanpa media sosial, besar tanpa foto dan video yang tercecer di media sosial, sungguh hal tersebut merupakan sebuah keindahan yang tak ternilai. Sekali lagi saya bersyukur sekali karena saat ini saya tak perlu repot-repot menghubungi Google dan mengisi form “the right to be forgotten” supaya jejak-jejak tersebut dihilangkan.

Dua atau tiga dekade yang akan datang, anak-anak yang tumbuh di jaman ini mungkin akan sibuk mengisi formulir tersebut, sembari protes keras dengan keputusan orang tuanya untuk mengunggah foto dan video mereka berlarian tanpa pakaian, latihan pipis, hingga ketika mereka bermain sambil disuapin yang tersebar di aneka media sosial, atau bahkan di YouTube. Mungkin pada saat itu mereka akan mempertanyakan, apakah sungguh sepadan keputusan orang tua mereka untuk membagikan masa kanak-kanak mereka demi like dan juga pundi-pundi uang dari hasil iklan. Mungkin lho ya, karena tahu apalah saya yang besar di jaman 90an ini.

Kalian, adakah yang kalian syukuri dari masa kanak-kanak tanpa media sosial dan orang tua oversharing?

xx,
Tjetje

Nostalgia Anak 90an

Jaman dulu, ketika sebuah program televisi usai lebih awal, entah lima atau sepuluh menit, saya selalu gembira menanti dengan sabar video klip yang akan muncul. Kalaupun saya berada jauh dari depan televisi, tapi pendengaran saya yang sangat tajam menangkap intro lagu-lagu Boyzone ataupun Backstreet Boys, saya akan lari sekencang-kencangnya menuju depan televisi. Dulu, tak ada YouTube, jadi lari demi melihat mereka di TV pun rela kulakukan.

Seperti beberapa anak-anak jaman dulu, saya juga rajin mencari tahu lirik lagu mereka, supaya bisa ikutan nyanyi. Modalnya: ketajaman telinga, kertas dan bolpen. Jika sudah benar, lagu ini kemudian dipindahkan ke buku lagu, yang cantik, dan ditulis dengan koleksi bolpen warna-warni. Setidaknya, bolpen cantik dengan aneka warna ini bisa digunakan dan dinikmati keindahannya, karena mereka dilarang digunakan di sekolah.

Ketika Kahitna pertama kali mengeluarkan lagu Cerita Cinta, saya pernah duduk di teras rumah, mendengarkan lagu ini diputar dari tape mobil tetangga. Si anak kos, yang saya bahkan masih inget namanya, sedang mencuci mobilnya sambil mendengarkan lagu ini, dengan kencang tentunya. Saat itu, saya tak terganggu sama sekali dengan musik kencang dari mobil kijangnya (yang kotak dan diceperkan. OMG, mobil ceper!)

Merekam lagu di kaset kosong seharga tujuh ribu Rupiah dari radio juga menjadi sebuah kegemaran. Begitu lagunya akan muncul, tangan siap sedia memencet tombol rekam. Sayangnya radio kemudian muncul dengan ide untuk menyebutkan nama radio mereka ketika intro lagu dimulai. Ah rusak deh kegiatan merekam ini. Bicara kaset, kaset-kaset saya sekarang masih ada, dirawat dengan baik oleh adik saya yang memang hobi koleksi kaset. Termasuk kaset band Stinky yang setia menjadi bahan olok-olokan, karena saya pernah mendengarkan mereka. #YaNasib

https://www.instagram.com/p/BMeDHUrhyG8/?taken-by=binibule

Anak 90an pasti juga kenal yang namanya Laser Disk, disk besar yang digunakan untuk memutar film. Disk ini biasanya bisa disewa di tempat penyewaan, selama beberapa hari. Dulu, pergi ke tempat penyewaan laser disk itu menjadi aktivitas yang menyenangkan bagi saya. Tapi kalau ingat besarnya disk tersebut, duh mendingan Netflix aja deh. Tinggal pencet komputer atau TV, beres deh.

Koleksi kertas surat juga menjadi sebuah hobi di tahun 90an. Satu bungkus kertas surat, yang biasanya juga berbau wangi, biasanya berisi sepuluh set kertas surat dan amplop. Sembilan set akan ditukarkan dengan teman lain, sementara yang satu disimpan sendiri untuk koleksi. Kenangan tentang hobi ini tiba-tiba kembali ke memori saya, ketika mantan kolega saya yang orang Jepang memberikan satu set kertas surat cantik dari Jepang. Selain itu, ia juga memberikan sebuah surat perpisahan yang begitu indah. Surat indah dikombinasikan dengan kertas cantik ternyata oke, sayangnya semua koleksi kertas surat saya sudah hilang tak ketahuan rimbanya.

Telepon umum juga berperan penting dalam komunikasi anak 90an. Nokia 5110, apalagi 3110 belum ditelurkan, jadi telpon rumah menjadi andalan gaul, modalnya pun murah, 100 rupiah untuk tiga menit. Koin 200 ataupun 500, saat itu belum muncul. Uang 100 Rupiah pada saat itu merupakan jumlah yang besar (bagi anak-anak), sehingga muncul kreativitas koin yang dilubangi, lalu diikat dengan seutas tali (supaya bisa bolak-balik telpon tanpa membayar). Teknik ini sendiri memerlukan kecepatan tangan untuk menarik koin ketika mesin akan menelan koin. Yang ditelpon siapa? ya cem-ceman dong ya.

Saya dan banyak anak lainnya juga gembira ketika telepon umum rusak, lalu banyak uang yang nyangkut di dalam mesin. Kalau sudah begitu, ranting atau lidi yang kuat akan dimasukkan untuk mendorong koin yang nyangkut. Dan jackpot, tiba-tiba beberapa uang koin akan berhamburan, cukup untuk membeli beberapa Chiki atau Anak Mas. Kebahagiaan sederhana ini sayangnya tak bisa muncul ketika telpon kartu dan telepon kartu chips muncul. Telpon-telpon itu hanya membuat pembicaraan interlokal lebih mudah dilakukan. Nostalgia telepon sendiri pernah saya tulis secara mendetail di postingan ini.

