Cara Mendaftar Visa ke Irlandia (update 2019)

mtf_msXln_1293

Luas stop in Ireland

Saya banyak menerima pertanyaan tentang bagaimana cara membuat visa ke Irlandia. Visa Irlandia, berdasarkan pengalaman saya wira-wiri relatif mudah, asal dokumennya lengkap. Informasi tentang dokumen visa pun bisa ditemukan dengan mudah dari web Imigrasi Irlandia.

Selama ini pengurusan visa dilakukan melalui Konsuler yang lokasinya di dalam kantor Roosdiono, dokumennya kemudian dikirimkan ke Singapura. Berita gembiranya, Kedutaan Irlandia di Indonesia itu baru dibuka dan Duta Besar Irlandia untuk Indonesia. H.E Mr. Kyle Michael O’Sullivan baru saja datang ke Indonesia dan urusan visa sekarang sudah dilakukan oleh Kedutaan (ini update per July 2015 ya).

Secara runut, berikut dokumen-dokumen yang diperlukan:

  1. Application Form yang didapat dari website ini ; dokumennya harus ditandatangani
  2. Pastikan visa category yang dimasukkan  benar & sesuai kebutuhan. Pemberian multiple entry hanya untuk kasus-kasus tertentu.
  3. Letter of Undertaking signed. Surat permohonan visa yang ditujukan ke Kedutaan. Surat ini harus berisi informasi tentang tanggal keberangkatan dan kepulangan, tujuan ke Irlandia dan janji akan kembali ke tanah air dan tak akan membebani Irlandia. Suratnya tak perlu ribet-ribet, sederhana saja, selama informasi tersebut tercantum.  
  4. Surat referensi dari kantor: surat pernyataan dari kantor yang menyatakan kita sudah kerja di kantor itu selama beberapa masa dan menjamin bahwa kita akan kembali ke kantor.
  5. Surat undangan dari Irlandia: surat undangan dari Irlandia dan fotocopy passport pengundang dengan seluruh visanya. Tambahkan juga utility bill (tagihan telpon, TV, internet atau tagihan lain untuk membuktikan bahwa yang mengundang memang tinggal di Irlandia).
  6. Bank statement atau slip gaji selama 3 – 6 bulan terakhir. Saya biasanya menyertakan keduanya. Tak ada jumlah minimal, tapi saya sarankan saldo setidaknya cukup buat beli tiket ke Irlandia dan cukup buat biaya hidup selama disana.
  7. Bagi yang disponsori, maka wajib hukumnya menyerahkan bank statement sponsor. Dokumen hasil scan diterima oleh kedutaan.
  8. Detail akomodasi: kalau nginap di hotel, ini bukti booking kamar. Untuk yang disponsori oleh WN Irlandia, cukup surat undangan (nomor 5) dan nomor 7.
  9. Flight itinerary: bukti booking penerbangan, bukan bukti pembelian.
  10. Copy asuransi perjalanan: kalau gak tahu mau beli dimana bisa beli online. Ada beberapa provider yang menyediakan asuransi ini.
  11. Copy akte kelahiran dan atau akte kawin yang diterjemahkan oleh penerjeman tersumpah.
  12. Fotocopy passport (dan passport lama) dengan semua visa yang ada di dalamnya. Passportnya harus valid setidaknya enam bulan.
  13. Foto dengan background putih ukuran 3.5 cm x 4.5 cm, zoom 80%. Kalau zoom 80% itu isi foto mayoritas muka kita, jadi pastikan tukang fotonya ngerti. Foto jangan ditempelkan di dokumen dan belakangnya diberi nomor referensi yang didapat dari pendaftaran online. Nomor ini bisa didapat setelah mengisi semua informasi di formulir nomor 1.

Biaya pembuatan visa sendiri gratis.

Setelah dokumen lengkap, kita harus membuat janji dengan kedutaan untuk memasukkan dokumen-dokumen di atas. Pastikan juga semua dokumen asli dibawa supaya dapat diverifikasi.

Setelah kedutaan dibuka di Irlandia, urusan pendaftaran visa jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Berdasarkan pengalaman saya, biasanya tak lebih dari satu minggu. 

Pertanyaan boleh diajukan langsung ke kedutaan Irlandia detail contactnya sbb:

Embassy of Ireland, Jakarta-Indonesia
CEO Suite, Indonesia Stock Exchange Building (BEJ)
17th Fl, Tower II, Jl. Jend. Sudirman Kav.52-53
Jakarta 12190
Phn : (021) 5291 7453 atau 5291 7455
Fax : (021) 515 77 99
Emailnya:  jakartaem@dfa.ie.
 
Nomor di atas juga bisa digunakan untuk membuat janji pertemuan untuk daftar visa.
 
 
 Sláinte
Tjetje

Kebablasan Berbagi di Sosmed

Postingan saya yang membahas tukang pamer didistribusikan lebih dari 5000 kali di Facebook. Ada yang suka tapi ada juga yang mencela. Kalau dari hasil sekilas melihat komentar-komentar sih banyak yang gerah dengan kebiasaan pamer-pamer kekayaan. Ah well, di Asia itu ukuran keberhasilan kan dilihat dari jumlah kekayaan, jadi ya wajar kalau orang pamer kekayaan, biar dibilang sukses.

Sebenernya gak cuma pamer kekayaan yang bikin gerah-gerah gemes, tapi pamer berbagi kasih sayang di social media juga bikin gemes & bikin jidat mengeryit. Haduh padahal mengeryit ini bikin jidat kusut dan ongkos botox kan mahal. Catat lho ya bukan ngiri, tapi gemes. Ngobrol-ngobrol, nyapa pasangan lewat status. Nggak cuma pasangan sih, kasih ucapan terimakasih ke teman, atas makan siang, malam, atau bahkan oleh-oleh juga dipasang di status. Herannya lagi banyak yang berdoa di status. Tuhan itu emang Maha segalanya, tapi segitunya ya sampai permohonan untuk Tuhan pun harus di sharing di status?

facebook-not-your-diary

Coba tolong saya diberi pencerahan, kenapa status romantis menye-menye harus dipamerkan ke seluruh penjuru dunia, padahal yang dituju cuma satu atau dua orang? Apa manfaatnya buat penjuru dunia? Terus terang saya jadi kasihan sama mereka yang melakukan ini karena yang pasang status ini jadi kayak orang yang nyari-nyari perhatian di sosial media. Bukankah kita emang nyari like dari jempol atau hati virtual?

