Disangka TKI di Soekarno Hatta

Selalu ada cerita tentang TKI jika pergi atau pulang melewati negara-negara Timur Tengah. Tahun ini tak banyak TKI yang ikut dalam penerbangan dari Dubai ke Jakarta, lebih banyak rombongan Umroh yang pulang kembali ke Tanah Air. Alhasil tak banyak cerita menarik tentang TKI, tapi tetap ada cerita menarik.

Tahun ini saya menghadapi toilet jorok, joroknya luar biasa. Saya mengelilingi 5 toilet di pesawat Emirates dan menemukan kelima toilet dalam kondisi jorok dengan tissue berceceran dimana-mana dan air yang menggenang di lantai. Sebagian toilet berbau pesing yang menyengat. Yikes! Nggak tahan dengan pemandangan ini, saya pun meminta kru penerbangan untuk membersihkan. Salah satu kru berkata bahwa becek ini terjadi because they are washing themselves (baca: wudhu). Saya pun bertanya balik pada si kru, apakah dia yakin kalau ini gara-gara wudhu, karena bau toilet ini begitu pesing, jangan-jangan pada kencing di lantai. Si kru pun terdiam, kaget. Udah bukan rahasia kali kalau beberapa orang Indonesia hanya bisa buang air kecil (bahkan air besar) di lantai.

Komunikasi saya dengan seorang TKW terjadi ketika kartu deklarasi custom dibagikan (kenapa juga deklarasi ini nggak dalam bahasa Indonesia dan Inggris). Ibu Tina yang duduk di kursi seberang saya meminta tolong mengisikan sambil memberikan passpornya yang hanya 24 halaman. Ketika selesai mengisikan form, Ibu ini kemudian memberikan sekotak kurma serta permen karet buat saya. Saya berulang kali menolak, apalagi kurma ini akan sangat berharga untuk keluarganya di Subang, tapi Ibu Tina memaksa, untuk oleh-oleh katanya.

Komunikasi lainnya terjadi ketika saya sedang melepaskan thermal underwear di dalam toilet pesawat. Bow..lepas underwear itu kan mesti lepas tali sepatu, lepas sepatu, lepas kaos kaki, celana dan baju, dan terus masang lagi satu-satu. Rupanya di luar ada mbak-mbak yang kebelet ke toilet tapi gak mau nyari toilet lain. Yang ada pintu saya digedor-gedorin berulang kali macam ada emergency. Keluar dari toilet saya semprot lah mbak ini, lha kalau yang di dalam lagi buang hajat kan bisa buyar konsentrasinya?

Sebelum pesawat turun saya sudah mengalami syndrome geleng-geleng kepala karena melihat kelakukan penumpang yang aneh-aneh. Setelah pilot mengumukan bahwa pesawat akan segera mendarat, para jamaah Umroh yang membawa kardus besar-besar dibungkus plastik itu mendadak menurunkan semua bawaannya. Lucunya, ada dua orang penumpang berwajah timur tengah yang ikut panik dan menurunkan koper-kopernya ke kursi penumpang (pesawat hari itu cukup kosong). Alhasil para pramugari pun bersitegang dengan mereka dan mengancam gak akan landing kalau tas nggak dinaikkan ke atas. Kardus berbungkus plastik milih jamaah juga bernasib sama, harus naik ke atas. Hiburan!

Cerita yang paling epic menurut saya adalah ketika saya mendorong troli busuk menuju pemeriksaan bea cukai melewati counter BNP2TKI yang bertuliskan “Pendataan TKI tanpa dipungut biaya”. Tiba-tiba, seorang perempuan bernama Maya Juwaini berhenti di depan troli saya, menghadang langkah saya. Dengan muka straight tanpa ada keramahaan sedikit pun si mbak bertanya dengan tone yang tak sopan: “Sudah ada yang jemput?”

Saya yang sudah lelah karena lebih dari 24 jam perjalanan langsung nyolot, apalagi saya nggak suka dengan pertanyaan-pertanyaan private semacam ini dari orang asing. Dengan nada tinggi mata melotot: “Disangka TKI ya?” Si mbak bukannya minta maaf eh malah nanya balik: “Oh bukan ya?” Saya pun memberikan lirikan jijik dari ujung mata melihat si mbak dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Jijik karena kelakukan dan gaya si mbak ini yang arogan, ditambah lagi cara dia menghentikan saya dengan menghadang itu nggak sopan. Maya ini punya pilihan untuk bertanya dengan lebih baik dan tapi memilih untuk tidak sopan dengan nada yang bikin orang emosi. Apa karena targetnya TKI kemudian dia merasa bisa berlagak arogan terhadap orang lain?

Waktu saya tiba di Irlandia, saya sempat kebagian pengecekan acak pihak bea cukai. Kalau orang bea cukai Indonesia suka galak-galak apalagi lihat tampang kucel tanpa make up, tanpa high heels dan rambut cantik melambai-lambai, di Irlandia petugas bea cukainya RAMAH buanget. Nanyanya baik-baik dan saya timpali dengan komentar-komentar ajaib. Beliau nanya susu, saja jawab lactose intoleran, nanya daging saya jawab udah gak makan sapi dari umur 17. Terus diajak masukin tas ke X-ray. Semuanya dengan ramah, gak galak dan mengintimidasi macam orang-orang di Bandara Soetta.

TKI

Foto dari Antarafoto

Saya menyayangkan BNP2TKI yang buang-buang uang pajak karena bikin counter manual dan membayar orang untuk menghadang TKI. Kalau emang mau mencatat jumlah TKI yang pulang dan berniat gak buang-buang uang para pembayar pajak, BNP2TKI kan bisa kerjasama dengan Imigrasi. Passport para TKI ini kan sengaja dibedakan didiskiriminasi oleh negara, jadi kelihatan, kalau 24 halaman pasti TKI, dari situ aja dihitung kan gampang. Kalau urusan penjemputan dan menyelamatkan TKI dari taksi gelap, kenapa gak taksi gelap yang dilarang di Soetta? Anyway, waktu saya melenggang melewati mbak penghadang TKI ini saya melihat empat orang TKI duduk dengan muka tak berdaya di dekat counter. Duh, sedih lihatnya karena mereka kemungkinan akan dipalak seperti cerita disini dan disini karena tak ada yang menjemput mereka. Mengerikan!

Kenapa saya disangka TKI? Mungkin tampang dan penampilan saya yang kucel dianggap sama dengan TKI, tapi apa TKI itu harus kucel? Nggak kurang TKI yang tampangnya cantik. Saya nggak keberatan disangka TKI, toh bukan disangka koruptor, tapi diperlakukan nggak sopannya itu yang bikin saya marah. Saya dan TKI kan sama, sama-sama WNI, sama-sama berhak diperlakukan dengan baik dan sopan. Next time kalau saya dihadang lagi, seorang teman menyarankan mengeluarkan identitas kantor saya saja. Tapi kayaknya kalau dihadang lagi akan saya tanggapi tanpa nyolot, pengen tahu kira-kira TKI ini akan digiring dan dibawa kemana, kemudian disuruh bayar apa aja.

Kalau kalian disangka TKI mau jawab apa?