Tahun 90an itu menyimpan banyak kenangan manis, karena saya tumbuh besar di tahun itu. Melihat dunia berubah dan mengikuti perubahan itu, dari mulai berlari-lari di bawah terangnya bulan, hingga kemudian mengenal teknologi dan terjebak dalam teknologi. Beberapa tulisan nostalgia selama bulan Januari ini membuat saya merasa beruntung sekali, karena masa kanak-kanak dan masa muda saya begitu indah. Semoga generasi sekarang pun merasakan hal yang sama, atau setidaknya, kalian para orang tuanya membantu mereka membuat kenangan-kenangan indah.

Kamu, punya kenangan manis apa di tahun 90an?

xx,
Tjetje
Anak ’90an

Matinya Majalah Kita

Pagi itu, saya mengenakan seragam sekolah, siap untuk berangkat ke sekolah. Hari itu begitu tertancap di kepala saya, karena loper koran kami mengantarkan majalah Gadis. Sebelum berangkat ke sekolah, saya duduk membuka-buka lembaran majalah yang warna sampulnya hari itu kuning, sambil tak sabar ingin cepat-cepat pergi sekolah untuk pulang, karena ingin membaca majalah tersebut. Hari itu saya begitu girang, terlalu girang mungkin hingga memori majalah Gadis pertama saya begitu kuat menancap di kepala.

Jaman 90an, tak ada Twitter, boro-boro Twitter, internet saja tak ada. Majalah menjadi salah satu sumber informasi kami, apalagi bagi saya yang tinggal di Malang. Selain  menyambungkan saya dengan glamornya ibu kota dan informasi-informasi tentang artis ibu kota dan artis internasional, majalah Gadis juga sukses menempelkan ide tentang kaos H&R, kaos bikinan Bandung yang jaman itu ngetrend banget.

Saat itu, majalah kerap kali memberikan alamat rumah para artis atau Gadis Sampul. Salah satu teman SD saya (SD sodara-sodara!) ada yang hobi mencatat alamat dari majalah dan mengirimkan surat untuk artis-artis atau para Gadis Sampul. Surat-surat tersebut dibalas dengan surat template dan ditemani dengan foto studio yang diberi tanda-tangan. Saya sendiri tak pernah demen nulis surat ke mereka, karena bingung nulis apa.

Source: https://www.pinterest.ie/pin/241716704973982860/

Selain membaca majalah Gadis, saya juga membaca Kawanku, majalah yang dipenuhi pin-up atau poster para penyanyi dan artis-artis. Sebagai remaja 90an, poster-poster itu saya tempelkan di satu tembok di kamar saya. Beberapa poster itu masih ada di tembok kamar ABG saya (saya punya kamar ABG dan kamar dewasa) yang sekarang jadi kamar setrika. Nah suatu ketika, suami saya tak sengaja melihat koleksi poster-poster tersebut (OMG, malu 🤦‍♀️) lalu dia kaget sambil ketawa kencang ketika melihat sebuah band Irlandia yang salah satu anggotanya teman dia sekolah yang kebetulan tinggal tak jauh dari rumah mertua. Nama bandnya OTT, yang dulu nyanyi ulang lagu “All Out of Love”. Untungnya saya gak gitu ngefans.

Masih ada yang kenal sama OTT?

Femina, majalah perempuan yang belakangan ini heboh karena upah jurnalisnya dicicil, juga menjadi salah satu majalah yang rajin saya baca. Ibu saya berlangganan majalah ini sejak lama dan saya jadi ikutan rajin membaca. Nah ketika membaca majalah ini saya selalu membacanya dari belakang. Yang saya baca duluan tentunya Gado-gado di bagian paling belakang. Tulisan yang dikirimkan oleh pembaca ini bisa membahas beraneka rupa cerita. Satu tulisan yang membekas di kepala saya soal Dutch treat, tentang pengalaman seorang pembaca yang menghadiri pesta ulang tahun dan berakhir harus membayar makanan sendiri & tidak dibayari. Femina sendiri menjadi majalah yang lumayan, cukup information dan tentunya iklannya tak seabrek.

Di Jakarta sendiri saya sempat berlangganan Femina, tapi akhirnya berhenti karena loper yang tak disiplin dalam mengantar majalah, juga karena harga yang dijual jauh lebih mahal ketimbang harga yang dibanderol. Harga jauh dari banderol ini kayaknya problem Jakarta dan para loper ini sering kreatif, harga majalah ditutup dengan corrective pen lalu harga baru ditulis di atasnya. Rekor saya ketipu, empat puluh ribu rupiah untuk majalah tempo yang aslinya tak begitu mahal.

Bagaimana dengan di Dublin? The Economist sempat menjadi pilihan saya selama beberapa bulan tapi akhirnya saya berhenti juga, karena lebih cepat membaca secara daring. Tsunami internet inilah yang berkontribusi besar pada mulai matinya industri majalah, termasuk majalah Hai yang sempat berjaya sekali. Tak hanya majalah sih, koran-koran pun berguguran satu-persatu dan mulai digantikan oleh koran daring yang judulnya sensansional, beritanya terpotong-potong dan tentunya clickbaity. Namanya juga gratisan.