Eh tapi mungkin juga mereka lupa ada teknologi bernama SMS ataupun telpon, atau jangan-jangan pulsanya lagi habis. Sok positif, padahal kan ada WhatsApp, Line, Viber, WeChat, KakaoTalk, Facebook Messenger, YahooMessenger, Skype, BBM, ChatOn atau bahkan Path Talk yang bisa mengirimkan pesan secara privat tanpa perlu pulsa.

Overdosis Foto

Sosial media hari ini juga udah mulai kebanjiran foto selfie dan foto group aneka gaya. Saya sampai bosen lihatnya. Agak OOT sedikit, selfie sudah sukses merambah ke dunia di luar social media dan sudah dikirimkan untuk melamar pekerjaan lho. Nggak cuma dari satu sudut, tapi dari dua sudut yang berbeda. Meminjam istilah Pak EsBeYe, saya prihatin lihatnya!

060613_wedding_vine-small_0-100482066-orig

Balik lagi ke postingan foto, saya bisa tahu jadwal temen-temen saya. Pagi selfie di sekolah anaknya, siang welfie bersama grup arisan dan selfie khusus dengan yang menang arisan. Sore posting foto tahu kiriman temennya, malam teriak-teriak kelaparan makan indomie tapi takut gendut. Buntutnya tetep makan Indomie dan di posting. Herannya, yang model begini teriak takut gendut, tapi gak pernah check-in di Gym. Herannya, kenapa kalau bersih-bersih gak pernah di posting ya?

Soal foto, kita hobi banget berfoto di satu tempat, dengan seribu gaya. Gaya serius, gaya chibi-chibi, free style, senyum keliatan giginya, senyum tanpa gigi dan tentunya foto loncat! Apesnya, semua foto masuk sosial media. Yang lihat pusing, memory gadget juga pusing, server FB lebih pusing lagi kali ya. Pengalaman pribadi, ke Kamboja dengan tongsis, selfie beberapa kali & kaget lihat jumlah selfie yang berlebihan lalu bingung mau diapain.

Saya setuju dengan Mariska bahwa banyak dari kita yang sudah over-sharing. Kita teriak-teriak protes karena ada artis yang mengumbar perkawinannya di televisi selama berhari-hari, sementara kita sendiri mengumbar hal-hal pribadi kita yang sama gak pentingnya setiap hari. Mungkin artikel ini ada benarnya, orang-orang di abad 21 ini menderita kelaparan, kelaparan akan eksistensi.

Sosial media buat saya adalah alat bagi kita, social animals, untuk berinteraksi, bertukar pikiran atau melempar candaan dengan manusia-manusia lainnya. Kitalah yang punya kontrol atas segala konten yang ingin kita pasang disitu. Karena saya punya kontrol, maka saya uninstall Path dua minggu lalu, selain karena applikasinya super lemot, suka beku sendiri, isi Path, menurut saya udah kayak isinya tempat sampah. Lebih banyak yang tak bermanfaat ketimbang yang bermanfaat. Dibanding FB, IG, Path menurut saya justru yang paling awut-awutan isinya. 

Guess what? Setelah uninstall Path saya jadi ngerasa girang. Rupanya ini yang disebut orang sebagai JOMO, the joy of missing out. Biarin ketinggalan info, yang penting hidup saya nggak dihabisin buat memandang screen kecil.

Hal-hal ajaib apalagi yang suka muncul di sosial media?

xoxo,
Tjetje
 
Patut dibaca juga tulisan dari economis tentang sosmed
update status

Lagi browsing dan menemukan ini, pas banget menggambarkan sosial media kita (10 Nov 2014)

Overdosis Gula

Kebanyakan orang asing yang datang ke Indonesia pasti komplain urusan kemanisan. Mending kalau komplainnya tentang orang Indonesia yang super manis. Tapi manis yang dikomplain adalah urusan makan & minum. Hobi kita memasukkan gula kemana-mana dianggap sebagai kebiasaan yang buruk yang berbahaya bagi kesehatan. Nggak usah pakai emosi nanggapinya, apalagi nuduh antek asing mau merusak kebudayaan kita. Mari kita tengok dulu isi piring dan gelas kita!

 sugar

Dimulai dari makanan favorit saya kita semua, nasi putih yang pulen dan hangat. Comfort food untuk sebagian orang Indonesia. Tapi sebagai karbohidrat, nasi ini akan diolah tubuh menjadi gula dan kalau makan nasinya banyak-banyak, gula darah dipastikan cepat naik. Biar makin sempurna, seringkali kita menambahkan kecap manis ke atas nasi, hingga warnanya jadi coklat. Malah, jaman saya kecil, Eyang saya suka menambahkan kecap manis di dalam telur orak-arik, biar ada rasanya kata beliau.

Lauk-pauk ataupun sayur mayur kita juga sering yang dibumbui dengan gula-gulaan. Nggak percaya ada gula dalam lauk-pauk kita? Itu sate ayam pakai kecap manis, gudeg dimandikan dengan gula Jawa, bumbu pecel pakai gula Jawa, bumbu gado-gado pakai gula Jawa, ini kenapa gulanya harus Jawa sih, Jawanisasi ya, bahkan sambal aja diberi gula supaya gurih katanya. Katanya lho ya, tepatnya saya kurang paham karena saya gak bisa bikin sambal & bukan peminat sambal. Orangnya sudah pedes sih!