Oleh-oleh dari Irlandia

Ketika tahu saya akan ke Irlandia ada beberapa orang yang secara reflek minta oleh-oleh dan menyebutkan mau oleh-oleh apa. Boro-boro nanya berapa lama, mau ngapain aja, terbangnya kapan, atau basa-basi lain yang menyangkut perjalanan, orang-orang gini biasanya langsung tembak nyebut oleh-oleh yang dimau, nggak peduli dekat atau tidak dengan orang yang diajak bicara. Langsung sebut yang dimau, udah macam penjahat aja minta-minta, tanpa nanya, punya duit gak buat beli oleh-oleh?

 Oleh-oleh yang paling sering diminta kalau lagi jalan ke Eropa adalah coklat. Orang-orang ini suka minta coklat kayak di Indonesia nggak ada coklat aja, padahal di di Jakarta coklat import itu ‘kececeran’. Mau minta apa, harga berapa juga ada. Walaupun tak dipungkiri, ada juga merek-merek yang nggak ada di Irlandia. Saya jadi bertanya-tanya, apakah orang-orang ini hanya makan coklat oleh-oleh dan nggak pernah mau modal sendiri, beli coklat demi memanjakan lidah?

Anyway, saya kehilangan teman, karena dia (saya duga) tersinggung gara-gara oleh-oleh coklat yang saya bawa.  Ketika itu saya ‘hanya’ membeli coklat seharga 25 Euro (jaman itu ini coklat berharga 300 ribu rupiah saja!) saja untuk dia. Ketika saya mengajak janjian untuk menyampaikan oleh-oleh coklat itu reaksi yang saya dapat sungguh di luar perkiraan, “udah cuma itu aja, nggak ada oleh-oleh lain?”. Saya mah mikirnya praktis, kalau gak berkenan sama oleh-oleh saya yang ‘murahan’ ya mending saya kasih orang lain, toh masih banyak yang mau.

Selain coklat, alcohol adalah oleh-oleh yang sering diminta. Minta ya, bukan nitip! Batas membawa alcohol di Indonesia itu adalah 1 liter, sementara kebanyakan botol alcohol itu 1 literan (ada sih yang botol mini) dan semurah-murahnya alcohol di negeri orang tetep aja jatuhnya mahal dan berat! Saya sendiri kalau nggak berminat membawa alcohol biasanya akan menawarkan jatah 1 liter ini ke teman dekat, sayang kalau jatahnya gak dipakai.

Nggak bawa oleh-oleh bagi sebagian orang itu dianggap pendosa dan pendosa itu layak dibicarakan. Karena hukum tak bawa oleh-oleh itu dosa banyak orang Indonesia takut nggak bawa oleh-oleh. Takut dianggap pelit dan tentunya takut dibicarakan. Padahal saya jamin, oleh-olehnya mau jelek mau bagus pasti dibicarakan. Hasilnya, banyak orang-orang dengan dana cekak maksa beli oleh-oleh yang sesuai kantong, just for the sake of giving oleh-oleh. Oleh-oleh seperti ini biasanya akan berakhir di tempat sampah karena kurang berguna, atau bahkan tak berguna sama sekali.

snowglobe

Saya sendiri juga suka minta oleh-oleh ke orang-orang (dan nitip), tapi kebiasaan ini berhenti ketika saya semakin sering travelling bayar sendiri dan merasakan betapa beratnya oleh-oleh buat kantong dan punggung. Apalagi kalau travelling saat rupiah lagi melemah seperti ini. Bow, 1 Euro itu hampir 17 ribu, sementara harga magnet disini paling murah 5 Euroan, gantungan kunci bisa 10 Euro. Oleh-oleh bagi saya hanya akan diberikan kepada yang terdekat dan kalau nemu, kalau nggak nemu ya buat apa maksa.

Mengapa budaya ini mengakar di masyarakat? Tentu saja ini karena kebiasaan yang dibiarkan tumbuh subur, dipupuk dan dijaga kelestariannya. Mungkin juga budaya ini timbul karena ada anggapan bahwa mereka yang bepergian adalah orang-orang yang memiliki uang lebih (baca: kaya) dan yang nggak pergi adalah orang yang kurang beruntung. Hukum alam mengatur, yang kurang beruntung berhak mengemis meminta kepada yang kaya.

Uang untuk jalan-jalan itu dikumpulkan beberapa bulan dengan segala penderitaannya, dari mulai makan yang diirit-irit, nggak pergi bersenang-senang, pendeknya menderita dahulu demi melihat sisi dunia yang lain.  Jadi, berhenti tersinggung kalau nggak dikasih oleh-oleh, toh hidup juga gak akan berakhir. Dan yang paling penting, berhenti minta oleh-oleh sama orang lain. Nggak usah bilang “jangan lupa oleh-olehnya ya”, tapi bilang aja selamat jalan-jalan dan have fun.

Tulisan dengan tema serupa dalam bahasa Inggris pernah ditulis disini.

Jadi suka bawa oleh-oleh atau memilih untuk cuek dan nggak bawa oleh-oleh?

Kilmainham Gaol: Saksi Bisu Sejarah Kelam Irlandia

Atas rekomendasi abang ipar, saya mengunjungi Kilmanhaim Goal; penjara tua yang menyimpan banyak cerita, dari cerita cinta hingga cerita tentang perjuangan. Tiket masuk di penjara ini dibandrol 6 Euro per orang, termasuk pemandu berbahasa inggris (gak ada bahasa lain). Tour mengelingi penjara ini harus ditemani pemandu yang akan menjelaskan sejarah penjara ini. Karena ada penjelasan sejarah panjang, HP harus dimatikan dan selama tour gak boleh ngecek HP. Love it! Di websitenya ditulis dalam satu tour jumlah orangnya dibatasi, tapi kemarin saya mengelingi penjara ini selama satu jam, dengan 40 orang lainnya.

Penjara yang dibangun tahun 1796 ini ditujukan untuk menampung criminal dan didesain sedemikian rupa agar dingin. Bahkan di beberapa area jendelanya tak memiliki jendela kaca. Sengaja dibuat dingin, karena dipercaya dingin mencegah penyebaran penyakit. Bayangin aja dinginnya Dublin itu keparat, karena hujan dan angin; yang ada lembab! Tiap-tiap tahanan diberikan satu sel sendiri dengan tempat tidur (flat bed) dan sebuah ember. Nggak ada toilet jadi urusan buang hajat harus dilaksanakan di ember itu. Idealnya emang satu orang satu sel, tapi waktu great famine, banyak orang yang memilih untuk masuk penjara aja karena di penjara dikasih makan (walaupun makanannya ditimbang). Alhasil, satu sel bisa diisi banyak orang dan lorong penjara pun dipenuhi tahanan.