Salah satu momen paling menyenangkan untuk membaca majalah itu, bagi saya, di salon, ketika kepala dan pundak dipijit saat creambath. Ah surga banget deh. Kalian, punya kenangan manis dengan majalah dan punya majalah favorit?

xx,
Ailtje

Juga membaca Panyebar Semangat & Bobo

Tentang Stasiun Radio

Siapa yang masih sering mendengarkan radio? Saya masih sering dong streaming dari Irlandia. Radio ini menjadi sahabat saya ketika menyetir, di kantor (ketika tak mengajar dan harus duduk di depan komputer) serta ketika pulang ke rumah sembari memasak di dapur. Bagi saya, radio gak ada matinya!

Pilihan stasiun radio saya sendiri di sesuaikan dengan kondisi dan lokasi saya. Di rumah dan di jalan, saya lebih sering mendengarkan radio lokal Dublin. Radio yang paling sering saya dengarkan di sini 98 FM yang diklaim sebagai Dublin’s Best Radio Station. Selain urusan musik dan mendengarkan berita, saya juga suka mendengarkan acara interaktif yang mengajak pendengar membahas berbagai topik aneh-aneh. Beberapa topik terakhir yang saya dengarkan soal pro-kontra memiliki akun tabungan bersama dan kejadian-kejadian horor hingga soal percintaan beda usia antara duda beranak satu yang berhubungan dengan anak kuliahan dengan beda usia 20 tahun. Soal yang terakhir ini komentarnya kejam-kejam.

Selain memberi inspirasi tulisan dan membuka wawasan, mendengarkan radio melatih telinga saya untuk mendengarkan aksen Irlandia, walaupun aksennya tak terlalu kental, serta memperkaya koleksi kosakata yang sering digunakan di Irlandia. Saya besar dengan Inggris Amerika, jadi ada perbedaan besar ketika pindah ke sini dari yang paling sederhana seperti antara chips dan crisps, hingga soal ukuran metrics.

Untuk mempertahankan kosakata Inggris Amerika saya, Kiis FM menjadi radio pilihan yang saya streaming dari computer. Bukan musik yang saya cari, tapi acara interaktifnya Ryan Seacrest dan pendengarnya yang berdiskusi (atau lebih tepatnya berdebat) karena satu hal. Entah karena dating gak berjalan, rent belum dibayar, atau karena ditinggal selingkuh. Seru sih karena lagi-lagi telinga harus cepat menangkap isi pembicaraan. Satu lagi yang saya suka dari programnya Ryan Seacretst, dia suka nanya: “Tell me something good“. Ini menyenangkan banget lho dengernya, karena kepala kita udah kebanyakan dengar hal-hal negatif yang bikin capek.

Radio Indonesia juga masih sering saya dengarkan, biar nggak ketinggalan hal-hal baru dan juga kosakata kekinian dari Indonesia. Radio yang saya dengarkan PramborsFM, biasanya sih saya mendengarkan Sunset Trip, walaupun saya gak demen dengan jumlah iklan di radio ini. Duh buanyaaak banget dan repetisinya, apalagi soal apartemen yang iklannya kenceng itu. Saya juga gak demen dengan Fakta Cemen Ala Mr. Lessman, karena garing berat & suatu ketika pernah becandaan soal suicide. Suicide is not a joke and should never be a joke.

Dari radio Indonesia saya jadi tahu tentang penyanyi-penyanyi Indonesia terbaru. Perkenalan pertama saya dengan lagu-lagu Tulus juga gara-gara PramborsFM. Lagu Gajah menjadi lagu Tulus yang pertama kali saya dengar. Di PramborsFM ini saya juga jadi ngeh kalau orang-orang itu suka kirim makanan untuk para penyiar. Malam-malam lagi siaran, tiba-tiba dikirimi martabak. OMG, saya dengernya merana gitu, karena tak ada martabak manis kaya kalori di Dublin.

Menariknya, ketika saya tinggal di Jakarta, saya justru tak terlalu menggemari radio. Saya hanya sesekali mendengarkan radio dan hanya radio Perancis saja. Sebelum dituduh sombong, saya mendengarkan radio Perancis untuk mengasah kemampuan bahasa Perancis saya. Sayangnya sekarang kemampuan saya udah menghilang, karena bahasa ini jarang saya gunakan.

Saat tinggal di Malang sendiri saya mendengarkan beberapa radio lokal seperti Makobu dan Kalimaya Bhaskara. Entah dua radio itu masih ada atau tidak. Tapi dulu, ketika masih berseragam (baca: masih muda dan masih sekolah, tapi tidak ingusan), saya pernah beberapa kali mampir ke stasion radio, untuk menuliskan request lagu serta mengirimkan salam kepada teman-teman. Seneng lho kalau dapat salam dari radio dari teman gini, rasa senang yang sederhana. Apalagi kalau yang ngirim salam cem-ceman.

Bagaimana dengan kalian, masih suka dengerin radio dan punya stasiun radio favorit? Atau kalau gak suka dengerin, just tell me something good 😉

xx,
Tjetje

Aliansi Tak Bisa Masak

Saya ini tergabung dalam aliansi di atas. Ketidakbisaan masak saya ini parah, parah banget. Ketika datang di Dublin, saya cuma bisa masak nasi, mie instan, telur goreng dan aneka sayur yang direbus atau dioseng kilat. Oh ya, saya juga tak bisa merebus telur. Asal rebus telur, pasti dalamnya masih mentah. Pyor…..