Sayur bening yang terlihat bening pun tak luput dari cipratan gula. Papeda kalau bikin juga pasti dikasih sedikit gula. Sedikit kok, gak banyak, tapi tetep gula kan? Saking demennya kita dengan yang manis, roti-roti di Indonesia juga cenderung lebih manis ketimbang roti-roti di luar Indonesia. Pengecualian roti tawar ya.

handling with grace

Photo from: handlingwithgrace.com

Sebelum saya dituduh ini itu sama para haters, iya blog ini udah kayak IGnya mbak Syahrini aja, udah ada hatersnya, saya kasih disclaimer bahwa sesungguhnya makanan di Indonesia nggak semuanya mengandung gula-gulaan ya. Ikan asin tentunya gak pakai gula dong ya.

Kebiasaan kita memakan makanan manis juga disempurnakan dengan kebiasaan minum-minuman manis. Teh, dari yang paling murah hingga yang paling mahal, dipastikan dicampur gula supaya manis. Aroma teh tentunya kalah oleh manisnya gula. Btw, jaman saya kuliah dulu saya pernah ke perkebunan teh. Daun-daun teh dari kebun tersebut, yang kualitasnya baik dieksport untuk pasar internasional, sementara kita mendapatkan batang dan daun grade 3. Ya nggak heran, karena kita memang lebih doyan minum air gula dengan aroma teh.  Pengecualian di Tanah Sunda ya!

Nggak cuma teh, kopi instant di negeri ini juga selalu diberi tambahan gula dan susu. Saya menghabiskan beberapa menit menyusuri lorong swalayan membaca satu-satu isi kopi instant, hasilnya semuanya manis. Kayaknya kalau tak ada gulanya, kopi-kopi ini tak akan laku. Ini kita gak perlu bahas lagi minuman lain atau juga dessert Indonesia (yang pasti manis lah ya) , percayalah kita sangat kaya dengan yang manis-manis, dari es cendol, sampai klepon. Dessert buah juga gak lepas dari gula, pepaya ditaburi gula, buah-buahan dicocol di gula merah, bahkan buah-buahan dipotong kecil-kecil dimandikan di dalam air gula (es teler maksudnya).  Mohon maaf yang tinggal di luar negeri, semoga gak langsung ngidam. 

Tubuh kita memerlukan gula dan makan gula, dalam jumlah yang berimbang itu baik kok, apalagi kalau rajin olahraga. Tapi ketika kita makan secara berlebihan, rutin minum yang manis dan nyemil makanan manis, dan malas gerak, tentunya akan bahaya. Bahaya buat gigi, bahaya buat kadar gula dalam tubuh dan beresiko diabetes. Menurut riset, diabetes (dan juga penyakit lainnya) tak Cuma merugikan diri sendiri, tapi juga merugikan negara. Apalagi kalau pengobatannya pakai BPJS.

Kebiasaan mengkonsumsi gula membuat permintaan gula melonjak pesat dan membuat Indonesia berpotensi menjadi importir gula terbesar di dunia mengalahkan Cina. Hwa hebat kan kita!

Have a nice weekend semuanya. Awasi konsumsi gulanya ya!

Xx
Tjetje
Kalau minum teh tanpa gula

Kopaja Raja Jakarta

Orang bilang Jakarta itu kota yang keras, dipenuhi orang sombong* & kurang berperikemanusiaan.  Siapapun yang mengatakan itu, tentunya belum pernah menginjakkan kaki di atas Kopaja, kendaraan umum berwarna hijau yang kondisinya  mirip kapal titanic yang baru diangkat dari laut, karatan semua. Selain penuh karat, Sebagian besar Kopaja juga berfungsi sebagai sauna, karena tidak dilengkapi dengan AC. Kendati buruk rupa, Kopaja bagi saya justru menyimpan sarat cerita tentang kebaikan manusia Jakarta pengemudi serta kerendahan hati mereka.

Kopaja

Photo: tempo.co

Koperasi Angkutan Jakarta, adalah kendaraan umum berbiaya murah, 3000 rupiah saja. Biar murah, kecepatannya lebih cepat dari TransJakarta; gimana tak cepat kalau seluruh kendaraan takut tersenggol Kopaja. Kopaja tidak pernah berjalan lurus dan lebih sering menari-nari seperti ular naga. Walaupun buruk, kampas rem serta oli Kopaja terjaga dengan baik, karena Kopaja hanya boleh di rem ketika jaraknya sudah dekat dengan kendaraan di depan. Cuma mereka yang professional yang bisa melakukan ini kan? Tak cuma profesional, abang Kopaja juga jago menyetir sembari memegang rokok di dekat mesin dan kadang-kadang memegang gelas berisikan kopi. Entah gimana caranya, pokoknya Kopajanya gak boleh kebakaran kayak TransJakarta.

Saking seringnya mereka menaikkan dan menurunkan penumpang sembarangan, serta menyetir secara ugal-ugalan, supir Kopaja sering ditilang Polisi. Makanya, pengemudi Kopaja suka galak kalau ada penumpang yang minta turun sembarangan atau jika penumpang lelet turunnya. Polisi di Indonesia suka menganggap Kopaja berhenti terlalu lama dan menilang mereka. Akibatnya penumpang dipaksa cepat-cepat turun. Aneh. Segalak-galaknya, mereka ini penuh dengan kemanusiaan lho, kemanusiaan pada pengamen karena jika pengamen mulai naik untuk mengais rejeki, musik atau bahkan TV akan dimatikan. Iya ada satu Kopaja nomor 19 yang dilengkapi dengan TV dan kursi empuk.

Selain berbaik hati pada pengamen, Kopaja juga punya kebijakan yang harus ditiru oleh semua moda transportasi. Kebijakan diskon buat wong cilik. Ada banyak wong cilik yang naik Kopaja, tapi yang selalu mendapatkan diskon adalah joki three-in-one**. Joki three-in-one, yang seringkali ibu-ibu dengan anak kecil didekapannya, boleh membayar 2000 rupiah saja. Dulu, saat harga Kopaja hanya 2000, mereka mendapatkan diskon 50%.