Sedikit info tentang great famine, saat itu petani di Irlandia adalah petani yang menyewa lahan. Alhasil ketika gagal panen kentang, para petani yang merugi akibat gagal panen harus tetap bayar sewa lahan. Makin bangkrut dan miskin. Sementara mengemis saat itu dilarang oleh Pemerintah Inggris (yang menjajah Irlandia). Akibat kelaparan ini, Irlandia kehilangan hampir 2 juta penduduknya, sebagian mati kelaparan dan sebagian lainnya bermigrasi ke Amerika (dan banyak yang mati dalam perjalanan ke Amerika). Toni Blair sendiri telah minta maaf kepada masyarakat Irlandia pada tahun 1997 karena Pemerintah Inggris di masa lalu yang tidak melakukan apa-apa.kilmanhaim

Selain sel yang kayak jelek dan dingin, di penjara itu juga terdapat penjara mewah yang dilengkapi dengan jendela, lampu cantik, dan juga perapian dan spy hole. Sel cantik dan luas ini bukan buat pejabat kayak di Indonesia, tapi dikhususkan bagi mereka yang akan dieksekusi dengan hukuman gantung. Fungsi spy hotel di ruangan ini biar si tukang gantung bisa melihat “korbannya” dan mengukur kira-kira berapa panjang tali yang dibutuhkan. Salah satu yang menempati penjara ini adalah Robert Emmet yang dihukum hanged, drawn and quartered (silahkan digoogle betapa kejamnya hukuman ini!). Emmet digantung di depan St. Catherine church (konon belum mati), terus digorok tapi pisaunya kurang tajam. Jenasahnya dibawa kembali ke penjara ini, tapi kemudian hilang. Sampai sekarang tak ada yang tahu dimana Emmet dikuburkan.

 Orang-orang penting yang dipenjara di tempat ini adalah United Irishmen yang terlibat dalam 1916 Easter Rising, salah satunya, James Connolly. Dia sebenernya sudah hampir mati karena infeksi dari luka, tapi tetep aja dieksekusi, padahal dokter bilang 2 hari lagi juga mati. Conolly dibawa dari RS ke penjara ini, ditutup matanya untuk ditembak 12 pasukan, 6 orang pasukan yang duduk dan 6 orang lainnya pasukan yang berdiri. Tembakan pertama gagal karena Conolly jatuh merosot. Akhirnya, dia didudukkan di kursi, ditali lalu ditembak mati.

Kisah cinta di penjara

Chapel

Chapel penjara tempat mereka mengikat janji

Joseph Plunkett yang juga terlibat 1916 Easter Rising juga dihukum dihukum mati. Tapi sebelum ditembak mati, dia sempat kawin dengan pujaan hatinya, Grace Gifford. Perkawinan ini dilaksanakan di chapel penjara dengan kawalan 20 tentara Inggris dan temaram sebuah lilin, karena penjaranya mati lampu. Setelah menikah, Joseph pun ditembak mati dan Grace Gifford tak pernah kawin lagi. Tragis ya bow! Surat lamaran dan cincin perkawinan mereka dipajang di museum penjara ini, romantis dan menyayat hati. Btw, Grace Grifford sendiri kembali ke dalam penjara ini 1923 karena keterlibatannya dalam anti-treaty IRA. Selnya sangat terkenal karena temboknya dilukisi Madonna.

Restorasi Penjara

Kalau penjara Wanita yang terletak di alun-alun kota Malang dirubah menjadi Ramayana, di Irlandia penjara ini direstorasi oleh volunteer. Volunteernya sendiri termasuk para bekas tahanan dan para bekas penjaga. Dananya diambil dengan cara meminta ke masyarakat. Tak hanya meminta masyarakat tapi juga didapat dari pembuatan berbagai film serta pembuatan video clip Bono. Penjara ini sendiri kemudian diambil alih oleh negara dan diresmikan oleh Eamon de Valera, yang saat itu merupakan Presiden Irlandia. Beliau sendiri pernah dua kali di penjara dan hampir dihukum mati, tapi selamat karena pada saat itu dia merupakan WN Amerika (Ibunya Irish dan Bapaknya Imigran Spanyol di US).

restoration

kotak sumbangan untuk restorasi penjara

Tur ini sendiri, kendati mengenai cerita sedih, air mata, darah dan kekejaman, merupakan tur terbaik di Irlandia & sangat saya rekomendasikan jika berkesempatan ke Dublin. Btw, jangan tanya apakah kata maaf atas segala kekejaman itu pernah diucapkan, karena sang Ratu hanya pernah mengucapkan simpati dan penyesalan. Anyway, ada satu pertanyaan yang ditanyakan ke semua pengunjung yang mengunjungi museum ini yaitu tentang pro atau anti hukuman mati.

Jadi, kamu pro hukuman mati atau anti hukuman mati? Kenapa?

Melihat Koleksi Al-Qur’an di Chester Beatty Library

Terletak di belakang Dublin Castle, museum ini dinobatkan sebagai salah satu museum terbaik di Eropa. Tak heran jika Chester Beatty yang dinamakan dari nama sang kolektor penyimpan benda-benda di museum ini dinobatkan menjadi yang terbaik. Berikut cerita saya menyusuri satu-persatu koleksi museum yang digratiskan ini.

Membawa tas masuk ke dalam museum tak diperkenankan, sehingga kami harus menitipkan tas ke dalam loker. Awalnya, saya dan pasangan berkutat selama beberapa menit untuk mengunci loker ini, yang ternyata baru bisa dikunci jika kami meninggalkan deposit 1 Euro. Kenorakan kami ini sebaiknya tidak ditiru jika kalian berkesempatan menengok museum ini.

Koleksi di dalam museum ini merupakan hasil perburuan Sir Alfred Chester Beatty, pengusaha tambang yang juga warga negara kehormatan Irlandia yang pertama. Bapak kaya raya ini punya hobi unik mengumpulkan aneka rupa barang-barang bersejarah dari aneka sudut dunia. Nggak main-main, beliau juga mempekerjakan Kurator dari Museum di Perancis dan Inggris untuk membantu memilih “belanjaannya”.

Koleksinya beraneka rupa, tapi bagi saya highlight dari museum ini adalah koleksi aneka rupa Qur’an kuno dari berbagai wilayah. Konon koleksi Qur’an di Museum ini adalah yang terbanyak di luar Timur Tengah. Bahkan, ada juga Qur’an bergambar warna-warni, sangatlah cantik. Pewarnaan dari Qur’an ini juga menggunakan aneka macam batu berharga, seperti batu malachite untuk warna warna hijau), emas, perak dan batu-batu berharga lainnya. Rupanya, memberikan gambar pada Qur’an merupakan hal-hal yang dianggap tabu bagi agama Islam. Selain mengkoleksi Qur’an, ada aneka rupa koleksi dari berbagai agama lain, termasuk Sikh, Hindu, Budha dan juga Jainism. Ada juga aneka rupa koleksi bible. Saya bahkan menemukan sebuah lonceng/ genta dari Dalai Lama yang diberikan kepada Chester Beatty.

Jejak Indonesia sendiri bisa ditemukan pada sebuah sudut khusus yang memajang aneka rupa manuscript dari Batak. Selain itu, ada juga sebuah lukisan barathayuda dari Jawa yang konon dari tahun 1930an. Perasaan saya senang dan bercampur aduk ketika melihat jejak nusantara ini, di satu sisi karena barang-barang tersebut sangat terjaga, tetapi di sisi lain gemas karena barang tersebut berakhir di negara lain.