Tapi namanya manusia dan juga karena dipaksa keadaan, saya terpaksa belajar masak. Terpaksa banget, karena kalau gak masak saya tak akan makan. Selama di sini saya belajar masak aneka rupa makanan Indonesia, karena sejak tinggal di sini, saya cuma napsu sama makanan Indonesia. Padahal waktu tinggal di Indonesia, maunya makanan asing melulu. Ya namanya juga manusia. Nah selama dua tahun ini, saya syukurnya sudah agak pinter sedikit, sedikit lho ya! Tapi setidaknya ilmu memasak saya sudah sedikit berkembang dan yang paling membanggakan, saya sudah bisa rebus telur. 🤣

img_3222

Selain membuat aneka lauk, dari ayam yang dimasak paniki, betutu, soto hingga ayam goreng. Bicara ayam goreng, saya masih penasaran cara membuat ayam yang kaya rempah seperti di Indonesia. Resep ayam goreng saya di dapat dari Bu Nur, pekerja rumah tangga yang dulu sering menyajikan ayam nan enak. Sayangnya si Ibu sudah pensiun dan ayam saya masih belum mendekati rasa ayam buatan si Ibu. Gila ya, nyoba bikin ayam goreng saja, saya harus membeli ayam dari beberapa tukang daging yang berbeda, karena kualitas dan hasil akhir ayam tak sama.

Selain memasak lauk, yang kebanyakan ayam (karena saya tak makan daging merah), aneka kue Indonesia juga ada di dalam daftar hal-hal yang harus dicoba dibuat. Target untuk setidaknya membuat satu kue setiap bulan tentu saja tak terpenuhi, karena agak ambisius. Tapi bolehlah saya berbangga hati, karena sudah bisa bikin tahu isi, kue ku, kue pukis, nagasari, dan yang paling gres: risoles! Bisa bikin risoles, yang diisi ragout ayam lalu tak hancur ketika digoreng itu sungguh pencapaian luar biasa. Bahkan dalam sebuah acara makan siang dengan seorang Romo, beliau mau minta risoles saya dibungkus. Aduh gak terdeskripsikan bagaimana girangnya hati saya. Mungkin buat yang jago masak sih ini hal biasa, tapi buat saya ini luaaaaaar biasa. (Btw, saya memodifikasi resep Diah Didi untuk bikin risoles)

Jika taun kemarin kaastengels à la Indonesia menjadi menu hantaran untuk tetangga, tahun ini saya mencoba membuat nastar dan selainya. Hasilnya mengerikan, bentuknya amburadul, rasanya apalagi. Tapi ya saya tetep nekat membagikan kue tersebut, demi kritik membangun.

Apa lagi yang akan saya lakukan tahun 2018 ini? Saya akan terus bereksperimen, mencoba aneka rupa resep-resep baru, menyempurnakan resep yang gagal dan menyesuaikan dengan bahan lokal (apalagi untuk kue kering). Intinya, tak akan ada kata menyerah dari saya. Kalau gagal ya coba lagi, hingga bisa dan tentunya harus bisa.

Satu hal yang saya pelajari dari proses panjang ini, ternyata kue Indonesia itu bahan-bahannya sederhana dan sangat murah, tapi proses pembuatannya perlu kesabaran tingkat dewa. Gara-gara belajar membuat aneka masakan ini, ketika pulang ke Indonesia, saya jadi jauh lebih menghargai makanan Indonesia, apalagi makanan yang dihargai sangat murah, karena di balik murahnya makanan itu ada pengorbanan dan kesabaran luar biasa. Dan sampai sekarang, saya masih gak terima kalau kue-kue ini dijual dengan murah, karena kebayang capeknya di dapur (dan panasnya!).


Selamat Tahun Baru kawan, semoga kalian diberikan semangat tinggi untuk mencoba hal-hal baru dan menambah ilmu! Kalian, suka masak apa?

xx,

Tjetje

Hadiah-Hadiah Khas Natal

Momen Natal di sini itu momen yang meriah. Rumah-rumah dan pusat kota dihiasi berbagai ornamen Natal. Toko-toko sendiri juga berlomba-lomba memamerkan dekorasi terbaik, membagikan hadiah dan coklat, serta menyajikan musik natal secara langsung. Natal yang identik dengan berbagi, baik itu berbagi hadiah atau beramal, juga identik dengan belanja. Belanja menjelang Natal itu mengerikan banget, karena satu Irlandia tumpah ke Dublin. Satu Irlandia ya, bukan satu Dublin lagi. Toko dan jalanan penuh dan para pegawai retail terlihat kelelahan dan tak jarang, nyolot.

Mumpung menjelang Natal gini, saya ingin sedikit berbagi tentang keruwetan mencari hadiah untuk acara tukar kado, yang di Irlandia lazim disebut sebagai Kris Kindle ataupun mencari hadiah untuk anggota keluarga. Untungnya ya, di keluarga besar di sini, kami tak perlu membeli hadiah Natal untuk semua orang. Cukup satu orang saja. Tapi tetap aja ribetnya bukan main, karena harus nyari hadiah yang sesuai. Nah setelah beberapa Kris Kindle, saya menemukan tipe-tipe hadiah yang paling sering diberikan:

  • Krim tangan dan pelembab bibir

Dua produk ini merupakan produk andalah selama musim dingin, karena bibir dan tangan yang cenderung kering. Lagipula pelembab bibir ini juga sangat penting ketika akan diwawancara oleh wartawan #EhKokNyindir. Fungsi mereka yang penting membuat kedua produk ini menjadi barang yang paling sering diberikan sebagai hadiah Natal. Bahkan salah satu merek Perancis yang handcreamnya terkenal okay sampai siap sedia dengan produk yang sudah dibungkus rapi.

Saking seringnya barang-barang ini diberikan, sampai detik ini saya hanya pernah membeli kedua produk ini satu kali saja. Sisanya dapat hadiah dan tak perlu beli lagi hingga beberapa Natal ke depan. Kalau produknya gak expired ya.

  • Toiletries dan parfum

Tiap natal itu toko-toko itu menyediakan banyak pilihan set parfum dan toiletries untuk berbagai budget. Dari yang paling murah sampai yang mahal. Parfum biasanya dipasang-pasangkan dengan sabun atau krim pelembab tubuh. Di Indonesia box set ini juga ada ketika musim liburan, tapi ragamnya, menurut saya lebih banyak di sini. Mungkin karena banyak orang memang mencari box set ini ketika menjelang Natal. Box set ini juga seringkali digunakan untuk hadiah ulang tahun, karena praktis.