Penumpang Kopaja juga perlu memiliki trik-trik khusus. Pemilihan kursi yang tepat pada hari yang tepat, akan menentukan kualitas perjalanan. Duduk di kursi yang berdekatan dengan jendela, saat hari tidak hujan sangat dianjurkan. Mengapa? Karena jika duduk di lorong, dipastikan hanya separo pantat yang akan duduk. Selain duduk ‘separo’, duduk di lorong lebih mudah didesaki penumpang yang berdiri. Tak cuma itu, pria-pria yang naik kopaja hobi banget memikul ranselnya di depan tubuh, lalu tanpa sadar, atau sadar tapi gak peduli, menghalangi visibilitas penumpang yang duduk dengan ranselnya. Halah apa coba ini bahasanya.Nggak Cuma pria lho, perempuan dengan tas besar juga suka seenaknya menabrak-nabrakkan tasnya ke kepala atau tangan orang yang duduk. Bayarnya  murah, kagak boleh cerewet kale….Jika hari hujan, penumpang biasanya ogah duduk di dekat jendela karena kebocoran Kopaja mengalahkan kebocoran anggaran. Duduk di lorong pun seringkali beresiko menjadi basah.

Sebagai kendaraan umum yang penuh manusia, Kopaja juga jadi ajang pencopetan. Seorang teman (dan seluruh penumpang Kopaja) pernah mendapatkan peringatan dari pengemudi ketika sang pengemudi melihat segerombolan pencopet yang bersiap naik. Sayangnya, tak semua pengemudi melakukan hal tersebut, mungkin juga mereka tak selalu hapal muka sang pencopet.

Kopaja di Jakarta sudah mulai berbenah dengan menyediakan armada yang lebih ‘sehat’ yang dilengkapi dengan AC dan harganya hanya lima ribu rupiah. Makasih Jokowi-Ahok.  Saya pribadi lebih suka si Kopaja berkarat, karena cuma Kopaja yang mampu merajai jalanan di Jakarta dan membuat perjalanan penuh sensasi bak naik roller coaster di Dufan.

Konon, jika turun dari Kopaja dengan kaki kanan, kita akan jatuh. Ada yang pernah coba nggak ?

 

xx,
Tjetje 

 

* Manusia sombong karena kalau ke daerah suka menggunakan kata lu-gue. Lha padahal di Jakarta ini bahasanya lu gue, masak 
harus pakai inyong, dalem, kulo. Nggak cocok kan?

** joki three-in-one jasa duduk di kendaraan untuk melewati 
jalan-jalan utama Jakarta pada jam-jam tertentu. Peraturan 
mewajibkan kendaraan pribadi diisi oleh tiga orang atau lebih.Ongkos joki berkisar 15rb – 20 rb.

Label Untuk Istri Pria Asing

Banyak orang yang menganggap perempuan-perempuan yang kawin dengan orang asing itu bekas pekerja seksual (PS)*.  Anggapan ini nggak hanya datang dari saudara-saudara sebangsa dan setanah air, tapi juga datang dari warga negara lain di belahan bumi lain; saya pernah dituduh pekerja seksual di Hong Kong. Apakah di HK sana emang banyak pekerja seksual Indonesia? Pekerja seksual itu ada dimana saja dan istri orang asing juga banyak yang bekas atau malah yang ekspansi target market setelah kawin dengan orang asing, tapi mbok ya tolong jangan disamaratakan.

label_tynipic dot com

tynipic.com

Perempuan murahan timbul karena orang barat diasosikan dengan seks bebas dan tak punya moral (saking gak bermoralnya mereka indeks korupsinya pun jauh lebih rendah dari Indonesia). Persepsi ‘murahan’ ini kayaknya muncul karena gambaran yang muncul di TV dan film. Kebanyakan nonton tivi sih, jadi lupa kalau hidup itu tak seperti di tivi. Daripada repot-report ngurusin orang asing mbok dilihat lingkungan sekitarnya, problematika seks pranikah yang sering dituduhkan kepada perempuan yang berhubungan dengan pria asing juga marak di negeri ini. Kalau kata seorang Direktur Populasi sebuah Kementerian, anak-anak sekarang sudah banyak yang punya anak. Moral mana, moral?

Istri orang asing juga sering dicap sebagai perempuan matre & social climber. Saya nggak menutup mata bahwa kasus-kasus bule hunter membuat pria asing kehabisan uang atau minta-minta uang buat sanak-saudaranya sekampung (sekampung lho, bukan di kampung) itu banyak. Social climber juga banyak dan banyak dari mereka yang selagi merangkak naik kepleset karena lupa belajar tata krama atau bahkan keseringan dropping name. Tapi orang Indonesia juga mesti tahu bahwa banyak juga perempuan Indonesia yang banting tulang untuk membiayai rumah tangganya bersama-sama.

Pemilik kulit sawo matang dan hidung mungil juga sering “dilecehkan” bertampang pembokat atau pembantu pekerja rumah tangga (PRT)**. Tampang PRT itu kalau definisi saya adalah tampang yang Indonesia banget & tidak sama dengan standar kecantikan Indonesia (rambut lurus, kulit putih). Tapi gak tepat juga mengasosikan itu dengan pekerja rumah tangga, karena banyak dari mereka yang sesuai “standar kecantikan Indonesia”. Apa dosa para pekerja rumah tangga harus diasosikan dengan hal yang negatif?  moral mana moral?

labels-image

image: ethicsfordoinggood.wordpress.com

 

Banyak orang yang gak terima jika dianggap bertampang seperti pekerja rumah tangga, kalau concern saya bukan pada urusan tampangnya, tapi pada pembedaan perlakuan dan diskriminasi. Asal disangka pekerja rumah tangga, langsung nggak dilayani dengan layak. Eh tapi ada juga lho istri-istri orang asing yang kalau disapa pekerja rumah tangga (karena disangka sesama pekerja rumah tangga) terlalu congkak untuk menjawab & merasa kelas sosialnya jauh di atas mereka. Nggak dipungkiri pertanyaan mereka suka melanggar batas, tapi bukan berarti harus direspons dengan dagu naik  kan?