Banyak koleksi-koleksi lain yang menarik di museum ini, termasuk aneka rupa snuff bottle, botol kecil untuk menyimpan tembakau. Pada jamannya dulu, merokok rupanya tidak diperkenankan, sehingga orang-orang China menyimpan bubuk tembakau untuk dihirup. Botol-botol mungkin ini diukir dengan indahnya dan ukurannya sangatlah mungil.

snuff bottles

Photo: cbl.ie

Pada saat saya mengunjungi museum ini, ada pameran Costumes Parisien, pameran fashion plates dari tahun 1912-1914. Rupanya jaman dulu tante-tante Paris itu kalau ganti baju tiga sampai empat kali dan bajunya cakep-cakep. Tak hanya pakaian, tapi juga dipamerkan kipas raksasa berbahan bulu (yang saya lupa nama hewannya), saking gedenya kipas ini nampaknya harus dibawakan oleh orang lain. Konon istrinya Beatty ini juga suka belanja baju, kalau disamakan dengan dollar hari ini, si istri biasanya menghabiskan 21,000 dollar untuk belanja baju aja. Halah Tante, kalau jaman sekarang mah uang segitu cuma cukup buat beli sebiji tas di Hermes. Menariknya, pameran-pameran di Museum ini berganti tema setiap saat, karena banyaknya barang yang dikoleksi oleh Chester Beatty.

Museum gratisan ini tak main-main dalam menyediakan fasilitas. Pintu-pintu otomatis bahkan dilengkapi dengan tombol khusus bagi penyandang disabilitas yang duduk di kursi roda. Saya juga menemukan sudut dimana keluarga bisa duduk dan menggambar. Saya bahkan menemukan sepasang orang dewasa yang sibuk menggambar dan mewarnai di kartu sebesar kartu pos. Di lantai bawah museum ini juga disediakan coffee shop serta toko suvenir yang menjual pernak-pernik yang terinspirasi dari koleksi Cheaster Beatty.

Di bagian atas museum ini terdapat roof top garden, yang sayangnya pada hari itu tak dibuka karena alasan keselamatan. Beberapa hari ini di Irlandia memang hujan rintik-rintik tapi awet diwarnai dengan angin kencang (yang suaranya bikin gak bisa tidur). Dan saya pun semakin takjub lagi karena alasan keamanan supaya orang tak terpleset pintu pun ditutup.

Museum ini jadi mengingatkan saya pada Museum di Tengah Kebun di Kemang. Museum tersebut merupakan kediaman pribadi seorang Bapak yang doyan koleksi benda-benda antik. Salah satu koleksinya yang melekat di kepala saya adalah patung Budha Bule, dan juga kursinya Henry VIII yang sangat kecil.

Di akhir kunjungan, saya pun hanya bisa terpukau karena hobi belanja Chester Beatty, yang sangat berguna bagi generasi selanjutnya. Silahkan tengok disini untuk melihat informasi lebih lanjut tentang museum ini.

Xx,
Ailtje

Drama Merayu Polisi Indonesia

Salam dari Irlandia!

Setelah melalui berbagai rupa drama, akhirnya saya nyampai juga di kampung mas G, di Dublin. Kemarin, waktu pamitan sama teman-teman kantor kalau saya mau pergi, ada yang berkata: “Nggak pakai hilang lagi dan nggak pakai drama ya. Drama Queen!”. Niatnya sih nggak ada drama dalam perjalanan ini dan syukurnya juga gak ada drama TKI yang bikin sedih. Tapi niat tinggal niat, perjalanan ini tetep diwarnai drama.

Alkisah taksi pesanan saya belum juga tiba hingga puku 08.20 PM. Pengemudi mengaku masih di daerah Semanggi dan 10 menit lagi akan tiba, tapi GPS tak bohong, si mobil nggak bergerak juga, pasti kena macet. Jadinya saya melambai dan langsung dapat taksi kurang dari dua menit. Anyway, saya pikir cuma Indonesia aja yang canggih, pakai applikasi buat pesen taksi. Di Irlandia ternyata lebih canggih . Pesen taksi dengan nyalain GPS, nanti orangnya cari lokasi kita berdasar GPS itu.

Kemacetan Jakarta sebelum Imlek kemaren agak menjijikkan. Butuh 30 menit untuk keluar dari dari kost saya untuk keluar ke jalan besar Gatot Subroto. Padahal kalau jalan kaki cuma lima menit saja. Pengemudi taksi, Pak Tujoko, ini nggak sabaran banget. Pas di depan balai kartini, taksi sudah berada di lanjur nomer dua untuk putar balik, tiba-tiba supir taksi ambil lajur nomor tiga. Saya pun teriak dan langsung ngomel. Dan ternyata benar, dari lajur tiga gak bisa pindah ke lajur dua, karena ditutup oleh cone orange. Cone orange ini menutupi garis putih lurus, alias gak boleh nyalip. Jadilah kami berada jembatan menuju arah Cawang. Rasanya udah mau nangis dan pengen cekek ini supir Blue Bird karena nggak sabar.

Saya akhirnya memutuskan untuk merayu dua orang polisi, Pak Herman dan Pak R. Anton supaya mau bukain. Yang satu, Pak Herman, galak banget gak mau bukain dan ngomelin si supir.  Tapi saya kekeuh minta dibukain karena waktunya udah mepet banget. Jangan dicontohlah ini, karena ini contoh melanggar aturan. Si Pak Herman bilang, penumpangnya turun aja naik taksi lain lagi. Kalau cuma bawa body mungkin opsi ini saya lakukan, lha tapi saya bawa dua koper, yang satu 27 kilo, yang satu lagi 7 kilo. Gimana ngangkatnya kan nggak ada porter? Akhirnya, dengan muka mengiba-ngiba hampir nangis, saya rayu habis-habisan itu polisi. Minta-minta tolong, karena sudah telat. Rayuan maut saya berhasil, Pak R. Anton membukakan cone orange (melanggar aturan sih) dan kami pun lolos; walaupun pengemudi diomelin habis-habisan oleh pak Polisi. Sudah dalam kondisi begitu, si Pengemudi mau ngasih pak Polisi ceban? Aduh, sudah nyuruh polisi ngelanggar aturan kok mau nyogok pula!! Herannya ini pengemudi juga gak minta maaf sama saya karena melanggar aturan.

polwantime

Saya sampai bandara tepat waktu, pas masuk ruang tunggu langsung boarding. Huah…syukurlah. Btw, ini bukan pengalaman pertama saya deg-degan ke bandara, saya sudah sering melakukan hal serupa dan herannya gak juga belajar. Dulu pas di Aceh saya pernah jadi penumpang terakhir yang masuk pesawat, ditunggu satu pesawat, dan saya duduk di belakang. Telatnya gara-gara saya asik makan ayam tangkap dan asam udang. Hmmm…..

Pelajaran berharganya:

  • Polisi di Indonesia ternyata belum disiplin dalam menegakkan aturan. Dikasih wajah memelas mau nangis aja saya diloloskan melanggar aturan. Saya cuma modal muka mau nangis aja doi sudah mau melanggarkan aturan, kalau modal uang segepok bagaimana?
  • Dari dulu Jakarta itu selalu macet, jadi kalau mau jalan ke bandara itu sebaiknya beberapa jam sebelumnya. Mending bengong di bandara daripada bengong di dalam taksi tapi mules.