Ragam parfum dan toiletries ini lebih banyak untuk perempuan ketimbang untuk pria. Sementara salah satu brand pria yang paling sering  saya lihat bermunculan saat Natal adalah Nivea. Mungkin pria-pria ini kalau lihat hadiah ini akan berseru: “Ah Nivea lagi”.🤣

  • Sikat gigi elektrik, celana dalam dan kaos kaki

Mencari hadiah Natal untuk pria itu tak semudah untuk perempuan. Pilihan untuk pria sebenarnya banyak, tapi entah mengapa kalau Natal kebanyakan orang memilih sikat gigi elektrik, celana dalam dan kaos kaki. Dua produk terakhir ini biasanya sudah diletakkan dalam kemasan kotak rapi, jadi mudah dibungkus. Produk-produk ini juga diletakkan di lokasi strategis, jadi mudah dijangkau.

Saya yang tadinya anti memberikan kaos kaki, karena standar banget, tahun ini breaking rules dan memberi satu boks kaos kaki lucu-lucu untuk bekas murid saya yang baik banget. Ternyata, memberikan hadiah seperti ini itu praktis, gak pakai pusing dan membungkusnya pun mudah. Tapi saya bayangin yang terima hadiah gak akan terlalu excited.Minuman keras & anggur

Konsumsi minuman keras pada saat Desember ini mungkin jauh lebih tinggi daripada bulan lainnya, selain karena konsumsi ketika orang bertemu di pub juga karena orang memberikan minuman keras sebagai hadiah, ragam minuman kerasnya macam-macam, dari anggur, prosecco (orang sini jauh lebih menyukai prosecco ketimbang champagne) hingga vodka, Baileys atau minuman lain. Minuman-minuman ini kemudian dibungkus dalam tas-tas yang lucu. Craft beer yang popular sejak berapa tahun belakangan juga sering diberikan sebagai hadiah dalam bentuk parsel cantik.

Tahun lalu, kami menerima sebotol wine dari sebuah perusahaan dan botol wine yang kami terima ditempeli dengan kertas yang bertuliskan ucapan selamat tahun baru, lengkap dengan nama perusahaan ini. Pintar sih, karena botol tersebut harus diminum dan tak bisa diberikan ke orang lain.

  • Hiasan Natal

Hiasan-hiasan untuk pohon natal juga menjadi salah satu pilihan hadiah yang seringkali diberikan. Beberapa hiasan bahkan dilengkapi dengan nama atau ucapan selamat natal untuk menjadi pengingat natal tahun tersebut. Salah satu merek lokal yang menjadi favorit banyak orang adalah Newbridge. Newbridge sendiri merupakan nama sebuah lokasi di Co. Kildare dimana produk-produk ini dibuat. Kebanyakan produk mereka sendiri disemprot perak, tapi bukan perak murni 925 seperti di Celuk atau Kotagede ya. Walaupun harganya jauh lebih mahal daripada perak beneran.

  • Penganan Natal

Mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana dengan makanan? Parcel kue kering seperti di Indonesia sendiri gak lazim, kalaupun ada kue yang diberikan biasanya Christmas pudding, panatone, coklat atau biskuit berbalur coklat hasil beli. Jarang sekali saya melihat orang yang memberikan biskuit atau kue hasil buatan sendiri.

Tahun kemarin saya membagikan kaastengels dalam toples kecil untuk tetangga, karena saya kehabisan kartu Natal untuk mereka. Beberapa minggu kemudian toples ini dikembalikan, beda banget dengan di Indonesia. Tahun ini saya memilih gak bagi-bagi kue karena sibuk dan sampai saat ini belum nemu keju yang biasa saya pakai.

Penutup
hadiah Natal tak terlalu penting, yang terpenting adalah momen bersama keluarga. Ketika tulisan ini dipublikasikan, saya bisa dipastikan sedang berada di tengah-tengah keluarga sembari melihat para keponakan kegirangan luar biasa ketika membuka hadiah-hadiah Natalnya. Hadiah Natal penuh kebohongan, karena diklaim sebagai hadiah dari Santa. Wajah girang mereka akan menjadi hadiah terbaik saya, karena tahun ini kami belanja gila-gilaan untuk mereka, karena Natal adalah momen ajaib bagi mereka.

Selamat Natal bagi kalian yang merayakan semoga Natal kalian damai . Bagaimana kalian menghabiskan hari ini?

xx,
Ailtje

Sekali lagi, Tradisi Natal di Irlandia

Kendati baru dua tahun di Irlandia, Natal ini menjadi Natal ke empat saya di sini. Selama empat kali Natal di sini, saya melihat begitu banyak tradisi yang menarik dan setiap tahunnya ada saja sesuatu yang baru.

https://www.instagram.com/p/BNQ5P5rhp10dYqNhwEpVzwqoUVCc-oCz_qLenk0/?taken-by=binibule

Penyalaan Lampu

Tradisi sederhana untuk pergi ke kota dan melihat lampu hiasan Natal dinyalakan. Jalanan-jalanan utama di kota Dublin dipenuhi para peminat lampu ini. Pemerintah tentunya membuat acara ini jauh lebih meriah dengan aneka penampilan. Bagi saya sendiri tradisi ini engga banget, karena cuaca yang sangat dingin. Lagipula ketika lampu sudah dinyalakan, kita masih bisa melihat meriahnya kota.

Tapi bagi mereka yang sudah memiliki anak, tradisi ini menjadi tradisi penting, untuk mengenalkan “keajaiban Natal” bagi anak-anak.