Cibiran karena kemampuan bahasa Inggris yang minim dan juga tata bahasanya yang awut-awutan juga sering dilayangkan ke istri orang asing. Gak usah yang jarang ngomong bahasa Inggris, saya yang tiap hari bekerja dalam bahasa Inggris pun pertama gaul dengan serombongan orang Irlandia frustasi karena nggak ngerti mereka ngomong apa. Kosakatanya beda, aksennya engga banget dan semua orang pada berebut ngomong. Fokus dan konsentrasi pun bubar jalan. Istri orang asing bergulat dengan hal ini sepanjang hidupnya, jadi kalau bahasa Inggrisnya berantakan, jelasin aja lah dengan sopan bedanya do sama does. Kalau gak ada yang jelasin dan terus-menerus dicibir, kapan benernya?

Istri orang asing juga sering disangka lupa akar budayanya karena perubahan gaya hidup dan kebiasaan. Melupakan akar budaya itu tak semudah yang dikira orang, karena budaya dan kebiasaan itu mengakar pada diri seseorang dari sejak mereka muda. Yang menuduh mereka kurang Indonesia, kayaknya mesti rajin jalan ke luar negeri dan melihat bagaimana mereka mengkampanyekan Indonesia di luar sana dan meneruskan keIndonesiannya pada anak-anaknya.

Label-label negatif diberikan kepada perempuan yang memilih pria asing karena banyak alasan. Ketidaktahuan kultur barat, persepsi salah terhadap kultur barat, serta rendahnya tingkat pendidikan termasuk di dalamnya. Selain itu, konon, ada kecemburuan sosial yang tumbuh karena perempuan yang memilih pria asing berkesempatan hidup di negeri maju dengan kehidupan yang ‘lebih baik dan lebih enak’. Benarkah begitu? Cuma mereka yang berkutat dengan label yang bisa menjelaskan.

 
Have a nice weekend.
Tjetje
 
Catatan kecil tentang penggunaan kata
* PS : Pekerja seks, tanpa komersial. Semua pekerjaan itu komersial, mengapa hanya mereka
saja yang dilabeli komersial ?
** PRT : Pekerja rumah tangga, bukan asisten, bukan juga pembantu. Mereka adalah pekerja
yang berhak atas upah layak, jam kerja, libur, jaminan kesehatan dan tentunya terbebas 
dari ‘perbudakan modern’

Terlalu Pilih-Pilih Jodoh

Di Jakarta (dan juga kota-kota lain), banyak perempuan yang masih lajang kendati usianya sudah “kepala tiga”. Alasan melajang bermacam-macam, ada yang memilih untuk melajang karena memang tak ingin kawin atau tak percaya institusi perkawinan. Ada juga yang ingin kawin, tapi karena negeri ini tak mengijinkan perkawinan sesama jenis, maka mereka tak bisa mendapatkan haknya. Selain itu, banyak yang ingin kawin, tapi jodohnya belum datang.

Lingkungan kita sangatlah tidak ramah pada perempuan lajang dan cenderung lebih permisif kepada pria. Alasannya apalagi kalau bukan jam biologis? Perempuan dipaksa cepat-cepat kawin supaya bisa cepat beranak. Memilih tidak memiliki anak dianggap satu hal yang tak umum dan cenderung dicibir. “Wajar”, karena banyak orang masih beranggapan “perempuan itu wadah sperma” (bayangin aja muka saya waktu seseorang yg saya kenal mengatakan ini pada saya!). Bukannya saya tak terima dengan peran terhormat perempuan sebagai penerus garis keturunan, tapi peran perempuan itu lebih dari sekadar menampung sperma.

Selain urusan jam biologis, perempuan bekerja juga sering dihimbau supaya tak terlalu sibuk bekerja dan tentunya tak terlalu sukses. Nanti jodohnya menjauh. Aduh, kalau jodohnya anti-perempuan sukses ya mendingan gak usah berjodoh aja lah. Hari gini masih takut lihat perempuan maju? Lagipula, ketemu jodoh dalam kesibukan dan kesuksesan itu memungkinkan kok. Ketemu jodoh pas rapat, pas ketemu klien atau bahkan naik kereta pulang ke rumah pun juga bisa.

Seakan tak cukup, perempuan lajang juga sering dituduh sebagai perempuan yang terlalu pemilih. Defisini terlalu pemilih pun bagi saya tidaklah jelas. Lagipula, beli mangga saja harus memilih, kenapa giliran mengawini pria untuk seumur hidup tak boleh terlalu pemilih?

Apakah kemudian mempunyai kriteria-kriteria tertentu dianggap terlalu pemilih? Kalau di Jawa (maaf saya bukan Jawanisasi, tapi saya tahunya cuma ini) ada prinsip bibit,bobot,bebet dalam memilih pasangan. Bagi saja sangatlah wajar jika perempuan mencari pria harus yang datang dari keluarga baik-baik, biar hidup tak penuh dengan drama keluarga. Tak ada yang salah juga jika mencari pria yang bisa menghidupi keluarga tapi memilih pria yang tak bekerja untuk menjadi bapak rumah tangga juga tak apa. Pendidikan pasangan juga harus menjadi faktor penentu, karena seringkali pendidikan yang tak berimbang membuat pembicaraan tak nyambung. Mau seumur hidup gak nyambung terus?

Kalau kemudian para kandidat tak memenuhi kriteria dan si lajang memutuskan mengakhiri penjajakan, apa ya terus mereka berhak dilabeli sebagai orang yang terlalu pemilih? Settle for less, alias kawin aja walaupun sang pria jauh dari kriteria, menurut saya, bukanlah pilihan. Lagipula, banyak perempuan cenderung fleksibel dengan kriterianya ketika ada chemistry dan bibit cinta yang kuat.

Saya selalu berprinsip bahwa perempuan berhak menentukan apa yang ingin ia lakukan dengan tubuh dan hidup. Lingkungan sosial, sedikit banyak mempengaruhi, tapi jangan pernah biarkan lingkungan mengambil kontrol hidupnya. Begitu juga dengan urusan perkawinan, kalau belum menemukan jodoh yang cocok untuk apa memaksakan diri? Daripada mengawini orang yang salah dengan alasan pengen cepat-cepat kawin, lalu melukai diri sendiri selama perjalanan perkawinan, mendingan single dulu deh.