Siapa yang pernah terjebak macet Jakarta dan ketinggalan pesawat?

Pelaporan Perkawinan Beda Agama di Hong Kong

Melanjutkan postingan sebelumnya tentang cara mendaftar perkawinan beda agama, tahapan yang harus diambil setelah mendaftar adalah menantikan surat cinta dari HK. Setelah dapat surat cinta atau surat panggilan, maka wajib  hukumnya bagi kedua belah pihak mempelai untuk menghadap.

Panggilan melapor kawin

Pasangan harus melapor ke kantor yang tersebut di atas. Gimana caranya ke kantor itu karena itu gedung susah ditemukan? Silahkan naik MRT turun di Admiralty, terus cari gedung High Court. Habis itu cari pintu yang untuk pendaftaran kelahiran, kematian dan perkawinan. Lokasinya deket pintu koneksi ke Pacific Place Mall. Begini wujudnya:

20131118_150322

Loket khusus pelaporan perkawinan ada di sudut paling ujung dan gak pakai antri-antrian. Langsung aja duduk depat loket, nanti pasti diminta surat panggilan & mereka suruh kita balik ke ruang tunggu.

20131118_143319

Setelah itu, pasangan akan dipanggil, di cek kesesuaian datanya dengan passport dan pihak laki, cuma pihak laki doang (sexist) diminta untuk bersumpah. Isi sumpahnya begini:

20131118_145715

Setelah baca sumpah dan tanda tangan sana sini, baru diberi secarik kertas untuk perkawinan di Cotton Tree.. Udah gitu doang. Perlu dicatat, petugas pasti nanya soal nama keluarga, kenapa nama keluarga kita beda-beda. Jelasin aja kalau di Indonesia family name doesn’t exist (kecuali di suku-suku tertentu). Dokumen dari orang tua, macam passport dll tidak diperlukan. 

Tiga hari kemudian silahkan datang ke Cotton Tree Drive Marriage Registry pada jam yang ditentukan, kalau bisa 30 menit sebelum jam yang ditentukan. Petugas di cotton tree nanti akan teriak-teriak lewat speaker manggil pasangan yang dimaksud pada jam yang ditentukan. Kalau jam 15.45  ya jam 15.45 dipanggil. Setelah itu passport pasangan akan diminta, beserta ID card para saksi (bisa pakai ID card Hong Kong, bisa juga pakai passport) dan tentunya uang pembayaran 715 HKD, kalau kawinnya di hari libur biayanya hampir 2000 HKD. Setelah Lima menit menunggu, pasangan akan dibawa masuk ke dalam ruangan.

Di dalam ruangan tersebut terdapat sebuah meja dengan beberapa kursi. Saksi dan mempelai akan diarahkan untuk duduk di kursinya masing-masing. Pengantin duduk berdampingan, lalu saksi duduk di seberang pengantin. Si mbak yang mimpin upacara duduk di sisi lain meja, menghadap ke para tamu. Kapasitas ruangan juga ada macam-macam; tergantung berapa tamu yang mau dibawa.Di upacara ini kedua belak pihak membacakan sumpah perkawinannya dan tukar cincin. Setelah itu semua orang tanda tangan kertas, termasuk para saksi. Kertas selembar itulah bukti perkawinan kedua belah pihak. Upacara ini nggak sampai lima belas menit.

Dokumen surat kawin yang cuma satu lembar ini kemudian harus dibawa ke Kedutaan Indonesia supaya kedutaan mengeluarkan surat yang menyatakan bahwa kedua pihak ini memang sudah kawin. Informasi yang di tulis di surat ini termasuk agama suami dan istri. Biayanya 60 HKD. Surat ini kemudian harus dibawa ke catatan sipil di Indonesia untuk didaftarkan, selambat-lambatnya 30 hari setelah tiba di Indonesia, kalau nggak: didenda.

Update:
Peraturan baru untuk pendaftaran perkawinan di KJRI.
image

Formulir pendaftaran perkawinan di KJRI

Sederhana bukan?

PS: Kalau ada yang tahu pasangan yang menikah di Singapura, Thailand atau Australia dan berminat menjadi narasumber, boleh direkomendasikan ke saya.

Pertanyaan boleh juga diajukan ke saya via email: binibule.com(at)gmail.com.

Cara Kawin Beda Agama di Hong Kong

Perkawinan beda agama di Indonesia tidak dimungkinkan dan sepengetahuan saya, hanya Gereja Katolik yang mau mengawinkan pasangan beda agama. Sebagai alternatif, banyak negara di dekat Indonesia yang mau mengawinkan pasangan beda agama. Yang terdekat tentu saja Singapura, ada pula Thailand, Hong Kong dan juga Australia. Dari semua negara itu, Hong Kong merupakan pilihan yang paling mudah karena tidak minimum stay di sana (Singapore mewajibkan salah satu pihak untuk stay minimal 15 hari), tanpa visa, prosesnya mudah dan cepat, bahasanya Inggris (Thailand punya bahasa sendiri dan semua dokumen harus diterjemahkan dahulu) dan biayanya jauh lebih murah ketimbang panggil pegawai KUA di negeri ini (yang tarifnya tak jelas, apalagi kalau kawinnya sama bule). Sementara Australia saya tidak melakukan riset, karena WNI perlu visa untuk kunjungan ke Aussie. Pendaftaran perkawinan di HK juga relatif mudah, bisa dilakukan melalui pos, tiga bulan sebelum tanggal perkawinan yang kita pilih.

Dokumen-dokumen yang harus disiapkan untuk kawin di Hong Kong, dengan asumsi kedua belah pihak sama-sama single, tidak pernah menikah dan tidak punya anak adalah:

  • Copy passport kedua belah pihak
  • Bank Draft yang ditujukan ke: The Government of the Hong Kong Special Administrative Region senilai 305 HKD
  • Notice of Intended Marriage (dilegalisir notaris)
  • Form MR21B
  • Perlu dicatat bahwa pada saat perkawinan, pasangan pengantin perlu membawa dua orang saksi.

Mari kita bahas satu-satu biar nggak pusing, saya nggak akan bahas tentang passport karena asumsinya sudah tahu apa itu passport.

Bank Draft

Bank draft di Indonesia bisa dibeli di BCA, biayanya 50.000 rupiah & perlu waktu sehari bagi BCA untuk bikin. Belinya di teller langsung, atau bisa juga ke customer service dulu. Masalahnya,nggak semua teller BCA itu ngerti apa bank draft, apalagi yang baru-baru dan pakai tanda Bhakti BCA, pasti langsung bingung. Jadi kalau si mbak teller kebingungan, suruh panggil manajernya langsung.

Kalau gak bisa ke BCA yang kecil, cari yang besar. Ada beberapa opsi lain, bisa langsung ke BNI atau ke HSBC.