Jendela toko

Ini tradisi saya, tiap tahun saya melihat jendela dua toko besar di Dublin, Brown Thomas dan Arnott’s yang memasang jendela edisi Natal. Jendela toko-toko ini menarik banget dan dipenuhi dengan ornament-ornamen khas Natal ataupun manekin dengan pakaian yang meriah.

Tiap tahun saya selalu menyempatkan diri untuk melihat jendela-jendela ini, karena ingin tahu ide-ide para tim kreatif. Kadang sambil iseng lihat jendela ini, saya sambil ngitung berapa biaya yang dikeluarkan toko-toko tersebut, ah tapi toh semuanya akan terbayar ketika profit melejit tajam.

Misa Tengah Malam & Misa anak-anak

Tiap tahun, menjadi tradisi di keluarga pasangan saya untuk pergi ke gereja di tengah malam. Misa Tengah malam ini sangat syahdu dan berlangsung sekitar satu jam. Tak seperti di Indonesia dimana orang berdandan cantik untuk datang ke rumah ibadah, di sini orang-orang yang pergi misa mengenakan pakaian kasual saja dan membungkus diri dengan jaket tebal karena hawa yang dingin.

Misa anak sendiri saya hadiri untuk pertama kalinya tahun kemarin. Saat misa ini sang pastor banyak berinteraksi dengan anak-anak dan tentunya membahas Santy Klaus (Santa) dan hadiah yang akan dia bawa. Tentunya sang Pastur mengingatkan esensi Natal sebagai sebuah hari keagamaan.

Late Late Toy Show

TVRInya Irlandia itu bernama RTE dan menjelang Natal mereka selalu memutar episode khusus tentang mainan. Episode ini paling dinanti oleh satu Irlandia, karena anak-anak ini luar biasa lucunya, apalagi mereka yang tinggal di pedesaan.

Acara ini juga suka memberi kejutan. Menariknya, reaksi anak-anak yang diberi kejutan ini seringkali bikin ketawa. Dari bengong doang sampai reaksi mengharukan. Saya sendiri baru empat Natal di Irlandia, jadi belum punya banyak favorite. Tapi edisi kejutan dari Ed Sheeran dan kejutan Bapak yang pulang dari penugasan di Afrika jadi favorit saya.

Ada yang spesial dari Late Late Toy Show tahun ini. Tahun ini untuk pertama kalinya Angklung dan dua anak Indonesia, yang juga kembar, ikut dalam acara ini. Sebagai orang Indonesia (dan komunitas Indonesia di sini kecil), saya rasanya bangga luar biasa. Silahkan di klik video di bawah ini untuk melihat angklung:

 

Penutup

Natal tahun ini, untuk pertama kalinya saya akan terlibat dalam urusan dapur, biasanya saya tak pernah masak apapun dan tahu beres. Tahun ini saya akan menyajikan gado-gado. Di samping gado-gado, saya juga berambisi menyajikan kroket serta risoles untuk snack. Panganan ini setidaknya tak terlalu kaya bumbu dan semoga cocok dengan keluarga besar. Mungkin lebih tepatnya, semoga saya berhasil membuat dan menyajikannya. #Ambisius. Nanti kalau berhasil fotonya akan saya upload di Instagram ya.

Bagaimana dengan kalian, punya rencana apa di liburan Natal tahun ini?

xx,
Tjetje

Cerita Aneh Dari Dapur

Dapur merupakan elemen penting dari setiap rumah dimanapun. Di dapur makanan yang merupakan salah satu hal penting untuk melanjutkan hidup disiapkan dan dimasak. Jika diperhatikan, ada hal-hal sepele di dapur kita yang aneh dan dibiarkan tetap aneh. Saya mencatat tiga hal tersebut, yaitu jenis dapur, kompor serta cara mencuci piring.

Di Indonesia sebagian kecil kaum menengah ke atas suka sekali membuat dua macam dapur, dapur basah dan dapur kering. Dapur basah digunakan untuk tempat memasak aneka rupa masakan. Biasanya dapur basah tampak kurang rapi, kotor dan tak terawat. Sebaliknya dapur kering terlihat cantik, bersih dan rapi. Di beberapa rumah dapur kering digunakan juga sebagai ruang makan dan dihiasi dengan kompor empat tungku, lengkap dengan ovennya.

Saya mencari informasi di google secara cepat dan menemukan bahwa dapur basah dan dapur kering ternyata bermula dari kaum peranakan. Di dapur basahlah aneka rupa bumbu-bumbu yang baunya pekat, tak heran rupanya kurang cantik. Sementara fungsi dapur kering biasanya dibatasi pada kegiatan masak-memasak yang cantik dan tak menimbulkan banyak bau. Tapi seringkali saya perhatikan dapur kering di Indonesia berakhir menjadi hiasan rumah semata dan tak digunakan untuk kegiatan memasak.

Dapur kering bukan satu-satunya hal yang jarang digunakan, ada satu ‘ornamen’ yang jarang disentuh: kompor empat tungku. Kompor yang biasanya dilengkapi dengan oven dan harganya tak murah ini, entah mengapa jarang sekali disentuh. Bahkan di beberapa rumah ada yang tak pernah digunakan sejak dibeli. Jika ditanya mengapa kompor dan oven tersebut tak digunakan, alasannya beraneka rupa. Tapi alasan yang paling sering saya dengar ada dua, karena lebih enak memasak di dapur basah serta karena biaya untuk membayar listrik untuk menyalakan kompor dan oven tersebut tidaklah murah. Saya tentunya tak paham mengapa orang repot-repot membeli dan memasang kompor tersebut jika tak digunakan. Tapi tentunya dengan uang yang berlebih orang bisa saja membeli apapun untuk dapurnya.