Memilih pasangan yang berkualitas itu berdampak pada kualitas hidup selama bertahun-tahun. Jadi biarkan mereka mengambil sebanyak-banyaknya hidup mereka untuk memilih kualitas yang mereka mau. Toh ini adalah hidup mereka!

xx
Tjetje
Lagi banyak tanya
PS: video menarik tentang perempuan yang dituduh picky bisa dilihat disini

Bullying Terhadap Perempuan Kurus

Ketika bertemu teman, orang-orang asing  biasanya akan saling menanyakan kabar. Basa-basilah kalau kata orang kita. Di Indonesia, kita juga melakukan hal yang sama, tapi dengan tambahan pertanyaan yang menyangkut berat badan.

“Eh apa kabar Say? Aduh kamu sekarang gendutan ya? Aduh kamu kok kurusan sih, gak dikasih makan ya sama suaminya”

Lanjutkan sendiri pertanyaan-pertanyaan ini dengan pertanyaan pribadi semacam sudah isi belum (susah hamil lho kalau badannya kekurusan atau kegendutan)? Atau bahkan pertanyaan nyinyir tentang undangan kawinan sambil nuduh-nuduh sebagai orang yang perfeksionis, pilih-pilih dan sombong.

Balik lagi ke berat badan, pembicaraan ini biasanya akan diperpanjang dengan saran diet ini dan itu, nyobain ramuan dari MLM tertentu, tusuk jarum di sinshe, pergi ke dokter nutrisi, sampai anjuran ikut gym dan latihan bersama Personal Trainer.

Diskusi tentang berat badan tak selamanya menyayat hati ; kalau lagi gendut dan dipuja berat badan turun, tentunya yang dengar langsung tersenyum malu-malu dan bahagia. Saking bahagianya, sampai harus dirayakan di KFC dengan satu ember ayam. Sementara, bagi orang yang kurus, dipuja menggendut bisa berarti bencana dan hinaan.  Bencana kalau si kurus ternyata terobsesi dengan kurus dan menjadi hinaan jika dia memang ingin menaikkan berat badan, tapi tak bisa.

Obsesi menjadi kurus ini ada banyak tipenya, dari mulai memuntahkan makanan yang sudah dikunyah, olahraga berlebihan, hingga membuat diri lapar. Orang-orang ini, walaupun berat badannya sudah dibawah normal, biasanya tetep merasa belum kurus. Parahnya lagi mereka tak mau mengakui kalau punya masalah dengan pola makannya. Jika tidak segera diatasi, dampak dari eating disorder beraneka macam, dari kerusakan & kegagalan fungsi tubuh, hingga kematian.

Tak semua orang kurus punya gangguan dengan makan & banyak yang sudah dari sananya kurus. Minum susu penggendut, pil penambah napsu makan, makan-makanan berlemak, suntik hormon, juga tak akan membuat berat badannya bertambah. Bahkan, pilek dua hari saja berat badan bisa langsung turun. Saking cepatnya berat badan mereka turun, mereka kerap dituduh cacingan, bulimia, anorexia, bahkan digoda bisa diterbangkan dengan mudahnya oleh angin.

Tak hanya digoda, seringkali komentar yang diberikan ke mereka sudah mengarah kepada bullying. Makan sedikit dituduh takut gemuk, makan banyak dituduh rakus. Dianggap tengkorak hidup, papan triplek, dipertanyakan kenapa tubuhnya hanya tulang semua. Kalau mereka olahraga, dikomentari dengan pedas dan dianggap tak perlu olahraga lagi. Padahal, tak selamanya orang yang olahraga itu ingin kurus, olahraga kan juga karena ingin sehat. Semua komentar-komentar ini dilayangkan dengan nada bercanda, tapi tahukah kalian kalau hal seperti itu ternyata melukai hati mereka?

Satu hal yang rupanya bikin orang kurus makin sakit hati adalah slogan “Real women have curves”, memenya pun bertebaran di social media.  Bahkan ada meme yang super kejam yang menambahkan bahwa hanya anjing yang suka tulang.

Slogan ini mestinya bertujuan untuk menyemangati perempuan supaya tidak anoreksia dan tidak terobsesi berukuran nol. Tapi kemudian, seringkali perempuan-perempuan yang tubuhnya berisi jadi merasa superior, merasa dirinya perempuan beneran. Lha emangnya perempuan-perempuan yang dari sononya kurus itu perempuan bohongan?

good one

Sudah saatnya kita menghentikan berhenti membully mereka dengan kata-kata yang tak pantas. Semua perempuan, dengan atau tanpa lekukan adalah perempuan.  Semua perempuan, besar, kecil, kurus, gendut, berkulit apapun, dan berambut apapun adalah perempuan cantik.

Have a nice week dan semoga kita semua dijauhkan dari mulut-mulut bawel.

xx,
Tjetje

Sampah Plastik

Saya sering nyinyir, menyindir orang Indonesia dan perilakunya dengan sampah. Ngakunya sih orang beriman dan kebersihan adalah bagian dari iman. Tapi, membuang sampah di tempat sampah, entah mengapa tak pernah dianggap sebagai bentuk keimanan. Bagi banyak orang, menyimpan sampah di dalam kantong atau tas, sambil menunggu bertemu tempat sampah, hukumnya tak wajib. Sementara buang sampah di trotoar, kendaraan umum (dari kopaja hingga pesawat) dianggap sebagai hal yang tak memalukan.

Kesadaran membuang sampah saja tak ada, apalagi kesadaran untuk memisahkan sampah. Di Irlandia, wajib hukumnya memisahkan sampah menjadi tiga bagian; general waste alias sampah sisa-sisa makanan masuk ke wheelie bin hitam, daur ulang masuk ke tempat sampah hijau, serta sampah yang bisa diolah menjadi kompos dimasukkan ke tempat sampah coklat. Sama seperti di Indonesia, buang sampah juga gak gratis. Kalau iuran sampah di Indonesia bulanan, di Irlandia bayar sampah itu per tempat sampah, satu tempat sampah 11 Euro saja; tapi khusus untuk daur ulang gratis. Makanya kalau makan harus diabisin, bayar sampahnya mahal bow.