Bank Draft

Notice of Intended Marriage

Form ini boleh diisi dengan tangan aja. Jika anda sama-sama single maka yang diisi dari halaman satu sampai tiga saja, jangan di print bolak balik supaya nanti ada tempat untuk legalisir.

Pastikan sudah tahu dimana lokasi yang akan dipilih. Yang enak sih di Cotton Tree Drive Marriage Registry karena deket dengan taman. Nanti setelah kawin bisa langsung foto-foto. Nggak perlu malu, banyak banget penganten (dan juga mahasiswa yang habis wisuda) foto-foto heboh disitu. Jangan takut dipalak sama pegawai pertamanan juga karena foto pakai baju penganten, karena cuma di Jakarta yang PNSnya berani ngerampok rakyat.

Form notice of intended marriage ini ditandatangani salah satu pihak yang melapor saja dan HARUS dilegalisir oleh Notaris dalam bahasa Inggris. Kita tidak perlu tanda tangan di atas materai sementara Notaris akan melegalisir di atas materai. Biaya legalisir ini macam-macam, kisarannya sekitar 300ribu rupiah. Yang dilegalisir bagian belakang dari lembar pertama, bentuk legalisirnya seperti ini:

Notaris Legalisasi

Perlu diingat selambat-lambatnya 3 hari sebelum perkawinan, pasangan calon pengantin akan diminta untuk datang dan menghadap. Oleh karena itu perhitungkan tanggal perkawinan dengan baik. Jika tanggal yang dipilih jatuh pada hari Senin, maka calon pengantin harus menghadap selambat-lambatnya hari Kamis minggu sebelumnya. Kalau saran saya, mendingan kawin hari Kamis pagi dan lapor hari Senin (jadi bisa terbang ke HK hari Minggu). Perkawinan pagi, kemudian siangnya bisa langsung ke KJRI. Jangan lupa check hari libur di HK juga ya.

Form MR 21 B

Form ini rasanya cukup jelas & bisa diisi dengan bolpen hitam atau biru. Jangan lupa mencentang bahwa pendaftaran dari outside HKSAR. Pada bagian primary contact silahkan dicentang siapa yang menjadi kontak utama. Tapi jika ada apa-apa, yang akan dikontak tetap dua belah pihak. Alamat kedua belah pihak juga boleh tidak sama.

Seluruh dokumen tersebut dikirimkan via post tercatat, kalau dari Jakarta biaya pengirimannya sekitar 150 ribu rupiah. Alamat pengirimannya disini:

The Marriage Registration and Records Office
3/F, Low Block
Queensway Government Offices
66 Queensway
Hong Kong

Nanti tunggu aja, sekitar 12 hari kerja setelah kita kirim mereka akan kasih email panggilan. Saran saja, jangan beli tiket pesawat sampai dapat email panggilan ini, karena kadang aturan mereka bisa berubah. Ada pengalaman dari pembaca, mereka diminta menghadap empat hari sebelum perkawinan. Kalau ada pertanyaan bisa diajukan ke email: enquiry@immd.gov.hk. Mereka sangat membantu!

Untuk dokumen pendaftaran silahkan di download disini (ada dua dokumen ya) :

1) OM forms

2) mr21b

Dokumen ini bisa diupdate sewaktu-waktu, jadi cek dengan mereka apakah form ini masih dipakai.

Berapa biaya perkawinan di Hong Kong?

Biayanya tergantung tanggal yang kita pilih. Kalau milih weekend, akan lebih mahal. Ini tabel biaya yang saya download dari website imigrasi mereka:

biaya perkawinan

Untuk cara pelaporan sebelum perkawinan, upacara perkawinan, hingga pelaporan di Kedutaan Indonesia bisa dibaca disini.

Pertanyaan boleh juga diajukan ke saya via email: binibule.com(at)gmail.com; tapi sebelum nanya baca dulu dua atau tiga kali ya, biar saya nggak bolak-balik ditanyain pertanyaan yang jawabannya sudah ada di postingan ini -> rada gemes.

Jangan lupa juga baca komentar-komentar di bawah, karena kadang aturan berubah.

Hong Kong kawin

Budaya Ospek, Budaya Penjajahan

Dari dahulu saya tak pernah suka dengan yang namanya perploncoan siswa baru. Menurut saya kegiatan ini merupakan penjajahan modern yang dibiarkan oleh institusi pendidikan. Saya tak ingat bagaimana perploncoan jaman SMP dilakukan, begitu pula pada jaman SMA. Namun saya ingat, ketika mendaftar theater di SMA saya diplonco dengan alasan melatih keberanian. Kami didandani seperti orang dengan masalah kejiwaan yang tak terurus, lalu disuruh berjalan dari sekolah ke pusat kota. I did it. Kegiatan tersebut merupakan perploncoan, tapi setidaknya ‘bermanfaat’ karena melatih kami supaya tidak malu dan membuat kami PD tampil di muka umum.

Kegiatan Ospek di Universitas Brawijaya Malang lain lagi. kami diberi tugas konyol seperti mencari air kemasan merek tertentu dalam waktu sehari. Bersama mama, saya keliling Malang mencari air kemasan ini dan setelah beberapa toko kami berhasil menemukannya di sebuah toko kecil di dalam alun-alun kota Malang. Tak cukup itu, kami juga harus membuat tas dari karung yang dihiasi tali rafia yang dijalin empat (kepang). Jadilah saya dan mama repot mencari tahu bagaimana cara membuatnya. Jaman itu belum ada youtube, kalaupun sudah ada kami belum kenal. Internet juga mahal dan lambat. Coba apa nilai yang bisa diambil dari membuat tas karung ini selain buang waktu, energi dan juga uang?

Saya tak ingat makanan apa yang kami harus bawa, tapi teman-teman yang diterima di jurusan Teknik Brawijaya, tak hanya rambutnya harus dipotong 3-2-1 a la militer (yang pria), mereka juga hanya diperkenankan membawa nasi, telur rebus dan seiris timun. Saya berbaik hati (dan sok PD) merebuskan telur untuk seorang teman. Ternyata telur saya tak matang, jadi ketika giliran makan siang tiba, telur rebusan saya sukses meluncur membasahi nasi putih Ah kasihan teman saya yang sudah disuruh lari dan dijemur di bawah matahari harus memakan ‘nasi basah’.

ospek ITN

Setelah sukses mengumpulkan seluruh barang ajaib tak berguna ini, kami diwajibkan datang pagi, sekitar pukul 05.30 ketika matahari masih sembunyi malu-malu. Semenjak datang bisa diduga kami hanya dijemur, diteriaki dan dibentak-bentak oleh para senior yang merasa paling hebat sedunia. Kakak kelas yang mencoba menunjukkan kekuatannya melalui pita suaranya.

Puas membentak para adik kelas, kami pun diarahkan untuk upacara di depan kantor rektorat. Saya yang sudah mulai kepanasan minggir, tak kuat panas. Kebetulan jaket saya ditandai oleh pita hitam sebagai tanda kurang fit. Pita hitam sendiri didapatkan setelah menyerahkan surat dokter dan surat dokter ini diberikan oleh Bapak teman saya. Saya memang berpura-pura, jadi tukang tipu, demi melindungi diri agar tidak mendapatkan siksaan, baik fisik maupun siksaan batin. Jadilah saya dimasukkan ke dalam ruang kesehatan bersama seorang mbak yang baru kena thyphus. Giliran makanan dibagikan, saya (yang pura2 habis thhypus) makan dua bungkus dan si mbak nggak napsu makan. Sementara saya asyik makan di ruang kesehatan, teman-teman saya diteriakin tak karuan di lapangan, bermandikan terik matahari. Push-up kamu dik!