Tak seperti di Indonesia, dapur di Irlandia menjadi ruang penting di dalam rumah. Selain untuk masak, dapur juga dijadikan tempat untuk ngobrol-ngobrol sembari minum teh Irlandia. Tak heran jika banyak orang berlomba-lomba membuat dapur mereka senyaman dan secanggih mungkin. Dapur-dapur di sini setidaknya dilengkapi dengan mesin cuci, mesin cuci piring dan pengering pakaian. Model-model rumah baru sendiri mulai memisahkan mesin cuci pakaian dan pengering pakaian ke utility room. Tapi yang jelas, mesin-mesin cantik ini tak jadi pajangan seperti di Indonesia. Semuanya digunakan.

Di kebanyakan rumah di Irlandia juga tak ada dapur kering dan dapur basah. Dapur hanya satu saja. Ketika digunakan berantakan seperti kapal pecah, tapi setelah digunakan harus bersih dan kinclong kembali seperti di katalog-katalog majalah. Semua perkakas dimasukkan ke dalam laci dan lemari sehingga sudut-sudut dapur bersih dari berbagai macam botol bumbu, atau barang-barang lain yang tak diperlukan.

Mendambakan dapur hitam

Yang pasti dapur di Irlandia juga bukan sudut menjijikkan yang sering dikunjungi tikus-tikus kelaparan di malam hari. Tapi bagi saya, ada satu masalah besar di dapur Irlandia, semua dapur di desain untuk orang-orang yang tinggi. Jadi orang bertubuh pendek seperti saya memerlukan kursi kecil.

Punya cerita menarik dari dapur kalian?

xx,
Tjetje
Ditulis di dapur, biar afdol

Ahli Hamil

Beberapa orang yang saya cintai sedang menanti buah hati mereka. Saya pun riang gembira untuk mereka, bahkan langsung bikin rencana untuk mengunjungi mereka. Menariknya, gak di Irlandia, gak di Indonesia, ternyata reaksi orang terhadap kehamilan itu sama, sama-sama kasih selamat, lalu dilanjutkan dengan memberikan saran-saran yang aneh-aneh.

Masalahnya, saran-saran ini tak diminta dan buntutnya jadi mengganggu banget. Mendadak semua orang jadi ahli dan suka memberikan tips-tips kehamilan yang bikin Ibu hamil makin eneg. Kasihan mereka, sudah kena morning sicks masih harus berhadapan dengan saran dan mitos ini. Mau dengar beberapa di antaranya? Yuk mari!

Makanan dan penghakiman

Ibu hamil makan mie instan, minum soda, atau makan junk food. Mendadak dunia runtuh dan orang tak dikenal sekalipun langsung ribut. Kadang-kadang mereka tak ribut sih, tapi memandang dengan tatapan tajam penuh penghakiman, beberapa yang nekat biasanya nyamperin dengan komentar pedas seperti ini:

Jangan makan ini, gak bagus banyak micin, nanti anaknya bego”

Jangan minum ini, banyak gula, nanti bayinya besar. Kalau bayinya besar, kamu susah ngeluarinnya”

Jangan makan junkfood, gak sehat”

Jangan makan yang pedes-pedes, nanti bayinya kepedesan dan kepanasan di dalam perut”

Beberapa saran ini mungkin ada benarnya, tapi janganlah membunuh kebahagiaan Ibu hamil yang mau makan (dan juga kebahagiaan pasangannya yang lihat makanan masuk ke dalam mulut para ibu hamil itu). Biarkan keluarganya dan sang calon Ibu bahagia karena bisa makan tanpa perlu dikeluarkan lagi. Lebih-lebih kalau gak kenal sama si Ibu hamil dan asal ngasih saran di depan umum.

Rencana Melahirkan

“Jadi nanti rencananya mau melahirkan normal atau Caesar? Jangan melahirkan Caesar deh, rasanya gak jadi Ibu beneran” #IbuPalsu

Nah Ibu-ibu yang diputuskan dokter harus melakukan operasi caesar karena alasan kesehatan biasanya pusing luar biasa, karena rencana melahirkan ini dianggap tak normal. Lalu mendadak mereka semua lebih pandai dari dokter dan menyarankan untuk pindah dokter saja supaya tak perlu operasi caesar. Ya ampun…

Sementara, yang mau melahirkan normal juga ada saja yang menyarankan untuk caesar, karena melahirkan normal bisa membuat anak bayi trauma. Nah, kalau ingin melahirkan di air, atau gentle birth, ampun, siap-siap ribut panjang deh.

Soal menyusui

Saya mendengar banyak sekali tekanan yang dialami oleh para Ibu ketika baru melahirkan dan proses menyusui, apalagi kalau ASI sedikit. Tapi sebenarnya tekanan ini sudah dimulai sejak kehamilan. Ini gak cuma di Indonesia lho, di luar negeri juga sama, walaupun di Indonesia mungkin tekanannya lebih keras! Para Ibu-ibu penggerak ASI tentunya menyemangati untuk memberikan asi. Lalu calon Ibu yang memutuskan akan memberi susu botol, habis deh kena ceramah panjang yang lagi-lagi tak pernah diminta.

Sebaliknya ibu-ibu yang niat memberikan ASI juga kadang-kadang dicela, karena tak sedikit orang yang menganggap memberikan ASI itu ewww. Btw, bicara soal tips, saya membaca di satu forum ada ibu-ibu yang diberi tips untuk mengeraskan puting dengan cara menyikat. Yang tak menyenangkan, saran ini diberikan oleh orang tak dikenal. Aduh…duh…

Penutup

Masih banyak lagi tips-tips dan mitos ajaib yang diberikan tanpa diminta kepada para ibu hamil. Dari mulai larangan menitipkan anak di penitipan anak (karena mudah sakit) atau sebaliknya harus menitipkan di sana, supaya lebih kuat dalam berhadapan dengan penyakit). Maksud memberi saran ini mungkin baik, berbagi pengalaman hidup. Tapi kasihan kan para calon ibu ini, apalagi kalau sebelum hamil sudah dihujani dengan pertanyaan kapan hamil, kok gak hamil-hamil, buruan keburu expired.