Bicara tentang sampah tak bisa lepas dari tas plastik, alias kresek. Tas plastik ini adalah mimpi buruk dunia persampahan kita. Cobalah lewat tempat pembuangan sampah, dalam gunungan sampah itu pasti banyak ditemukan tas plastik. Kresek-kresek itu juga sering berakhir di pulau-pulau cantik di Utara Jakarta, membuat kepulauan Seribu jadi jorok. Tak hanya itu, penyu, singa laut, serta lumba-lumba juga sering mati karena mengira plastik sebagai makanan.

turtle-wbags-03

Illustration courtesy of Maria of http://www.flyingclouddesign.com/ and used with permission

Kantong plastik di Irlandia tak diberikan gratis, harus bayar, 30 hingga 80 sen (Rp. 4500 – Rp. 12000), tergantung tokonya. Tak heran kalau banyak orang yang jalan-jalan sambil bawa tissue toilet ataupun sekantong roti tawar, tanpa kresek. Sementara, di supermarket-supermarket besar, banyak orang yang dengan cueknya memindahkan satu-persatu belanjaannya dari trolley ke dalam bagasi mobilnya.

Pemandangan yang tak normal bagi orang Indonesia, karena yang normal di negeri kita adalah bungkusan plastik berisi kantong belanjaan. Saking tergantungnya kita sama kantong plastik, sering kali pembeli meminta ekstra plastik dengan berbagai alasan. Yang paling sering saya denger sih takut jebol karena plastik yang super tipis. Tapi ada juga yang nggak malu-malu minta untuk buang sampah. Padahal, kantong hitam khusus sampah juga dijual, dasar ogah rugi.

Beberapa hari yang lalu, saya berbelanja ke sebuah swalayan kecil. Hanya empat barang yang saya beli dan bisa dibawa dengan tangan. Jadi, saya menolak plastik. Mbak kasir yang melihat belanjaan saya berulang kali menawarkan plastik, tapi tetap saya tolak & si mbak pun tertegun. Buat saya nyimpen plastik kresek itu riweh, makan tempat, sementara kamar saya sudah penuh dengan tas-tas kain untuk ngangkut belanjaan (hasil dari workshop ini itu). Bukan berarti saya puasa dari plastik, hari gini konsumsi plastik itu tak terhindarkan. Tapi rasanya wajib hukumnya bagi kita untuk mengurangi konsumsi plastik, semampu kita.

Selain mengurangi kresek, saya juga hobi mengempeskan botol air kemasan, supaya hemat ruang di tempat sampah.  Hemat ruang, hemat plastik buat bungkus sampahnya kan? Saya juga punya kebiasaan melipat sampah kertas, ataupun plastik pembungkus menjadi seperti ini:

image

Eyang Putri saya yang membiasakan. Setelah dilipat, dimasukkan ke dalam tas. Tak heran kalau tas saya, mirip tas Eyang Putri saya, banyak banget sampahnya. Gak papalah tas saya jorok, yang penting bukan lingkungan sekitar yang jorok.

Gimana caramu mengurangi sampah plastik?

[Ireland] Akhir Pekan di Galway

Cincin ini adalah cincin khas Irlandia, namanya Claddagh. Cincin ini melambangkan cinta, kesetiaan dan pertemanan yang disimbolkan dengan hati, mahkota serta dua tangan. Biasanya, hanya perempuan yang menggunakan cincin ini, tapi pria pun bisa menggunakan. Jika hatinya mengarah ke pengguna, artinya dia sudah ada yang punya, jika hatinya mengarah keluar berarti si pengguna masih single. Saking terkenalnya ini cincin, di Galway, sebuah kota kecil di Irlandia, juga terdapat museum Claddagh ring. Lokasinya nyempil di antara bar-bar dan biaya masuknya gratis.

Selain nama cincin, Claddagh juga merupakan nama wilayah yang terletak di pinggiran kota Galway, sebuah kota kecil di Irlandia. Komunitas Claddagh, berbeda dari orang-orang Gaelic, bekerja sebagai nelayan, dan perempuannya, yang menggunakan syal khas untuk menutup diri, menjual ikan di dekat desa mereka. Sayangnya, rumah-rumah orang Claddagh sudah hancur karena TBC di jaman tahun 1900an. Jaman itu, ada kepercayaan bahwa virus TBC menempel pada dinding rumah, makanya rumah mereka dihancurkan.

Old Claddagh Dress

Perempuan Claddagh dan syalnya yang terkenal. Foto was taken from http://www.claddaghns.ie/

Kota Galway, yang selalu saya kunjungi setiap kali saya ke Irlandia, juga menyimpan hal lain yang unik, bahkan mungkin satu-satunya di dunia, Fishery Tower. Tower berwarna kuning ini baru saja dibuka menjadi museum beberapa bulan lalu. Pada jamannya, sekitar tahun 1850-an, bangunan berlantai tiga ini berfungsi untuk memonitor ikan dan merupakan bangunan pribadi. Jaman itu, sungai termasuk bisa dimiliki individu.

image

Ada dua hal menarik yang saya temukan di bangunan kecil ini, yaitu ketiadaan toilet di dalam gedung dan sebuah jaring menarik untuk menangkap belut. Menurut guide yang bertugas, toilet terletak di belakang gedung. Bentuknya tak seperti toilet lagi, tapi sudah menjadi reruntuhan toilet. Kalau soal jaring belut, jaman dahulu mereka sengaja membuat jaring berlapis-lapis karena menangkap belut tidak mudah. Belut (dan juga salmon) yang populasinya sudah termasuk hewan yang dilindungi. Diperlukan ijin khusus jika ingin menangkap mereka.

image

Tak cuma Malang yang punya alun-alun, Galway juga punya Eyre Square, atau biasa disebut juga JFK park. JFK rupanya penerima Freedom of the City, alias masyarakat kehormatan. Di alun-alun, yang kalau menjelang Natal berubah jadi pasar malam, ini terdapat penandannya *apa sih namanya batu yang ditahta untuk penanda, tapi bukan batu nisan, plakat?*. Patung Pádraic Ó Conaire, penulis Irlandia terkenal juga pernah diletakkan di alun-alun ini. Di tahun 1999 kepala patung ini kemudian dipenggal oleh orang tak bertanggung jawab, alhasil demi keselamatannya, pada tahun 2004, si patung pun dipindahkan ke museum Galway.

image

Galway juga terkenal dengan pub-pubnya yang lively, bahkan pada jam-jam tertentu di beberapa pub terdapat live musik Irlandia. Tak perlu bayar, cukup beli segelas minum saja. Selain mengunjungi pub, makan oyster di Galway juga wajib hukumnya. Saya yang mamamoon pun menawarkan mama untuk makan oyster. Si mama ngakunya doyan, tapi begitu oysternya muncul langsung ogah makan karena oysternya mentah. Huh, padahal oyster di Galway itu terkenal, saking terkenalnya mereka sampai punya Festival Oyster Galway.