Keesokan harinya, saya tak datang ke ospek dan baru muncul di kampus ketika kegiatan perkuliahan dimulai. Bahkan ketika ospek jurusan pun saya absen, padahal saya sudah bayar. Modus pengumpulan uang untuk ospek jurusan ini dengan cara mewajibkan seluruh mahasiswa yang registrasi untuk membayar, saya ingat betul karena seorang teman berhutang kepada saya untuk membayar kegiatan ini. Rumor intimidatif yang beredar di kalangan mahasiswa baru (MABA), yang tidak ikut ospek dan ospek jurusan nggak akan bisa maju sidang skripsi. Nyatanya, itu cuma omong kosong, saya masih bisa lulus dan bisa kerja di tempat yang tak memerlukan bentak membentak. Jadi para MABA, kalau ospek Brawijaya masih nggak mutu, nggak usah ikut.

Itu cerita ospek saya lebih dari sepuluh tahun lalu. Harusnya, banyak hal sudah berubah setelah sepuluh tahun. Sayangnya, belum banyak yang berubah. Di kampus tetangga, seorang mahasiswa baru asal Mataram tidak bisa menceritakan kegilaan dan kesemenamenaan seniornya. Si Mahasiwa berpulang, tak jelas apa penyebabnya, tapi beredar foto-foto kekejaman. Ada tulisan yang mengatakan ia kemungkinan dehidrasi, lha gimana gak dehidrasi kalau minum dibatasi. Ospek seperti ini kadang hanya menjadi ajang penyiksaan makluk lain. Eh maaf aja, ngakunya beragama, MAHAsiswa, terdidik, tapi suka nyiksa orang?

ospek

Kisah kematian mahasiswa ITN itu bukan satu-satunya kisah kematian mahasiwa baru, banyak sekali penyiksaan yang dilakukan kepada junior atas dasar senioritas. Menteri Pendidikan maupun kepala sekolah, rektor dan para kepala jurusan membiarkan semua kekerasan itu terjadi. Para professor ini, mengenyam pendidikan tinggi, sekolah bertahun-tahun, tapi sayangnya tak pernah paham bahwa kekerasan bukanlah tradisi yang harus dipelihara & mereka, sebagai pendidik, punya peran penting untuk menghentikan hal tersebut. Jadi kalau kekerasan di negeri ini masih bermunculan, tanyalah pada pak rektor, pak guru, pak kepala sekolah, pak dosen juga bapak kepala jurusan yang memelihara bibit-bibit tersebut. Merekalah yang paling bertanggung jawab atas disabilitas, gangguan psikologis dan juga kematian pada para mahasiswa baru.

Jadi para profesor dan pendidik, kapan kalian mau bikin ospek yang 100% mendidik, tanpa penganiayaan fisik dan mental?

xoxo
Tjetje

Tersinggung Karena Tak Diundang ke Kawinan

Pesta perkawinan bagi orang Indonesia itu merupakan perhelatan akbar yang terkadang diadakan selama beberapa hari berturut-turut. Tergantung kondisi keuangan dari kedua belah pihak. Tapi tak perlu cemas, kalau nggak punya uang, berhutang untuk kawinan pun tak masalah. Bukankah perkawinan yang baik sebaiknya dimulai dengan susah payah bersama untuk memupuk cinta? Nah caranya ya bersusah payah membayar cicilan hutang pesta resepsi? (Eh!)

Perkawinan juga bukan mengenai hubungan antara dua belah pihak pengantin saja, tapi menjadi urusan banyak pihak. Ayah dan Ibu kedua mempelai akan sibuk membuat daftar koleganya, teman-temannya, serta sanak saudara dari yang pertalian terdekat hingga yang paling jauh. Sementara pengantin akan sibuk membuat daftar undangan yang berisikan nama teman-temannya dari jaman TK, SD, SMP, SMA, les bahasa Inggris, les nari, les bahasa Perancis, renang, kolega kantor, temen jalan-jalan dan teman di facebook yang sudah lama nggak diajak ngomong. Semua daftar dijadikan satu dan dihitung, total undangan biasanya jadi ratusan hingga ribuan. Undangan ini kemudian harus dikalikan tiga atau empat, termasuk pasangan, anak dan juga nanny yang selama perkawinan berlangsung repot berlari-lari mengejar dan menyuapi si anak.

Pengantin juga masih harus beli seragam buat keluarga & geng mainnya. Belum lagi hunting baju pengantin untuk akad nikah, untuk resepsi, untuk midodareni, atau upacara tradisional lainnya. Selain mikir seragam, pengantin mesti mikir foto pre-wedding, souvenir, cari gedung atau hotel, milih menu, milih fotografer, milih seserahan, test make-up, milih tukang dekorasi, dan memilih undangan. Kepusingan ini masih ditambah dengan menghitung anggaran dan menekan biaya agar sesuai anggaran. 

IMG_0136

Terdengar repot kan? Nah kerepotan ini akan ditambah dengan orang-orang yang tersinggung karena berbagai hal. Golongan orang tersinggung ini nggak pernah mau mikir gimana repot dan hebohnya persiapan perkawinan. Pokoknya hal-hal yang dia mau mesti jadi prioritas, urusan penganten nomer dua.

Golongan pertama biasanya ribut soal undangan. Ketika mendengar acara lamaran sudah dilaksanakan, biasanya mereka sudah ribut mengingatkan undangan. Saking semangatnya mereka seringkali mengingatkan untuk mengirim undangan ketika sang pengantin belum menemukan pacar. Kalimat andalannya: “Undangannya jangan lupa lho ya!”. Single nekat biasanya jawab:  “Angpaonya juga jangan lupa ya!” kalau saya mah senyum-senyum. Lupa kan manusiawi, melupakan juga manusiawi kan?

Kalau golongan ini nggak diundang, kemudian mendengar perhelatan telah dilaksanakan tanpa mereka, atau melihat jejak foto di social media maka sudah dapat dipastikan akan terjadi keributan. Hal pertama yang dilakukan adalah PROTES, kenapa nggak diundang. Duh orang-orang ini nggak paham kalau menyiapkan perkawinan itu pasti ribet dan kalau ada yang kelewatan itu wajar. Lucunya, ketika menghubungi untuk complain, hal pertama yang diucapkan bukan ucapan selamat. Hmmm…memang kebutuhan untuk eksis di kawinan orang mengalahkan tata krama.