Kamu, pernah dapat tips atau saran tanpa diminta yang mungkin aneh?

xx,
Tjetje

Syarat Administrasi Mengawini WNA

Warning: Postingan ngomel.

Salah seorang Bapak teman saya, orang Irlandia, mengawini perempuan berusia muda dari negeri Bambu. Singkat cerita, setelah kawin, si Bapak pulang ke Irlandia dan pusing tujuh keliling melihat persyaratan administrasi untuk memboyong istrinya ke Irlandia. Tak mau ribet, si Bapak memutuskan menceraikan perempuan tersebut, lalu mengawini perempuan lain lagi di Thailand. Dan sang Bapak pun memutuskan pindah ke Thailand sembari menikmati pensiunnya dan hidup bak raja di sana.

Saya sering menerima surat elektronik dari mereka yang memiliki hubungan percintaan dengan WNA, menanyakan aneka rupa pertanyaan tentang hubungan mereka. Dari pertanyaan mesti ngapain, hingga detail prosedur untuk administrasi. Soal administrasi negara lain, saya tak tahu dan terus terang tak mau repot untuk mencari tahu. Ya kali enak banget nyuruh-nyuruh orang lain nyariin. Coba riset sendiri napa? Mental ndoro ini juga saya perhatiin sering banget di forum-forum perkawinan campur, parahnya ya pertanyaan ini sering banget diajukan berulang kali oleh orang yang berbeda. Mereka gak mau ribet nyari dulu. Padahal tinggal cari di kolom search.  Contoh paling gampang aja:

"Sis, rencananya saya akan kawin dengan bule [nama negara],  syarat-syaratnya apa saja ya?"

Saya sendiri membatasi membalas pertanyaan ini hanya khusus WNI yang akan kawin dengan WN Irlandia. Di sini, peraturan untuk pasangan orang Irlandia jauh berbeda dengan untuk orang pasangan orang Uni-Eropa yang tinggal di Irlandia (misalnya: istri orang Inggris, Perancis, German). Pasangan WN EU disini bisa langsung mendapatkan visa dengan lebih mudah ketimbang mereka yang mengawini WN Irlandia. Buntut-buntutnya saya kesel sendiri, karena menjelaskan urusan visa yang panjang, sementara pasangannya ternyata dari Irlandia Utara. Eh tolong apa ya, be specific.

Dari berbagai pertanyaan yang dikirimkan ke surat elekronik saya, saya melihat satu benang merah, bahwa orang-orang yang dimabuk cinta ini seringkali tak mencari tahu soal administrasi di negara tersebut hingga saat-saat terakhir ketika sudah akan kawin. Jatuh cinta memang indah, tapi seindah-indahnya cinta, ada hal yang harus dipikirkan juga, termasuk administrasi yang memperbolehkan tinggal bersama. Namanya jatuh cinta dan jodoh memang tak bisa direncanakan, tapi bukan rahasia lagi banyak orang yang memang secara spesifik memiliki target mengawini orang-orang dari negara tertentu, ingin pasangan spesifik dari Australia biar dekat dengan kampung halaman, dari Inggris karena aksennya seksi, atau dari Amerika supaya bisa menggapai mimpi. Pilihan masing-masing, selera masing-masing. Tapi ya tetep, ambisi untuk mengawini bule ini harus ditemani dengan logika, biar tidak kaget ketika akan kawin.

Bukan hal yang aneh ketika orang baru baru mikir untuk pindahan ke negara pasangan setelah proses perkawinan. Persis seperti bapak teman saya di atas. Lalu timbul masalah, tak bisa mendapatkan visa untuk tinggal bersama pasangan karena terbentur urusan administrasi dan keuangan.

Contoh sederhana saja, mengawini WN Australia itu ternyata MAHAL, biaya visanya saja 6,865. Jika ditolak, uang tak akan kembali. Ongkos visa ini cenderung akan semakin tinggi setiap tahunnya karena banyaknya perkawinan bohongan yang digunaan untuk mengambil kewarganegaraan.

Begitu juga dengan mengawini mereka yang berasal dari UK, syaratnya tak mudah dan biayanya tak kalah tinggi. Cuma Meghan Markle saja yang bisa mengawini orang Inggris tanpa perlu pusing untuk urusan visa. Bahkan, mereka yang menjadi pelajar di UK, kemudian jatuh cinta dengan teman sekelasnya tak bisa langsung kawin dan mendapatkan ijin tinggal. Prosesnya ribet, apalagi kalau penghasilan pas-pasan. Banyak pasangan yang kemudian tinggal di Irlandia karena kemudahan visa di sini sembari mengambil Surinder Singh route.

Salah pertanyaan, bukan enaknya tapi gimana prosesnya.

Tulisan ini tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang syarat perkawinan dan memang tak saya tujukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tapi bagi kalian yang sedang berhubungan dengan pria asing dan usia hubungan masih muda, coba cari tahu sebanyak-banyaknya apakah memungkinkan cinta kalian disatukan di negara tersebut. Jika tak memungkinkan, cari tahu alternatifnya.  Dan jangan males, apalagi ngandelin mental ndoro yang maunya beres dan ditunjukin jalan sama orang lain itu gak bisa dibawa ke sini. Kalau kemudian gak bisa disatukan karena kepentok urusan administrasi, ya dibicarakan berdua. Jangan kirim email ke saya minta solusi ya. Saya bukan tukang sulap yang bisa menawarkan solusi. Or worse, ngelempar pertanyaan ke forum dan dapat jawaban nggak nyambung dari pengalaman berbagai negara. Makin pusing deh!

Selamat berakhir pekan, semoga kita semua dijauhkan dari kemalasan mencari tahu.

xx,
Tjetje