Tips buat yang pengen ke Galway

  • Jika naik kereta, Galway berjarak 2.5 jam saja dari Dublin (stasiun Heuston).
  • Kalau nggak suka kereta, bisa naik bis. Kalau mau Patas, bisa naik citylink sementara kalau gak keberatan dengan bis yang lebih murah (tapi sumpah bisnya gak jelek) bisa naik bus Eireann.
  • Galway bisa dikelilingi dengan kaki, tapi kalau males jalan kaki (Indonesia banget seh), naik bis hop-on hop-off saja dari Eyre Square. Biayanya cuma 10 Euro.

 

Selamat berakhir pekan, kemana akhir pekanmu?

Perilaku Khas Turis Indonesia di Luar Negeri

Kalau kemaren saya menuliskan tentang kelakuan turis Cina, sekarang giliran saya menulis tentang perilaku turis Indonesia. Biar gak dimarahin dan diprotes, saya kasih disclaimer dulu bahwa nggak semua turis Indonesia berlaku seperti ini. Ini hanya berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, baik pengamatan langsung maupun mengamati media sosial.

Toilet tanpa air

Toilet kering nampaknya sering dikeluhkan turis Indonesia yang jalan-jalan ke luar negeri. Tak cuma mengeluh, banyak dari mereka yang kemudian melabeli orang asing itu sebagai orang yang jorok karena hanya menggunakan tissue. Kadang kita dengan mudahnya melabeli manusia lain kurang baik dengan kita, tanpa tahu bagaimana mereka membersihkan dirinya dan tanpa mau tahu bahwa toilet kita mungkin lebih jorok daripada pantat orang asing. Tengoklah bandara internasional Soekarno Hatta yang masih juga jorok.

Nasi Putih

Rasa nasi maupun jarangnya makan nasi sering juga sering dikeluhkan. Kalau tahu negara tujuan itu lebih sering makan roti ataupun makan mie, baiknya para pemakan nasi ini bawa rice cooker (kayak saya!). Innovator di Indonesia juga mesti bisa melihat peluang ini *million dollar idea* dengan bikin mini rice cooker yang bisa dinyalakan dengan power bank, jadi nanti turis Indonesia, di sudut New York, bisa menambahkan nasi ke atas daging steak Wagyu.

image

Lihatlah rice cooker saya!

Jalan Kaki

Ya maklum, di negeri ini tak ada kebiasaan jalan kaki jauh. Ditambah lagi, turis-turis Indonesia itu sering bergaya kecentilan, menggunakan hak tinggi agar sama tingginya dengan para orang asing. Alhasil setelah jalan beberapa kilometer langsung teriak kesakitan. *eh ini mah saya*. Ketidakbiasaan untuk jalan kaki ini juga bisa jadi peluang bisnis dengan bikin pelatihan fisik untuk mempersiapkan turis Indonesia jalan-jalan ke luar negeri.

Disiplin

Lucunya, turis Indonesia seringkali menjadi disiplin di luar negeri. Jadi anti jaywalking, jadi rajin buang sampah sembarangan dan jadi patuh aturan. Takut dimarahin orang asing kali ya. Walaupun, ada juga yang memalukan Indonesia, kasus vandalism gunung Fuji contohnya.

Belanja Terus

Mama saya pernah memasuki sebuah toko souvenir, ketika tahu bahwa mama berasal dari Indonesia sang empunya toko langsung girang. Menurutnya, turis Indonesia kalau beli suvenir banyak banget. Beberapa tahun yang lalu saya pernah baca, salah satu toko mahal di Paris (can’t remember what), punya shop attendant khusus untuk orang kaya Indonesia yang hobi belanja ke Paris. Belanja emang wajib buat turis Indonesia, apalagi belanja oleh-oleh buat tetangga sekampung.

Mahal

Turis Indonesia juga suka mengeluh tentang harga mahal. Transportasi umum mahal, makan mahal, tapi kalau beli oleh-oleh gak pernah komplain mahal. Tapi barang-barang mahal ini sering dibeli dengan dalih kualitasnya lebih bagus daripada di negeri sendiri. Kemarin, saya sempat nguping dengan keluarga yang dengan bangganya beli parfum di Paris yang katanya kualitasnya jauh daripada di Indonesia. Sama aja kali, asal belinya asli.

Kebanyakan selfie

Saya perhatikan turis Indonesia kalau di luar negeri lebih repot foto-foto heboh ketimbang menikmati suasana sebuah tempat wisata dan membaca informasi sebuah tempat bersejarah. Jarang banget saya lihat turis Indonesia yang ngorek informasi ke guide, padahal, guide itu punya banyak informasi. Foto-foto tersebut tentunya akan berakhir di social media untuk bahan pamer karena sudah jalan-jalan ke luar negeri. Eh tapi saya juga suka pamer lho, pamer tongsis dan tomsis ke para orang-orang asing. Sambil bilang: this is the best thing from Indonesia; biar kata made in China tetep di klaim sebagai barang Indonesia. Biarin norak, yang penting bisa promosi tentang Indonesia dengan cara yang menarik dan bikin orang asing terkagum-kagum.

Femi Oke Tweet

 Menurut kamu, apa perilaku khas turis dari Indonesia?