Yang lebih repot lagi kalau nekat mengadakan perkawinan kecil yang mengundang kurang dari 30 orang aja. Hari gini ngundang kurang dari 30 orang itu emang nekat. Tapi ketika pengantin dibatasi oleh anggaran (dan karena mereka ingin melakukan hal tersebut) kenapa tidak? Resikonya diomongin banyak orang dan menerima banyak banget complain, dari saudara dekat, saudara jauh, temen deket, temen jauh, temen lama sekali (bahkan gak inget kalau pernah temenan),  karena mereka tidak diundang. Orang-orang begini nih biasanya nggak mikir kalau kawinan itu mahal, makanya ada banyak hal yang harus dibatasi biar nggak terjerat hutang?!

Golongan kedua biasanya ribut sebelum acara karena menerima undangan tanpa menerima potongan kain untuk seragam. Ribut meneror pasangan pengantin atau orang tuanya untuk nanya seragam. Kalau nggak, repot bisik-bisik karena nggak menerima seragam. Buat mereka, nggak diberi seragam itu menyinggung harga diri. Halah!

Saya sendiri pernah mengalami menghadiri perkawinan seorang kerabat dimana semua saudara mengenakan seragam, Sementara saya terlihat berbeda tanpa seragam. Nggak perlu bersedih hati kalau berada dalam kondisi ini, malah harus bersyukur, karena nggak ribet cari model, cari penjahit dan  bayar penjahit untuk kain yang keseringan hanya bisa dipakai sekali karena kualitasnya yang biasa saja. Selain itu, menghadiri perkawinan tanpa seragam itu memungkinkan untuk cepet-cepet kabur ke tempat lain. Tips a la saya buat yang nggak dikasih seragam, pilihlah baju paling menyala, seperti merah, supaya kalau difoto kelihatan beda. Berbeda itu penting!

Apa reaksimu ketika tidak diundang perkawinan teman? 

Kawin Sama Bule Perbaiki Keturunan?

Bukan rahasia lagi kalau orang Indonesia itu terobsesi dengan kulit putih. Buat mereka apapun yang kulitnya putih, itu lebih baik dari yang berkulit gelap. Ketidakcintaan terhadap kulit sendiri ini pernah saya bahas dalam seri Thing Indonesian Like, dalam tulisan-tulisan edisi bahasa Inggris.

Obsesi terhadap kulit putih ini juga membuat manusia Indonesia mengagungkan bule secara berlebihan. Bagi orang-orang ini blasteran disamakan dengan bibit unggul, lebih cakep, lebih ganteng. Akibat pemikiran seperti ini, ibu-ibu yang punya anak blasteran biasanya suka cemas berat kalau pergi ke tempat umum, karena orang-orang ini selalu nggak bisa nahan diri untuk nyubit, nyolek, pokoknya menyentuh anak blasteran pakai tangan yang gak cuci tangan kalau ke kamar mandi. Sementara, kalau anak Indonesia, yang lucu sekalipun, cukup dilihat aja, nggak perlu dicolek-colek, paling banter, ih anaknya lucu deh.

Tampang babu

Kulit bukanlah satu-satunya faktor yang bikin orang Indonesia terkesima berat sama londo-londo itu. Mata yang warnanya berbeda dari warna mata, hidung mancung, serta badan yang menjulang tinggi juga faktor yang membuat mereka melihat bangsa barat sebagai bangsa yang “lebih”. Nah, kalau bule tersebut kemudian jalan  dengan perempuan Indonesia yang bertampang asli Indonesia, berhidung pesek, struktur gigi yang tak rapi, tak terlalu tinggi, kulit sawo matang, rambut keriting, komentar yang muncul keseringan:  “Ih…kok istrinya jelek kayak babu gitu”. Apalagi kalau mbak ini kayak saya, jarang dandan.

Ada dua hal yang gak saya suka dari omongan itu, pertama soal kejelekan wajah. Wajah manusia itu ciptaan Tuhan, kenapa harus dihina sih? Setiap manusia itu, mau pesek, mau mancung, mau tinggi, pendek, gendut, kurus, adalah manusia yang cantik. Hal kedua yang nggak saya suka adalah asosiasi kata jelek dan babu. Saya nggak suka pakai kata babu, menurut saya itu kasar sekali. Pembantu pun bukan bahasa yang politically correct, bahasa  yang tepat menurut saya adalah pekerja rumah tangga. Ini untuk menekankan bahwa mereka adalah pekerja, bukan batur, babu, apalagi budak. Pengasosian ini menunjukkan bagaimana sebagian orang Indonesia tidak menghargai sesamanya sendiri. Padahal keunikan wajah kita adalah ciri khas yang dibuat Tuhan untuk mewarnai bumi ini. Wahai orang-orang yang suka berkomentar seperti itu, berhentilah mengasosiakan mengasosiasikan pekerja rumah tangga dengan hal yang dipersepsikan buruk.

Uang Banyak

Komentar lain yang sering ditujukan kepada orang Indonesia yang memiliki hubungan dengan WNA adalah urusan finansial. Yang paling umum nih “Enak ya, laki bule uangnya banyak”. Entah bagaimana menanggapi komentar tak penting seperti ini. Pokoknya pukul rata kalau bule pasti kaya raya. Mengasosikan bule dengan banyak uang itu menyebabkan mereka sering ditipu dan dikasih harga yang ugal-ugalan mahalnya. Apalagi kalau di Bali, begitu ketahuan ada bulenya langsung dirubah harganya.

Sebenarnya, di Indonesia pun juga banyak pria yang uangnya banyak. Apalagi yang pelatnya merah, duit nya berlimpah dan berhamburan Duit banyak itu kan karena kerja dan nabung, bisa juga karena korupsi, nggak ada hubungannya sama ras. Di luar negeri juga banyak pengemis-pengemis bule. Jadi jangan asosikan bule dengan uang banyak, lihatlah mereka sebagai manusia, bukan sebagai ATM.

Perbaikan Keturunan

Komentar terburuk menurut saya adalah PERBAIKAN KETURUNAN. Mau guyonan, mau basa-basi nggak penting, komentar ini melecehkan orang yang diberi komentar dan pasangan bule secara umum. Sesuatu yang diperbaiki berarti tidak berfungsi dengan benar, atau rusak. Lha kalau sudah datang dari keturunan baik-baik dengan kualitas yang baik, termasuk kualitas fisik yang baik (seperti saya), apalagi yang mau diperbaiki?

Orang-orang yang suka ngomong kayak gini mungkin harus cek MRI untuk mencari tahu dimanakah otak mereka tersembunyi. Mereka juga harus mulai mempertanyakan, mengapa perbaikan keturunan itu kemudian menjadi penting, jangan-jangan merekalah yang merasa keturunannya nggak bagus dan perlu diperbaiki. Satu hal lagi, orang-orang ini perlu memperbaiki kualitas mereka sebagai manusia, biar lebih bangga dengan diri sendiri dan keturunannya.

Tapi dari semua komentar yang sering saya denger, rekor komentar terajaib dipegang oleh seorang istri dosen yang berkomentar ke Mama saya: “Nakal ya, pacarnya bule?”. Nakal, hari gini masih dianggap nakal karena punya pacar yang kulitnya putih. Tante-tante minta dilombok* .

Bangga gak dengan keturunanmu dan tubuhmu?

xx
Tjetje
dilombok: dijejali lombok karena mengatakan hal yang dianggap kurang pantas.